Jangan Remehkan Pertanyaan Anak

Sisa hujan semalam masih mengguyur atap rumah kami di pagi hari yang membuat kami malas keluar untuk bersepeda pagi. Karena saya ada jadwal wawancara dengan pelamar kerja saya pun harus segera bersiap-siap berangkat kerja dan saya mengajak Kiran untuk mandi bersama. Sebelum mandi bersama Kiran sempat bertanya “What kind of leaves that silk worm eats?” Kiran mengajukan pertanyaan tersebut karena hari Jumat yang akan datang kami akan mengikuti kegiatan SHINE mengenai ulat sutera di Bogor. Kemudian saya menjawab daun pohon murbei (otomatis menjawab sok tahu). Kemudian kok terasa aneh memberitahu Kiran hal yang saya sendiri tidak ketahui dengan pasti (hati langsung tidak nyaman dan merasa bersalah). Kemudian pertanyaan selanjutnya dari Kiran adalah “What so special about silk worm?”. Pertanyaannya semakin berat untuk dijawab yang membuat saya sadar dari respons tidak bertangung jawab saya satu menit sebelumnya. Saya pun mengajak Kiran untuk menjadikan pertanyaan ini sebagai kegiatan hari ini bersama Nuni karena saya tidak akan berada di rumah seharian.

Beberapa menit berselang dan kami pun memasuki kamar mandi. Kemudian Kiran melihat sesuatu di lantai kamar mandi kemudian bertanya kembali “What is that Ayah?” saya menjawab “It looks like algae” disambung dengan pertanyaan selanjutnya “What is algae?” kemudian saya menjawab “Hmm I’m not sure what it is. How about we check on the internet and find it out?”. Saya bersyukur hari ini dapat mengelola emosi saya dengan baik karena biasanya kalau sedang terburu-buru banyak hal yang saya acuhkan termasuk pertanyaan atau komentar dari Kiran.

Dalam hati saya bergumam “Wah banyak sekali ternyata yang saya tidak tahu ya”. Kami pun melanjutkan kegiatan kami di kamar mandi dan 5 menit kemudian tiba-tiba Kiran bertanya lagi “How did dinosaurs died?” Tidak bisa menahan diri untuk menjawab saya pun terpancing mengatakan “because of the meteors. There were meteors hit earth and killed the dinosaurs”. Saya mulai khawatir karena tidak tahu pertanyaan selanjutnya seperti apa. Kemudian pertanyaan lanjutan dari Kiran adalah “Is it real?”. Seperti yang saya duga, saya kebingungan dibuatnya. Tiba-tiba saya menyadari bahwa selama ini saya tidak pernah meluangkan waktu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dinosaurus, hanya berbekal kata orang saja atau bacaan dari sumber yang tidak jelas. Selanjutnya saya berpikir bagaimana saya memperoleh informasi yang saya miliki saat ini. Akhirnya saya harus berkata “You are asking a lot of questions and I am happy about it. Unfortunately I do not know the answers. How about we make a list and start finding out what you really want to know”. Kiran pun setuju dan saya mulai menuliskan semua pertanyaan Kiran pagi ini.

Sebelum berangkat kerja, saya berdiskusi singkat dengan Nuni untuk memastikan Nuni mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang saya tulis di papan tulis dan meminta Nuni untuk melakukan riset di internet bersama Kiran hari ini.

Saya berangkat kerja dengan perasaan sedih, bahagia dan bangga. Masih banyak hal yang harus saya benahi sebagai orangtua dan salah satunya adalah untuk berhenti menjadi orang yang sok tahu. Memang benar belajar adalah sebuah perjalanan dan bukan tujuan. Saya sangat menikmati proses homeschooling keluarga kami karena itulah yang memaksa kami semua untuk terus belajar setiap saat dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu terlepas dari usia kami.

Semoga pengalaman saya di atas dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak pernah menganggap remeh komentar atau pertanyaan dari anak-anak kita. Kita harus selalu waspada (terhadap diri kita sendiri) untuk selalu terjaga dan siap berdiskusi bersama anak sesibuk apa pun kita. Jika ada pengalaman lain dari para pembaca silakan tinggalkan pengalaman Anda di kolom komentar semoga bisa menjadi bahan belajar untuk kita semua.

I Need Time Out for a While

Bayangkan dua kejadian ini di pagi hari, Anda sedang menyiapkan sarapan sambil mengingatkan anak Anda untuk mandi, 15 menit kemudian ternyata si anak masih belum mandi. Anda mengingatkan lagi untuk mandi. Keran air terdengar menyala dan ketika Anda melongok ke dalam kamar mandi, bak mandi penuh busa, mainan basah di lantai, isi botol shampoo habis. Kejadian yang kedua, kakak dan adik sedang main bersama. Si kakak senang sekali menggoda si adik dan adik menangis ketika digoda kakaknya. Tetapi jika kakak diam, si adik akan mulai menggoda si kakak. Anda tinggal sebentar, ternyata mereka sedang memperebutkan sesuatu, si adik menangis, dan mainan berantakan di mana-mana.

Do they sound familiar? Mungkin itu hampir pernah dirasakan oleh semua ibu ya. Kalau dipikir-pikir rasanya mau memarahi anak. Tapi apakah memarahi anak sampai suara naik beberapa oktaf akan menyelesaikan masalah? Apakah nyerocos kepada anak sampai Anda puas berarti anak mengerti kesalahannya? Tidak bunda. Penelitian menunjukkan bahwa sel-sel otak anak akan hilang apabila Anda menggunakan suara keras apalagi membentaknya. Memarahi anak di depan umum juga bukanlah cara yang baik dan bijak. Mengapa? Karena anak akan merasa malu dimarahi di depan orang lain, bahkan di depan kakak atau adiknya. Anak adalah pribadi yang punya harga diri dan harus Anda hormati. Anda juga tidak mau diperlakukan seperti itu kan? Jadi apabila Anda mengalami situasi seperti dua kejadian di atas, Time Out adalah salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengelola emosi Anda.

Apa itu Time Out?

Time Out adalah salah satu metode self- control yang orang tua bisa lakukan di rumah ketika emosi tidak terkontrol. Pada awalnya, Time Out adalah konsekuensi yang diterapkan oleh sekolah tempat saya mengajar dulu. Ketika anak murid melakukan hal yang melanggar peraturan dan anak tersebut sudah diingatkan berkali-kali, konsekuensi yang diterima oleh anak adalah Time Out, yaitu berhenti dari kegiatan yang sedang dilakukan, duduk di kursi atau suatu tempat, dan menenangkan diri. Apabila sudah tenang kembali, anak tersebut akan diajak bicara oleh guru. Sejalan dengan ide tersebut, untuk Time Out ini, kitalah sebagai orang tua yang menggunakan metode ini untuk menenangkan diri sejenak. Apabila diri kita sudah tenang, ajak anak untuk membicarakan perilakunya dan memutuskan bersama apa yang harus diperbaikinya.

 Seperti apa teknis Time Out? Ingatkan anak untuk menghentikan kegiatan yang sedang ia lakukan. Katakan kepadanya bahwa Anda tidak suka dengan tindakannya dan Anda butuh Time Out. Biarkan anak duduk dan memikirkan perilakunya yang sudah membuat Anda kesal. Bicarakan insiden dengan anak Anda baik-baik setelah emosi Anda reda. Diskusikan baik-baik agar anak mengerti kesalahannya dan cari jalan keluar bersama agar hal tersebut tidak terjadi lagi. Setelah beberapa kali menerapkan metode Time Out ini di rumah, anak saya mengerti bahwa ketika orang tuanya membutuhkan Time Out, berarti ada tindakan atau perilakunya yang harus diperbaiki.

Ketika bertemu Bu Septi Wulandani di event Kamtasia beberapa bulan lalu, saya menanyakan bagaimana beliau bisa mengelola emosinya ketika mengajar dan mendidik 3 orang anak yang usianya terpaut tidak jauh satu sama lain. Selama 9 tahun mengajar di sekolah menghadapi 24 anak yang setiap hari berkonflik sudah merupakan makanan sehari-hari untuk saya. Tetapi ketika menghadapi anak sendiri, sungguh menguras emosi. Bu Septi menjelaskan bahwa emosi dalam menghadapi anak itu wajar, tetapi bagaimana cara mengatasi emosi tersebutlah yang penting. Jangan sampai anak menjadi korban emosi kita yang tidak terkontrol. Cara yang Bu Septi lakukan adalah ketika beliau kesal dengan anaknya beliau memasuki ke kamar mandi, menyalakan air keran, dan menangis sampai perasaan beliau lega. Ketika perasaan lebih baik, barulah Bu Septi keluar dan kembali lagi mengajar ketiga anaknya. Setelah itu beliau akan membahas masalah yang terjadi dengan anak-anaknya. Cara yang Bu Septi pakai ternyata sama dengan Time Out yang dipakai di sekolah saya dulu. Jadi tidak hanya anak yang butuh waktu untuk menenangkan diri, orang tua juga ternyata memerlukannya.

Time Out untuk saya benar-benar bermanfaat. Selain membantu saya mengelola emosi, juga membawa dampak positif untuk anak saya. Kiran menjadi lebih peka dan lebih mengerti ketika diajak berdiskusi. Perlu diingat oleh  orang tua, sering kali ucapan yang keluar dari hati yang penuh emosi akan menyakiti orang yang menjadi lawan bicara, dalam hal ini anak sendiri.  Lagipula, marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada malah membuat kepala Anda sakit.