Kamtasia (Kampung Komunitas Indonesia)

Kamtasia (Kampung Komunitas Indonesia)

KAMTASIA diselenggarakan di Kampoeng Java, Salatiga selama 3 hari 2 malam (12-14 Agustus 2016). Konsep kegiatan ini dibuat dengan tema perkemahan. Meskipun berkemah, para peserta dimanjakan dengan layanan yang diberikan oleh panitia mulai dari makanan yang disiapkan tepat waktu dan makanan ringan yang selalu tersedia menjelang makan siang. Tim panitia telah mempersiapkan semuanya dengan baik. Kami pun tidak khawatir dengan anak-anak karena panitia telah menyediakan berbagai kegiatan untuk anak-anak sehingga orangtuanya dengan leluasa mengikuti kegiatan yang berlangsung.

Acara ini dihadiri oleh pelaku komunitas di dunia pendidikan. Para keluarga yang mengutamakan pendidikan berbasis keluarganya. Terdapat lebih kurang 50 keluarga yang mengikuti kegiatan ini. Setiap keluarga ditempatkan dalam sebuah kampung dengan total 7 kampung dan terdapat 6 sampai 8 keluarga di setiap kampungnya. Terdapat kafe dadakan dari komunitas CBE Kampung Juara yang memanjakan kami dengan jajanannya yang sehat dan membuat kami dapat menikmati suguhan kafe di sela-sela kegiatan.

Kegiatan yang pertama kali diadakan ini adalah proses kolaborasi antara komunitas dari berbagai kota. Kami bertemu beberapa keluarga yang sudah kami kenal dan juga berkesempatan untuk mengenal keluarga-keluarga baru yang menyenangkan. Banyak ilmu yang kami dapatkan dari kegiatan ini. Mulai dari penanganan pendidikan anak, cara berkomunitas, sampai dengan pengembangan diri. Untuk saya, kegiatan ini menyegarkan pikiran saya. Bagaimana saya belajar untuk mengelola diri dan berefleksi dari setiap orang yang saya jumpai.

Sudah dua kali saya mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Padepokan Margosari (sebutan untuk keluarga Ibu Septi dan Pak Dodik). Saya mulai melihat ciri khas dari kegiatan yang mereka adakan, salah satunya yang saya suka adalah larangan untuk membahas SARAT (Suku Agama Ras dan Anggota Tubuh) ketika berkegiatan dan fokus pada kebutuhan diri. Ambil yang kita anggap baik dan tidak perlu menghakimi orang lain. Tidak ada benar dan salah melainkan bermanfaat atau tidak bagi yang menerima informasi. Nilai ini mulai saya resapi dan kami terapkan sebagai nilai di dalam keluarga.

Fokus dari kegiatan ini adalah sebagai forum untuk belajar, berbagi dan berjejaring antara pelaku komunitas khususnya di bidang pendidikan dengan tema kegiatan CBE (Community Based Education).

Terdapat beberapa perwakilan dari komunitas yang sudah lama terbentuk dan yang baru terbentuk membagikan cerita dalam komunitasnya. Setiap peserta kegiatan diharapkan dapat mengambil nilai-nilai yang dapat ditiru dan diaplikasikan di dalam komunitasnya masing-masing. Sekali lagi Pak Dodik sebagai moderator mengingatkan kami semua bahwa sesi berbagi tersebut bukanlah sesi penghakiman melainkan sesi berbagi yang harus kami manfaatkan sebaik-baiknya.

Setiap komunitas dibentuk atas dasar kesamaan terhadap sesuatu, mulai dari kesamaan lokasi, kesamaan minat, hobi,atau profesi, kesamaan nilai atau perpaduan dari semuanya. Ketika seseorang bergabung dalam sebuah komunitas tentunya ada sebuah harapan pemenuhan kebutuhan bersama yang kemudian dirancang untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Komitmen setiap anggota komunitas menjadi kunci utama dalam keberlangsungan sebuah komunitas.

Sebulan sebelum para peserta bertemu Pak Dodik dan Ibu Septi menyediakan forum diskusi via Whatsapp untuk persiapan kami yang diadakan seminggu sekali. Dimulai dari sesi Fine Tuning untuk memastikan semua peserta memahami konsep yang diadakan oleh Padepokan Margosari:

Komunitas terdiri dari sekumpulan orang atau kelompok orang yang memiliki kesamaan dan melakukan interaksi sosial diantara mereka.

Sifat komunitas ini longgar sekali, ada yang diorganisasi dengan baik (well organized), ada yang berjalan tanpa arah, ada yang memiliki ikatan kuat,  ada pula yang longgar, ada yang memiliki struktur dan pembagian tugas, ada juga yang serabutan, ada yang berbadan hokum, ada pula yang sekadar kumpulan, dan sebagainya. Sifat-sifat ini tidak serta merta menjadikan sebuah komunitas baik atau tidak baik.

KAMTASIA tidak bermaksud menyatukan pendapat. Peserta justru didorong untuk pulang dengan membawa aneka rupa gagasan yang akan diwujudkan di area aktivitas masing-masing. Warna-warni ini akan menjadikan kita kaya ragam dan memiliki banyak alternative kegiatan komunitas. Perbedaan itu indah dan rahmat. Berbeda itu biasa.

Beberapa tamu yang diundang bukan untuk mengajari hidup berkomunitas melainkan memperkaya wawasan kita.

Sejak Ibu Septi memperkenalkan CBE, banyak dari kami yang penasaran dengan konsep ini. Apa itu CBE dan apakah semua komunitas homeschooling adalah CBE? Dan banyak pertanyaan yang dilontarkan para peserta kegiatan. CBE adalah program swadaya masyarakat di dalam membantu pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dimulai dengan para keluarga mendidik anak-anaknya dengan baik, kemudian meluas pada masyarakat sekitarnya sehingga terwujud generasi yang unggul. 

Pak Dodik memberikan contoh CBE yang terjadi di Venezuela di tingkat pendidikan tinggi sebagai berikut:

Di Venezuela, sebuah revolusi sedang berlangsung dalam dunia pendidikan. Revolusi telah mengubah orientasi pendidikan: pendidikan tidak lagi untuk tujuan profit dan mencetak tenaga kerja murah, tetapi untuk mencerdaskan rakyat dan memanusiakan manusia.

Revolusi pendidikan di Venezuela telah melangkah lebih jauh lagi: metode dan konsep pendidikan pun berubah. Pendidikan tidak melulu formal dan mekanis, tetapi sekarang diselenggarakan secara demokratis, egaliter, dan terintegrasi dengan rakyat atau komunitas.

Salah satu terobosan itu adalah pembentukan sekolah dokter bernama “Medicina Integral Comunitaria” (MIC). Berbeda dengan sekolah dokter pada umumnya, MIC adalah “universitas tanpa tembok”, yang melatih kaum muda untuk menjadi dokter di komunitasnya. Sekolah ini terintegrasi pada dua misi sosial pemerintahan Chavez: program Mission Sucre (program pendidikan) dan Barrio Adentro (program klinik kesehatan komunitas).

Siswa dari MIC adalah para pemuda dari lingkungan di sekitar klinik barrio adentro. Sebagian besar mereka adalah pemuda-pemudi dari keluarga miskin. Pada pagi hari, siswa ini membantu para dokter melayani pasien, seraya mempelajari bagaimana dokter merespon kebutuhan kesehatan komunitas. Pada sore harinya, para siswa akan bertemu dengan para pengajar MIC dalam sebuah klas formal dengan kurikulum sistematis. Para dokter muda ini akan dididik paling cepat enam tahun.

Model MIC sebetulnya diambil dari pengalaman Kuba. Di Kuba, konsep ini dinamai medicina general integral (MIG). Di tahun 1980an, sebagai upaya menjembatani layanan kesehatan dengan keluarga, Kuba memulai program yang disebut “Dokter Keluarga”. Di situ, dokter tinggal kantor medis kecil, sering disebut consultorio, yang berada di tengah komunitas yang dilayaninya.

Di tahun 1990-an, Kuba berhadapan dengan tiga kontradiksi besar: kejatuhan Soviet, krisis ekonomi Kuba, dan embargo AS. Kuba pun mengalami krisis pangan, energi dan obat-obatan. Untuk mengatasi soal krisis di bidang kesehatan, Kuba dipaksa melahirkan dokter lebih banyak. Inilah yang mendasari pembentukan medicina general integral (MIG).

Di Venezuela, konsep pendidikan dokter MIC dimulai tahun 2005, dengan dukungan penuh dokter-dokter Kuba. Saat itu, para dokter Kuba diberi tanggung-jawab ganda: tidak hanya melayani pasien di klinik barrio adentro, tetapi juga mengajar sebagai tutor atau mentor di pelatihan dokter komunitas.

Tujuan utama MIC mengintegrasikan pelatihan dokter keluarga ke dalam komunitas sebagai upaya merespon kebutuhan medis seluruh rakyat, menggunakan sumber daya lokal, dan mempromosikan penjagaan kesehatan preventif.

Keunggulan dari MIC terletak pada penyatuan antara teori dan praktek. Siswa tidak hanya mendengar pemaparan dari para guru, tetapi langsung juga terlibat dalam melayani pasien dengan bantuan dokter komunitas. Dengan begitu, mereka langsung memahami langkah-langkah pengobatan dasar.

MIC melahirkan jenis dokter yang berbeda dengan dokter pada umunya. Dokter yang dilahirkan oleh MIC adalah humanis, sosialis, berkomitmen penuh melayani rakyat.

 

Berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa

Berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa

Setelah sebelumnya berkeliling di sekitar Semarang, sudah saatnya kami bersiap-siap pergi ke Salatiga untuk menghadiri kegiatan KAMTASIA. Karena kegiatan tersebut dimulai pada pukul satu siang dan waktu tempuh dari Museum Kereta Api Ambarawa ke lokasi kegiatan KAMTASIA hanya 20 menit kami pun menyempatkan diri mampir ke Museum Kereta Api Ambarawa yang dapat kami tempuh dalam waktu 40 menit dari tempat kami menginap.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 ketika kami tiba di sana dan kami langsung membeli tiket masuk museum seharga lima ribu rupiah per orang. Ketika memasuki area museum, kami melihat sejarah perkeretaapian yang terpampang di dinding museum (tulisan tentang sejarah kereta api akand ditulis terpisah karena panjang). Kami melihat koleksi kereta api uap dan kereta api diesel yang kondisinya terawat dengan baik. Kondisi museum pun terlihat terawat dan hampir tidak ada sampah di sekitar museum sehingga membuat kami merasa nyaman berlama-lama di sana. Sayangnya, kami tidak dapat kesempatan menaiki kereta api wisata karena kereta api wisata hanya beroperasi pada hari Minggu dengan 3 jadwal keberangkatan, pukul sepuluh pagi, pukul dua belas siang dan pukul dua siang.

Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum. Di museum ini terdapat peninggalan kereta api uap bergerigi yang sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. 

Anak-anak pun mulai mengeksplorasi museum dan mengamati setiap kereta yang dipajang. Dua jam kemudian, anak-anak masih asyik berkeliling di museum. Terlihat Kiran, Syifa dan Shawqi sangat menikmati waktu mereka di tempat museum. Kadang-kadang mereka pun merasa terganggu ketika kami mengajak mereka untuk berfoto bersama. 

Ketika saya memisahkan diri dari rombongan untuk beristirahat di pintu keluar. Nuni memanggil saya dan mengatakan bahwa Kiran tercebur ke dalam bak cuci kereta api. Ternyata karena sedang tidak fokus Kiran tidak sadar bahwa dia menginjak bak cuci yang dia kira adalah jalan. Untung saja Kiran bisa berenang karena baknya ternyata cukup dalam. Sebuah pengalaman yang membuat semua orang deg-degan. 

Setelah selesai mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa, kami pun segera meluncur ke Kampoeng Java di Salatiga untuk mengikuti kegiatan KAMTASIA.

Nantikan cerita selanjutnya tentang KAMTASIA  . . .

Sekilas Tentang Reggio Emilia

Sekilas Tentang Reggio Emilia

Kegiatan Belajar Bersama minggu ini sedikit berbeda dari biasanya. Kalau yang terdahulu dimulai dengan circle time dan dipandu oleh salah satu orang tua, kali ini kami mencoba melakukan pendekatan Reggio Emilia dengan tema imaginasi. Kami meletakkan tali-tali berukuran pendek di ruang tamu secara acak dan membiarkan anak-anak menemukannya. Mereka bisa menggunakannya sesuai keinginan dan imaginasinya tanpa panduan. Benar saja, tak lama kemudian anak-anak mulai bermain dengan tali-temali itu.  Sempat digunakan untuk tarik tambang, skipping, lompat tali, alat untuk mengukur lebar lantai oleh Ahsan dan Adiva mencoba menyambung-nyambung talinya sendiri. Barang sederhana yang bisa berubah menjadi berbagai macam fungsi bagi anak-anak.

Pendekatan Reggio Emilia adalah filosofi pendidikan progresif yang berpusat pada anak usia dini dan pra sekolah. Sekolah-sekolah yang menerapkan pendekatan Reggio Emilia akan berbeda satu sama lainnya karena sekolah akan menyesuaikan dengan kebutuhan anak dan kebiasaan lingkungan atau daerahnya masing-masing. Pendekatan ini melihat anak sebagai individu yang penuh rasa ingin tahu dan keinginan untuk mengeksplorasi sekitarnya. Anak mampu membentuk ide dan pembelajarannya sendiri. Maka dari itu pendekatan ini menganjurkan kegiatan dan pertanyaan yang dapat melebar (open ended) selain memupuk kreatifitas juga memupuk rasa ingin tahu dan eksplorasinya. Semua pertanyaan, pernyataan dan ekspresi dari anak adalah valid, penting dan patut didengarkan.

Reggio Emilia juga menyarankan orang tua berbincang-bincang dengan anak ketika mereka sedang bermain dan mengeksplorasi. Hal ini dilakukan untuk menggali minat, perasaan dan seberapa dalam pengetahuan mereka untuk kita jadikan arahan dalam membuat kegiatan berikutnya. Apa yang mereka suka dari kegiatan itu? mengapa mereka suka itu? Apa yang mereka tahu tentang itu? Apa yang telah mereka katakan tentang hal itu? Apa yang mereka ingin tahu selanjutnya? dan lain lain. Alma yang suka dengan planet dan galaksi ketika diajak bicara lebih dalam ternyata menyukainya untuk dijadikan latar belakang imaginasi dari cerita-ceritanya, bukan dari segi sciencenya. Jadi kegiatan yang cocok berikutnya mungkin membaca buku dengan latar belakang planet, melukis cerita yang dia karang atau membuat tarian tentang matahari.

Reggio Emilio juga percaya bahwa banyak bahasa yang digunakan anak dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Tidak hanya verbal dan tulisan saja tapi bisa juga dengan tarian, gerak tubuh, lukisan, nyanyian dan masih banyak lagi. Semuanya sama baiknya dan patut dieksplorasi bersama.

Peran orang tua dalam pendekatan ini adalah sebagai mentor dan pemandu dalam anak belajar “cara belajar”, bukan sebagai kamus atau ensklopedia.  Tugas orang tua ketika anak bertanya adalah memandu anak untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya, bukan mencarikan jawaban. Misalnya anak bertanya tentang “Mengapa pagi lebih dingin?” daripada mencarikan jawaban untuk anak, bantu anak mengeksplorasi segala kemungkinan jawaban dengan bertanya kembali kepada anak dengan pertanyaan yang lebih sederhana, menemukan bacaan bersama, percobaan, pengamatan dan lain-lain.

Lingkungan juga dilihat sebagai bagian penting yang dapat menginspirasi anak-anak. Tempat bermain sebaiknya mencerminkan minat anak saat itu atau yang akan dieksplorasi selanjutnya. Bebas dari tumpukan mainan. Jumlah mainan yang banyak justru hanya akan mengganggu fokus anak dalam menggali minatnya lebih dalam. Mainan juga disarankan berbentuk bebatuan, kayu, balok, lego, play dough, dan lain-lain yang dapat menjelma menjadi berbagai macam benda dan fungsi.

Begitulah sekilas tentang pendekatan Reggio Emilia.  Buat saya sendiri, Reggio Emilia adalah jawaban yang saya cari-cari dalam mendidik pembelajar mandiri, yaitu dimulai dengan belajar “cara belajar” atau learning to learn.

Berkunjung ke Semarang

Berkunjung ke Semarang

Untuk pertama kalinya kami bertiga melakukan perjalanan yang cukup lama selama 10 hari. Perjalanan ini pun kami jadikan sebagai perayaan Nuni yang sudah menjadi ibu rumah tangga selama satu bulan ini. Tujuan utama dari perjalanan ini adalah menghadiri acara KAMTASIA (Kampung Komunitas Indonesia) yang diselengarakan di Salatiga selama 3 hari 2 malam. Karena perjalanan yang kami tempuh cukup jauh, kami pun merencanakan untuk mampir ke Semarang dan mengunjungi beberapa tempat di sana. Kemudian sepulangnya dari Salatiga kami berkunjung ke Cicalengka untuk merayakan ulang tahun kakek Kiran sekaligus menunjukkan perayaan kemerdekaan di sana kepada Kiran.

Selepas itu, saya harus mengunjungi beberapa tempat di Bandung kota dan daerah Lembang untuk keperluan pekerjaan. Jadi sekalian saja kami rencanakan sebagai liburan panjang untuk kami bertiga; belajar, bermain dan bekerja. Semenjak Nuni berhenti bekerja, kami semakin menikmati kehidupan keluarga kami. Setiap hari kami berdiskusi dan belajar untuk menyelaraskan kehidupan keluarga kami. Satu hal yang kami rasakan dan sangat kami nikmati bersama, tidak ada lagi perasaan terpisah antara bekerja, berumah tangga dan menjalani pendidikan rumah Kiran. Semakin lama semuanya menjadi sebuah kesatuan. Perjalanan panjang ini contohnya, tidak mungkin kami lakukan jika Nuni masih dalam keadaan bekerja.

Mengingat perjalanan yang cukup panjang, saya akan membagikan cerita perjalanan kami dalam beberapa bagian.

HARI PERTAMA  (JAKARTA-SEMARANG)

Kami berangkat pada Kamis malam bersama keluarga Mas Samli (Samli, Sari, Shawqi, dan Syifa) yang tinggal di Tangerang Selatan. Setelah beberapa hari sebelumnya kami berkomunikasi via Whatsapp kami bersepakat untuk bertemu di tempat istirahat yang berlokasi di kilometer 42. Kami pun berangkat pukul 10 malam dari rumah dan tiba di tempat istirahat pukul 11.30. Setelah menunggu Mas Samli dan keluarganya selama setengah jam karena sebelumnya mendapat kabar sedang terjebak di daerah Cilandak, saya pun mencoba menghubungi Mbak Sari dan ternyata mereka sudah melewati kami tempat kami. Rupanya ada kesalahan karena tempat istirahat yang dimaksud berlokasi di kilometer 39 bukan 42. Akhirnya kami pun bertemu di tempat istirahat selanjutnya di kilometer 57 dan berkendara bersama menuju Semarang. Berikut ini timelapse perjalanan kami dari Jakarta ke Semarang:

Kelenteng Sam Poo Kong

Kelenteng Gedung Batu Sam Poo Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”. (sumber: wikipedia)

Sembilan jam kemudian kami pun tiba di Semarang pada hari Jumat pagi dan segera mengunjungi tempat pertama yang ingin kami kunjungi bersama, Kelenteng Sam Poo Kong. Ketika kami tiba, tempat parkir sudah mulai terisi mobil dan bus menunjukkan jumlah pengunjung yang meningkat selama kami berada di sana. Kami tidak melakukan penelusuran informasi mengenai tempat ini sebelumnya karena ingin menjadikan kegiatan ini sealami mungkin bagi Kiran dengan harapan banyak pertanyaan yang akan muncul darinya ketika tiba di sana. Rupanya Kiran dan Shawqi hanya tertarik dengan ular sanca yang berada di kandang, katak yang sedang berenang di parit dan seekor tikus yang kelelahan akibat terjebak di dalam parit daripada kemegahan bangunan Klenteng Sam Poo Kong. Setelah kami mencoba memancing mereka pun dengan mengajukan pertanyaan pancingan yang berkaitan dengan klenteng dan patung-patung besar di sekitarnya, perhatian mereka berdua masih tetap terpusat di ketiga hal di atas, ya sudahlah. Berbeda dengan Syifa yang sudah berusia 10 tahun menunjukkan pengamatan terhadap sekelilingnya dan mengajukan beberapa pertanyaan terhadap hal-hal yang membuatnya penasaran.

Terdapat 2 tempat penjualan tiket yang berbeda, yang pertama menjual tiket masuk area luar klenteng Rp 5.000 dan tempat penjualan tiket yang kedua menjual tiket untuk memasuki kelenteng sebesar Rp 30.000. Kami hanya membeli tiket untuk area luar kelenteng karena kami tiket yang dijual untuk memasuki kelenteng pun ternyata akses yang diberikan sangat terbatas dan kami hanya bisa melihat dari luar kelenteng (sama saja dengan melihat dari area luar kelenteng hanya saja jaraknya beberapa meter lebih dekat). Jujur saja kami agak bingung dengan konsep penjualan tiket yang ditawarkan. Tapi ya begitulah adanya.

Dari area luar kelenteng kami dapat menikmati keindahan arsitektur bangunannya yang megah dan tempatnya yang bersih terawat. Ada sebuah patung besar Laksamana Cheng He sebagai simbol bahwa beliau pernah dating ke Semarang dan sempat tinggal di sana. Bagi yang tertarik mendatangi tempat ini, lebih baik untuk berkunjung di pagi hari atau di sore hari untuk menghindari teriknya sengatan matahari. Tempat ini ramah anak karena areanya yang luas sehingga anak-anak dapat bergerak bebas ke sana sini.

Selepas itu, kami melanjutkan perjalanan ke Mesjid Agung Jawa Tengah, yang katanya adalah masjid kebanggaan warga Jawa Tengah. Dengan penuh harapan kami mendatangi tempat ini karena sempat melakukan penelusuran melalui mesin pencari Google dan foto-foto yang muncul di dalam hasil penelusuran sangat menarik. Begitu tiba di sana, kami merasa kecewa, karena mesjid kebanggaan masyarakat Jawa Tengah ini tidak seperti yang kami harapkan. Kondisi yang paling memprihatinkan adalah sampah yang berserakan di sekitar masjid. Terlihat banyak pengunjung yang berpotret di sekitar mesjid.

Berdasarkan keterangan Mbak Sari yang tiba lebih awal di sana (karena kami sempat terpisah dan tersasar) coretan di dinding masjid pun terlihat mengotori keindahan masjid ini. Bangunan nan megah pun tidak terasa nyaman karena kondisinya yang tidak terawat. Langit-langit yang kotor seolah tidak pernah dibersihkan sejak pertama kali dibangun. Karena tidak banyak hal yang bisa kami nikmati di sana, kami pun tidak berlama-lama di sana dan segera meninggalkan tempat tersebut selepas menunaikan solat Jumat.

Selanjutnya kami berencana mengunjungi Lawang Sewu. Tetapi, karena perjalanan panjang yang kami lakukan dari Jakarta dan belum sempat istirahat, akhirnya kunjungan ke Lawang Sewu pun kami batalkan dan segera meluncur ke penginapan kami di Djajanti House. Rencananya kami beristirahat sejenak dan mengunjungi Lawang Sewu di sore hari kemudian berwisata kuliner pada malam hari. Setelah berkeliling mencari Djajanti House karena lokasi di Google Maps yang salah, tibalah kami di sana pada pukul dua sore. Karena anak-anak masih bersemangat untuk bermain, kami pun menyempatkan diri untuk bermain menemani mereka meskipun badan sudah sangat kelelahan. Setelah kami puas bermain, saya sangat kelelahan karena belum tidur sejak Kamis malam. Akhirnya saya mandi dan beristirahat untuk menyegarkan diri. Rupanya saya tertidur pulas dan bangun tidur keesokan paginya sehingga rencana mengunjungi Lawang Sewu dan wisata kuliner pun tidak jadi kami lakukan. Mbak Sari dan keluarga sempat mencoba membangungkan kami pada malam hari untuk berwisata kuliner, tetapi Nuni dan Kiran pun ternyata terlelap dengan nyenyak sehingga mereka berwisata kuliner tanpa kami.

Saya sangat merekomendasikan Djajanti House sebagai tempat istirahat di Semarang. Tempat ini menyewakan 8 kamar dengan 2 jenis pilihan kamar dengan harga Rp 300.000 (sudah termasuk sarapan untuk dua orang) dan Rp 350.000 per malamnya (sudah termasuk sarapan untuk tiga orang). Selain harganya yang bersahabat, tempat ini unik, nyaman dan tenang. Berikut ini kondisi Djajanti House pada saat kami berkunjung:

Nantikan lanjutan cerita perjalanan kami berikutnya di Museum Kereta Api Ambarawa dan Kemah KAMTASIA . . .

​Berkunjung ke Sanggar Akar Kalimalang

​Berkunjung ke Sanggar Akar Kalimalang

Berawal dari keinginan saya untuk memperkenalkan kegiatan seni kepada Adiva, sabtu pagi kemarin kami mengikuti kegiatan Klub Oase berkunjung ke Sanggar Akar. Ternyata Sanggar Anak Akar dekat sekali dari tempat tinggal kami. Hanya 5 menit perjalanan dengan mobil sudah tiba di lokasi. Saya memang tidak punya ekspektasi apa-apa karena belum pernah datang ke sebuah sanggar sebelumnya, tapi Sanggar Akar ini betul-betul unik.   

Dari luar sanggar ini terlihat seperti rumah saja, dengan banyak tanaman di sisi depan pagarnya. Yang terlihat hanya jalan masuk ke dalam ruangan panjang ke belakang selebar satu mobil. Mirip seperti carport  atau garasi. Ada deretan tanaman perdu di sisi kirinya dengan beberapa pohon di antaranya. Setelah melewati jalan masuk ada aula, sebuah ruangan besar di sebelah kanan berlantaikan keramik putih. Satu-satunya ruangan di seluruh sanggar yang dilapisi keramik putih. Tempat anak-anak berkumpul, berkegiatan bersama, berlatih teater, bermain musik, dan juga menerima tamu. Atapnya tinggi dan di bagian atas aula ini terlihat pagar dan dinding yang terbuat dari kayu. Bangunan ini merupakan bagian depan sanggar. Sedangkan bagian belakang sanggar berupa bangunan berstruktur beton dan berdinding bata exposed setinggi 4 lantai. Tanpa plesteran dan acian. Sangat alami. Lantainya pun hanya acian semen yang dihaluskan, yang sudah licin karena seringnya terinjak alas kaki.

Di sisi belakang aula yang dipisahkan oleh ruang terbuka dengan tangga ke atas, rupanya difungsikan sebagai dapur. Saat itu sedang ada beberapa orang yang mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak. Satu hal yang unik, mereka masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Dan kayu bakar ini adalah sumbangan dari masyarakat sekitar sanggar. Di sisi kiri area dapur ini ada ruangan terbuka juga dengan pohon besar di tengahnya. Di ujungnya ada ruangan untuk melukis dan membuat sablon kaos. Di tengah antara kedua ruang terbuka itu terdapat meja besar. Meja ini rupanya meja makan dan meja menerima tamu. Di bagian belakang ada ruangan lagi seperti teras yang dipakai juga untuk menerima tamu, dan di samping kanannya ada gudang properti teater.

Suasana di dalam sanggar ini sangat berbeda dengan kondisi di luar. Sementara jalan Kalimalang selalu ramai dan padat dengan kendaraan, di dalam terasa lebih tenang. Seolah kami tidak berada di Jakarta. Seperti ketenangan di Yogyakarta atau kota kecil lainnya, yang tidak penuh dengan hiruk pikuk kota besar. Di meja besar tempat kami duduk terasa suasana teduhnya pepohonan, dan tercium aroma kayu bakar yang sudah disiapkan untuk memasak. Sementara di aula terdengar anak-anak, termasuk anak-anak Klub Oase yang berlatih teater bersama-sama. Sungguh suasana yang menyenangkan.

Kami disambut dan berdiskusi banyak dengan dua pengurus Sanggar Akar, Putri dan Nisa. Mereka bercerita tentang bagaimana dulu sanggar ini menjadi tempat tinggal lebih dari 50 anak. Tempat untuk anak-anak belajar dan mengekspresikan dirinya. Sanggar Akar sudah terbentuk sejak 1994 dan menempati bangunan di Kalimalang ini selama lebih dari 10 tahun. Keberadaan Sanggar Akar sudah sangat diterima dengan baik oleh warga sekitar, dan menjadi jalan keluar bagi banyak anak untuk memperoleh pendidikan. Saat ini hanya tinggal 4 orang yang tinggal di sini. Para orangtua yang awalnya menempatkan anaknya di sanggar, menarik kembali anak-anaknya ke sekolah formal karena terbitnya Kartu Jakarta Pintar. Di satu sisi tentunya saya mengerti bahwa pemerintah berusaha supaya semakin banyak anak yang bisa melanjutkan sekolah, tapi di lain sisi sangat disayangkan tempat seperti Sanggar Akar ini menjadi redup, karena sejatinya pendidikan tidak hanya didapatkan di bangku sekolah saja. Bahkan mungkin anak-anak bisa mendapatkan lebih banyak di sini.

Setelah mengobrol sejenak, kami diajak berkeliling bangunan sanggar ini oleh Nisa. Di lantai atas ada beberapa ruangan termasuk ruang lab komputer, ruang administrasi, ruang rapat, ruang kerja, dan ruang-ruang lainnya. Termasuk juga kamar-kamar tempat tinggal. Di lantai 3 ada sebuah ruangan besar yang bisa juga dipakai sebagai tempat latihan musik dan teater, sebagai pengganti aula apabila diperlukan. Ada sebuah papan tulis hitam masih dengan gambar partitur yang terakhir ditulis. Dan ada sebuah piano, yang walaupun tampak sudah lama tidak dipakai tapi ternyata masih merdu suaranya. Pak Siddiq, salah satu anggota Klub Oase, sempat mencoba memainkan beberapa baris lagu.

Di lantai 2 kami sempat bertemu dan berbincang dengan Bapak Ibe Karyanto, pimpinan dari Sanggar Akar. Beliau bercerita tentang perjuangan membangun Sanggar Akar hingga memiliki bangunan sebesar sekarang ini. Para penggagas Sanggar Akar memang ingin memberikan wadah bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan, dan memberikan hak-hak anak untuk mengembangkan diri. Oleh karena itu mereka berjuang supaya bisa memiliki bangunan ini. Bangunan setinggi 4 lantai ini ternyata dibangun hanya oleh 2 orang tukang dan anak-anak Sanggar Akar. Dari mulai sampai selesai layak huni menghabiskan waktu 9 bulan. Membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat sekitar, sehingga bisa diterima keberadaannya, dan membuat para orangtua merasa tenang menitipkan anaknya di sini. Sebuah social cost yang sangat tinggi, yang mungkin bisa hilang, karena ada wacana pembangunan jalan layang yang menyebabkan bangunan ini terkena pembebasan lahan. Walaupun belum jelas kapan pelaksanaannya, namun ini membuat para pengurus sanggar merasa waswas. Tak terbayang bagaimana jerih payah semua orang yang ikut berperan di bangunan sanggar ini akan hilang, dan anak-anak tidak punya tempat lagi untuk belajar dan mengembangkan diri.

Tapi selama bangunan ini masih berdiri, Sanggar Akar akan terus berkarya. Seperti pertunjukan teater dan musik yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Juga kelas-kelas pelatihan untuk anak-anak, yang sebagian besar diisi oleh para relawan. Seperti latihan teater yang diikuti oleh anak-anak Oase di aula depan. Setelah sesi perkenalan, mereka dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk membuat pertunjukan bermain peran singkat. Mereka dibebaskan untuk saling berdiskusi untuk menentukan cerita dan peran masing-masing anak. Selama kami berkeliling tadi rupanya anak-anak sedang sibuk merancang pertunjukan mereka. Sesudah itu satu per satu kelompok mementaskan cerita yang mereka buat bersama. Setelah selesai satu pementasan, mereka menjelaskan ceritanya dan anak-anak dari kelompok yang lain bisa bertanya.

Memang sangat singkat dan sederhana, tapi ide cerita itu datang dari anak-anak sendiri, mereka bisa dan mau berkompromi, bekerjasama saling mengisi peran dalam pertunjukan mereka. Sungguh banyak yang dipelajari anak-anak hari ini. Selain mendapat teman-teman baru, berkunjung ke sebuah bangunan sanggar yang unik, bisa mengalah untuk menerima ide dari anak yang lain, dan mencoba untuk menjalankan tugasnya memerankan cerita yang mereka setujui bersama. Semua ini dilakukan hanya dalam waktu 1 jam. Mungkin orang dewasa pun mengalami kesulitan untuk merancang pertunjukan singkat hanya dalam waktu 1 jam. Sungguh kita bisa belajar banyak dari anak-anak kita.

Sejujurnya pada saat awal saya masuk ke dalam sanggar ini kesan pertama saya adalah bangunan ini tua dan tidak terawat, mungkin jarang dibersihkan. Banyak barang di mana-mana. Tapi setelah saya semakin mengenalnya, itu cuma satu nilai minus yang tertutup oleh banyak nilai plus. Bagaimana sanggar ini dibangun, seberapa banyak impian dan harapan para pendiri dan pengurusnya, dan sudah berapa banyak anak yang terbantu olehnya. Saya harap Sanggar Akar terus berkarya dan bahkan menjadi lebih besar supaya bisa membantu lebih banyak anak. Seperti juga anak saya….

“Adiva…, apakah kamu senang bermain di sini hari ini?”

“Iya, pa… Aku tadi jadi zombie…”

“Mau main ke sini lagi?”

“Mau…………” 🙂