Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Kedua

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Kedua

Pagi ini kami dibangunkan kicauan burung di sekitar pinggir sungai. Tadi malam kami tidur di atas perahu tanpa merasakan hawa dingin meskipun kami tidak menggunakan selimut. Baru kali ini saya mengalami tidur di alam bebas tanpa merasa kedinginan atau pun kepanasan.

Setelah kru perahu menyiapkan perahu, Reka sudah menyiapkan sarapan ala barat untuk kami, panekuk pisang, telur mata sapi dan roti bakar sudah tersaji dengan rapi di atas meja makan. Setelah menyelesaikan makan pagi, kami pun melanjutkan perjalanan ke hulu sungai Sekonyer menuju pos kedua di Camp Pondok Tanggui untuk melihat orangutan di feeding area pada pukul 9 pagi. Seperti kemarin, setibanya kami di Camp Pondok Tanggui kami harus melakukan perjalanan singkat sekitar 30 menit ke dalam hutan menuju tempat pemberian makan orangutan.

Jarak batas pengamatan di tempat ini lebih dekat daripada jarak batas pengamatan di Camp Tanjung Harapan kemarin. Kali ini kami bisa mengamati orangutan dari jarak 6-8 meter. Ada pengalaman yang menarik di tempat ini karena ada 2 ekor orangutan yang melintas di atas kami dan hanya berjarak  sekitar 2 meter bahkan sempat berhenti beberapa saat sebelum mereka memasuki area makan. Terdapat 5 ekor orangutan yang datang silih berganti menikmati pisang dan susu yang disediakan. Setiap kali seekor orangutan menyantap makanannya, orangutan yang lainnya hanya mengamati seolah menunggu gilirannya tiba. Sungguh pemandangan yang luar biasa menyaksikan orangutan dari jarak dekat yang  bergerak bebas memanjat pohon dan bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lainnya.

Setelah puas melihat orangutan, kami berjalan kembali menelusuri hutan menuju perahu kami yang sudah menanti di pangkalan. Di tengah perjalanan kami melihat beraneka ragam semut berukuran besar, kantung semar pemakan serangga dan berbagai jenis lumut yang tumbuh di atas tanah dan batang pohon besar. Dari Camp Pondok Tanggui tujuan selanjutnya adalah pos ketiga, Camp Leakey, situs terbesar di TNTP dan salah satu tonggak sejarah kegiatan ekowisata di Indonesia. Di tengah perjalanan menuju Camp Leakey warna air sungai berubah dari warna cokelat menjadi hitam kemerahan. Pemandu kami menjelaskan bahwa sebenarnya air sungai yang tampak sangat jernih tetapi dasar sungai adalah gambut dan terjadi fermentasi dari dedaunan yang membusuk yang menyebabkan warna air tampak gelap dan di bagian atas air terlihat warna air kemerahan seperti air teh. Terlihat beberapa ekor burung eksotis yang saya tidak ingat namanya satu persatu melintas di depan perahu kami. Mulai dari burung kecil berwarna warni,  berparuh biru, berparuh merah, sampai burung besar terbang rendah di atas permukaan sungai seolah menyambut kedatangan kami dengan masing-masing suaranya yang khas.

Siang ini kami menyantap makanan khas setempat opor terong khas Kalimantan yang menggoyang lidah kami karena rasanya cukup pedas. Ikan mas goreng dan tumis tempe tahu melengkapi makan siang kami di atas perahu. Kiran terlihat lebih nyaman dan bertanya jawab bersama seluruh kru perahu. Saking nyamannya sampai tidak sungkan lagi meminta makan ketika merasa lapar.

Akhirnya kami tiba di pangkalan Camp Leakey sebagai pos terakhir yang berjarak 60 kilometer dari titik awal keberangkatan kami. Waktu berkunjung di Camp Leakey adalah pukul 14.00 – 16.00 dan kami tiba di sana sejam sebelum waktu berkunjung dibuka. Beberapa saat setelah perahu berlabuh di pangkalan hujan deras mengguyur. Tentu saja situasi ini membuat Kiran girang karena bisa bermain hujan. Awalnya saya enggan bermain hujan-hujanan karena takut sakit, tetapi akhirnya saya ikut bermain hujan juga bersama Kiran mengingat kesempatan langka bermain hujan di paru-paru dunia. Sejam kemudian hujan berhenti dan pemandu kami mengajak kami pergi menuju area pemberian makan orangutan di Camp Leakey tetapi kami menolak karena merasa lebih nyaman berada di atas perahu setelah mengonfirmasi kepada pemandu kami kegiatan di sana hanya sebatas observasi orangutan seperti di pos 1 dan pos 2 sebelumnya. Kami mengajak kapten perahu kami untuk kembali menyusuri sungai dan menikmati keindahan alam di sepanjang sungai dan menyaksikan bekantan dan monyet ekor panjang yang berkumpul di atas pohon. Beberapa kali buaya pun terlihat oleh pemandu kami tetapi saya hanya melihat seekor buaya yang terlindas tepat di bawah perahu kami.

Langit masih mendung dan tidak terasa perjalanan menuju hilir sungai mulai menggelap menunjukkan malam telah tiba. Kali ini kami meminta bermalam di tepi sungai dan bukan di pangkalan seperti malam sebelumnya. Kapten dan krunya menyusuri sungai mencari tempat yang tepat untuk menambatkan perahunya. Setelah cukup lama mencari, waktu telah menunjukkan pukul 7 malam dan perahu kami pun merapat di tepi sungai bertambat pada batang pohon nipah. Langit terlihat gelap dan kami agak kecewa karena tidak dapat menikmati gemerlap bintang malam ini. Tanpa diduga, ternyata perahu kami berhenti tepat di depan dua pohon yang sedang dihinggapi ratusan kunang-kunang seolah alam mencoba menghibur kami karena tidak dapat menikmati kemilau bintang dan digantikan dengan kerlip kunang-kunang. Kami pun tersihir dengan pemandangan yang disuguhkan alam untuk kami. Makan malam ditemani kerlip kunang-kunang, alam terlalu baik menyambut kami. Rasa syukur yang tak terhingga kami panjatkan atas segala nikmat yang kami terima selama di sana. Bersyukur masih dapat menikmati keindahan sang pencipta sebelum suatu hari punah oleh keserakahan manusia. Kiran dan Tessa sudah terlelap di dalam kurung kelambu sedangkan saya dan Nuni masih asyik mengobrol sampai larut sambil menikmati kerlip kunang-kunang sambil berdiskusi tentang keindahan alam dan keserakahan diri yang perlahan menghancurkan alam.

Keesokan paginya kami bangun pukul 5 pagi disambut kicauan burung-burung dan sinar matahari yang terhalang pepohonan dan memancar menerangi satu sisi perahu kami. Berat hati meninggalkan semua keindahan alam ini tetapi kami harus mengejar pesawat pagi yang akan mengantar kami kembali ke Jakarta pukul 10 pagi. Perahu mulai bergerak ke arah muara dan kembali ke Pelabuhan Kumai. Sepanjang perjalanan kami semua terdiam seolah tidak rela meninggalkan tempat tersebut. Kami mencoba menikmati setiap detik keheningan yang tersisa menuju ingar bingar kehidupan masyarakat modern.

Selamat tinggal alam yang telah mengingatkan kami akan keindahan Sang Pencipta. Maafkan kami yang terlalu mencintai diri sendiri dan melupakan tugas kami untuk merawatmu. Semoga kami berkesempatan untuk kembali dan menikmati keindahanmu.

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Pertama

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Pertama

Kali ini kami berempat, saya, Nuni, Kiran, dan adik saya, Tessa pergi mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Mengingat saya belum pernah pergi ke Kalimantan sebelumnya, untuk pertama kalinya kami melakukan perjalanan dengan menggunakan jasa pemandu tur untuk alasan keamanan. Kami mengambil program tur tiga hari dua malam. Hari pertama kami berangkat dengan penerbangan pagi pukul 09.30 dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Seharusnya penerbangan tersebut hanya memakan waktu satu jam lima belas menit tetapi pesawat kami mengalami penundaan penerbangan selama satu jam. Setelah mendarat di Bandara Iskandar (Pangkalan Bun) kami dijemput oleh salah satu staff penyedia jasa tur yang bernama Arief. Pemandangan menjelang pesawat mendarat sangat menyejukkan mata, saya hanya melihat pepohonan dan perkebunan yang saat itu saya belum tahu bahwa itu adalah perkebunan kelapa sawit, ya perkebunan kelapa sawit sudah memenuhi area tidak jauh dari bandara.

Setelah melakukan perjalanan menggunakan mobil selama 20 menit kami pun tiba di pelabuhan Kumai sebagai pintu masuk TNTP. Arief hanya mengantarkan kami ke dermaga dan kami “dipindahtangankan” kepada seorang pemandu yang bernama Arifin beserta tim perahu kelotok yang berjumlah tiga orang, seorang kapten, seorang asisten kapten dan seorang tukang masak. Kami pun bergegas menaiki perahu dengan penuh semangat. Ada tiga ukuran perahu kelotok yang tersedia di sana, perahu kecil, sedang dan besar. Kami menggunakan perahu berukuran sedang yang bernama Harapan Mina.

Terdapat tiga tempat rehabilitasi orangutan yang akan kami kunjungi di dalam perjalanan ini: Camp Tanjung Harapan, Camp Tanggui, dan Camp Leakey.

Hari Pertama

Setelah perahu meninggalkan pelabuhan dan mengarah ke muara, perahu kami bergerak ke arah hulu melawan arus sungai. Ketika meninggalkan hilir, ada pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, yaitu pertemuan air laut dan air tawar yang membentuk garis jelas karena air sungai yang berwarna cokelat dan air laut yang berwarna hitam. Taman nasional yang seluas pulau Bali berada di sebelah kanan perahu kami. Kami mengawali perjalanan menyusuri sungai Sekonyer menuju Camp Tanjung Harapan selama lebih kurang 2 jam sambil menikmati jamuan makan siang di atas perahu yang dimasak dengan lezat oleh seorang gadis yang bernama Reka.

Hawa di sungai Sekonyer membuat kami terkejut karena kami pikir akan berhawa panas mengingat tempat ini adalah hutan hujan tropis. Tetapi ternyata hawa di sana sangat sempurna, tidak panas dan tidak dingin. Ketika perahu melaju kami menikmati silir angin.

Setelah tiba di Camp Tanjung Harapan, kami melakukan perjalanan singkat selama 30 menit ke dalam hutan menuju feeding area untuk orangutan yang masih dalam proses rehabilitasi atau orang-orang di sana menyebutnya orangutan semi liar. Jalur trekking menuju feeding area pun ramah anak dan Kiran terlihat menikmati perjalanannya di dalam hutan tanpa keluhan. Masih banyak orangutan yang belum sepenuhnya bisa bertahan hidup secara mandiri dan TNTP ini adalah surga bagi orangutan karena mereka bisa belajar bertahan hidup di alam tanpa harus terganggu oleh manusia. Orangutan yang datang ke feeding area mendapatkan pisang dan susu sekali dalam sehari, terdapat petugas yang menyiapkan makanan pada waktu tertentu untuk memastikan mereka mendapatkan makanan jika memerlukannya. Kami hanya melihat 4 ekor orang utan yang datang kami mengamatinya dari tempat pengamatan yang berjarak lebih kurang 20 meter.

Dari Camp Tanjung Harapan, kami diajak menyusuri sungai Sekonyer lagi dan mencari kawanan bekantan di sepanjang pinggiran sungai. Perahu kami merapat ke dekat tanaman bakung supaya kami dapat menikmati pemandangan sekelompok bekantan yang sedang berkumpul di atas pohon. Mengamati binatang di habitatnya secara bebas merupakan pengalaman yang luar biasa dan sulit untuk dideskripsikan melalui kata-kata. Sambil menikmati pemandangan tersebut dari atas perahu Reka memanjakan kami lagi dengan sepiring pisang goreng yang mengepul panas melengkapi sore hari kami.

Kiran terlihat menikmati hari pertamanya dengan berbincang-bincang bersama kapten dan pemandu kami, Arifin. Sesekali Kiran berkeliling ke bagian bawah perahu dan kembali ke bagian atas perahu untuk mengusir kebosanannya. Kami pun mengamati perkembangan interaksi sosial Kiran yang meningkat dan lebih percaya diri bertemu dengan orang baru dan berinteraksi tanpa kesulitan.

Setelah puas mengamati bekantan, atau lebih tepatnya diamati oleh bekantan, perahu kami kembali ke dermaga di Camp Tanjung Harapan. Sebagai pelengkap malam pertama kami di sana, kami memindahkan meja makan ke bagian paling belakang perahu yang tidak beratap dan kami menikmati makan malam di atas perahu ditemani cahaya lilin dan diterangi gemerlap bintang di langit. Keadaan di sungai gelap gulita dan tidak ada cahaya kecuali yang berasal dari dalam perahu sehingga kami bisa menikmati indahnya bintang yang berkilauan di langit. Tidak hanya itu, karena kami sangat beruntung dapat menyaksikan benda langit yang jatuh ketika kami sedang asyik menikmati bintang-bintang di atas langit.

Selepas makan malam seharusnya kami melakukan trekking malam ke dalam hutan untuk melihat satwa-satwa yang ada di malam hari. Tetapi karena kondisi kesehatan saya yang tidak fit, kami pun memutuskan untuk beristirahat supaya keesokan harinya saya bisa berkegiatan lebih maksimal. Matras pun digelar di geladak dan kelambu dipasang di sekeliling matras untuk melindungi kami dari serangan nyamuk. Kegelapan dan keheningan malam membuat kami cepat terlelap. Suara-suara binatang malam ibarat lantunan lagu yang mengantarkan kami menuju alam mimpi.

TNTP bisa dijadikan sebagai tempat alternatif bagi pasangan yang ingin berbulan madu dan menjauh diri dari keramaian.

Bersambung ke bagian kedua . . .

Memeluk Kegagalan

Memeluk Kegagalan

Memilih untuk menjalani homeschooling harus siap menjadi perintis baik di dalam keluarga maupun di lingkungan sekitar. Seperti yang dituliskan Mas Aar di dalam bukunya Apa Itu Homeschooling . . .

“Dibutuhkan keteguhan dan kelenturan mental untuk melawan arus yang berbeda.”

“Keteguhan mental yang utama adalah kesediaan untuk memikul tanggung jawab keberhasilan dan kegagalan proses pendidikan pada pundak sendiri. Keluarga tidak bisa lagi mencari kambing hitam kurikulum sekolah, kualitas guru, kebijakan pendidikan, dan lain-lain jika menemui kegagalan.”

Apakah kita siap menerima risiko kegagalan ini?

Jawabannya sederhana, keberhasilan dan pemelajaran didapat dari kegagalan bukan? Oleh karena itu kita harus menerima kegagalan sebagai proses bukan hasil.

Kegagalan pertama keluarga kami adalah memindahkan sekolah ke rumah ketika mengawali homeschooling. Kurikulum Calvert pun kami import dari Amerika demi menyediakan kurikulum terbaik untuk Kiran. Biaya investasi yang kami keluarkan pun untuk membeli kurikulum tersebut sangat besar untuk kami, $1,148. Meskipun akhirnya kami mendapatkan potongan harga dengan membayar $689 dengan menggunakan program Family Financial Aid yang mereka sediakan. Koper besar berisi kurikulum untuk kami gunakan selama setahun pun kami titipkan kepada seorang sahabat yang sedang pulang kampung ke Amerika. Buku tebal berisikan lesson plan, buku-buku pelajaran, alat belajar mulai dari penggaris, CD, pensil warna, akses untuk materi pendukung online (Brainpop Jr, education.com dan lain lain) sampai kertas sudah disediakan sehingga kami tidak perlu menyediakan apa pun untuk “mengajari” Kiran di rumah.

Kami gembira luar biasa karena sudah memiliki peralatan yang lengkap untuk pembelajaran Kiran di tingkat Kindergarten (saat itu Kiran berusia 4,5 tahun).

Karena kami berdua memiliki latar belakang pendidikan di bidang pendidikan tidaklah sulit untuk mengikuti lesson plan yang sudah disediakan. Namun selama 2 bulan pertama kami berusaha mengikuti panduan yang disediakan dengan mengganti rutinitas pembelajaran berkali-kali. Kondisi kami saat itu sangat tertekan karena harus “mengejar target” yang disediakan di dalam kurikulum. Saya dan Nuni Amaliah pun berefleksi dan mencoba mencari solusi yang terbaik dalam mengajari Kiran.

Setelah berdiskusi hampir setiap malam, suatu hari saya mencoba melepas ego dan ternyata jawabannya ada di depan mata selama ini, KIRAN. Sorot matanya tidak menunjukkan kebahagiaan dalam menjalaninya.

Ya, kami stress dan mengalami kesulitan dalam mengawali perjalanan homeschooling kami karena kami “memindahkan sekolah” ke rumah kami, kami masih “mengajari” anak kami, dan kami masih melihat Kiran sebagai “objek” pendidikan. Kami pun segera menghentikan semuanya di bulan ketiga dan menata ulang perjalanan homeschooling kami. Kurikulum yang kami miliki pun mulai kami tinggalkan karena berisikan program membaca, menulis dan berhitung, tidak ada bedanya dengan materi yang disediakan di dalam kurikulum TK di Indonesia hanya saja tampilannya lebih menarik dan lebih sistematis.

Bertemu dengan praktisi homeschooling lainnya benar-benar sangat membantu kami saat itu. Bagaimana kami harus belajar berdamai dengan diri sendiri dan mulai “bertumbuh bersama” anak kami bukan menjadi pengajar untuknya.

Ya inilah kegagalan pertama dalam perjalanan homeschooling kami. Apakah kami menyesali apa yang terjadi? Tentu saja tidak. Kami sangat bersyukur telah melakukannya sehingga betul-betul tahu dan memahami bahwa homeschooling bukan tentang orangtua menjadi guru bagi anaknya atau memindahkan sekolah ke rumah. Kegagalan tersebut menjawab kegelisahan yang selama ini kami rasakan mengenai sistem pendidikan yang tersedia. Cara pandang kami terhadap pendidikan menjadi lebih jelas.

Sedikit demi sedikit kami mulai berfokus kepada Kiran bukan apa yang kami ingin Kiran lakukan. Mengobrol, memerhatikan sorot matanya ketika melakukan sesuatu dan menemaninya setiap saat membantu kami untuk membantunya menjadi seorang pemelajar dengan cara yang diinginkannya dan menyenangkan. Sampai sekarang kami pun masih menjalani kegagalan-kegagalan lainnya dan menerima semuanya sebagai proses belajar kami semua. Jadi jangan takut untuk menjalani kegagalan karena itu adalah bagian dari proses belajar dan keberhasilan. Ketika Anda atau anak Anda mulai tertekan berhenti sejenak dan lihat sorot mata anak Anda, jawabannya akan Anda dapatkan seketika.

Dimple

Pagi kemarin:

Kiran: Bunda, ayah has dimples on his cheeks, do I have one?

Bunda: Yes, you did Ki, when you were a baby. I’ll find the photo later.

Sore tadi:

Bunda: Here’s the photo Ki, see, you had one on your right cheek.

Kiran: Oh yeah, I have dimple like ayah (sumringah)

Bunda: How come I dont have one? (Pura-pura sedih)

Kiran: Dont worry Bun, I think you have, but it is covered by fat on your cheeks. (Muka lempeng)

Enough is Enough

Enough is Enough

Minggu lalu saya mendengar Kiran ditegur oleh Nuni karena mencoba mematikan semut. Sambil memompa ban sepeda saya yang kempes saya mengobrol dengan Kiran menanyakan alasan dari tindakannya. “But the ant didn’t die” kilahnya, lalu saya mencoba mengganti ‘why’ dengan “How do you feel about it?”, mencoba menerapkan saran dari Pak Gobind oleh-oleh seminar compassionate parenting. “I feel sorry” jawabnya. Kemudian Kiran melanjutkan kalimatnya dengan “His father will be looking for him if he is dead”.

Tiba-tiba jawaban Kiran membuat saya terdiam dan memerhatikan sekeliling. Kilasan informasi dari buku yang saya baca bersama Kiran melintas di kepala saya kemudian obrolan pun berlanjut “Why do you think animals extinct?” saya bertanya kepada Kiran. “Because people killed them”, jawabannya mengejutkan saya. “Why did the people kill the animals?” saya ingin memastikan sudut pandang yang dimilikinya. “I don’t know” Kiran menutup pembicaraan kami dan meninggalkan saya dalam perenungan. Kami pun melanjutkan kegiatan kami untuk bersepeda bersama pagi itu.

Masih di hari yang sama setelah saya pulang kerja saya teringat sebuah buku yang pernah kami baca bersama mengenai perjalanan manusia prasejarah. Kami pun membaca kembali buku tersebut yang mengawali bacaan kami masa di mana manusia prasejarah belum mengenal peralatan untuk membantunya bertahan hidup. Saya membayangkan pada masa itu semua makhluk berada pada posisi yang sama untuk bertahan hidup, membunuh atau dibunuh. Kemudian beberapa ratus tahun kemudian manusia mulai menemukan peralatan dari bebatuan dan menggunakan pakaian dari kulit binatang untuk membantu mereka bertahan hidup. Api pun ditemukan dan mengubah sejarah manusia. Manusia mulai memegang kendali dan dapat mempertahankan diri dari binatang buas bahkan membuat perangkap binatang yang ingin mereka tangkap. Seiring waktu berjalan, kemampuan manusia untuk bertahan hidup mulai berkembang dengan bantuan beberapa penemuan lainnya. Mereka pun sudah mulai berhenti berpindah-pindah dan mulai menetap di suatu tempat bahkan memiliki hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga mereka tidak perlu lagi berburu demi mengenyangkan perutnya untuk tetap bertahan hidup.

Lembar demi lembar kami baca dan diskusi pun mengalir begitu saja. Kami mencoba membayangkan situasi yang dijelaskan dari masa ke masa. Saya pun mencoba membantu Kiran memahami bahwa apa yang dimiliki oleh orang-orang pada masa kini tidak tersedia di masa lampau. Seberapa berharganya sebuah tongkat, potongan bebatuan dan api untuk keberlangsungan hidup mereka.

Sekarang kita berada di masa yang serba canggih dan kegiatan berburu adalah sebuah olahraga dan bukan kemampuan yang harus dimiliki untuk bertahan hidup. Kemampuan berpikir manusia sudah sangat berkembang melampaui batas-batas yang bisa dibayangkan oleh manusia prasejarah. Sekarang kita berburu harta supaya bisa bertahan hidup. Manusia modern ini sudah merasa tidak memerlukan binatang untuk bertahan hidup. Uang dalam jumlah besar dikeluarkan untuk mengembalikan banyak hal yang sudah tidak kita dapatkan lagi dari alam. Habitat binatang berganti gedung-gedung pencakar langit, sawah-sawah berubah menjadi pabrik, sungai-sungai dan laut dicemari limbah dan sampah dari keseharian kita. Lalu manusia modern ini menghabiskan waktu untuk mendidik diri mencari solusi dari masalah yang ada. Sepertinya kita sudah melampaui batas kebutuhan kita dari sekadar bertahan hidup.

Binatang-binatang sudah kita binasakan karena habitatnya kita hancurkan supaya kita menikmati keistimewaan hak untuk hidup dari sekadar bertahan hidup. Manusia prasejarah membunuh binatang karena mereka membutuhkannya untuk bertahan hidup tanpa merusak rantai kehidupan. Kita sudah tahu cara yang lebih beradab untuk bertahan hidup tetapi malah merusak rantai kehidupan karena sudah menjadi sifat kita untuk tidak pernah merasa cukup. Banyak binatang semakin punah bahkan es di kutub utara pun sudah mulai mencair dan kita masih bisa hidup tentram seolah tidak ada andil dalam kerusakan yang terjadi.

Berapa buah pendingin ruangan yang kita pasang di dalam rumah hanya untuk menyejukkan tubuh kita di dalam rumah. Semakin panas bumi ini semakin banyak pendingin ruangan yang diproduksi dan dipasang di setiap rumah. Tidak cukupkah panas yang kita rasakan saat ini membuat kita membuat kita berpikir andil kita terhadap rasa panas yang kita alami? Ketidakseimbangan alam yang terjadi akibat keegoisan kita.

Belum cukupkah kita memuaskan ego kita dengan memiliki lebih dari yang kita ‘butuhkan’ untuk bertahan hidup?

Tentunya kita kita tidak bisa memperbaiki kerusakan yang telah terjadi, tetapi kita bisa memperpanjang usia bumi dan memperlambat kerusakan terhadap bumi supaya generasi-generasi selanjutnya masih dapat menikmati tinggal di bumi. Mari merenungi gaya hidup kita apakah mempercepat kehancuran bumi atau memperlambatnya.

Buku pun selesai kami baca dan semakin menyadarkan kami untuk selalu bersyukur karena masih bisa menikmati dan tinggal di bumi sebelum masa kehancuran itu tiba.