Bagaimana cara memperlakukan anak?

Reading Time: 2 minutes

Sudah agak lama saya ingin sekali menuangkan pikiran mengenai satu hal ini. Bagaimana cara kita sebenarnya harus memperlakukan anak? Bagaimana cara menyikapi tingkah laku anak yang kadang menyebalkan, menguras kesabaran, dan mengganggu apa yang sedang kita kerjakan?

Sebagian besar dari kita secara tidak sadar mungkin akan menerapkan cara yang sama seperti kita diperlakukan dulu waktu kecil. Dalam hal ini cara orangtua mendidik sangat berperan untuk membentuk perilaku kita. Tentu saja semua itu sangat dipengaruhi oleh kultur dan budaya, agama, tradisi, dan kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga. 

Misalnya, dulu untuk saya hukuman fisik itu tidak terasa sebagai siksaan. Saya dan adik saya cukup banyak dapat hukuman secara fisik dari orangtua kami. Papi menghukum kami dengan mengunci di dalam kamar gelap, gudang, atau kamar mandi. Mami menghukum dengan pukulan. Kadang menggunakan tangan, kadang gagang kemoceng. Tapi entah kenapa saya tidak pernah merasa tersiksa… Kami tidak tumbuh dewasa dengan membenci orangtua kami karena memperlakukan kami demikian.

Di keluarga yang lain mungkin tidak pernah ada hukuman fisik. Bisa berupa tugas tambahan yang harus dikerjakan, atau bahkan peringatan saja. Mungkin juga ada orangtua yang melakukan pembiaran pada anak-anaknya yang bandel. Tidak mau diatur. Mereka membiarkan anak-anak belajar dari pengalamannya sendiri. 

Ada juga orangtua yang menerapkan ajaran Nabi Muhammad dalam mendidik anaknya. Saat anak berumur 0-7 tahun perlakukan dia seperti raja. Berikan apa yang dia inginkan. Saat anak berumur 7-14 tahun perlakukan dia seperti tawanan.  Batasi dengan aturan dan tanggungjawab. Setelah anak berumur lebih dari 14 tahun perlakukan dia seperti sahabat. Tentu saja penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi anak dan keluarga masing-masing. 

Tidak ada satu cara yang sempurna dan paling benar untuk diterapkan ke semua anak. Seperti yang sudah disebutkan tadi, semua tergantung dari kultur, cara berpikir, dan kebiasaan dalam keluarga masing-masing.

Lalu, seperti apa perlakuan yang ideal yang bisa dipakai sebagai panduan untuk memperlakukan anak kita? Mungkin sebelum menjawab itu kita harus bertanya pada diri sendiri apa sih arti anak untuk kita?

Menurut saya kedewasaan seseorang seharusnya tumbuh bersama anaknya. Anak kita akan mengajarkan banyak sekali, kalau kita mengijinkannya dan mau membuka pikiran untuk semua kemungkinan. Kita akan belajar pengendalian emosi, belajar manajemen waktu, belajar bangun pagi, belajar mengatasi konflik, belajar bernegosiasi, belajar psikologi anak, belajar mendengarkan, bahkan belajar memasak (walaupun cuma masak bubur ?).

Seperti yang disebutkan bibi Nada Arini, “Terima kasih telah menjadi ladang belajar untuk ibu, nak…” Anak kita sebetulnya adalah guru yang sangat hebat. Lalu bagaimana seharusnya kita memperlakukan “guru” kecil kita ini?

Meski terkadang timbul masa-masa melelahkan, menyebalkan, menjengkelkan, tapi saya yakin pasti jauh lebih banyak masa-masa menyenangkan bersama anak kita, kan? Cara yang paling sederhana adalah ingat saja selalu momen yang menyenangkan itu dan lupakanlah saat yang tidak menyenangkan. 

Ada satu cara pikir yang saya amini. Suatu saat nanti kita akan menjadi tua dan tak berdaya. Persis seperti anak kecil. Makin tua makin mirip dengan anak kecil, balita, bahkan bayi. Saat kita sudah terlalu lemah untuk berjalan sendiri, harus dituntun seperti dulu kita belajar berjalan sewaktu bayi. Saat itu pun mungkin tingkah laku kita seperti anak kecil. Dan mungkin menyebalkan bagi anak kita yang sudah dewasa, dengan banyak kesibukannya. Maka keadaan akan berbalik. Saat itu bagaimana kita ingin diperlakukan oleh anak kita? Coba jawablah sejujurnya.

Maka perlakukanlah anak seperti kita ingin diperlakukan olehnya di masa depan. Sesederhana itu. Dengarkan, sayangi, perhatikan, lindungi, maafkan.

Hargai lah “guru-guru kecil” pengajar kehidupan, karena melalui mereka Tuhan kerap berbicara…

Adiva This Day

Reading Time: 2 minutes

Hari ini kembali kami berkegiatan bersama dengan teman-teman di rumah bibi Nada. Sayangnya kami tidak bisa ikut kegiatan awal yang sangat menyenangkan. Yaitu membuat cetakan dari bubur koran dan kertas.

Cetakan koran ini akan dikeringkan dan minggu depan akan diwarnai bersama.

Sesudah mandi hujan, main air keran, dan ganti baju, anak-anak berkegiatan bersama mentrace gambar. Ini untuk melatih membiasakan memegang alat tulis. Ada beberapa gambar yang bisa dipilih. Mobil, roket, kereta, dan burung hantu.

Setiap anak punya caranya sendiri mengerjakan kegiatan ini. Ahsan cepat sekali menyelesaikan gambarnya. Bahkan sebelum semua gambar selesai dibagikan ke semua anak, Ahsan sudah selesai mentrace. Begitu juga dengan Kiran. Cepat sekali mentrace gambarnya. 

Akhtar cukup cepat mentrace gambarnya dan mewarnai seluruhnya dengan warna merah. Alma mendapat gambar kereta yang cukup banyak garisnya. Tapi Alma tidak terlalu rapi mengikuti garisnya, jadi bisa cukup cepat mentrace gambarnya. 


Adiva kebetulan mendapat gambar burung hantu. Dia cukup rapi mengikuti garis dan agak lama mentrace gambarnya. Bahkan setelah hampir semua temannya selesai mentrace dan mewarnai gambarnya, adiva belum selesai mentrace gambarnya.

Sesekali dia mengomentari gambar teman-temannya, dan mengingatkan untuk mentrace mengikuti garis. Adiva memang suka sekali bercerita dan menfkritik, salah satu hobbynya tampaknya.

Ada satu hal yang menarik. Adiva biasanya tidak terlalu suka menggambar di rumah. Mungkin karena kegiatan ini dilakukan bersama-sama, dia bisa lebih senang melakukannya. 

Adiva bisa mengikuti garis dengan cukup rapi. Untuk gambar ini dia memilih banyak warna untuk mewarnai gambarnya. Dan bisa mewarnai di dalam garis juga dengan cukup rapi.

Dari kegiatan ini saya belajar banyak tentang adiva. Tenyata dalam suasana yang kondusif, Adiva bisa sangat konsisten dan tekun dalam melakukan sesuatu. Dan tidak terganggu dengan kegiatan temannya yang lain. Saat semua temannya sudah selesai dan main di luar, dia masih mewarnai dan menyelesaikan gambarnya. Walaupun hasil akhirnya belum seluruhnya tertutup warna, tapi sudah sangat baik. Semoga kemampuannya semakin berkembang bersama-sama dengan teman-temannya.

A very good job today, Adiva…?

​Berkunjung ke Sanggar Akar Kalimalang

​Berkunjung ke Sanggar Akar Kalimalang

Reading Time: 4 minutes

Berawal dari keinginan saya untuk memperkenalkan kegiatan seni kepada Adiva, sabtu pagi kemarin kami mengikuti kegiatan Klub Oase berkunjung ke Sanggar Akar. Ternyata Sanggar Anak Akar dekat sekali dari tempat tinggal kami. Hanya 5 menit perjalanan dengan mobil sudah tiba di lokasi. Saya memang tidak punya ekspektasi apa-apa karena belum pernah datang ke sebuah sanggar sebelumnya, tapi Sanggar Akar ini betul-betul unik.   

Dari luar sanggar ini terlihat seperti rumah saja, dengan banyak tanaman di sisi depan pagarnya. Yang terlihat hanya jalan masuk ke dalam ruangan panjang ke belakang selebar satu mobil. Mirip seperti carport  atau garasi. Ada deretan tanaman perdu di sisi kirinya dengan beberapa pohon di antaranya. Setelah melewati jalan masuk ada aula, sebuah ruangan besar di sebelah kanan berlantaikan keramik putih. Satu-satunya ruangan di seluruh sanggar yang dilapisi keramik putih. Tempat anak-anak berkumpul, berkegiatan bersama, berlatih teater, bermain musik, dan juga menerima tamu. Atapnya tinggi dan di bagian atas aula ini terlihat pagar dan dinding yang terbuat dari kayu. Bangunan ini merupakan bagian depan sanggar. Sedangkan bagian belakang sanggar berupa bangunan berstruktur beton dan berdinding bata exposed setinggi 4 lantai. Tanpa plesteran dan acian. Sangat alami. Lantainya pun hanya acian semen yang dihaluskan, yang sudah licin karena seringnya terinjak alas kaki.

Di sisi belakang aula yang dipisahkan oleh ruang terbuka dengan tangga ke atas, rupanya difungsikan sebagai dapur. Saat itu sedang ada beberapa orang yang mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak. Satu hal yang unik, mereka masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Dan kayu bakar ini adalah sumbangan dari masyarakat sekitar sanggar. Di sisi kiri area dapur ini ada ruangan terbuka juga dengan pohon besar di tengahnya. Di ujungnya ada ruangan untuk melukis dan membuat sablon kaos. Di tengah antara kedua ruang terbuka itu terdapat meja besar. Meja ini rupanya meja makan dan meja menerima tamu. Di bagian belakang ada ruangan lagi seperti teras yang dipakai juga untuk menerima tamu, dan di samping kanannya ada gudang properti teater.

Suasana di dalam sanggar ini sangat berbeda dengan kondisi di luar. Sementara jalan Kalimalang selalu ramai dan padat dengan kendaraan, di dalam terasa lebih tenang. Seolah kami tidak berada di Jakarta. Seperti ketenangan di Yogyakarta atau kota kecil lainnya, yang tidak penuh dengan hiruk pikuk kota besar. Di meja besar tempat kami duduk terasa suasana teduhnya pepohonan, dan tercium aroma kayu bakar yang sudah disiapkan untuk memasak. Sementara di aula terdengar anak-anak, termasuk anak-anak Klub Oase yang berlatih teater bersama-sama. Sungguh suasana yang menyenangkan.

Kami disambut dan berdiskusi banyak dengan dua pengurus Sanggar Akar, Putri dan Nisa. Mereka bercerita tentang bagaimana dulu sanggar ini menjadi tempat tinggal lebih dari 50 anak. Tempat untuk anak-anak belajar dan mengekspresikan dirinya. Sanggar Akar sudah terbentuk sejak 1994 dan menempati bangunan di Kalimalang ini selama lebih dari 10 tahun. Keberadaan Sanggar Akar sudah sangat diterima dengan baik oleh warga sekitar, dan menjadi jalan keluar bagi banyak anak untuk memperoleh pendidikan. Saat ini hanya tinggal 4 orang yang tinggal di sini. Para orangtua yang awalnya menempatkan anaknya di sanggar, menarik kembali anak-anaknya ke sekolah formal karena terbitnya Kartu Jakarta Pintar. Di satu sisi tentunya saya mengerti bahwa pemerintah berusaha supaya semakin banyak anak yang bisa melanjutkan sekolah, tapi di lain sisi sangat disayangkan tempat seperti Sanggar Akar ini menjadi redup, karena sejatinya pendidikan tidak hanya didapatkan di bangku sekolah saja. Bahkan mungkin anak-anak bisa mendapatkan lebih banyak di sini.

Setelah mengobrol sejenak, kami diajak berkeliling bangunan sanggar ini oleh Nisa. Di lantai atas ada beberapa ruangan termasuk ruang lab komputer, ruang administrasi, ruang rapat, ruang kerja, dan ruang-ruang lainnya. Termasuk juga kamar-kamar tempat tinggal. Di lantai 3 ada sebuah ruangan besar yang bisa juga dipakai sebagai tempat latihan musik dan teater, sebagai pengganti aula apabila diperlukan. Ada sebuah papan tulis hitam masih dengan gambar partitur yang terakhir ditulis. Dan ada sebuah piano, yang walaupun tampak sudah lama tidak dipakai tapi ternyata masih merdu suaranya. Pak Siddiq, salah satu anggota Klub Oase, sempat mencoba memainkan beberapa baris lagu.

Di lantai 2 kami sempat bertemu dan berbincang dengan Bapak Ibe Karyanto, pimpinan dari Sanggar Akar. Beliau bercerita tentang perjuangan membangun Sanggar Akar hingga memiliki bangunan sebesar sekarang ini. Para penggagas Sanggar Akar memang ingin memberikan wadah bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan, dan memberikan hak-hak anak untuk mengembangkan diri. Oleh karena itu mereka berjuang supaya bisa memiliki bangunan ini. Bangunan setinggi 4 lantai ini ternyata dibangun hanya oleh 2 orang tukang dan anak-anak Sanggar Akar. Dari mulai sampai selesai layak huni menghabiskan waktu 9 bulan. Membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat sekitar, sehingga bisa diterima keberadaannya, dan membuat para orangtua merasa tenang menitipkan anaknya di sini. Sebuah social cost yang sangat tinggi, yang mungkin bisa hilang, karena ada wacana pembangunan jalan layang yang menyebabkan bangunan ini terkena pembebasan lahan. Walaupun belum jelas kapan pelaksanaannya, namun ini membuat para pengurus sanggar merasa waswas. Tak terbayang bagaimana jerih payah semua orang yang ikut berperan di bangunan sanggar ini akan hilang, dan anak-anak tidak punya tempat lagi untuk belajar dan mengembangkan diri.

Tapi selama bangunan ini masih berdiri, Sanggar Akar akan terus berkarya. Seperti pertunjukan teater dan musik yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Juga kelas-kelas pelatihan untuk anak-anak, yang sebagian besar diisi oleh para relawan. Seperti latihan teater yang diikuti oleh anak-anak Oase di aula depan. Setelah sesi perkenalan, mereka dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk membuat pertunjukan bermain peran singkat. Mereka dibebaskan untuk saling berdiskusi untuk menentukan cerita dan peran masing-masing anak. Selama kami berkeliling tadi rupanya anak-anak sedang sibuk merancang pertunjukan mereka. Sesudah itu satu per satu kelompok mementaskan cerita yang mereka buat bersama. Setelah selesai satu pementasan, mereka menjelaskan ceritanya dan anak-anak dari kelompok yang lain bisa bertanya.

Memang sangat singkat dan sederhana, tapi ide cerita itu datang dari anak-anak sendiri, mereka bisa dan mau berkompromi, bekerjasama saling mengisi peran dalam pertunjukan mereka. Sungguh banyak yang dipelajari anak-anak hari ini. Selain mendapat teman-teman baru, berkunjung ke sebuah bangunan sanggar yang unik, bisa mengalah untuk menerima ide dari anak yang lain, dan mencoba untuk menjalankan tugasnya memerankan cerita yang mereka setujui bersama. Semua ini dilakukan hanya dalam waktu 1 jam. Mungkin orang dewasa pun mengalami kesulitan untuk merancang pertunjukan singkat hanya dalam waktu 1 jam. Sungguh kita bisa belajar banyak dari anak-anak kita.

Sejujurnya pada saat awal saya masuk ke dalam sanggar ini kesan pertama saya adalah bangunan ini tua dan tidak terawat, mungkin jarang dibersihkan. Banyak barang di mana-mana. Tapi setelah saya semakin mengenalnya, itu cuma satu nilai minus yang tertutup oleh banyak nilai plus. Bagaimana sanggar ini dibangun, seberapa banyak impian dan harapan para pendiri dan pengurusnya, dan sudah berapa banyak anak yang terbantu olehnya. Saya harap Sanggar Akar terus berkarya dan bahkan menjadi lebih besar supaya bisa membantu lebih banyak anak. Seperti juga anak saya….

“Adiva…, apakah kamu senang bermain di sini hari ini?”

“Iya, pa… Aku tadi jadi zombie…”

“Mau main ke sini lagi?”

“Mau…………” 🙂

Cooking Project . . . and Much More . . .

Cooking Project . . . and Much More . . .

Reading Time: 3 minutes

Hari selasa ini tanpa direncanakan ternyata banyak kegiatan yang kami lakukan bersama. Bahkan dimulai dari jam 8 pagi. Dan ini dimulai dengan kegiatan untuk para orangtua, latihan kungfu . . .

Olah Raga

Karena ada permintaan dari teman-teman akhirnya saya mencoba memberikan latihan kungfu. Belum bisa disebut latihan sih… lebih tepatnya olahraga beladiri kungfu.  Untuk hari pertama ini pesertanya baru 4 orang. Lumayanlah, mudah-mudahan minggu depan bertambah. Sayangnya Bibi Anita belum bisa bergabung karena masih flu, dan Bibi Yulia masih repot dengan Angkasa dan sayur asemnya . . .

Sementara para orangtua berjuang mengatasi badannya yang kaku, anak-anak bermain sendiri di dalam rumah. Kecuali Maji, yang senang sekali bergabung dengan kami. Bahkan karena terlalu dekat akibatnya kena sikut ibunya sendiri 🙂

Semangat ya paman dan bibi, minggu depan kita latihan lagi supaya badan tambah kuat dan sehat. Kita perlu energi banyak untuk menangani anak-anak .

Setelah beristirahat sejenak, dan mandi tentunya, kami memulai cooking project. Hari ini anak-anak membuat piza . . . mudah sekali membuat piza. Base yang dipakai ada 2 macam, roti piza yang sudah jadi, dan kulit tortilla. Keduanya bisa dibeli di supermarket, sudah matang dan aman dimakan langsung. Kulit tortilla lebih enak karena tipis jadi toppingnya lebih terasa.

Untuk toppingnya kami sediakan saos tomat sebagai dasar, dan beraneka macam topping seperti: sosis, bawang bombay, paprika, nanas, ditutup dengan keju cheddar dan mozarella tentunya. Selain topping yang rasanya gurih, disediakan juga topping yang manis. Seperti strawberry jam, peanut butter, dan coklat tabur.

Anak-anak belajar banyak dalam kegiatan ini. Mereka belajar untuk menyimak dan mendengarkan, belajar mengikuti instruksi yang diberikan, belajar berhitung ketika memarut keju, dan belajar menanti giliran.

Setelah semua bahan topping dipotong, sekarang waktunya anak-anak berkreasi di atas piza mereka. Dan . . . topping favorit semua anak adalah sosis dan keju. Itu berarti masih banyak topping yang lain untuk piza para orangtua. Untuk memanggang piza pun tidak terlalu lama. beberapa menit saja di oven sudah siap makan. Ini karena roti piza yang dipakai sudah matang. Jadi tinggal melelehkan kejunya saja supaya terlihat menarik. Sekarang waktunya makan . . . semua terlihat enak. Great job kids! mari nikmati piza kreasi kita sendiri. Kalau kurang nanti kita buat lagi di rumah ya.

Setelah pesta piza, kegiatan diteruskan dengan makan siang. Yes. Makan siang dengan lauk sayur asem, ikan asin, ikan goreng, tempe dan tahu, tak ketinggalan sambel. Memang para orangtua ini perutnya dobel sepertinya.

Sambil menikmati makan siang kami menonton film The Beginning Of Life. Sebuah film dokumenter di 9 negara tentang proses perkembangan bayi dan anak usia dini. Film yang sangat bagus untuk belajar parenting. Mengingatkan kembali betapa berharganya seorang anak dan betapa pentingnya peran kita sebagai ayah dan ibu.

Selama para orangtua menonton, anak-anak sibuk bermain di luar. Dan seperti biasa terjadi beberapa insiden kecil di antara mereka, yang biasanya bisa mereka selesaikan sendiri tanpa campur tangan orangtua. Tapi kali ini ada insiden yang cukup besar dampak kerusakannya. Ahsan dan Kiran rupanya bereksperimen apa yang terjadi kalau barbel seberat 2 kg dijatuhkan di atas mainan pesawat Alma yang terbuat dari plastik. Dan hasilnya mainan pesawat itu hancur. Di sini Paman Ian mengambil inisiatif sebagai mediator. Ahsan dan Kiran meminta maaf kepada Alma. Dan setelah berdiskusi disepakati kalau mereka akan mengganti mainan pesawat tersebut dengan mainan yang serupa. Dan mereka harus menggantinya dengan uang mereka sendiri. Ini akan menjadi project Ahsan dan Kiran selama 1 minggu ke depan. Bagaimana mereka berusaha mendapatkan uang dengan usaha mereka sendiri untuk mengganti mainan Alma yang rusak? Dan bagaimana mereka berusaha mencari mainan yang serupa, bahkan pergi bersama-sama untuk membelinya. Tentu saja didampingi orangtua.

Korban Eksperiment Ahsan dan Akhtar

Kita nantikan cerita perjalanan Ahsan dan Kiran minggu depan.