Garage Sale (bagian 1)

Baru memulai lagi untuk menulis kegiatan belajar kami dan mencoba untuk lebih konsisten menulis. Semoga bisa lebih disiplin lagi untuk merekam jejak pembelajaran keluarga kami ke depannya.

Lego City Train Starter Set
Lego City Train Starter Set

Kali ini saya ingin berbagi kenangan dari proyek garage sale yang kami lakukan bulan lalu. Ide ini berawal dari sebuah keinginan Kiran untuk membeli kereta Lego yang selama ini dia inginkan.

Mengingat mainan di rumah sudah banyak sekali dan dari pengalaman sebelumnya kami pernah membelikan mainan set kereta api tapi hanya bertahan 3 hari karena langsung “dibedah” oleh Kiran di saat bermain dan berakhir menjadi potongan kecil-kecil. Akhirnya kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda supaya Kiran bisa lebih menghargai mainan yang dimilikinya.

Suatu hari ketika kami sedang membereskan barang-barang yang sudah tidak kami gunakan lagi, muncullah ide untuk menjual barang-barang tersebut karena kami sudah tidak menggunakan barang-barang itu dan rumah kami lumayan penuh sesak oleh barang-barang yang tidak banyak kami gunakan lagi. Akhirnya kami diskusikan ide ini bersama Kiran dan menawarkan sebuah pekerjaan kepadanya jika dia membantu untuk membersihkan barang-barang yang akan kami jual, hasil penjualannya akan digunakan untuk membelikan dia set kereta api Lego yang selama ini dia inginkan.

Persiapan

Pada tahap persiapan, Kiran membantu kami mengelap barang-barang yang akan dijual. Dengan penuh semangat dia membersihkan setiap bagian dari barang-barang yang dipegangnya. Sungguh suatu pemandangan yang menarik bagi kami melihat kesungguhan Kiran terlibat di dalam kegiatan ini.

Penjualan

Kemudian pada tahap penjualan, kami pun begadang untuk memotret dan menawarkan barang-barang kami melalui akun Facebook saya. Gayung bersambut, kami sangat terharu melihat respon dari teman-teman kami yang membantu kami untuk merealisasikan keinginan anak kami. Dukungan moral dan material pun terus berdatangan dari teman-teman kami. Kami tidak pernah menyangka barang-barang tersebut bisa laku dengan cepat. Akhirnya dalam waktu 1 hari banyak barang-barang kami yang terjual.

Pengiriman

Setelah tahap penjualan ternyata sekarang ada tahap pengiriman di mana kami harus membungkus dan mengirimkan barang-barang yang sudah terjual ke alamat pembeli. Pengalaman berkesan lainnya pun terjadi ketika Kiran membantu membungkus setiap barang dengan kertas koran dan menulisi paket yang akan dikirimkan dengan antusias. Saya pun mulai menjelaskan alasan mengapa setiap orang harus bisa menulis dan membaca untuk mendukung kehidupannya, seperti yang sedang kami lakukan saat itu mengirimkan paket. Saya menyuruh Kiran untuk melabeli setiap barang dengan tujuan supaya kami bisa membedakan barang-barang tersebut setelah terbungkus kertas koran. Tidak hanya di situ, proses belajar lainnya untuk Kiran adalah ketika saya harus menulis alamat setiap pembeli pada setiap paket yang akan dikirim. Kiran pun melihat dengan jelas mengapa setiap orang harus bisa menulis dan membaca.

Mempersiapkan Paket
Mempersiapkan Paket
Menulisi Paket
Menulisi Paket

Singkat cerita kami pun langsung mengirimkan paket yang telah siap dikirimkan melalui layanan JNE yang berlokasi di dekat rumah. Kiran menanyakan mengapa kita harus mengirimkan barang-barang tersebut dan mana uang dari penjualannya? Saya menjelaskan bahwa kami sudah menjualnya dan uangnya akan dikirim kepada saya melalui transfer bank. Selain melakukan pengiriman melalui layanan JNE kami pun menggunakan layanan jasa GOJEK untuk langsung mengirimkan barang kepada teman-teman yang membeli barang dari kami dan berdomisili di Jakarta.

Ada beberapa teman yang menanyakan mengapa barangnya sudah dikirim duluan padahal mereka belum membayar. Semua saya lakukan karena saya melihat ketulusan dari teman-teman itu membantu kami membuat semua ini terjadi. Tentunya tidak ada prasangka buruk jika barangnya tidak akan dibayar setelah barang tersebut kami kirimkan karena kami pun merasakan teman-teman itu melakukan pembelian bukan karena mereka sangat menginginkan barang yang kami jual melainkan semangat berbagi untuk membantu proyek yang sedang kami kerjakan bersama Kiran. Ada orang-orang yang kami kenal dan ada juga yang tidak begitu kami kenal tetapi berada di dalam lingkaran pertemanan media sosial.

Akhirnya total uang yang terkumpul sebesar Rp 1.065.000 dan semua pendapatan dari penjualan ini kami rencanakan untuk membeli Lego Train Set untuk Kiran.

Bersambung . . .

UCAPAN TERIMA KASIH:

Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Mbak Moi Kusman, Bibi Anita Diah Permata, Mbak Kusendra Yunika Advend, Neng Ochie, Paman Simon dan Bibi Yulia, Himsurya Saputra, Eva Yunianingsih, Kak Aio (yang nawar tapi maunya minta mahal bukan minta murah 🙂 ), Ms Sani Gama, Mbak Britania Sari (terima kasih atas tambahannya).

Terima kasih yang tak terhingga karena telah membantu kami untuk memberikan pengalaman yang berkesan untuk Kiran.

Posted by Rahdian Saepuloh

Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.

Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.

Leave a Reply

Required fields are marked*