Benar Vs Salah

Pagi itu setelah Kiran selesai berlatih teknik berenangnya, saya memberikan waktu kepada Kiran untuk bermain di kolam renang bermain anak-anak. Belum lama saya duduk, saya mendapati Kiran tengah memanjat bagian samping tangga luncuran. Ketika hendak menegur Kiran untuk menggunakan tangga yang tersedia tiba-tiba saya berhenti dan merenung sejenak, “Mengapa saya harus menegur Kiran? Apakah yang dilakukannya salah?” Dia tidak mengantre, dia melanggar peraturan dan bagaimana kalau dia terjatuh kemudian terluka, dan banyak hal lainnya yang berkecamuk di dalam pikiran saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa dan melakukan pengamatan sambil merekam kegiatan bermain Kiran selama satu jam.

Selama pengamatan berlangsung saya mencoba mengontrol diri untuk tidak mengatakan apa pun bahkan ketika Kiran memanggil pun, saya hanya tersenyum dan menjawab seadanya. Ada perasaan yang mengganggu ketika saya “berpikir” Kiran telah melakukan sesuatu yang salah sehingga membuat saya kecewa, sedih dan marah karena tidak dapat mengikuti peraturan yang sebetulnya (manurut saya) sudah diketahuinya. Kemudian saya berdialog dengan diri sendiri dan bertanya “Apa yang membuat kamu emosi?” Saya mencoba memeluk emosi yang sedang saya rasakan saat itu. Kemudian saya teringat dengan konsep kata “kotor” yang disampaikan oleh Gobind Vashdev. Apa sebenarnya kotor itu? Ini adalah sebuah konsep bahasa yang sifatnya subjektif karena definisi kotor saya dan Anda pasti berbeda. Ketika kita melihat lantai penuh pasir mengapa kita mengatakan lantai tersebut kotor. Mengapa tidak kita katakan saja lantainya berpasir karena memang begitu keadaannya.

Setelah mengingat konsep bahasa yang sifatnya subjektif tersebut, saya mulai berefleksi kembali tentang pengamatan saya terhadap perilaku Kiran di kolam renang. Saya merasakan emosi karena saya “menilai” tindakan yang Kiran lakukan salah. Kemudian saya mencoba mendefinisikan kata benar dan salah berdasarkan pemahaman saya saat itu dan bagaimana saya dapat membahasakannya kepada Kiran dan ternyata sulit. Selama saya merekam saya hanya berdoa semoga dia terluka atau membuat orang lain terluka.

Singkat cerita pada saat makan malam bersama saya menunjukkan kepada Kiran rekaman video ketika dia sedang di kolam renang dan dengan sungguh-sungguh bertanya sekadar ingin tahu apa yang dipikirkannya pada setiap hal yang saya soroti di dalam rekaman video tersebut. Saya pun mencoba mengolah kalimat saya sebaik mungkin dan bertanya kepada Kiran “May I know what made you climbed the side of the stairs instead of using the stairs?” Kiran pun menjawab “I want to do it (go up)  faster”. Kemudian saya menanggapi jawabannya “is there any other reason why you did that?” dan ternyata tidak ada alasan lainnya kecuali ingin mengambil jalan pintas supaya dia bisa tiba di atas luncuran lebih cepat.

Selanjutnya kami membahas mengenai keberadaan peraturan di semua tempat dan mengapa peraturan tersebut dibuat. Kiran memang sudah tahu semua hal terkait peraturan dan alasannya. Saya melihat perilakunya tidak jauh berbeda dengan kita sebagai orang dewasa yang mengambil jalan pintas meskipun tahu kita melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku atau kesalahan yang kita lakukan. Misalnya, membuang sampah sembarangan, merokok di tempat umum, melanggar lampu lalu lintas, memotong antrean, dan banyak hal lainnya yang kita lakukan. Saya merasa lega karena bisa menahan diri dan menunggu sampai waktu makan malam untuk mendapatkan jawaban yang jujur itu dan terhindar dari jebakan penghakiman dan emosi saya.

Masalah sebenarnya adalah bukan mengenai benar atau salah melainkan kesadaran dari tindakan yang kita lakukan. Kita akan menerima hasil dari apapun yang kita lakukan, konsekuensi logis. Kiran mengambil jalan pintas risikonya terjatuh dan terluka, maka itulah konsekuensi logisnya. Menurut pendapat saya menumbuhkan kesadaran terhadap anak tentang konsekuensi logis dari setiap pilihannya lebih penting daripada memberitahunya tentang benar dan salah atau baik dan buruk.

Untuk menghindari jebakan konsep bahasa yang subjektif, di dalam video ini saya menghitung berapa kali Kiran menggunakan tangga dan mengambil jalan pintas untuk tiba di atas luncuran. Video tersebut kami jadikan bahan refleksi bersama dan kesimpulan yang kami dapatkan adalah boleh bersenang-senang tetapi dengan tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain baik secara fisik maupun emosi.

Pertama kalinya saya berdiskusi dengan Kiran dengan melepas semua ego yang saya miliki sebagai orang dewasa yang merasa lebih tahu yang benar dan yang salah. Benar dan salah adalah konsep bahasa yang bersifat subjektif sehingga membahas perilaku dia apa adanya tanpa memberikan label “benar” atau “salah” membantu saya dan Kiran untuk berefleksi lebih baik lagi terhadap segala sesuatu yang dilakukannya tanpa harus menghakiminya.

Jangan menonton video di bawah tanpa membaca tulisan ini seutuhnya supaya Anda memahami tujuan saya membuat video ini.

Posted by Rahdian Saepuloh

<p>Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.</p>
<p>Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.</p>

Leave a Reply

Required fields are marked*