Kedudukan Bahasa Indonesia Saat Ini

Kedudukan Bahasa Indonesia Saat Ini

Belakangan ini saya sering mendengar, membaca dan bahkan berdiskusi mengenai persoalan kedudukan bahasa Indonesia. Saya bukanlah seorang ahli bahasa tetapi kebetulan saya memiliki ketertarikan untuk lebih mengenal bahasa Indonesia karena pekerjaan saya berkaitan dengan pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing. Menurut saya, ketika kita ingin melihat kedudukan sebuah bahasa, kita harus bisa melihatnya secara utuh dan menyeluruh, tidak dilihat dari satu sisi atau pun beberapa sifat dari bahasa itu sendiri.

Ketika kita membicarakan masalah kebahasaan, argumen dari sisi semantik (ilmu tentang makna kata dan kalimat) dan sintaksis (ilmu tata kalimat) contohnya, akan selalu berbenturan karena setiap sudut pandang memiliki nilai-nilai yang dianutnya. Tanpa bermaksud menyederhanakan kerumitan yang melekat pada bahasa Indonesia, saya ingin mengajak para pembaca untuk melihat bahasa Indonesia seutuhnya sebagai sebuah identitas diri dan bangsa.

Sebuah bahasa akan tetap ada jika ada penuturnya. Oleh karena itu, memastikan setiap orang menggunakan bahasanya adalah sebuah kunci keberlangsungan bahasa itu sendiri. Menggunakan bahasa dengan baik sesuai dengan segala sesuatu yang melekat pada bahasa itu sendiri sama halnya dengan berkendara di jalan raya. Seseorang yang sudah memiliki pemahaman tentang kemanan berkendara di jalan raya dan memahami segala risiko yang mungkin timbul terhadap dirinya dan orang lain adalah seseorang yang memiliki martabat (tingkat harkat kemanusiaan). Sama halnya dalam berbahasa. 

Jika seseorang secara sadar “melanggar” sebuah peraturan atau rambu lalu lintas, tentunya tidak benar untuk “membenarkan” pelanggaran tersebut dari sisi mana pun baik secara kontekstual maupun situasional (misalnya karena alasan darurat, terburu-buru, terlambat masuk kerja atau alasan lainnya). Begitu juga dengan berbahasa, kita tentunya tidak benar (bukan masalah bisa atau tidak bisa) ketika seseorang secara sadar bahkan terbiasa untuk berbuat salah dalam berbahasa demi alasan konteks dan situasi. Padahal setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia sudah dilengkapi dengan berbagai fiturnya untuk memenuhi kebutuhan para penuturnya dalam setiap konteks dan situasi yang diperlukan.

Saya ingin mengajak para pembaca untuk melihat pemakaian bahasa Indonesia ini sebagai bentuk kesadaran diri masyarakat yang bermartabat dan tidak melihatnya dari sudut pandang peraturan semata.

Jika kita memiliki informasi untuk menggunakan bahasa Indonesia dan lebih memilih untuk tidak menggunakannya, tentunya tidak adil untuk mempertanyakan kedudukan bahasa Indonesia. Lebih tepatnya yang harus kita pertanyakan adalah kedudukan kita sebagai penutur bahasa tersebut. Dalam berbahasa Indonesia misalnya, seseorang yang bertutur kata dengan baik akan dianggap sebagai “mahluk aneh”, sehingga antara pihak kesatu dan pihak lainnya akan berdebat mengenai apa yang “lebih berterima” digunakan sesuai dengan konteks dan situasinya.

Sayangnya tidak banyak yang menyadari bahwa bahasa adalah bagian dari identitas setiap individu. Bagaimana individu itu memahami penggunaan sebuah bahasa dan menggunakannya untuk mengomunikasikan pikirannya masih belum begitu dipahami dengan baik oleh masyarakat kita. Tentunya berbahasa dengan baik bukan hanya sekadar berkomunikasi dan menghormati lawan bicara tetapi juga menunjukkan martabat dari individu itu sendiri.

Berbahasa dengan baik juga bukan hanya perkara enak didengar atau tidak oleh lawan bicaranya. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, sulit sekali untuk menyapa seseorang dengan dengan panggilan “bapak” atau “ibu” sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang diajak bicara. Secara otomatis setiap orang akan berkomentar bahwa dirinya tidaklah tua dan lebih memilih untuk dipanggil “mas” atau “mbak” atau bahkan nama. Dengan kata lain, orang yang bermartabat dan ingin menghormati orang lain “dipaksa” untuk menurunkan derajatnya hanya dengan alasan keluwesan berbahasa, kepraktisan berbahasa, konteks dan situasi yang terjadi di antara orang-orang tersebut. Sekali lagi, saya ingin mengajak para pembaca untuk melihat masalah kebahasaan ini sebagai refleksi bagi kita semua bahwa masalahnya terletak di penuturnya bukan bahasanya.

Apakah kita menginginkan anak-anak kita mampu berbahasa Indonesia dengan baik? Pertanyaan besarnya, Apakah kita mampu memberikan contoh yang baik? Kebutuhan terhadap sesuatu akan ada jika orang-orang tetap menggunakannya. Berdasarkan situasi ini terbentuklah Masyarakat Peduli Bahasa Indonesia (MPBI). Berikut ini adalah landasan pemikiran dari Masyarakat Peduli Bahasa Indonesia yang ditulis oleh teman saya Bayu (Kepala Divisi Pengkajian Bahasa Indonesia dan Pengembangan Kurikulum di Language Studies Indonesia) :

Pada tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia berjanji untuk berbahasa satu sebagai perwujudan kesatuan bangsa. Bahasa yang dipilih bukanlah bahasa Indonesia dengan embel-embel (bahasa Indonesia “gado-gado”: bahasa Indonesia-Inggris, Indonesia-Jawa, Indonesia-Sunda & campuran lainnya. Tidak juga bahasa Indonesia dengan pemotongan di sana-sini: bahasa gaul, bahasa prokem dan lainnya) tetapi bahasa Indonesia yang sebenarnya (yang memang sejatinya hanya satu) yaitu bahasa Indonesia yang baku (standar). Ke manakah komitmen itu kemudian? semua unsur bangsa seperti tanpa sadar telah bersepakat untuk menghapus bahasa standar tersebut, dalam terminologi studi kebahasaan bahkan disebutkan secara personifikatif “membunuhnya”. Bahkan bila diizinkan saya akan meminjam istilah yang digaungkan oleh David Crystal, seorang bahasawan berkewarganegaraan Inggris untuk menggambarkan secara tepat peristiwa ini Language Suicide (bunuh diri bahasa), yang secara umum menyatakan bahwa telah terjadi sebuah pemusnahan bahasa yang dilakukan oleh penuturnya sendiri.

Hal ini (pemusnahan bahasa) tidak terlalu menjadi soal bila kita (anak bangsa) memang bersepakat melakukan itu, dengan alasan tertentu seperti membuat bahasa baru yang lebih relevan dengan kebutuhan kita. Pertanyaan selanjutnya, apakah kita semua melakukan hal ini dengan sadar? Apakah kita semua melakukan ini atas dasar keinginan kita? Bila jawabannya tidak, asumsi yang timbul kemudian adalah kita sebagai bangsa tidak sadar kita sedang bersama-sama melakukan pembunuhan tersebut.

Banyak orang yang kemudian menyerah kepada kenyataan “betapa beragamnya bangsa Indonesia” yang kemudian dijadikan dalih empiris untuk tidak memperjuangkan kebakuan bentuk bahasa Indonesia. Pendahulu kita telah melihat keberagaman kita, sehingga mereka berpikir bahwa sebelum menyatukan hati, jiwa, semangat, salah satu bagian terpenting yang harus diseragamkan (melalui sumpah pemuda) adalah Bahasa, yang kemudian ditetapkanlah bahasa Indonesia sebagai bahasa identitas SATU-SATUNYA.

Bila kemudian kita menyerah kepada keberagaman kita untuk mengindonesiakan bahasa Indonesia, dengan dalih “setiap orang berhak berkomunikasi dengan cara dan bahasa yang dipilihnya sebagai wahana mewariskan budaya kelokalannya”, antitesis untuk pendapat tersebut adalah, ”lalu mengapa sepupu saya yang tinggal di Lhoksumawe bisa fasih sekali berdialek Jakarta!? (menggucapkan /nggak/ atau /gak/ misalnya)”. Bila sumber tuturan bahasa tersebut jaraknya ratusan kilometer dan berhasil menyerap ke dalam pemakaian sehari-hari dan terjangkau, lalu mengapa bahasa Indonesia tidak ada dalam tuturan sehari-hari di lokasi yang sama saat bahasa ini punya lebih banyak sumber (bacaan, tulisan pemerintahan: pengumuman, imbauan, surat negara dan contoh lainnya)?

Fenomena berikutnya, bagaimana bisa media cetak yang menjadi sumber bacaan bahasa tersebut kemudian ikut berkontribusi mengaburkan makna leksikal (makna kata dalam kamus) hanya demi keuntungan yang sebesar-besarnya.

Sumber kompas.com (09/11/2015 jam akses 15.04)

Daftar judul berita:

  1. Peneliti Temukan Cara Efektif Tenangkan Bayi Menangis. Sumber
  1. Kontras : Polisi Hanya Tangkap “Otak Kecil” Kasus Pembunuhan Salim Kancil. Sumber
  1. Terminal Mewah Pulo Gebang Hanya Jadi Tempat Tidur Sopir dan Tunawisma. Sumber

Dari sekian banyak judul berita ketika situs tersebut terakses, kita bisa melihat bahwa “hanya dari judul saja” dapat kita simpulkan mereka tidak ingin kehilangan keuntungan atau “mengirit kolom” dengan menghilangkan (menimalkan) penggunaan imbuhan (dalam kasus ini kebetulan semua kalimat membutuhkan awalan Me-).

Untuk diingat, yang kita bicarakan adalah bahasa Indonesia baku, tanpa embel-embel apapun. Bahkan bila dipaksakan menciptakan embel-embel “media massa”. Tidak ada lagi jawaban yang lain kecuali, ”bahasa ini tidak lagi menjadi pilihan”.

Kedua hal tersebut (mengasingnya penggunaan dan penyederhanaan bahasa) adalah ciri-ciri proses kepunahan bahasa. Apakah hal ini masih menjadi hal yang tidak penting lagi?

Lalu bagaimanakah cara pandang kita sebagai bangsa? adakah yang tersisa? Memang betul, bahasa daerah adalah akar bahasa nasional, yang menopang keberlangsungan bahasa tersebut. Tetapi bukankah kita memerlukan cara pandang kolektif sebagai bangsa, dan bagaimana cara pandang itu bisa tercipta bila perantara komunikasi dan alat bertukar pikiran (bahasa) rusak? Atau malah kemudian menjadi asing? Hal yang sangat logis terjadi kemudian adalah superioritas bahasa lokal satu terhadap yang lainnya, yang pasti akan membunuh bahasa lokal yang tidak terpilih. Lalu bahasa apa yang akan kita miliki?

Pemerintah bukan tidak melakukan apapun, melalui badan bahasa yang luar biasa bekerja keras membuat berbagai gerakan, mereka berusaha memelekkan masyarakat untuk menyemarakkan lagi bahasa Indonesia. Hanya saja, entah bagaimana tidak ada gebrakan yang terasa. Undang-undang sudah ada, kongres bahasa sudah ada, berbagai seminar kebahasaan sudah ada, entah apa lagi yang tidak tersentuh.

Oleh karena itu, pilihan ada di tangan kita yang menyadari bahwa pembunuhan ini sedang berlangsung secara masif dan agresif untuk turun tangan ataukah berpangku tangan. Dengan rasa keprihatinan terhadap bahasa Indonesia yang sedikit demi sedikit terlupakan, saya bersama teman saya ingin mengajak para pembaca untuk bergabung dalam Masyarakat Peduli Bahasa Indonesia (MPBI). Tujuan dari gerakan ini adalah untuk membangun kesadaran pemakaian bahasa Indonesia dengan cara mendokumentasikan setiap kesalahan yang terlihat di lapangan sebagai wujud kepedulian kita terhadap pemakaian bahasa Indonesia.

Semoga dengan mendokumentasikannya kita bisa bersama-sama membangun kesadaran diri pribadi dan orang lain untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan bisa lebih mengenal bahasa Indonesia lebih baik lagi. Demi martabat bangsa, identitas diri kita dan identitas anak-anak kita di masa yang akan datang.

Silakan ikuti akun jejaring sosial di bawah ini untuk ikut serta mendokumentasikan dan mengungggah kesalahan pemakaian bahasa Indonesia yang terjadi di sekeliling kita:

twitter : @satubahasakita

Facebook : Masyarakat Peduli Bahasa Indonesia

Instagram : @pedulibahasaindonesia

Keselamatan di Jalan Raya

Keselamatan di Jalan Raya

Kali ini saya ingin membagikan pengalaman bersama Kiran di jalan raya beberapa hari yang lalu. Membawa anak di jalan raya memiliki risiko yang sangat tinggi, khususnya bagi yang membawa balita. Keinginan bermain mereka yang sangat tinggi menyulitkan kita sebagai orangtua untuk bisa mengingatkan mereka untuk fokus dan berhati-hati di jalan raya.

Pada hari itu saya mengajak Kiran pergi ke sebuah percetakan untuk urusan pekerjaan. Singkat cerita setelah saya menyelesaikan urusan di sana, kami berjalan kaki menuju sebuah tempat yang terletak 2 gedung di sebelah percetakan untuk makan siang. Saat itu kami harus berjalan kaki di trotoar yang kondisinya sangat buruk dan tidak layak disebut sebagai trotoar. Setelah berjuang menghindari begitu banyak lubang di trotoar dan sekian banyak bunyi klakson yang ditujukan kepada kami, akhirnya kami tiba di lokasi.

Selama perjalanan saya memegang tangan Kiran untuk memastikan keamanannya. Ketika kami hendak menyebrang jalan di depan area lobi gedung, Kiran melepaskan tangan saya dan berlari dengan cepat mengejar sesuatu di atas aspal sehingga saya tidak bisa menjangkaunya. Melihat kendaraan yang melaju ke arah Kiran, saya memanggil Kiran dengan lantang dan langkahnya pun langsung terhenti karena terkaget mendengar suara saya.

Untung saja kendaraan tersebut pun melambatkan lajunya dan syukurlah tidak ada kejadian apa-apa. Ternyata ketika saya tanyakan kepada Kiran, dia bilang mau mengambil mainannya yang terjatuh dan menggelinding di atas jalan.

Pada saat makan siang, saya mencoba menyampaikan pesan bahwa apa yang dilakukannya sangat berbahaya dan dia harus selalu memerhatikan situasi di sekitarnya demi keselamatan dirinya. Akhirnya setelah berdiskusi mengenai keselamatan diri di jalan raya, berikut kesepakatan yang kami buat bersama :

  • Keselamatan diri adalah yang paling penting bukan barang.
  • Selalu mendengarkan ketika diingatkan.
  • Selalu berpegangan tangan ketika berjalan di jalan raya.
  • Jika menjatuhkan sesuatu jangan langsung mengambilnya. Lihat sekeliling dan pastikan tidak ada kendaraan.  Minta bantuan jika diperlukan dan jangan melakukan apa pun ketika ada kendaraan mendekati benda yang terjatuh.

Sebetulnya mungkin banyak hal yang bisa dibicarakan sebagai aturan ketika berada di jalan raya. Tetapi berdasarkan kejadian tersebut, poin-poin di atas adalah kesepakatan yang kami buat bersama dengan harapan bisa lebih memudahkan kami (saya dan istri) untuk mengingatkan Kiran ketika berada di jalan raya.

Semoga kiriman ini bisa menjadi pengingat untuk kita semua untuk tidak lengah ketika berada di jalan raya bersama anak. Memberikan pengertian kepada anak dengan cara yang mudah dipahami bisa meringankan tugas kita ketika bersama anak-anak di jalan raya.

Bertualang di Wahana Adventure of Human Body

Bertualang di Wahana Adventure of Human Body

Setelah bertualang di Rumah Perubahan beberapa hari yang lalu, sekarang saatnya kami membuktikan ketenaran Bekasi yang sempat heboh menarik perhatian banyak orang di jejaring sosial. Tujuan kami mendatangi Bekasi karena Summarecon Mal Bekasi menawarkan jelajah petualangan mengenai bagian tubuh manusia yang terangkum melalui wahana Adventure of Human Body yang menyajikan replika anatomi bagian tubuh manusia melalui pemanfaatan teknologi visual. 

Kami sudah membuat janji untuk berkegiatan bersama komunitas homeschooling Kerlap (Kelompok Bermain dan Belajar Depok) di sana. Waktu tempuh dari rumah kami ke lokasi yang dituju adalah 40 menit (dengan kondisi lalu lintas yang relatif lancar melalui Jalan Tol JORR).

Brosur Adventure of Human Body

Brosur Adventure of Human Body

Kesan pertama saya ketika keluar pintu Tol Bekasi Barat, sebetulnya tidak ada yang spesial tentang tempat ini, sampai di tengah perjalanan kami melihat sebuah gapura besar berdiri kokoh di atas jalan layang dengan tulisan SUMMARECON BEKASI di atasnya.

Jalan Layang Summarecon Bekasi

Jalan Layang Summarecon Bekasi

Beberapa menit kemudian, kami pun tiba di mal Summarecon Mal Bekasi dan segera meluncur ke lantai satu. Wahana Adventure of Human Body mudah sekali ditemukan karena terdapat beberapa hiasan dinding yang berbentuk tubuh manusia. Setelah menunggu beberapa saat, kami pun bertemu dengan teman-teman KERLAP. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 dan tempat sudah secara resmi dibuka. Tetapi sayangnya kami harus menunggu sebentar karena petugas loketnya belum datang sehingga kami tidak bisa membeli tiket supaya bisa masuk.

Setelah petugas loket datang, kami pun segera membeli tiket karena sudah tidak sabar ingin segera memasuki wahana yang berukuran raksasa itu dengan luas area mencapai 800 m2 (sumber: www.malbekasi.com). Singkat cerita, kami pun memasuki pintu masuk melalui mulut patung dan diajak untuk menjelajahi tenggorokan, pita suara, organ jantung, hati, ginjal, pankreas, usus, sistem saraf, hingga ke saluran pembuangan (rektum).

Kami pun segera disambut dengan sebuah tanda yang bertuliskan PITA SUARA. Ketika memasuki bagian PITA SUARA kami harus berjalan melewati katup bergetar yang memotong aliran udara dari paru-paru. Untuk memahami bagaimana cara manusia menghasilkan suara bisa dilihat di sini. Kemudian kami pun berjalan menuju bagian paru-paru.

Adventure of Human Body

Pita Suara

Dengan kondisi cahaya yang redup dan efek suara nafas yang diperdengarkan melalui pengeras suara dengan keras untuk memberikan pengalaman di dalam tubuh, ternyata membuat anak-anak merasa tidak nyaman. Semua anak yang memasuki ruangan ini langsung gelisah karena takut, termasuk Kiran. Saya pun mencoba menenangkan Kiran karena dia meminta untuk segera keluar. Tetapi saya bilang kalau mau keluar harus mengikuti jalan keluar, namanya juga petualangan.

Wahana unik ini mengajak para pengunjung untuk menjelajahi tenggorokan, pita suara, organ jantung, hati, ginjal, pankreas, usus, sistem saraf, hingga ke saluran pembuangan.

Berikut ini dokumentasi kunjungan kami di sana. Saya menampilkan foto-foto secara urut sesuai dengan urutan perjalanan. 

Jangan lewatkan kesempatan untuk mencoba wahana Adventure of Human Body yang berlokasi di lantai 1 Summarecon Mal Bekasi. Wahana ini dibuka setiap hari, mulai tanggal 23 Oktober 2015 sampai dengan 31 Januari 2016 pukul 11.00 WIB – 22.00 WIB. Tiket masuk sebesar Rp 30.000 per orang.

Sekadar informasi dari pengalaman kami kemarin, bagi yang tertarik mengunjungi tempat ini disarankan untuk tidak membawa balita. Suasana gelap, sempit dan efek suara yang diciptakan di dalam wahana tersebut bisa membuat anak-anak ketakutan. Untuk anak balita memasuki wahana ini seperti memasuki rumah hantu 😆 . Sayangnya kami pun tidak begitu menikmati wahana ini karena harus menenangkan anak yang ketakutan.

Untungnya di dalam mal ada area bermain untuk anak-anak sehingga anak-anak bisa bermain dengan seru dan melupakan pengalaman menakutkan yang mereka alami di dalam wahana. Setelah puas bermain kami pun makan siang bersama.

Saya lebih menyarankan wahana ini untuk dikunjungi anak-anak yang sudah atau akan  mempelajari anatomi tubuh supaya bisa memberikan pengalaman belajar yang menghibur dan interaktif melalui pemanfaatan teknologi visual yang ditawarkan.

Di sisi lain, Summarecon Mal Bekasi juga bisa dijadikan tempat alternatif bagi warga Jakarta yang ingin mendapatkan pengalaman berbeda. Pusat perMal yang dirancang sangat apik, membuat pengunjung sangat nyaman berada di dalamnya. Arena bermain dalam ruangan yang ditempatkan di tengah gedung membuat anak-anak bebas berlarian tanpa khawatir mengganggu pengunjung lainnya karena areanya yang luas. Tempat makan yang bervariasi juga ditawarkan tempat ini, mulai dari tempat makan ala resto cafe sampai dengan model pujasera dengan konsep pembayaran kartu yang sisa saldonya bisa diuangkan kembali. Yang paling penting untuk saya pribadi adalah ketersediaan lahan parkir yang sangat luas.

Saya bukan seseorang yang senang berjalan-jalan di mal atau mudah disenangkan dengan kondisi mal, tetapi mal ini telah memberikan pengalaman yang sangat positif untuk saya dan membuat saya ingin kembali ke sana. Bagi yang tertarik berkunjung ke sana berikut ini alamat lengkapnya :

Jalan Bulevard Ahmad Yani Blok M
Sentra Summarecon Bekasi 17142
Phone: (021) 2957 2888

Panduan dari Jakarta melalui Jalan Tol JORR :

Masuk Jalan Tol JORR kemudian mengarah ke Cikampek. Selanjutnya keluar di Pintu Tol Bekasi Barat. Setelah keluar pintu tol, ikuti jalan yang ada dan belok kiri pada pecahan jalan pertama, Anda akan langsung memasuki Jalan Jenderal Ahmad Yani (Anda tidak akan melihat petunjuk jalan menuju Summarecon Bekasi Mal sampai beberapa saat berada di jalan ini). Lurus saja dan naik flyover yang bertulisan SUMMARECON BEKASI. Selanjutnya Anda akan melewati bundaran dan setelah itu Anda harus berada di lajur jalan paling kanan karena akses masuk mal tidak jauh di depan Anda. Anda akan melihat tulisan MAL dengan tanda panah di jalan untuk mengarahkan Anda memasuki terowongan untuk langsung masuk ke area mal.

Ketuk di sini untuk melihat lokasi di Google Maps 

Berbagi Cerita di Komunitas Homeschooling Anak Usia Dini KERLAP

Berikut ini adalah catatan sesi berbagi saya bersama Komunitas homeschooling anak usia dini KERLAP.

Format tulisan sudah saya sesuaikan untuk kemudahan pembacaan dan sudah disesuaikan dengan keperluan penulisan di blog ini.

Sharing KERLAP:

Hari/Tgl: Sabtu/7 Nov 2015
Waktu : Pkl 21.00-23.00 WIB
Tema. : Pengalaman Deschooling Ananda, Mengapa Memilih Homeschooling?
Narsum: Paman Ian/Ayah Kiran 
Moderator: Mba Ersita
Notulen. : Mba Retno

Biodata Narasumber:

Nama: Rahdian Saepuloh
Umur: 32 tahun
Domisili: Jakarta Timur
Putra: Kiran
Aktivitas: Menjalani Homeschooling bersama Kiran dan bekerja.
Motto: Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kita bisa mempelajari segalanya “jika” kita mau.

Prolog:

Kiran sudah bersekolah sejak umur 2 tahun dengan alasan memberikan kesempatan untuk bersosialisasi daripada duduk manis di rumah menonton televisi. Saat itu kami khawatir anak kami terlalu banyak menonton televisi ketika kami titipkan di rumah kakek dan neneknya karena saya dan istri masih sibuk bekerja. Kegiatan di sekolah tersebut pun tidak ada yang berkaitan dengan akademis dan hanya bermain saja.

Namun menjelang usia 4 tahun dan menghadapi persiapan masuk TK, kami mulai memerhatikan apa yang terjadi di TK saat ini. Rupanya tuntutan sistem sekolah terhadap anak sudah semakin tinggi demi mengejar “keberhasilan” sistem pendidikan kita. Karena khawatir dengan sistem sekolah yang ada sekarang dan saya mendengar dari teman-teman saya bahwa anak-anaknya sudah belajar hal-hal yang akademis di TK sebagai persiapan memasuki sekolah dasar. Anak “wajib” bisa membaca, menulis dan berhitung sebagai sebuah syarat masuk sekolah dasar yang diinginkan (meskipun tidak undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut).

Tidak ada masalah dari tempat Kiran bersekolah sebelumnya, hanya saja kami lebih khawatir dengan kondisi sistem pendidikan sekarang yang cenderung memaksa anak untuk bisa menguasai hal-hal yang akademis sebelum anak-anak matang dan siap.

Sesi Tanya Jawab:

  1. Proses mengawali dan yg menjadi motivasi
    -eka, mama ginda-

Terima kasih atas pertanyaannya Mbak Eka.
Proses awal deschooling sudah saya lakukan dari semenjak Kiran bersekolah dengan cara melakukan kegiatan sepulang sekolah seperti mengunjungi perpustakaan dan membacakan banyak cerita, bermain di museum dan mengadakan kegiatan lainnya seperti mengajak Kiran mengunjungi tempat kerja saya dan makan siang bersama para pekerja lainnya. Kami pun membuat jadwal mingguan untuk Kiran bermain bersama teman saya yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Biasanya mereka makan siang bersama di luar dan berjalan kaki mengitari komplek perumahan teman saya.

Motivasinya adalah ingin menitikberatkan pada pendidikan karakter Kiran melalui kegiatan keseharian dan mempelajarinya melalui “mengalami” bukan pengajaran ceramah.

  1. Bolehkah minta contoh jadwal HS Kiran?
    -Retno-

Terima kasih Mbak Retno.
Jadwal Kiran selalu berubah mulai dari mengawali homeschooling sampai sekarang. Saya pribadi sempat stress mengatur jadwal karena masih menggunakan pendekatan “memindahkan sekolah ke rumah”. Akhirnya seiring berjalannya waktu kini kami lebih santai menjalani keseharian kami. Saat ini jadwal harian Kiran adalah mengikuti saya ke mana pun saya pergi. Kami belajar di mana pun itu memungkinkan.

Adapun kegiatan rutin yang kami lakukan bersama HSer lainnya adalah :

  • berkumpul dengan Klub Oase setiap hari rabu
  • berkegiatan bersama di Rockstar Gym setiap hari Kamis bersama Keluarga HSer
  • Mengikuti kelas Gymnastic, berenang dan tenis setiap hari Sabtu dan Minggu di Rockstar Gym.
  • Sisanya kami berkegiatan di rumah dan di tempat kerja saya.
  1. Mohon penjelasan bagaimana kalo anaknya yg sdh sekolah sampai kelas 5 sd dan sekarang sedang TK B. Karena saya mau meng-HS kan anak2. Truss bisakah klo kedua ortunya bekerja- -mondang ibu dari matthew kelas 5 sd dan kembar harel n herald TK B-

Terima kasih Mbak Mondang.
Sayangnya saya tidak bisa menjawab pertanyaan Mbak Mondang karena tidak memiliki anak yang sudah besar. Mungkin mengadakan sebuah transisi seperti yang saya sebutkan di atas di mana sepulang sekolah menyempatkan diri untuk berkegiatan bersama anak di luar dan menunjukkan kepada anak bahwa proses belajar bisa dilakukan di mana saja. Kemudian libatkan anaknya juga bahwa keputusan homeschooling ini dibuat bersama anak. Karena jika anaknya ingin bersekolah tetapi orangtuanya ingin homeschooling bisa menjadi konflik juga. Semoga jawaban saya bisa membantu Mbak Mondang. 

Oh ya satu lagi mengenai kondisi kedua orangtuanya yang bekerja.
Saat ini kami berdua dalam keadaan bekerja. Tetapi kondisi pekerjaan saya lebih fleksibel karena memiliki usaha sendiri sehingga memiliki keleluasaan untuk membawa Kiran ke tempat kerja. Saran saya adalah meminta ijin kepada tempat Mbak Mondang atau suami bekerja apakah diperbolehkan untuk membawa anak ke tempat kerja. Jika diijinkan tentunya bisa mengakomodir keperluan homeschooling anaknya tetapi jika tidak, mungkin harus dipikirkan alternatif lainnya. Yang pasti adalah komitmen seluruh anggota keluarga dalam menjalani homeschooling, insyaallah akan selalu ada jalan.

  1. Pernahkah Kiran minta kembali sekolah spt tmn-tmn yang lain? Lalu bgmn jawabannya?
    Trm ksh (Husnul ibunya Hanif)

Terima kasih Mbak Husnul.
Alhamdulillah sempat saya tawarkan untuk kembali ke sekolah tapi dengan tegas anaknya menjawab tidak. Karena lebih menikmati fleksibilitas kesehariannya. Sempat ada kejadian beberapa hari yang lalu saya diundang ke sekolah lamanya kiran untuk menjadi guest speaker dan uniknya saya harus tampil di depan teman-teman Kiran yang dulunya sekelas dengan Kiran. Kiran pun saya ajak untuk menjadi asisten saya pada kegiatan tersebut sekalian melihat apakah ada keinginannya untuk kembali ke sekolah. Ternyata anaknya masih tetap tidak mau bersekolah. Cerita selengkapnya bisa dibaca di blog kami di sini :http://belajarbersama.com/bertugas-sebagai-asisten/ 

  1. Apakah proses deschooling utk kiran menyenangkan buat Kiran? Karena anak pertama saya juga deschooling sewaktu kelas 2 SD, yang kedua SMP TK saja, kelas 1 langsung hs, rasanya beda antara anak yang pernah sekolah dengan yang langsung hs, kalau Kiran gimana ya…
    -noname-

Alhamdulillah proses homeschooling kami tidak hanya menyenangkan untuk Kiran tetapi untuk orangtuanya. Sebetulnya kamilah sebagai orangtua yang banyak diajari oleh kesehariannya Kiran.

  1. Bagaimana menentukan target belajar Kiran? baik akademis maupun nonakademisnya.

-Sastri-

Terima kasih Mbak Sastri.
Kami tidak memiliki target akademis karena justru tujuan awal kami homeschooling adalah menghindarkan Kiran dari beban akademis sebelum dirinya siap. Meskipun tidak ada masalah mengenai kemampuan kognitifnya. Bahkan sekarang Kiran sudah mampu membaca buku sendiri dan berhitung dengan pengoperasian tambah dan kurang. Semua itu dipelajarinya karena ketertarikannya sendiri bukan atas dorongan kami. Dari kecil kami biasakan Kiran terbiasa dengan buku dan membacakan cerita kepadanya akhirnya muncullah ketertarikan untuk membaca (itu pun dari sebuah permainan Android). Kemudian berhitung pun dia pelajari dari bermain permainan papan ular tangga.

Saat ini kami tidak membuat target spesifik baik akademis maupun nonakademis. Tetapi lebih mengalir dalam keseharian kami dan membahas setiap kejadian untuk penguatan pendidikan karakternya. Seperti contohnya kami bisa membahas masalah kesadaran membuang sampah dan akibatnya terhadap lingkungan bisa menjadi bahan diskusi kami berhari-hari. Cara menghormati orang lain, pentingnya mengantre, cara menyela pembicaraan dengan baik, dll. Hal seperti ini lebih penting bagi kami daripada kemampuan akademisnya.

  1. Apa komentar atau opini orang2 terdekat (khususnya sanak saudara) yg mengetahui Kiran yg awalnya sekolah menjadi HS?

~Mba Febri (Bunda Yasmine)~

Terima kasih Mbak Febri
Pertanyaan yang menarik. Awalnya semua orang menentang keputusan saya termasuk istri saya sendiri. Singkat cerita (karena kalau diceritakan bisa panjang sekali di sini), istri saya sekarang sangat mendukung setelah melihat bagaimana homeschooling kami dilakukan. Tentunya semua orang menentang keputusan ini. Tetapi saya tidak menjadikan hal tersebut sebagai pilihan orang lain. Saya mencoba membuat situasinya jelas bahwa This is our own family and we do everything our own way. Sehingga tidak masalah apakah orangtua atau orang lain menentang, karena ini adalah keluarga kami dan kami tidak perlu meminta ijin kepada siapa pun. Seiring waktu berjalan pun pikiran mereka lebih terbuka setelah melihat keseharian kami. 

  1. Apakah pelajaran yang bersifat akademis itu diajarkan kepada kiran??
    -alisha-

Terima kasih Mbak Alisha.
Pelajaran yang bersifat akademis sama sekali tidak kami ajarkan. Kami lebih banyak membacakan buku cerita kepada Kiran untuk dijadikan pembelajaran dan bahan diskusi.

  1. Berarti Kiran sudah sekitar 3 ato 4 tahun homeschooling ya? Rencananya sampai berapa lama target homeschoolingnya? Diakhir. Homeschooling target orangtua terhadap Kiran apa aja, baik dari sisi anak ataupun lingkungan selepas homeschooling? Terimakasih Ayah Kiran

-Sastri-

Terima kasih Mbak Sastri.
Tidak, Kiran menjalani deschooling sejak October 2014 dan mulai menjalani homeschooling sepenuhnya bulan Maret 2015.

Berapa lama kami menjalani homeschooling kami kembalikan lagi kepada Kiran nantinya. Hanya saja saat ini anaknya sangat menikmati homeschooling. Jika nanti anaknya memutuskan terus homeschooling, ya kami lanjutkan. Kemudian jika anaknya ingin masuk sekolah ya, akan kami sekolahkan.

Tujuan utama kami dalam pendidikan Kiran tidaklah menekankan pada kemampuan akademisnya. Tetapi pada kepribadiannya. Secara sederhana kami menginginkan anak yang “benar” daripada anak yang “pintar”. Benar di sini diartikan dengan memiliki karakteristik manusia yang seutuhnya, untuk saling mengasihi tanpa memandang stasus sosial, agama dan sebagainya dan bisa menjadi seseorang yang bisa membuat perubahan yang baik di sekitarnya.

  1. Bolehkah kita sebagai ortu mentargetkan sesuatu skill atau kebisaan pada anak kita? Contoh : anak pandai bahasa inggris & hafal alquran?

~febri~

Terima kasih Mbak Febri.
Inilah yang saya sukai dari model pendidikan rumah (homeschooling). Seperti yang ditulis Mas Aar di bukunya Apa itu Homeschooling: Kata Kunci homeschooling adalah BOLEH. Saya hanya menambahkan asalkan anak juga memahami dan menikmati tujuan dari target tersebut sehingga anak tidak merasa terbebani atas “keinginan orangtua” bukan keinginan anak

  1. Bolehkah tau jadwal/timetable kesehariannya kegiatan kiran dr pagi smp malam? terimakasih.

– Ayu ratih (mama ryuga) –

Terima kasih Mbak Ayu Ratih.

Keseharian Kiran saat ini adalah:

Pagi: menyelesaikan 4 simple steps: Bangun tidur, Membereskan tempat tidur, mandi, dan sarapan. Setelah itu kami bermain bersama sampai siang.

Siang: Menemani saya bekerja di kantor (di kantor pun saya berdayakan untuk membantu sebisanya seperti mengelap meja, mencuci piring dan menawarkan bantuan kepada pekerja jika butuh bantuannya. Misalnya, memberikan dokumen dari satu ruangan ke ruangan lainnya.)

Sore dan malam : Menunggu Bunda Kiran mendatangi tempat kerja saya dan kami pulang ke rumah bersama. Magrib kami wajibkan solat berjamaah. Kemudian Bunda Kiran memperkenalkan Juz Amma. Kemudian selepas Isya biasanya kami melakukan review atas apa yang menjadi perhatian kami pada hari tersebut. Misalanya ada perilaku Kiran yang kurang menyenangkan dan kami membahasnya. Jika tidak ada yang dibahas biasanya kami mengajak Kiran menonton film bersama (elmo atau Charlie and Lola) dan membacakan cerita pengantar tidur.

  1. Memperhatikan pola komunikasi ayah kiran dan kiran selalu menggunakan bhs inggris atau bilingual (saat playdate),, apakah ini termasuk metode HS dari Ayah Kiran? Bagaimana kalau si orangtua yg memiliki keterbatasan dlm bhs inggris, namun ingin memperkenalkan bhs. Inggris kpd anaknya tapi jgn sampai terjebak pada metode pengajaran model sekolah formal

-Sastri-

Terima kasih Mbak Sastri.
Kami (saya dan istri) memang sudah merancang semenjak menikah jika memiliki anak ingin memiliki anak yang bilingual, bahkan kalau bisa poliglot (menguasai banyak bahasa). Tujuannya adalah untuk memberikan keterampilan dan berbahasa dan mencari informasi ke depannya. Misalnya saat ini sumber informasi di internet berlimpah ruah bahkan tak berbatas, hanya saja informasi tersebut hanya tersedia di dalam bahasa Inggris. Informasi dalam bahasa Indonesia masih sangat terbatas.

Jika ingin anaknya bilingual dan tidak terjebak dalam pengajaran model sekolah formal tentunya orangtua harus terlibat dan menggunakan bahasa inggris dalam kesehariannya. Tentu orangtua tidak harus “jago” berbahasa asing tetapi setidaknya menumbuhkan kebiasaan berbahasa asing yang diinginkannya dimulai dengan ungkapan-ungkapan sederhana. Sehingga setelah rasa percaya diri anak muncul, orangtua tinggal menyediakan kesempatan untuk anak menggunakan bahasanya. Misalnya bergaul dengan anak-anak yang bilingual, menonton acara berbahasa asing, atau menggunakan jasa guru bahasa untuk berlatih bersama anak.

Untuk penutup sharing malam ini. Saya hanya ingin menyampaikan kepada teman-teman sekaligus pengingat untuk diri saya sendiri untuk terus belajar dan bertumbuh bersama anak-anak kita tercinta. Berjejaring untuk saling menguatkan satu sama lain di antara keluarga praktisi homeschooling. Investasi terbesar yang bisa kita berikan untuk anak kita adalah waktu dan kehadiran kita.

Terima kasih untuk Mbak Ersita yang telah meluangkan waktunya menjadi moderator. Terima kasih Mbak Retno dan teman-teman lainnya atas kesempatan yang diberikan kepada saya membagikan pengalaman yang baru sedikit ini. Semoga kita bisa sama-sama belajar dan informasi yang saya berikan bisa bermanfaat untuk teman-teman yang lain.

Membangun Keteraturan Melalui Pertemuan Pagi

Kali ini saya ingin berbagi tentang Pertemuan Pagi yang sudah kami lakukan selama seminggu dan sangat bermanfaat untuk membangun keteraturan dalam kesehariannya. Ide ini saya modifikasi dari pengalaman saya mengajar di sebuah sekolah beberapa tahun lalu. Dalam pertemuan pagi ini kami melakukan tiga hal, yaitu, menyanyikan lagu nasional, berbagi cerita, dan berencana. Kegiatan ini kami lakukan setelah Kiran menyelesaikan tanggung jawabnya setiap harinya.

Mengapa menyanyi? Saat ini Kiran senang sekali menyanyi. Setiap kali dia bermain dia selalu bersenandung ria. Sayangnya saya mencampur lagu anak-anak dan lagu dewasa di dalam sebuah media penyimpanan untuk didengarkan di dalam mobil. Jadi Kiran pun sering menyanyikan lagu-lagu dewasa yang tidak tepat untuk usianya saat ini. Target saya adalah Kiran bisa menyanyikan satu lagu (nasional atau anak-anak) setiap minggunya.

Di sesi berbagi cerita, kami saling berbagi satu sama lain tentang banyak hal, mulai dari mainan kesukaannya, menyampaikan perasaan, mengulas kegiatan yang dilakukan sehari sebelumnya sampai masalah perilaku tidak baik yang dilakukannya. Di sini saya bisa menyisipkan hal yang saya anggap penting untuk dibahas, khususnya masalah perilaku atau kedisiplinan dengan bentuk diskusi sehingga menghindarkan saya untuk berceramah.

Selain itu di dalam sesi berbagi ini saya bisa mengevaluasi kemampuan berbahasa Kiran. saat ini evaluasi yang saya lakukan sangat sederhana saya menyimak apakah Kiran mampu menyampaikan isi pikirannya dengan baik dan terstruktur ketika dirinya sedang bercerita.

Di sesi ini, selain belajar tentang pentingnya bergiliran untuk berbicara, banyak hal lainnya yang bisa kita eksplorasi selama kegiatan ini berlangsung.

Bagian ketiga dari pertemuan pagi kami adalah berencana. Kami membahas rencana kegiatan pada hari tersebut. Perencanaan pun kami lakukan dengan sederhana hanya berfokus pada urutan kejadian. Misalnya, “Hari ini kita akan pergi ke lokasi A kemudian setelah itu pergi ke lokasi B dan makan siang di sana.”

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan supaya kegiatan ini bisa berlangsung lancar dan menyenangkan:

  • Lakukan dengan suka cita, jangan terjebak dengan label pertemuan pagi itu sendiri. Silakan berikan nama lain yang lebih bisa diterima oleh anak-anak sehingga bisa menghilangkan kekakuan dalam melakukannya.
  • Urutan kegiatan seharusnya tidak menjadi masalah jika setiap hari si anak memilih untuk membuat urutan yang berbeda. Kita tanggapi keinginan anak sebagai sebuah inisiatif supaya terbiasa menyampaikan keinginannya dan melatih anak untuk bisa memimpin sebuah pertemuan.
  • Biarkan kegiatan tersebut mengalir. Ada kalanya pertemuan berlangsung selama setengah jam tidak jarang juga pertemuan diselesaikan hanya dalam waktu 10 menit. Kuncinya adalah kebiasaan yang dilakukan setiap hari, bukan durasi. Saya tidak menyarankan membuat target waktu karena khawatir kegiatan tersebut akan menjadi kaku dan menjadi tidak menyenangkan lagi bagi anak karena terlalu mengkhawatirkan masalah waktu.
  • Yang paling penting adalah suasananya harus santai dan menyenangkan. Jangan terkesan seperti memindahkan suasana kelas ke dalam rumah.

Semoga informasi ini bermanfaat.