Camping Ceria

Camping Ceria

Sepertinya bulan Mei pun kami masih belum bisa menerapkan pencatatan perjalanan keluarga kami setiap minggu seperti yang telah direncanakan bulan lalu. Di tengah-tengah kesibukan pekerjaan, tanggung jawab rumah tangga, bersosialisasi, dan berkegiatan bersama Kiran, membuat waktu yang 24 jam terasa sangat singkat.

Banyak sekali kejadian yang tidak bisa direkam dan disimpan untuk kenagan perjalanan keluarga kami dalam menjalani pendidikan rumah kami. Tapi ikatan kekeluargaan kami bersama beberapa praktisi pendidikan rumah lainnya mulai terjalin. Kedekatan antara anak-anak dan orangtuanya mulai terbina, ah alangkah indahnya. Sebuah ikatan tanpa pamrih yang tulus sebagai media sosialisasi sekaligus pembelajaran bagi setiap individu yang terlibat di dalamnya.

Awal bulan Mei kami merealisasikan rencana kami sebelumnya untuk berkemah di tempat salah satu teman kami di Puncak. Bibi Nada (begitulah kami saling menyapa, “bibi” dan “paman”), yang kebetulan adalah pemilik dari restoran Warung Daun, memiliki sebuah tempat di Puncak yang kebetulan juga adalah tempat di mana restoran tersebut menghasilkan sayuran organik yang digunakannya di restoran Warung Daun. Setelah melakukan perencanaan yang cukup menghebohkan bagi seluruh keluarga akhirnya keriaan pun terjadi dan berikut adalah dokumentasi kegiatan berkemah yang diikuti oleh 5 keluarga :

Kebetulan salah satu anak (Adiva) bertepatan merayakan hari kelahirannya yang keempat dan kami melakukan sebuah perayaan kecil untuk saling berbagi kebahagiaan.

Berkemah memang selalu efektif untuk membina kedekatan antara keluarga. Meskipun kegiatan berkemah ini terbilang berkemah modern, tetapi kedekataan antara keluarga mulai terjalin. Para orangtua dan anak-anak bergembira bersama dan berkegiatan bersama, suasana ini telah menciptakan sebuah pusaran kebahagiaan bagi para pelakunya. Gotong royong, saling membantu, saling berbagi dan peduli terhadap orang lain adalah nilai-nilai yang ingin kami tunjukkan kepada anak-anak kami dan semoga mereka bisa melihat, mencontoh dan memahaminya untuk bekal kehidupan mereka kelak.

Terima kasih atas kenangan indahnya teman-teman. Semoga keluarga kita bisa bertumbuh bersama dan selalu berbahagia. Terima kasih Bibi Nada telah menyediakan tempat untuk kami semua dan jamuannya.

Ringkasan Kegiatan Bulan Maret dan April

Ringkasan Kegiatan Bulan Maret dan April

Dua bulan sudah berlalu semenjak kami meresmikan untuk menjalani pendidikan rumah untuk Kiran. Ibarat benih, kami masih berjuang untuk mencari setitik cahaya untuk bisa tumbuh dan bermanfaat bagi alam. Setalah 2 tahun Kiran menjalani masa pendidikan anak usia dini, kami masih merasakan kesulitan dalam menjalani transisi dari model bersekolah ke pendidikan rumah.

Rencana untuk aktif menulis di blog pun tinggallah rencana karena kami masih berjuang mengatur waktu antara pekerjaan dan menjalani hari bersama Kiran. Kami tidak sempat membuat kiriman untuk blog, karena kegiatan yang luar biasa sibuknya. Hal ini membuat saya berpikir untuk lebih berdisplin lagi dan berkomitmen dalam menulis di blog. Sepertinya saya harus belajar untuk lebih mengatur waktu supaya bisa memenuhi target yang saya inginkan. Menulis kiriman setiap minggu akan lebih masuk akal ketimbang menulis kapan saja. Di bulan Mei ini dan ke depannya saya akan mencoba untuk membuat tulisan setiap minggu dan semoga saya bisa melaksanakannya.

Begitu banyak peristiwa selama bulan Maret dan April dan saya ingin merekam peristiwa tersebut untuk kami kenang nanti selagi masih banyak detil yang saya ingat. Berikut ini adalah beberapa peristiwa yang terjadi di bulan Maret dan April dalam pendidikan rumah kami:

Pendidikan Rumah Kiran

Secara resmi kami menjadikan bulan Maret sebagai momentum untuk memulai pendidikan rumah Kiran secara resmi dan bertepatan dengan berakhirnya masa bersekolah Kiran. Sepertinya tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk menjalani pendidikan rumah jika menunggu kesiapan kami sebagai orangtua atau Kiran sebagai anak yang akan menjalaninya.

Ternyata memang benar, banyak sekali tantangannya dalam memulai pendidikan rumah kami. Seperti yang selalu dikatakan praktisi pendidikan rumah lainnya dan buku-buku tentang homeschooling pun selalu memberikan “peringatan” bahwa tahun pertama akan sulit sekali karena saat tersebut adalah awal dari segalanya, sehingga masih banyak hal yang harus dicoba.

Bagi kami ada beberapa hal yang sangat sulit kami jalani seperti: merancang jadwal, melaksanakan kegiatan sesuai perencanaan, memilih kegiatan yang diminati Kiran, dan yang tersulit dari semua itu adalah mencoba membuat anak kami sebagai subjek (pelaku), bukan objek.

Mengingat kami berdua bekerja, kami mencoba membagi tugas untuk bisa mengisi kegiatan yang berarti untuk Kiran. Istri saya menyiapkan segala keperluan dan bahan-bahan untuk keperluan makan siang saya dan Kiran yang nantinya tinggal kami olah.

Setiap pagi kami memulai kegiatan pada pukul 9 pagi meskipun kami sudah bangun dari pagi. Hal ini kami atur untuk memastikan kami bisa memulai kegiatan tanpa ada kendala. Misalnya, bangun kesiangan, Kiran masih belum siap, belum mandi, dan lain sebagainya. Setelah kami melakukan rutinitas 4 Simple Steps kami, barulah kami memulai kegiatan yang diawali dengan kegiatan fisik, seperti bermain sepeda, bermain bola sepak, atau bermain bola ping pong. Setelah itu kami lanjutkan dengan kegiatan membaca. Saya bacakan satu atau dua buku kemudian saya menyuruh Kiran untuk mengulang secara lisan cerita yang telah saya bacakan dan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan cerita tersebut.

Kami sisipkan juga beberapa kegiatan yang berkaitan dengan komputer untuk mengenalkan Kiran pada pengoperasian komputer dengan cara bermain game (untuk belajar matematika), mendengarkan dongeng, mendengarkan lagu dan bernyanyi (untuk belajar bahasa) dengan cara yang menyenangkan karena Kiran beranggapan bahwa dirinya sedang bermain game. Kami menggunakan abcmouse.com dan online resources dari Calvert untuk kegiatan ini. Setiap kegiatan kami rancang berdurasi 30 menit, sekaligus mengenalkan konsep jam juga kepada Kiran. Setiap hari selama 30 menit pun Kiran mendapatkan “hak istimewanya” untuk bisa melakukan apa pun yang dia inginkan tanpa ada larangan dari saya (meskipun tetap saya berikan pilihan seperti bermain mobil-mobilan, menonton, atau bermain tablet).

Pada pukul 11 siang kami pun mulai mengolah bahan-bahan untuk makan siang kami yang sudah disiapkan dengan baik oleh istri saya. Kiran membantu memotong sayuran, menyiapkan piring dan membereskan piring-piring kotor dan mencucinya. Saya pun jadi belajar mengolah makanan 🙂

Kegiatan tersulit adalah pada saat makan siang, ketika Kiran selalu memilih makanan yang ingin dimakannya. Meskipun sulit, setiap hari saya mencoba menanamkan pengertian kepada Kiran bahwa tubuh kita membutuhkan makanan dan tidak semua makanan yang dibutuhkan oleh tubuh akan kita sukai. Proses makan ini biasanya memakan waktu lebih lama daripada proses memasaknya. Makan siang kami biasanya berdurasi 30 menit sampai 1 jam.

Kami mencoba merancang jadwal pendidikan rumah Kiran sebagai berikut ini:

 Hari Kegiatan
Senin Berkegiatan di rumah
Selasa Berkegiatan bersama Tunas
Rabu Berkegiatan bersama Oase
Kamis Berkegiatan bersama Tunas
Jumat Berkegiatan di rumah
Sabtu Berkegiatan di Rockstar Gym
Minggu Berkegiatan di Rockstar Gym

Banjir Informasi

Kekalapan kami sebagai orangtua yang mengumpulkan banyak sumber untuk kegiatan Kiran dan ketidakmampuan kami mengolah informasi yang telah dikumpulkan, benar-benar sebuah pelajaran penting bagi kami untuk benar-benar lebih memerhatikan ketertarikan Kiran dan bukanlah ketertarikan kami sebagai orangtua. “Mengarahkan” Kiran tanpa menghilangkan semangatnya ternyata lebih sulit dari yang kami bayangkan.

Dunia Bermain

Sebuah bukti bahwa anak berusia 5 tahun masih usianya bermain. Kami pun akhirnya belajar menerima bahwa anak kami masih senang “bermain” dan belum siap menerima kegiatan yang terlalu banyak dibumbui “peraturan” atau kegiatan yang terlalu benyak melibatkan pensil dan kertas.

Kami masih berusaha untuk tertarik dengan hal-hal yang membuat Kiran tertarik. Bukanlah hal yang mudah bagi kami dengan keseharian kami sebagai pekerja dan selalu berinteraksi dengan orang dewasa beserta permasalahannya yang timbul dari pekerjaan kami kemudian harus segera mengubah diri kami menjadi playful ketika bersama Kiran.

Transisi Situasi

Transisi dari tempat kerja ke rumah atau sebaliknya sangat penting. Menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan saat sulit mengingat tanggung jawab pekerjaan yang sangat besar. Namun, setiap hari saya harus belajar “berdamai dengan diri sendiri” bahwa saya harus bisa berfokus kepada anak saya ketika bersamanya dan fokus bekerja ketika tidak sedang bersama anak saya. Perasaan bersalah selalu menghinggapi diri saya ketika di Kiran, saya memeriksa surel atau menerima panggilan telepon yang berkaitan dengan pekerjaan. Akhirnya sedikit demi sedikit saya harus menerima bahwa pekerjaan bisa menunggu ketika saya bersama Kiran dan ketika bekerja, saya harus bisa efisien supaya tidak mengganggu kebersamaan saya bersama Kiran.

Menemani Ayah Bekerja

Khusus untuk hari Selasa dan Kamis, sepulang berkegiatan di Tunas, Kiran ikut bekerja bersama saya dan menghabiskan sisa waktunya di tempat kerja saya. Untungnya banyak sekali orang yang peduli terhadap Kiran sehingga saya bisa fokus melaksanakan pekerjaan saya. Kadang-kadang ada kenalan yang berbaik hati mengundang Kiran setiap selasa Kamis siang sampai sore untuk bermain di rumahnya yang lokasinya hanya berjarak 1 kilometer dari tempat kerja saya. Istri saya pun biasanya menemui kami sepulang kerja supaya kami bisa pulang ke rumah bersama-sama.

Berjejaring

Kebetulan di bulan Maret adalah awal dari kebersamaan saya dan Kiran berkegiatan bersama Tunas (sebuah komunitas homeschooling untuk anak usia dini). Kami mulai mengatur jadwal supaya bisa mengikuti kegiatan yang dilakukan setiap hari Selasa dan Kamis di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Dengan sambutan yang hangat dari setiap anggota Tunas mulai dari pertemuan pertama kami di Museum Polri, akhirnya saya lebih terlibat di Tunas. Untuk mempermudah para orangtua berkegiatan bersama anak-anaknya juga supaya lebih anak-anak lebih terarah, akhirnya para orangtua memutuskan untuk merancang kegiatan untuk anak-anak berdasarkan tema.

Tema Kegiatan

Tema untuk bulan April adalah tentang tanaman. Berikut ini adalah beberapa foto kegiatan kami bersama Tunas :

Berkemah di Bumi Perkemahan Ragunan

Di penghujung bulan Maret, kami mencoba mengajak Kiran untuk berkemah. Sudah beberapa bulan ke belakang kami berjanji kepada Kiran akan mengajaknya berkemah. Ketika kami pergi ke sana, Kiran senang sekali karena dan akhirnya tahu rasanya berkemah.

Fieldtrip ke Kebun Raya Bogor

Pada bulan April, kami pergi ke Kebun Raya Bogor untuk menepati janji kami yang lainnya kepada Kiran untuk melihat paus biru (binatang kesukaannya) di Museum Zoologi. Kami pergi bersama pamannya yang kebetulan belum pernah naik KRL. Berdasarkan komentar beliau naik KRL ke Bogor, ternyata tidak beda jauh dengan fasilitas yang ada di negara luar sana (Baru sadar kalau sistem perkeretaapian di Jakarta sudah tertata dengan baik).

Bermain Biola

Ketika orang-orang menanyai Kiran tentang alat musik yang disukainya, Kiran hanya menjawab biola. Pada awalnya kami pun kaget karena tidak pernah memperkenalkan biola kepada Kiran. Ternyata Kiran mengetahui alat musik gesek ini dari tayangan Elmo’s World. Setelah beberapa waktu berlalu pun hanya biola yang disebutkan oleh Kiran. Akhirnya kami pun mencoba untuk meyakinkan diri jika Kiran memang tertarik untuk bermain biola. Kami pun berjanji untuk membelikan Kiran biola jika dia memang ingin bermain biola.

Berhubung harga biola yang tidak murah, saya pun mengajak Kiran ke Taman Surapati untuk melihat orang-orang berlatih bermain biola di taman. Di taman Kiran mendapatkan kesempatan untuk menjajal bermain biola dan setelah itu semangatnya semakin berkobar. Melihat binar di matanya, saya sepulang dari taman, kami pun membeli biola dan berencana untuk berlatih biola setiap minggu di taman tersebut.

Bermain biola Mengenal Biola

Mengikuti Gerakan Ayah Bercerita

Suatu hari di pertengahan bulan April saya mendapatkan informasi mengenai Gerakan Ayah Bercerita. Kegiatan ini adalah pelatihan untuk para ayah yang ingin belajar mendongeng. Beruntung sekali saya berkesempatan mengikuti kegiatan ini yang dilakukan tidak jauh dari tempat tinggal saya. Kebetulan mendongeng adalah salah satu kesulitan terbesar saya yang lainnya selain menggambar. Banyak informasi yang saya dapatkan dari kegiatan ini dan sekarang hanya tinggal melatih kemampuan mendongeng saya untuk Kiran.

Belajar Mendongeng melalui Workshop Gerakan Ayah Bercerita

Gerakan Ayah Bercerita – Grup Condet

Berikut ini adalah pengalaman seru lainnya selama 2 bulan terakhir ini dalam kegiatan pendidikan rumah Kiran:

Di umurnya yang kelima tahun kami sangat senang dengan perkembangan Kiran selama ini, berikut ini adalah beberapa hal yang sebelumnya menjadi perhatian kami dan sekarang Kiran bisa melakukannya dengan baik:

  • bersikap lebih mandiri daripada sebelumnya, seperti menyiapkan keperluannya sendiri, mengenakan pakaiannya sendiri dan menyiapkan alat makannya sendiri.
  • lebih nyaman bertemu dengan orang-orang baru.
  • bisa mengendarai sepeda roda dua
  • bisa berinteraksi bersama anak-anak di bawah usianya.
  • mampu mandi sendiri.
  • mampu mengutarakan keinginannya secara lisan.
  • mampu menyampaikan perasaannya ketika merasa senang atau sedih.
  • bisa berenang dengan gaya dog’s paddle.
  • mampu mengikuti instruksi beberapa instruksi yang disampaikan secara sekaligus.
  • mulai menunjukkan minatnya terhadap musik.
  • bisa bermain tebak-tebakan.
  • bisa becanda
  • bisa mengikuti peraturan
  • mampu mengantre dengan baik
  • mampu bersabar menunggu giliran.
  • berani bergaya di depan kamera.
  • bisa berbagi mainan bersama orang lain

Semoga kiriman ini bisa bermanfaat bagi yang membaca dan semoga ke depannya kami bisa lebih konsisten lagi dalam membuat kiriman. Masih banyak sekali hal yang harus kami pelajari sebagai orangtua dan semoga kami bisa terus menikmati proses pembelajaran keluarga kami.

Bermain Ular Tangga dan Belajar Berhitung

Bermain Ular Tangga dan Belajar Berhitung

Kali ini saya ingin membagikan cerita tentang permainan kesukaan Kiran.

Pada perayaan natal tahun lalu Kiran mendapatkan kejutan dari Paman Des dan menerima sebuah kado natal berupa permainan ular tangga klasik. Kemasan dari permainan ini didisain dengan apik dan mengedepankan tampilannya yang sangat klasik sehingga siapa pun yang melihatnya akan mengingat masa kecilnya memainkan permainan ini.

Kado Natal

Ini adalah permainan papan pertama Kiran. Pada saat itu juga Kiran meminta untuk memainkannya. Dalam waktu 1 hari Kiran mulai memahami cara memainkan permainan ini dengan konsep permainan yang sangat sederhana, naik ketika berhenti di tangga dan turun ketika berhenti di ular. Semua orang yang Kiran kenal diajak memainkan permainan papan ini, mulai dari ayah dan bundanya hingga semua orang yang tinggal di rumah kakek dan neneknya yang kebetulan berdekatan dengan tempat tinggal kami. Ketika semua orang sudah “selesai” bermain dan Kiran masih ingin bermain, biasanya dia akan mengatakan bermain sendirian. 

“So, nobody wants to play with me? Okay, I can play by myself.”

Bermain ular tangga sendirian

Tanpa terasa kami mulai mengenalkan angka satuan, belasan, dan puluhan kepada Kiran karena dia penasaran dengan banyaknya angka yang tertera di atas papan permainan. Seiring waktu berjalan, dalam waktu satu minggu, Kiran sudah mengerti konsep belasan dan puluhan. Setelah itu tanpa diajarkan, Kiran mulai memahami konsep penambahan di bagian papan paling bawah yang menunjukkan satuan. Ketika orang-orangan berdiri di angka 3 dan Kiran melempar dadu yang menunjukkan angka 4, secara otomatis tangan mungilnya akan menggiring orang-orangannya ke kotak angka 7. Saya sendiri sempat terkaget melihat apa yang dilakukannya. Tanpa disadari, dia sudah mulai memahami konsep penambahan. Akhirnya sedikit-demi sedikit kami mulai menantang Kiran untuk memindahkan orang-orangannya tanpa menghitung setiap kotak yang dilaluinya melainkan langsung melompati kotak-kotak tersebut dan menempatkan orang-orangannya di kotak yang dituju.

permainan ular tangga

Ular tangga

Tidak hanya sampai di situ, ternyata setelah terbiasa memainkan permainan papan ini setiap hari (dan bisa lebih dari  10 kali setiap harinya), Kiran mulai terbiasa menyebutkan angka-angka yang diperlukannya untuk mendaratkan orang-orangannya di kotak yang ingin dia tuju. Ketika dia sudah mulai bosan, dia mulai mencari cara bagaimana memainkan permainan ini dengan cara yang berbeda (saya sendiri saja belum pernah melakukannya), yaitu bermain mundur dari atas ke bawah tanpa mengubah fungsi dari tangga dan ularnya. Ketika orang-orangan kami mendarat di tangga, maka kami harus “kembali ke atas” (karena tujuannya adalah kami harus menuruni papan permainan).

Bangun tidur, selepas mandi, setelah makan, pagi, siang, petang, malam, tanpa mengenal waktu, semua orang yang Kiran temui akan diajak bermain ular tangga. Saya merasa beruntung sekali Kiran mendapatkan kado tersebut dan ketika saya menyampaikan cerita ini kepada pamannya, Paman Des merasa senang sekali kado pemberiannya telah berguna.

Meskipun permainan papan ini terkesan “jadul” tetapi permainan sederhana ini telah memberi warna dalam kehidupan keluarga kami sehingga kami selalu bisa berkumpul, bercengkerama dan tertawa bersama tanpa mengenal waktu, rasa lelah dan beban pekerjaan yang sedang membelenggu kami. Sungguh sangat menakjubkan bahwa permainan “purbakala” bisa mempererat hubungan anggota keluarga dan mengajari anak kami sesuatu yang mungkin akan sangat sulit kami ajarkan dengan penuh kerelaan dan kesenangan, yaitu berhitung.

Begitu banyak permainan-permainan modern yang dijual dan dinyatakan sebagai permainan “edukatif” sehingga setiap orang tua (termasuk saya) mulai “menabung” berbagai macam permainan supaya Kiran bisa belajar dengan cara yang menyenangkan, mulai dari flashcard sampai permainan digital.

Permainan-permainan yang ditawarkan di era modern ini memang sangat menarik perhatian. Mulai dari kemasan hingga pernak-pernik mainannya itu sendiri. Namun dibandingkan dengan permainan “purbakala” ini, semua permainan yang sudah saya tabung dan bernilai jauh lebih besar itu tidak semenyenangkan permainan papan ini, ular tangga.

Sebuah pelajaran mendasar sebagai orang tua yang belajar dari anaknya, bahagia itu sangat murah dan sederhana.

Asal Usul Nama Ragunan

Asal Usul Nama Ragunan

Siapa yang tidak mengenal Kebun Binatang Ragunan? Tentunya setiap orang sudah pernah mendengar nama Ragunan meskipun belum pernah mendatanginya. Kali ini saya akan membagikan sejarah di balik nama Ragunan.

Kebun Binatang Ragunan

Kebun Binatang Ragunan

Nama Ragunan ternyata berasal dari Pangeran Wiraguna. Siapakah gerangan pangeran tersebut? Ternyata nama asli dari Pangeran Wiraguna adalah Hendrik Lucaasz Cardeel. Lho, kok bisa orang berkebangsaan belanda memiliki gelar seperti itu?

Begini ceritanya . . .

Pada tahun 1675 sebagian dari Keraton Surasowan, tempat bertahta Sultan Ageng Tirtayasa, terbakar. Dua bulan kemudian datanglah Hendrik Lucaasz Cardeel, yang mengaku melarikan diri dari Batavia. Kepada Sultan, selain menyatakan kesiapannya untuk membangun kembali keraton yang terbakar itu. Lalu ia juga menyatakan keinginannya untuk memeluk agama Islam.

Kedatangan Cardeel disambut hangat oleh Sultan Ageng Tirtayasa yang tengah membutuhkan ahli bangunan berpengalaman. Dia ditugasi untuk membangun kembali Keraton Surasowan, termasuk bendungan dan istana peristirahatan di sebelah hulu Ci Banten, yang kemudian dikenal dengan sebutan bendungan dan Istana Tirtayasa. Pembangunan ini ternyata menyibukkan Sultan Ageng sehingga beliau tidak pernah menyerang kedudukan VOC di Batavia. Padahal sejak tahun 1677 – 1681, VOC sedang sibuk menangani pemberontakan Trunajaya di Jawa Timur.

Pada tahun 1681, terjadi kemelut di Kesultanan Banten. Sultan Haji (Abunasar Abdul Qahar) mendesak ayahnya agar ia segera dinobatkan menjadi sultan. Akhirnya, terjadilah perang antara ayah dan anak yang cukup menodai sejarah kesultanan Banten. Dalam keadaan terdesak, Sultan Haji mengirim utusan ke Batavia untuk meminta bantuan. Ada pun yang diutus ke Batavia tidak lain adalah Hendrik Lucaasz Cardeel. Tentu saja pihak VOC menjadi sangat gembira menerima permintaan tersebut.

VOC lalu mengirim Kapten François Tack untuk memimpin suatu pasukan laut untuk menyerang Banten pada tahun 1682 dan menyelamatkan putera mahkota yang dikepung di dalam istananya oleh pasukan Sultan Ageng Tirtayasa.

Atas jasa-jasanya itulah, Sultan Haji meningkatkan gelar Cardeel dari Kiai Aria Wiraguna menjadi Pangeran Wiraguna.

Pada 1689, Cardeel pamit kepada sultan dengan alasan pulang ke Belanda. Tetapi, ia menetap di Batavia dan kembali memeluk Kristen. Tanahnya yang sangat luas kini bernama Ragunan— dari kata Wiraguna.

Jika ingin tahu sebab dari peperangan antara ayah dan anak ini berikut cuplikan dari catatan sejarah Kesultanan Banten:

. . . Banten mengalami perpecahan dari dalam, putra mahkota Sultan Abu Nasr Abdul Kahar yang dikenal dengan Sultan Haji diangkat jadi pembantu ayahnya mengurus urusan dalam negeri. Sedangkan urusan luar negeri dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa dan dibantu oleh putera lainnya, Pangeran Arya Purbaya. Pemisahan urusan pemerintahan ini tercium oleh wakil Belanda di Banten, W. Caeff yang kemudian mendekati dan menghasut Sultan Haji. Karena termakan hasutan VOC, Sultan Haji menuduh pembagian tugas ini sebagai upaya menyingkirkan dirinya dari tahta kesultanan. Agar tahta kesultanan tidak jatuh ke tangan Pangeran Arya Purbaya, Sultan Haji kemudian bersekongkol dengan VOC untuk merebut tahta kekuasaan Banten. Persekongkolan ini dilakukan oleh Sultan Haji setelah Sultan Ageng Tirtayasa lebih banyak tinggal di keraton Tirtayasa.

VOC, yang sangat ingin menguasai Banten, bersedia membantu Sultan Haji untuk mendapatkan tahta kesultanan. Untuk itu, VOC mengajukan empat syarat yang mesti dipenuhi oleh Sultan Haji. Pertama, Banten harus menyerahkan Cirebon kepada VOC. Kedua, VOC akan diizinkan untuk memonopoli perdagangan lada di Banten dan Sultan Banten harus mengusir para pedagang Persia, India, dan Cina dari Banten. Ketiga, apabila ingkar janji, Kesultanan Banten harus membayar 600.000 ringgit kepada VOC. Keempat, pasukan Banten yang menguasai daerah pantai dan pedalaman Priangan harus segera ditarik kembali.

Oleh karena dijanjikan akan segera menduduki tahta Kesultanan Banten, persyaratan tersebut diterima oleh Sultan Haji. Dengan bantuan pasukan VOC, pada tahun 1681 Sultan Haji melakukan kudeta kepada ayahnya dan berhasil menguasai istana Surosowan. Istana Surosowan tidak hanya berfungi sebagai tempat kedudukan Sultan Haji, tetapi juga sebagai simbol telah tertanamnya kekuasaan VOC atas Banten. Melihat situasi politik tersebut, tanggal 27 Februari 1682 pasukan Sultan Ageng Tirtayasa mengepung Sultan Haji dan VOC yang telah menduduki Istana Surosowan. Serangan itu dapat menguasai kembali Istana Surosowan dan Sultan Haji segera dibawa ke loji VOC serta mendapat perlindungan dari Jacob de Roy.

Mengetahui bahwa Sultan Haji telah berada di bawah perlidungan VOC, pasukan Sultan Ageng Tirtayasa bergerak menuju loji VOC untuk menghancurkannya. Di bawah pimpinan Kapten Sloot dan W. Caeff, pasukan Sultan Haji bersama-sama dengan pasukan VOC mempertahankan loji itu dari kepungan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa. Akibat perlawanan yang sangat kuat dari pasukan Sultan Ageng Tirtayasa, bantuan militer yang dikirim dari Batavia tidak dapat mendarat di Banten. Akan tetapi, setelah ada kepastian bahwa VOC akan diberi izin monopoli perdagangan di Banten oleh Sultan Haji, pada 7 April 1682 bantuan dari Batavia itu memasuki Banten di bawah komando Tack dan De Saint Martin. Dengan kekuatan yang besar, pasukan VOC menyerang Keraton Surosowan dan Keraton Tirtayasa serta berhasil membebaskan loji VOC dari kepungan Sultan Ageng Tirtayasa.

Meskipun demikian, Sultan Ageng Tirtayasa terus melakukan perlawanan hebat yang dibantu oleh orang-orang Makassar, Bali, dan Melayu. Markas besar pasukannya ada di Margasama yang diperkuat oleh sekitar 600 sampai 800 orang prajurit di bawah komando Pangeran Suriadiwangsa. Sementara itu, Pangeran Yogya mempertahankan daerah Kenari dengan kekuatan sekitar 400 orang; Kyai Arya Jungpati dengan jumlah pasukan sekitar 120 orang mempertahankan daerah Kartasana. Sekitar 400 orang mempertahankan daerah Serang; 400 sampai 500 orang mempertahankan daerah Jambangan; sebanyak 500 orang berupaya untuk mempertahankan Tirtayasa; dan sekitar 100 orang memperkuat daerah Bojonglopang.

Serangan hebat yang dilakukan oleh pasukan VOC berhasil mendesak barisan Banten sehingga Margasana, Kacirebonan, dan Tangerang dapat dikuasai juga oleh VOC. Sultan Ageng kemudian mengundurkan diri ke Tirtayasa yang dijadikan pusat pertahanannya. Tanara dan Pontang juga diperkuat pertahanannya. Di Kademangan ada pasukan sekitar 1.200 orang di bawah pimpinan Arya Wangsadiraja. Mereka cukup lama dapat bertahan, tetapi pada tanggal 2 Desember 1682 Kademangan akhirnya jatuh juga setelah terjadi pertempuran sengit antara kedua pasukan. Dalam serangkaian pertempuran ini di kedua belah pihak banyak yang gugur. Sebagian pasukan Banten mengungsi ke Ciapus, Pagutan, dan Jasinga. Dengan jatuhnya pertahanan Kademangan, tinggal Tirtayasa yang menjadi bulan-bulanan VOC. Serangan umum dimulai dari daerah pantai menuju Tanara dan Tangkurak. Pada tanggal 28 Desember 1682 pasukan Jonker, Tack, dan Miichielsz menyerang Pontang, Tanara, dan Tirtayasa serta membakarnya. Ledakan-ledakan dan pembakaran menghancurkan keraton Tirtayasa. Akan tetapi Sultan Ageng Tirtayasa berhasil menyelamatkan diri ke pedalaman. Pangeran Arya Purbaya juga berhasil lolos dengan selamat dengan terlebih dahulu membakar benteng dan keratonnya.

Pihak VOC berusaha beberapa kali untuk mencari Sultan Ageng Tirtayasa dan membujuknya untuk menghentikan perlawanan dan turun ke Banten. Untuk menangkap Sultan Ageng Tirtayasa, VOC memerintahkan Sultan Haji untuk menjemput ayahnya. Ia kemudian mengutus 52 orang keluarganya ke Ketos dan pada malam menjelang tanggal 14 Maret 1683 iring-iringan Sultan Ageng Tirtayasa memasuki Istana Surosowan. Setibanya di Istana Surosowan, Sultan Haji dan VOC segera menangkap Sultan Ageng Tirtayasa dan dipenjarakan di Batavia sampai ia meninggal pada tahun 1692. Penangkapan itu telah mengakhiri peperangan Banten melawan VOC sehingga berkibarlah kekuasaan VOC di wilayah Banten.

Meskipun demikian, rakyat Banten masih melakukan perlawanan walaupun semuanya tidaklah begitu berarti. Tidak lama setelah itu, dengan restu VOC, Sultan Haji dinobatkan menjadi Sultan Banten (1682-1687). Penobatan ini disertai beberapa persyaratan sehingga Kesultanan Banten tidak lagi memiliki kedaulatan. Persyaratan tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah perjanjian yang ditandatangani pada 17 April 1684 yang isinya sebagai berikut.

  1. Bahwa semua pasal serta ayat yang tercantum pada perjanjian 10 Juli 1659 mendapat pembaharuan, dan pasal yang masih dipercayai dan menguntungkan bagi kedua belah pihak akan dipelihara baik-baik tanpa pembaharuan. Di samping itu kedua belah pihak menganggap sebagai kedua kerajaan yang bersahabat yang dapat memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Tambahan bahwa Sultan Banten tidak boleh memberikan bantuan apa pun kepada musuh-musuh VOC, baik berupa senjata, alat perang atau bahan perbekalan, demikian pula halnya kepada sahabat VOC dan terutama sunan atau susuhunan atau putera-putera mahkota Cirebon tidak boleh mencoba melakukan penyerangan atau permusuhan karena ketenangan dan perdamaian di Jawa bagaimanapun harus terlaksana.
  1. Dan oleh karena penduduk kedua belah pihak harus ada ketenangan dan bebas dari segala macam pembunuhan dan perampokan yang dilakukan oleh orang-orang jahat di hutan-hutan dan pegunungan, maka orang Banten dilarang mendatangi daerah termasuk Jakarta baik di sungai-sungainya maupun di anak-anak sungainya. Sebaliknya juga bagi orang Jakarta tidak boleh mendatangi daerah dan sungai ataupun anak sungainya yang ternasuk Banten. Kecuali kalau disebabkan keadaan darurat masing-masing diperbolehkan memasuki daerah tersebut tetapi dengan surat ijin jalan yang sah, dan kalau tidak maka akan dianggap sebagai musuh yang dapat ditangkap atau dibunuh tanpa memutuskan perjanjian perdamaian itu.
  1. Dan karena harus diketahui dengan pasti sejauh mana batas daerah kekuasaan yang sejak jaman lampau telah dimaklumi, maka tetap ditentukan daerah yang dibatasi oleh Sungai Untung Jawa (Cisadane) atau Tangerang dari pantai laut hingga pegunungan sejauh aliran sungai tersebut dengan kelokannya dan kemudian menurut garis lurus dari daerah selatan hingga utara sampai di lautan selatan. Bahwa semua tanah di sepanjang Sungai Untung Jawa atau Tangerang akan menjadi milik atau ditempati VOC.
  1. Dalam hal itu setiap kapal VOC atau kepunyaan warganya, begitu pula kepunyaan Sultan Banten dan warganya, jika terdampar atau mendapat kecelakaan di Laut Jawa dan Sumatera, harus mendapat pertolongan baik penumpangnya atau pun barangbarangnya.
  1. Bahwa atas kerugian, kerusakan yang terjadi sejak perjanjian tahun 1659 yang diakibatkan oleh Sultan dan Kesultanan Banten sebagaimana telah jelas dinyatakan pada tahun 1680 oleh utusan Banten dan demikian pula akibat pembunuhan dan perampokan oleh Pangeran Aria Sura di loji VOC sehingga ada pembunuhan kepala VOC Jan van Assendelt, dan segala kerugian-kerugian lainnya harus diganti oleh Sultan dengan uang sejumlah 12.000 ringgit kepada VOC.
  1. Setelah perjanjian ditandatangani dan disahkan oleh kedua belah pihak maka baik tentara pengawal, pembunuh atau pelanggar hukum VOC atau juga orang partikelir yang bersalah tanpa membedakan golongan atau kebangsaan dari sini atau dari tempat lainnya di daerah VOC, jika datang ke daerah Banten atau tempat lain yang ada di bawah daerah hukum VOC akan segera ditahan dan kemudian diserahkan kembali kepada perwakilan VOC.
  1. Bahwa karena Banten bukan merupakan satu-satunya penguasa terhadap Cirebon maka harus dinyatakan bahwa kekuasaan raja-raja Cirebon dapat ditinjau kembali sebagai sahabat yang bersekutu di bawah perlindungan VOC yang juga di dalam ikatan perdamaian dan persahabatan ini telah dimengerti oleh kedua belah pihak.
  1. Bahwa berkenaan dengan isi perjanjian tahun 1659 pasal empat di mana dinyatakan bahwa VOC tidak perlu memberikan sewa tanah atau rumah untuk loji, maka menyimpang dari hal itu VOC akan menentukan pembayaran kembali dengan cara debet.
  1. Sultan berkewajiban untuk di waktu yang akan datang tidak mengadakan perjanjian atau persekutuan atau perserikatan dengan kekuatan atau bangsa lain karena bertentangan dengan isi perjanjian ini.
  1. Karena perjanjian ini harus tetap terpelihara dan berlaku terus hingga masa yang akan datang, maka Paduka Sri Sultan Abdul Kahar Abu Nasr beserta keturunannya harus menerima seluruh pasal dalam perjanjian ini, dan dimaklumi, dianggap suci, dipercayai dan benar-benar akan dilaksanakan dan kemudian oleh segenap pembesar kerajaan tanpa penolakan sebagaimana pula dari pihak VOC yang diwakili oleh misi komandan dan Presiden Francois Tack, Kapten Herman Dirkse Wanderpoel, pedagang Evenhart van der Schuer, dan kapten bangsa Melayu Wan Abdul Bagus dari atas nama Gubernur Jenderal VOC dan Dewan Hindia juga atas nama Dewan Jenderal VOC Belanda.

Perjanjian ini ditandatangani oleh kedua belah pihak, dari pihak Banten diwakili oleh Sultan Abdul Kahar, Pangeran Dipaningrat, Kiyai Suko Tajuddin, Pangeran Natanagara, dan Pangeran Natawijaya, sementara dari pihak Belanda diwakili oleh Komandan dan Presiden Komisi Francois Tack, Kapten Herman Dirkse Wonderpoel, Evenhart van der Schuere, serta kapten bangsa Melayu Wan Abdul Bagus. Perjanjian itu sangat jelas meniadakan kedaulatan Banten karena dengan perjanjian itu segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan dalam dan luar negeri harus atas persetujuan VOC. Dengan ditandatanganinya perjanjian itu, selangkah demi selangkah VOC mulai menguasai Kesultanan Banten dan sebagai simbol kekuasaannya, pada tahun 1684-1685 VOC mendirikan sebuah benteng pertahanan di bekas benteng kesultanan yang dihancurkan. Selain itu, didirikan pula benteng Speelwijk sebagai bentuk penghormatan kepada Speelman yang menjadi Gubernur Jenderal VOC dari tahun 1682 sampai dengan 1685. Demikian pula Banten sebagai pusat perniagaan antarbangsa menjadi tertutup karena tidak ada kebebasan melaksanakan politik perdagangan, kecuali atas izin VOC.

Penderitaan rakyat semakin berat bukan saja karena pembersihan atas pengikut Sultan Ageng Tirtayasa serta pajak yang tinggi karena sultan harus membayar biaya perang, tetapi juga karena monopoli perdagangan VOC. Rakyat dipaksa untuk menjual hasil pertaniannya terutama lada dan cengkeh kepada VOC dengan harga yang sangat rendah. Pedagang-pedagang bangsa Inggris, Perancis, dan Denmark diusir dari Banten dan pindah ke Bangkahulu, karena banyak membantu Sultan Ageng Tirtayasa.

Dengan kondisi demikian, sangatlah wajar kalau masa pemerintahan Sultan Haji banyak terjadi kerusuhan, pemberontakan, dan kekacauan di segala bidang yang ditimbulkan oleh rakyat. Selain menghadapi penentangan dari rakyatnya sendiri, Sultan Haji pun menghadapi suatu kenyataan bahwa VOC merupakan tuan yang harus dituruti segala kehendaknya. Karena tekanan-tekanan itu, akhirnya Sultan Haji jatuh sakit hingga meninggal dunia pada tahun 1687.

Sumber:

https://humaspdg.wordpress.com/2010/04/20/catatan-sejarah-kesultanan-banten/

http://id.wikipedia.org/wiki/Hendrik_Lucaasz_Cardeel

Ruchiat, Rahmat (2011). Asal Usul Nama Tempat di Jakarta. Jakarta: Masup Jakarta