Ulasan Film Dino yang Baik (The Good Dinosaur)

Ulasan Film Dino yang Baik (The Good Dinosaur)

Kemarin malam kami menonton film terbaru karya Disney Pixar yang berjudul The Good Dinosaur. Awalnya sedikit terkejut ketika sedang memesan tiket melalui layanan m-tix 21 Cineplex, karena judul paling atas yang saya lihat adalah “Dino yang Baik”.  Kemudian ketika saya menggulung layar ke bawah barulah muncul judul The Good Dinosaur. Ternyata ada dua judul film yang berbeda. Pada saat menonton cuplikan filmnya, tidak terlihat begitu menarik dan rancangan poster film yang terlihat biasa juga membuat saya berpikir untuk membatalkan pemesanan tiket yang sedang saya lakukan.

Dino Yang Baik

Dino Yang Baik

Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya saya memutuskan untuk menonton film yang sudah disulihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia. Entah mengapa setelah memesan tiket ada beberapa pertanyaan yang muncul di dalam pikiran saya, apakah mutu bahasanya bagus, apakah pengisi suaranya bisa menjiwai karakter yang disuarakan, apakah ceritanya bagus atau tidak dan apakah pengisi suara yang dipilih cocok untuk mengisi suara setiap karakter. Entah mengapa pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Mungkin karena saking langkanya pilihan tayangan anak-anak yang bermutu (baik dari sisi cerita maupun bahasa) bisa kita nikmati.

Banyak nilai-nilai baik yang bisa dipetik dari film tersebut, khususnya masalah keberanian. (Saya tidak akan bercerita banyak mengenai cerita filmnya supaya tidak merusak suasana pembaca yang berniat menonton film ini)

Cerita yang Emosional

Kami bertiga sangat menikmati film yang berdurasi 100 menit tersebut. Alur ceritanya mudah diikuti dan dipahami oleh anak-anak dan disajikan dengan sangat baik sehingga membuat emosi kami bercampur aduk. Bahkan Kiran pun sangat berfokus menonton dan sempat menitikkan air mata di beberapa bagian sampai berbisik kepada kami “I think I need a hug”.

Animasi Realistis

Mutu animasi karya Pixar yang sudah tidak diragukan lagi dibuat dengan apik dan semakin terlihat nyata membuat saya semakin berdecak kagum terhadap para pembuatnya. Segala sesuatu yang ditayangkan terlihat sangat nyata kecuali untuk karakter-karakternya. Saya memberikan acungan dua jempol untuk buah karya kerjasama tim Pixar yang telah bekerja keras demi menyajikan visualisasi yang bisa membuat penontonnya terpukau.

Mutu Bahasa

Sesampainya di rumah saya langsung mencari informasi mengenai alasan dibuatnya film ini dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan penuturan Amit Malhotra, selaku General Manager The Walt Disney Company Asia Tenggara, Indonesia merupakan salah satu pasar utama Disney Pixar di Asia Tenggara dan  berharap masyarakat Indonesia dapat menangkap pesan dalam film tersebut dengan lebih mudah setelah disulih suara ke bahasa Indonesia.

Indonesia merupakan satu dari tiga negara yang akan disuguhi The Good Dinosaur versi dubbing. Oleh karena itu kita harus menyambut baik usaha yang telah dilakukan oleh pihak Walt Disney. Terlepas dari sisi bisnis, saya melihat sebuah harapan baru dalam industri film yang bisa diikuti oleh para pembuat film di tanah air.

Mutu bahasa yang disajikan pun patut diacungi dua jempol karena menggunakan bahasa Indonesia standar (baku) tetapi tidak terdengar “kaku” untuk didengarkan. Terlihat komitmen dari pihak Walt Disney untuk menyajikan film berbahasa Indonesia baku yang tidak terpengaruh oleh dialek lokal, khususnya dialek Jakarta.

Kredit lainnya harus kita berikan kepada penerjemah naskah film dan para pengisi suara yang telah bekerja keras untuk memberikan pengalaman menonton film berbahasa Indonesia yang baik dan sangat bisa dinikmati oleh semua usia. Jika banyak film asing lainnya yang disulihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia, tentunya akan mengangkat profesi penerjemah dan pengisi suara ke lini depan industri perfilman kita.

Pengakuan

Hal lainnya yang membuat saya mengagumi hasil karya ini adalah dipampangnya kredit pengisi suara pada bagian paling atas dari semua kredit yang ditayangkan di akhir film. Ada perasaan yang berbeda ketika saya membaca nama-nama Indonesia dipampang paling atas dari kredit film yang dibuat oleh produsen film tersohor di dunia. Ada perasaan haru dan bangga ketika produsen film memberikan pengakuan kepada para pengisi suara karena atas usaha merekalah film yang mereka bisa lebih tepat sasaran dan lebih bisa dinikmati oleh para penontonnya tanpa adanya kendala bahasa.

Pemutar Film

Selain pihak produsen film, kita pun harus memberikan kredit kepada pihak pemutar film yang bersedia menayangkan film tersebut di dalam dua bahasa dengan jadwal tayang yang berbeda sehingga bisa mempermudah penonton untuk menikmati film tanpa harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris.

Kesimpulan

Kesimpulan saya, film ini telah dibuat dan dipersiapkan dengan sangat baik untuk dinikmati secara khusus oleh masyarakat Indonesia. Sebagai orang Indonesia, saya sangat tersanjung dengan adanya film ini dan ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat. Saya sangat menyarankan orang-orang yang berniat menonton film ini untuk menonton versi bahasa Indonesia supaya bisa mendapatkan pengalaman baru sekaligus memperkenalkan anak-anak terhadap film berbahasa Indonesia yang sangat bermutu.

Meskipun kategori film ini untuk semua umur, tetapi saya tidak menyarankan anak di bawah umur 5 tahun untuk menonton karena ada beberapa adegan yang dikhawatirkan akan membuat anak-anak takut karena efek suara yang sangat keras misalnya. Kiran yang berumur lima tahun terlihat sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir dan sangat menyukai karakter “Papa T-rex”. Banyak adegan yang bisa dijadikan bahan diskusi bersama anak untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan dari film ini.

Penasaran dengan film ini, segera kunjungi bioskop terdekat.

Mengunjungi Komunitas Oerang Kampoeng

Mengunjungi Komunitas Oerang Kampoeng

Beberapa bulan lalu saya berkenalan dengan seseorang di jejaring sosial Facebook yang ternyata adalah kakak kelas saya di SMA dulu. Nama panggilannya Kang Adun. Saya memerhatikan di beberapa status Facebook Kang Adun ada kegiatan-kegiatan yang cukup menarik. Setelah mengobrol melalui Blackberry Messenger, ternyata Kang Adun sedang merancang sebuah program kebudayaan berbasis komunitas dengan nama Komunitas Oerang Kampoeng yang berlokasi di Cicalung.

Karena tertarik dengan program yang sedang dirancangnya, saya pun membuat janji untuk mengunjungi komunitas tersebut karena kebetulan dalam waktu dekat akan mengunjungi orangtua saya di Cicalengka. Singkat cerita, akhirnya saya dan Bunda Kiran pun mengunjungi tempat mereka berkumpul dan berkegiatan yang ternyata tempat tersebut adalah rumah dari teman SMA saya, Deni, meskipun dulu tidak berteman akrab dan sebatas kenal saja. Sayangnya Kiran tidak mau ikut berkunjung dan lebih memilih bermain bersama kakeknya melepas rindu karena sudah lama tidak mengunjungi kakek dan neneknya.

Ketika kami tiba di lokasi, terlihat beberapa anak mengenakan baju pangsi sunda sedang berkumpul dan kami pun disambut oleh keramahan Kang Adun. Kami dipersilakan memasuki saung bambu yang berisikan anak-anak dengan rentang usia 8 sampai 13 tahun yang sedang belajar bahasa Inggris. Sesaat kemudian Kang Edo, guru bahasa Inggris anak-anak tersebut datang dan memulai kelasnya. 

Pelajaran Bahasa Inggris

Karena anak-anaknya bersekolah dari hari Senin sampai hari Sabtu,  kegiatan pun hanya dilakukan setiap hari Minggu. Kegiatan yang dilakukan adalah berkebun, belajar bahasa Inggris, dan belajar kesenian tradisional. Kegiatan ini sudah berjalan selama satu setengah tahun dan telah mengumpulkan sekitar 50 orang anak yang datang dari berbagai lokasi secara sukarela. Bahkan ada beberapa anak yang rela berjalan berkilo-kilo hanya untuk bermain dan berkegiatan bersama di komunitas ini. Berkat arahan Kang Adun dan teman-temannya, anak-anak tersebut dilatih untuk berani tampil dan menguasai keterampilan bermain alat musik tradisional, berbahasa Inggris, dan berkebun.

Tujuan dari dibentuknya komunitas ini adalah untuk memberikan edukasi kepada warga sekitar untuk tidak meninggalkan kebudayaan yang dimilikinya. Saat ini Kang Adun dan teman-temannya sedang merancang beberapa program untuk ditawarkan kepada sekolah-sekolah di sekitarnya supaya anak-anak sekolah bisa mengenal dan tidak melupakan kebudayaan Sunda.

Berikut ini kegiatan yang dilakukan di Komunitas Oerang Kampoeng

Semoga dengan segala keterbatasannya komunitas ini bisa menjalankan visi dan misinya untuk melestarikan kebudayaan Sunda dan keberadaannya memberikan manfaat bagi banyak orang.

Teka-Teki Kata “Gegara” dan “Tetiba”

Teka-Teki Kata “Gegara” dan “Tetiba”

Belakangan ini bahasa gaya yang terjadi di jejaring sosial marak terjadi, di antaranya adalah kata “tetiba” dan “gegara”. Ketika saya menelusuri internet, kata-kata tersebut sudah dikenal selama beberapa tahun terakhir, tetapi masih menjadi pertanyaan besar asal-muasalnya. Karena penasaran, akhirnya selama beberapa hari ini saya menelusuri beberapa tautan di bawah untuk saya pelajari. Selain itu juga saya berdiskusi dengan seorang teman yang membantu saya memahami istilah-istilah linguistik ketika membuka buku Kamus Linguistik.

http://rainiku.tumblr.com/post/39065796041/fenomena-bahasa-yang-tetiba-jadi-gegara

https://renjanatuju.wordpress.com/2013/02/13/bahasa-tetiba-dan-gegara/

http://tatabahasayangbaik.blogspot.co.id/2013/02/kata-ulang-dwipurwa.html

https://nugie28.wordpress.com/2013/02/09/tetiba-memperdebatkan-gegara/

http://www.kompasiana.com/d.sulistiowati/kreasi-bahasa-indonesia-penggunaan-kata-ulang-dwipurna-semakin-populer_5517be59a333114907b6606a

Semua tulisan di atas memiliki teori yang sama untuk mendukung keberadaan kata “tetiba” dan “gegara”. Mereka menjelaskan bahwa kedua kata tersebut bisa dibentuk karena adanya Kata Ulang Dwipurwa. Namun sepertinya pengertian kata ulang dwipurwa masih belum dipahami dengan benar sehingga contoh-contoh yang diberikan tidak konsisten dan terkesan bertabrakan ketika mencoba menjelaskannya.

Mari kita kupas dari arti kata ulang dahulu. Kata ulang adalah kata yang terjadi hasil proses reduplikasi atau pengulangan pada kata dasar. Reduplikasi atau perulangan adalah proses pengulangan kata atau unsur kata. Reduplikasi juga merupakan proses penurunan kata dengan perulangan utuh maupun sebagian. Contohnya adalah “anjing-anjing”, “lelaki”, “sayur-mayur” dan sebagainya.

Kata ulang dwipurwa merupakan pengulangan sebagian atau seluruh suku awal sebuah kata atau pengulangan suku kata awal. Dari hasil pengecekan saya tidak ada satu sumber pun yang saya periksa menjelaskan bahwa kata ulang dwipurwa dibentuk dari bentuk ulang sebuah kata, misalnya, “tetangga” bukanlah dwipurwa dari “tangga-tangga”. 

Perhatikan suku kata awal dari setiap kata di bawah ini

tamu tetamu
laki   lelaki
tangga tetangga
sekali sesekali
sama sesama
luhur leluhur

Bisa dilihat dari contoh di atas bahwa dwipurwa hanyalah sebuah konsep pembentukan kata. Kata ulang dwipurwa memiliki makna yang berbeda dengan makna kata dasarnya. Jika kita perhatikan, kata “tetangga” memiliki makna yang berbeda dari kata “tangga”. Begitu pula pada kata “leluhur” tidak berkaitan dengan kata “luhur”.

Pembentukan kata di atas tidak dibentuk dari kata ulang. Seperti pada kata lelaki merupakan perubahan bentuk dari kata “laki”, bukan “laki-laki”. Kata “tetamu” juga dibentuk dari kata “tamu” bukan “tamu-tamu”.

Masalahnya adalah “tiba-tiba” dan “gara-gara” bukanlah hasil dari kata ulang melainkan  bentuk dasar kata tersebut, dan tidak berasal dari kata dasar “tiba” dan “gara” karena “tiba” dan “gara” memiliki arti tersendiri yang sama sekali tidak berkaitan dengan “tiba-tiba” maupun “gara-gara”. Contoh kata lainnya adalah “laba-laba” yang tidak memiliki arti yang sama dengan kata “laba”.

Oleh karena itu, jika kita ingin menerapkan konsep pembentukan kata ulang dwipurwa pada kata “gara-gara” dan “tiba-tiba” pembentukan kata yang seharusnya terjadi adalah “gegara-gara” atau “tetiba-tiba”.

Fenomena “bahasa gaya” ini memang menarik dan tidak ada salahnya digunakan untuk memperkaya kosakata di dalam berkomunikasi. Tetapi harus jelas apakah memang kata tersebut termasuk dalam kosakata bahasa Indonesia atau tidak. Semoga informasi ini bisa membantu menjelaskan ketidaktepatan penggunaan kata “gegara” dan “tetiba” dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik.

Rujukan :

https://id.wikipedia.org/wiki/Reduplikasi

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/index.php

https://id.wikipedia.org/wiki/Dwipurwa

https://id.wikibooks.org/wiki/Bahasa_Indonesia/Kata_ulang

http://www.berpendidikan.com/2015/05/macam-macam-kata-ulang-dan-contohnya.html

Kamus Linguistik Edisi Ketiga (Harimurti Kridalaksana)

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat

Makki Roll dan Onigiri

Makki Roll dan Onigiri

Saya suka sekali makanan Jepang. Banyak masakan Jepang yang rasanya sangat bersahabat di lidah. Berhubung saya senang sekali sama yang namanya Makki Roll, kok ya jebol juga kantong kalau saban minggu suwon ke restoran Jepang. Waktu saya masih rajin belajar masak (sekarang ngga lagi ;p) di majalah yang saya beli ada resep membuat Makki Roll untuk pemula. Resepnya juga gampang, isi makki roll bisa dibeli disupermarket terdekat. Cuma tinggal beli Makisu (tikar kecil dari bamboo untuk menggulung roll), Nori (rumput laut), rice vinegar, Shoyu (kecap asin Jepang) sama wasabi (sambel ala jepang) ajahh. Karena proses membuatnya gampang dan mudah, jadilah makki roll ini andalan saya untuk bekal Kiran dan ayahnya kalau berkegiatan di luar.

Jenis masakan Jepang yang bisa untuk pilihan bekal juga adalah Onogiri. Onigiri adalah nasi kepal yang dibentuk segitiga dan dibungkus Nori. Kalau di resep aslinya, onigiri diisi buah acar buah plum. Kalau saya isinya suka-suka. Tergantung persediaan di kulkas hehe. Tapi lebih sering isi daging keju mayonnaise. Membuat onigiri juga sangat gampang dan cepat. Untuk resep Makki roll dan Onigiri saya tuliskan di bawah ya, semoga bisa bermanfaat.

Resep Makki Roll

Bahan nasi:

Nasi kurleb setengah liter, masak, dinginkan di suhu ruang

5 sdm Cuka beras

½ sdm garam

½ sdm gula pasir

Campur cuka, garam, dan gula lalu aduk rata

Setelah itu siramkan ke atas nasi hangat, aduk rata. Cicipi keasaman nasinya.

Jika dirasa kurang asam, bisa ditambahkan campuran cuka lagi.

 

Bahan – bahan isi:

1 Timun Jepang, belah jadi 8 potongan memanjang

1 telur, buat dadar dan potong-potong memanjang

Keju cheddar, potong ukuran kotak memanjang

Sosis, belah 2 dan goreng

Mayonnaise

Selada (optional)

Cara membuat:

Taruh Nori di atas Makisu, bagian Nori yang shiny dibagian bawah.

Ambil satu centong nasi, taruh di atas nasi dan ratakan, sisakan kira-kira 5 cm (jangan diisi penu nasi) Nori agar bisa menempel ketika digulung nanti.

Taruh timun, selada, sosis, telur, dan keju di atas nasi, atur rapi.

Olehkan mayonnaise untuk menambah rasa

Gulung perlahan, sampai nori membentuk bulat. Tekan-tekan makisu agar makki roll padat.

Potong makki roll dan sajikan dengan shoyu dan wasabi

 

RESEP ONIGIRI

Bahan – bahan:

Lembaran Nori

Nasi hangat

Garam

Keju cheddar, parut

Kornet/ daging ayam/daging sapi cincang, tumis dengan bawang Bombay, bawang putih, garam dan lada hingga matang

Mayonnaise

 

Cara membuat:

Gunting 1 lembar Nori menjadi 4 lembar kecil

Campur nasi hangat dengan garam, aduk rata, cicipi sampai terasa pas di lidah.

Basahi tangan dengan air matang

Ambil secentong nasi, taruh di tangan kiri,

Masukkan keju, mayonnaise, dan daging tumis

Bentuk nasi menjadi segitiga, tekan-tekan dan padatkan

Bungkus nasi dengan nori

Sajikan dengan shoyu atau abon cabe.

Nah, mudahkan membuatnya. Sekali membuat dijamin ingin buat lagi dan lagi soalnya mudah sekali membuatnya. Bekal yang mengenyangkan dan menyenangkan ^^

 

 

Churros, Makanan Favorit Keluarga Kami.

Churros, Makanan Favorit Keluarga Kami.

Kiran suka sekali ngemil. Berhubung Kiran termasuk Picky Eater, cemilan yang dia suka juga tidak banyak. Karena bundanya Kiran bukan termasuk ibu yang rajin berkutat di dapur (ngaku ;p), jadi bisanya buat makanan yang termasuk kategori mudah saja. Waktu kami sedang jalan ke Pejaten Mall, di lantai 3 ada stall Churros. Karena penasaran lihat gerobaknya yang unik, jadi coba beli deh, dan bentuknya pun unik, panjang gitu adonannya. Kiran ternyata suka banget. Besoknya saya konsultasi sama mbah Gugel, ternyata mudah sekali  resepnya. Bahan – bahannya juga pasti ibu-ibu di rumah punya semua. Setelah itu jadilah Churros makanan favorit Kiran. Bagi yang mau mencoba, saya tuliskan resepnya ya. Monggo dicoba di rumah masing-masing.

Resep Churos

Bahan – bahan:

250 cc air

150 gr tepung terigu

50 gr margarin

1 sdm gula pasir

Sejumput garam

1 butir telur

Vanili bubuk sesuai selera

 

Cara membuat:

Masukkan air, margarin, gula pasir, dan garam ke dalam panci. Masak hingga mendidih lalu matikan api.

Campur tepung yang sudah dicampur vanilla ke dalam panci. Aduk sampai rata.

Biarkan sejenak hingga uap panas hilang. Setelah itu, masukkan telur dan aduk rata.

Masukkan adonan ke dalam pipping bag yang sudah dipasang spuit bintang

Goreng dalam minyak panas hingga berwarna kecoklatan

Churros siap di makan dengan gula bubuk atau selai.

churros

Selamat mencoba ^^