Bermain Sambil Belajar di Pulau Pari

Bermain Sambil Belajar di Pulau Pari

​Hari Kamis lalu Kiran, Alma, Adiva dan Syifa bersama-sama dengan kami orang tua mengikuti kegiatan eksplorasi di Pulau Pari, salah satu pulau di kepulauan seribu. Kegiatan tersebut diadakan oleh Mba Ines Setiawan dari SHINE. Di sana, anak-anak belajar tentang hutan bakau serta manfaatnya, polusi laut serta dampaknya, dan budi daya rumput laut langsung dari ahlinya.

Sebelum berlayar ke Pulau Pari, kami semua menginap di rumah Bibi Sari dan Paman Samli karena rumah mereka lebih dekat ke Pelabuhan Tanjung Pasir, tempat kapal laut yang akan membawa kami ke Pulau Pari.

Berdasarkan Itinerary, kapal akan berlayar pada pukul 6 pagi. Karena jarak yang cukup jauh dan lalu lintas yang tidak bisa diprediksi, kami berangkat pukul 4.45 pagi. Sampai di pelabuhan, waktu menunjukkan pukul 6 dan terlihat rombongan yang sudah siap menaiki 2 kapal nelayan yang akan membawa kami ke Pulau Pari. All aboard and off we went sailing to the island.

Setelah mengarungi laut selama hampir satu setengah jam, sampailah kami di Pulau Pari. Ternyata pulau yang lokasinya bersampingan dengan pulau Tidung ini cukup besar dan merupakan pulau yang dihuni oleh penduduk.

Setelah semua berkumpul, kami masih harus berjalan sekitar 10 menit menuju Pantai Perawan. Sesampainya di sana, kami disambut oleh cuaca yang cerah, langit biru, pasir putih, dan air laut yang tenang. Air laut Pantai Perawan berbeda dengan pantai-pantai yang lain. Apa bedanya? Airnya tenang sekali, tidak ada ombak yang akan menarik anak-anak ketika mereka bermain, airnya juga cukup dangkal, membuat orang tua tenang membiarkan anak-anak bermain sepuasnya. Tapi tujuan kami ke sana bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi untuk belajar tentang hutan bakau, polusi laut serta budi daya rumput laut.

Materi pertama tentang hutan bakau disampaikan oleh Mr Yuri Romero. Beliau adalah seorang Marine Archeologist dan aktivis lingkungan yang berasal dari Kuba. Beliau menjelaskan tentang ekosistem laut, terumbu karang, dan pohon bakau dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan dengan sangat baik oleh seorang pelajar bernama Mia Andika Sri Az Zahra. Penjelasan tentang hutan bakau dan ekosistem laut diakhiri Mr Romero dengan permainan interaktif antara orang dewasa dan anak-anak. Orang dewasa diminta membuat 5 kelompok kecil sambil bergandengan tangan dan anak-anak diminta menjadi hewan-hewan kecil di laut seperti udang, ikan dan kepiting. Sedangkan Mr Romero dan dua orang lainnya berperan sebagai pemangsa hewan-hewan kecil tersebut. Beliau menginstruksikan anak-anak untuk masuk ke dalam lingkaran orang tua untuk menghindari kejaran predator laut. Rupanya permainan ini merupakan simulasi kehidupan ekosistem laut dan hutan bakau. Permainan edukasi seperti ini memang lebih mengena bagi anak-anak.

Pemateri kedua adalah Bapak Adi Slamet Riyadi, seorang kandidat Doctor, Marine Environmental Chemistry, Ehime University, Jepang. Bapak Adi menjelaskan tentang pencemaran laut, penyebabnya, serta dampak dari pencemaran yang jelas-jelas hasil dari perilaku tidak bertanggung jawab kita semua. Bapak Adi menjelaskan bahwa pencemaran tersebut membawa pengaruh pada rantai makanan di laut yang pada akhirnya manusia jugalah yang akan merasakan dampak negatifnya.

Pemateri terahir adalah seorang petani rumput laut muda berpengalaman bernama Bapak Asep. Dengan gamblang beliau menjelaskan bahwa rumput laut pada tahun 2000 tumbuh sangat subur di perairan Pulau Pari. Namun sekarang ini sudah tidak bisa tumbuh lagi dikarenakan tingginya polusi di perairan sekitar pulau Pari yang berjarak kurang lebih 30 mil laut dari bibir pantai Jakarta.  Penyebab utama  rusaknya budidaya rumput laut di pulau Pari adalah limbah minyak dan oli dari Jakarta. Padahal masyarakat Pulau Pari menggantungkan hidupnya dari hasil laut, terutama rumput laut.

Cukup berat memang materi-materi yang diberikan oleh pembicara-pembicara hebat yang saya sebutkan diatas. Lalu apakah Kiran mengerti apa yang disampaikan? Tentu tidak ☺. Saya dan suami mengerti bahwa materi yang disampaikan pada kegiatan ini bukanlah untuk anak usia 6 tahun seperti Kiran. Lalu pembelajaran apa yang didapatkan Kiran? Dari pengamatan saya dan suami kemarin, hal-hal seperti inilah yang kami mau Kiran alami:

Menjadi bagian dari suatu kelompok

Pantai selalu menjadi tempat favorit Kiran. Namun ketika waktu bermain airnya kemarin harus terhenti karena materi akan dimulai, di situlah Kiran belajar untuk bergabung dengan peserta yang lain, menjadi bagian dari suatu kelompok.
Kiran belajar mendengarkan dan menghormati orang yang sedang berbicara
Selama sesi diskusi, kami mengingatkan Kiran untuk berada di dekat pemateri. Fokus anak usia 6 tahun seperti Kiran memang masih pendek, namun dengan Kiran mau duduk sambil bermain pasir dengan peserta lain bagi kami sudah merupakan proses belajar untuk Kiran.

Belajar bersabar dan mengesampingkan keinginan pribadinya

Durasi materi yang disampaikan oleh setiap pembicara rata-rata sekitar 45 menit. Waktu yang cukup lama untuk anak seperti Kiran untuk bisa duduk dan mendengarkan isi materi yang disampaikan. Namun, Kiran ternyata bisa bersabar sampai pembicara selesai dan akhirnya bisa kembali bermain di pantai.

Belajar berani melawan rasa takutnya

Dalam perjalanan kembali ke Pelabuhan Tanjung Pasir, kondisi laut cukup membuat hati beristighfar berkali-kali. Angin yang cukup besar membuat deburan ombak mengangkat dan mengayun-ayun kapal yang kami tumpangi. Para penumpang kapal banyak yang berteriak dan menunjukkan rasa takut. Saya berusaha keras untuk menunjukkan poker face saya kepada Kiran. Tapi sepertinya Kiran juga merasakan apa yang saya rasakan. Beruntung suami saya sangat tenang, sehingga Kiran bisa tertidur walaupun perahu terombang ambing dihempas ombak. Kiran bangun ketika perahu masih cukup jauh dari pelabuhan. Tiba-tiba Kiran bernyanyi lagu Moana, lagu favoritnya sekarang ini. Saya tanyakan mengapa dia bernyanyi, untuk melawan rasa takut jawabnya. Untuk saya jawaban yang Kiran berikan menunjukkan bahwa dia belajar untuk mengalihkan pikirannya dengan sesuatu yang ia sukai.

Bagi kami dengan ikut kegiatan seperti ini banyak sekali pengalaman yang bisa dialami oleh anak-anak. Bagaimana berinteraksi dan bersikap dalam suatu kelompok itu yang paling penting, konten mah nomor sekian, wong Kiran saja cuma ingat “Mangrove trees protect the fish from predators”, sisanya lupa.

Presentasi Proyek Bersama

Presentasi Proyek Bersama

Hari Selasa lalu kami melakukan kegiatan seperti biasa di rumah Bibi Nada. Tetapi pertemuan kali ini sedikit berbeda dari pertemuan Selasa lainnya, karena anak-anak mempresentasikan hasil diskusi dan kerja sama antar partner untuk proyek pertama mereka, yeiyy, we are so excited! Anak-anak sudah mempersiapkan proyek ini dari satu minggu yang lalu seperti yang telah dibahas oleh Ayah Kiran sebelumnya. Jadi setiap anak bekerja dengan satu orang temannya untuk mencari solusi dari masalah yang selalu ada ketika bertemu setiap hari Selasa, seperti tidak mau main bergantian, memilih teman, bermain yang aman, dll. Berkat proyek perdana ini, anak-anak juga jadi tahu yang namanya Video Call menggunakan aplikasi Google Hangout, wah lucu deh melihat tingkah polah anak-anak itu ketika melihat wajah temannya di layar HP. Diskusinya 5 menit, bercandanya satu jam hahaha.

Jam 10 tepat kegiatan di mulai. Bibi Sari menawarkan diri untuk menjadi fasilitator kegiatan anak-anak kali ini. Ada yang menarik dari sesi berbagi kali ini, hampir semua anak mencoba untuk memberikan tebak-tebakan! Ya, tebak-tebakan. Seperti tebakan yang diberikan oleh Kiran, “What car that starts with letter L?” Semua orang termasuk orang tua yang mendampingi berusaha untuk menjawab. Ada yang menjawab Lexus tetapi ternyata Tetooott, salah jawabannya. “La Ferrari” jawab Ahsan. dan ternyata jawabannya benar. Tetapi namanya juga anak-anak, ada tebakan yang serius dan ada tebakan yang ngga nyambung. Tapi itu semua menambah keceriaan kami semua.

Selesai pertemuan pagi, anak-anak kami berikan waktu untuk bermain sampai waktunya makan siang. Masih mengusung konsep ala Reggio Emilio, anak-anak bermain tanpa mainan sama sekali. Kami mencoba membiarkan anak-anak untuk mengembangkan imajinasi bersama-sama dengan menggunakan keadaan di lingkungan sekitar rumah Bibi Nada.

Para orang tua pun hampir semua sedang mencoba menjalani pola makan Ketogenic, yaitu pola makan rendah karbo dan tinggi lemak. Jadi makan siang setiap selasa selalu tersedia makanan berlemak dan berkolesterol tinggi hihihi. Bibi Nadalah yang membuat kami mau mencoba pola makan ini. Tujuan pola makan ini Cuma satu: hidup lebih sehat plus bonus berat badan yang turun. Semangat teman2, semoga kita sehat selalu!! Salam lemak!!

Selesai makan siang, anak-anak bersiap untuk mempresentasikan proyek mereka masing-masing dan difasilitasi oleh Paman Simon. Presentasi dimulai dari Ahsan dan Alma yang menjelaskan bagaimana bermain yang nyaman. Ahsan dan Alma bersama-sama membuat poster dan menggambar. Setelah itu, dilanjutkan dengan presentasi dari Akhtar dan Rava. Kedua anak ini masing-masing membuat poster dan menjelaskan bermain dengan semuanya dan tidak memilih teman. Selanjutnya, Adiva dan Rendra yang mempresentasikan cara menjadi pendengar yang baik. Adiva dan Rava menggambar bersama-sama sebelum memulai menjelaskan hasil diskusi mereka. Presentasi proyek diakhiri dengan penjelasan dari Kiran dan Syifa yang menjelaskan bagaimana caranya bergiliran. Syifa dan Kiran memutuskan untuk merekam hasil diskusi mereka dengan bantuan Paman Ian supaya video mereka bisa diunggah di Youtube.

Tak lama sehabis presentasi terakhir selesai, hujan mulai turun dengan derasnya dan anak-anak pun mengakhiri presentasi perdana hari itu dengan hati gembira, karena sehabis itu mereka mandi hujaaaaaannn. Wah, raut muka mereka terlihat sangat bahagia ketika semua orang tua memberikan mereka izin untuk bermain bersama di bawah guyuran air hujan.

Pengalaman hari ini sangat berharga, anak-anak memulai Problem Based Learning perdana mereka dengan lancar. Semoga dengan dimulainya PBL ini, anak-anak akan semakin peka dalam menganalisis masalah dan semakin mudah mencari solusi atas masalah yang terjadi di sekitar mereka. Semoga ilmu yang mereka pelajari sekarang akan berguna bagi kehidupan mereka di masa depan.

Menjadi Manager di Rumah Sendiri

Menjadi Manager di Rumah Sendiri

Di rumah kami tidak ada asisten rumah tangga yang membantu pekerjaan rumah. Jadi semua pekerjaan rumah tangga kami kerjakan bersama-sama, mulai dari mencuci baju sampai membersihkan kamar mandi. Semua menjadi tanggung jawab anggota keluarga kami. Semenjak Kiran berusia 4 tahun, saya dan suami sudah memperkenalkan house chores kepada Kiran. Berhubung Kiran masih piyik, jenis house choresnya juga hanya sedikit saja. Kami menyebutnya 4 simple steps.

Berhubung Kiran sudah 6 tahun sekarang, saya dan ayahnya Kiran sepakat untuk menambahkan 2 tanggung jawab lagi ke Kiran yaitu membersihkan halaman depan dan menyortir pakaian yang sudah digosok. Supaya adil, saya, suami dan adik ipar yang tinggal bersama, mempunyai tugas yang harus dikerjakan setiap hari bersama-sama di pagi hari. Untuk setiap orang yang bertugas melakukan satu pekerjaan rumah tangga, dengan memegang posisi sebagai Manager. Misalnya Kiran bertugas membersihkan halaman depan, termasuk memastikan sandal dan sepatu berada pada tempatnya. Kiran juga berhak menegur saya atau ayahnya kalau lupa membereskan alas kaki ke atas rak sepatu. Sebutan Kiran adalah Porch Manager. Karena saya yang mencuci baju, maka sebutan saya adalah Laundry Manager. Saya berhak menegur orang rumah yang sembarangan menaruh baju kotor sembarangan. Manager juga bisa meminta bantuan dari anggota keluarga yang lain, jadi Kiran juga belajar untuk membantu pekerjaan orang lain.

Ide manager ini terinspirasi dari Pak Dodik dan Ibu Septi, ketika suami saya mengikuti kegiatan Homeschooling for Facilitator di Salatiga. Pak Dodik dan Ibu Septi membagikan rahasia keberhasilan mereka mendidik ketiga anak mereka yaitu salah satunya dengan jabatan Manager ini. Dengan memiliki “jabatan”, anak akan lebih senang menjalankan tanggung jawab mereka di rumah karena pada saat itulah mereka bisa memerintah ayah, ibu, kakak dan adik mereka untuk membantu melaksanakan tugasnya hehehe. Hatur nuhun buat Pak Dodik dan Ibu Septi untuk inspirasinya.

Daftar pekerjaan rumah masing-masing kami tulis di papan dan menggunakan checklist. Jadi siapapun yang sudah mengerjakan tugasnya bisa mencontreng di papan. Setelah pekerjaan “wajib” selesai, baru deh kami memulai kegiatan yang lain. Titel Manager ini berlaku sesuai kesepakatan bersama. Durasinya juga sesuai hasil musyawarah bersama, bisa satu minggu, satu bulan bahkan labih lama. Kalau di rumah, titel ini berlaku satu bulan. Sehabis itu, titel Manager bisa berpindah ke orang lain sesuai dengan pekerjaan rumah yang dikerjakan dan disepakati bersama.

Terkadang kami masih harus terus mengingatkan Kiran untuk konsisten mengerjakan pekerjaan rumahnya, begitupun mengingatkan diri kami sendiri untuk beristiqomah memberikan contoh tauladan yang baik untuk Kiran. Jika Kiran masih belum bisa melakukan tugasnya tanpa harus diingatkan, berarti PR saya dan suami masih berlanjut.

Membuat Es Krim Goyang

Membuat Es Krim Goyang

Minggu ini kami belajar bersama hari Senin karena satu dan lain hal. Tapi tidak ada istilah I Don’t Like Monday pada kamus kami, jam setengah tujuh kami semua meluncur ke Jagakarsa untuk memulai hari bersama keluarga lainnya.  Walaupun  hujan plus macet, tetap tidak menyurutkan semangat kami untuk beraktifitas bersama, apalagi Sifu Simon dari pagi sudah menanyakan waktu keberangkatan kami. Seperti Minggu lalu, berlatih Kungfu akan menjadi agenda tetap kami para orang tua yang ‘mager’ (malas gerak). Gurunya saja semangat begitu, kami juga ikutan semangat deh. Latihan Senin ini formasinya lengkap, Bibi Anita sudah sehat, yeeiiy, jadi ada teman senasib sependeritaan deh hihihi.

Lalu, kalau semua orangtua berolah raga, anak-anak ikutan jugakah? Ya jelas ngga dong. Mereka sibuk melepas rindu setelah seminggu tak bertemu. Sudah beberapa minggu ini Bibi Nada tidak mengeluarkan mainan milik Alma ketika anak-anak berkunjung. Justru dengan tidak adanya mainan, mereka jadi lebih dekat satu sama lain. Anak-anak menjadi lebih imaginative ketika bermain, misalnya mereka membuat rumah-rumahan dari kain dan bangku, pesawat dari lemari, bahkan main sekolah-sekolahan. Hmm, kayaknya mainan-mainan di rumah juga harus disingkirkan nih.

Kiran dan Ahsan juga sudah mengganti pesawat milik Alma yang rusak minggu lalu. Setelah satu minggu kedua anak laki-laki tersebut mengumpulkan uang, akhirnya terbeli juga pesawat yang persis sama. Alma pun senang menerima pesawat pengganti yang diberikan oleh Kiran dan Ahsan. Semoga dengan kejadian ini anak-anak belajar untuk saling menghargai dan menghormati barang milik orang lain.

Selesai berolahraga, kami menyantap cireng dan pepaya sebagai menu sarapan bersama. Kami pun memulai kegiatan bersama anak-anak dengan melakukan pertemuan pagi. Pada kegiatan ini, anak-anak diminta untuk berbagi cerita. Mereka bebas menceritakan tentang apa saja yang mereka mau. Ketika bercerita, anak-anak belajar banyak hal, seperti belajar berbicara di depan orang banyak, belajar merangkai kalimat, belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan, dan belajar mendengarkan ketika ada yang berbicara. Kali ini, semua anak mau berbagi cerita, mulai dari mobil yang bisa berubah menjadi robot sampai boneka Barbie. Setelah itu anak-anak menari lagu Tooty Ta bersama. Wah, seru deh.

Setelah itu, project pun dimulai. Mau membuat apa hari ini? Project minggu ini, anak-anak membuat es krim dengan cara tradisional yaitu menggunakan garam dan es batu. Loh kok garam? Asin dong? Ngga dong, garam dan es batu di sini adalah sebagai media pendingin dari minuman atau cairan yang akan dibekukan. Jadi garam berfungsi sebagai penurun suhu es batu sehingga suhu disekitarnya cukup dingin untuk membekukan susu. Jika tidak ditaburkan garam, suhu es batu tidak akan cukup dingin untuk membekukan susu menjadi es krim. Cara membekukannya juga mudah, cukup digoyang atau dikocok saja selama beberapa saat lalu es krim siap dinikmati. Sluurrpp, enaaakkk.

Berikut adalah bahan dan peralatan yang kami gunakan untuk membuat es krim goyang:

  • 2 Plastic Ziplock ukuran besar
  • Es batu (dihancurkan sampai menjadi bongkahan kecil)
  • 1 mangkok besar
  • Garam
  • Handuk atau sarung tangan (untuk melindungi telapak tangan kedingingan ketika mengocok es)
  • Susu cair (rasa sesuai selera)
  • Bahan taburan es krim (meises, susu kental, keju parut, dan sebagainya)

Cara membuat:

  • Masukkan bongkahan es batu yang sudah dihancurkan ke dalam mangkok besar dan taburi garam.
  • Masukkan es ke dalam plastic Ziplock 1
  • Tuang susu cair ke dalam plastic Ziplock 2, tutup rapat
  • Masukkan plastic Ziplock 2 yang berisi susu ke dalam plastic Ziplock 1
  • Tutup rapat plastic Ziplock 1 kemudian kocok atau goyangkan ziplock tersebut selama 10 sampai 15 menit atau sampai susu menjadi solid. (Jangan lupa untuk menggunakan handuk atau sarung tangan supaya tangan tidak kedinginan)
  • Pindahkan es yang sudah membeku ke wadah. Berikan taburan kesukaanmu.

Nah, minggu depan kira-kira kami akan berkegiatan apa ya? Tunggu postingan berikutnya.

“Children make their own paths into the unknown, paths we would never think of making for them”

-John Holt-

Apology of Action

Apology of Action

Selamat sore semuanya, apa kabar hari ini? Semoga kita semua sehat-sehat selalu ya. Saya sedang berada di atap Mall Kota Kasablanka, menemani Kiran berenang. Di kejauhan saya melihat dua orang anak laki-laki mengambil kacamata renang seorang anak perempuan, adik salah satu anak laki-laki sepertinya. Si anak perempuan itu menangis dan kedua anak laki-laki itu dimarahi oleh seorang perempuan. Saya jadi ingat kejadian Selasa lalu di rumah bibi Nada.

Waktu itu terjadi insiden yang melibatkan duo sahabat Kiran dan Ahsan ketika sedang berkegiatan di rumah Alma. Insiden tersebut mengakibatkan hancurnya mainan pesawat milik Alma dan Maji sampai berkeping-keping. Memang apa yang dua anak ini lakukan? Jadi sepertinya mereka ingin mengetahui hubungan antara barbel 1 kilo, pesawat replika plastik besar dan gaya gravitasi bumi. Mereka menjatuhkan barbel 1 kilo itu ke atas pesawat plastik Alma. Hasilnya sudah bisa ditebak, hancur minaahh itu pesawat.

Apology of Action

Korban

Mengetahui pesawatnya hancur, Ahsan dan Kiran meminta maaf kepada Alma. Tapi apa gunanya polisi kalau masalah bisa selesai hanya dengan meminta maaf? Meskipun Alma memaafkan Kiran dan Ahsan, tetap ada konsekuensi yang harus mereka lakukan. Mereka harus mengganti pesawat mainan Alma yang rusak. Kalau di ilmu keguruan yang saya pernah pelajari, konsekuensi yang Kiran dan Ahsan harus jalani ini disebut Apology of Action, yaitu permintaan maaf yang diiringi oleh tindakan nyata sebagai rasa tanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. You break it, you fix it, istilahnya begitu. Kamu merusakkan mainan aku, kamu harus perbaiki. Tidak bisa diperbaiki? Ganti dengan yang baru. Jadi dengan konsekuensi logis seperti ini, diharapkan anak akan belajar dari perbuatan mereka sehingga di kemudian hari tidak melakukannya lagi. Ada 3 jenis konsekuensi logis yang bisa diterapkan kepada anak-anak, nanti akan saya bahas ditulisan selanjutnya.

Jadi apa konsekuensi logis yang Kiran dan Ahsan lakukan? Berdasarkan diskusi antara Kiran dan Ahsan yang didampingi oleh kedua orang tua, mereka sepakat akan mengumpulkan uang untuk mengganti pesawat Alma. Harga pesawat tersebut menurut Bibi Nada sekitar 80 ribu, jadi Kiran dan Ahsan akan patungan masing-masing 40 ribu dan akan membeli pesawat tersebut bersama-sama. Di rumah, Kiran dan Ahsan berdiskusi dengan orang tua masing-masing tentang bagaimana cara mengumpulkan uang.

Pada hari Rabu, saya berdiskusi dengan Kiran, bagaimana caranya mengumpulkan uang. Awalnya Kiran mau membuat kartu dan menjualnya ke om dan tantenya, tapi karena anaknya ogah nulis banyak, ide itu dicoret. Ide selanjutnya Kiran mau menjual beberapa mainannya, tapi karena galau tak berkesudahan, coret lagi hehe. Sampai akhirnya tersebut ide membuat kue. Kebetulan setiap hari Jumat itu Cooking Project Day, jadi sekalianlah kami berproject ria membuat Genji Pie cookies. Kenapa Genji Pie cookies? Kebetulan Kiran suka sekali makanan itu, dan berhubung membuatnya gampang banget dan cepat, jadilah kue tersebut kami eksekusi.

Hasil diskusi kami tulis di papan diskusi. Sebenarnya Kiran punya cukup uang miliknya untuk membeli pesawat baru, tapi saya dan ayahnya sepakat untuk tetap menyarankan Kiran mencari uang. Niat kami untuk mengajarkan tanggung jawab kepada Kiran atas segala tindakan yang dilakukannya. Judulnya jualan, padahal modal membeli bahannya saja 70 ribu dan diambil dari uang tabungan Kiran hahahaha.

Biasanya kalau cooking project sama Kiran itu ngga lama, at least Kiran membantu di awal-awal untuk mencampur bahan dan mencetak beberapa kali dan di akhir untuk menyapu lantai dan membereskan peralatan. Karena fokusnya masih singkat, biasanya saya yang meneruskan perjuangan sampai selesai. Nah untuk cooking project kali ini Kiran benar-benar melakukan dari awal sampai akhir. Mulai dari mencetak adonan, memotong, memasukkan ke stoples, sampai mempromosikan hasil kuenya ke pembeli. Cooking project kami mulai dari jam 10 dan selesai jam 3. Waktu yang cukup lama untuk Kiran karena teman-teman di rumah sudah bolak-balik memanggil Kiran untuk mengajak bermain bersama. Tapi karena project kuenya belum selesai, Kiran tidak bisa bermain. Terlihat wajahnya sedih karena tidak bisa bermain dengan temannya dan kami harus mengingatkan Kiran kembali kenapa ia harus melakukan project ini. Untuk satu stoples kue dijual 15 ribu rupiah. Alhamdulillah dagangan (hasil nodong om tante kakek dan ayah) laris manis hehe.

Di malam hari, saya mengulas kembali kegiatan hari ini dengan Kiran, saya senang Kiran bisa mengalami konflik seperti ini. Semoga apa yang Kiran dan Ahsan pelajari dari konsekuensi yang mereka lakukan, membuat mereka lebih berhati-hati lagi ketika bermain.