Perayaan Natal Jakarta Homeschool Club 2015

Perayaan Natal Jakarta Homeschool Club 2015

Salah satu alasan kami menjalani model pendidikan rumah bagi Kiran adalah penguatan karakter. Fokus utama pendidikan kami berada pada pendidikan karakter daripada akademis. Banyak hal yang berkaitan dengan pendidikan karakter di antaranya adalah memiliki toleransi terhadap orang lain terlepas dari status dan kepercayaannya. Tidak ada satu manusia terlahir memiliki “label”, manusia dewasalah yang memberikan status dan label sehingga hubungan di antara individu semakin jauh dari rasa kemanusiaan.

Kami menyadari bahwa untuk memiliki sikap bertoleransi memerlukan perjalanan panjang dan pemahaman terhadap sifat ini bukanlah sebuah teori yang bisa kita ajarkan dalam waktu yang singkat. Kenyataannya belajar bertoleransi terhadap orang lain harus berada di dalam situasi “menyaksikan” atau “mengalami” karena hakikatnya mengetahui informasi dan menjalankan apa yang kita ketahui adalah dua hal yang sangat berbeda. Oleh karena itu, saya selalu mencari kesempatan untuk memperkenalkan Kiran kepada hal-hal baru yang mungkin untuk kebanyakan orang dianggap liberal. Tetapi saya selalu yakin bahwa segala sesuatu yang diniatkan dengan baik akan berakhir dengan baik.

Pengalaman kali ini sangat berkesan bagi kami sekeluarga. Semua berawal dari perkenalan kami dengan Ibu Ida Luther dan keluarga pada acara Festival Pendidikan Rumah (FESPER) 2015 di Cibodas pada bulan Agustus lalu. Setelah acara FESPER kami pun berkomunikasi via Whatsapp dan Facebook. Meskipun baru saling mengenal, entah mengapa sepertinya kami seperti sudah kenal lama tidak merasa canggung pada saat berkomunikasi (situasi seperti ini mulai menjadi pola keseharian kami semenjak menjalani pendidikan rumah dan bertemu dengan para praktisi pendidikan berbasis keluarga).

Singkat cerita saya menyampaikan kepada Ibu Ida bahwa kami ingin memberikan kesempatan kepada Kiran untuk merasakan indahnya memiliki sifat toleransi, salah satunya kami selalu mengundang diri kepada teman dekat kami yang beragama kristen yang sudah kami anggap sebagai keluarga pada setiap perayaan natal. Ya, kami yang mengundang diri dan tahun ini akan menjadi perayaan natal kami yang kelima bersama sahabat kami. Oleh karena itu, Ibu Ida pun tidak ragu untuk mengundang kami menghadiri acara perayaan natal Jakarta Homeschool Club (JHC) yang diselenggarakan pada tanggal 5 Desember 2015 di Jakarta Design Center.

Konsep acara ini patut ditiru karena minim sampah. Setiap keluarga membawa makanan yang bisa dibagikan kepada semua orang yang hadir dan setiap orang harus membawa peralatan makannya sendiri. Kami pun datang tepat pada waktu yang telah ditentukan dan langsung disambut oleh Kim (putri Ibu Ida). Acara ini dipandu langsung oleh Ibu Ida dan kami pun baru mengetahui kemudian bahwa Ibu Ida ternyata adalah salah satu dari tiga orang pendiri JHC.

Ada rasa waswas karena ini pertama kalinya kami bertemu dengan orang-orang di JHC dan pada saat acara yang sangat spesial bagi mereka. Apalagi JHC adalah komunitas homeschooling kristen dan kami adalah satu-satunya keluarga non-kristen yang hadir pada acara tersebut. Tetapi semua kekhawatiran itu langsung sirna ketika kami disambut dengan sangat ramah oleh setiap anggota JHC sejak awal kedatangan kami, bahkan kami pun terharu karena setiap makanan diberikan label dengan keterangan halal dan tidak halal dan beberapa orang mengingatkan kami menu apa saja yang halal pada saat makan malam berlangsung. Ada beberapa nama yang kami langsung kenal seperti Ibu Lenny dan Lina kemudian Ibu Dewi yang membantu saya menyisihkan makanan tidak halal karena saya salah mengambil.

Ibu Ida (paling kiri) dan Ibu Lenny (paling kanan)

Selama kami berada di acara tersebut, tidak sedikit pun kami melihat ada pandangan aneh baik dari anak-anak maupun orang dewasa JHC. Keberadaan Bunda Kiran yang berkerudung pun tidak terlihat mengganggu mereka. Bahkan kami pun diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri dan berbagi di bagian acara “Family Sharing Moment” di mana setiap keluarga menyampaikan rasa syukurnya dan kesan-kesan mereka dalam menjalani pendidikan rumahnya masing-masing tahun ini. Pola lainnya pun terlihat ketika para praktisi pendidikan berbasis keluarga ini mulai mendapatkan berkah dan kebahagiaan dari pendidikan rumah yang mereka jalani. Pengalaman perbaikan kehidupan di dalam keluarga ini selalu saya dengar dari para praktisi pendidikan rumah dan sedikit demi sedikit keluarga kami pun merasakannya.

Ada satu kegiatan di dalam rangkaian acara tersebut yang sangat berkesan bagi kami dan khususnya Kiran, di mana Ibu Ida memberikan Character Recognition Certificate kepada semua anak JHC atas pencapaian mereka hasil observasi keseharian mereka pada saat berkegiatan di JHC. Setiap anak menantikan namanya dipanggil ke depan untuk menerima sertifikat tersebut dan terlihat sangat senang ketika menerima sertifikatnya. Tanpa diduga di akhir pemberian sertifikat itu, ternyata nama Kiran dipanggil. Dari interaksi Kiran pada saat acara FESPER bersama Ibu Ida sekeluarga, Kiran pun mendapatkan sertifikat dengan kualitas karakter Tolerance. Kiran pun merasakan sensasi kebahagiaan menerima sertifikat tersebut. Senyumnya melebar dan matanya berbinar pada saat namanya dipanggil ke depan oleh Ibu Ida.

 

Berikut ini adalah dokumentasi acara tersebut: 

Tidak terasa tiga jam pun telah berlalu dan kami menikmati setiap menitnya bersama keluarga JHC. Meskipun tidak banyak bercengkerama dengan para orangtua JHC, tetapi bahasa tubuh dan cara mereka menerima kami sangat membuat kami merasa nyaman. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ida dan seluruh keluarga JHC atas keramahan dan kehangatannya menerima kami sekeluarga. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan untuk lebih mengenal satu sama lain. Kami pun berharap Kiran dapat mengenang pengalaman malam itu dan menjadikannya sebagai contoh yang baik sikap bertoleransi antar umat beragama.

Seandainya semua orang bisa saling bertoleransi seperti ini tanpa memandang warna kulit, negara, dan khususnya agama. Bisa dibayangkan indahnya persatuan di dunia ini hidup rukun berdampingan seperti cuplikan lagu Imagine yang dilantunkan John Lenon di bawah ini.

. . .
Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one
. . .

Ulasan Film Dino yang Baik (The Good Dinosaur)

Ulasan Film Dino yang Baik (The Good Dinosaur)

Kemarin malam kami menonton film terbaru karya Disney Pixar yang berjudul The Good Dinosaur. Awalnya sedikit terkejut ketika sedang memesan tiket melalui layanan m-tix 21 Cineplex, karena judul paling atas yang saya lihat adalah “Dino yang Baik”.  Kemudian ketika saya menggulung layar ke bawah barulah muncul judul The Good Dinosaur. Ternyata ada dua judul film yang berbeda. Pada saat menonton cuplikan filmnya, tidak terlihat begitu menarik dan rancangan poster film yang terlihat biasa juga membuat saya berpikir untuk membatalkan pemesanan tiket yang sedang saya lakukan.

Dino Yang Baik

Dino Yang Baik

Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya saya memutuskan untuk menonton film yang sudah disulihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia. Entah mengapa setelah memesan tiket ada beberapa pertanyaan yang muncul di dalam pikiran saya, apakah mutu bahasanya bagus, apakah pengisi suaranya bisa menjiwai karakter yang disuarakan, apakah ceritanya bagus atau tidak dan apakah pengisi suara yang dipilih cocok untuk mengisi suara setiap karakter. Entah mengapa pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Mungkin karena saking langkanya pilihan tayangan anak-anak yang bermutu (baik dari sisi cerita maupun bahasa) bisa kita nikmati.

Banyak nilai-nilai baik yang bisa dipetik dari film tersebut, khususnya masalah keberanian. (Saya tidak akan bercerita banyak mengenai cerita filmnya supaya tidak merusak suasana pembaca yang berniat menonton film ini)

Cerita yang Emosional

Kami bertiga sangat menikmati film yang berdurasi 100 menit tersebut. Alur ceritanya mudah diikuti dan dipahami oleh anak-anak dan disajikan dengan sangat baik sehingga membuat emosi kami bercampur aduk. Bahkan Kiran pun sangat berfokus menonton dan sempat menitikkan air mata di beberapa bagian sampai berbisik kepada kami “I think I need a hug”.

Animasi Realistis

Mutu animasi karya Pixar yang sudah tidak diragukan lagi dibuat dengan apik dan semakin terlihat nyata membuat saya semakin berdecak kagum terhadap para pembuatnya. Segala sesuatu yang ditayangkan terlihat sangat nyata kecuali untuk karakter-karakternya. Saya memberikan acungan dua jempol untuk buah karya kerjasama tim Pixar yang telah bekerja keras demi menyajikan visualisasi yang bisa membuat penontonnya terpukau.

Mutu Bahasa

Sesampainya di rumah saya langsung mencari informasi mengenai alasan dibuatnya film ini dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan penuturan Amit Malhotra, selaku General Manager The Walt Disney Company Asia Tenggara, Indonesia merupakan salah satu pasar utama Disney Pixar di Asia Tenggara dan  berharap masyarakat Indonesia dapat menangkap pesan dalam film tersebut dengan lebih mudah setelah disulih suara ke bahasa Indonesia.

Indonesia merupakan satu dari tiga negara yang akan disuguhi The Good Dinosaur versi dubbing. Oleh karena itu kita harus menyambut baik usaha yang telah dilakukan oleh pihak Walt Disney. Terlepas dari sisi bisnis, saya melihat sebuah harapan baru dalam industri film yang bisa diikuti oleh para pembuat film di tanah air.

Mutu bahasa yang disajikan pun patut diacungi dua jempol karena menggunakan bahasa Indonesia standar (baku) tetapi tidak terdengar “kaku” untuk didengarkan. Terlihat komitmen dari pihak Walt Disney untuk menyajikan film berbahasa Indonesia baku yang tidak terpengaruh oleh dialek lokal, khususnya dialek Jakarta.

Kredit lainnya harus kita berikan kepada penerjemah naskah film dan para pengisi suara yang telah bekerja keras untuk memberikan pengalaman menonton film berbahasa Indonesia yang baik dan sangat bisa dinikmati oleh semua usia. Jika banyak film asing lainnya yang disulihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia, tentunya akan mengangkat profesi penerjemah dan pengisi suara ke lini depan industri perfilman kita.

Pengakuan

Hal lainnya yang membuat saya mengagumi hasil karya ini adalah dipampangnya kredit pengisi suara pada bagian paling atas dari semua kredit yang ditayangkan di akhir film. Ada perasaan yang berbeda ketika saya membaca nama-nama Indonesia dipampang paling atas dari kredit film yang dibuat oleh produsen film tersohor di dunia. Ada perasaan haru dan bangga ketika produsen film memberikan pengakuan kepada para pengisi suara karena atas usaha merekalah film yang mereka bisa lebih tepat sasaran dan lebih bisa dinikmati oleh para penontonnya tanpa adanya kendala bahasa.

Pemutar Film

Selain pihak produsen film, kita pun harus memberikan kredit kepada pihak pemutar film yang bersedia menayangkan film tersebut di dalam dua bahasa dengan jadwal tayang yang berbeda sehingga bisa mempermudah penonton untuk menikmati film tanpa harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris.

Kesimpulan

Kesimpulan saya, film ini telah dibuat dan dipersiapkan dengan sangat baik untuk dinikmati secara khusus oleh masyarakat Indonesia. Sebagai orang Indonesia, saya sangat tersanjung dengan adanya film ini dan ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat. Saya sangat menyarankan orang-orang yang berniat menonton film ini untuk menonton versi bahasa Indonesia supaya bisa mendapatkan pengalaman baru sekaligus memperkenalkan anak-anak terhadap film berbahasa Indonesia yang sangat bermutu.

Meskipun kategori film ini untuk semua umur, tetapi saya tidak menyarankan anak di bawah umur 5 tahun untuk menonton karena ada beberapa adegan yang dikhawatirkan akan membuat anak-anak takut karena efek suara yang sangat keras misalnya. Kiran yang berumur lima tahun terlihat sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir dan sangat menyukai karakter “Papa T-rex”. Banyak adegan yang bisa dijadikan bahan diskusi bersama anak untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan dari film ini.

Penasaran dengan film ini, segera kunjungi bioskop terdekat.

Mengunjungi Komunitas Oerang Kampoeng

Mengunjungi Komunitas Oerang Kampoeng

Beberapa bulan lalu saya berkenalan dengan seseorang di jejaring sosial Facebook yang ternyata adalah kakak kelas saya di SMA dulu. Nama panggilannya Kang Adun. Saya memerhatikan di beberapa status Facebook Kang Adun ada kegiatan-kegiatan yang cukup menarik. Setelah mengobrol melalui Blackberry Messenger, ternyata Kang Adun sedang merancang sebuah program kebudayaan berbasis komunitas dengan nama Komunitas Oerang Kampoeng yang berlokasi di Cicalung.

Karena tertarik dengan program yang sedang dirancangnya, saya pun membuat janji untuk mengunjungi komunitas tersebut karena kebetulan dalam waktu dekat akan mengunjungi orangtua saya di Cicalengka. Singkat cerita, akhirnya saya dan Bunda Kiran pun mengunjungi tempat mereka berkumpul dan berkegiatan yang ternyata tempat tersebut adalah rumah dari teman SMA saya, Deni, meskipun dulu tidak berteman akrab dan sebatas kenal saja. Sayangnya Kiran tidak mau ikut berkunjung dan lebih memilih bermain bersama kakeknya melepas rindu karena sudah lama tidak mengunjungi kakek dan neneknya.

Ketika kami tiba di lokasi, terlihat beberapa anak mengenakan baju pangsi sunda sedang berkumpul dan kami pun disambut oleh keramahan Kang Adun. Kami dipersilakan memasuki saung bambu yang berisikan anak-anak dengan rentang usia 8 sampai 13 tahun yang sedang belajar bahasa Inggris. Sesaat kemudian Kang Edo, guru bahasa Inggris anak-anak tersebut datang dan memulai kelasnya. 

Pelajaran Bahasa Inggris

Karena anak-anaknya bersekolah dari hari Senin sampai hari Sabtu,  kegiatan pun hanya dilakukan setiap hari Minggu. Kegiatan yang dilakukan adalah berkebun, belajar bahasa Inggris, dan belajar kesenian tradisional. Kegiatan ini sudah berjalan selama satu setengah tahun dan telah mengumpulkan sekitar 50 orang anak yang datang dari berbagai lokasi secara sukarela. Bahkan ada beberapa anak yang rela berjalan berkilo-kilo hanya untuk bermain dan berkegiatan bersama di komunitas ini. Berkat arahan Kang Adun dan teman-temannya, anak-anak tersebut dilatih untuk berani tampil dan menguasai keterampilan bermain alat musik tradisional, berbahasa Inggris, dan berkebun.

Tujuan dari dibentuknya komunitas ini adalah untuk memberikan edukasi kepada warga sekitar untuk tidak meninggalkan kebudayaan yang dimilikinya. Saat ini Kang Adun dan teman-temannya sedang merancang beberapa program untuk ditawarkan kepada sekolah-sekolah di sekitarnya supaya anak-anak sekolah bisa mengenal dan tidak melupakan kebudayaan Sunda.

Berikut ini kegiatan yang dilakukan di Komunitas Oerang Kampoeng

Semoga dengan segala keterbatasannya komunitas ini bisa menjalankan visi dan misinya untuk melestarikan kebudayaan Sunda dan keberadaannya memberikan manfaat bagi banyak orang.

Teka-Teki Kata “Gegara” dan “Tetiba”

Teka-Teki Kata “Gegara” dan “Tetiba”

Belakangan ini bahasa gaya yang terjadi di jejaring sosial marak terjadi, di antaranya adalah kata “tetiba” dan “gegara”. Ketika saya menelusuri internet, kata-kata tersebut sudah dikenal selama beberapa tahun terakhir, tetapi masih menjadi pertanyaan besar asal-muasalnya. Karena penasaran, akhirnya selama beberapa hari ini saya menelusuri beberapa tautan di bawah untuk saya pelajari. Selain itu juga saya berdiskusi dengan seorang teman yang membantu saya memahami istilah-istilah linguistik ketika membuka buku Kamus Linguistik.

http://rainiku.tumblr.com/post/39065796041/fenomena-bahasa-yang-tetiba-jadi-gegara

https://renjanatuju.wordpress.com/2013/02/13/bahasa-tetiba-dan-gegara/

http://tatabahasayangbaik.blogspot.co.id/2013/02/kata-ulang-dwipurwa.html

https://nugie28.wordpress.com/2013/02/09/tetiba-memperdebatkan-gegara/

http://www.kompasiana.com/d.sulistiowati/kreasi-bahasa-indonesia-penggunaan-kata-ulang-dwipurna-semakin-populer_5517be59a333114907b6606a

Semua tulisan di atas memiliki teori yang sama untuk mendukung keberadaan kata “tetiba” dan “gegara”. Mereka menjelaskan bahwa kedua kata tersebut bisa dibentuk karena adanya Kata Ulang Dwipurwa. Namun sepertinya pengertian kata ulang dwipurwa masih belum dipahami dengan benar sehingga contoh-contoh yang diberikan tidak konsisten dan terkesan bertabrakan ketika mencoba menjelaskannya.

Mari kita kupas dari arti kata ulang dahulu. Kata ulang adalah kata yang terjadi hasil proses reduplikasi atau pengulangan pada kata dasar. Reduplikasi atau perulangan adalah proses pengulangan kata atau unsur kata. Reduplikasi juga merupakan proses penurunan kata dengan perulangan utuh maupun sebagian. Contohnya adalah “anjing-anjing”, “lelaki”, “sayur-mayur” dan sebagainya.

Kata ulang dwipurwa merupakan pengulangan sebagian atau seluruh suku awal sebuah kata atau pengulangan suku kata awal. Dari hasil pengecekan saya tidak ada satu sumber pun yang saya periksa menjelaskan bahwa kata ulang dwipurwa dibentuk dari bentuk ulang sebuah kata, misalnya, “tetangga” bukanlah dwipurwa dari “tangga-tangga”. 

Perhatikan suku kata awal dari setiap kata di bawah ini

tamu tetamu
laki   lelaki
tangga tetangga
sekali sesekali
sama sesama
luhur leluhur

Bisa dilihat dari contoh di atas bahwa dwipurwa hanyalah sebuah konsep pembentukan kata. Kata ulang dwipurwa memiliki makna yang berbeda dengan makna kata dasarnya. Jika kita perhatikan, kata “tetangga” memiliki makna yang berbeda dari kata “tangga”. Begitu pula pada kata “leluhur” tidak berkaitan dengan kata “luhur”.

Pembentukan kata di atas tidak dibentuk dari kata ulang. Seperti pada kata lelaki merupakan perubahan bentuk dari kata “laki”, bukan “laki-laki”. Kata “tetamu” juga dibentuk dari kata “tamu” bukan “tamu-tamu”.

Masalahnya adalah “tiba-tiba” dan “gara-gara” bukanlah hasil dari kata ulang melainkan  bentuk dasar kata tersebut, dan tidak berasal dari kata dasar “tiba” dan “gara” karena “tiba” dan “gara” memiliki arti tersendiri yang sama sekali tidak berkaitan dengan “tiba-tiba” maupun “gara-gara”. Contoh kata lainnya adalah “laba-laba” yang tidak memiliki arti yang sama dengan kata “laba”.

Oleh karena itu, jika kita ingin menerapkan konsep pembentukan kata ulang dwipurwa pada kata “gara-gara” dan “tiba-tiba” pembentukan kata yang seharusnya terjadi adalah “gegara-gara” atau “tetiba-tiba”.

Fenomena “bahasa gaya” ini memang menarik dan tidak ada salahnya digunakan untuk memperkaya kosakata di dalam berkomunikasi. Tetapi harus jelas apakah memang kata tersebut termasuk dalam kosakata bahasa Indonesia atau tidak. Semoga informasi ini bisa membantu menjelaskan ketidaktepatan penggunaan kata “gegara” dan “tetiba” dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik.

Rujukan :

https://id.wikipedia.org/wiki/Reduplikasi

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/index.php

https://id.wikipedia.org/wiki/Dwipurwa

https://id.wikibooks.org/wiki/Bahasa_Indonesia/Kata_ulang

http://www.berpendidikan.com/2015/05/macam-macam-kata-ulang-dan-contohnya.html

Kamus Linguistik Edisi Ketiga (Harimurti Kridalaksana)

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat

Kedudukan Bahasa Indonesia Saat Ini

Kedudukan Bahasa Indonesia Saat Ini

Belakangan ini saya sering mendengar, membaca dan bahkan berdiskusi mengenai persoalan kedudukan bahasa Indonesia. Saya bukanlah seorang ahli bahasa tetapi kebetulan saya memiliki ketertarikan untuk lebih mengenal bahasa Indonesia karena pekerjaan saya berkaitan dengan pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing. Menurut saya, ketika kita ingin melihat kedudukan sebuah bahasa, kita harus bisa melihatnya secara utuh dan menyeluruh, tidak dilihat dari satu sisi atau pun beberapa sifat dari bahasa itu sendiri.

Ketika kita membicarakan masalah kebahasaan, argumen dari sisi semantik (ilmu tentang makna kata dan kalimat) dan sintaksis (ilmu tata kalimat) contohnya, akan selalu berbenturan karena setiap sudut pandang memiliki nilai-nilai yang dianutnya. Tanpa bermaksud menyederhanakan kerumitan yang melekat pada bahasa Indonesia, saya ingin mengajak para pembaca untuk melihat bahasa Indonesia seutuhnya sebagai sebuah identitas diri dan bangsa.

Sebuah bahasa akan tetap ada jika ada penuturnya. Oleh karena itu, memastikan setiap orang menggunakan bahasanya adalah sebuah kunci keberlangsungan bahasa itu sendiri. Menggunakan bahasa dengan baik sesuai dengan segala sesuatu yang melekat pada bahasa itu sendiri sama halnya dengan berkendara di jalan raya. Seseorang yang sudah memiliki pemahaman tentang kemanan berkendara di jalan raya dan memahami segala risiko yang mungkin timbul terhadap dirinya dan orang lain adalah seseorang yang memiliki martabat (tingkat harkat kemanusiaan). Sama halnya dalam berbahasa. 

Jika seseorang secara sadar “melanggar” sebuah peraturan atau rambu lalu lintas, tentunya tidak benar untuk “membenarkan” pelanggaran tersebut dari sisi mana pun baik secara kontekstual maupun situasional (misalnya karena alasan darurat, terburu-buru, terlambat masuk kerja atau alasan lainnya). Begitu juga dengan berbahasa, kita tentunya tidak benar (bukan masalah bisa atau tidak bisa) ketika seseorang secara sadar bahkan terbiasa untuk berbuat salah dalam berbahasa demi alasan konteks dan situasi. Padahal setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia sudah dilengkapi dengan berbagai fiturnya untuk memenuhi kebutuhan para penuturnya dalam setiap konteks dan situasi yang diperlukan.

Saya ingin mengajak para pembaca untuk melihat pemakaian bahasa Indonesia ini sebagai bentuk kesadaran diri masyarakat yang bermartabat dan tidak melihatnya dari sudut pandang peraturan semata.

Jika kita memiliki informasi untuk menggunakan bahasa Indonesia dan lebih memilih untuk tidak menggunakannya, tentunya tidak adil untuk mempertanyakan kedudukan bahasa Indonesia. Lebih tepatnya yang harus kita pertanyakan adalah kedudukan kita sebagai penutur bahasa tersebut. Dalam berbahasa Indonesia misalnya, seseorang yang bertutur kata dengan baik akan dianggap sebagai “mahluk aneh”, sehingga antara pihak kesatu dan pihak lainnya akan berdebat mengenai apa yang “lebih berterima” digunakan sesuai dengan konteks dan situasinya.

Sayangnya tidak banyak yang menyadari bahwa bahasa adalah bagian dari identitas setiap individu. Bagaimana individu itu memahami penggunaan sebuah bahasa dan menggunakannya untuk mengomunikasikan pikirannya masih belum begitu dipahami dengan baik oleh masyarakat kita. Tentunya berbahasa dengan baik bukan hanya sekadar berkomunikasi dan menghormati lawan bicara tetapi juga menunjukkan martabat dari individu itu sendiri.

Berbahasa dengan baik juga bukan hanya perkara enak didengar atau tidak oleh lawan bicaranya. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, sulit sekali untuk menyapa seseorang dengan dengan panggilan “bapak” atau “ibu” sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang diajak bicara. Secara otomatis setiap orang akan berkomentar bahwa dirinya tidaklah tua dan lebih memilih untuk dipanggil “mas” atau “mbak” atau bahkan nama. Dengan kata lain, orang yang bermartabat dan ingin menghormati orang lain “dipaksa” untuk menurunkan derajatnya hanya dengan alasan keluwesan berbahasa, kepraktisan berbahasa, konteks dan situasi yang terjadi di antara orang-orang tersebut. Sekali lagi, saya ingin mengajak para pembaca untuk melihat masalah kebahasaan ini sebagai refleksi bagi kita semua bahwa masalahnya terletak di penuturnya bukan bahasanya.

Apakah kita menginginkan anak-anak kita mampu berbahasa Indonesia dengan baik? Pertanyaan besarnya, Apakah kita mampu memberikan contoh yang baik? Kebutuhan terhadap sesuatu akan ada jika orang-orang tetap menggunakannya. Berdasarkan situasi ini terbentuklah Masyarakat Peduli Bahasa Indonesia (MPBI). Berikut ini adalah landasan pemikiran dari Masyarakat Peduli Bahasa Indonesia yang ditulis oleh teman saya Bayu (Kepala Divisi Pengkajian Bahasa Indonesia dan Pengembangan Kurikulum di Language Studies Indonesia) :

Pada tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia berjanji untuk berbahasa satu sebagai perwujudan kesatuan bangsa. Bahasa yang dipilih bukanlah bahasa Indonesia dengan embel-embel (bahasa Indonesia “gado-gado”: bahasa Indonesia-Inggris, Indonesia-Jawa, Indonesia-Sunda & campuran lainnya. Tidak juga bahasa Indonesia dengan pemotongan di sana-sini: bahasa gaul, bahasa prokem dan lainnya) tetapi bahasa Indonesia yang sebenarnya (yang memang sejatinya hanya satu) yaitu bahasa Indonesia yang baku (standar). Ke manakah komitmen itu kemudian? semua unsur bangsa seperti tanpa sadar telah bersepakat untuk menghapus bahasa standar tersebut, dalam terminologi studi kebahasaan bahkan disebutkan secara personifikatif “membunuhnya”. Bahkan bila diizinkan saya akan meminjam istilah yang digaungkan oleh David Crystal, seorang bahasawan berkewarganegaraan Inggris untuk menggambarkan secara tepat peristiwa ini Language Suicide (bunuh diri bahasa), yang secara umum menyatakan bahwa telah terjadi sebuah pemusnahan bahasa yang dilakukan oleh penuturnya sendiri.

Hal ini (pemusnahan bahasa) tidak terlalu menjadi soal bila kita (anak bangsa) memang bersepakat melakukan itu, dengan alasan tertentu seperti membuat bahasa baru yang lebih relevan dengan kebutuhan kita. Pertanyaan selanjutnya, apakah kita semua melakukan hal ini dengan sadar? Apakah kita semua melakukan ini atas dasar keinginan kita? Bila jawabannya tidak, asumsi yang timbul kemudian adalah kita sebagai bangsa tidak sadar kita sedang bersama-sama melakukan pembunuhan tersebut.

Banyak orang yang kemudian menyerah kepada kenyataan “betapa beragamnya bangsa Indonesia” yang kemudian dijadikan dalih empiris untuk tidak memperjuangkan kebakuan bentuk bahasa Indonesia. Pendahulu kita telah melihat keberagaman kita, sehingga mereka berpikir bahwa sebelum menyatukan hati, jiwa, semangat, salah satu bagian terpenting yang harus diseragamkan (melalui sumpah pemuda) adalah Bahasa, yang kemudian ditetapkanlah bahasa Indonesia sebagai bahasa identitas SATU-SATUNYA.

Bila kemudian kita menyerah kepada keberagaman kita untuk mengindonesiakan bahasa Indonesia, dengan dalih “setiap orang berhak berkomunikasi dengan cara dan bahasa yang dipilihnya sebagai wahana mewariskan budaya kelokalannya”, antitesis untuk pendapat tersebut adalah, ”lalu mengapa sepupu saya yang tinggal di Lhoksumawe bisa fasih sekali berdialek Jakarta!? (menggucapkan /nggak/ atau /gak/ misalnya)”. Bila sumber tuturan bahasa tersebut jaraknya ratusan kilometer dan berhasil menyerap ke dalam pemakaian sehari-hari dan terjangkau, lalu mengapa bahasa Indonesia tidak ada dalam tuturan sehari-hari di lokasi yang sama saat bahasa ini punya lebih banyak sumber (bacaan, tulisan pemerintahan: pengumuman, imbauan, surat negara dan contoh lainnya)?

Fenomena berikutnya, bagaimana bisa media cetak yang menjadi sumber bacaan bahasa tersebut kemudian ikut berkontribusi mengaburkan makna leksikal (makna kata dalam kamus) hanya demi keuntungan yang sebesar-besarnya.

Sumber kompas.com (09/11/2015 jam akses 15.04)

Daftar judul berita:

  1. Peneliti Temukan Cara Efektif Tenangkan Bayi Menangis. Sumber
  1. Kontras : Polisi Hanya Tangkap “Otak Kecil” Kasus Pembunuhan Salim Kancil. Sumber
  1. Terminal Mewah Pulo Gebang Hanya Jadi Tempat Tidur Sopir dan Tunawisma. Sumber

Dari sekian banyak judul berita ketika situs tersebut terakses, kita bisa melihat bahwa “hanya dari judul saja” dapat kita simpulkan mereka tidak ingin kehilangan keuntungan atau “mengirit kolom” dengan menghilangkan (menimalkan) penggunaan imbuhan (dalam kasus ini kebetulan semua kalimat membutuhkan awalan Me-).

Untuk diingat, yang kita bicarakan adalah bahasa Indonesia baku, tanpa embel-embel apapun. Bahkan bila dipaksakan menciptakan embel-embel “media massa”. Tidak ada lagi jawaban yang lain kecuali, ”bahasa ini tidak lagi menjadi pilihan”.

Kedua hal tersebut (mengasingnya penggunaan dan penyederhanaan bahasa) adalah ciri-ciri proses kepunahan bahasa. Apakah hal ini masih menjadi hal yang tidak penting lagi?

Lalu bagaimanakah cara pandang kita sebagai bangsa? adakah yang tersisa? Memang betul, bahasa daerah adalah akar bahasa nasional, yang menopang keberlangsungan bahasa tersebut. Tetapi bukankah kita memerlukan cara pandang kolektif sebagai bangsa, dan bagaimana cara pandang itu bisa tercipta bila perantara komunikasi dan alat bertukar pikiran (bahasa) rusak? Atau malah kemudian menjadi asing? Hal yang sangat logis terjadi kemudian adalah superioritas bahasa lokal satu terhadap yang lainnya, yang pasti akan membunuh bahasa lokal yang tidak terpilih. Lalu bahasa apa yang akan kita miliki?

Pemerintah bukan tidak melakukan apapun, melalui badan bahasa yang luar biasa bekerja keras membuat berbagai gerakan, mereka berusaha memelekkan masyarakat untuk menyemarakkan lagi bahasa Indonesia. Hanya saja, entah bagaimana tidak ada gebrakan yang terasa. Undang-undang sudah ada, kongres bahasa sudah ada, berbagai seminar kebahasaan sudah ada, entah apa lagi yang tidak tersentuh.

Oleh karena itu, pilihan ada di tangan kita yang menyadari bahwa pembunuhan ini sedang berlangsung secara masif dan agresif untuk turun tangan ataukah berpangku tangan. Dengan rasa keprihatinan terhadap bahasa Indonesia yang sedikit demi sedikit terlupakan, saya bersama teman saya ingin mengajak para pembaca untuk bergabung dalam Masyarakat Peduli Bahasa Indonesia (MPBI). Tujuan dari gerakan ini adalah untuk membangun kesadaran pemakaian bahasa Indonesia dengan cara mendokumentasikan setiap kesalahan yang terlihat di lapangan sebagai wujud kepedulian kita terhadap pemakaian bahasa Indonesia.

Semoga dengan mendokumentasikannya kita bisa bersama-sama membangun kesadaran diri pribadi dan orang lain untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan bisa lebih mengenal bahasa Indonesia lebih baik lagi. Demi martabat bangsa, identitas diri kita dan identitas anak-anak kita di masa yang akan datang.

Silakan ikuti akun jejaring sosial di bawah ini untuk ikut serta mendokumentasikan dan mengungggah kesalahan pemakaian bahasa Indonesia yang terjadi di sekeliling kita:

twitter : @satubahasakita

Facebook : Masyarakat Peduli Bahasa Indonesia

Instagram : @pedulibahasaindonesia