Berkunjung ke Semarang

Untuk pertama kalinya kami bertiga melakukan perjalanan yang cukup lama selama 10 hari. Perjalanan ini pun kami jadikan sebagai perayaan Nuni yang sudah menjadi ibu rumah tangga selama satu bulan ini. Tujuan utama dari perjalanan ini adalah menghadiri acara KAMTASIA (Kampung Komunitas Indonesia) yang diselengarakan di Salatiga selama 3 hari 2 malam. Karena perjalanan yang kami tempuh cukup jauh, kami pun merencanakan untuk mampir ke Semarang dan mengunjungi beberapa tempat di sana. Kemudian sepulangnya dari Salatiga kami berkunjung ke Cicalengka untuk merayakan ulang tahun kakek Kiran sekaligus menunjukkan perayaan kemerdekaan di sana kepada Kiran.

Selepas itu, saya harus mengunjungi beberapa tempat di Bandung kota dan daerah Lembang untuk keperluan pekerjaan. Jadi sekalian saja kami rencanakan sebagai liburan panjang untuk kami bertiga; belajar, bermain dan bekerja. Semenjak Nuni berhenti bekerja, kami semakin menikmati kehidupan keluarga kami. Setiap hari kami berdiskusi dan belajar untuk menyelaraskan kehidupan keluarga kami. Satu hal yang kami rasakan dan sangat kami nikmati bersama, tidak ada lagi perasaan terpisah antara bekerja, berumah tangga dan menjalani pendidikan rumah Kiran. Semakin lama semuanya menjadi sebuah kesatuan. Perjalanan panjang ini contohnya, tidak mungkin kami lakukan jika Nuni masih dalam keadaan bekerja.

Mengingat perjalanan yang cukup panjang, saya akan membagikan cerita perjalanan kami dalam beberapa bagian.

HARI PERTAMA  (JAKARTA-SEMARANG)

Kami berangkat pada Kamis malam bersama keluarga Mas Samli (Samli, Sari, Shawqi, dan Syifa) yang tinggal di Tangerang Selatan. Setelah beberapa hari sebelumnya kami berkomunikasi via Whatsapp kami bersepakat untuk bertemu di tempat istirahat yang berlokasi di kilometer 42. Kami pun berangkat pukul 10 malam dari rumah dan tiba di tempat istirahat pukul 11.30. Setelah menunggu Mas Samli dan keluarganya selama setengah jam karena sebelumnya mendapat kabar sedang terjebak di daerah Cilandak, saya pun mencoba menghubungi Mbak Sari dan ternyata mereka sudah melewati kami tempat kami. Rupanya ada kesalahan karena tempat istirahat yang dimaksud berlokasi di kilometer 39 bukan 42. Akhirnya kami pun bertemu di tempat istirahat selanjutnya di kilometer 57 dan berkendara bersama menuju Semarang. Berikut ini timelapse perjalanan kami dari Jakarta ke Semarang:

Kelenteng Sam Poo Kong

Kelenteng Gedung Batu Sam Poo Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”. (sumber: wikipedia)

Sembilan jam kemudian kami pun tiba di Semarang pada hari Jumat pagi dan segera mengunjungi tempat pertama yang ingin kami kunjungi bersama, Kelenteng Sam Poo Kong. Ketika kami tiba, tempat parkir sudah mulai terisi mobil dan bus menunjukkan jumlah pengunjung yang meningkat selama kami berada di sana. Kami tidak melakukan penelusuran informasi mengenai tempat ini sebelumnya karena ingin menjadikan kegiatan ini sealami mungkin bagi Kiran dengan harapan banyak pertanyaan yang akan muncul darinya ketika tiba di sana. Rupanya Kiran dan Shawqi hanya tertarik dengan ular sanca yang berada di kandang, katak yang sedang berenang di parit dan seekor tikus yang kelelahan akibat terjebak di dalam parit daripada kemegahan bangunan Klenteng Sam Poo Kong. Setelah kami mencoba memancing mereka pun dengan mengajukan pertanyaan pancingan yang berkaitan dengan klenteng dan patung-patung besar di sekitarnya, perhatian mereka berdua masih tetap terpusat di ketiga hal di atas, ya sudahlah. Berbeda dengan Syifa yang sudah berusia 10 tahun menunjukkan pengamatan terhadap sekelilingnya dan mengajukan beberapa pertanyaan terhadap hal-hal yang membuatnya penasaran.

Terdapat 2 tempat penjualan tiket yang berbeda, yang pertama menjual tiket masuk area luar klenteng Rp 5.000 dan tempat penjualan tiket yang kedua menjual tiket untuk memasuki kelenteng sebesar Rp 30.000. Kami hanya membeli tiket untuk area luar kelenteng karena kami tiket yang dijual untuk memasuki kelenteng pun ternyata akses yang diberikan sangat terbatas dan kami hanya bisa melihat dari luar kelenteng (sama saja dengan melihat dari area luar kelenteng hanya saja jaraknya beberapa meter lebih dekat). Jujur saja kami agak bingung dengan konsep penjualan tiket yang ditawarkan. Tapi ya begitulah adanya.

Dari area luar kelenteng kami dapat menikmati keindahan arsitektur bangunannya yang megah dan tempatnya yang bersih terawat. Ada sebuah patung besar Laksamana Cheng He sebagai simbol bahwa beliau pernah dating ke Semarang dan sempat tinggal di sana. Bagi yang tertarik mendatangi tempat ini, lebih baik untuk berkunjung di pagi hari atau di sore hari untuk menghindari teriknya sengatan matahari. Tempat ini ramah anak karena areanya yang luas sehingga anak-anak dapat bergerak bebas ke sana sini.

Selepas itu, kami melanjutkan perjalanan ke Mesjid Agung Jawa Tengah, yang katanya adalah masjid kebanggaan warga Jawa Tengah. Dengan penuh harapan kami mendatangi tempat ini karena sempat melakukan penelusuran melalui mesin pencari Google dan foto-foto yang muncul di dalam hasil penelusuran sangat menarik. Begitu tiba di sana, kami merasa kecewa, karena mesjid kebanggaan masyarakat Jawa Tengah ini tidak seperti yang kami harapkan. Kondisi yang paling memprihatinkan adalah sampah yang berserakan di sekitar masjid. Terlihat banyak pengunjung yang berpotret di sekitar mesjid.

Berdasarkan keterangan Mbak Sari yang tiba lebih awal di sana (karena kami sempat terpisah dan tersasar) coretan di dinding masjid pun terlihat mengotori keindahan masjid ini. Bangunan nan megah pun tidak terasa nyaman karena kondisinya yang tidak terawat. Langit-langit yang kotor seolah tidak pernah dibersihkan sejak pertama kali dibangun. Karena tidak banyak hal yang bisa kami nikmati di sana, kami pun tidak berlama-lama di sana dan segera meninggalkan tempat tersebut selepas menunaikan solat Jumat.

Selanjutnya kami berencana mengunjungi Lawang Sewu. Tetapi, karena perjalanan panjang yang kami lakukan dari Jakarta dan belum sempat istirahat, akhirnya kunjungan ke Lawang Sewu pun kami batalkan dan segera meluncur ke penginapan kami di Djajanti House. Rencananya kami beristirahat sejenak dan mengunjungi Lawang Sewu di sore hari kemudian berwisata kuliner pada malam hari. Setelah berkeliling mencari Djajanti House karena lokasi di Google Maps yang salah, tibalah kami di sana pada pukul dua sore. Karena anak-anak masih bersemangat untuk bermain, kami pun menyempatkan diri untuk bermain menemani mereka meskipun badan sudah sangat kelelahan. Setelah kami puas bermain, saya sangat kelelahan karena belum tidur sejak Kamis malam. Akhirnya saya mandi dan beristirahat untuk menyegarkan diri. Rupanya saya tertidur pulas dan bangun tidur keesokan paginya sehingga rencana mengunjungi Lawang Sewu dan wisata kuliner pun tidak jadi kami lakukan. Mbak Sari dan keluarga sempat mencoba membangungkan kami pada malam hari untuk berwisata kuliner, tetapi Nuni dan Kiran pun ternyata terlelap dengan nyenyak sehingga mereka berwisata kuliner tanpa kami.

Saya sangat merekomendasikan Djajanti House sebagai tempat istirahat di Semarang. Tempat ini menyewakan 8 kamar dengan 2 jenis pilihan kamar dengan harga Rp 300.000 (sudah termasuk sarapan untuk dua orang) dan Rp 350.000 per malamnya (sudah termasuk sarapan untuk tiga orang). Selain harganya yang bersahabat, tempat ini unik, nyaman dan tenang. Berikut ini kondisi Djajanti House pada saat kami berkunjung:

Nantikan lanjutan cerita perjalanan kami berikutnya di Museum Kereta Api Ambarawa dan Kemah KAMTASIA . . .

Posted by Rahdian Saepuloh

<p>Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.</p>
<p>Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.</p>

2 Comments

Leave a Reply

Required fields are marked*