Percobaan Sains : Mengapung dan Tenggelam

Percobaan Sains : Mengapung dan Tenggelam

Pada hari Kamis (25/5) kami mengadakan percobaan sains mengapung dan tenggelam. Anak-anak yang mengikuti percobaan ini berusia antara 4 sampai 10 tahun. Anak-anak melakukan percobaan bersama untuk kemudian diulas oleh orangtua masing-masing di rumah.

Tujuan

Dari kegiatan ini anak-anak membuat prediksi terhadap berbagai benda dan kondisinya ketika berada di air, mengapung atau tenggelam dan mengklasifikasikan barang-barang tersebut. Mereka belajar untuk memprediksi dan mengambil kesimpulan dari percobaan yang mereka lakukan. Tujuan utama percobaan ini adalah membuktikan prediksi dan membuat kesimpulan dari benda-benda yang digunakan di dalam percobaan.

Peralatan

Peralatan yang kami gunakan di dalam percobaan ini cukup sederhana. Kami menggunakan kotak besar transparan besar yang diisi air untuk mengamati benda di air. Benda yang kami gunakan saat melakukan percobaan: batu, daun, tutup botol plastik, batang tanaman, botol kaca, botol plastik kosong, botol plastik berisi cat, kunci pas mainan berbahan plastik, jahe, bawang, lemon, kaca kecil, tag koper berbahan karet, mainan kayu, kotak plastik, dan kuas cat.

Percobaan

Di awal percobaan anak-anak memprediksi bahwa benda-benda berat akan tenggelam. Setelah melakukan percobaan anak-anak menyimpulkan bahwa tidak semua benda berat tenggelam di dalam air dan mereka dapat mengaitkannya dalam kehidupan mereka dengan mengambil contoh perahu yang berat dan dapat mengapung.

Sesuai dengan usianya saat ini, anak-anak baru dapat mengaitkan benda yang mengapung dan tenggelam hanya dari bobot benda. Mengingat durasi percobaan yang cukup menyita waktu karena harus mengatur anak-anak yang cukup ribut karena terlalu bersemangat, anak-anak tidak sempat melakukan pengamatan dari benda-benda yang sudah dipisahkan berdasarkan kategorinya, mengapung dan tenggelam.

Tantangan Percobaan

saya memberikan dua tantangan prediksi kepada anak-anak. Tantangan yang pertama adalah memprediksi apa yang akan terjadi jika jumlah airnya ditambahkan. Anak-anak memprediksi bahwa tidak ada yang berubah terhadap benda-benda yang telah diklasifikasikan sebagai benda yang tenggelam dan mengapung meskipun airnya ditambah. Setelah dibuktikan dengan menambahkan air ke dalam kotak percobaan, terbukti prediksi mereka benar.

Tantangan kedua yang saya berikan kepada anak-anak adalah membuat batu kecil bisa mengapung dengan bantuan benda-benda mengapung yang tersedia. Karena jumlah anak yang cukup banyak, saya membagi mereka menjadi dua kelompok. Anak-anak terlihat tertantang untuk melakukan tantangan ini dan mereka mengerjakannya dengan cukup serius. Berbagai cara mereka lakukan tetapi mereka belum berhasil untuk membuat batu tersebut mengapung dengan bantuan benda-benda yang termasuk ke dalam benda yang tidak tenggelam.

Dari hasil pengamatan saya anak-anak masih kesulitan untuk bekerja sama di dalam kelompok karena masing-masing kelompok terlihat saling berebut barang. Belum terlihat kerjasama di antara anak-anak untuk menyelesaikan tugas bersama-sama. SItuasi ini menjadi perhatian orangtua untuk melakukan pengamatan terhadap perkembangan anak-anaknya pada kegiatan berikutnya.

Kegiatan tambahan

Kami tidak sempat melakukan kegiatan tambahan ini karena keterbatasan waktu dan fokus anak-anak yang sudah hilang. Kegiatan tambahan ini bisa dilakukan dengan membantu anak-anak untuk mendiskusikan persamaan dan perbedaan dari ciri-ciri benda yang membuatnya mengapung atau tenggelam. Anak-anak dapat dibantu untuk mengamati benda-benda tersebut dan mencapai pada kesimpulan bahwa bobot benda bukan satu-satunya faktor yang dapat membuat sesuatu tenggelam atau mengapung.

Pada kegiatan ini anak-anak terlihat terlalu bersemangat dan kesulitan mengelola dirinya sehingga saya harus beberapa kali mengingatkan mereka untuk memerhatikan instruksi yang saya berikan kepada mereka. Selain itu kami harus melatih anak-anak untuk dapat bekerja sama lebih baik lagi dan tidak sibuk dengan keinginannya masing-masing sehingga tidak acuh terhadap keinginan teman-temannya seperti yang terjadi ketika saya memberikan tantangan percobaan dan membagi mereka menjadi dua kelompok yang terdiri dari 4 dan 5 anak.

Berikut ini dokumentasi kegiatan percobaan sains kami:

Trekking di Gunung Mandalawangi

Trekking di Gunung Mandalawangi

Minggu kami trekking ke Gunung Mandalawangi di Cijapati daerah perbatasan Bandung dan Garut. Kami berkegiatan dari jam 10 pagi dan kembali ke kaki gunung pukul 4 sore. Perjalanan naik dan turun gunungnya sendiri memakan waktu 3 jam dan dilakukan dengan santai mengikuti kemampuan Kiran. Sayangnya Nuni tidak bisa ikut karena keracunan makanan dan harus beristirahat di rumah. Saya mengajak teman saya dari Kanada yang sedang berkunjung ke Jakarta dan Kang Ian yang tinggal tidak jauh dari Cijapati untuk melakukan perjalanan ini.

Kami mengawali dengan memasuki area perkebunan sayur mayur dan perkebunan kayu jati putih. Memasuki kaki gunung kami disambut oleh barisan pohon pinus yang melindungi kami dari teriknya sinar matahari. Semakin jauh kami melangkah ke dalam hutan, kami hanya mendengar bunyi langkah kami dan bunyi tonggeret di sekeliling kami. Di pemberhentian pertama kami beristrirahat sambil mengamati sisa-sisa buah kopi yang telah habis dipanen. Setelah beristirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan kami melewati pohon kopi arabika dan tanaman tembakau. Perjalanan kami berakhir setelah kami tiba di perkebunan teh sebagai titik tertinggi pendakian kami. Kurang lebih 100 meter sebelum mengakhiri perjalanan kami, Kiran sempat menangis karena mendapati saya dua kali menginjak duri dan Kiran takut kakinya akan menginjak duri juga. Kiran dihadapkan pada sebuah pilihan untuk turun kembali dan mengikuti rasa takutnya atau terus berjalan ke atas dan menghadapi rasa takutnya. Setelah saya berikan waktu untuk membuat keputusan, dan memberikan motivasi akhirnya Kiran menuntaskan perjalanannya. Pelajaran berharga lainnya yang bisa saya saksikan dengan hanya menemani dan mengamati. Tidak ada rencana khusus selain berjalan-jalan di gunung saja dan di menit-menit terakhir kami memutuskan untuk membuat nasi liwet di sana dengan perbekalan yang secukupnya dan kami sangat terbantu dengan peralatan memasak yang dibawa oleh Kang Ian sehingga kami bisa menikmati makanan sambil beristrirahat di perkebunan teh

Banyak hal yang bisa saya dapatkan mengenai perkembangan diri Kiran ketika saya menahan diri untuk tidak mengatur dan menentukan apa yang terjadi pada saat berkegiatan bersama Kiran. Tidak perlu banyak berceramah atau mengajari karena alam akan dengan sendirinya mengajari anak kita apa yang perlu diketahuinya. Menemani Kiran dan melakukan pengamatan perkembangan dirinya dari waktu ke waktu sedang saya menjadi perhatian saya untuk membangun kesadaran diri saya supaya terbebas dari penghakiman terhadap Kiran.

Belajar dari alam untuk mengenal diri lebih baik lagi. Melihat Kiran berinteraksi bersama orang dewasa membuat saya senang karena saya bisa melihat keterampilan Kiran untuk memulai percakapan dan melatih kemampuan berbahasanya. Bahasa tubuhnya memperlihatkan kondisi dirinya di sebuah tempat. Saya melihat gerakan tubuhnya yang ragu karena merasa tidak aman ketika memanjat bebatuan, menyeberangi aliran air sampai berjumpa dengan beberapa binatang kecil di sepanjang perjalanan. Menjadi bagian dari kelompok, menawarkan bantuan untuk memasak sampai menghibur diri sendiri dengan batang dan ranting pohon yang disediakan oleh alam menunjukkan perkembangan dirinya di usianya yang baru saja menginjak tujuh tahun.

Berikut ini video perjalanan kami, silakan klik subscribe untuk menerima video perjalanan homeschooling kami secara berkala di channel Youtube kami.

Benar Vs Salah

Benar Vs Salah

Pagi itu setelah Kiran selesai berlatih teknik berenangnya, saya memberikan waktu kepada Kiran untuk bermain di kolam renang bermain anak-anak. Belum lama saya duduk, saya mendapati Kiran tengah memanjat bagian samping tangga luncuran. Ketika hendak menegur Kiran untuk menggunakan tangga yang tersedia tiba-tiba saya berhenti dan merenung sejenak, “Mengapa saya harus menegur Kiran? Apakah yang dilakukannya salah?” Dia tidak mengantre, dia melanggar peraturan dan bagaimana kalau dia terjatuh kemudian terluka, dan banyak hal lainnya yang berkecamuk di dalam pikiran saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa dan melakukan pengamatan sambil merekam kegiatan bermain Kiran selama satu jam.

Selama pengamatan berlangsung saya mencoba mengontrol diri untuk tidak mengatakan apa pun bahkan ketika Kiran memanggil pun, saya hanya tersenyum dan menjawab seadanya. Ada perasaan yang mengganggu ketika saya “berpikir” Kiran telah melakukan sesuatu yang salah sehingga membuat saya kecewa, sedih dan marah karena tidak dapat mengikuti peraturan yang sebetulnya (manurut saya) sudah diketahuinya. Kemudian saya berdialog dengan diri sendiri dan bertanya “Apa yang membuat kamu emosi?” Saya mencoba memeluk emosi yang sedang saya rasakan saat itu. Kemudian saya teringat dengan konsep kata “kotor” yang disampaikan oleh Gobind Vashdev. Apa sebenarnya kotor itu? Ini adalah sebuah konsep bahasa yang sifatnya subjektif karena definisi kotor saya dan Anda pasti berbeda. Ketika kita melihat lantai penuh pasir mengapa kita mengatakan lantai tersebut kotor. Mengapa tidak kita katakan saja lantainya berpasir karena memang begitu keadaannya.

Setelah mengingat konsep bahasa yang sifatnya subjektif tersebut, saya mulai berefleksi kembali tentang pengamatan saya terhadap perilaku Kiran di kolam renang. Saya merasakan emosi karena saya “menilai” tindakan yang Kiran lakukan salah. Kemudian saya mencoba mendefinisikan kata benar dan salah berdasarkan pemahaman saya saat itu dan bagaimana saya dapat membahasakannya kepada Kiran dan ternyata sulit. Selama saya merekam saya hanya berdoa semoga dia terluka atau membuat orang lain terluka.

Singkat cerita pada saat makan malam bersama saya menunjukkan kepada Kiran rekaman video ketika dia sedang di kolam renang dan dengan sungguh-sungguh bertanya sekadar ingin tahu apa yang dipikirkannya pada setiap hal yang saya soroti di dalam rekaman video tersebut. Saya pun mencoba mengolah kalimat saya sebaik mungkin dan bertanya kepada Kiran “May I know what made you climbed the side of the stairs instead of using the stairs?” Kiran pun menjawab “I want to do it (go up)  faster”. Kemudian saya menanggapi jawabannya “is there any other reason why you did that?” dan ternyata tidak ada alasan lainnya kecuali ingin mengambil jalan pintas supaya dia bisa tiba di atas luncuran lebih cepat.

Selanjutnya kami membahas mengenai keberadaan peraturan di semua tempat dan mengapa peraturan tersebut dibuat. Kiran memang sudah tahu semua hal terkait peraturan dan alasannya. Saya melihat perilakunya tidak jauh berbeda dengan kita sebagai orang dewasa yang mengambil jalan pintas meskipun tahu kita melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku atau kesalahan yang kita lakukan. Misalnya, membuang sampah sembarangan, merokok di tempat umum, melanggar lampu lalu lintas, memotong antrean, dan banyak hal lainnya yang kita lakukan. Saya merasa lega karena bisa menahan diri dan menunggu sampai waktu makan malam untuk mendapatkan jawaban yang jujur itu dan terhindar dari jebakan penghakiman dan emosi saya.

Masalah sebenarnya adalah bukan mengenai benar atau salah melainkan kesadaran dari tindakan yang kita lakukan. Kita akan menerima hasil dari apapun yang kita lakukan, konsekuensi logis. Kiran mengambil jalan pintas risikonya terjatuh dan terluka, maka itulah konsekuensi logisnya. Menurut pendapat saya menumbuhkan kesadaran terhadap anak tentang konsekuensi logis dari setiap pilihannya lebih penting daripada memberitahunya tentang benar dan salah atau baik dan buruk.

Untuk menghindari jebakan konsep bahasa yang subjektif, di dalam video ini saya menghitung berapa kali Kiran menggunakan tangga dan mengambil jalan pintas untuk tiba di atas luncuran. Video tersebut kami jadikan bahan refleksi bersama dan kesimpulan yang kami dapatkan adalah boleh bersenang-senang tetapi dengan tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain baik secara fisik maupun emosi.

Pertama kalinya saya berdiskusi dengan Kiran dengan melepas semua ego yang saya miliki sebagai orang dewasa yang merasa lebih tahu yang benar dan yang salah. Benar dan salah adalah konsep bahasa yang bersifat subjektif sehingga membahas perilaku dia apa adanya tanpa memberikan label “benar” atau “salah” membantu saya dan Kiran untuk berefleksi lebih baik lagi terhadap segala sesuatu yang dilakukannya tanpa harus menghakiminya.

Jangan menonton video di bawah tanpa membaca tulisan ini seutuhnya supaya Anda memahami tujuan saya membuat video ini.

Pelatihan Mendapatkan Pekerjaan Pilihan

Pelatihan Mendapatkan Pekerjaan Pilihan

Berbekal pengalaman selama 10 tahun melakukan perekrutan tenaga kerja saya ingin merancang kurikulum untuk calon pekerja yang berfokus pada kemampuan mengolah diri dan menemukan pekerjaan pilihannya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Terlepas dari latar belakang, usia dan pengalaman kerja yang Anda miliki dan Anda masih dalam proses atau akan mencari pekerjaan, bantu saya untuk membantu Anda menemukan dan mendapatkan pekerjaan yang membuat Anda bahagia dengan berpartisipasi menguji materi kurikulum pelatihan ini dalam mencari dan mendapatkan pekerjaan pilihan Anda. Pelatihan ini gratis namun diperlukan komitmen sepenuh hati dari para peserta pelatihan yang nantinya akan dipilih untuk mengikuti pelatihan ini.

Kondisi yang ada saat ini:

  • lulusan pendidikan formal maupun informal tidak mendapatkan pelajaran untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja
  • banyak pelamar kerja yang melamar pekerjaan tidak sesuai dengan bidang yang telah dipelajarinya
  • pencari kerja tidak sepenuhnya menyadari mengapa dirinya melamar di suatu tempat
  • tujuan bekerja hanya sebagai pemenuhan kebutuhan ekonomi
  • pencari kerja mengandalkan templat (template) online untuk membuat daftar riwayat hidupnya tanpa memahaminya
  • pencari kerja tidak memahami pentingnya surat pengantar (Cover Letter)
  • pelamar kerja tidak tahu cara berpakaian yang baik
  • pelamar kerja tidak siap atau tidak tahu bagaimana harus bersikap pada saat wawancara
  • pelamar kerja tidak memahami kata “passion”
  • pelamar kerja tidak mengetahui hak dan kewajibannya pada saat menandatangani perjanjian kerja

Hal-hal di atas hanyalah beberapa catatan dari pengalaman saya melakukan perekrutan tenaga kerja selama ini dan masih banyak catatan lainnya yang membuat para pelamar kerja kesulitan mendapatkan pekerjaan meskipun mereka sudah berusaha keras. Sayangnya mereka tidak mendapatkan kesempatan belajar baik di sekolah maupun di universitas untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Pelatihan ini bukan tentang mendapatkan pekerjaan yang bergaji besar atau yang berjabatan tinggi. Mungkin ya, mungkin tidak. Semuanya kembali lagi pada potensi dan kemampuan diri masing-masing. Setelah mengikuti pelatihan ini Anda diharapkan mampu untuk:

  • memahami definisi sukses
  • mengevaluasi diri
  • belajar menginvestasikan waktu dan mengambil risiko
  • mengelola, melatih dan memaksimalkan pembawaan
  • mencari dan menemukan pekerjaan pilihannya
  • bahagia menjalani pekerjaan yang dipilihnya
  • belajar memahami dan membuat surat pengantar (cover letter), daftar riwayat hidup dan portofolio
  • melatih kepercayaan diri untuk sesi wawancara kerja
  • memahami isi perjanjian kerja

TUJUAN PELATIHAN:

  • membuat kurikulum pelatihan persiapan kerja untuk menyiapkan tenaga kerja yang unggul
  • membantu para pencari kerja memahami apa yang diinginkan pemberi kerja
  • mengajukan rancangan kurikulum pelatihan persiapan kerja kepada sekolah dan universitas sebagai mata pelajaran tambahan atau mata kuliah umum
  • menyediakan pelatihan dengan narasumber pemberi kerja dari berbagai bidang usaha
  • membantu para pelamar kerja mengenali potensi diri dan melamar kerja sesuai dengan minatnya
  • membantu pemberi kerja mendapatkan sumber daya manusia yang unggul
  • membantu pencari kerja mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya dan bahagia menjalaninya
  • pengantar untuk pelatihan selanjutnya untuk menjadi seorang pekerja yang bahagia
  • membangun kerjasama yang positif dan sehat antara pemberi kerja dan penerima kerja

Saya membukan kesempatan untuk 10 kandidat sebagai peserta pelatihan untuk mengikuti pelatihan intensif selama 1 bulan (rencana bulan Mei 2017). Anda harus memenuhi persyaratan berikut untuk dapat mengikuti tahap awal seleksi:

  • tidak sedang bekerja
  • pendidikan minimal SMA atau sederajat
  • kesulitan mencari pekerjaan
  • tidak tahu/yakin pekerjaan yang diinginkan
  • berusia 18-30 tahun
  • memiliki semangat belajar yang tinggi
  • berkomitmen untuk mengikuti proses pelatihan
  • bersedia menyediakan waktu untuk bertatap muka setiap hari Kamis (selama pelatihan) selama 2 jam di daerah Jakarta Selatan
  • memiliki akses internet
  • memiliki akun Gmail

Jika Anda memenuhi kriteria di atas, silakan kirimkan data di bawah ini via email ke alamat surel kontak@belajarbersama.com (paling lambat tanggal 30 April 2017):

  • Surat Pengantar (Cover Letter)
  • Daftar Riwayat Hidup
  • Salinan KTP
  • Portofolio (jika ada)

Kami akan mengirim email balasan sebagai tanda terima email yang Anda kirimkan. Jika Anda tidak menerima email balasan dari kami dalam waktu 1 x 24 jam silakan tinggalkan komentar di bagian bawah postingan ini supaya kami dapat memeriksanya.

Tautan Formulir Pendaftaran Pelatihan Kerja akan dikirim melalui email balasan (HANYA untuk yang mengirimkan data lengkap di atas).  Pemilihan kandidat pelatihan akan dilakukan melalui tahap wawancara yang akan dijadwalkan minggu depan (waktu dan tempat menyusul) untuk memastikan orang yang memerlukan pelatihan ini dan berkomitmen menjalani pelatihan ini yang mendapatkan manfaatnya.

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Ketiga (Catatan Kiran)

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Ketiga (Catatan Kiran)

Setelah tulisan sebelumnya membahas mengenai hari pertama dan dua hari terakhir di TNTP, tulisan ini adalah hasil pengamatan kami terhadap Kiran mulai dari persiapan dan selama melakukan perjalanan.

Apa saja yang Kiran lakukan selama di bandara dan di perahu selama tiga hari. Apakah Kiran tidak merasa bosan? Tentu saja rasa bosan hadir tetapi Kiran mampu mengatasi kebosanannya dengan benyak cara, seperti mengobrol dengan orang-orang di sekitarnya, bermain hujan, menyapa setiap orang yang di dalam perahu yang berpapasan, bermain kartu, bermain kaus kaki, mondar mandir mengelilingi perahu, tidur-tiduran, dan menikmati pemandangan. Selama melakukan perjalanan tidak ada rengekan dari Kiran dan kami melihat Kiran menikmati sekali perjalanannya selama berada di TNTP.

Persiapan

Pada perjalanan ini Kiran belajar memprediksi kebutuhannya  selama bepergian 3 hari. Kiran dapat menyiapkan barang bawaannya dan memeriksa ulang barang bawaannya secara mandiri sebelum pergi. Salah satu tambahan bawaan kami kali ini adalah kotak makanan, sendok dan garpu untuk memastikan kami bisa membeli makanan tanpa harus menggunakan plastik atau kemasan lainnya jika kami ingin membeli makanan di dalam perjalanan. Peralatan makan ini berada di dalam tas kami masing-masing.

Di bandara

Maskapai penerbangan yang kami gunakan tidak memiliki layanan web check-in sehingga kami harus mengantre cukup lama untuk mendapatkan tiket masuk pesawat karena antrean cukup panjang dan banyak penumpang yang membawa bagasi. Kiran terlihat santai dan mampu menghibur dirinya sendiri dengan mengajak kami bermain untuk mengusir rasa bosannya. Kami pun memainkan beberapa permainan ketika menunggu pesawat datang. Meskipun beberapa kali terlihat merasa bosan tetapi kami tidak mendengarkan keluhan apa pun dari Kiran.

Mengingat banyaknya markah dan papan iklan di dalam bandara, Kiran terlihat cukup sibuk membaca tulisan yang ada di sekelilingnya. Ternyata memang kalau anaknya sudah siap tidak perlu disuruh membaca, anaknya sendiri yang akan membaca dengan suka hati ketika dirinya siap.

Di atas perahu

Kami melihat Kiran selalu berusaha untuk memulai percakapan dengan orang-orang. Pemandu kami cukup kewalahan karena Kiran banyak bertanya kepadanya selama berada di atas perahu bahkan pemandu kami tidak dapat menolak ketika Kiran mengajaknya bermain kartu.

Kiran sudah mulai belajar berbasa basi sebagai pembuka percakapan meskipun agak kocak, seperti, “Bapak, belum mandi ya?” kemudian mengalirlah obrolan mereka untuk beberapa saat. Kami menilai Kiran sudah mampu menyampaikan keinginannya dengan baik seperti menanyakan kepada nakhoda “Bapak, berapa menit lagi kita sampai?” begitu pula ketika berinteraksi dengan Reka, “Tante, aku lapar mau makan”.

Pekerjaan rumah

Satu hal yang menjadi perhatian kami saat ini adalah melatih Kiran untuk menyebut nama orang yang diajak berbicara. Sering kali Kiran tidak mengingat nama orang-orang yang berinteraksi dengannya. Saat ini Kiran terlihat hanya menggunakan kata “bapak, ibu, tante, om, paman, dan bibi” tanpa diikuti nama orang tersebut. Begitu pula ketika bermain dengan teman barunya.

Beginilah cara kami menemani Kiran belajar dengan mengajaknya bepergian baik jarak dekat ke tempat kerja atau jarak jauh dan bertemu banyak orang baru membantu dirinya untuk belajar berkomunikasi dan belajar menempatkan diri. Bagaimana menjadi bagian dalam percakapan, menginterupsi percakapan dan menjadi pendengar yang baik. Dengan mengobrol kami melatih kemampuan berbahasanya. Bagaimana menyampaikan gagasan pikirannya dan memperkenalkannya pada kosakata baru yang diperlukannya.

Tidak banyak yang kami tuntut dari Kiran di usianya saat ini. Kami hanya mengamati kemandirian, nalar, bahasa, adab dan perilakunya untuk kemudian kami jadikan tujuan pencapaian keluarga kami bersama Kiran. Saat ini kemampuan akademis tidak kami persoalkan dan kami cukup senang dengan kemampuan membaca dan berhitung Kiran yang dipelajarinya secara alami dalam kegiatan sehari-hari atau melakukan permainan bukan dengan mengisi lembar kerja. Karena kami percaya belajar tidak selalu tentang hal-hal terkait akademis kami juga harus belajar tentang pemanusiaan.

Melakukan perjalanan, berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling kemudian melakukan pengamatan selama melakukan perjalanan. Itulah yang kami lakukan ketika menjalani travelschooling bersama Kiran.

Kami tidak membuat penilaian secara khusus tetapi melakukan pengamatan secara diam-diam. Sepertinya membuat panduan yang bisa kami gunakan untuk mengukur perkembangan Kiran dari waktu ke waktu akan mempermudah pencatatan pengamatan kami. Saya jadi bersemangat untuk membuat panduannya.