Memeluk Emosi

Memeluk Emosi

Menjalani homeschooling merupakan pencerahan bagi keluarga kami. Belajar satu sama lain, saling memahami antara satu sama lain dan mencoba untuk saling mengerti. Setiap kali mendapat ilmu untuk tujuan homeschooling ternyata selalu kembali kepada pembenahan diri orangtua. Mendidik anak bukanlah mengajari anak tetapi mengajari diri sendiri supaya bisa menjadi teladan bagi anak. Setiap pemelajaran yang terjadi di dalam menjalani homeschooling adalah proses mengenali diri.

Menyambung tulisan sebelumnya mengenai keakuan, tulisan ini akan membahas mengenai emosi dan luka lama. Emosi adalah luapan perasaan atau keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti sedih, malu, marah, gembira, kecewa, dan lain sebagainya. Sedangkan definisi dari luka lama di sini adalah sebuah pengalaman tidak menyenangkan dari masa lalu atas cara kita diperlakukan (oleh siapa pun) dan membentuk perilaku kita saat ini.

Orangtua membesarkan anaknya supaya anaknya bisa menjadi anak yang ‘berbakti’ kepada orangtua, bermanfaat bagi keluarga dan negara, menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik supaya kelak sukses dan mapan, membuatkan rumah di dekat rumah orangtuanya supaya bisa tinggal berdekatan dan banyak bentuk keakuan lainnya yang orangtua lakukan atas nama rasa sayang. Seorang anak yang dibesarkan sebagai kebanggaan orangtua, menuruti apa kata orangtua dan memenuhi harapan orangtua sebenarnya berada dalam tekanan emosi yang sangat besar karena semua perilakunya harus memenuhi harapan orangtua.

Seperti yang saya alami ketika duduk di bangku sekolah bagaimana susahnya untuk menduduki peringkat satu di dalam kelas. Ketika nilai-nilai ulangan saya tidak sebesar murid-murid lainnya, ketika saya dituntut untuk menggungguli siswa berprestasi di sekolah dengan kemampuan akademis yang pas-pasan. Ketika tuntutan itu tidak dapat saya penuhi saya pun dibandingkan, dimarahi dan diceramahi yang dengan perkataan yang menjatuhkan kepercayaan diri sehingga saya merasa orangtua saya membuat saya merasa bersalah, kecewa, kesal dan marah terhadap diri sendiri karena tidak mampu memenuhi keinginan mereka. Saya pun mulai bertumbuh dengan rasa takut, tidak mampu dan tidak percaya diri. Perasaan ini saya pendam dan tidak pernah saya tangani sampai saya dewasa dan akhirnya tanpa saya sadari membentuk kepribadian saya.

Setelah saya lebih dewasa dan berada dalam posisi ‘mampu’ membuat keputusan sendiri, pertentangan antara saya dan orangtua pun tidak terhindarkan. Saya selalu mencoba untuk berseberangan dengan setiap pemikiran mereka karena tidak ingin merasa bersalah lagi.

Menyedihkan memang ketika semua itu dilakukan atas nama cinta berbalut ego karena sebenarnya orangtua saya hanya ingin memastikan kehidupan yang lebih baik dari yang mereka miliki. Di saat yang bersamaan saya berterima kasih dengan cara saya dibesarkan karena menjadikan saya menjadi pribadi yang tidak cengeng dan mandiri. Selalu ada pelajaran yang bisa kita petik dari setiap kejadian. Cerita di atas bukan mengenai perlakuan orangtua saya terhadap saya, karena saya memahami mereka hanya melakukan apa yang mereka ketahui dengan caranya sendiri tetapi tentang hasil dari perbuatan kita sebagai orangtua yang dapat membuat luka terhadap anak kita tanpa kita menyadarinya.

Setelah mengikuti seminar Pak Gobind, saya baru sadar bahwa alasan saya terlalu keras dengan diri saya adalah bukan karena saya berprinsip melainkan karena saya tidak merawat dan menyembuhkan luka dari masa lalu tersebut di atas. Saya selalu menuntut hasil yang sempurna, melihat hasil seperti yang saya inginkan, dan sangat kaku dengan aturan. Untuk urusan pekerjaan mungkin baik, tetapi dalam kehidupan keseharian saya kesulitan mengelola emosi di dalam diri. Seringkali saya harus ‘merasa’ kecewa untuk hal-hal sepele. Emosi saya sering terpancing ketika saya tidak menemukan barang di tempat yang semestinya, ketika orang-orang di rumah tidak berlaku seperti yang saya pikir seharusnya mereka berlaku.

Untuk menghindari emosi yang saya rasakan ketika perasaan itu muncul seringkali saya diam dan mengalihkan pikiran saya dengan bekerja. Tidak jarang juga saya tidak bisa menahan diri mencerocos sampai semua pesan saya keluarkan baru merasa lega dengan melupakan perasaan orang tersebut. Yang selalu saya sesalkan adalah ketika saya kurang istirahat kemudian segala sesuatu dengan mudahnya menjadi pemicu untuk membuka luka lama saya.

Ternyata hal-hal yang selama ini saya hindari bahkan berjanji untuk tidak akan dilakukan telah menjadi bagian diri saya dan berevolusi dalam bentuk yang lain. Beberapa hari setelah seminar saya mencoba untuk melatih kesadaran mengenali luka yang ada di dalam diri. Mencari naga yang yang bersembunyi di dalam diri untuk menjinakkannya.

Kuncinya adalah belajar ‘merasa’. Bagaimana kita memperlakukan diri kita dan orang lain sebagaimana mestinya tanpa ada syarat yang melekat. Perasaan sayang yang dibalut dengan marah, kesal atau kecewa hanyalah sebuah ilusi dari luka lama kita. Naga yang terbangun dari tidurnya.

Pak Gobind membuat contoh ketika kita terluka di bagian tangan, kemudian seseorang menyentuh luka tersebut tentu rasa sakit akan kita rasakan. Sesungguhnya orang tersebut hanya mengingatkan kita akan luka yang kita miliki supaya kita merawat dan menyembuhkan luka tersebut. Luka tersebut ibarat pengalaman masa lalu kita yang pahit yang belum kita sembuhkan karena tidak tahu cara merawatnya. Orang yang menyentuh luka tersebut bisa jadi siapa saja termasuk anak kita yang sebetulnya bukan yang membuat kita terluka tetapi memberitahu dan mengingatkan kita akan luka masa lalu yang harus kita rawat dan sembuhkan. Berterima kasihlah kepadanya.

MEMELUK EMOSI

Ketika kita berhadapan dengan seseorang kemudian muncul emosi yang membuat kita tidak nyaman (terintimidasi, marah, malu dan lain sebagainya), berbicaralah dengan diri sendiri mengapa rasa itu muncul.

Keberadaan orang-orang di sekitar saya ternyata membantu saya untuk mengenali setiap luka dalam diri yang harus saya rawat dan sembuhkan. Caranya bagaimana? hadapi dan kenali sumber emosi yang kita rasakan. Berbicaralah dengan diri kita di masa lalu apa yang membuat kita terluka. Rawatlah luka tersebut dengan mengenali luka yang kita miliki sampai luka tersebut dapat kita sembuhkan.

Perbuatan adalah tanggapan dari emosi yang kita miliki. Saya harus belajar ‘merasa’ dan mengenali luka yang saya miliki. Emosi yang saya miliki tidak ada sangkut pautnya dengan orang tersebut. Seseorang yang membuat saya kesal, malu, marah atau benci adalah cerminan dari luka yang saya miliki. Saya harus belajar merasakan emosi yang saya miliki dan berhenti mengalihkan perasaan yang muncul setiap kali datang. Belajar menerima supaya terhindar dari keakuan supaya bisa merasakan tulusnya menyayangi.

Mari kita bersama-sama belajar merasa.

Belajar Melepas Keakuan

Belajar Melepas Keakuan

Kali ini saya dan Nuni mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari Gobind Vashdev mengenai compassionate parenting. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan pada pemelajaran kali ini dan saya akan mencoba mengulas kembali hal apa saja yang menjadi perhatian saya ketika mengikuti kegiatan tersebut. Hasil belajar setiap orang bisa berbeda sehingga apa yang saya akan sampaikan sepenuhnya adalah interpretasi saya pribadi. Jika ada kekeliruan dalam tulisan ini sangat mungkin dikarenakan kesalahan interpretasi saya atau ketidakpahaman saya terhadap informasi yang saya terima dan sewaktu-waktu dapat diralat demi kejelasan informasi.

Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti seminar beliau. Fokus dari seminar ini adalah bagaimana orangtua dapat memahami arti dari kata cinta atau kasih sayang yang sebenarnya supaya kita bisa berhubungan baik dengan anak. Baru kali ini saya kesulitan menulis karena banyak sekali hal yang ingin saya sampaikan. Oleh karena itu saya akan membagi pengalaman mengikuti seminar Pak Gobind menjadi beberapa bagian supaya mudah untuk dibaca sekaligus memberikan saya waktu untuk mengulas kembali informasi yang saya terima.

Untuk bagian pertama, saya akan menyampaikan pelajaran yang saya terima tentang perbedaan sayang  dengan kemelekatan (tanpa mengurangi rasa hormat demi kejelasan berbahasa izinkan saya mengubah kata ‘kemelekatan’ dengan ‘keakuan‘ yang saya anggap mendekati arti yang dimaksud karena ‘kemelekatan’ tidak sesuai dengan norma berbahasa Indonesia). Saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk mencoba jujur dan berdialog dengan dirinya sendiri supaya mendapatkan manfaat dari apa yang akan saya bagikan.

Tanpa kita sadari ternyata kata ‘sayang’ yang selama ini kita gunakan berbeda makna dengan kata ‘sayang’ yang sesungguhnya ingin kita gunakan. Selama ini yang kita kenali adalah bentuk sayang dengan syarat. Kita melakukan sesuatu dengan melekatkan timbal balik dalam bentuk harapan. Contohnya kita menyayangi pasangan atau anak kita dengan harapan pasangan atau anak kita melakukan hal yang sama terhadap kita. Kita memarahi anak dengan balutan kata sayang untuk memperlembutnya dan menyembunyikan perasaan kita yang tidak dapat kita kelola dengan baik untuk mengontrol anaknya (disengaja atau tidak). Kita memperlakukan orang lain dengan baik dan berharap orang lain memperlakukan kita dengan baik juga. Pokoknya semua yang saya berikan atau saya lakukan harus saya terima kembali dalam bentuk yang sama. Sehingga ketika kita tidak menerima sesuai yang kita harapkan muncul rasa kecewa. Dari mana rasa kecewa ini bisa muncul jika bukan dari sebuah harapan?

Apakah sudah mulai terbayang kata ‘sayang’ (baca: keakuan) yang terjadi seperti dalam hubungan di atas? Anda boleh setuju atau tidak dengan hal ini. Tulisan ini bukanlah untuk mengkritik atau menghakimi tetapi sekadar berbagi, sebuah ajakan untuk meningkatkan kesadaran diri. Mungkin kita tidak tahu atau tidak sadar akan apa yang biasa kita lakukan. 

Apa yang terjadi ketika kita tidak menerima perlakuan sesuai harapan? Apakah kita masih merasakan hal yang sama untuk orang itu? Apakah hubungan kita dengan orang itu berubah? Kemudian apakah motivasi dari setiap tindakan yang kita lakukan berdasarkan pengharapan atau pelepasan?

Rasa sayang yang sesungguhnya tidak akan melekatkan apa pun kepada orang yang kita sayangi; anak, pasangan, orangtua, atau pun orang lain. Tidak ada sebuah harapan atau timbal balik dari perlakuan yang kita berikan baik secara fisik maupun emosi. Bahkan mungkin sebetulnya kita tidak mencintai pasangan kita, tetapi mencintai kriteria yang ada pada pasangan kita. Kriteria yang hanya ada di dalam pikiran kita sendiri sehingga ketika kita bertemu dengan seseorang yang ‘memenuhi’ kriteria tersebut, terjadi sebuah pemenuhan ‘keakuan’ di antara keduanya. Tanpa diantisipasi ternyata banyak sekali hal-hal yang tidak memenuhi kriteria dari pasangan tersebut setelah tinggal bersama sehingga rasa yang terjadi di antara keduanya hanyalah keakuan, “Kalau kamu tidak begini, aku akan begitu”, “kalau kamu anu aku akan anu”. Seringkali kita melakukan hal yang sama terhadap anak kita, misalnya, “kalau kamu tidak menghabiskan makanannya, kita tidak jadi beli es krim ya”.

Jika memang begitu adanya, saya ingin mengatakan “aku tidak mencintaimu istriku. Aku ingin belajar melepasmu, mendukungmu sampai kamu mencapai potensi diri tertinggimu. Aku akan selalu bersamamu, menerimamu dan memahamimu, bukan mengubahmu seperti apa yang aku inginkan.”

Untuk ananda Kiran, semoga ini menjadi pengingat untuk ayah supaya ayah bisa menyayangimu tanpa syarat. Ayah akan belajar untuk tidak melekatkan keakuan dan menyayangimu apa adanya.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” ― Sapardi Djoko Damono