Bermain Sambil Belajar di Pulau Pari

​Hari Kamis lalu Kiran, Alma, Adiva dan Syifa bersama-sama dengan kami orang tua mengikuti kegiatan eksplorasi di Pulau Pari, salah satu pulau di kepulauan seribu. Kegiatan tersebut diadakan oleh Mba Ines Setiawan dari SHINE. Di sana, anak-anak belajar tentang hutan bakau serta manfaatnya, polusi laut serta dampaknya, dan budi daya rumput laut langsung dari ahlinya.

Sebelum berlayar ke Pulau Pari, kami semua menginap di rumah Bibi Sari dan Paman Samli karena rumah mereka lebih dekat ke Pelabuhan Tanjung Pasir, tempat kapal laut yang akan membawa kami ke Pulau Pari.

Berdasarkan Itinerary, kapal akan berlayar pada pukul 6 pagi. Karena jarak yang cukup jauh dan lalu lintas yang tidak bisa diprediksi, kami berangkat pukul 4.45 pagi. Sampai di pelabuhan, waktu menunjukkan pukul 6 dan terlihat rombongan yang sudah siap menaiki 2 kapal nelayan yang akan membawa kami ke Pulau Pari. All aboard and off we went sailing to the island.

Setelah mengarungi laut selama hampir satu setengah jam, sampailah kami di Pulau Pari. Ternyata pulau yang lokasinya bersampingan dengan pulau Tidung ini cukup besar dan merupakan pulau yang dihuni oleh penduduk.

Setelah semua berkumpul, kami masih harus berjalan sekitar 10 menit menuju Pantai Perawan. Sesampainya di sana, kami disambut oleh cuaca yang cerah, langit biru, pasir putih, dan air laut yang tenang. Air laut Pantai Perawan berbeda dengan pantai-pantai yang lain. Apa bedanya? Airnya tenang sekali, tidak ada ombak yang akan menarik anak-anak ketika mereka bermain, airnya juga cukup dangkal, membuat orang tua tenang membiarkan anak-anak bermain sepuasnya. Tapi tujuan kami ke sana bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi untuk belajar tentang hutan bakau, polusi laut serta budi daya rumput laut.

Materi pertama tentang hutan bakau disampaikan oleh Mr Yuri Romero. Beliau adalah seorang Marine Archeologist dan aktivis lingkungan yang berasal dari Kuba. Beliau menjelaskan tentang ekosistem laut, terumbu karang, dan pohon bakau dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan dengan sangat baik oleh seorang pelajar bernama Mia Andika Sri Az Zahra. Penjelasan tentang hutan bakau dan ekosistem laut diakhiri Mr Romero dengan permainan interaktif antara orang dewasa dan anak-anak. Orang dewasa diminta membuat 5 kelompok kecil sambil bergandengan tangan dan anak-anak diminta menjadi hewan-hewan kecil di laut seperti udang, ikan dan kepiting. Sedangkan Mr Romero dan dua orang lainnya berperan sebagai pemangsa hewan-hewan kecil tersebut. Beliau menginstruksikan anak-anak untuk masuk ke dalam lingkaran orang tua untuk menghindari kejaran predator laut. Rupanya permainan ini merupakan simulasi kehidupan ekosistem laut dan hutan bakau. Permainan edukasi seperti ini memang lebih mengena bagi anak-anak.

Pemateri kedua adalah Bapak Adi Slamet Riyadi, seorang kandidat Doctor, Marine Environmental Chemistry, Ehime University, Jepang. Bapak Adi menjelaskan tentang pencemaran laut, penyebabnya, serta dampak dari pencemaran yang jelas-jelas hasil dari perilaku tidak bertanggung jawab kita semua. Bapak Adi menjelaskan bahwa pencemaran tersebut membawa pengaruh pada rantai makanan di laut yang pada akhirnya manusia jugalah yang akan merasakan dampak negatifnya.

Pemateri terahir adalah seorang petani rumput laut muda berpengalaman bernama Bapak Asep. Dengan gamblang beliau menjelaskan bahwa rumput laut pada tahun 2000 tumbuh sangat subur di perairan Pulau Pari. Namun sekarang ini sudah tidak bisa tumbuh lagi dikarenakan tingginya polusi di perairan sekitar pulau Pari yang berjarak kurang lebih 30 mil laut dari bibir pantai Jakarta.  Penyebab utama  rusaknya budidaya rumput laut di pulau Pari adalah limbah minyak dan oli dari Jakarta. Padahal masyarakat Pulau Pari menggantungkan hidupnya dari hasil laut, terutama rumput laut.

Cukup berat memang materi-materi yang diberikan oleh pembicara-pembicara hebat yang saya sebutkan diatas. Lalu apakah Kiran mengerti apa yang disampaikan? Tentu tidak ☺. Saya dan suami mengerti bahwa materi yang disampaikan pada kegiatan ini bukanlah untuk anak usia 6 tahun seperti Kiran. Lalu pembelajaran apa yang didapatkan Kiran? Dari pengamatan saya dan suami kemarin, hal-hal seperti inilah yang kami mau Kiran alami:

Menjadi bagian dari suatu kelompok

Pantai selalu menjadi tempat favorit Kiran. Namun ketika waktu bermain airnya kemarin harus terhenti karena materi akan dimulai, di situlah Kiran belajar untuk bergabung dengan peserta yang lain, menjadi bagian dari suatu kelompok.
Kiran belajar mendengarkan dan menghormati orang yang sedang berbicara
Selama sesi diskusi, kami mengingatkan Kiran untuk berada di dekat pemateri. Fokus anak usia 6 tahun seperti Kiran memang masih pendek, namun dengan Kiran mau duduk sambil bermain pasir dengan peserta lain bagi kami sudah merupakan proses belajar untuk Kiran.

Belajar bersabar dan mengesampingkan keinginan pribadinya

Durasi materi yang disampaikan oleh setiap pembicara rata-rata sekitar 45 menit. Waktu yang cukup lama untuk anak seperti Kiran untuk bisa duduk dan mendengarkan isi materi yang disampaikan. Namun, Kiran ternyata bisa bersabar sampai pembicara selesai dan akhirnya bisa kembali bermain di pantai.

Belajar berani melawan rasa takutnya

Dalam perjalanan kembali ke Pelabuhan Tanjung Pasir, kondisi laut cukup membuat hati beristighfar berkali-kali. Angin yang cukup besar membuat deburan ombak mengangkat dan mengayun-ayun kapal yang kami tumpangi. Para penumpang kapal banyak yang berteriak dan menunjukkan rasa takut. Saya berusaha keras untuk menunjukkan poker face saya kepada Kiran. Tapi sepertinya Kiran juga merasakan apa yang saya rasakan. Beruntung suami saya sangat tenang, sehingga Kiran bisa tertidur walaupun perahu terombang ambing dihempas ombak. Kiran bangun ketika perahu masih cukup jauh dari pelabuhan. Tiba-tiba Kiran bernyanyi lagu Moana, lagu favoritnya sekarang ini. Saya tanyakan mengapa dia bernyanyi, untuk melawan rasa takut jawabnya. Untuk saya jawaban yang Kiran berikan menunjukkan bahwa dia belajar untuk mengalihkan pikirannya dengan sesuatu yang ia sukai.

Bagi kami dengan ikut kegiatan seperti ini banyak sekali pengalaman yang bisa dialami oleh anak-anak. Bagaimana berinteraksi dan bersikap dalam suatu kelompok itu yang paling penting, konten mah nomor sekian, wong Kiran saja cuma ingat “Mangrove trees protect the fish from predators”, sisanya lupa.

Posted by Nuni

Ibu satu anak yang telah mengajar di sekolah formal semenjak kuliah dan meninggalkan Sekolah HighScope Indonesia setelah 9 tahun mengajar di sana kemudian memutuskan untuk bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya secara langsung dan menjadi seorang ibu profesional.

Leave a Reply

Required fields are marked*