Skills for Donation

Skills for Donation

Reading Time: 3 minutes

(Tulisan ini sudah mendapatkan persetujuan dan dukungan dari Bapak Endri Susanto untuk ditayangkan di blog kami)

Beberapa hari yang lalu saya menerima informasi dari mbak Shirley bahwa beliau dan keluarganya hendak pergi ke Lombok dan mengunjungi Yayasan Endri (Lombok’s Forgotten Children). Supaya tidak salah mengomunikasikan keadaan anak-anak yang dibantu oleh yayasan tersebut silakan kunjungi langsung situs webnya dengan mengeklik link di atas. Saya sudah mengontak Endri Susanto (pendiri yayasan) dan meminta informasi mengenai kebutuhan yayasan tersebut dalam membantu anak-anak di sana. Anda pun dapat mengunjungi akun Facebook Yayasan Endri di sini. Mohon pelajari informasi yang tercantum di situs web dan akun Facebook tersebut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Mengapa kami ingin membantu?

Kami menilai apa yang dilakukan oleh Yayasan Endri dapat dipertanggungjawabkan. Kami hanya merespons hati kecil kami. Apa yang Endri dan teman-temannya lakukan di Facebook untuk berjuang membantu anak-anak di Lombok yang membutuhkan keberadaan mereka membuat kami merenungi fasilitas dan kemampuan yang kami miliki. Setelah mengunjungi website Yayasan Endri, kami berpikir keras mencari cara untuk berkontribusi. Kondisi keuangan kami belum mampu membantu anak-anak di sana secara berkesinambungan. Akhirnya terpikir untuk menawarkan kemampuan kami yang dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya dan di saat yang bersamaan mengajak orang tersebut untuk berbuat baik.

Begini ilustrasinya. Kami akan menginvestasikan waktu kami dan menyediakan jasa baik untuk perseorangan, institusi atau perusahaan terkait keahlian yang kami miliki. Kemudian pihak tersebut membayar kami atas jasa yang kami berikan. Bayaran yang seharusnya kami terima dapat ditransfer langsung kepada Yayasan Endri. Mudah bukan? Anda mendapatkan layanan seperti yang Anda harapkan sekaligus membantu anak-anak yang membutuhkan. Kami pun dapat menyalurkan hal-hal yang kami senangi dan dapat turut serta berbuat baik.

Kami sangat tertarik dengan pendidikan dan teknologi dan selalu berusaha menggabungkan keduanya baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam pekerjaan. Saat ini saya memiliki lembaga bahasa yang masih berkembang dan telah berdiri selama 10 tahun. Saya terlibat secara langsung dalam pengelolaan sumber daya manusia, divisi penelitian dan pengembangan bahasa, maupun operasional usaha (sistem dan keuangan). Nuni telah mengajar di sekolah formal untuk 10 tahun dan menjadi wali kelas selama menjalani profesinya sebagai guru di sekolah dwibahasa di Jakarta Selatan Jika ada yang bisa kami lakukan atau bagikan untuk membantu Anda, kami akan dengan senang hati membantu Anda. Silakan hubungi kami melalui email atau nomor yang tercantum di bagian atas situs web ini.

Berikut adalah jasa yang dapat kami tawarkan (portfolio dari setiap layanan menyusul):

Pendidikan

  • Memberikan les privat (Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia) baik secara tatap muka mau pun online (Ketersediaan waktu berdasarkan kesepakatan bersama)
  • Mengajar atau melatih pengajar (sudah 10 tahun menjalani karir sebagai teacher trainer) dapat dilakukan secara tatap muka atau secara online
  • Membuat company profile, blog atau usaha online berbasis WordPress.com, WordPress.org, Blogger, Weebly, Google Site, atau Wix
  • Membuat materi pelajaran untuk kurikulum pembelajaran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia
  • Membuat Online Quiz
  • Membuat video pembelajaran (tutorial)

Bisnis

  • Membuat logo untuk usaha
  • Membuat video animasi untuk promosi usaha
  • Mengedit poster, foto dan video untuk promosi usaha di media sosial seperti Facebook dan Instagram
  • Membantu mengajari Facebook Grup dan Facebook FanPage untuk bisnis online
  • Mengubah sistem kerja manual dengan sistem komputerisasi menggunakan Google untuk efisiensi pekerjaan untuk bisnis kecil dan menengah
  • Mengolah presentasi yang menarik (Powerpoint, video, Prezi). Bahan presentasi disediakan oleh klien
  • Membuat kalender pegawai yang terintegrasi menggunakan Google Calendar
  • Membuat sistem penjadwalan pegawai secara online menggunakan Google Calendar
  • Konsultasi perekrutan tenaga kerja

Teknologi

  • Mahir mengoperasikan Microsoft Office
  • Mahir mengoperasikan produk-produk Google
  • Memaksimalkan penggunaan gawai untuk pekerjaan
  • Memaksimalkan gawai untuk pendidikan anak

 

Apa yang diperlukan oleh Yayasan Endri?

  • 200 kursi roda dewasa
  • 1.000 buah tongkat ketiak dan tongkat stroke
  • Biaya operasional yayasan 10 juta setiap bulan
  • Biaya pengiriman pasien ke Bali, Jakarta dan Surabaya termasuk biaya kos dan makan sekitar 50 juta perbulan

Terlihat banyak bukan keperluan mereka? Bayangkan beban yang harus mereka tanggung jika kita tidak mengulurkan tangan membantu mereka. Semoga Endri dan timnya selalu diberikan kesehatan sehingga bisa tetap memberikan pelayanan bagi orang-orang yang membutuhkan mereka.

Berbagi Untuk Bumi

Berbagi Untuk Bumi

Reading Time: 1 minute

Berbagi untuk Bumi adalah sebuah Grup Facebook yang mengajak Anda semua untuk mengubah gaya hidup dan pola pikir. Bagaimana kita bisa melihat sampah atau barang bekas dari sudut pandang yang lain. Bagaimana kita merasa bangga menggunakan barang-barang bekas untuk mengurangi beban bumi dari perilaku konsumtif yang kita miliki. Ada peribahasa yang mengatakan “sampah kita adalah harta karun orang lain”.

Jika Anda memiliki barang yang masih berfungsi atau masih bisa dipakai, silakan bagikan kunjungi Grup Berbagi untuk Bumi dan bagikan barang Anda kepada yang membutuhkan. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mengurangi jumlah timbunan sampah di TPA dengan cara mendonasikan barang-barang yang masih bisa digunakan dan berfungsi.

MENGAPA?

Dengan mendukung kegiatan ini, kita sudah melakukan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sekaligus melatih diri untuk mengurangi konsumerisme (gaya hidup yang tidak hemat).

Manfaat lain dari kegiatan ini adalah menyingkirkan barang-barang yang tidak kita butuhkan lagi tanpa harus ‘menyampah’ dan mempromosikan gerakan ramah lingkungan kepada semua orang yang terlibat di dalam kegiatan ini.

DUKUNG!

Sebarkan informasi ini kepada teman dan keluarga Anda supaya setiap orang yang ingin berkontribusi dapat bergabung dan saling menyebarkan kebaikan satu sama lain. Luangkan beberapa menit dalam hidup Anda untuk setidaknya memikirkan beban bumi yang setiap hari harus menanggu akibat dari gaya hidup kita. Setidaknya kita bisa mengurangi jumlah sampah untuk generasi kita selanjutnya.

Silakan kunjungi Grup Berbagi untuk Bumi. Selamat berbagi dan menerima manfaat.

CATATAN:
Semua barang yang dibagikan di sini GRATIS!.

Tolong untuk tidak melakukan transaksi jual beli di dalam grup ini karena tidak sesuai dengan tujuan diadakannya grup ini.

Travelschooling (Part 1)

Travelschooling (Part 1)

Reading Time: 3 minutes

Gabungan kata ‘travel’ dan ‘school’ ini sudah kita lakukan sejak dulu hanya saja dahulu belum ada istilah yang tepat untuk menyebutnya. Ini hanyalah masalah cara pandang kita terhadap sesuatu. Biasanya kalau suatu kegiatan diberikan label yang menarik, maka orang-orang akan lebih tertarik untuk memahaminya. Kami pun ingin turut menyuarakan keistimewaan dari travelschooling. Menerapkan konsep pendidikan yang sejalan dengan tujuan travelling yang berfokus pada proses dan bukan tujuan. Kita semua pasti mencapai tujuan hanya masalah waktu saja. Bagian yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menikmati dan mengambil pelajaran dari setiap proses yang kita jalani. 

Menjalani travelschooling tidak perlu jauh-jauh dan mahal, mengunjungi keluarga atau teman yang tinggal di kota tetangga pun bisa kita lakukan. Pengalaman kali ini kami mengundang diri kami untuk tinggal bersama salah seorang teman kami di sekitar perbatasan Bandung dan Garut di daerah Cijapati. Beruntung kami diizinkan tinggal bersama Dahlan seorang pemuda setempat yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan. Ketika kami tiba di rumahnya kami dikenalkan kepada Risko seorang murid kelas 2 madrasah aliah yang merupakan salah satu anak didiknya yang sudah 6 bulan tinggal bersamanya. Dahlan pun bercerita bahwa orangtua Risko memiliki keterbatasan fisik dan ekonomi untuk menyekolahkannya. Dahlan dan teman-teman sejawatnya mencoba membantu Risko mengingat semangat belajarnya yang sangat tinggi. Guru-guru muda yang masih berstatus guru honorer itu bahu membahu mendukung keseharian Risko supaya bisa tetap bersekolah. Risko adalah seorang anak yang pemalu. Kiran suka sekali dengan Risko sampai saat ini pun selalu menyebut nama Risko karena memang Risko adalah seorang anak yang lugu dan likeable.

Dahlan adalah seorang guru bahasa Inggris dan mencoba melatih Risko untuk berbicara bahasa Inggris dalam keseharian mereka. Mereka pun membuka rumah mereka kepada anak-anak tingkat dasar di sekitar untuk belajar bahasa Inggris di sore hari. Meskipun pelajaran bahasa Inggris sudah dihapus dari kurikulum saat ini tetapi Dahlan meyakini anak-anak sekolah dasar masih memerlukan bahasa Inggris. Saat kami berada di sana ada dua orang anak yang sedang berlajar bahasa Inggris bersama Risko bahkan anak-anaknya diantar dan dijemput. Bayarannya apa, kebahagiaan. Ketulusannya mendidik patut kita tiru.

Kami pun mengobrol berjam-jam dan bermain kartu Uno bersama ditemani ubi rebus dan goreng singkong yang menghangatkan tubuh kami melawan rasa dingin yang mulai menyerang. Keesokan harinya kami diundang oleh Ibu Heni, wakil kepala SMP Bina Harapan Bangsa, untuk berkunjung ke sana. Ketika kami tiba di sana Dahlan sedang sibuk melatih anak-anak pramuka yang akan mengikuti LKBB (Lomba Ketangkasan Baris Berbaris) tingkat propinsi yang di adakan di daerah Rancaekek. Kami melihat semangat yang membara dari para siswa yang akan mengikuti lomba tersebut. Bel istirahat berbunyi dan kedua regu yang akan menjadi perwakilan sekolah pun tampil di tengah lapangan basket ditonton oleh semua siswa yang sedang beristirahat. Dahlan menjelaskan latihan pada waktu istirahat ini adalah untuk melatih mental kedua regu supaya percaya diri menghadapi ratusan pasang mata yang akan menonton mereka pada saat lomba. Cara yang sangat cerdas.

Kiran terlihat sangat menikmati suguhan formasi baris berbaris yang ditampilkan oleh kedua regu sekolah itu. Kami pun bercengkerama dengan guru-guru lainnya yang sedang beristirahat di ruang guru dan menikmati suara merdu dari seorang siswi yang akan mengikuti lomba kesenian antar sekolah. Kami pun berkesempatan untuk melihat keterampilan seorang siswi yang akan dikirimkan untuk lomba bercerita bahasa Inggris. Luar biasa semangat belajar para siswa yang bersekolah di sana dan hal ini pun diakui guru-guru di sana. Mereka mengaku murid-murid di SMP Bina Harapan Bangsa masih belum terkontaminasi oleh derasnya teknologi yang di lain sisi adalah keterbatasan mereka untuk menerima informasi dari apa yang terjadi di luar wilayah mereka. 

Dengan segala keterbatasannya mereka menerima pelajaran TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) dan dibekali pembelajaran Microsoft Office serta diberi tugas untuk mengakses internet setiap minggu yang mengharuskan mereka untuk ‘turun gunung’. Murid-murid yang bersemangat ditangani oleh para pendidik yang berdedikasi.

Kami sangat berterima kasih atas penerimaan yang sangat hangat oleh semua pihak SMP Bina Harapan Bangsa. Khususnya untuk Dahlan dan Risko untuk kebersamaannya selama kami tinggal di sana. Semoga kita bisa melakukannya lagi di lain kesempatan. Berdasarkan pengalaman ini saya mendapatkan sebuah ide ‘holiday swap’ (bertukar pengalaman tinggal di rumah orang lain sebagai alternatif liburan yang dapat mengedukasi anak-anak). Apakah Anda tertarik? Silakan kontak saya jika tertarik bergabung dan ingin ikut menindaklanjuti ide ini.

Berikut ini vlog bagian pertama yang saya buat untuk mendokumentasikan kegiatan travelschooling kami:

Seruan Kepada Penghuni Bumi

Seruan Kepada Penghuni Bumi

Reading Time: 4 minutes

Saat ini Jakarta sedang dilanda banjir. Saya tidak tertarik untuk mengaitkan kejadian ini dengan berita politik karena tidak ada manfaatnya bagi kehidupan kehidupan saya. Melalui tulisan ini saya ingin membuat pengingat bagi saya dan teman-teman semua bahwa bumi ini sudah terlalu berat untuk menanggung beban dari gaya hidup yang kita anggap sudah maju dan beradab.

Apakah benar hidup yang kita jalani ini adalah kemajuan dari kehidupan sebelumnya?

Terbayang masa kecil saya ketika berusia 5 tahun di mana air minum kemasan belum hadir dan keberadaan makanan ringan pun belum tersedia di warung-warung. Saya masih bisa menukarkan sandal bekas yang sudah tidak terpakai dengan serantang makanan ringan kepada seorang tukang loak keliling yang memikul dua buah keranjang besar berisikani makanan ringan. Selain itu, jajanan masa kecil saya hanyalah kerupuk berlumur kecap bertemankan mentimun yang biasa saya minta dari petani yang kebunnya berada di dekat rumah. Rumah saya berada di tengah persawahan dan listrik pun belum ada. Orangtua saya memiliki warung yang mana para pembelinya adalah orang-orang yang tinggal di atas gunung dan harus berjalan setidaknya 3 kilometer hanya untuk membeli sesuatu dari warung kami.

Kami dimanjakan dengan hasil kebun yang berlimpah khususnya buah-buahan. Kakek saya pun rajin membuat kuaci dari biji matahari dan peuyeum yang manisnya pas terbuat singkong berukuran lengan orang dewasa untuk memanjakan cucu-cucunya ketika kami berkunjung ke rumahnya. Almarhumah nenek saya biasa berkeliling kampung menjajakan sisa buah-buahan yang berlimpah dari hasil kebunnya dan tidak habis kami makan mulai dari sirsak, jambu air, nangka, dan rambutan. Gambas yang kami dapatkan dari kebun adalah alat yang kami gunakan untuk mandi dan mencuci peralatan makan. Tukang abu gosok setiap hari berkeliling karena belum ada sabun colek atau sabun pencuci peralatan kala itu. Wangi cengkeh pun selalu menjadi ciri khas di rumah kakek dan nenek saya sehingga membuat saya tidak suka dengan baunya.

Peralatan makan yang kami gunakan adalah piring kaleng, rantang dan alat makan yang paling keren saat itu adalah piring yang terbuat dari melamin. Sendok dan garpu jarang kami gunakan karena kami selalu menggunakan jemari kami untuk menyantap makanan yang dihidangkan. Satu-satunya sampah yang kami hasilkan saat itu adalah daun pisang dan kertas koran bekas atau kertas bekas majalah Bobo yang sering digunakan untuk membungkus makanan ketika berjualan. Sisa makanan pun tidak pernah menjadi masalah karena biasa kami berikan ke binatang ternak seperti ayam atau ikan di kolam belakang rumah.

Beberapa tahun kemudian warung orangtua saya mulai dimasuki makanan ringan berkemasan. plastik mulai digunakan sebagai pengganti keranjang belanja yang biasa ibu saya gunakan untuk berbelanja di pasar tradisional. Semakin ke sini penggunaan kardus dan plastik sudah menggantikan fungsi keranjang belanja sepenuhnya. Sampai sekarang saya hidup di masa orang-orang yang panik ketika air minum di dalam galon habis. Sedikit demi sedikit orang-orang sudah melupakan caranya menyiapkan makanan ringan dan masakan sendiri karena sudah dimanjakan dengan ketersediaan jajanan cepat saji. Selain dianggap enak dan murah, kepraktisan menikmati makanan tersebut menjadi alasan utama keahlian membuat makanan sendiri mulai memunah. Saat ini sudah tidak ada lagi jajanan berupa buah-buahan hasil kebun yang bisa mereka jajakan di warungnya, tidak ada lagi ikan asin berpeti-peti untuk mereka dagangkan bahkan kerupuk pun sudah lagi tidak ditempatkan di dalam kaleng.

Beralih dari kondisi makanan yang saya sebutkan di atas, bangunan tempat tinggal pun berevolusi dengan cepat dari rumah panggung, rumah semi permanen hingga sepenuhnya permanen sampai-sampai air hujan pun tidak mampu diserap lagi karena tanahnya sudah dilapisi semen demi menghindari kondisi becek di kala musim hujan.

Saat ini saya sedang merenungi arti kata ‘kemajuan’, mulai dari mencermati kata tersebut dari rasa berbahasa yang saya miliki sampai merujuk KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Apakah benar kondisi yang saat ini kita alami adalah kemajuan? Berpendidikan lebih tinggi demi penghasilan lebih besar daripada yang orangtua kita dapatkan membuat kita hidup lebih beradab terhadap bumi yang kita tinggali? Berpengetahuan lebih dibandingkan orang-orang terdahulu telah membawa manfaat bagi tempat tinggal kita? Apalagi di zaman sekarang di mana dunia secara harfiah berada di genggaman tangan kita. Informasi apa pun yang ingin kita ketahui tinggal kita tanyakan menggunakan layanan mesin pencari di internet.

Foto ini saya ambil 3 hari yang lalu di sungai dekat rumah yang waktu saya kecil masih bisa saya nikmati untuk berenang atau bermain rakit yang terbuat dari batang pohon pisang. Apakah ini yang disebut dengan kemajuan? Pemandangan inilah yang tersisa untuk Kiran. Baru satu generasi, bayangkan pemandangan untuk generasi selanjutnya.

Apa yang terjadi dengan pendidikan anak-anak kita? Ke mana pun kita menoleh hanya keegoisan yang menjadi contoh dalam keseharian kita. Mengenyangkan perut tanpa memikirkan kemasannya, menghilangkan dahaga tanpa memikirkan sampahnya, mendinginkan suhu ruangan yang semakin memanas dengan menambah pendingin ruangan di setiap sudut rumah, membuang sampah di luar rumah kita supaya rumah kita bersih bahkan tidak sanggup untuk menyimpannya sementara di dalam kendaraan sehingga seringkali sampah-sampah tersebut terbang keluar jendela mobil. Semuanya demi kenyamanan diri tanpa memikirkan penghuni lain yang tinggal ‘serumah’ di bumi ini. Apakah ini yang kita namakan sebagai kemajuan, beradab, berpengetahuan?

Gaya hidup yang kita miliki telah membebani bumi di mana kita tinggal, setiap hari pohon ditebang, tanah dilapisi, laut dicemari, lalu sekeliling kita akhirnya dipenuhi sampah. Benarkah ini bukan masalah kita bersama? Tidak perlu berkunjung ke Bantar Gebang, tengoklah dapur kita masing-masing dan coba simpan sampah yang kita hasilkan selama 2-3 hari kemudian kita nikmati wewangian dan binatang yang yang berada di dapur kita. Ya, kondisi dapur itu tidak berbeda jauh dengan kondisi bumi kita.

Tidak ada seorang pun yang luput dari keegoisan yang saya sebutkan di atas termasuk saya sendiri. Tulisan ini bukanlah kritikan maupun penghakiman melainkan ajakan untuk meningkatkan kesadaran diri terhadap peran kita sebagai penghuni yang bertugas merawat bumi yang kita tinggali. Kehancuran bumi tidak bisa dihindari tetapi setidaknya dengan kesadaran yang kita miliki, kita bisa memperpanjang usia bumi untuk anak dan cucu kita supaya mereka masih memiliki kesempatan untuk menikmati bumi ini, ataukah bumi ini tidak perlu kita acuhkan dan menunggu hadirnya sebuah perusahaan yang menjual udara berkemasan untuk kita hirup dan menambah daftar etalase warung.

Mari kurangi sampah kita dengan melakukan tindakan-tindakan kecil seperti membawa botol minum sendiri untuk diisi ulang, membawa kotak makanan untuk jajan di luar rumah, menghindari penggunaan bahan-bahan kimia yang tidak dapat terurai oleh alam dan hal-hal lainnya yang bisa kita lakukan. Berhenti menimbun barang yang tidak kita perlukan. Bagi yang memiliki barang-barang yang tidak digunakan lagi tetapi masih layak pakai, silakan berikan kepada yang membutuhkan (tidak selalu berarti orang yang kekurangan harta). Anda juga bisa berikan di Grup Berbagi untuk Bumi jika memiliki kesulitan. Sesuatu yang besar berawal dari hal kecil. Jangan pernah berpikir tindakan yang kita lakukan sia-sia. Gerakan zero waste sedang dikumandangkan, bisa kita mulai dengan langkah awal less waste terlebih dahulu.

Semoga setiap kejadian yang terjadi di sekitar kita menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kita semua bertanggung jawab atas tempat tinggal kita yang kita namai bumi.

Melatih Diri “Walk the Talk”

Melatih Diri “Walk the Talk”

Reading Time: 3 minutes

Menyambung 2 tulisan sebelumnya mengenai rasa sayang dan menyembuhkan luka lama supaya kita bisa memiliki hubungan yang baik bersama anak adalah dengan cara melatih diri, bagaimana kita mulai menerapkan informasi yang kita miliki dan menjadi teladan bagi anak kita.

Apa yang kita lakukan adalah hasil dari perasaan atau emosi kita. Dengan mengenali emosi yang kita rasakan diharapkan kita dapat mengatur perbuatan atau pikiran kita.

Seringkali orangtua dan anak meributkan suatu hal yang dapat membuat hubungan keduanya tidak baik karena keduanya masih mempertahankan ego masing-masing bukan tentang mengapa hal tersebut ‘seharusnya’ terjadi atau dilakukan. Penerimaan satu sama lain tanpa kondisi yang dipersyaratkan memerlukan motivasi dan relevansi sehingga setiap pihak tidak harus berharap terhadap satu sama lain. Sebuah konsekuensi logis.

Tanpa kita sadari tindakan mengontrol anak kita ternyata bukanlah perwujudan dari kasih sayang kita sebagai orangtua melainkan ego yang berawal dari kekurangan diri kita sendiri kemudian berlanjut menjadi sebuah kecemasan sehingga berujung pada kontrol yang sering kita sebut sebagai ‘cinta atau sayang’. Misalnya kita memasukkan anak kita ke sebuah sekolah mahal dengan harapan anak kita bisa sukses atau mapan dan terlindungi secara finansial dan dihormati orang. Ini adalah sebuah asumsi yang berkembang di masyarakat jika anak tidak masuk sekolah yang bagus (baca: mahal) maka masa depannya tidak akan baik. Ketika anaknya tidak sukses lantas kita kecewa karena anak kita tidak menjadi seperti yang kita harapkan. Inikah yang dinamakan cinta?

SAYANG ATAU TAKUT

Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata ‘takut’ atau ‘cinta’? Kita ambil sebuah contoh ketika kita sedang makan bersama anak kemudian anak kita tidak menghabiskan makanannya. Kita semua tahu mengenal dua cara untuk menyelesaikan masalah ini. Yang pertama adalah dengan memaksa anak menghabiskan makanannya atau yang kedua membujuk anak dengan berbagai cerita yang membuat anak merasa bersalah. Mulai dari seberapa panjang perjalanan makanan menuju meja makan, para petani yang bekerja keras untuk menghasilkan makanan sampai bercerita tentang orang-orang kelaparan yang berada di negeri orang lain. Semua ini kita lakukan atas nama cinta atau sayang terhadap anak. Khawatir anaknya sakit atau terjadi sesuatu terhadap anaknya. Padahal rasa “cinta” yang kita rasakan bukanlah rasa cinta yang sebenarnya, tetapi ketakutan orangtua berbalut rasa khawatir yang berlebihan terhadap anak.

Ternyata rasa sayang tidak harus selalu “tampil” selaras dengan perbuatan. Ketika kita membantu anak mengenal sinyal tubuhnya terhadap rasa lapar tidaklah mudah bagi orangtua. Rasa khawatir yang tidak beralasan atau rasa nyaman yang memudahkan orangtua untuk ‘memberi’ makan kepada anaknya lebih mudah untuk dilakukan. Tetapi anak tersebut tidak memiliki motivasi untuk mengenal segala jenis makanan yang diperlukan bagi tubuhnya dan ketika tidak ada motivasi dari diri sendiri, anak tersebut tidak akan melihat relevansi dari tindakan yang harus dilakukannya sehingga kegiatan makan hanyalah sebuah rutinitas yang harus dilakukannya tanpa tahu pasti mengapa hal itu harus dilakukan dan diperlukan oleh tubuhnya sendiri.

Kita selalu mengajari anak kita untuk merawat barang-barang, rumah, binatang dan kendaraan tetapi sering kali gagal menerapkan konsep merawat diri terhadap anak kita. Ketika ada motivasi kemudian muncul relevansi.

Sebelum kami menjalani homeschooling pun kejadian seperti ini selalu terjadi di dalam kehidupan keluarga kami. Kami menyuruh Kiran makan untuk membuat kami nyaman (karena takut dia sakit jika dia melewatkan waktu makannya). Kami menyuruh Kiran mandi karena sebuah keharusan turun menurun yang terjadi di masyarakat. Kiran harus menggosok giginya sebelum tidur karena kami takut giginya berlubang karena kami takut giginya jelek dan rusak, dan masih banyak rutinitas lainnya yang kami terapkan kepada Kiran tanpa dia memiliki motivasi dan relevansi terhadap setiap kegiatan yang dilakukannya.

Semenjak menjalani homeschooling, kami mulai menyadari hal-hal tersebut dan berdamai dengan diri sendiri bahwa untuk menyayangi anak kami diperlukan kesabaran, rasa sayang tanpa syarat, dan menyembuhkan luka lama kami. Membangun kesadaran dan mengubah pola pikir kami tidaklah mudah. Kami pun masih belajar untuk konsisten menjalaninya. Perlahan tetapi pasti, seiring waktu berjalan kami mulai melihat hasilnya. Belakangan ini kami merasa bahagia ketika Kiran meminta makan karena dia lapar, ketika Kiran sudah mulai menggosok giginya sebelum tidur karena dia sadar giginya adalah tanggung jawabnya dan memerlukan perawatan, ketika Kiran tidur karena tahu tubuhnya perlu istirahat, sampai baru-baru ini Kiran sudah mulai mandi tanpa menggunakan sabun dan sampo karena tidak mau mencemari lingkungan. Perilaku seperti ini tidak mudah dilakukan ketika kami masih berusaha mengontrol dan mengharapkan Kiran melakukan sesuai dengan apa yang kami inginkan.

PEKERJAAN RUMAH KAMI

Mari kita berefleksi, apakah tindakan yang kita lakukan itu demi anak kita atau demi kenyamanan kita?

Setelah mengikuti seminar Pak Gobind mengenai compassionate parenting, ada beberapa hal yang masih kami latih untuk menerapkannya terhadap Kiran:

  • Meningkatkan kesadaran bahwa kami adalah fasilitator yang tugasnya memfasilitasi Kiran untuk menjadi seorang pemelajar.
  • Membantu Kiran menemukan motivasi supaya dirinya memiliki relevansi atas segala hal yang dilakukannya.
  • Melatih diri kami untuk tidak terjebak dengan asumsi dan mulai berfokus pada kenyataan.
  • Mengonfirmasi kembali setiap pertanyaan atau pernyataan Kiran secara keseluruhan tanpa berpekulasi.
  • Tidak membuat Kiran merasa bersalah, mempermalukannya dan apatis
  • Mulai mengganti teknik mengonfirmasi dari “mengapa” menjadi “apa yang membuatmu . . .” atau “apa yang kamu rasakan . . .” untuk membantunya merasa dan mengenali emosi.
  • Yang terakhir adalah walk the talk (konsisten menjalani setiap informasi yang kami miliki)

The way we see the problem is the problem