Bermain Ular Tangga dan Belajar Berhitung

Kali ini saya ingin membagikan cerita tentang permainan kesukaan Kiran.

Pada perayaan natal tahun lalu Kiran mendapatkan kejutan dari Paman Des dan menerima sebuah kado natal berupa permainan ular tangga klasik. Kemasan dari permainan ini didisain dengan apik dan mengedepankan tampilannya yang sangat klasik sehingga siapa pun yang melihatnya akan mengingat masa kecilnya memainkan permainan ini.

Kado Natal

Ini adalah permainan papan pertama Kiran. Pada saat itu juga Kiran meminta untuk memainkannya. Dalam waktu 1 hari Kiran mulai memahami cara memainkan permainan ini dengan konsep permainan yang sangat sederhana, naik ketika berhenti di tangga dan turun ketika berhenti di ular. Semua orang yang Kiran kenal diajak memainkan permainan papan ini, mulai dari ayah dan bundanya hingga semua orang yang tinggal di rumah kakek dan neneknya yang kebetulan berdekatan dengan tempat tinggal kami. Ketika semua orang sudah “selesai” bermain dan Kiran masih ingin bermain, biasanya dia akan mengatakan bermain sendirian. 

“So, nobody wants to play with me? Okay, I can play by myself.”

Bermain ular tangga sendirian

Tanpa terasa kami mulai mengenalkan angka satuan, belasan, dan puluhan kepada Kiran karena dia penasaran dengan banyaknya angka yang tertera di atas papan permainan. Seiring waktu berjalan, dalam waktu satu minggu, Kiran sudah mengerti konsep belasan dan puluhan. Setelah itu tanpa diajarkan, Kiran mulai memahami konsep penambahan di bagian papan paling bawah yang menunjukkan satuan. Ketika orang-orangan berdiri di angka 3 dan Kiran melempar dadu yang menunjukkan angka 4, secara otomatis tangan mungilnya akan menggiring orang-orangannya ke kotak angka 7. Saya sendiri sempat terkaget melihat apa yang dilakukannya. Tanpa disadari, dia sudah mulai memahami konsep penambahan. Akhirnya sedikit-demi sedikit kami mulai menantang Kiran untuk memindahkan orang-orangannya tanpa menghitung setiap kotak yang dilaluinya melainkan langsung melompati kotak-kotak tersebut dan menempatkan orang-orangannya di kotak yang dituju.

permainan ular tangga
Ular tangga

Tidak hanya sampai di situ, ternyata setelah terbiasa memainkan permainan papan ini setiap hari (dan bisa lebih dari  10 kali setiap harinya), Kiran mulai terbiasa menyebutkan angka-angka yang diperlukannya untuk mendaratkan orang-orangannya di kotak yang ingin dia tuju. Ketika dia sudah mulai bosan, dia mulai mencari cara bagaimana memainkan permainan ini dengan cara yang berbeda (saya sendiri saja belum pernah melakukannya), yaitu bermain mundur dari atas ke bawah tanpa mengubah fungsi dari tangga dan ularnya. Ketika orang-orangan kami mendarat di tangga, maka kami harus “kembali ke atas” (karena tujuannya adalah kami harus menuruni papan permainan).

Bangun tidur, selepas mandi, setelah makan, pagi, siang, petang, malam, tanpa mengenal waktu, semua orang yang Kiran temui akan diajak bermain ular tangga. Saya merasa beruntung sekali Kiran mendapatkan kado tersebut dan ketika saya menyampaikan cerita ini kepada pamannya, Paman Des merasa senang sekali kado pemberiannya telah berguna.

Meskipun permainan papan ini terkesan “jadul” tetapi permainan sederhana ini telah memberi warna dalam kehidupan keluarga kami sehingga kami selalu bisa berkumpul, bercengkerama dan tertawa bersama tanpa mengenal waktu, rasa lelah dan beban pekerjaan yang sedang membelenggu kami. Sungguh sangat menakjubkan bahwa permainan “purbakala” bisa mempererat hubungan anggota keluarga dan mengajari anak kami sesuatu yang mungkin akan sangat sulit kami ajarkan dengan penuh kerelaan dan kesenangan, yaitu berhitung.

Begitu banyak permainan-permainan modern yang dijual dan dinyatakan sebagai permainan “edukatif” sehingga setiap orang tua (termasuk saya) mulai “menabung” berbagai macam permainan supaya Kiran bisa belajar dengan cara yang menyenangkan, mulai dari flashcard sampai permainan digital.

Permainan-permainan yang ditawarkan di era modern ini memang sangat menarik perhatian. Mulai dari kemasan hingga pernak-pernik mainannya itu sendiri. Namun dibandingkan dengan permainan “purbakala” ini, semua permainan yang sudah saya tabung dan bernilai jauh lebih besar itu tidak semenyenangkan permainan papan ini, ular tangga.

Sebuah pelajaran mendasar sebagai orang tua yang belajar dari anaknya, bahagia itu sangat murah dan sederhana.

Posted by Rahdian Saepuloh

Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.

Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.

Leave a Reply

Required fields are marked*