Bagaimana cara memperlakukan anak?

Sudah agak lama saya ingin sekali menuangkan pikiran mengenai satu hal ini. Bagaimana cara kita sebenarnya harus memperlakukan anak? Bagaimana cara menyikapi tingkah laku anak yang kadang menyebalkan, menguras kesabaran, dan mengganggu apa yang sedang kita kerjakan?

Sebagian besar dari kita secara tidak sadar mungkin akan menerapkan cara yang sama seperti kita diperlakukan dulu waktu kecil. Dalam hal ini cara orangtua mendidik sangat berperan untuk membentuk perilaku kita. Tentu saja semua itu sangat dipengaruhi oleh kultur dan budaya, agama, tradisi, dan kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga. 

Misalnya, dulu untuk saya hukuman fisik itu tidak terasa sebagai siksaan. Saya dan adik saya cukup banyak dapat hukuman secara fisik dari orangtua kami. Papi menghukum kami dengan mengunci di dalam kamar gelap, gudang, atau kamar mandi. Mami menghukum dengan pukulan. Kadang menggunakan tangan, kadang gagang kemoceng. Tapi entah kenapa saya tidak pernah merasa tersiksa… Kami tidak tumbuh dewasa dengan membenci orangtua kami karena memperlakukan kami demikian.

Di keluarga yang lain mungkin tidak pernah ada hukuman fisik. Bisa berupa tugas tambahan yang harus dikerjakan, atau bahkan peringatan saja. Mungkin juga ada orangtua yang melakukan pembiaran pada anak-anaknya yang bandel. Tidak mau diatur. Mereka membiarkan anak-anak belajar dari pengalamannya sendiri. 

Ada juga orangtua yang menerapkan ajaran Nabi Muhammad dalam mendidik anaknya. Saat anak berumur 0-7 tahun perlakukan dia seperti raja. Berikan apa yang dia inginkan. Saat anak berumur 7-14 tahun perlakukan dia seperti tawanan.  Batasi dengan aturan dan tanggungjawab. Setelah anak berumur lebih dari 14 tahun perlakukan dia seperti sahabat. Tentu saja penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi anak dan keluarga masing-masing. 

Tidak ada satu cara yang sempurna dan paling benar untuk diterapkan ke semua anak. Seperti yang sudah disebutkan tadi, semua tergantung dari kultur, cara berpikir, dan kebiasaan dalam keluarga masing-masing.

Lalu, seperti apa perlakuan yang ideal yang bisa dipakai sebagai panduan untuk memperlakukan anak kita? Mungkin sebelum menjawab itu kita harus bertanya pada diri sendiri apa sih arti anak untuk kita?

Menurut saya kedewasaan seseorang seharusnya tumbuh bersama anaknya. Anak kita akan mengajarkan banyak sekali, kalau kita mengijinkannya dan mau membuka pikiran untuk semua kemungkinan. Kita akan belajar pengendalian emosi, belajar manajemen waktu, belajar bangun pagi, belajar mengatasi konflik, belajar bernegosiasi, belajar psikologi anak, belajar mendengarkan, bahkan belajar memasak (walaupun cuma masak bubur ?).

Seperti yang disebutkan bibi Nada Arini, “Terima kasih telah menjadi ladang belajar untuk ibu, nak…” Anak kita sebetulnya adalah guru yang sangat hebat. Lalu bagaimana seharusnya kita memperlakukan “guru” kecil kita ini?

Meski terkadang timbul masa-masa melelahkan, menyebalkan, menjengkelkan, tapi saya yakin pasti jauh lebih banyak masa-masa menyenangkan bersama anak kita, kan? Cara yang paling sederhana adalah ingat saja selalu momen yang menyenangkan itu dan lupakanlah saat yang tidak menyenangkan. 

Ada satu cara pikir yang saya amini. Suatu saat nanti kita akan menjadi tua dan tak berdaya. Persis seperti anak kecil. Makin tua makin mirip dengan anak kecil, balita, bahkan bayi. Saat kita sudah terlalu lemah untuk berjalan sendiri, harus dituntun seperti dulu kita belajar berjalan sewaktu bayi. Saat itu pun mungkin tingkah laku kita seperti anak kecil. Dan mungkin menyebalkan bagi anak kita yang sudah dewasa, dengan banyak kesibukannya. Maka keadaan akan berbalik. Saat itu bagaimana kita ingin diperlakukan oleh anak kita? Coba jawablah sejujurnya.

Maka perlakukanlah anak seperti kita ingin diperlakukan olehnya di masa depan. Sesederhana itu. Dengarkan, sayangi, perhatikan, lindungi, maafkan.

Hargai lah “guru-guru kecil” pengajar kehidupan, karena melalui mereka Tuhan kerap berbicara…

Belajar Menyablon Kaos

Kegiatan kali ini kami bertandang ke rumah Bibi Sari dan Paman Samli. Kami ke rumah Bibi Sari untuk menyablon kaos untuk “seragam Belajar Bersama” dan di sana peralatannya lengkap. Alat-alat-alat yang dibutuhkan untuk menyablon kaos adalah cat acrylic, busa, stensil gambar atau tulisan yang akan disablon, dan alas karton.  Kaosnya sendiri bertuliskan Belajar Bersama, nama masing-masing anak serta cap tangan masing-masing anak. Tentunya sudah ada yang berkeinginan untuk melukiskan yang lain pada kaosnya.

Pertama-tama, kami membuat stensilnya  dulu. Bibi Sari punya printer yang keren sekali.  Biasanya printer dapat mencetak/menggambar, printer ini dapat memotong. Membuat pekerjaan kami  jadi lebih mudah. Hanya saja karena setiap kaos memiliki nama berbeda-beda, pembuatan polanya tetap memakan waktu. Stensil  dibuat dengan menggunakan freezer paper, yang sebetulnya diperuntukkan untuk membungkus daging ketika akan dibekukan. Kertas khusus untuk membuat stensil sangatlah mahal, maka freezer paper ini dapat dijadikan alternatif. Setelah stensil terpotong maka stensil perlu ditempelkan ke kaos dengan cara disetrika. Ketika dipanaskan, stensil menempel dengan rapi ke kaos. Setiap stensil dapat dipergunakan ulang sampai 5 kali.

Setelah  semua stensil tertempel, waktu makan siang pun tiba.  Wah . . . harus mengisi  bensin  dulu nih. Perut rasanya lapar sekali. Seperti biasanya makanan begitu banyak. Langsung dengan lahap kami menyantap semua makanan. Tandas!

Setelah makan siang selesai, kami pun mulai menyablon.  Anak-anak duduk berderet menggunakan celemek. Kaos yang sudah ditempel stensil diberi alas karton ditengah-tengahnya agar cat acrylic tidak meresap kebawah. Kemudian cat acrylic pun dibagikan. Langkah selanjutnya busa ditempelkan ke cat lalu ditepuk-tepukan ke kaos sampai semua stensil tertutup warna dengan rapat. Sebaiknya busa tidak diusapkan karena stensil dapat terangkat.

Terbayangkankan hebohnya. Setiap anak tidak sabar ingin mewarnai kaosnya dengan warna pilihan masing-masing. Saking semangatnya begitu menerima busa, langsung menempelkan ke kaos diluar stensilan hihihi. ternyata cat crylic cepat kering lho. Jadi mengerjakannya harus cukup cekatan. Untuk cap tangan, busa yang sudah beri cat ditepuk-tepukkan ke telapak tangan. Setelah warna rata, tempelkan telapak tangan ke kaos dengan cukup kuat. Jadi deh.

Untuk yang ingin menggambar bebas langsung dikaos, ternyata cukup sulit dilakukan. Cat acrylic cepat kering dan bahan kaospun dengan cepat menyerap catnya sehingga usapan cat tidak seperti ketika di atas kanvas. Sepertinya cara yang paling mudah memang membuat stensilan lalu menepuk-nepuk warna satu persatu.  Ketika semua stensilan selesai diwarnai, stensilan dapat langsung dilepas, lalu hasil sablonan di press panas agar benar-benar kering dan meresap ke kaos. Setrika dapat  juga digunakan  untuk tahap ini.

Selesaaaai… 

Anak-anak langsung ingin menggunakan hasil karyanya. Mereka pun lalu foto bersama menggunakan hasil karya mereka. Wah . . . seru sekali hari ini. Terima kasih Bibi Sari dan Paman Samli.

Aunt Nikki’s Tale – Reread B8

Sesuai dengan rencana kemarin, hari ini Kiran membaca ulang buku yang berjudul “Aunt Nikki’s Tale”.

Karena seharian kami keluar dari pagi untuk kegiatan mingguan kami bersama keluarga Belajar Bersama, Kiran membaca bukunya setelah makan malam.

Kiran mengambil bukunya dan membaca bukunya jauh lebih baik daripada kemarin. Selain membaca lebih fokus, Kiran juga sudah mengenali kata-kata sulit yang kemarin dibacanya hampir tanpa kesulitan. Kiran hanya menemui kesulitan ketika membaca kata-kata berikut ini, ‘started’, ‘sneaked’, dan ‘fury’.

Kiran pun terlihat senang dapat membaca buku tersebut lebih baik.

Adiva This Day

Hari ini kembali kami berkegiatan bersama dengan teman-teman di rumah bibi Nada. Sayangnya kami tidak bisa ikut kegiatan awal yang sangat menyenangkan. Yaitu membuat cetakan dari bubur koran dan kertas.

Cetakan koran ini akan dikeringkan dan minggu depan akan diwarnai bersama.

Sesudah mandi hujan, main air keran, dan ganti baju, anak-anak berkegiatan bersama mentrace gambar. Ini untuk melatih membiasakan memegang alat tulis. Ada beberapa gambar yang bisa dipilih. Mobil, roket, kereta, dan burung hantu.

Setiap anak punya caranya sendiri mengerjakan kegiatan ini. Ahsan cepat sekali menyelesaikan gambarnya. Bahkan sebelum semua gambar selesai dibagikan ke semua anak, Ahsan sudah selesai mentrace. Begitu juga dengan Kiran. Cepat sekali mentrace gambarnya. 

Akhtar cukup cepat mentrace gambarnya dan mewarnai seluruhnya dengan warna merah. Alma mendapat gambar kereta yang cukup banyak garisnya. Tapi Alma tidak terlalu rapi mengikuti garisnya, jadi bisa cukup cepat mentrace gambarnya. 


Adiva kebetulan mendapat gambar burung hantu. Dia cukup rapi mengikuti garis dan agak lama mentrace gambarnya. Bahkan setelah hampir semua temannya selesai mentrace dan mewarnai gambarnya, adiva belum selesai mentrace gambarnya.

Sesekali dia mengomentari gambar teman-temannya, dan mengingatkan untuk mentrace mengikuti garis. Adiva memang suka sekali bercerita dan menfkritik, salah satu hobbynya tampaknya.

Ada satu hal yang menarik. Adiva biasanya tidak terlalu suka menggambar di rumah. Mungkin karena kegiatan ini dilakukan bersama-sama, dia bisa lebih senang melakukannya. 

Adiva bisa mengikuti garis dengan cukup rapi. Untuk gambar ini dia memilih banyak warna untuk mewarnai gambarnya. Dan bisa mewarnai di dalam garis juga dengan cukup rapi.

Dari kegiatan ini saya belajar banyak tentang adiva. Tenyata dalam suasana yang kondusif, Adiva bisa sangat konsisten dan tekun dalam melakukan sesuatu. Dan tidak terganggu dengan kegiatan temannya yang lain. Saat semua temannya sudah selesai dan main di luar, dia masih mewarnai dan menyelesaikan gambarnya. Walaupun hasil akhirnya belum seluruhnya tertutup warna, tapi sudah sangat baik. Semoga kemampuannya semakin berkembang bersama-sama dengan teman-temannya.

A very good job today, Adiva…?

Pentingnya Konsep Diri Positif

Ingat masa-masa kita sekolah? Ketika menerima hasil ujian yang kurang baik, tentunya  semua orang merasa kecewa, sedih mungkin juga marah dengan diri sendiri. Setelah itu ada yang menyerah dengan keadaan dan terus bersedih atau meratapi  nasib ada juga yang termotivasi untuk mencoba lebih keras. Kira-kira apa ya yang  menyebabkan perbedaan dari kedua reaksi ini?

Salah satu hal yang memengaruhi seseorang dalam menghadapi tantangan dalam hidupnya adalah cara pandangnya terhadap sesuatu dan ini berkaitan erat dengan konsep diri (http://www.gozen.com/why-one-kid-gives-up-while-another-one-does-not-a-visual-story/). 

Konsep diri adalah bagaimana kita menilai dan memandang  diri kita sendiri, yang kemudian akan menentukan bagaimana kita menjalani hidup.  Apabila kita memiliki pandangan positif dan sehat maka pengalaman kita akan positif juga. Bukan berarti kita tidak akan mengalami kesulitan tetapi kita akan memiliki pendekatan yang sehat dan baik ketika menghadapi suatu masalah. Apabila pandangan atau penilaian terhadap diri kita kurang baik dan rapuh maka ketika menghadapi kesulitan dalam hidup kita akan merasa sangat kesusahan dan kewalahan. Apabila anak memiliki konsep  diri yang positif tentunya akan sangat menolong dirinya dalam menjalani hidupnya sehari-hari.

Konsep diri bersumber dari respon atau penilaian orang terdekat terhadap diri kita dan penilaian terhadap diri sendiri.

Konsep diri positif: saya cantik, saya pandai memasak, saya pintar menggambar.
Konsep diri negatif: saya hitam, saya pendek, saya tidak bisa memasak, saya menggambar lingkaran saja jelek.

Perlu diingat konsep diri ini adalah masalah PERSEPSI. Jadi bisa saja dua orang sama-sama hitam dan pendek tapi yang satu merasa cantik/ganteng, yang satu lagi merasa jelek. Dua  orang yang memiliki kemampuan memasak yang sama tapi yang satu tetap merasa tidak bisa apa-apa sedang yang satu lagi merasa bangga dengan kemampuannya.

Orang tua diharapkan tidak memberi cap pada anak, baik yang diucapkan atau yang dirasakan dalam hati. Menggunakan kalimat yang positif ketika berkomunikasi dengan anak.

Contoh:

“Aduuh, susah banget ngajarin kamu”  diubah menjadi Kamu bisa kok nak, hanya perlu waktu saja, ayo kita coba lagi”.

“Gitu aja kok ga bisa” diubah menjadi  “Yuk kita coba lagi, tadi hanya kurang sedikit kok. Ayo semangat.”

“Kamu nih bikin malu ibu”  diubah menjadi “Jangan khawatir, kita semua pernah buat salah, mama tau kamu anak baik. Kesalahan kan proses belajar.”

“Duuuh males banget siih”  diubah menjadi Mungkin kamu capek ya. Ayoo.. semangat. Sebentar lagi selesai kok.”

Bagaimana orang tua dapat membantu menumbuhkan konsep diri positif pada anak? 

1. MULAI DARI ORANG TUA DULU

  • Orang tua yang memiliki konsep diri positif, anaknya positif pula. Jadi yang merasa jelek, tidak becus dan lain-lain, segeralah diperbaiki. Sadari bahwa kita semua unik dan punya kelebihan. Kalau kita merasa jelek karena fitur tubuh yg kita tidak suka, sama saja kita bilang ke anak kamu juga jelek karena hidungmu pun tidak mancung seperti ibu. Atau kalau kita rajin sekali mengkritisi diri sendiri, maka anak juga akan dengan sangat mudah mengkritisi diri sendiri.  Hal ini akan menumbuhkan keraguan dalam diri anak pada kemampuannya sendiri.
  • Berdamai dengan masa lalu. Kita semua punya masalah dan sampah masa lalu. Berdamailah dan maafkanlah masa lalu itu. Karena sampah masa lalu itu dapat membuat pandangan kita ke depan menjadi negatif dan memberatkan langkah kita.

2. PAHAMI APA ITU KONSEP DIRI

Komponen konsep diri:

1. Gambaran tentang diri

  • fisik: saya tinggi, saya gemuk
  • afeksi: saya penyayang, saya pendiam, saya pemalu
  • keahlian: saya seorang ayah, saya guru, saya ibu

2. Bagaimana kita menilai diri sendiri (kepercayaan diri) 

Positif: saya suka tubuh saya, saya ibu yang hebat
Negatif: saya terlalu tinggi, saya ibu yang ga becus

Komponen kepercayaan diri atau self esteem:

Harga Diri

Anak yang merasa dihargai keberadaannya, yang didengar oleh orang tersayangnya akan cenderung memiliki kepercayaan tinggi. 

Yang bisa dilakukan:
– Sapa anak dengan penuh kebahagiaan ketika bertemu (bangun tidur, habis main, pulang sekolah, dll)
– Panggil dengan nama, bukan olokan
– Bicara dengan penuh kasih
– Mendengarkan anak dengan penuh perhatian

Keberhasilan

Perasaan bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu dan berhasil, akan menumbuhkan rasa percaya diri

Yang bisa dilakukan:

– Beri anak kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri sesuai usianya. Berilah pilihan sederhana dan hargai pilihannya. Contoh, sejak kecil memilih baju sendiri.

– Beri kesempatan untuk mengalami keberhasilan kecil sesuai usia. Tentu saja perlu diingat semua proses. Kalau gagal, anak diberi semangat bukan dimarahi. Contoh : pakai baju sendiri, merapikan kamarnya, membantu memasak dan jangan samakan hasilnya dengan orang dewasa. Hargai proses yang telah mereka lakukan agar anak tidak patah semangat.

– Terlibatlah dalam kegiatan yang anak sukai walau kita tidak suka. Ini akan menunjukkan bahwa kita mendukung anak.

Konsistensi

Anak butuh keteraturan. Segala perubahan sebaiknya luangkan waktu untuk menjelaskan kepada anak. Aturan-aturan yang dibuat hendaknya konsisten dan berlaku untuk semua orang. Apabila ada pengecualian, harus didasari alasan yang jelas untuk anak. Libatkan pula anak dalam membuat aturan-aturan dalam rumah.

Pujian dan Penghargaan

Pujian dan penghargaan dapat menumbuhkan rasa suka terhadap dirinya sendiri atau menumbuhkan kepercayaan diri. Rayakan keberhasilan anak dengan cara yang sederhana dan terima kegagalannya sebagai proses belajar dengan membesarkan hatinya. 

Gambaran ideal tentang diri: 

Bantu anak memiliki keinginan  untuk  menjadi lebih baik dengan mencontohkan impian atau bayangan ideal tentang diri kita sendiri.

– Saya ingin jadi ibu yang selalu hadir buat anak.

– Saya ingin jadi pengusaha sukses.

3. KENALI TEMPERAMEN ANAK

Setiap anak berbeda dan spesial. Ada yang pendiam dan ada yang aktif. Ada yang sensitif ada yang tidak. Ada yang mudah berteman ada yang suka menyendiri.

Semua ini hanya ciri-ciri unik seseorang. Tidak ada yang lebih baik dan buruk. Temperamen adalah pola tindakan dan emosi  yang menjadi karakterisktik seseorang yang berpengaruh terhadap cara merespon lingkungan.  Dalam membimbing anak, kita harus memerhatikan dan mengenali tempramen anak. Dengan mengetahui temperamen anak, orangtua dapat membantu keunikan anak ke arah yang lebih positif. Jangan memaksa anak untuk seperti anak yang lain. Fokuslah pada kelebihannya. Ketika orangtua merespon anak sesuai dengan temperamennya anak akan tumbuh sehat dan gembira. Hal ini juga akan mengurangi rasa frustasi orang tua dan anak. 

Demikian 3 langkah yang dapat orangtua lakukan untuk membentuk konsep diri positif dalam diri anak. Apabila anak memiliki konsep diri positif, maka akan lebih mudah untuk dirinya mengadapi tantangan hidup.  Konsep diri positif membuat anak melihat dirinya dan lingkungannya dengan positif juga, dengan pandangan ke depan yang positif maka dengan mudah anak-anak mencintai dirinya dan lingkungannya. Tentunya dengan rasa cinta ini, insya allah anak-anak dapat membuat keputusan yang baik pula terhadap kehidupannya.