Belajar Melepas Keakuan

Kali ini saya dan Nuni mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari Gobind Vashdev mengenai compassionate parenting. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan pada pemelajaran kali ini dan saya akan mencoba mengulas kembali hal apa saja yang menjadi perhatian saya ketika mengikuti kegiatan tersebut. Hasil belajar setiap orang bisa berbeda sehingga apa yang saya akan sampaikan sepenuhnya adalah interpretasi saya pribadi. Jika ada kekeliruan dalam tulisan ini sangat mungkin dikarenakan kesalahan interpretasi saya atau ketidakpahaman saya terhadap informasi yang saya terima dan sewaktu-waktu dapat diralat demi kejelasan informasi.

Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti seminar beliau. Fokus dari seminar ini adalah bagaimana orangtua dapat memahami arti dari kata cinta atau kasih sayang yang sebenarnya supaya kita bisa berhubungan baik dengan anak. Baru kali ini saya kesulitan menulis karena banyak sekali hal yang ingin saya sampaikan. Oleh karena itu saya akan membagi pengalaman mengikuti seminar Pak Gobind menjadi beberapa bagian supaya mudah untuk dibaca sekaligus memberikan saya waktu untuk mengulas kembali informasi yang saya terima.

Untuk bagian pertama, saya akan menyampaikan pelajaran yang saya terima tentang perbedaan sayang  dengan kemelekatan (tanpa mengurangi rasa hormat demi kejelasan berbahasa izinkan saya mengubah kata ‘kemelekatan’ dengan ‘keakuan‘ yang saya anggap mendekati arti yang dimaksud karena ‘kemelekatan’ tidak sesuai dengan norma berbahasa Indonesia). Saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk mencoba jujur dan berdialog dengan dirinya sendiri supaya mendapatkan manfaat dari apa yang akan saya bagikan.

Tanpa kita sadari ternyata kata ‘sayang’ yang selama ini kita gunakan berbeda makna dengan kata ‘sayang’ yang sesungguhnya ingin kita gunakan. Selama ini yang kita kenali adalah bentuk sayang dengan syarat. Kita melakukan sesuatu dengan melekatkan timbal balik dalam bentuk harapan. Contohnya kita menyayangi pasangan atau anak kita dengan harapan pasangan atau anak kita melakukan hal yang sama terhadap kita. Kita memarahi anak dengan balutan kata sayang untuk memperlembutnya dan menyembunyikan perasaan kita yang tidak dapat kita kelola dengan baik untuk mengontrol anaknya (disengaja atau tidak). Kita memperlakukan orang lain dengan baik dan berharap orang lain memperlakukan kita dengan baik juga. Pokoknya semua yang saya berikan atau saya lakukan harus saya terima kembali dalam bentuk yang sama. Sehingga ketika kita tidak menerima sesuai yang kita harapkan muncul rasa kecewa. Dari mana rasa kecewa ini bisa muncul jika bukan dari sebuah harapan?

Apakah sudah mulai terbayang kata ‘sayang’ (baca: keakuan) yang terjadi seperti dalam hubungan di atas? Anda boleh setuju atau tidak dengan hal ini. Tulisan ini bukanlah untuk mengkritik atau menghakimi tetapi sekadar berbagi, sebuah ajakan untuk meningkatkan kesadaran diri. Mungkin kita tidak tahu atau tidak sadar akan apa yang biasa kita lakukan. 

Apa yang terjadi ketika kita tidak menerima perlakuan sesuai harapan? Apakah kita masih merasakan hal yang sama untuk orang itu? Apakah hubungan kita dengan orang itu berubah? Kemudian apakah motivasi dari setiap tindakan yang kita lakukan berdasarkan pengharapan atau pelepasan?

Rasa sayang yang sesungguhnya tidak akan melekatkan apa pun kepada orang yang kita sayangi; anak, pasangan, orangtua, atau pun orang lain. Tidak ada sebuah harapan atau timbal balik dari perlakuan yang kita berikan baik secara fisik maupun emosi. Bahkan mungkin sebetulnya kita tidak mencintai pasangan kita, tetapi mencintai kriteria yang ada pada pasangan kita. Kriteria yang hanya ada di dalam pikiran kita sendiri sehingga ketika kita bertemu dengan seseorang yang ‘memenuhi’ kriteria tersebut, terjadi sebuah pemenuhan ‘keakuan’ di antara keduanya. Tanpa diantisipasi ternyata banyak sekali hal-hal yang tidak memenuhi kriteria dari pasangan tersebut setelah tinggal bersama sehingga rasa yang terjadi di antara keduanya hanyalah keakuan, “Kalau kamu tidak begini, aku akan begitu”, “kalau kamu anu aku akan anu”. Seringkali kita melakukan hal yang sama terhadap anak kita, misalnya, “kalau kamu tidak menghabiskan makanannya, kita tidak jadi beli es krim ya”.

Jika memang begitu adanya, saya ingin mengatakan “aku tidak mencintaimu istriku. Aku ingin belajar melepasmu, mendukungmu sampai kamu mencapai potensi diri tertinggimu. Aku akan selalu bersamamu, menerimamu dan memahamimu, bukan mengubahmu seperti apa yang aku inginkan.”

Untuk ananda Kiran, semoga ini menjadi pengingat untuk ayah supaya ayah bisa menyayangimu tanpa syarat. Ayah akan belajar untuk tidak melekatkan keakuan dan menyayangimu apa adanya.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” ― Sapardi Djoko Damono

Posted by Rahdian Saepuloh

Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.

Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.

Leave a Reply

Required fields are marked*