Makki Roll dan Onigiri

Makki Roll dan Onigiri

Saya suka sekali makanan Jepang. Banyak masakan Jepang yang rasanya sangat bersahabat di lidah. Berhubung saya senang sekali sama yang namanya Makki Roll, kok ya jebol juga kantong kalau saban minggu suwon ke restoran Jepang. Waktu saya masih rajin belajar masak (sekarang ngga lagi ;p) di majalah yang saya beli ada resep membuat Makki Roll untuk pemula. Resepnya juga gampang, isi makki roll bisa dibeli disupermarket terdekat. Cuma tinggal beli Makisu (tikar kecil dari bamboo untuk menggulung roll), Nori (rumput laut), rice vinegar, Shoyu (kecap asin Jepang) sama wasabi (sambel ala jepang) ajahh. Karena proses membuatnya gampang dan mudah, jadilah makki roll ini andalan saya untuk bekal Kiran dan ayahnya kalau berkegiatan di luar.

Jenis masakan Jepang yang bisa untuk pilihan bekal juga adalah Onogiri. Onigiri adalah nasi kepal yang dibentuk segitiga dan dibungkus Nori. Kalau di resep aslinya, onigiri diisi buah acar buah plum. Kalau saya isinya suka-suka. Tergantung persediaan di kulkas hehe. Tapi lebih sering isi daging keju mayonnaise. Membuat onigiri juga sangat gampang dan cepat. Untuk resep Makki roll dan Onigiri saya tuliskan di bawah ya, semoga bisa bermanfaat.

Resep Makki Roll

Bahan nasi:

Nasi kurleb setengah liter, masak, dinginkan di suhu ruang

5 sdm Cuka beras

½ sdm garam

½ sdm gula pasir

Campur cuka, garam, dan gula lalu aduk rata

Setelah itu siramkan ke atas nasi hangat, aduk rata. Cicipi keasaman nasinya.

Jika dirasa kurang asam, bisa ditambahkan campuran cuka lagi.

 

Bahan – bahan isi:

1 Timun Jepang, belah jadi 8 potongan memanjang

1 telur, buat dadar dan potong-potong memanjang

Keju cheddar, potong ukuran kotak memanjang

Sosis, belah 2 dan goreng

Mayonnaise

Selada (optional)

Cara membuat:

Taruh Nori di atas Makisu, bagian Nori yang shiny dibagian bawah.

Ambil satu centong nasi, taruh di atas nasi dan ratakan, sisakan kira-kira 5 cm (jangan diisi penu nasi) Nori agar bisa menempel ketika digulung nanti.

Taruh timun, selada, sosis, telur, dan keju di atas nasi, atur rapi.

Olehkan mayonnaise untuk menambah rasa

Gulung perlahan, sampai nori membentuk bulat. Tekan-tekan makisu agar makki roll padat.

Potong makki roll dan sajikan dengan shoyu dan wasabi

 

RESEP ONIGIRI

Bahan – bahan:

Lembaran Nori

Nasi hangat

Garam

Keju cheddar, parut

Kornet/ daging ayam/daging sapi cincang, tumis dengan bawang Bombay, bawang putih, garam dan lada hingga matang

Mayonnaise

 

Cara membuat:

Gunting 1 lembar Nori menjadi 4 lembar kecil

Campur nasi hangat dengan garam, aduk rata, cicipi sampai terasa pas di lidah.

Basahi tangan dengan air matang

Ambil secentong nasi, taruh di tangan kiri,

Masukkan keju, mayonnaise, dan daging tumis

Bentuk nasi menjadi segitiga, tekan-tekan dan padatkan

Bungkus nasi dengan nori

Sajikan dengan shoyu atau abon cabe.

Nah, mudahkan membuatnya. Sekali membuat dijamin ingin buat lagi dan lagi soalnya mudah sekali membuatnya. Bekal yang mengenyangkan dan menyenangkan ^^

 

 

Menjadi Petualang Cilik di Rumah Perubahan

Menjadi Petualang Cilik di Rumah Perubahan

Poster Petualang Cilik

Hari ini kami mengikutsertakan Kiran dalam kegiatan Petualang Cilik yang diadakan oleh Rumah Perubahan. Kegiatan ini mengajarkan anak untuk bersentuhan langsung dengan alam dan mengelola hasil alam menjadi produk makanan. Setelah menempuh 2 jam perjalanan (yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 30 menit karena tersesat dan kondisi jalan yang rusak), kami pun tiba di lokasi. Kami harus memasuki jalan sempit yang hanya cukup satu mobil sehingga ketika kami berpapasan dengan mobil lainnya, masalah lain pun terjadi karena di kedua sisi kami terdapat tembok beton pagar dan rumah orang. Sayangnya petugas parkir yang jumlahnya 5 orang itu tidak berkomunikasi dengan baik untuk mengatur lalu lintas kendaraan yang hendak parkir.

Kami pun segera memarkir mobil dan bergegas mendaftar ulang supaya Kiran bisa mengikuti kegiatan. Kesan pertama memasuki area Rumah Perubahan sedikit aneh, mulai dari akses masuk dari jalan raya yang sempit dan lokasi tempat yang terpisah dari tempat parkir. Tetapi setelah memasuki tempat tersebut, kami pun disambut dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Tanah yang luas dan beberapa bangunan yang dirancang menyatu dengan lingkungan sekitarnya telah mengalihkan perhatian kami dari pengalaman yang tidak menyenangkan sepanjang perjalanan. Kami pun masih harus berjalan melewati sungai kecil dan beberapa kolam ikan yang dirancang untuk kegiatan tertentu.

Suara anak-anak yang sedang asyik bermain pun mulai sayup-sayup terdengar . Kiran segera bergabung mengikuti kegiatan yang dilakukan secara berkelompok. Setiap kelompok menggunakan nama buah-buahan lokal dan terdiri dari 15-20 orang anak. Kegiatan ini diikuti kurang lebih seratus orang anak. Kegiatan anak-anak pun dirancang secara berkelompok untuk menumbuhkan kerjasama di antara anak-anak, seperti, memindahkan air dari satu ember ke dalam ember lainnya menggunakan pipa yang dilubangi sehingga kecepatan mengoper pipa menjadi kunci keberhasilan setiap tim untuk memindahkan air.

Kereta-Keretaan

Bermain Kereta-Keretaan

Estafet Air

Estafet Air

Kemudian anak-anak diajari memetik kangkung dari kebun dan mencucinya sendiri di dalam ember yang telah disediakan. Kangkung ini kemudian dibawa oleh anak-anak untuk diberikan kepada kerbau. Anak-anak pun menikmati pengalaman memberi makan kerbau dari sayuran yang mereka cabut sendiri. Setelah puas memberi makan kerbau, setiap anak diberi kesempatan untuk memandikan kerbau, lebih tepatnya berendam bersama kerbau  😀 

Pada awalnya Kiran enggan bergabung mengikuti kegiatan memandikan kerbau, tetapi karena banyak anak yang menceburkan diri ke dalam kolam, akhirnya Kiran pun terpancing dan memberanikan diri untuk memasuki kolam. Setelah Kiran memasuki kolam, ternyata sulit sekali mengajaknya untuk keluar dari kolam saking serunya bermain dan menciprati kerbau. Meskipun belum berani menaiki kerbau seperti anak-anak lainnya, tetapi Kiran terlihat sangat bergembira.

Setelah membersihkan diri, kami pun menuju Rumah Tempe yang terletak di samping kolam mandi kerbau. Di sini anak-anak melihat dan mencoba membuat tempe. Setiap anak membawa pulang tempenya masing-masing setelah selesai berkegiatan.

Kemudian kami pun beristirahat sejenak dan menyantap bekal makan siang yang kami bawa dari rumah, onigiri buatan Bunda Kiran 🙂 . Setelah selesai makan siang, kami pun melanjutkan kegiatan selanjutnya yang mengetes kemampuan motorik halus dan daya ingat. Anak-anak ditantang untuk menggerakan cincin yang ditenagai oleh 4 buah baterai yang akan berbunyi jika cincin tersebut menyentuh kabel tembaga. Tantangan kemampuan mengingat, menggunakan display digit angka yang terdiri dari 7 tombol untuk membentuk angka nol secara digital. Dengan menggunakan tombol-tombol yang sama, anak-anak ditantang untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh kakak pembimbing.

Berfoto bersama

Kiran sangat gembira mengikuti kegiatan hari ini dan pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.

Pelajaran kami hari ini: 

  • Katakan tidak untuk penggunaan plastik.
  • Menempatkan alas kaki dengan rapi.
  • Pentingnya mengikuti peraturan.
  • Pentingnya menunggu giliran.
  • Berjalan di jalur masing-masing supaya tidak bertabrakan.

Konsep acara yang ditawarkan sangatlah menarik. Namun sepertinya belum bisa dieksekusi dengan baik. Ijinkan saya memberikan masukan kepada pihak penyelenggara berdasarkan pengalaman kami hari ini:

  1. Koordinasi petugas parkir perlu diperbaiki supaya lalu lintas kendaraan lebih bisa dikontrol dan tidak mengganggu lingkungan sekitar.
  1. Kakak pembimbing anak-anak sepertinya menggunakan jasa sukarelawan sehingga terlihat dengan jelas kakak pembimbing tidak begitu menguasai medan dan seringkali kebingungan ketika harus menuju sebuah tempat. Di setiap kegiatan yang diselesaikan pun tidak ada instruksi untuk kegiatan selanjutnya sehingga orangtualah yang sibuk menanyakan apa yang harus dilakukan anak setiap kali sebuah kegiatan diselesaikani. Alangkah baiknya jika kakak-kakak pembimbing dilatih dengan baik sehingga tidak terlalu kesulitan ketika bermanuver dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
  1. Buat peraturan yang jelas mengenai keterlibatan orangtua. Buat sebuah batas di mana orangtua memiliki jarak yang cukup supaya tidak mengganggu kegiatan anak-anak.

    Hari ini saya melihat sebuah acara anak-anak yang diramaikan oleh orangtua. Bahkan anak-anak pun terlihat kebingungan karena terlalu banyak campur tangan orangtua dalam berkegiatan. Belum lagi setiap detik setiap orangtua ingin mengabadikan kegiatan anak-anaknya. Oleh karena itu kesan berpetualang sepertinya kurang dirasakan oleh anak-anak karena campur tangan orangtua yang terkesan menginginkan anaknya tampil sesuai dengan harapan orangtuanya masing-masing.
  1. Pengenalan kegiatan minim sampah seharusnya bisa dijadikan sebagai salah satu sorotan utama kegiatan ini untuk mengajari anak-anak (sekaligus orangtuanya) untuk tidak menghasilkan sampah yang berlebihan. Contohnya ketika memasuki Rumah Tempe, setiap anak harus mengenakan sarung tangan plastik dan masker dengan alasan kebersihan. Sempat saya tanyakan kepada pihak panitia apa yang akan mereka lakukan setelah anak-anak selesai menggunakan sarung tangan dan maskernya. Jawabannya cukup mengejutkan “dibuang”. Padahal sempat saya tanyakan apakah bisa anak-anak mencuci tangannya dengan bersih supaya tidak harus menggunakan sarung tangan plastik. Tetapi alasan higienis lebih penting daripada alasan timbulnya sampah.Selain itu para penjual menjual makanannya menggunakan kemasan sekali pakai sehingga pemandangan sampah berserakan pun tidak dapat dihindari meskipun pihak penyelenggara berkali-kali mengingatkan para peserta untuk membuang sampah pada tempatnya.

Semoga masukan-masukan di atas bisa sampai kepada pihak penyelenggara untuk perbaikan acara selanjutnya dan demi tercapainya cita-cita kita bersama dalam mendidik anak-anak.

Garage Sale (Bagian 2)

Garage Sale (Bagian 2)

Setelah hasil penjualan garage sale terkumpul, kami pun mulai merencanakan untuk mendatangi toko mainan yang menjual set kereta api Lego dijual. Kebetulan Kiran memiliki jadwal rutin untuk berkegiatan fisik di Rockstar Gym mal Kota Kasablanka setiap minggunya dan di mal tersebut terdapat tiga buah toko mainan. Namun, ternyata segala sesuatu tidak pernah semanis yang  kita bayangkan. Kami mendatangi ketiga toko tersebut tetapi barang yang dicari ternyata kosong. Akhirnya kami pun mencoba menjelaskan kepada Kiran bahwa kadang-kadang kita harus bersabar dan menunggu. Untuk menghibur Kiran, kami pun merencanakan untuk mengunjungi toko Lego resmi yang berlokasi di Cilandak Town Square beberapa hari berikutnya.

Lego Store in Citos

Gelisah mulai melanda

mencari Lego Train Set

Menjelajahi setiap rak

Tibalah kami di Citos dan dengan penuh semangat Kiran langsung memasuki toko tersebut dan menyusuri semua rak yang ada di dalam toko. Namun, kembali dia harus mengalami kekecewaan karena barang yang dicarinya pun kosong. Kami menyimpulkan bahwa barang tersebut banyak disukai dan laku sekali sehingga untuk mendapatkannya agak sulit. Terlihat dengan jelas rasa kecewa yang mendalam setelah menanti beberapa hari dari kekecewaan yang sebelumnya terjadi. Akhirnya saya pun mencoba memberikan penjelasan bahwa kita harus berusaha lebih untuk mendapatkan sesuatu yang kita mau. Untuk mengurangi rasa kecewanya kami pun menawari Kiran untuk mengunjungi toko mainan lainnya yang berlokasi di mal Pejaten Village pada hari berikutnya.

Singkat cerita, keesokan harinya, sepulang kerja kami pun mengunjungi toko tersebut dan Kiran mulai merasa khawatir barang yang dicarinya tidak akan ada lagi. Ternyata hal yang dikhawatirkannya pun terjadi, sekali lagi Kiran harus mendengat bahwa barang yang ingin dibelinya tidak ada dan kami pun menerima informasi bahwa memang barang yang kami cari sedang kosong di toko mana pun. Akhirnya kami pun mencoba menawarkan pilihan kepada Kiran apakah uangnya mau disimpan dahulu sampai barang yang dicari tersedia atau mau mencari set kereta lainnya? Akhirnya Kiran memilih untuk mencari kereta jenis lain (mungkin karena sudah sangat ingin memiliki kereta mainan, apa pun mereknya).

Setelah berkeliling di dalam toko yang sama, Kiran pun memilih kereta yang diinginkannya dan ternyata kereta yang dia pilih harganya jauh lebih murah dari kereta Lego yang ingin dibelinya. Karena sisa uang masih banyak, kami pun menawari Kiran untuk membeli Lego Classics supaya dia bisa membuat mainannya sendiri dari batangan Lego Classic (selama ini kami selalu membeli mainan serupa Lego buatan Cina karena harga Lego yang ditawarkan lumayan mahal untuk kami beli). Akhirnya kami pun punya Lego betulan dan rencana yang tadinya mau membeli Lego Train Set sekarang berubah menjadi Train + Lego Set 🙂

Lego & Train

Kami semua pun akhirnya belajar bahwa mungkin ini untuk yang terbaik untuk Kiran. Hikmahnya, kami malah mendapatkan dua jenis mainan dan Kiran pun kegirangan karena akhirnya kesampaian untuk punya mainan kereta lagi dan dapat bonus Lego Classics 😀

Sebuah pengalaman yang sangat berharga untuk kami kenang bersama melihat perubahan emosi anak kami mulai dari bersemangat, kecewa, sangat kecewa, sampai putus asa, hingga akhirnya kembali bersemangat. Kami pun sebagai orangtua belajar banyak untuk bisa menjelaskan kepada anak kami mengapa semua hal tersebut terjadi dan tidak sesuai dengan harapan kami.

Ternyata memang benar, sekarang satu bulan telah berlalu dan Kiran masih menjaga mainan keretanya dengan utuh. Setiap kali selesai bermain, setiap bagian mainan langsung dimasukkan kembali ke dalam kardusnya dan masih terlihat baru. Segala sesuatu yang didapatkan dengan sulit akan bertahan lebih lama, demikian pelajaran keluarga kami kali ini.

Garage Sale (bagian 1)

Garage Sale (bagian 1)

Baru memulai lagi untuk menulis kegiatan belajar kami dan mencoba untuk lebih konsisten menulis. Semoga bisa lebih disiplin lagi untuk merekam jejak pembelajaran keluarga kami ke depannya.

Lego City Train Starter Set

Lego City Train Starter Set

Kali ini saya ingin berbagi kenangan dari proyek garage sale yang kami lakukan bulan lalu. Ide ini berawal dari sebuah keinginan Kiran untuk membeli kereta Lego yang selama ini dia inginkan.

Mengingat mainan di rumah sudah banyak sekali dan dari pengalaman sebelumnya kami pernah membelikan mainan set kereta api tapi hanya bertahan 3 hari karena langsung “dibedah” oleh Kiran di saat bermain dan berakhir menjadi potongan kecil-kecil. Akhirnya kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda supaya Kiran bisa lebih menghargai mainan yang dimilikinya.

Suatu hari ketika kami sedang membereskan barang-barang yang sudah tidak kami gunakan lagi, muncullah ide untuk menjual barang-barang tersebut karena kami sudah tidak menggunakan barang-barang itu dan rumah kami lumayan penuh sesak oleh barang-barang yang tidak banyak kami gunakan lagi. Akhirnya kami diskusikan ide ini bersama Kiran dan menawarkan sebuah pekerjaan kepadanya jika dia membantu untuk membersihkan barang-barang yang akan kami jual, hasil penjualannya akan digunakan untuk membelikan dia set kereta api Lego yang selama ini dia inginkan.

Persiapan

Pada tahap persiapan, Kiran membantu kami mengelap barang-barang yang akan dijual. Dengan penuh semangat dia membersihkan setiap bagian dari barang-barang yang dipegangnya. Sungguh suatu pemandangan yang menarik bagi kami melihat kesungguhan Kiran terlibat di dalam kegiatan ini.

Penjualan

Kemudian pada tahap penjualan, kami pun begadang untuk memotret dan menawarkan barang-barang kami melalui akun Facebook saya. Gayung bersambut, kami sangat terharu melihat respon dari teman-teman kami yang membantu kami untuk merealisasikan keinginan anak kami. Dukungan moral dan material pun terus berdatangan dari teman-teman kami. Kami tidak pernah menyangka barang-barang tersebut bisa laku dengan cepat. Akhirnya dalam waktu 1 hari banyak barang-barang kami yang terjual.

Pengiriman

Setelah tahap penjualan ternyata sekarang ada tahap pengiriman di mana kami harus membungkus dan mengirimkan barang-barang yang sudah terjual ke alamat pembeli. Pengalaman berkesan lainnya pun terjadi ketika Kiran membantu membungkus setiap barang dengan kertas koran dan menulisi paket yang akan dikirimkan dengan antusias. Saya pun mulai menjelaskan alasan mengapa setiap orang harus bisa menulis dan membaca untuk mendukung kehidupannya, seperti yang sedang kami lakukan saat itu mengirimkan paket. Saya menyuruh Kiran untuk melabeli setiap barang dengan tujuan supaya kami bisa membedakan barang-barang tersebut setelah terbungkus kertas koran. Tidak hanya di situ, proses belajar lainnya untuk Kiran adalah ketika saya harus menulis alamat setiap pembeli pada setiap paket yang akan dikirim. Kiran pun melihat dengan jelas mengapa setiap orang harus bisa menulis dan membaca.

Mempersiapkan Paket

Mempersiapkan Paket

Menulisi Paket

Menulisi Paket

Singkat cerita kami pun langsung mengirimkan paket yang telah siap dikirimkan melalui layanan JNE yang berlokasi di dekat rumah. Kiran menanyakan mengapa kita harus mengirimkan barang-barang tersebut dan mana uang dari penjualannya? Saya menjelaskan bahwa kami sudah menjualnya dan uangnya akan dikirim kepada saya melalui transfer bank. Selain melakukan pengiriman melalui layanan JNE kami pun menggunakan layanan jasa GOJEK untuk langsung mengirimkan barang kepada teman-teman yang membeli barang dari kami dan berdomisili di Jakarta.

Ada beberapa teman yang menanyakan mengapa barangnya sudah dikirim duluan padahal mereka belum membayar. Semua saya lakukan karena saya melihat ketulusan dari teman-teman itu membantu kami membuat semua ini terjadi. Tentunya tidak ada prasangka buruk jika barangnya tidak akan dibayar setelah barang tersebut kami kirimkan karena kami pun merasakan teman-teman itu melakukan pembelian bukan karena mereka sangat menginginkan barang yang kami jual melainkan semangat berbagi untuk membantu proyek yang sedang kami kerjakan bersama Kiran. Ada orang-orang yang kami kenal dan ada juga yang tidak begitu kami kenal tetapi berada di dalam lingkaran pertemanan media sosial.

Akhirnya total uang yang terkumpul sebesar Rp 1.065.000 dan semua pendapatan dari penjualan ini kami rencanakan untuk membeli Lego Train Set untuk Kiran.

Bersambung . . .

UCAPAN TERIMA KASIH:

Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Mbak Moi Kusman, Bibi Anita Diah Permata, Mbak Kusendra Yunika Advend, Neng Ochie, Paman Simon dan Bibi Yulia, Himsurya Saputra, Eva Yunianingsih, Kak Aio (yang nawar tapi maunya minta mahal bukan minta murah 🙂 ), Ms Sani Gama, Mbak Britania Sari (terima kasih atas tambahannya).

Terima kasih yang tak terhingga karena telah membantu kami untuk memberikan pengalaman yang berkesan untuk Kiran.

PAHLAWAN TANPA JASA ITU BERTITEL PETUGAS KEBERSIHAN.

PAHLAWAN TANPA JASA ITU BERTITEL PETUGAS KEBERSIHAN.

Selamat pagi.  Sudah Jumat lagi saja ternyata. Cuaca juga lumayan cerah hari ini. Berarti bisa kering dong cucian ibu-ibu (dan cucianku juga ;p). apakah perubahan cuaca pagi ini berimbas pada arus lalu lintas juga? Entahlah, tapi yang jelas perjalanan Condet – Simatupang lancar sekali. Di dalam bus 509 yang membawa saya ke tempat pengabdian, mata saya secara otomatis mencari sosok paruh baya berompi oranye  yang selalu ada di pinggir jalan membawa sapu panjang. Pandangannya selalu menatap ke bawah, seolah tak ingin melewatkan sesuatu di bawah sana. Setiap saya melewati Simatupang, si bapak selalu ada di sana, berada di sepanjang jembatan layang. Mungkin kehadirannya untuk sebagian orang seperti tak kasat mata, namun mata saya selalu menangkap sosok itu.

penyapu jalan

penyapu jalan

Petugas kebersihan, baik itu penyapu jalan, penyapu taman kota, dan penarik sampah setiap rumah adalah orang-orang yang paling berjasa dan paling memberikan kontribusi besar terhadap lingkungan. Namun banyak orang yang tidak sadar akan pentingnya kehadiran orang-orang ini. Pernah saya menguping pembicaraan beberapa orang ibu di tukang sayur yang mengeluh naiknya iuran sampah yang diminta tukang sampah di daerah rumah saya. Kurang lebih begini percakapan mereka:

A: “Masa narikin sampah dua kali sehari aja minta naik jadi 30 ribu, mahal amat”.

B: “Emang, kok si bapak jadi mahal sih bayarannya”

Saya lirik belanjaannya, ada ayam, daging, udang, dan bandeng presto..

Memang besar kecilnya sesuatu yang melibatkan nominal uang itu relatif ya. Tetapi dalam kasus ini, para ibu yang komplen itu termasuk dalam keluarga yang berkecukupan, wong tetangga saya ko (ngga nyambung ya :D). Yang jelas orang-orang punya mobil pribadi dan yang mampu main dan belanja ke mall saban weekend sih buat saya termasuk kategori orang berada ya. Jadi kalau naik dari 25 ribu menjadi 30 ribu dipermasalahkan sih kayanya absurd aja. Mungkin buat ibu-ibu ini 25 ribu itu hanya untuk sekali belanja di tukang sayur, tetapi buat penarik sampah, itu penghasilan satu bulan. Makanya, merki banget nih orang dalam hati saya. Saya yakin para ibu complainer yang saya ceritakan di atas adalah sample dari apa yang terjadi di masyarakat kita. Banyak dari masyarakat yang mau lingkungan rumahnya bersih tetapi tidak mau membayar dengan harga layak untuk kebersihan itu.

Tidak banyak memang orang yang mau menjadi petugas kebersihan. Salah satu faktor utamanya adalah minimnya upah yang diterima dan tidak adanya fasilitas kesehatan untuk mereka. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan para petugas kebersihan di Negara-negara maju seperti di Amerika atau Inggris di mana pekerja kasar seperti itu diganjar dengan bayaran yang cukup mahal. Saya pernah menonton film dokumenter produksi BBC yang berjudul The Toughest Place to be  Binman. Ternyata lokasi film dokumenter tersebut itu di Jakarta! Dan the toughest place yang dimaksud itu adalah ibukota kita tercinta! Duh, malunya. Sampai londo dari Eropa pun tahu mencari pembanding tempat tersulit sebagai tukang sampah ke Indonesia. Trailernya bisa dilihat di sini.

the toughest place to be a binman

the toughest place to be a binman

the toughest place to be a binman

the toughest place to be a binman

Sebenarnya akan banyak orang yang mau menjadi petugas kebersihan kalau saja bayaran dan fasilitas yang didapatkan seimbang dan layak. Gaji cukup, fasilitas kesehatan, jaminan hari tua, dan tunjangan-tunjangan yang didapatkan karyawan dan PNS itu juga didapatkan oleh para petugas kebersihan. Dengan naiknya Bapak Ahok sebagai gubernur, saya harap kesejahteraan para pahlawan kebersihan Jakarta ini bisa lebih diperhatikan.

Yuk, hargai para petugas kebersihan ini, kehadiran mereka sungguh berarti bagi lingkungan dan kehidupan kita. Mereka sungguh pahlawan tanpa tanda jasa.

petugas sampah

petugas sampah

Berkegiatan Minim Sampah

Berkegiatan Minim Sampah

Kali ini saya mendapat pengalaman yang sangat berharga yang tidak akan bisa saya lupakan. Terima kasih kepada Ibu Shanty Syahril yang telah membagikan pengalamannya dan bimbingannya dalam kegiatan ini.

Klub Oase mengadakan acara Bincang Seru Homeschooling di Museum Bank Mandiri pada tanggal 24 Januari 2015. Kegiatan ini diadakan untuk membagikan pengalaman para praktisi homeschooling kepada para orangtua yang berniat untuk melakukan homeschooling untuk anak-anaknya.

Yang akan saya bahas kali ini bukanlah tentang acara Bincang Seru Homeschooling-nya melainkan pengalaman mengadakan kegiatan minim sampah yang merupakan sebuah tindak lanjut kegiatan menonton film Trashed yang pernah saya bahas sebelumnya. Acara yang dihadiri kurang lebih 350 orang ini sangat sukses dan sampah yang dihasilkan pun bisa dianggap memuaskan.

Mulai dari persiapan untuk membuat konsep minim sampah, mempromosikan kegiatan, mencari relawan sampai eksekusi terakhir di lapangan untuk mengedukasi pengunjung acara untuk memilah sampah dan diakhiri dengan penimbangan sampah.

Sungguh pengalaman yang sangat berharga untuk saya pribadi bisa terlibat dan menyaksikan secara langsung semangat setiap orang yang terlibat dan mendukung kegiatan mini sampah ini. Setiap orang mulai melihat bahwa kegiatan minim sampah itu sangat mudah dilakukan jika kita mau. Kegiatan ini bisa disebarkan dan disosialisasikan untuk acara-acara yang lebih formal dan besar, seperti, acara pernikahan, perayaan ulang tahun, konser musik, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang menghasilakan sampah sangat banyak dengan durasi acara yang tergolong singkat.

Ketika merancang kegiatan ini, kami mengusahakan untuk mengurangi sampah mulai dari kegiatan perencanaan yang dilakukan intensif melalui media sosial seperti Facebook dan Whatsapp. Rapat secara fisik hanya dilakukan seminggu sekali ketika pertemuan rutin Klub Oase, sisanya dilakukan di dalam jaringan.

Promosi acara hanya dilakukan menggunakan media sosial Facebook dan hasilnya sangat efektif (tidak ada materi promosi cetak berupa brosur). Semua kursi yang berjumlah 200 langsung terjual hanya dalam waktu 1 hari. Bahkan banyak sekali orang yang ingin menghadiri acara ini harus kami tolak karena kapasitas ruangan hanya bisa menampung 200 orang.

Berulang kali kami mengingatkan melalui email blast dan flyer digital apa saja yang harus peserta dan panitia siapkan untuk mendukung acara minim sampah ini, seperti membawa peralatan makan sendiri meskipun makanan disediakan, membawa botol minum karena kami menyediakan Kangen Water sumbangan dari Pak Faizal Kamal dan Ibu Mella Fitriansyah.

langkah mengurangi sampah

Ajakan kepada peserta untuk berkegiatan minim sampah

Pencarian relawan menggunakan Youtube seperti di bawah ini:

Pada saat acara terdapat 3 titik untuk menempatkan tempat sampah. Terdapat 2 orang relawan di setiap titik tempat sampah untuk membantu pengunjung memilah sampah yang akan dibuangnya. Pemilahan sampah dibagi menjadi 4 macam dengan kategori sebagai berikut :

Kegiatan minim sampah - zero waste

Kegiatan minim sampah (zero waste) Klub Oase @ Museum Bank Mandiri

Berikut ini adalah foto-foto kegiatan para peserta yang sangat bersemangat mengurangi sampah (ketuk gambar untuk melihat gambar lebih jelas:

Setelah acara selesai, Relawan Nol Sampah mengumpulkan semua tempat sampah dan menggabungkan semua sampah berdasarkan kategorinya.

Total sampah yang terkumpul (17,5 kg) dengan rincian sebagai berikut :

_DSC1660

• Sampah untuk dibuang ke TPA  (3,5 kg) setara dengan 10 gr/orang
• Sampah plastik botol yang bisa didaur ulang (0,5 kg)
• Sampah kompos (10 kg)
• Sampah kertas dan kardus yang bisa didaur ulang (3 kg)

Untuk referensi membuat kegiatan minim sampah bisa mengunjungi situs web berikut http://jirowes.weebly.com/

Mari kita berkegiatan tanpa harus mengotori lingkungan. Setidaknya kita berusaha sedikit mungkin untuk tidak mengotori lingkungan 😉