Percobaan Sains : Mengapung dan Tenggelam

Percobaan Sains : Mengapung dan Tenggelam

Pada hari Kamis (25/5) kami mengadakan percobaan sains mengapung dan tenggelam. Anak-anak yang mengikuti percobaan ini berusia antara 4 sampai 10 tahun. Anak-anak melakukan percobaan bersama untuk kemudian diulas oleh orangtua masing-masing di rumah.

Tujuan

Dari kegiatan ini anak-anak membuat prediksi terhadap berbagai benda dan kondisinya ketika berada di air, mengapung atau tenggelam dan mengklasifikasikan barang-barang tersebut. Mereka belajar untuk memprediksi dan mengambil kesimpulan dari percobaan yang mereka lakukan. Tujuan utama percobaan ini adalah membuktikan prediksi dan membuat kesimpulan dari benda-benda yang digunakan di dalam percobaan.

Peralatan

Peralatan yang kami gunakan di dalam percobaan ini cukup sederhana. Kami menggunakan kotak besar transparan besar yang diisi air untuk mengamati benda di air. Benda yang kami gunakan saat melakukan percobaan: batu, daun, tutup botol plastik, batang tanaman, botol kaca, botol plastik kosong, botol plastik berisi cat, kunci pas mainan berbahan plastik, jahe, bawang, lemon, kaca kecil, tag koper berbahan karet, mainan kayu, kotak plastik, dan kuas cat.

Percobaan

Di awal percobaan anak-anak memprediksi bahwa benda-benda berat akan tenggelam. Setelah melakukan percobaan anak-anak menyimpulkan bahwa tidak semua benda berat tenggelam di dalam air dan mereka dapat mengaitkannya dalam kehidupan mereka dengan mengambil contoh perahu yang berat dan dapat mengapung.

Sesuai dengan usianya saat ini, anak-anak baru dapat mengaitkan benda yang mengapung dan tenggelam hanya dari bobot benda. Mengingat durasi percobaan yang cukup menyita waktu karena harus mengatur anak-anak yang cukup ribut karena terlalu bersemangat, anak-anak tidak sempat melakukan pengamatan dari benda-benda yang sudah dipisahkan berdasarkan kategorinya, mengapung dan tenggelam.

Tantangan Percobaan

saya memberikan dua tantangan prediksi kepada anak-anak. Tantangan yang pertama adalah memprediksi apa yang akan terjadi jika jumlah airnya ditambahkan. Anak-anak memprediksi bahwa tidak ada yang berubah terhadap benda-benda yang telah diklasifikasikan sebagai benda yang tenggelam dan mengapung meskipun airnya ditambah. Setelah dibuktikan dengan menambahkan air ke dalam kotak percobaan, terbukti prediksi mereka benar.

Tantangan kedua yang saya berikan kepada anak-anak adalah membuat batu kecil bisa mengapung dengan bantuan benda-benda mengapung yang tersedia. Karena jumlah anak yang cukup banyak, saya membagi mereka menjadi dua kelompok. Anak-anak terlihat tertantang untuk melakukan tantangan ini dan mereka mengerjakannya dengan cukup serius. Berbagai cara mereka lakukan tetapi mereka belum berhasil untuk membuat batu tersebut mengapung dengan bantuan benda-benda yang termasuk ke dalam benda yang tidak tenggelam.

Dari hasil pengamatan saya anak-anak masih kesulitan untuk bekerja sama di dalam kelompok karena masing-masing kelompok terlihat saling berebut barang. Belum terlihat kerjasama di antara anak-anak untuk menyelesaikan tugas bersama-sama. SItuasi ini menjadi perhatian orangtua untuk melakukan pengamatan terhadap perkembangan anak-anaknya pada kegiatan berikutnya.

Kegiatan tambahan

Kami tidak sempat melakukan kegiatan tambahan ini karena keterbatasan waktu dan fokus anak-anak yang sudah hilang. Kegiatan tambahan ini bisa dilakukan dengan membantu anak-anak untuk mendiskusikan persamaan dan perbedaan dari ciri-ciri benda yang membuatnya mengapung atau tenggelam. Anak-anak dapat dibantu untuk mengamati benda-benda tersebut dan mencapai pada kesimpulan bahwa bobot benda bukan satu-satunya faktor yang dapat membuat sesuatu tenggelam atau mengapung.

Pada kegiatan ini anak-anak terlihat terlalu bersemangat dan kesulitan mengelola dirinya sehingga saya harus beberapa kali mengingatkan mereka untuk memerhatikan instruksi yang saya berikan kepada mereka. Selain itu kami harus melatih anak-anak untuk dapat bekerja sama lebih baik lagi dan tidak sibuk dengan keinginannya masing-masing sehingga tidak acuh terhadap keinginan teman-temannya seperti yang terjadi ketika saya memberikan tantangan percobaan dan membagi mereka menjadi dua kelompok yang terdiri dari 4 dan 5 anak.

Berikut ini dokumentasi kegiatan percobaan sains kami:

Trekking di Gunung Mandalawangi

Trekking di Gunung Mandalawangi

Minggu kami trekking ke Gunung Mandalawangi di Cijapati daerah perbatasan Bandung dan Garut. Kami berkegiatan dari jam 10 pagi dan kembali ke kaki gunung pukul 4 sore. Perjalanan naik dan turun gunungnya sendiri memakan waktu 3 jam dan dilakukan dengan santai mengikuti kemampuan Kiran. Sayangnya Nuni tidak bisa ikut karena keracunan makanan dan harus beristirahat di rumah. Saya mengajak teman saya dari Kanada yang sedang berkunjung ke Jakarta dan Kang Ian yang tinggal tidak jauh dari Cijapati untuk melakukan perjalanan ini.

Kami mengawali dengan memasuki area perkebunan sayur mayur dan perkebunan kayu jati putih. Memasuki kaki gunung kami disambut oleh barisan pohon pinus yang melindungi kami dari teriknya sinar matahari. Semakin jauh kami melangkah ke dalam hutan, kami hanya mendengar bunyi langkah kami dan bunyi tonggeret di sekeliling kami. Di pemberhentian pertama kami beristrirahat sambil mengamati sisa-sisa buah kopi yang telah habis dipanen. Setelah beristirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan kami melewati pohon kopi arabika dan tanaman tembakau. Perjalanan kami berakhir setelah kami tiba di perkebunan teh sebagai titik tertinggi pendakian kami. Kurang lebih 100 meter sebelum mengakhiri perjalanan kami, Kiran sempat menangis karena mendapati saya dua kali menginjak duri dan Kiran takut kakinya akan menginjak duri juga. Kiran dihadapkan pada sebuah pilihan untuk turun kembali dan mengikuti rasa takutnya atau terus berjalan ke atas dan menghadapi rasa takutnya. Setelah saya berikan waktu untuk membuat keputusan, dan memberikan motivasi akhirnya Kiran menuntaskan perjalanannya. Pelajaran berharga lainnya yang bisa saya saksikan dengan hanya menemani dan mengamati. Tidak ada rencana khusus selain berjalan-jalan di gunung saja dan di menit-menit terakhir kami memutuskan untuk membuat nasi liwet di sana dengan perbekalan yang secukupnya dan kami sangat terbantu dengan peralatan memasak yang dibawa oleh Kang Ian sehingga kami bisa menikmati makanan sambil beristrirahat di perkebunan teh

Banyak hal yang bisa saya dapatkan mengenai perkembangan diri Kiran ketika saya menahan diri untuk tidak mengatur dan menentukan apa yang terjadi pada saat berkegiatan bersama Kiran. Tidak perlu banyak berceramah atau mengajari karena alam akan dengan sendirinya mengajari anak kita apa yang perlu diketahuinya. Menemani Kiran dan melakukan pengamatan perkembangan dirinya dari waktu ke waktu sedang saya menjadi perhatian saya untuk membangun kesadaran diri saya supaya terbebas dari penghakiman terhadap Kiran.

Belajar dari alam untuk mengenal diri lebih baik lagi. Melihat Kiran berinteraksi bersama orang dewasa membuat saya senang karena saya bisa melihat keterampilan Kiran untuk memulai percakapan dan melatih kemampuan berbahasanya. Bahasa tubuhnya memperlihatkan kondisi dirinya di sebuah tempat. Saya melihat gerakan tubuhnya yang ragu karena merasa tidak aman ketika memanjat bebatuan, menyeberangi aliran air sampai berjumpa dengan beberapa binatang kecil di sepanjang perjalanan. Menjadi bagian dari kelompok, menawarkan bantuan untuk memasak sampai menghibur diri sendiri dengan batang dan ranting pohon yang disediakan oleh alam menunjukkan perkembangan dirinya di usianya yang baru saja menginjak tujuh tahun.

Berikut ini video perjalanan kami, silakan klik subscribe untuk menerima video perjalanan homeschooling kami secara berkala di channel Youtube kami.

Benar Vs Salah

Benar Vs Salah

Pagi itu setelah Kiran selesai berlatih teknik berenangnya, saya memberikan waktu kepada Kiran untuk bermain di kolam renang bermain anak-anak. Belum lama saya duduk, saya mendapati Kiran tengah memanjat bagian samping tangga luncuran. Ketika hendak menegur Kiran untuk menggunakan tangga yang tersedia tiba-tiba saya berhenti dan merenung sejenak, “Mengapa saya harus menegur Kiran? Apakah yang dilakukannya salah?” Dia tidak mengantre, dia melanggar peraturan dan bagaimana kalau dia terjatuh kemudian terluka, dan banyak hal lainnya yang berkecamuk di dalam pikiran saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa dan melakukan pengamatan sambil merekam kegiatan bermain Kiran selama satu jam.

Selama pengamatan berlangsung saya mencoba mengontrol diri untuk tidak mengatakan apa pun bahkan ketika Kiran memanggil pun, saya hanya tersenyum dan menjawab seadanya. Ada perasaan yang mengganggu ketika saya “berpikir” Kiran telah melakukan sesuatu yang salah sehingga membuat saya kecewa, sedih dan marah karena tidak dapat mengikuti peraturan yang sebetulnya (manurut saya) sudah diketahuinya. Kemudian saya berdialog dengan diri sendiri dan bertanya “Apa yang membuat kamu emosi?” Saya mencoba memeluk emosi yang sedang saya rasakan saat itu. Kemudian saya teringat dengan konsep kata “kotor” yang disampaikan oleh Gobind Vashdev. Apa sebenarnya kotor itu? Ini adalah sebuah konsep bahasa yang sifatnya subjektif karena definisi kotor saya dan Anda pasti berbeda. Ketika kita melihat lantai penuh pasir mengapa kita mengatakan lantai tersebut kotor. Mengapa tidak kita katakan saja lantainya berpasir karena memang begitu keadaannya.

Setelah mengingat konsep bahasa yang sifatnya subjektif tersebut, saya mulai berefleksi kembali tentang pengamatan saya terhadap perilaku Kiran di kolam renang. Saya merasakan emosi karena saya “menilai” tindakan yang Kiran lakukan salah. Kemudian saya mencoba mendefinisikan kata benar dan salah berdasarkan pemahaman saya saat itu dan bagaimana saya dapat membahasakannya kepada Kiran dan ternyata sulit. Selama saya merekam saya hanya berdoa semoga dia terluka atau membuat orang lain terluka.

Singkat cerita pada saat makan malam bersama saya menunjukkan kepada Kiran rekaman video ketika dia sedang di kolam renang dan dengan sungguh-sungguh bertanya sekadar ingin tahu apa yang dipikirkannya pada setiap hal yang saya soroti di dalam rekaman video tersebut. Saya pun mencoba mengolah kalimat saya sebaik mungkin dan bertanya kepada Kiran “May I know what made you climbed the side of the stairs instead of using the stairs?” Kiran pun menjawab “I want to do it (go up)  faster”. Kemudian saya menanggapi jawabannya “is there any other reason why you did that?” dan ternyata tidak ada alasan lainnya kecuali ingin mengambil jalan pintas supaya dia bisa tiba di atas luncuran lebih cepat.

Selanjutnya kami membahas mengenai keberadaan peraturan di semua tempat dan mengapa peraturan tersebut dibuat. Kiran memang sudah tahu semua hal terkait peraturan dan alasannya. Saya melihat perilakunya tidak jauh berbeda dengan kita sebagai orang dewasa yang mengambil jalan pintas meskipun tahu kita melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku atau kesalahan yang kita lakukan. Misalnya, membuang sampah sembarangan, merokok di tempat umum, melanggar lampu lalu lintas, memotong antrean, dan banyak hal lainnya yang kita lakukan. Saya merasa lega karena bisa menahan diri dan menunggu sampai waktu makan malam untuk mendapatkan jawaban yang jujur itu dan terhindar dari jebakan penghakiman dan emosi saya.

Masalah sebenarnya adalah bukan mengenai benar atau salah melainkan kesadaran dari tindakan yang kita lakukan. Kita akan menerima hasil dari apapun yang kita lakukan, konsekuensi logis. Kiran mengambil jalan pintas risikonya terjatuh dan terluka, maka itulah konsekuensi logisnya. Menurut pendapat saya menumbuhkan kesadaran terhadap anak tentang konsekuensi logis dari setiap pilihannya lebih penting daripada memberitahunya tentang benar dan salah atau baik dan buruk.

Untuk menghindari jebakan konsep bahasa yang subjektif, di dalam video ini saya menghitung berapa kali Kiran menggunakan tangga dan mengambil jalan pintas untuk tiba di atas luncuran. Video tersebut kami jadikan bahan refleksi bersama dan kesimpulan yang kami dapatkan adalah boleh bersenang-senang tetapi dengan tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain baik secara fisik maupun emosi.

Pertama kalinya saya berdiskusi dengan Kiran dengan melepas semua ego yang saya miliki sebagai orang dewasa yang merasa lebih tahu yang benar dan yang salah. Benar dan salah adalah konsep bahasa yang bersifat subjektif sehingga membahas perilaku dia apa adanya tanpa memberikan label “benar” atau “salah” membantu saya dan Kiran untuk berefleksi lebih baik lagi terhadap segala sesuatu yang dilakukannya tanpa harus menghakiminya.

Jangan menonton video di bawah tanpa membaca tulisan ini seutuhnya supaya Anda memahami tujuan saya membuat video ini.