Apa Saja yang dilakukan Selama Travelschooling

Travelschooling, ngapain aja sih?

Di awal tahun 2017, travelschooling  menjadi salah satu resolusi keluarga kami. Semenjak kami memutuskan untuk bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan Kiran, belajar langsung dari alam dan ahlinya sudah menjadi cita-cita kami.

Baru setelah saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di pertengahan tahun lalu, travelschooling pertama kami terlaksana. Waktu itu kami berkunjung ke Salatiga, Ambarawa, Semarang. Temanggung, dan lanjut ke Bandung. Ternyata benar kata orang ya, travelling itu bikin nagih hehe. Tapi karena kami keluarga homeschooler, pengalaman selama di perjalanan secara sadar kami gunakan sebagai sarana belajar. Oleh karena itu, kami membuka diri untuk  mendapatkan pembelajaran dari tempat- tampat yang kami kunjungi.

Sebenarnya travelschooling itu apa sih? Travelschooling menurut pengertian kami adalah belajar mengalami langsung dengan berada di lokasi dan dari orang-orang yang tinggal di lokasi tersebut. Dengan kata lain, belajar dari pengalaman-pengalaman dan interaksi selama di perjalanan. Pada kesempatan kedua ini, kami melakukan perjalanan ke daerah Bandung Timur, yaitu ke daerah Cicalengka, Cijapati dan ke Purwakarta. Berdasarkan pengalaman kami travelschooling, ada banyak manfaat yang kami dapatkan selama berada jauh dari rumah kali ini, yaitu:

Ngobrol, ngobrol dan ngobrol

Perjalanan berjam-jam di dalam mobil tidak akan terasa membosankan jika digunakan untuk ngobrol banyak hal. Seperti yang kami lakukan selama 3 jam perjalanan ke Bandung, topik random, mulai dari tebak-tebakan merk mobil, membahas perjalanan padi menjadi nasi, sejarah Lamborghini, sampai The Power of Dream seorang Seichiro Honda. Ketika ngobrol tentang sesuatu atau ketika Kiran bertanya, kami memulainya atau menjawabnya dengan mengajukan pertanyaan ke Kiran, “What do you think, Kiran?” Kami biarkan jawaban polos seorang anak mengalir dengan sendirinya. Dari situ, selain melatih proses berpikir Kiran, kami bisa melihat sejauh mana informasi yang ia tahu tentang suatu hal. Ngobrol pun bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Cape ngobrol? Saatnya putar musik, saya memasukkan lagu yang disukai semua anggota keluarga dan bernyanyilah kami bersama-sama selama di perjalanan.

Mendekatkan anggota keluarga

Ketika travelschooling, kami merasa kedekatan kami lebih terasa satu sama lain karena menghabiskan waktu 24 jam bersama-sama.  Untuk travelschooling kali ini, kami berkesempatan tinggal selama 2 hari dengan warga setempat di daerah Cijapati, suatu daerah di atas gunung Mandalawangi, di perbatasan Bandung dan Garut. Di daerah ini sama sekali tidak ada sinyal Hp dan koneksi internet. Jadi selama 2 hari di sana, batre HP saya awet sekali hihihi. Nah, momen berharga ini kami manfaatkan untuk bisa lebih dekat dengan keluarga. Berjalan-jalan menikmati hamparan sawah dan pepohonan hijau, memasak makanan, membaca buku, akan sangat terasa menyenangkan jika dilakukan bersama-sama. Kalau bosan bagaimana? Kami membawa kartu permainan. Kiran suka sekali bermain Uno, jadi kami bisa berkali-kali bermain kartu Uno dan tertawa lepas bersama, Baru kali itu hari-hari kami terasa panjang karena tidak terganggu alat komunikasi.

Berinteraksi dengan warga setempat

Sebagai keluarga homeschooler, kami berusaha memantaskan diri menjadi role model bagi Kiran. Jadi dalam perjalanan ini, kami berusaha menunjukkan kepada Kiran cara berinteraksi dengan masyarakat setempat. Beruntung Ian mengenal beberapa orang di kampung yang kami singgahi dan kami diperbolehkan menginap di rumah salah satu warga bernama Dahlan. Dahlan adalah seorang seorang guru muda yang mengajar satu-satunya SMP di daerah Cijapati. Dahlan memperbolehkan kami untuk menginap di rumahnya. Kami belajar banyak sekali dari seorang Dahlan, terutama  tentang keikhlasan. Selain itu, kami juga diundang untuk mengunjungi SMP Dahlan mengajar. Ian pun diminta untuk membantu salah satu siswa sekolah itu. Guru-guru di sekolah itu menyambut kami dengan makanan khas daerah Sunda. Kiran pun belajar membaur dengan siswa di sekolah. Meskipun usia Kiran jauh lebih muda, mereka mau bermain bersama Kiran. Ke manapun kami berjalan, senyuman, anggukan dan sapaan berbahasa Sunda selalu dilemparkan oleh warga setempat. Keramahan yang jarang sekali terlihat di Jakarta. Kehangatan yang diberikan oleh warga yang tidak terpapar kemajuan teknologi inilah yang kami ingin Kiran rasakan dan semoga memberikan kesan yang mendalam di dalam dirinya.

Mendekatkan diri dengan alam

Lebih dekat dengan alam adalah salah satu dari banyak alasan kenapa kami memulai perjalanan ini. Dari awal, saya dan Ian ingin Kiran mendapatkan pengalaman yang tidak akan ia dapatkan di Jakarta. Bermain tanah, turun ke sawah, mengejar ayam dan bebek, mengenal berbagai macam tanaman (yang ayah dan bundanya tahu aja sih hehe), menangkap belut, mendaki gunung, menyusuri sungai kecil, dan yang paling penting menikmati semua ciptaan yang kuasa. Susahnya sinyal dan koneksi internet terasa sangat menguntungkan bagi kami, karena banyaknya waktu bisa kami luangkan untuk mengajak Kiran bersyukur atas ciptaan yang Maha Kuasa.

Mengenal kesenian setempat

Ketika berkunjung ke Cijapati, kami beruntung bisa melihat langsung permainan musik Calung, salah satu kesenian tradisional daerah Jawa Barat. Anak-anak setempat sedang berlatih memainkan alat musik tersebut. Setelah itu, diskusi pun mengalir, mulai dari bahan baku alat musik tersebut, cara memainkannya, sampai cara membuatnya. Sayangnya Kiran tidak sempat mencoba memainkan Calung tersebut, Isin ceunah hehe.

Mencoba kuliner setempat

Berkunjung ke suatu daerah tidak lengkap rasanya jika tidak mencoba makanan khas setempat. Lebih bagus lagi jika bisa terlibat dalam proses membuat masakan khas daerah itu. Dengan mencoba makanan lokal, kita bisa tahu sumber daya alam yang menjadi bahan dasar makanan yang disantap. Selama di Cijapati, lidah kami dimanjakan dengan cemilan khas yang bahan dasarnya diambil langsung dari pekarangan, yaitu combro, singkong goreng, ubi rebus, awug, dan keripik singkong. Lidah tidak cocok dengan masakan lokal? Jangan khawatir, Indomaret dan masakan Padang bertebaran di mana-mana.

Belajar bahasa lokal

Karena kunjungan kali ini ke Bandung, otomatis bahasa yang kami dengar adalah bahasa Sunda. Karena Ian adalah penutur asli, saya dan Kiranlah yang banyak belajar bahasa lokal. Kiran justru banyak mendapatkan kosakata baru dari interaksi dengan anak-anak warga setempat. Begitu pula dengan saya, selama satu minggu di Jawa Barat, perbendaharaan kata Sunda saya cukup meningkat hehe.

Main, main dan main

Sebelum memulai perjalanan, saya dan Ian sepakat akan mengurangi penggunaan gawai selama di perjalanan dan tidak memberikan gawai untuk Kiran sama sekali. Ternyata, it worked! Kiran hanya sekali meminta untuk bermain game di gawai. Setelah itu ia sama sekali tidak ingat dan sibuk bermain. Dalam keterbatasan, apa pun bisa menjadi permainan bagi anak-anak. Daun dan batu pun bisa disulap menjadi kompor dan piring. Pasir dan batu bisa menjadi istana di dunia imajinasi mereka. Dunia yang akan membuat anak –anak menikmati masa kecilnya dengan bahagia. Kitalah sebagai orang dewasa yang harus menjaga agar dunia itu tetap ada selamanya.    

 

Travelschooling (Part 2)

Travelschooling (Part 2)

Travelschooling, ngapain aja sih?

Di awal tahun 2017, travelschooling  menjadi salah satu resolusi keluarga kami. Semenjak kami memutuskan untuk bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan Kiran, belajar langsung dari alam dan ahlinya sudah menjadi cita-cita kami.

Baru setelah saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di pertengahan tahun lalu, travelschooling pertama kami terlaksana. Waktu itu kami berkunjung ke Salatiga, Ambarawa, Semarang. Temanggung, dan lanjut ke Bandung. Ternyata benar kata orang ya, travelling itu bikin nagih hehe. Tapi karena kami keluarga homeschooler, pengalaman selama di perjalanan secara sadar kami gunakan sebagai sarana belajar. Oleh karena itu, kami membuka diri untuk  mendapatkan pembelajaran dari tempat- tampat yang kami kunjungi.

Sebenarnya travelschooling itu apa sih? Travelschooling menurut pengertian kami adalah belajar mengalami langsung dengan berada di lokasi dan dari orang-orang yang tinggal di lokasi tersebut. Dengan kata lain, belajar dari pengalaman-pengalaman dan interaksi selama di perjalanan. Pada kesempatan kedua ini, kami melakukan perjalanan ke daerah Bandung Timur, yaitu ke daerah Cicalengka, Cijapati dan ke Purwakarta. Berikut ini manfaat yang kami dapatkan dari pengalaman travelschooling kami:

Ngobrol, ngobrol dan ngobrol

Perjalanan berjam-jam di dalam mobil tidak akan terasa membosankan jika digunakan untuk ngobrol banyak hal. Seperti yang kami lakukan selama 3 jam perjalanan ke Bandung, topik random, mulai dari tebak-tebakan merk mobil, membahas perjalanan padi menjadi nasi, sejarah Lamborghini, sampai The Power of Dream seorang Seichiro Honda. Ketika ngobrol tentang sesuatu atau ketika Kiran bertanya, kami memulainya atau menjawabnya dengan mengajukan pertanyaan ke Kiran, “What do you think, Kiran?” Kami biarkan jawaban polos seorang anak mengalir dengan sendirinya. Dari situ, selain melatih proses berpikir Kiran, kami bisa melihat sejauh mana informasi yang ia tahu tentang suatu hal. Ngobrol pun bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Cape ngobrol? Saatnya putar musik, saya memasukkan lagu yang disukai semua anggota keluarga dan bernyanyilah kami bersama-sama selama di perjalanan.

Mendekatkan anggota keluarga

Ketika travelschooling, kami merasa kedekatan kami lebih terasa satu sama lain karena menghabiskan waktu 24 jam bersama-sama.  Untuk travelschooling kali ini, kami berkesempatan tinggal selama 2 hari dengan warga setempat di daerah Cijapati, suatu daerah di atas gunung Mandalawangi, di perbatasan Bandung dan Garut. Di daerah ini sama sekali tidak ada sinyal Hp dan koneksi internet. Jadi selama 2 hari di sana, batre HP saya awet sekali hihihi. Nah, momen berharga ini kami manfaatkan untuk bisa lebih dekat dengan keluarga. Berjalan-jalan menikmati hamparan sawah dan pepohonan hijau, memasak makanan, membaca buku, akan sangat terasa menyenangkan jika dilakukan bersama-sama. Kalau bosan bagaimana? Kami membawa kartu permainan. Kiran suka sekali bermain Uno, jadi kami bisa berkali-kali bermain kartu Uno dan tertawa lepas bersama, Baru kali itu hari-hari kami terasa panjang karena tidak terganggu alat komunikasi.

Berinteraksi dengan warga setempat

Sebagai keluarga homeschooler, kami berusaha memantaskan diri untuk menjadi role model untuk Kiran. Jadi dalam perjalanan ini, kami berusaha menunjukkan kepada Kiran cara berinteraksi dengan masyarakat setempat. Beruntung Ian mengenal beberapa orang di kampung yang kami singgahi dan kami diperbolehkan menginap di rumah salah satu warga bernama Dahlan. Dahlan adalah seorang seorang guru muda yang mengajar satu-satunya SMP di daerah Cijapati. Dahlan memperbolehkan kami untuk menginap di rumahnya. Kami belajar banyak sekali dari seorang Dahlan, terutama  tentang keikhlasan. Selain itu, kami juga diundang untuk mengunjungi SMP Dahlan mengajar. Ian pun diminta untuk membantu salah satu siswa sekolah itu. Guru-guru di sekolah itu menyambut kami dengan makanan khas daerah Sunda. Kiran pun belajar membaur dengan siswa di sekolah. Meskipun usia Kiran jauh lebih muda, mereka mau bermain bersama Kiran. Ke mana pun kami berjalan, senyuman, anggukan dan sapaan berbahasa Sunda selalu dilemparkan oleh warga setempat. Keramahan yang jarang sekali terlihat di Jakarta. Kehangatan yang diberikan oleh warga yang tidak terpapar kemajuan teknologi inilah yang kami ingin Kiran rasakan dan semoga memberikan kesan yang mendalam di dalam dirinya.

Mendekatkan diri dengan alam

Lebih dekat dengan alam adalah salah satu dari banyak alasan kenapa kami memulai perjalanan ini. Dari awal, saya dan Ian ingin Kiran mendapatkan pengalaman yang tidak bisa ia dapatkan di Jakarta. Bermain tanah, turun ke sawah, mengejar ayam dan bebek, mengenal berbagai macam tanaman (yang ayah dan bundanya tahu aja sih hehe), menangkap belut, mendaki gunung, menyusuri sungai kecil, dan yang paling penting menikmati semua ciptaan yang kuasa. Susahnya sinyal dan koneksi internet terasa sangat menguntungkan bagi kami, karena banyaknya waktu bisa kami luangkan untuk mengajak Kiran bersyukur atas ciptaan yang Maha Kuasa.

Mengenal kesenian daerah tersebut

Ketika berkunjung ke Cijapati, kami beruntung bisa melihat langsung permainan musik Calung, salah satu kesenian tradisional daerah Jawa Barat. Anak-anak setempat sedang berlatih memainkan alat musik tersebut. Setelah itu, diskusi pun mengalir, mulai dari bahan baku alat musik tersebut, cara memainkannya, sampai cara membuatnya. Sayangnya Kiran tidak sempat mencoba memainkan Calung tersebut, Isin ceunah hehe.

Mencoba kuliner lokal

Berkunjung ke suatu daerah tidak lengkap rasanya jika tidak mencoba makanan khas setempat. Lebih bagus lagi jika bisa terlibat dalam proses membuat masakan khas daerah itu. Dengan mencoba makanan lokal, kita bisa tahu sumber daya alam yang menjadi bahan dasar makanan yang disantap. Selama di Cijapati, lidah kami dimanjakan dengan cemilan khas yang bahan dasarnya diambil langsung dari kebun yaitu combro, singkong goreng, ubi rebus, awug, dan keripik singkong.

Belajar bahasa penduduk setempat

Karena kunjungan kali ini ke Bandung, otomatis bahasa yang kami dengar adalah bahasa Sunda. Karena Ian adalah penutur asli, saya dan Kiranlah yang banyak belajar bahasa lokal. Kiran justru banyak mendapatkan kosakata baru dari interaksi dengan anak-anak warga setempat. Begitu pula dengan saya, selama satu minggu di Jawa Barat, perbendaharaan kata Sunda saya cukup meningkat hehe.

Main, main dan main

Sebelum memulai perjalanan, saya dan Ian sepakat akan mengurangi penggunaan gawai selama di perjalanan dan tidak memberikan gawai untuk Kiran sama sekali. Ternyata, it worked! Kiran hanya sekali meminta untuk bermain game di gawai. Setelah itu ia sama sekali tidak ingat dan sibuk bermain. Dalam keterbatasan, apa pun bisa menjadi permainan bagi anak-anak. Daun dan batu pun bisa disulap menjadi kompor dan piring. Pasir dan batu bisa menjadi istana di dunia imajinasi mereka.

Apakah ada yang mau mengundang kami ke kampung halamannya, hehehe?

 

Travelschooling (Part 1)

Travelschooling (Part 1)

Gabungan kata ‘travel’ dan ‘school’ ini sudah kita lakukan sejak dulu hanya saja dahulu belum ada istilah yang tepat untuk menyebutnya. Ini hanyalah masalah cara pandang kita terhadap sesuatu. Biasanya kalau suatu kegiatan diberikan label yang menarik, maka orang-orang akan lebih tertarik untuk memahaminya. Kami pun ingin turut menyuarakan keistimewaan dari travelschooling. Menerapkan konsep pendidikan yang sejalan dengan tujuan travelling yang berfokus pada proses dan bukan tujuan. Kita semua pasti mencapai tujuan hanya masalah waktu saja. Bagian yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menikmati dan mengambil pelajaran dari setiap proses yang kita jalani. 

Menjalani travelschooling tidak perlu jauh-jauh dan mahal, mengunjungi keluarga atau teman yang tinggal di kota tetangga pun bisa kita lakukan. Pengalaman kali ini kami mengundang diri kami untuk tinggal bersama salah seorang teman kami di sekitar perbatasan Bandung dan Garut di daerah Cijapati. Beruntung kami diizinkan tinggal bersama Dahlan seorang pemuda setempat yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan. Ketika kami tiba di rumahnya kami dikenalkan kepada Risko seorang murid kelas 2 madrasah aliah yang merupakan salah satu anak didiknya yang sudah 6 bulan tinggal bersamanya. Dahlan pun bercerita bahwa orangtua Risko memiliki keterbatasan fisik dan ekonomi untuk menyekolahkannya. Dahlan dan teman-teman sejawatnya mencoba membantu Risko mengingat semangat belajarnya yang sangat tinggi. Guru-guru muda yang masih berstatus guru honorer itu bahu membahu mendukung keseharian Risko supaya bisa tetap bersekolah. Risko adalah seorang anak yang pemalu. Kiran suka sekali dengan Risko sampai saat ini pun selalu menyebut nama Risko karena memang Risko adalah seorang anak yang lugu dan likeable.

Dahlan adalah seorang guru bahasa Inggris dan mencoba melatih Risko untuk berbicara bahasa Inggris dalam keseharian mereka. Mereka pun membuka rumah mereka kepada anak-anak tingkat dasar di sekitar untuk belajar bahasa Inggris di sore hari. Meskipun pelajaran bahasa Inggris sudah dihapus dari kurikulum saat ini tetapi Dahlan meyakini anak-anak sekolah dasar masih memerlukan bahasa Inggris. Saat kami berada di sana ada dua orang anak yang sedang berlajar bahasa Inggris bersama Risko bahkan anak-anaknya diantar dan dijemput. Bayarannya apa, kebahagiaan. Ketulusannya mendidik patut kita tiru.

Kami pun mengobrol berjam-jam dan bermain kartu Uno bersama ditemani ubi rebus dan goreng singkong yang menghangatkan tubuh kami melawan rasa dingin yang mulai menyerang. Keesokan harinya kami diundang oleh Ibu Heni, wakil kepala SMP Bina Harapan Bangsa, untuk berkunjung ke sana. Ketika kami tiba di sana Dahlan sedang sibuk melatih anak-anak pramuka yang akan mengikuti LKBB (Lomba Ketangkasan Baris Berbaris) tingkat propinsi yang di adakan di daerah Rancaekek. Kami melihat semangat yang membara dari para siswa yang akan mengikuti lomba tersebut. Bel istirahat berbunyi dan kedua regu yang akan menjadi perwakilan sekolah pun tampil di tengah lapangan basket ditonton oleh semua siswa yang sedang beristirahat. Dahlan menjelaskan latihan pada waktu istirahat ini adalah untuk melatih mental kedua regu supaya percaya diri menghadapi ratusan pasang mata yang akan menonton mereka pada saat lomba. Cara yang sangat cerdas.

Kiran terlihat sangat menikmati suguhan formasi baris berbaris yang ditampilkan oleh kedua regu sekolah itu. Kami pun bercengkerama dengan guru-guru lainnya yang sedang beristirahat di ruang guru dan menikmati suara merdu dari seorang siswi yang akan mengikuti lomba kesenian antar sekolah. Kami pun berkesempatan untuk melihat keterampilan seorang siswi yang akan dikirimkan untuk lomba bercerita bahasa Inggris. Luar biasa semangat belajar para siswa yang bersekolah di sana dan hal ini pun diakui guru-guru di sana. Mereka mengaku murid-murid di SMP Bina Harapan Bangsa masih belum terkontaminasi oleh derasnya teknologi yang di lain sisi adalah keterbatasan mereka untuk menerima informasi dari apa yang terjadi di luar wilayah mereka. 

Dengan segala keterbatasannya mereka menerima pelajaran TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) dan dibekali pembelajaran Microsoft Office serta diberi tugas untuk mengakses internet setiap minggu yang mengharuskan mereka untuk ‘turun gunung’. Murid-murid yang bersemangat ditangani oleh para pendidik yang berdedikasi.

Kami sangat berterima kasih atas penerimaan yang sangat hangat oleh semua pihak SMP Bina Harapan Bangsa. Khususnya untuk Dahlan dan Risko untuk kebersamaannya selama kami tinggal di sana. Semoga kita bisa melakukannya lagi di lain kesempatan. Berdasarkan pengalaman ini saya mendapatkan sebuah ide ‘holiday swap’ (bertukar pengalaman tinggal di rumah orang lain sebagai alternatif liburan yang dapat mengedukasi anak-anak). Apakah Anda tertarik? Silakan kontak saya jika tertarik bergabung dan ingin ikut menindaklanjuti ide ini.

Berikut ini vlog bagian pertama yang saya buat untuk mendokumentasikan kegiatan travelschooling kami:

Seruan Kepada Penghuni Bumi

Seruan Kepada Penghuni Bumi

Saat ini Jakarta sedang dilanda banjir. Saya tidak tertarik untuk mengaitkan kejadian ini dengan berita politik karena tidak ada manfaatnya bagi kehidupan kehidupan saya. Melalui tulisan ini saya ingin membuat pengingat bagi saya dan teman-teman semua bahwa bumi ini sudah terlalu berat untuk menanggung beban dari gaya hidup yang kita anggap sudah maju dan beradab.

Apakah benar hidup yang kita jalani ini adalah kemajuan dari kehidupan sebelumnya?

Terbayang masa kecil saya ketika berusia 5 tahun di mana air minum kemasan belum hadir dan keberadaan makanan ringan pun belum tersedia di warung-warung. Saya masih bisa menukarkan sandal bekas yang sudah tidak terpakai dengan serantang makanan ringan kepada seorang tukang loak keliling yang memikul dua buah keranjang besar berisikani makanan ringan. Selain itu, jajanan masa kecil saya hanyalah kerupuk berlumur kecap bertemankan mentimun yang biasa saya minta dari petani yang kebunnya berada di dekat rumah. Rumah saya berada di tengah persawahan dan listrik pun belum ada. Orangtua saya memiliki warung yang mana para pembelinya adalah orang-orang yang tinggal di atas gunung dan harus berjalan setidaknya 3 kilometer hanya untuk membeli sesuatu dari warung kami.

Kami dimanjakan dengan hasil kebun yang berlimpah khususnya buah-buahan. Kakek saya pun rajin membuat kuaci dari biji matahari dan peuyeum yang manisnya pas terbuat singkong berukuran lengan orang dewasa untuk memanjakan cucu-cucunya ketika kami berkunjung ke rumahnya. Almarhumah nenek saya biasa berkeliling kampung menjajakan sisa buah-buahan yang berlimpah dari hasil kebunnya dan tidak habis kami makan mulai dari sirsak, jambu air, nangka, dan rambutan. Gambas yang kami dapatkan dari kebun adalah alat yang kami gunakan untuk mandi dan mencuci peralatan makan. Tukang abu gosok setiap hari berkeliling karena belum ada sabun colek atau sabun pencuci peralatan kala itu. Wangi cengkeh pun selalu menjadi ciri khas di rumah kakek dan nenek saya sehingga membuat saya tidak suka dengan baunya.

Peralatan makan yang kami gunakan adalah piring kaleng, rantang dan alat makan yang paling keren saat itu adalah piring yang terbuat dari melamin. Sendok dan garpu jarang kami gunakan karena kami selalu menggunakan jemari kami untuk menyantap makanan yang dihidangkan. Satu-satunya sampah yang kami hasilkan saat itu adalah daun pisang dan kertas koran bekas atau kertas bekas majalah Bobo yang sering digunakan untuk membungkus makanan ketika berjualan. Sisa makanan pun tidak pernah menjadi masalah karena biasa kami berikan ke binatang ternak seperti ayam atau ikan di kolam belakang rumah.

Beberapa tahun kemudian warung orangtua saya mulai dimasuki makanan ringan berkemasan. plastik mulai digunakan sebagai pengganti keranjang belanja yang biasa ibu saya gunakan untuk berbelanja di pasar tradisional. Semakin ke sini penggunaan kardus dan plastik sudah menggantikan fungsi keranjang belanja sepenuhnya. Sampai sekarang saya hidup di masa orang-orang yang panik ketika air minum di dalam galon habis. Sedikit demi sedikit orang-orang sudah melupakan caranya menyiapkan makanan ringan dan masakan sendiri karena sudah dimanjakan dengan ketersediaan jajanan cepat saji. Selain dianggap enak dan murah, kepraktisan menikmati makanan tersebut menjadi alasan utama keahlian membuat makanan sendiri mulai memunah. Saat ini sudah tidak ada lagi jajanan berupa buah-buahan hasil kebun yang bisa mereka jajakan di warungnya, tidak ada lagi ikan asin berpeti-peti untuk mereka dagangkan bahkan kerupuk pun sudah lagi tidak ditempatkan di dalam kaleng.

Beralih dari kondisi makanan yang saya sebutkan di atas, bangunan tempat tinggal pun berevolusi dengan cepat dari rumah panggung, rumah semi permanen hingga sepenuhnya permanen sampai-sampai air hujan pun tidak mampu diserap lagi karena tanahnya sudah dilapisi semen demi menghindari kondisi becek di kala musim hujan.

Saat ini saya sedang merenungi arti kata ‘kemajuan’, mulai dari mencermati kata tersebut dari rasa berbahasa yang saya miliki sampai merujuk KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Apakah benar kondisi yang saat ini kita alami adalah kemajuan? Berpendidikan lebih tinggi demi penghasilan lebih besar daripada yang orangtua kita dapatkan membuat kita hidup lebih beradab terhadap bumi yang kita tinggali? Berpengetahuan lebih dibandingkan orang-orang terdahulu telah membawa manfaat bagi tempat tinggal kita? Apalagi di zaman sekarang di mana dunia secara harfiah berada di genggaman tangan kita. Informasi apa pun yang ingin kita ketahui tinggal kita tanyakan menggunakan layanan mesin pencari di internet.

Foto ini saya ambil 3 hari yang lalu di sungai dekat rumah yang waktu saya kecil masih bisa saya nikmati untuk berenang atau bermain rakit yang terbuat dari batang pohon pisang. Apakah ini yang disebut dengan kemajuan? Pemandangan inilah yang tersisa untuk Kiran. Baru satu generasi, bayangkan pemandangan untuk generasi selanjutnya.

Apa yang terjadi dengan pendidikan anak-anak kita? Ke mana pun kita menoleh hanya keegoisan yang menjadi contoh dalam keseharian kita. Mengenyangkan perut tanpa memikirkan kemasannya, menghilangkan dahaga tanpa memikirkan sampahnya, mendinginkan suhu ruangan yang semakin memanas dengan menambah pendingin ruangan di setiap sudut rumah, membuang sampah di luar rumah kita supaya rumah kita bersih bahkan tidak sanggup untuk menyimpannya sementara di dalam kendaraan sehingga seringkali sampah-sampah tersebut terbang keluar jendela mobil. Semuanya demi kenyamanan diri tanpa memikirkan penghuni lain yang tinggal ‘serumah’ di bumi ini. Apakah ini yang kita namakan sebagai kemajuan, beradab, berpengetahuan?

Gaya hidup yang kita miliki telah membebani bumi di mana kita tinggal, setiap hari pohon ditebang, tanah dilapisi, laut dicemari, lalu sekeliling kita akhirnya dipenuhi sampah. Benarkah ini bukan masalah kita bersama? Tidak perlu berkunjung ke Bantar Gebang, tengoklah dapur kita masing-masing dan coba simpan sampah yang kita hasilkan selama 2-3 hari kemudian kita nikmati wewangian dan binatang yang yang berada di dapur kita. Ya, kondisi dapur itu tidak berbeda jauh dengan kondisi bumi kita.

Tidak ada seorang pun yang luput dari keegoisan yang saya sebutkan di atas termasuk saya sendiri. Tulisan ini bukanlah kritikan maupun penghakiman melainkan ajakan untuk meningkatkan kesadaran diri terhadap peran kita sebagai penghuni yang bertugas merawat bumi yang kita tinggali. Kehancuran bumi tidak bisa dihindari tetapi setidaknya dengan kesadaran yang kita miliki, kita bisa memperpanjang usia bumi untuk anak dan cucu kita supaya mereka masih memiliki kesempatan untuk menikmati bumi ini, ataukah bumi ini tidak perlu kita acuhkan dan menunggu hadirnya sebuah perusahaan yang menjual udara berkemasan untuk kita hirup dan menambah daftar etalase warung.

Mari kurangi sampah kita dengan melakukan tindakan-tindakan kecil seperti membawa botol minum sendiri untuk diisi ulang, membawa kotak makanan untuk jajan di luar rumah, menghindari penggunaan bahan-bahan kimia yang tidak dapat terurai oleh alam dan hal-hal lainnya yang bisa kita lakukan. Berhenti menimbun barang yang tidak kita perlukan. Bagi yang memiliki barang-barang yang tidak digunakan lagi tetapi masih layak pakai, silakan berikan kepada yang membutuhkan (tidak selalu berarti orang yang kekurangan harta). Anda juga bisa berikan di Grup Berbagi untuk Bumi jika memiliki kesulitan. Sesuatu yang besar berawal dari hal kecil. Jangan pernah berpikir tindakan yang kita lakukan sia-sia. Gerakan zero waste sedang dikumandangkan, bisa kita mulai dengan langkah awal less waste terlebih dahulu.

Semoga setiap kejadian yang terjadi di sekitar kita menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kita semua bertanggung jawab atas tempat tinggal kita yang kita namai bumi.

Melatih Diri “Walk the Talk”

Melatih Diri “Walk the Talk”

Menyambung 2 tulisan sebelumnya mengenai rasa sayang dan menyembuhkan luka lama supaya kita bisa memiliki hubungan yang baik bersama anak adalah dengan cara melatih diri, bagaimana kita mulai menerapkan informasi yang kita miliki dan menjadi teladan bagi anak kita.

Apa yang kita lakukan adalah hasil dari perasaan atau emosi kita. Dengan mengenali emosi yang kita rasakan diharapkan kita dapat mengatur perbuatan atau pikiran kita.

Seringkali orangtua dan anak meributkan suatu hal yang dapat membuat hubungan keduanya tidak baik karena keduanya masih mempertahankan ego masing-masing bukan tentang mengapa hal tersebut ‘seharusnya’ terjadi atau dilakukan. Penerimaan satu sama lain tanpa kondisi yang dipersyaratkan memerlukan motivasi dan relevansi sehingga setiap pihak tidak harus berharap terhadap satu sama lain. Sebuah konsekuensi logis.

Tanpa kita sadari tindakan mengontrol anak kita ternyata bukanlah perwujudan dari kasih sayang kita sebagai orangtua melainkan ego yang berawal dari kekurangan diri kita sendiri kemudian berlanjut menjadi sebuah kecemasan sehingga berujung pada kontrol yang sering kita sebut sebagai ‘cinta atau sayang’. Misalnya kita memasukkan anak kita ke sebuah sekolah mahal dengan harapan anak kita bisa sukses atau mapan dan terlindungi secara finansial dan dihormati orang. Ini adalah sebuah asumsi yang berkembang di masyarakat jika anak tidak masuk sekolah yang bagus (baca: mahal) maka masa depannya tidak akan baik. Ketika anaknya tidak sukses lantas kita kecewa karena anak kita tidak menjadi seperti yang kita harapkan. Inikah yang dinamakan cinta?

SAYANG ATAU TAKUT

Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata ‘takut’ atau ‘cinta’? Kita ambil sebuah contoh ketika kita sedang makan bersama anak kemudian anak kita tidak menghabiskan makanannya. Kita semua tahu mengenal dua cara untuk menyelesaikan masalah ini. Yang pertama adalah dengan memaksa anak menghabiskan makanannya atau yang kedua membujuk anak dengan berbagai cerita yang membuat anak merasa bersalah. Mulai dari seberapa panjang perjalanan makanan menuju meja makan, para petani yang bekerja keras untuk menghasilkan makanan sampai bercerita tentang orang-orang kelaparan yang berada di negeri orang lain. Semua ini kita lakukan atas nama cinta atau sayang terhadap anak. Khawatir anaknya sakit atau terjadi sesuatu terhadap anaknya. Padahal rasa “cinta” yang kita rasakan bukanlah rasa cinta yang sebenarnya, tetapi ketakutan orangtua berbalut rasa khawatir yang berlebihan terhadap anak.

Ternyata rasa sayang tidak harus selalu “tampil” selaras dengan perbuatan. Ketika kita membantu anak mengenal sinyal tubuhnya terhadap rasa lapar tidaklah mudah bagi orangtua. Rasa khawatir yang tidak beralasan atau rasa nyaman yang memudahkan orangtua untuk ‘memberi’ makan kepada anaknya lebih mudah untuk dilakukan. Tetapi anak tersebut tidak memiliki motivasi untuk mengenal segala jenis makanan yang diperlukan bagi tubuhnya dan ketika tidak ada motivasi dari diri sendiri, anak tersebut tidak akan melihat relevansi dari tindakan yang harus dilakukannya sehingga kegiatan makan hanyalah sebuah rutinitas yang harus dilakukannya tanpa tahu pasti mengapa hal itu harus dilakukan dan diperlukan oleh tubuhnya sendiri.

Kita selalu mengajari anak kita untuk merawat barang-barang, rumah, binatang dan kendaraan tetapi sering kali gagal menerapkan konsep merawat diri terhadap anak kita. Ketika ada motivasi kemudian muncul relevansi.

Sebelum kami menjalani homeschooling pun kejadian seperti ini selalu terjadi di dalam kehidupan keluarga kami. Kami menyuruh Kiran makan untuk membuat kami nyaman (karena takut dia sakit jika dia melewatkan waktu makannya). Kami menyuruh Kiran mandi karena sebuah keharusan turun menurun yang terjadi di masyarakat. Kiran harus menggosok giginya sebelum tidur karena kami takut giginya berlubang karena kami takut giginya jelek dan rusak, dan masih banyak rutinitas lainnya yang kami terapkan kepada Kiran tanpa dia memiliki motivasi dan relevansi terhadap setiap kegiatan yang dilakukannya.

Semenjak menjalani homeschooling, kami mulai menyadari hal-hal tersebut dan berdamai dengan diri sendiri bahwa untuk menyayangi anak kami diperlukan kesabaran, rasa sayang tanpa syarat, dan menyembuhkan luka lama kami. Membangun kesadaran dan mengubah pola pikir kami tidaklah mudah. Kami pun masih belajar untuk konsisten menjalaninya. Perlahan tetapi pasti, seiring waktu berjalan kami mulai melihat hasilnya. Belakangan ini kami merasa bahagia ketika Kiran meminta makan karena dia lapar, ketika Kiran sudah mulai menggosok giginya sebelum tidur karena dia sadar giginya adalah tanggung jawabnya dan memerlukan perawatan, ketika Kiran tidur karena tahu tubuhnya perlu istirahat, sampai baru-baru ini Kiran sudah mulai mandi tanpa menggunakan sabun dan sampo karena tidak mau mencemari lingkungan. Perilaku seperti ini tidak mudah dilakukan ketika kami masih berusaha mengontrol dan mengharapkan Kiran melakukan sesuai dengan apa yang kami inginkan.

PEKERJAAN RUMAH KAMI

Mari kita berefleksi, apakah tindakan yang kita lakukan itu demi anak kita atau demi kenyamanan kita?

Setelah mengikuti seminar Pak Gobind mengenai compassionate parenting, ada beberapa hal yang masih kami latih untuk menerapkannya terhadap Kiran:

  • Meningkatkan kesadaran bahwa kami adalah fasilitator yang tugasnya memfasilitasi Kiran untuk menjadi seorang pemelajar.
  • Membantu Kiran menemukan motivasi supaya dirinya memiliki relevansi atas segala hal yang dilakukannya.
  • Melatih diri kami untuk tidak terjebak dengan asumsi dan mulai berfokus pada kenyataan.
  • Mengonfirmasi kembali setiap pertanyaan atau pernyataan Kiran secara keseluruhan tanpa berpekulasi.
  • Tidak membuat Kiran merasa bersalah, mempermalukannya dan apatis
  • Mulai mengganti teknik mengonfirmasi dari “mengapa” menjadi “apa yang membuatmu . . .” atau “apa yang kamu rasakan . . .” untuk membantunya merasa dan mengenali emosi.
  • Yang terakhir adalah walk the talk (konsisten menjalani setiap informasi yang kami miliki)

The way we see the problem is the problem