Ayah (Mengira) Tahu yang Terbaik Untukmu Nak

Ayah (Mengira) Tahu yang Terbaik Untukmu Nak

Copi adalah seorang ayah yang mencoba mengajari anaknya yang bernama Paste dengan baik. Kebahagiaan Paste adalah segalanya bagi Copi. Segala sesuatunya sudah disiapkan untuk Paste supaya Paste bisa menjadi seorang anak yang berhasil. Tetapi Paste tidak melakukan hal-hal yang diharapkan Copi mulai merasa tidak bahagia yang kemudian ternyata sedikit demi sedikit merenggut kebahagiaan Paste. Seperti apa ceritanya? Silakan Anda tonton sendiri film singkat yang berjudul Alike.

Film singkat di atas mengingatkan saya dengan cara kita semua dibesarkan (setidaknya untuk generasi saya atau pendahulu saya), “pendidikan” sangatlah penting bagi “masa depan” kita, begitulah petuah yang sering kita dengar dari orangtua kita. Tidak ada yang salah dengan petuah tersebut karena setiap orangtua akan melakukan segalanya demi kebahagiaan anaknya.

Hanya saja bagaimana caranya kita mengetahui bahwa anak kita bahagia?

Orangtua seringkali lupa dan beranggapan bahwa dirinya lebih tahu apa yang terbaik untuk kebahagiaan anaknya. Bahkan kita sering mendengar ungkapan bahwa kita harus menjadi “orang” yang diartikan sebagai seseorang yang dihormati orang lain dan terpandang yang biasanya mengacu pada sebuah status, baik itu status ekonomi atau pangkat.

Orangtua mulai mengambil kendali tanpa melibatkan anaknya untuk menentukan masa depan si anak. Para orangtua mulai khawatir anaknya tidak mampu “bertahan hidup” sehingga mereka beranggapan bahwa dengan mempersiapkan anaknya lebih awal, anaknya dapat mencuri start lebih dulu sehingga anaknya bisa “tampil” dan menjadi juara. Sayangnya perilaku seperti ini bertolak belakang dengan tujuan awal memberikan kebahagiaan kepada si anak. Sebuah awal yang sangat menentukan bagi kebahagiaan si anak. Waktu bermain yang semakin sedikit, kreatifitas yang mulai dibatasi, hingga tekanan dari ketidaksiapan mental dan fisik anak yang ditumbalkan yang berawal dari rasa khawatir anaknya tidak bisa menjadi “orang”.

Apakah ini sebuah penghakiman bahwa apa yang orangtua kita lakukan salah? Tentu saja tidak. Ini adalah pelajaran hidup yang sesungguhnya. Semua orang bertindak atas pengetahuan dan pilihan yang dimilikinya masing-masing. Analogi sederhananya adalah seperti kebiasaan kita memakan sayuran. Apakah kita memakan sayuran karena kita tahu itu sehat untuk tubuh kita meskipun kita tidak suka dengan rasanya atau kita tidak memakan sayuran karena kita tidak suka rasanya yang aneh meskipun kita tahu tubuh kita memerlukan nutrisi dari sayuran tersebut.

Mari sapa anak kita apakah dirinya merasa bahagia?

Bermain Sambil Belajar di Pulau Pari

Bermain Sambil Belajar di Pulau Pari

​Hari Kamis lalu Kiran, Alma, Adiva dan Syifa bersama-sama dengan kami orang tua mengikuti kegiatan eksplorasi di Pulau Pari, salah satu pulau di kepulauan seribu. Kegiatan tersebut diadakan oleh Mba Ines Setiawan dari SHINE. Di sana, anak-anak belajar tentang hutan bakau serta manfaatnya, polusi laut serta dampaknya, dan budi daya rumput laut langsung dari ahlinya.

Sebelum berlayar ke Pulau Pari, kami semua menginap di rumah Bibi Sari dan Paman Samli karena rumah mereka lebih dekat ke Pelabuhan Tanjung Pasir, tempat kapal laut yang akan membawa kami ke Pulau Pari.

Berdasarkan Itinerary, kapal akan berlayar pada pukul 6 pagi. Karena jarak yang cukup jauh dan lalu lintas yang tidak bisa diprediksi, kami berangkat pukul 4.45 pagi. Sampai di pelabuhan, waktu menunjukkan pukul 6 dan terlihat rombongan yang sudah siap menaiki 2 kapal nelayan yang akan membawa kami ke Pulau Pari. All aboard and off we went sailing to the island.

Setelah mengarungi laut selama hampir satu setengah jam, sampailah kami di Pulau Pari. Ternyata pulau yang lokasinya bersampingan dengan pulau Tidung ini cukup besar dan merupakan pulau yang dihuni oleh penduduk.

Setelah semua berkumpul, kami masih harus berjalan sekitar 10 menit menuju Pantai Perawan. Sesampainya di sana, kami disambut oleh cuaca yang cerah, langit biru, pasir putih, dan air laut yang tenang. Air laut Pantai Perawan berbeda dengan pantai-pantai yang lain. Apa bedanya? Airnya tenang sekali, tidak ada ombak yang akan menarik anak-anak ketika mereka bermain, airnya juga cukup dangkal, membuat orang tua tenang membiarkan anak-anak bermain sepuasnya. Tapi tujuan kami ke sana bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi untuk belajar tentang hutan bakau, polusi laut serta budi daya rumput laut.

Materi pertama tentang hutan bakau disampaikan oleh Mr Yuri Romero. Beliau adalah seorang Marine Archeologist dan aktivis lingkungan yang berasal dari Kuba. Beliau menjelaskan tentang ekosistem laut, terumbu karang, dan pohon bakau dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan dengan sangat baik oleh seorang pelajar bernama Mia Andika Sri Az Zahra. Penjelasan tentang hutan bakau dan ekosistem laut diakhiri Mr Romero dengan permainan interaktif antara orang dewasa dan anak-anak. Orang dewasa diminta membuat 5 kelompok kecil sambil bergandengan tangan dan anak-anak diminta menjadi hewan-hewan kecil di laut seperti udang, ikan dan kepiting. Sedangkan Mr Romero dan dua orang lainnya berperan sebagai pemangsa hewan-hewan kecil tersebut. Beliau menginstruksikan anak-anak untuk masuk ke dalam lingkaran orang tua untuk menghindari kejaran predator laut. Rupanya permainan ini merupakan simulasi kehidupan ekosistem laut dan hutan bakau. Permainan edukasi seperti ini memang lebih mengena bagi anak-anak.

Pemateri kedua adalah Bapak Adi Slamet Riyadi, seorang kandidat Doctor, Marine Environmental Chemistry, Ehime University, Jepang. Bapak Adi menjelaskan tentang pencemaran laut, penyebabnya, serta dampak dari pencemaran yang jelas-jelas hasil dari perilaku tidak bertanggung jawab kita semua. Bapak Adi menjelaskan bahwa pencemaran tersebut membawa pengaruh pada rantai makanan di laut yang pada akhirnya manusia jugalah yang akan merasakan dampak negatifnya.

Pemateri terahir adalah seorang petani rumput laut muda berpengalaman bernama Bapak Asep. Dengan gamblang beliau menjelaskan bahwa rumput laut pada tahun 2000 tumbuh sangat subur di perairan Pulau Pari. Namun sekarang ini sudah tidak bisa tumbuh lagi dikarenakan tingginya polusi di perairan sekitar pulau Pari yang berjarak kurang lebih 30 mil laut dari bibir pantai Jakarta.  Penyebab utama  rusaknya budidaya rumput laut di pulau Pari adalah limbah minyak dan oli dari Jakarta. Padahal masyarakat Pulau Pari menggantungkan hidupnya dari hasil laut, terutama rumput laut.

Cukup berat memang materi-materi yang diberikan oleh pembicara-pembicara hebat yang saya sebutkan diatas. Lalu apakah Kiran mengerti apa yang disampaikan? Tentu tidak ☺. Saya dan suami mengerti bahwa materi yang disampaikan pada kegiatan ini bukanlah untuk anak usia 6 tahun seperti Kiran. Lalu pembelajaran apa yang didapatkan Kiran? Dari pengamatan saya dan suami kemarin, hal-hal seperti inilah yang kami mau Kiran alami:

Menjadi bagian dari suatu kelompok

Pantai selalu menjadi tempat favorit Kiran. Namun ketika waktu bermain airnya kemarin harus terhenti karena materi akan dimulai, di situlah Kiran belajar untuk bergabung dengan peserta yang lain, menjadi bagian dari suatu kelompok.
Kiran belajar mendengarkan dan menghormati orang yang sedang berbicara
Selama sesi diskusi, kami mengingatkan Kiran untuk berada di dekat pemateri. Fokus anak usia 6 tahun seperti Kiran memang masih pendek, namun dengan Kiran mau duduk sambil bermain pasir dengan peserta lain bagi kami sudah merupakan proses belajar untuk Kiran.

Belajar bersabar dan mengesampingkan keinginan pribadinya

Durasi materi yang disampaikan oleh setiap pembicara rata-rata sekitar 45 menit. Waktu yang cukup lama untuk anak seperti Kiran untuk bisa duduk dan mendengarkan isi materi yang disampaikan. Namun, Kiran ternyata bisa bersabar sampai pembicara selesai dan akhirnya bisa kembali bermain di pantai.

Belajar berani melawan rasa takutnya

Dalam perjalanan kembali ke Pelabuhan Tanjung Pasir, kondisi laut cukup membuat hati beristighfar berkali-kali. Angin yang cukup besar membuat deburan ombak mengangkat dan mengayun-ayun kapal yang kami tumpangi. Para penumpang kapal banyak yang berteriak dan menunjukkan rasa takut. Saya berusaha keras untuk menunjukkan poker face saya kepada Kiran. Tapi sepertinya Kiran juga merasakan apa yang saya rasakan. Beruntung suami saya sangat tenang, sehingga Kiran bisa tertidur walaupun perahu terombang ambing dihempas ombak. Kiran bangun ketika perahu masih cukup jauh dari pelabuhan. Tiba-tiba Kiran bernyanyi lagu Moana, lagu favoritnya sekarang ini. Saya tanyakan mengapa dia bernyanyi, untuk melawan rasa takut jawabnya. Untuk saya jawaban yang Kiran berikan menunjukkan bahwa dia belajar untuk mengalihkan pikirannya dengan sesuatu yang ia sukai.

Bagi kami dengan ikut kegiatan seperti ini banyak sekali pengalaman yang bisa dialami oleh anak-anak. Bagaimana berinteraksi dan bersikap dalam suatu kelompok itu yang paling penting, konten mah nomor sekian, wong Kiran saja cuma ingat “Mangrove trees protect the fish from predators”, sisanya lupa.

Observasi di Dalam Keseharian

Hari ini kami sekeluarga pergi ke IKEA di Serpong untuk mengantar adik kami membeli beberapa barang. Situasi di IKEA lebih penuh daripada biasanya karena ada obral entah mulai kapan tetapi akan berakhir pada tanggal 10 Januari 2017.

Setelah berkeliling melihat-lihat, tidak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 11.30 dan kami pun pergi menuju area makan yang antreannya sudah mulai mengular. Setelah mengantre selama 40 menit, kami pun menyantap makan siang kami dengan lahap. Hal yang paling kami sukai dari IKEA adalah konsep swalayannya. Segala informasi terkait barang tercatat dengan baik mulai dari deskripsi barang sampai dengan dimensi barang. Tidak hanya itu, informasi tersebut dilakukan dalam Bahasa Indonesia. Apa yang istimewa dengan label yang ditulis dengan Bahasa Indonesia? Karena tidak semua perusahaan yang berbisnis di Indonesia melakukannya. Bagi saya, hal ini adalah suatu bentuk kepedulian dan profesionalisme perusahaan tersebut dalam melayani konsumennya.

Tidak hanya deskripsi barang yang disediakan di sana, denah setiap area telah diatur sedemikian rupa untuk mempermudah pengunjung dan petunjuk yang mudah dibaca dapat ditemukan di mana-mana. Sudah terbayang bukan situasi di sana layanannya seperti apa? Apa kaitannya dengan cerita saya di atas? Nah ini yang ingin saya bagikan, setelah kami menyelesaikan makan siang, kami pun membereskan peralatan makan yang kami gunakan (mengikuti arahan instruksi yang dipasang di atas meja makan untuk menyimpan peralatan makan yang sudah digunakan pada tempat yang telah disediakan).

Di bagian tengah area makan terdapat ruangan kecil bersekat tanpa pintu dengan tulisan besar yang dapat dibaca oleh semua orang (yang bisa membaca) bahwa peralatan makan kotor yang sudah digunakan harus disimpan di situ. Meskipun pemandangannya sudah membaik dibandingkan kondisi terakhir kami ke sini (waktu itu banyak orang yang meninggalkan peralatan makannya di meja dan tidak membereskannya), sekarang peralatan makannya sudah mulai naik ke atas kereta dorong dan kereta dorong berisikan piring-piring kotor itu ditinggalkan di luar ruangan penyimpanan piring kotor sehingga banyak kereta dorong penuh dengan piring dan gelas kotor. Setelah saya periksa, tempat penyimpanan piring kotor di ruangan tersebut ternyata masih kosong.

Tidak hanya itu, ketika kami tiba di area parkir dan hendak memasukkan barang yang kami beli, sekali lagi terlihat kereta dorong yang berderet memenuhi tempat antrean di area muat barang pelanggan. Padahal lima meter dari area tersebut terdapat sebuah tempat dengan kereta dorong yang berderet rapi dan di bagian atas tempat tersebut terdapat petunjuk dengan tulisan besar yang meminta setiap pelanggan untuk mengembalikan troli yang sudah digunakannya di tempat tersebut yang hanya berjarak sekian meter dari area muat barang.

Inilah fenomena yang terjadi di dalam masyarakat kita. Bukan berniat usil atau merasa diri paling benar, tetapi saya ingin membagikan pengalaman ini sebagai pengingat bagi kita sebagai orangtua dari generasi penerus bangsa baik yang menjalani homeschooling maupun yang bersekolah untuk mempertanyakan kembali esensi dari pendidikan yang kita jalani di dalam keluarga kita. Saya yakin semua orang di sana hari ini tidak ada yang buta huruf dan pastinya banyak yang bergelar S1 atau lebih tinggi. Pemandangan ini menjadi bukti bahwa masih banyak hal yang harus kita benahi dalam dunia pendidikan kita.

Banyak orang yang memiliki mobil mewah dan masih membuang sampah dari mobil yang ditumpanginya karena merasa mobilnya lebih berharga daripada bumi tempat dia tinggal. Masih banyak orang yang membuang sampah di depan tempat tinggal orang lain karena merasa rumahnya harus bebas sampah dan tidak apa-apa jika lingkungannya kotor yang penting rumahya bersih. Merasa diri punya uang berlebih dan merasa baik-baik saja ketika membuang makanan yang tidak dihabiskannya.

Tidak perlu kita lakukan karyawisata ke kota lain (apalagi ke negara lain) hanya untuk memberikan pengalaman kepada anak kita mengenai suatu hal. Masalah kedisiplinan seperti contoh di atas misalnya, bagi masyarakat Serpong, silakan ajak anak-anak Anda untuk mengunjungi IKEA dan melakukan karyawisata di sana. Tidak ada biaya yang harus dikeluarkan kecuali ongkos pulang dan pergi ke lokasi. Bagi yang tidak memiliki ongkos untuk pergi ke IKEA silakan lakukan observasi di warung, tukang bakso, tukang bubur, dan tempat lainnya. Perhatikan bagaimana “lumrahnya” ketika ada seorang penjual sedang melayani seorang pembeli dan diserobot oleh pembeli lain dengan alasan buru-buru atau alasan lainnya sehingga perilaku menyerobot itu dianggap wajar.

Banyak hal lainnya dalam keseharian yang bisa kita jadikan bahan diskusi bersama anak. Tidak perlu keluar dana besar bahkan bisa gratis. Yang diperlukan adalah kemampuan observasi kita terhadap apa yang terjadi di dalam keseharian kita. Contoh-contoh di atas hanyalah sedikit dari pemandangan yang biasa kita lihat dalam keseharian kita. Apakah Anda memiliki pengalaman yang sama? Silakan bagikan pengalaman Anda di kolom komentar di bawah ini.

Family Team Building with Jakarta Homeschool Club

Tahun ini kami kembali diundang oleh Ibu Ida Luther  untuk menghadiri kegiatan JHC (Jakarta Homeschool Club) dengan tema family team building yang diadakan hari Sabtu, 10 Desember 2016 di Vila Bukit Hambalang. (Cerita tahun lalu bisa dibaca di sini)

Sekilas mengenai masa kanak-kanak saya yang dibesarkan di dalam masyarakat yang mengharamkan saya untuk mengucapkan selamat natal kepada yang merayakannya. Bahkan ketika tiba di Jakarta, keluarga saya sempat khawatir karena saya tinggal selama bertahun-tahun dengan keluarga penganut Kristen bahkan teman saya adalah Leader Assistant organisasi BSF (Bible Study Fellowship) dari Bethlehem. Cemoohan dari orang-orang sekitar sering saya dengar, mulai dari kafir, murtad, liberal dan sebagainya. Tapi biarlah, anjing menggonggong kafilah berlalu. Saya tidak memiliki waktu untuk membenci orang lain.

Inilah alasannya mengapa saya anti sekali dengan pemberian label terhadap sesuatu. Status agama, status ekonomi, status pendidikan, dan label-label lainnya yang semakin menjauhkan kita sebagai manuasia. Interaksi antar manusia mulai tersaring karena label-label tersebut. Segala sesuatu yang berkaitan dengan label-label tersebut selalu menjadi isu seksi untuk dibahas dan dijadikan pergunjingan. Perbedaan tidak lagi dilihat sebagai sebuah keindahan. Semua harus sama, bahkan dikerucutkan lagi harus menjadi satu golongan.

Melihat kondisi toleransi antar umat di negeri tercinta yang sudah mulai terkikis semakin memperkuat kami untuk menunjukkan kepada Kiran arti dari kerukunan hidup beragama yang sudah menjadi pemandangan langka di negeri ini. Mengenali dan memahami setiap umat dengan keyakinannya masing-masing dapat membawa kebahagiaan untuk yang melakukannya. Setiap ajaran agama selalu mengajarkan kebaikan terhadap sesama dan lingkungannya. Bukan kebencian dan kekerasan.

Dalam kegiatan ini Kiran mulai mengamati bagaimana umat lain berdoa, bersyukur dan melakukan perayaannya tanpa sedikit pun merasa terganggu atau canggung dengan keberadaan kami. Semua orang menyambut kami dengan ramah dan memuliakan kami sebagai tamu mereka. Kami mengobrol, bersenda gurau dan bermain bersama seharian. Tua dan muda berkumpul bersama. Tidak ada label yang melekat, sungguh tidak terasa perbedaan di antara kami semua, kami hanyalah para manusia tanpa label yang sedang bergembira.

Kegiatan diawali dengan sarapan bersama kemudian semua orang menyalakan lilin sebagai sebuah simbolisme sambil menyanyikan lagu Joy to the World. Selanjutnya kami berkegiatan bersama dipandu oleh Pak Dudi dan timnya dari Bandung melakukan beberapa permainan yang membuat kami semua tertawa lepas bahkan sampai menangis terpingkal-pingkal. Setelah berkegiatan bersama, kami istirahat untuk menyantap makan siang. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian Character Recognition Certificate. Sertifikat ini diberikan kepada setiap anak atas pencapaian masing-masing anak di setiap tahun.

Ibu Ida memanggil setiap anak ke depan dengan menyelamati mereka atas pencapaian mereka. Tahun lalu Kiran mendapatkan nilai Tolerance untuk Character Recognition Certificate yang diterimanya. Tahun ini Kiran mendapatkan Sincerity. Berbeda dengan Kiran, anak-anak JHC mendapatkan penilaiannya dari observasi langsung ketika mereka berkegiatan bersama. Ibu Ida mencatat nilai-nilai yang menonjol dari setiap anak.

Setelah acara pemberian sertifikat selesai, anak-anak saling bertukar kado yang sudah disiapkan sebelumnya. Nilai kado ditentukan seharga Rp 25.000 supaya tidak memberatkan tetapi tetap tidak menghilangkan semangat berbagi di antara anak-anak. Nampak wajah-wajah yang sudah tidak sabar menantikan kegiatan bertukar kado ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan berbagi cerita. Setiap keluarga maju ke depan dan mengucapkan rasa syukurnya tahun ini.

Ini adalah bagian yang paling saya sukai karena setiap orang menyampaikan rasa syukurnya dan mengingatkan saya atas segala kekhilafan saya untuk hal-hal yang tidak pernah saya syukuri. Kami pun mendapatkan giliran dan menyampaikan rasa syukur kami tahun ini bahwa Nuni sudah berhenti bekerja dan dapat meluangkan waktu lebih banyak bersama saya dan Kiran. Sedangkan rasa sykur Kiran tahun ini adalah “I am thankful because I can sleep late until 10 O’clock”. Saya terkesima dengan kepolosan, kesungguhan dan kedewasaan setiap anak ketika menyampaikan rasa syukurnya. Sungguh suatu pengalaman yang sangat berkesan untuk kami semua.

Banyak sekali kegiatan yang menginspirasi kami ketika kami berada di sana. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ida Luther dan Kim yang sudah mengundang kami dan memberikan kesempatan kepada keluarga kami untuk belajar. Oma Wang dan Oma Maria yang selalu bersemangat di usianya yang sudah senja, salut! Terima kasih juga untuk penerimaan dan keseruannya kepada seluruh keluarga JHC.

Kami sangat berharap dapat memperkenalkan Kiran pada ajaran agama lainnya secara langsung jika ada kesempatan supaya ketika besar nanti Kiran dapat bertumbuh menjadi seorang penyayang terhadap sesamanya, tanpa memedulikan label yang melekat pada orang tersebut.