Berbagi Cerita di Komunitas Homeschooling Anak Usia Dini KERLAP

Berikut ini adalah catatan sesi berbagi saya bersama Komunitas homeschooling anak usia dini KERLAP.

Format tulisan sudah saya sesuaikan untuk kemudahan pembacaan dan sudah disesuaikan dengan keperluan penulisan di blog ini.

Sharing KERLAP:

Hari/Tgl: Sabtu/7 Nov 2015
Waktu : Pkl 21.00-23.00 WIB
Tema. : Pengalaman Deschooling Ananda, Mengapa Memilih Homeschooling?
Narsum: Paman Ian/Ayah Kiran 
Moderator: Mba Ersita
Notulen. : Mba Retno

Biodata Narasumber:

Nama: Rahdian Saepuloh
Umur: 32 tahun
Domisili: Jakarta Timur
Putra: Kiran
Aktivitas: Menjalani Homeschooling bersama Kiran dan bekerja.
Motto: Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kita bisa mempelajari segalanya “jika” kita mau.

Prolog:

Kiran sudah bersekolah sejak umur 2 tahun dengan alasan memberikan kesempatan untuk bersosialisasi daripada duduk manis di rumah menonton televisi. Saat itu kami khawatir anak kami terlalu banyak menonton televisi ketika kami titipkan di rumah kakek dan neneknya karena saya dan istri masih sibuk bekerja. Kegiatan di sekolah tersebut pun tidak ada yang berkaitan dengan akademis dan hanya bermain saja.

Namun menjelang usia 4 tahun dan menghadapi persiapan masuk TK, kami mulai memerhatikan apa yang terjadi di TK saat ini. Rupanya tuntutan sistem sekolah terhadap anak sudah semakin tinggi demi mengejar “keberhasilan” sistem pendidikan kita. Karena khawatir dengan sistem sekolah yang ada sekarang dan saya mendengar dari teman-teman saya bahwa anak-anaknya sudah belajar hal-hal yang akademis di TK sebagai persiapan memasuki sekolah dasar. Anak “wajib” bisa membaca, menulis dan berhitung sebagai sebuah syarat masuk sekolah dasar yang diinginkan (meskipun tidak undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut).

Tidak ada masalah dari tempat Kiran bersekolah sebelumnya, hanya saja kami lebih khawatir dengan kondisi sistem pendidikan sekarang yang cenderung memaksa anak untuk bisa menguasai hal-hal yang akademis sebelum anak-anak matang dan siap.

Sesi Tanya Jawab:

  1. Proses mengawali dan yg menjadi motivasi
    -eka, mama ginda-

Terima kasih atas pertanyaannya Mbak Eka.
Proses awal deschooling sudah saya lakukan dari semenjak Kiran bersekolah dengan cara melakukan kegiatan sepulang sekolah seperti mengunjungi perpustakaan dan membacakan banyak cerita, bermain di museum dan mengadakan kegiatan lainnya seperti mengajak Kiran mengunjungi tempat kerja saya dan makan siang bersama para pekerja lainnya. Kami pun membuat jadwal mingguan untuk Kiran bermain bersama teman saya yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Biasanya mereka makan siang bersama di luar dan berjalan kaki mengitari komplek perumahan teman saya.

Motivasinya adalah ingin menitikberatkan pada pendidikan karakter Kiran melalui kegiatan keseharian dan mempelajarinya melalui “mengalami” bukan pengajaran ceramah.

  1. Bolehkah minta contoh jadwal HS Kiran?
    -Retno-

Terima kasih Mbak Retno.
Jadwal Kiran selalu berubah mulai dari mengawali homeschooling sampai sekarang. Saya pribadi sempat stress mengatur jadwal karena masih menggunakan pendekatan “memindahkan sekolah ke rumah”. Akhirnya seiring berjalannya waktu kini kami lebih santai menjalani keseharian kami. Saat ini jadwal harian Kiran adalah mengikuti saya ke mana pun saya pergi. Kami belajar di mana pun itu memungkinkan.

Adapun kegiatan rutin yang kami lakukan bersama HSer lainnya adalah :

  • berkumpul dengan Klub Oase setiap hari rabu
  • berkegiatan bersama di Rockstar Gym setiap hari Kamis bersama Keluarga HSer
  • Mengikuti kelas Gymnastic, berenang dan tenis setiap hari Sabtu dan Minggu di Rockstar Gym.
  • Sisanya kami berkegiatan di rumah dan di tempat kerja saya.
  1. Mohon penjelasan bagaimana kalo anaknya yg sdh sekolah sampai kelas 5 sd dan sekarang sedang TK B. Karena saya mau meng-HS kan anak2. Truss bisakah klo kedua ortunya bekerja- -mondang ibu dari matthew kelas 5 sd dan kembar harel n herald TK B-

Terima kasih Mbak Mondang.
Sayangnya saya tidak bisa menjawab pertanyaan Mbak Mondang karena tidak memiliki anak yang sudah besar. Mungkin mengadakan sebuah transisi seperti yang saya sebutkan di atas di mana sepulang sekolah menyempatkan diri untuk berkegiatan bersama anak di luar dan menunjukkan kepada anak bahwa proses belajar bisa dilakukan di mana saja. Kemudian libatkan anaknya juga bahwa keputusan homeschooling ini dibuat bersama anak. Karena jika anaknya ingin bersekolah tetapi orangtuanya ingin homeschooling bisa menjadi konflik juga. Semoga jawaban saya bisa membantu Mbak Mondang. 

Oh ya satu lagi mengenai kondisi kedua orangtuanya yang bekerja.
Saat ini kami berdua dalam keadaan bekerja. Tetapi kondisi pekerjaan saya lebih fleksibel karena memiliki usaha sendiri sehingga memiliki keleluasaan untuk membawa Kiran ke tempat kerja. Saran saya adalah meminta ijin kepada tempat Mbak Mondang atau suami bekerja apakah diperbolehkan untuk membawa anak ke tempat kerja. Jika diijinkan tentunya bisa mengakomodir keperluan homeschooling anaknya tetapi jika tidak, mungkin harus dipikirkan alternatif lainnya. Yang pasti adalah komitmen seluruh anggota keluarga dalam menjalani homeschooling, insyaallah akan selalu ada jalan.

  1. Pernahkah Kiran minta kembali sekolah spt tmn-tmn yang lain? Lalu bgmn jawabannya?
    Trm ksh (Husnul ibunya Hanif)

Terima kasih Mbak Husnul.
Alhamdulillah sempat saya tawarkan untuk kembali ke sekolah tapi dengan tegas anaknya menjawab tidak. Karena lebih menikmati fleksibilitas kesehariannya. Sempat ada kejadian beberapa hari yang lalu saya diundang ke sekolah lamanya kiran untuk menjadi guest speaker dan uniknya saya harus tampil di depan teman-teman Kiran yang dulunya sekelas dengan Kiran. Kiran pun saya ajak untuk menjadi asisten saya pada kegiatan tersebut sekalian melihat apakah ada keinginannya untuk kembali ke sekolah. Ternyata anaknya masih tetap tidak mau bersekolah. Cerita selengkapnya bisa dibaca di blog kami di sini :http://belajarbersama.com/bertugas-sebagai-asisten/ 

  1. Apakah proses deschooling utk kiran menyenangkan buat Kiran? Karena anak pertama saya juga deschooling sewaktu kelas 2 SD, yang kedua SMP TK saja, kelas 1 langsung hs, rasanya beda antara anak yang pernah sekolah dengan yang langsung hs, kalau Kiran gimana ya…
    -noname-

Alhamdulillah proses homeschooling kami tidak hanya menyenangkan untuk Kiran tetapi untuk orangtuanya. Sebetulnya kamilah sebagai orangtua yang banyak diajari oleh kesehariannya Kiran.

  1. Bagaimana menentukan target belajar Kiran? baik akademis maupun nonakademisnya.

-Sastri-

Terima kasih Mbak Sastri.
Kami tidak memiliki target akademis karena justru tujuan awal kami homeschooling adalah menghindarkan Kiran dari beban akademis sebelum dirinya siap. Meskipun tidak ada masalah mengenai kemampuan kognitifnya. Bahkan sekarang Kiran sudah mampu membaca buku sendiri dan berhitung dengan pengoperasian tambah dan kurang. Semua itu dipelajarinya karena ketertarikannya sendiri bukan atas dorongan kami. Dari kecil kami biasakan Kiran terbiasa dengan buku dan membacakan cerita kepadanya akhirnya muncullah ketertarikan untuk membaca (itu pun dari sebuah permainan Android). Kemudian berhitung pun dia pelajari dari bermain permainan papan ular tangga.

Saat ini kami tidak membuat target spesifik baik akademis maupun nonakademis. Tetapi lebih mengalir dalam keseharian kami dan membahas setiap kejadian untuk penguatan pendidikan karakternya. Seperti contohnya kami bisa membahas masalah kesadaran membuang sampah dan akibatnya terhadap lingkungan bisa menjadi bahan diskusi kami berhari-hari. Cara menghormati orang lain, pentingnya mengantre, cara menyela pembicaraan dengan baik, dll. Hal seperti ini lebih penting bagi kami daripada kemampuan akademisnya.

  1. Apa komentar atau opini orang2 terdekat (khususnya sanak saudara) yg mengetahui Kiran yg awalnya sekolah menjadi HS?

~Mba Febri (Bunda Yasmine)~

Terima kasih Mbak Febri
Pertanyaan yang menarik. Awalnya semua orang menentang keputusan saya termasuk istri saya sendiri. Singkat cerita (karena kalau diceritakan bisa panjang sekali di sini), istri saya sekarang sangat mendukung setelah melihat bagaimana homeschooling kami dilakukan. Tentunya semua orang menentang keputusan ini. Tetapi saya tidak menjadikan hal tersebut sebagai pilihan orang lain. Saya mencoba membuat situasinya jelas bahwa This is our own family and we do everything our own way. Sehingga tidak masalah apakah orangtua atau orang lain menentang, karena ini adalah keluarga kami dan kami tidak perlu meminta ijin kepada siapa pun. Seiring waktu berjalan pun pikiran mereka lebih terbuka setelah melihat keseharian kami. 

  1. Apakah pelajaran yang bersifat akademis itu diajarkan kepada kiran??
    -alisha-

Terima kasih Mbak Alisha.
Pelajaran yang bersifat akademis sama sekali tidak kami ajarkan. Kami lebih banyak membacakan buku cerita kepada Kiran untuk dijadikan pembelajaran dan bahan diskusi.

  1. Berarti Kiran sudah sekitar 3 ato 4 tahun homeschooling ya? Rencananya sampai berapa lama target homeschoolingnya? Diakhir. Homeschooling target orangtua terhadap Kiran apa aja, baik dari sisi anak ataupun lingkungan selepas homeschooling? Terimakasih Ayah Kiran

-Sastri-

Terima kasih Mbak Sastri.
Tidak, Kiran menjalani deschooling sejak October 2014 dan mulai menjalani homeschooling sepenuhnya bulan Maret 2015.

Berapa lama kami menjalani homeschooling kami kembalikan lagi kepada Kiran nantinya. Hanya saja saat ini anaknya sangat menikmati homeschooling. Jika nanti anaknya memutuskan terus homeschooling, ya kami lanjutkan. Kemudian jika anaknya ingin masuk sekolah ya, akan kami sekolahkan.

Tujuan utama kami dalam pendidikan Kiran tidaklah menekankan pada kemampuan akademisnya. Tetapi pada kepribadiannya. Secara sederhana kami menginginkan anak yang “benar” daripada anak yang “pintar”. Benar di sini diartikan dengan memiliki karakteristik manusia yang seutuhnya, untuk saling mengasihi tanpa memandang stasus sosial, agama dan sebagainya dan bisa menjadi seseorang yang bisa membuat perubahan yang baik di sekitarnya.

  1. Bolehkah kita sebagai ortu mentargetkan sesuatu skill atau kebisaan pada anak kita? Contoh : anak pandai bahasa inggris & hafal alquran?

~febri~

Terima kasih Mbak Febri.
Inilah yang saya sukai dari model pendidikan rumah (homeschooling). Seperti yang ditulis Mas Aar di bukunya Apa itu Homeschooling: Kata Kunci homeschooling adalah BOLEH. Saya hanya menambahkan asalkan anak juga memahami dan menikmati tujuan dari target tersebut sehingga anak tidak merasa terbebani atas “keinginan orangtua” bukan keinginan anak

  1. Bolehkah tau jadwal/timetable kesehariannya kegiatan kiran dr pagi smp malam? terimakasih.

– Ayu ratih (mama ryuga) –

Terima kasih Mbak Ayu Ratih.

Keseharian Kiran saat ini adalah:

Pagi: menyelesaikan 4 simple steps: Bangun tidur, Membereskan tempat tidur, mandi, dan sarapan. Setelah itu kami bermain bersama sampai siang.

Siang: Menemani saya bekerja di kantor (di kantor pun saya berdayakan untuk membantu sebisanya seperti mengelap meja, mencuci piring dan menawarkan bantuan kepada pekerja jika butuh bantuannya. Misalnya, memberikan dokumen dari satu ruangan ke ruangan lainnya.)

Sore dan malam : Menunggu Bunda Kiran mendatangi tempat kerja saya dan kami pulang ke rumah bersama. Magrib kami wajibkan solat berjamaah. Kemudian Bunda Kiran memperkenalkan Juz Amma. Kemudian selepas Isya biasanya kami melakukan review atas apa yang menjadi perhatian kami pada hari tersebut. Misalanya ada perilaku Kiran yang kurang menyenangkan dan kami membahasnya. Jika tidak ada yang dibahas biasanya kami mengajak Kiran menonton film bersama (elmo atau Charlie and Lola) dan membacakan cerita pengantar tidur.

  1. Memperhatikan pola komunikasi ayah kiran dan kiran selalu menggunakan bhs inggris atau bilingual (saat playdate),, apakah ini termasuk metode HS dari Ayah Kiran? Bagaimana kalau si orangtua yg memiliki keterbatasan dlm bhs inggris, namun ingin memperkenalkan bhs. Inggris kpd anaknya tapi jgn sampai terjebak pada metode pengajaran model sekolah formal

-Sastri-

Terima kasih Mbak Sastri.
Kami (saya dan istri) memang sudah merancang semenjak menikah jika memiliki anak ingin memiliki anak yang bilingual, bahkan kalau bisa poliglot (menguasai banyak bahasa). Tujuannya adalah untuk memberikan keterampilan dan berbahasa dan mencari informasi ke depannya. Misalnya saat ini sumber informasi di internet berlimpah ruah bahkan tak berbatas, hanya saja informasi tersebut hanya tersedia di dalam bahasa Inggris. Informasi dalam bahasa Indonesia masih sangat terbatas.

Jika ingin anaknya bilingual dan tidak terjebak dalam pengajaran model sekolah formal tentunya orangtua harus terlibat dan menggunakan bahasa inggris dalam kesehariannya. Tentu orangtua tidak harus “jago” berbahasa asing tetapi setidaknya menumbuhkan kebiasaan berbahasa asing yang diinginkannya dimulai dengan ungkapan-ungkapan sederhana. Sehingga setelah rasa percaya diri anak muncul, orangtua tinggal menyediakan kesempatan untuk anak menggunakan bahasanya. Misalnya bergaul dengan anak-anak yang bilingual, menonton acara berbahasa asing, atau menggunakan jasa guru bahasa untuk berlatih bersama anak.

Untuk penutup sharing malam ini. Saya hanya ingin menyampaikan kepada teman-teman sekaligus pengingat untuk diri saya sendiri untuk terus belajar dan bertumbuh bersama anak-anak kita tercinta. Berjejaring untuk saling menguatkan satu sama lain di antara keluarga praktisi homeschooling. Investasi terbesar yang bisa kita berikan untuk anak kita adalah waktu dan kehadiran kita.

Terima kasih untuk Mbak Ersita yang telah meluangkan waktunya menjadi moderator. Terima kasih Mbak Retno dan teman-teman lainnya atas kesempatan yang diberikan kepada saya membagikan pengalaman yang baru sedikit ini. Semoga kita bisa sama-sama belajar dan informasi yang saya berikan bisa bermanfaat untuk teman-teman yang lain.

Posted by Rahdian Saepuloh

Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.

Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.

2 Comments

Leave a Reply

Required fields are marked*