Belajar Menyablon Kaos

Reading Time: 2 minutes

Kegiatan kali ini kami bertandang ke rumah Bibi Sari dan Paman Samli. Kami ke rumah Bibi Sari untuk menyablon kaos untuk “seragam Belajar Bersama” dan di sana peralatannya lengkap. Alat-alat-alat yang dibutuhkan untuk menyablon kaos adalah cat acrylic, busa, stensil gambar atau tulisan yang akan disablon, dan alas karton.  Kaosnya sendiri bertuliskan Belajar Bersama, nama masing-masing anak serta cap tangan masing-masing anak. Tentunya sudah ada yang berkeinginan untuk melukiskan yang lain pada kaosnya.

Pertama-tama, kami membuat stensilnya  dulu. Bibi Sari punya printer yang keren sekali.  Biasanya printer dapat mencetak/menggambar, printer ini dapat memotong. Membuat pekerjaan kami  jadi lebih mudah. Hanya saja karena setiap kaos memiliki nama berbeda-beda, pembuatan polanya tetap memakan waktu. Stensil  dibuat dengan menggunakan freezer paper, yang sebetulnya diperuntukkan untuk membungkus daging ketika akan dibekukan. Kertas khusus untuk membuat stensil sangatlah mahal, maka freezer paper ini dapat dijadikan alternatif. Setelah stensil terpotong maka stensil perlu ditempelkan ke kaos dengan cara disetrika. Ketika dipanaskan, stensil menempel dengan rapi ke kaos. Setiap stensil dapat dipergunakan ulang sampai 5 kali.

Setelah  semua stensil tertempel, waktu makan siang pun tiba.  Wah . . . harus mengisi  bensin  dulu nih. Perut rasanya lapar sekali. Seperti biasanya makanan begitu banyak. Langsung dengan lahap kami menyantap semua makanan. Tandas!

Setelah makan siang selesai, kami pun mulai menyablon.  Anak-anak duduk berderet menggunakan celemek. Kaos yang sudah ditempel stensil diberi alas karton ditengah-tengahnya agar cat acrylic tidak meresap kebawah. Kemudian cat acrylic pun dibagikan. Langkah selanjutnya busa ditempelkan ke cat lalu ditepuk-tepukan ke kaos sampai semua stensil tertutup warna dengan rapat. Sebaiknya busa tidak diusapkan karena stensil dapat terangkat.

Terbayangkankan hebohnya. Setiap anak tidak sabar ingin mewarnai kaosnya dengan warna pilihan masing-masing. Saking semangatnya begitu menerima busa, langsung menempelkan ke kaos diluar stensilan hihihi. ternyata cat crylic cepat kering lho. Jadi mengerjakannya harus cukup cekatan. Untuk cap tangan, busa yang sudah beri cat ditepuk-tepukkan ke telapak tangan. Setelah warna rata, tempelkan telapak tangan ke kaos dengan cukup kuat. Jadi deh.

Untuk yang ingin menggambar bebas langsung dikaos, ternyata cukup sulit dilakukan. Cat acrylic cepat kering dan bahan kaospun dengan cepat menyerap catnya sehingga usapan cat tidak seperti ketika di atas kanvas. Sepertinya cara yang paling mudah memang membuat stensilan lalu menepuk-nepuk warna satu persatu.  Ketika semua stensilan selesai diwarnai, stensilan dapat langsung dilepas, lalu hasil sablonan di press panas agar benar-benar kering dan meresap ke kaos. Setrika dapat  juga digunakan  untuk tahap ini.

Selesaaaai… 

Anak-anak langsung ingin menggunakan hasil karyanya. Mereka pun lalu foto bersama menggunakan hasil karya mereka. Wah . . . seru sekali hari ini. Terima kasih Bibi Sari dan Paman Samli.

Pentingnya Konsep Diri Positif

Reading Time: 4 minutes

Ingat masa-masa kita sekolah? Ketika menerima hasil ujian yang kurang baik, tentunya  semua orang merasa kecewa, sedih mungkin juga marah dengan diri sendiri. Setelah itu ada yang menyerah dengan keadaan dan terus bersedih atau meratapi  nasib ada juga yang termotivasi untuk mencoba lebih keras. Kira-kira apa ya yang  menyebabkan perbedaan dari kedua reaksi ini?

Salah satu hal yang memengaruhi seseorang dalam menghadapi tantangan dalam hidupnya adalah cara pandangnya terhadap sesuatu dan ini berkaitan erat dengan konsep diri (http://www.gozen.com/why-one-kid-gives-up-while-another-one-does-not-a-visual-story/). 

Konsep diri adalah bagaimana kita menilai dan memandang  diri kita sendiri, yang kemudian akan menentukan bagaimana kita menjalani hidup.  Apabila kita memiliki pandangan positif dan sehat maka pengalaman kita akan positif juga. Bukan berarti kita tidak akan mengalami kesulitan tetapi kita akan memiliki pendekatan yang sehat dan baik ketika menghadapi suatu masalah. Apabila pandangan atau penilaian terhadap diri kita kurang baik dan rapuh maka ketika menghadapi kesulitan dalam hidup kita akan merasa sangat kesusahan dan kewalahan. Apabila anak memiliki konsep  diri yang positif tentunya akan sangat menolong dirinya dalam menjalani hidupnya sehari-hari.

Konsep diri bersumber dari respon atau penilaian orang terdekat terhadap diri kita dan penilaian terhadap diri sendiri.

Konsep diri positif: saya cantik, saya pandai memasak, saya pintar menggambar.
Konsep diri negatif: saya hitam, saya pendek, saya tidak bisa memasak, saya menggambar lingkaran saja jelek.

Perlu diingat konsep diri ini adalah masalah PERSEPSI. Jadi bisa saja dua orang sama-sama hitam dan pendek tapi yang satu merasa cantik/ganteng, yang satu lagi merasa jelek. Dua  orang yang memiliki kemampuan memasak yang sama tapi yang satu tetap merasa tidak bisa apa-apa sedang yang satu lagi merasa bangga dengan kemampuannya.

Orang tua diharapkan tidak memberi cap pada anak, baik yang diucapkan atau yang dirasakan dalam hati. Menggunakan kalimat yang positif ketika berkomunikasi dengan anak.

Contoh:

“Aduuh, susah banget ngajarin kamu”  diubah menjadi Kamu bisa kok nak, hanya perlu waktu saja, ayo kita coba lagi”.

“Gitu aja kok ga bisa” diubah menjadi  “Yuk kita coba lagi, tadi hanya kurang sedikit kok. Ayo semangat.”

“Kamu nih bikin malu ibu”  diubah menjadi “Jangan khawatir, kita semua pernah buat salah, mama tau kamu anak baik. Kesalahan kan proses belajar.”

“Duuuh males banget siih”  diubah menjadi Mungkin kamu capek ya. Ayoo.. semangat. Sebentar lagi selesai kok.”

Bagaimana orang tua dapat membantu menumbuhkan konsep diri positif pada anak? 

1. MULAI DARI ORANG TUA DULU

  • Orang tua yang memiliki konsep diri positif, anaknya positif pula. Jadi yang merasa jelek, tidak becus dan lain-lain, segeralah diperbaiki. Sadari bahwa kita semua unik dan punya kelebihan. Kalau kita merasa jelek karena fitur tubuh yg kita tidak suka, sama saja kita bilang ke anak kamu juga jelek karena hidungmu pun tidak mancung seperti ibu. Atau kalau kita rajin sekali mengkritisi diri sendiri, maka anak juga akan dengan sangat mudah mengkritisi diri sendiri.  Hal ini akan menumbuhkan keraguan dalam diri anak pada kemampuannya sendiri.
  • Berdamai dengan masa lalu. Kita semua punya masalah dan sampah masa lalu. Berdamailah dan maafkanlah masa lalu itu. Karena sampah masa lalu itu dapat membuat pandangan kita ke depan menjadi negatif dan memberatkan langkah kita.

2. PAHAMI APA ITU KONSEP DIRI

Komponen konsep diri:

1. Gambaran tentang diri

  • fisik: saya tinggi, saya gemuk
  • afeksi: saya penyayang, saya pendiam, saya pemalu
  • keahlian: saya seorang ayah, saya guru, saya ibu

2. Bagaimana kita menilai diri sendiri (kepercayaan diri) 

Positif: saya suka tubuh saya, saya ibu yang hebat
Negatif: saya terlalu tinggi, saya ibu yang ga becus

Komponen kepercayaan diri atau self esteem:

Harga Diri

Anak yang merasa dihargai keberadaannya, yang didengar oleh orang tersayangnya akan cenderung memiliki kepercayaan tinggi. 

Yang bisa dilakukan:
– Sapa anak dengan penuh kebahagiaan ketika bertemu (bangun tidur, habis main, pulang sekolah, dll)
– Panggil dengan nama, bukan olokan
– Bicara dengan penuh kasih
– Mendengarkan anak dengan penuh perhatian

Keberhasilan

Perasaan bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu dan berhasil, akan menumbuhkan rasa percaya diri

Yang bisa dilakukan:

– Beri anak kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri sesuai usianya. Berilah pilihan sederhana dan hargai pilihannya. Contoh, sejak kecil memilih baju sendiri.

– Beri kesempatan untuk mengalami keberhasilan kecil sesuai usia. Tentu saja perlu diingat semua proses. Kalau gagal, anak diberi semangat bukan dimarahi. Contoh : pakai baju sendiri, merapikan kamarnya, membantu memasak dan jangan samakan hasilnya dengan orang dewasa. Hargai proses yang telah mereka lakukan agar anak tidak patah semangat.

– Terlibatlah dalam kegiatan yang anak sukai walau kita tidak suka. Ini akan menunjukkan bahwa kita mendukung anak.

Konsistensi

Anak butuh keteraturan. Segala perubahan sebaiknya luangkan waktu untuk menjelaskan kepada anak. Aturan-aturan yang dibuat hendaknya konsisten dan berlaku untuk semua orang. Apabila ada pengecualian, harus didasari alasan yang jelas untuk anak. Libatkan pula anak dalam membuat aturan-aturan dalam rumah.

Pujian dan Penghargaan

Pujian dan penghargaan dapat menumbuhkan rasa suka terhadap dirinya sendiri atau menumbuhkan kepercayaan diri. Rayakan keberhasilan anak dengan cara yang sederhana dan terima kegagalannya sebagai proses belajar dengan membesarkan hatinya. 

Gambaran ideal tentang diri: 

Bantu anak memiliki keinginan  untuk  menjadi lebih baik dengan mencontohkan impian atau bayangan ideal tentang diri kita sendiri.

– Saya ingin jadi ibu yang selalu hadir buat anak.

– Saya ingin jadi pengusaha sukses.

3. KENALI TEMPERAMEN ANAK

Setiap anak berbeda dan spesial. Ada yang pendiam dan ada yang aktif. Ada yang sensitif ada yang tidak. Ada yang mudah berteman ada yang suka menyendiri.

Semua ini hanya ciri-ciri unik seseorang. Tidak ada yang lebih baik dan buruk. Temperamen adalah pola tindakan dan emosi  yang menjadi karakterisktik seseorang yang berpengaruh terhadap cara merespon lingkungan.  Dalam membimbing anak, kita harus memerhatikan dan mengenali tempramen anak. Dengan mengetahui temperamen anak, orangtua dapat membantu keunikan anak ke arah yang lebih positif. Jangan memaksa anak untuk seperti anak yang lain. Fokuslah pada kelebihannya. Ketika orangtua merespon anak sesuai dengan temperamennya anak akan tumbuh sehat dan gembira. Hal ini juga akan mengurangi rasa frustasi orang tua dan anak. 

Demikian 3 langkah yang dapat orangtua lakukan untuk membentuk konsep diri positif dalam diri anak. Apabila anak memiliki konsep diri positif, maka akan lebih mudah untuk dirinya mengadapi tantangan hidup.  Konsep diri positif membuat anak melihat dirinya dan lingkungannya dengan positif juga, dengan pandangan ke depan yang positif maka dengan mudah anak-anak mencintai dirinya dan lingkungannya. Tentunya dengan rasa cinta ini, insya allah anak-anak dapat membuat keputusan yang baik pula terhadap kehidupannya.

Sekilas Tentang Reggio Emilia

Sekilas Tentang Reggio Emilia

Reading Time: 2 minutes

Kegiatan Belajar Bersama minggu ini sedikit berbeda dari biasanya. Kalau yang terdahulu dimulai dengan circle time dan dipandu oleh salah satu orang tua, kali ini kami mencoba melakukan pendekatan Reggio Emilia dengan tema imaginasi. Kami meletakkan tali-tali berukuran pendek di ruang tamu secara acak dan membiarkan anak-anak menemukannya. Mereka bisa menggunakannya sesuai keinginan dan imaginasinya tanpa panduan. Benar saja, tak lama kemudian anak-anak mulai bermain dengan tali-temali itu.  Sempat digunakan untuk tarik tambang, skipping, lompat tali, alat untuk mengukur lebar lantai oleh Ahsan dan Adiva mencoba menyambung-nyambung talinya sendiri. Barang sederhana yang bisa berubah menjadi berbagai macam fungsi bagi anak-anak.

Pendekatan Reggio Emilia adalah filosofi pendidikan progresif yang berpusat pada anak usia dini dan pra sekolah. Sekolah-sekolah yang menerapkan pendekatan Reggio Emilia akan berbeda satu sama lainnya karena sekolah akan menyesuaikan dengan kebutuhan anak dan kebiasaan lingkungan atau daerahnya masing-masing. Pendekatan ini melihat anak sebagai individu yang penuh rasa ingin tahu dan keinginan untuk mengeksplorasi sekitarnya. Anak mampu membentuk ide dan pembelajarannya sendiri. Maka dari itu pendekatan ini menganjurkan kegiatan dan pertanyaan yang dapat melebar (open ended) selain memupuk kreatifitas juga memupuk rasa ingin tahu dan eksplorasinya. Semua pertanyaan, pernyataan dan ekspresi dari anak adalah valid, penting dan patut didengarkan.

Reggio Emilia juga menyarankan orang tua berbincang-bincang dengan anak ketika mereka sedang bermain dan mengeksplorasi. Hal ini dilakukan untuk menggali minat, perasaan dan seberapa dalam pengetahuan mereka untuk kita jadikan arahan dalam membuat kegiatan berikutnya. Apa yang mereka suka dari kegiatan itu? mengapa mereka suka itu? Apa yang mereka tahu tentang itu? Apa yang telah mereka katakan tentang hal itu? Apa yang mereka ingin tahu selanjutnya? dan lain lain. Alma yang suka dengan planet dan galaksi ketika diajak bicara lebih dalam ternyata menyukainya untuk dijadikan latar belakang imaginasi dari cerita-ceritanya, bukan dari segi sciencenya. Jadi kegiatan yang cocok berikutnya mungkin membaca buku dengan latar belakang planet, melukis cerita yang dia karang atau membuat tarian tentang matahari.

Reggio Emilio juga percaya bahwa banyak bahasa yang digunakan anak dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Tidak hanya verbal dan tulisan saja tapi bisa juga dengan tarian, gerak tubuh, lukisan, nyanyian dan masih banyak lagi. Semuanya sama baiknya dan patut dieksplorasi bersama.

Peran orang tua dalam pendekatan ini adalah sebagai mentor dan pemandu dalam anak belajar “cara belajar”, bukan sebagai kamus atau ensklopedia.  Tugas orang tua ketika anak bertanya adalah memandu anak untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya, bukan mencarikan jawaban. Misalnya anak bertanya tentang “Mengapa pagi lebih dingin?” daripada mencarikan jawaban untuk anak, bantu anak mengeksplorasi segala kemungkinan jawaban dengan bertanya kembali kepada anak dengan pertanyaan yang lebih sederhana, menemukan bacaan bersama, percobaan, pengamatan dan lain-lain.

Lingkungan juga dilihat sebagai bagian penting yang dapat menginspirasi anak-anak. Tempat bermain sebaiknya mencerminkan minat anak saat itu atau yang akan dieksplorasi selanjutnya. Bebas dari tumpukan mainan. Jumlah mainan yang banyak justru hanya akan mengganggu fokus anak dalam menggali minatnya lebih dalam. Mainan juga disarankan berbentuk bebatuan, kayu, balok, lego, play dough, dan lain-lain yang dapat menjelma menjadi berbagai macam benda dan fungsi.

Begitulah sekilas tentang pendekatan Reggio Emilia.  Buat saya sendiri, Reggio Emilia adalah jawaban yang saya cari-cari dalam mendidik pembelajar mandiri, yaitu dimulai dengan belajar “cara belajar” atau learning to learn.

Ruang dan Waktu untuk Minat Alma.

Ruang dan Waktu untuk Minat Alma.

Reading Time: 2 minutes

It doesn’t matter that her cutting isn’t straight.
It doesn’t matter that she tape it with black tape and need to used the longest tape to bind a tiny piece of paper.
It doesn’t matter that she only draw the necklace on one side.
It doesn’t matter…

What matter is she have an idea and not afraid to make it happen. The skill will follow eventually.

Dulu ketika Alma saya ajak membuat sesuatu, seringnya ditolak atau setengah jalan berhenti. Reaksi tersebut saya artikan sebagai ketidaktertarikan kepada art & craft. Dibelikan buku mewarnai, buku gambar, spidol, crayon juga jarang disentuh. Kalau digunakan, malah digunakan untuk menggambar badannya atau dipatah-patah.

Namun setelah baca sana-sini, agaknya saya tahu dimana kesalahan saya. Bukan Alma tidak suka art & craft tapi mungkin belum suka. Mungkin kegiatan sebelumnya saya memberikan terlalu banyak komando.

“Pegang gunting begini Alma.”

“Guntingnya dekat garis Alma.”

“Lemnya jangan banyak-banyak Alma.”

“Kalau buat gunting-gunting saja, pakai kertas bekas Alma.”

“Gambarnya jangan di kertas baru lagi, kertas tadi masih ada sisa.” Dan masih banyak lagi.

Bagaimana kegiatan itu akan terasa menyenangkan kalau wejangannya seabrek-abrek. Keinginan saya membantu dan membimbing Alma malah jadi bumerang.

Akhirnya, semua barang art & craft saya turunkan sehingga Alma bisa raih. Awal-awal dia suka bikin salju. Kertas disobek atau gunting kecil-kecil lalu ditebarkan ke atas kemudian jatuh ke lantai. Dulu saya suka ngomel karena ini yang Alma sering lakukan kalau ketemu kertas dan gunting. Kegiatan yang saya maknai hanya buang-buang kertas, tidak ada hasilnya selain sampah kertas. Tapi kali ini saya berusaha melihat dari sisi Alma. Dia sedang berkarya. Dia sedang mencoba. Nikmati saja.

Setelah saya melatih diri untuk menahan tidak memberi wejangan, kesukaan Alma terhadap art & craft meningkat pesat. Hampir semua karya Alma dilakukan mandiri dan semua atas inisiatifnya sendiri.

Menggunting masih belok-belok, begitu juga menarik garis. Masih suka menggunakan lem berlebihan dan kertas banyak yang terbuang. Tapi apakah semua itu lebih penting daripada memupuk minatnya? Kalau anak sudah minat, dia akan mengerjakannya dengan suka cita dan berulang-ulang. Dengan pengulangan inilah dia bisa melatih skill-skill yang diperlukan sesuai dengan kesiapannya. Anak sesungguhnya adalah pembelajar sejati. Berilah mereka ruang dan waktu untuk menemukan dirinya dan minatnya.

Piknik di Kebun Raya Bogor

Piknik di Kebun Raya Bogor

Reading Time: 2 minutes

Ada 2 tujuan utama kegiatan kami kali ini. Pertama, mencari ruang bergerak untuk anak-anak agar bisa leluasa bermain. Dan yang kedua, kami orangtua yang mencari tempat ngunyah-ngunyah lucu dengan setting yang berbeda. Akhirnya, Kebun Raya Bogor pun jadi pilihan yang pas.

Jam 8 pagi kami sudah berkumpul di stasiun Lenteng Agung untuk berangkat menggunakan KRL menuju Bogor. Paman Ian memberikan peraturan singkat kepada anak-anak untuk tidak berlari-lari dan harus selalu berpegangan tangan. Perjalanan naik kereta dari Lenteng Agung ke Bogor hanya 2000 rupiah/orang. Sangat murah. Kalau tidak punya kartu e-money Mandiri atau flazz, BCA, bisa menggunakan kartu single trip dengan jaminan 10.000 rupiah. Jaminan ini bisa diambil kembali setelah kita mengembalikan kartu ke loket. Sesampainya di stasiun Bogor, kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkot nomor 2. Cukup bayar 4000 rupiah sudah sampai di depan gerbang Kebun Raya Bogor.

Untuk masuk ke Kebun Raya Bogor kami harus membeli tiket masuk seharga 15.000 rupiah perorang. Kemudian kami mencari tempat untuk menggelar tikar dan yang terpenting, gelar makanan.

Dan seperti biasa, Bibi Yulia selalu juara dalam mempersiapkan bawaannya. Rantang susun dengan isi beraneka macam lauk, pudding, buah dan sirup lengkap dengan es batu. “Nggak sekalian bawa kursi dan meja makan nih, Bibi Yulia?” Pokoknya ke mana pun dan di mana pun kami beraktivitas dijamin tidak akan kelaparan.

Sebenarnya kami belum merencanakan aktivitas anak-anak selama berada di sana. Paling hanya ke museum Zoologi, tapi itu pun kami rencakanan pada saat pulang nanti. Tapi kenyataannya anak-anak memang tidak memerlukan rencana untuk bermain dan bersenang-senang. Berikan mereka lapangan luas, bola dan alam. Mereka pun bersenang-senang dan membuat sendiri permainan dari apa yang mereka temukan. Dedaunan, batu, batang pohon, serangga, serta Paman Simon. Terhitung mulai dari jam 10 sampai jam 4 sore tidak sekalipun terucap kata bosan atau capek dari mulut mereka. Berbeda dengan kami orangtua yang kelelahan padahal seharian hanya duduk-duduk ngobrol dan ngunyah. Mungkin ke depannya perlu dibuatkan juga aktivitas untuk kami agar stamina tetap terjaga.

Piknik usai, kami pun mengunjungi Museum Zoologi. Waktu operasional museum adalah jam 07.30 sampai dengan 16.00 dan sekarang tidak perlu membayar lagi karena tiket Kebun Raya Bogor sudah termasuk tiket masuk Museum Zoologi. Di sini pun tidak kalah serunya. Anak-anak bisa melihat berbagai macam binatang yang ada di Indonesia termasuk kerangka paus yang dahulu terdampar di Pantai Pamengpeuk. Seru sekali aktivitas kami kali ini. Selanjutnya wisata ke mana lagi ya? Ada ide?