Pastikan Keberadaan Keluarga Ketika Diperlukan

Pastikan Keberadaan Keluarga Ketika Diperlukan

Akhirnya, musim hujan yang telah dinantikan sudah dimulai. Biasanya banyak persiapan yang harus kita lakukan dalam menghadapi musim hujan. Mulai dari menyiapkan mental dan perlengkapan diri,  khususnya untuk orang-orang yang tinggal di Jakarta karena di musim ini tingkat kemacetan lalu lintas akan bertambah parah. Tidak sedikit juga kecelakaan yang disebabkan oleh jalanan rusak yang tertutupi genangan air sehingga menyebabkan para pengendara sepeda motor harus lebih berhati-hati dalam berkendara.

Tentunya memastikan keselamatan anggota keluarga tidak hanya dilakukan pada saat musim hujan. Ada beberapa hal yang biasanya kita persiapkan ketika menghadapi musim hujan khususnya jas hujan, payung dan sepetu bot. Kali ini saya ingin menyarankan setiap orang untuk memaksimalkan ponsel pintarnya untuk memastikan keselamatan anggota keluarganya. Pada tulisan ini saya ingin membagikan pengalaman keluarga kami dalam menggunakan aplikasi yang bernama Life360 berbasis Andorid yang bisa diunduh gratis oleh penggunanya. Aplikasi ini memberikan ketenangan bagi seluruh anggota keluarga kami.

Aplikasi ini dapat digunakan untuk membantu orangtua yang masih khawatir terhadap anaknya yang beranjak dewasa dan baru dilepas untuk keluar rumah sendiri atau bagi para orangtua yang memiliki anak perempuan dan ingin memastikan keberadaannya jika terjadi apa-apa terhadap anaknya. Selain itu aplikasi ini dapat mempermudah kita melacak ponsel kita yang hilang.

Family Locator Application

Family Locator Application

Apa itu Life360?

Aplikasi ini bisa Anda temukan jika Anda mengetikkan kata kunci “family locator” di Playstore. Apa itu Life360? Secara teknis aplikasi ini adalah alat pelacak dengan menggunakan alat pemosisi global (GPS) yang terdapat di dalam ponsel pintar kita. Aplikasi ini berfungsi untuk memberitahu para penggunanya lokasi masing-masing yang tentunya hanya bisa dilihat jika kita berada di dalam “lingkaran” yang sudah ditentukan.

Teknologi hadir untuk mempermudah hidup kita, sehingga jika aplikasi ini disalahgunakan untuk keperluan “mengawasi” tentunya para penggunanya tidak akan merasa nyaman karena merasa dirinya “diawasi” setiap saat. Oleh karena itu saya menyarankan penggunaan aplikasi ini untuk digunakan dengan persetujuan para penggunanya demi alasan keselamatan.

Peringatan: Jangan menggunakan aplikasi ini jika Anda belum berkeluarga dan masih dalam proses saling mengenal. Orang-orang yang sudah berkeluarga pun belum tentu mau menggunakan aplikasi ini karena tidak akan bisa lagi membohongi anggota keluarganya 😉 

Pengaturan Dasar Aplikasi

Setelah Anda memasang aplikasi Life360 di ponsel pintar Anda, lakukan langkah-langkah berikut:

  • Carilah menu yang bertuliskan “Circle” dan buatlah lingkaran keluarga atau teman-teman Anda.
  • Kemudian ketuk pada pilihan “Add someone”. Anda bisa memilih orang yang ingin Anda masukkan dari dalam kontak atau Anda bisa memasukkan informasi mengenai orang tersebut secara manual.
  • Setelah Anda memasukkan orang-orang ke dalam lingkaran, selanjutnya Anda bisa mengatur menamai 2 lokasi yang selalu dikunjungi oleh orang-orang di dalam lingkaran Anda (untuk jumlah lokasi tak berbatas, Anda harus menggunakan layanan Premium yang disediakan dengan membayar sejumlah uang yang bisa dibayarkan per bulan atau per tahun).

Selama setahun ini kami sudah menggunakan aplikasi Life360 secara gratis yang hanya dilengkapi fitur standar dengan 2 lokasi. Keluarga kami misalnya, mengatur kedua lokasi tersebut dengan lokasi rumah dan tempat kerja Bunda Kiran.

Lokasi yang telah diatur

2 lokasi gratis yang telah diatur

Perbedaan antara layanan gratis dan berbayar hanyalah dari berapa banyak lokasi yang bisa kita atur. Untuk menggunakan lebih dari 2 lokasi, kita harus menggunakan layanan premium dengan sistem pembayaran per bulan atau per tahun. Di luar 2 lokasi yang telah diberikan secara cuma-cuma tersebut, kita masih bisa memantau lokasi para pengguna di dalam lingkaran kita. Hanya saja tidak bisa kita bernama.

Keuntungan menggunakan lokasi yang bisa kita atur adalah fitur pemberitahuan otomatisnya. Fitur ini bisa memberitahu di antara para penggunanya jika ada seseorang yang tiba atau meninggalkan lokasi yang sudah kita atur. Dengan pengaturan seperti ini saya dan istri sudah tidak perlu saling mengabari jika hendak pergi dari rumah atau tiba di rumah, karena secara otomotis aplikasi ini akan memberitahu para penggunanya bahwa orang tersebut sudah tiba di lokasi atau meninggalkan lokasi. Tentunya setiap pengguna bisa mengatur notifikasi ini untuk diaktifkan pada orang tertentu saja atau pada setiap pengguna di dalam lingkarannya.

Kapan pun Anda ingin memastikan keberadaan anggota keluarga Anda, aplikasi ini bisa menghilangkan kekhawatiran Anda dalam hitungan detik. Saya dan keluarga menggunakan aplikasi ini karena dalam menjalani pendidikan rumah Kiran, saya sering pergi keluar rumah dan Bunda Kiran bisa mengecek keberadaan kami setiap saat. Saya pun sangat khawatir karena Bunda Kiran menggunakan sepeda motor sebagai kendaraan utama dalam menjalani aktifitasnya. Sebagai antisipasi masalah di jalan raya, Bunda Kiran bisa mengirimkan koordinatnya sehingga saya bisa mendatangi lokasi tersebut dan membantunya jika berada dalam keadaan darurat. Saya pun bisa memantau orangtua saya yang jaraknya ratusan kilometer di Bandung dan memastikan keberadaan mereka jika ada situasi darurat.

Selain itu banyak fitur lainnya yang bisa kita gunakan dengan cuma-cuma seperti reminder, task, chat, emergency alert dan manual check in.

Fitur lainnya bisa dilihat dari cuplikan layar berikut ini:

 

Perayaan Natal Jakarta Homeschool Club 2015

Perayaan Natal Jakarta Homeschool Club 2015

Salah satu alasan kami menjalani model pendidikan rumah bagi Kiran adalah penguatan karakter. Fokus utama pendidikan kami berada pada pendidikan karakter daripada akademis. Banyak hal yang berkaitan dengan pendidikan karakter di antaranya adalah memiliki toleransi terhadap orang lain terlepas dari status dan kepercayaannya. Tidak ada satu manusia terlahir memiliki “label”, manusia dewasalah yang memberikan status dan label sehingga hubungan di antara individu semakin jauh dari rasa kemanusiaan.

Kami menyadari bahwa untuk memiliki sikap bertoleransi memerlukan perjalanan panjang dan pemahaman terhadap sifat ini bukanlah sebuah teori yang bisa kita ajarkan dalam waktu yang singkat. Kenyataannya belajar bertoleransi terhadap orang lain harus berada di dalam situasi “menyaksikan” atau “mengalami” karena hakikatnya mengetahui informasi dan menjalankan apa yang kita ketahui adalah dua hal yang sangat berbeda. Oleh karena itu, saya selalu mencari kesempatan untuk memperkenalkan Kiran kepada hal-hal baru yang mungkin untuk kebanyakan orang dianggap liberal. Tetapi saya selalu yakin bahwa segala sesuatu yang diniatkan dengan baik akan berakhir dengan baik.

Pengalaman kali ini sangat berkesan bagi kami sekeluarga. Semua berawal dari perkenalan kami dengan Ibu Ida Luther dan keluarga pada acara Festival Pendidikan Rumah (FESPER) 2015 di Cibodas pada bulan Agustus lalu. Setelah acara FESPER kami pun berkomunikasi via Whatsapp dan Facebook. Meskipun baru saling mengenal, entah mengapa sepertinya kami seperti sudah kenal lama tidak merasa canggung pada saat berkomunikasi (situasi seperti ini mulai menjadi pola keseharian kami semenjak menjalani pendidikan rumah dan bertemu dengan para praktisi pendidikan berbasis keluarga).

Singkat cerita saya menyampaikan kepada Ibu Ida bahwa kami ingin memberikan kesempatan kepada Kiran untuk merasakan indahnya memiliki sifat toleransi, salah satunya kami selalu mengundang diri kepada teman dekat kami yang beragama kristen yang sudah kami anggap sebagai keluarga pada setiap perayaan natal. Ya, kami yang mengundang diri dan tahun ini akan menjadi perayaan natal kami yang kelima bersama sahabat kami. Oleh karena itu, Ibu Ida pun tidak ragu untuk mengundang kami menghadiri acara perayaan natal Jakarta Homeschool Club (JHC) yang diselenggarakan pada tanggal 5 Desember 2015 di Jakarta Design Center.

Konsep acara ini patut ditiru karena minim sampah. Setiap keluarga membawa makanan yang bisa dibagikan kepada semua orang yang hadir dan setiap orang harus membawa peralatan makannya sendiri. Kami pun datang tepat pada waktu yang telah ditentukan dan langsung disambut oleh Kim (putri Ibu Ida). Acara ini dipandu langsung oleh Ibu Ida dan kami pun baru mengetahui kemudian bahwa Ibu Ida ternyata adalah salah satu dari tiga orang pendiri JHC.

Ada rasa waswas karena ini pertama kalinya kami bertemu dengan orang-orang di JHC dan pada saat acara yang sangat spesial bagi mereka. Apalagi JHC adalah komunitas homeschooling kristen dan kami adalah satu-satunya keluarga non-kristen yang hadir pada acara tersebut. Tetapi semua kekhawatiran itu langsung sirna ketika kami disambut dengan sangat ramah oleh setiap anggota JHC sejak awal kedatangan kami, bahkan kami pun terharu karena setiap makanan diberikan label dengan keterangan halal dan tidak halal dan beberapa orang mengingatkan kami menu apa saja yang halal pada saat makan malam berlangsung. Ada beberapa nama yang kami langsung kenal seperti Ibu Lenny dan Lina kemudian Ibu Dewi yang membantu saya menyisihkan makanan tidak halal karena saya salah mengambil.

Ibu Ida (paling kiri) dan Ibu Lenny (paling kanan)

Selama kami berada di acara tersebut, tidak sedikit pun kami melihat ada pandangan aneh baik dari anak-anak maupun orang dewasa JHC. Keberadaan Bunda Kiran yang berkerudung pun tidak terlihat mengganggu mereka. Bahkan kami pun diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri dan berbagi di bagian acara “Family Sharing Moment” di mana setiap keluarga menyampaikan rasa syukurnya dan kesan-kesan mereka dalam menjalani pendidikan rumahnya masing-masing tahun ini. Pola lainnya pun terlihat ketika para praktisi pendidikan berbasis keluarga ini mulai mendapatkan berkah dan kebahagiaan dari pendidikan rumah yang mereka jalani. Pengalaman perbaikan kehidupan di dalam keluarga ini selalu saya dengar dari para praktisi pendidikan rumah dan sedikit demi sedikit keluarga kami pun merasakannya.

Ada satu kegiatan di dalam rangkaian acara tersebut yang sangat berkesan bagi kami dan khususnya Kiran, di mana Ibu Ida memberikan Character Recognition Certificate kepada semua anak JHC atas pencapaian mereka hasil observasi keseharian mereka pada saat berkegiatan di JHC. Setiap anak menantikan namanya dipanggil ke depan untuk menerima sertifikat tersebut dan terlihat sangat senang ketika menerima sertifikatnya. Tanpa diduga di akhir pemberian sertifikat itu, ternyata nama Kiran dipanggil. Dari interaksi Kiran pada saat acara FESPER bersama Ibu Ida sekeluarga, Kiran pun mendapatkan sertifikat dengan kualitas karakter Tolerance. Kiran pun merasakan sensasi kebahagiaan menerima sertifikat tersebut. Senyumnya melebar dan matanya berbinar pada saat namanya dipanggil ke depan oleh Ibu Ida.

 

Berikut ini adalah dokumentasi acara tersebut: 

Tidak terasa tiga jam pun telah berlalu dan kami menikmati setiap menitnya bersama keluarga JHC. Meskipun tidak banyak bercengkerama dengan para orangtua JHC, tetapi bahasa tubuh dan cara mereka menerima kami sangat membuat kami merasa nyaman. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ida dan seluruh keluarga JHC atas keramahan dan kehangatannya menerima kami sekeluarga. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan untuk lebih mengenal satu sama lain. Kami pun berharap Kiran dapat mengenang pengalaman malam itu dan menjadikannya sebagai contoh yang baik sikap bertoleransi antar umat beragama.

Seandainya semua orang bisa saling bertoleransi seperti ini tanpa memandang warna kulit, negara, dan khususnya agama. Bisa dibayangkan indahnya persatuan di dunia ini hidup rukun berdampingan seperti cuplikan lagu Imagine yang dilantunkan John Lenon di bawah ini.

. . .
Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one
. . .