Bincang Seru Homeschooling di Museum Bank Mandiri

Kali ini saya ingin menulis tentang acara Bincang Seru Homeschooling yang diadakan oleh Klub Oase di Museum Bank Mandiri pada tanggal 24 Januari 2015. Hal yang paling menarik dari acara ini adalah gelora semangat para pendaftar yang ingin hadir di acara ini.

Banyak sekali cerita lucu dari panitia karena kursi yang tersedia sangat terbatas sebanyak 200 kursi. Begitu flyer digital disebar di media sosial, semua kursi sudah terisi dalam satu hari. Bahkan banyak sekali pendaftar yang harus panitia tolak karena kuota peserta sudah tercapai.

Berbagai cerita lucu mengisi hari-hari panitia dengan kekhawatirannya karena panitia harus menolak banyak pendaftar ketika pendaftaran ditutup. Ada yang memaksa akan datang pada hari pelaksanaan meskipun tidak diperbolehkan, ada yang mentransfer uang dan uangnya tidak mau dikembalikan padahal sudah dijelaskan pendaftaran sudah ditutup, ada pula yang membayar dan berniat untuk tidak masuk ke dalam ruangan tapi rela mendengarkan di pinggir jendela, dan cerita-cerita lainnya yang tidak kalah serunya. Perlu diketahui bahwa penutupan pendaftaran dilakukan karena kuota peserta sudah tercapai dan ruangan di tempat diselenggarakannya acara hanya bisa menampung 200 orang.

Antusiasme para peserta yang ikut ataupun ditolak membuat saya berpikir bahwa orang-orang sudah mulai khawatir dengan pilihan sekolah formal yang tersedia. Selain pendidikan sudah beralih fungsi sebagai sebuah bisnis yang menguntungkan, pendidikan di sekolah formal yang tersedia juga cenderung terlalu menekan peserta didiknya untuk hanya berfokus di bagian akademis tanpa mengalokasikan waktu kepada peserta didik untuk mengenali dirinya sendiri.

Kami pun memutuskan untuk beralih dari sekolah formal dan ingin menjalankan homeschooling karena ketiadaan alternatif tempat belajar yang bisa memenuhi kebutuhan anak saya, yaitu bermain. Anak saya baru akan masuk TK, tetapi tuntutan yang ada di TK saat ini sudah jauh meleset dari tujuan diciptakannya TK.

Sepertinya homeschooling mulai banyak dilirik oleh banyak keluarga indonesia sebagai alternatif pendidikan anak-anak mereka yang tidak tercukupi oleh sekolah formal. Meskipun masih banyak orang-orang beranggapan bahwa homeschool itu adalah sebuah lembaga. Pada saat sesi ketiga ada seorang ibu yang bertanya mengenai lembaga penyelenggara homeschool yang katanya beliau dengar biaya homeschool itu tidaklah murah. Pak Sumardiono yang dikenal sebagai Pak Aar sebagai salah satu pembicara di acara tersebut mempertegas bahwa homeschool itu bukanlah sebuah lembaga, melainkan pendidikan berbasis keluarga. Pada prinsipnya di dalam menjalani homeschooling, segala sesuatu yang dilakukan oleh sebuah keluarga untuk membantu proses pendidikan keluarga tersebut adalah boleh dan tidak ada yang salah dengan yang dilakukan oleh sebuah keluarga. Masalah mahal atau murah, kembali lagi pada jenis kegiatan yang kita lakukan ketika menjalani homeschooling. Tetapi yang pasti, tidak akan ada biaya untuk “sumbangan bangunan sekolah”.

Setiap keluarga memiliki keunikannya masing-masing. Oleh karena itu, kita tidak bisa menyeragamkan sebuah bentuk homeschooling. Menurut pendapat saya pribadi (meskipun belum sepenuhnya menjalani homeschooling), kegiatan homeschooling harus melibatkan orangtua di dalam prosesnya. Meskipun tidak terlibat secara langsung di dalam pengajaran, tetapi kitalah (orangtua dan anaknya) yang harus memetakan pendidikan yang akan kita jalani ketika melakukan homeschooling. Pak Aar pun menjelaskan bahwa orangtua sebetulnya berperan sebagai kepala sekolah. Orangtua bisa mengajari anaknya sendiri, memasukkan anaknya ke sebuah lembaga pendidikan, atau menggunakan jasa orang lain untuk mengajari anaknya.

Selepas acara berakhir ada orangtua yang bersikukuh menyekolahkan anaknya, ada pula yang merasa bimbang dan tidak tahu harus berbuat apa, ada pula yang merasa termotivasi dan yakin bahwa homeschooling bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

Bagi yang masih merasa bingung harus memulai dari mana ketika merencanakan homeshooling untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ada baiknya mencari informasi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk homeschooling. Sebagai permulaan, silakan kunjungi www.rumahinspirasi.com. Tersedia ebook dan webinar yang bisa diunduh dengan membayar sejumlah uang. Dengan nominal yang yang sangat terjangkau, Pak Aar dan istrinya Ibu Lala telah mengumpul informasi yang sangat lengkap untuk membantu setiap keluarga yang berniat menjalankan homeschool mempersiapkan diri dan memastikan apakah kegiatan homeschooling ini adalah pilihan yang tepat.

Untuk yang bingung mencari lingkungan yang mendukung kegiatan homeschooling, bisa bergabung di Klub Oase (Jakarta Timur) atau Tunas (Jakarta Selatan). Saya bertemu banyak orang-orang hebat yang sangat mengedepankan pendidikan anaknya dengan cara belajar mandiri dan menyenangkan untuk anak-anaknya. Sejauh ini baik orangtua maupun anak-anak yang menjalani homeschooling yang saya temui merupakan orang-orang hebat yang mengerti artinya belajar sebagai sebuah kebutuhan bukan keharusan.

Posted by Rahdian Saepuloh

<p>Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.</p>
<p>Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.</p>

Leave a Reply

Required fields are marked*