Mengenal Metode Charlotte Mason

Mengenal Metode Charlotte Mason

Kamis, 14 September kami mengadakan kegiatan berbagi tentang metode Charlotte Mason. Kegiatan berbagi ini didorong oleh permintaan banyak teman sepulangnya kami menghadiri Temu Raya Praktisi Charlotte Mason (CM) Indonesia selama 4 hari mulai dari 31 Agustus sampai 3 September di Kopeng, Salatiga.

Kegiatan berbagi ini diisi oleh Ayu Primadini dan Priska Akwila Sabrina Widianto yang telah menjalani metode Charlotte Mason selama beberapa tahun, saya sendiri berperan sebagai moderator. Kami tidak mengira banyak orang yang tertarik untuk mempelajari metode Charlotte Mason yang seringkali dihakimi kaku dan sulit karena filosofi dan prinsip-prinsipnya. Dari 35 orang yang mengonfirmasi kedatangannya melalui Facebook Event yang kami buat, ternyata pada hari H terdapat 59 orang yang hadir bahkan 2 di antaranya sengaja datang dari Sumatera dan Lombok demi acara yang kami adakan di rumah salah satu teman kami, Nada Arini di daerah Jagakarsa. (more…)

Belajar Bersama Goes to Nature

Belajar Bersama Goes to Nature

Berikut ini adalah dokumentasi kegiatan perdana Belajar Bersama Goes to Nature di Bumi Perkemahan Mandalawangi di Cibodas Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Terdapat 11 keluarga yang turut serta dalam kegiatan perdana ini.


Apa itu Belajar Bersama Goes to Nature?

Ini adalah salah satu kegiatan luar ruangan Belajar Bersama yang akan kami adakan setiap bulan dengan mengumpulkan keluarga pecinta alam untuk berkegiatan bersama. Latar belakang kegiatan ini kami adakan untuk melatih ketekunan dan kreatifitas dalam bermain serta menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap alam sekitarnya, dan menumbuhkan kesadaran khususnya masalah sampah. Kami melihat kebutuhan anak-anak kami yang sudah jarang menjejakkan kakinya menyentuh tanah, batu, rumput dan mereka terlalu terbiasa melihat sampah.

Kapan dan di mana kegiatan ini dilakukan?

Kami berencana mengadakan kegiatan di alam bebas secara rutin setidaknya setiap bulan. Saat ini kegiatan yang akan kami adakan adalah, berkemah dan naik gunung. Alternatif kegiatan lainnya mungkin bertambah seiring waktu berjalan berdasarkan kebutuhan keluarga yang ada. Kegiatan ini akan berpindah-pindah berdasarkan kebutuhan pada saat itu

Kegiatan ini untuk siapa?

Meskipun kegiatan ini diadakan oleh perkumpulan keluarga homeschooling Belajar Bersama tetapi kegiatan ini terbuka untuk umum (menjalani homeschooling maupun bersekolah) tetapi tertutup hanya untuk keluarga bukan orang yang masih lajang. Bertemu dengan orang baru dapat melatih kepercayaan diri setiap anggota keluarga baik orangtua maupun anaknya untuk berani berinteraksi dengan orang baru yang belum dikenalnya.

Apa yang dilakukan selama berkegiatan?

Ini adalah pertanyaan kebanyakan orang pada saat kami melakukan kegiatan perdana kami sekaligus menjadi sorotan kami bagi siapa pun yang berminat untuk mengikuti kegiatan ini untuk mengantisipasi rasa kecewa yang tidak diinginkan. Kegiatan utama kami adalah untuk tidak melakukan banyak kegiatan selama kegiatan berlangsung. Kami ingin melatih insting anak-anak untuk secara alamiah merespons terhadap apa yang ada di sekitar mereka. Tidak ada kegiatan menggambar, bermain gawai, atau kegiatan lainnya yang bisa dilakukan di rumah. Sesungguhnya orangtua yang akan belajar banyak dari anak-anaknya karena anak-anak tahu bagaimana caranya bersenang-senang dan menikmati waktu mereka selama berada di alam terbuka tanpa memikirkan apa pun dan hanya berfokus pada “saat ini”. Setidaknya itulah pelajaran paling berharga yang kami dapatkan dari anak-anak kami ketika melakukan kegiatan perdana ini. 

Bagaimana cara mendapatkan informasi kegiatan ini?

Semua kegiatan kami akan kami informasikan melalui Facebook Page Belajar Bersama. Untuk memastikan keluarga Anda tidak ketinggalan informasi, silakan ketuk tombol “like” dan semua informasi yang kami buat akan secara otomatis muncul di beranda Facebook Anda.

Apakah ada syarat khusus untuk mengikuti kegiatan ini?

Ya, semua peserta kegiatan diharapkan memikirkan sampahnya. Kami ingin mengajak semua orang untuk menjadi panutan bagi anak-anak kami dengan melatih kepekaan terhadap masalah sampah. Mengingat kegiatan perdana kami masih memproduksi sampah yang cukup banyak, kami akan menerapkan aturan yang lebih terperinci mengenai pilihan makanan yang boleh dan tidak boleh dibawa selama berkegiatan untuk mengantisipasi timbulnya sampah anorganik yang dapat mengganggu dan mengotori lokasi kegiatan.

Silakan kunjungi FB Page Belajar Bersama jangan sampai ketinggalan kegiatan kami selanjutnya


Testimoni dari beberapa peserta kegiatan

‘ayo bu… naik gunung, ternyata seru disini..

‘wah.. hati hati ya nak..

‘iya bu.. dengan antusias orion dan luna naik ke tangga batu menuju bumi perkemahan mandalawangi taman nasional gunung gede pangrango kemarin.

‘ketemu sungai… ihh deras airnya..

‘seru ya or… suka suka… kata luna dengan gembira.

‘iya lun.. ayo kutuntun, ini tanjakan lhoo… orion membantu adiknya naik, sementara ibu dibelakang sambil menggendong carrier..😀

‘hati hati ya kakak dan adik… adiknya dituntun, lihat jalan didepan…

begitulah ketika kemarin menemani anak anak di camp ground..

~ Verena Ety Prasetyaningsih, Bogor ~

Hai, baru pulang dari rumah waktu refleksi sekalian posting dan sharing cerita camping Mandalawangi.

Pengalaman yang hangat dan pertama yang tidak akan terlupakan walau dihantam dengan suhu malam 16C.

Bertemu dengan semua keluarga yang berbeda latarbelakang dari sekolah dan yang menjalankan HS. Dari yang umur nya tua sampai yang bayi.

Berbaur di perkemahan sana. “Seru”, “senang”, itu saja kata anak-anak saya.

Hidup ini seperti napas, kita merasakan, mengambil napas dan menghembuskan nya lagi. Kenapa bernapas harus ditahan?

Terima kasih keluarga Ayah Kiran, mbk Nuni Amaliah, Nada, Yulia Karlina, Metta Setiawan, Verena Ety Prasetyaningsih, mbk Weni Widiafransi, mbk Siti Andriani, Annette Varash (ini saya salut karakter bumil satu ini), keluarga mbk Ira, dan anak anak.

Kita disini sama derajat semuanya. Semoga postingan saya bisa menginspirasi bagi keluarga single parent seperti saya dan yang lainnya.

Bangga pada anak anak saya yang tidak mengeluh sedikitpun.

~ Yemmi Liu, Sukabumi ~

Akhirnya hari yang sudah ditunggu-tunggu Benn, datang sudah. Hari ini kami akan pergi ke Cibodas untuk ikut acara kemping Belajar Bersama Goes to Nature di Wisata Alam Mandalawangi – Cibodas.

Subuh dibangunkan, langsung bangkit dari tempat tidur dan menyiapkan diri ganti baju. (Meskipun setelahnya sembari menunggu Mami Papi final check barang bawaan, agak molor lagi di sofa hahaha).

Ooopsss…tol Merak-Jakarta muacettt, mari kita putar arah, lewat tol Jorr saja. Thanks God, perjalananan lancar hingga sampai di tujuan.

Yayyy…sampai juga kami di Kawasan Wisata Alam Mandalawangi Cibodas, sejukkk segarrr.

Benn sudah tidak sabar berjalan menuju lokasi tempat kita akan kemping. Apalagi setelah tau kalau Kiran sudah sampai di lokasi dari tadi.

Wah ternyata lumayan juga naik turun tangga, sedikit jalan berbatu untuk menuju lokasi kemping di pinggir sungai. Tapi begitu sampai lokasi, langsung terbayar rasa capek di awal tadi. Cakep lokasi kempingnya, persis di pinggir sungai. Benn n Mia langsung tak sabar ingin nyebur ke air, apalagi melihat teman-teman yang lain sudah pada seru berbasah-basahan di sungai.

Sabar ya Nak, kita dirikan tenda dulu. Supaya nanti selesai main air, sudah ada tempat istirahat jika perlu.

Sungainya jernih sekali, segar dan pastinya duinginnnnnn.

Meskpun dingin, tapi anak-anak pada betah sekali bermain tak henti-henti.

Termasuk anak kecil ini, mencoba menyeberangi sungai dari satu batu ke batu yang lain.

Sesekali hendak lompat bergaya streamline jump, ooppsss…stop! Sungainya kurang dalam untuk streamline jump, Nak, jidat bisa terbentur batu nanti.

~ Metta Setiawan, Karawaci ~

Akan selalu ada yang kami pelajari disaat berkegiatan bersama dengan anak-anak. Begitupun disaat kami berkegiatan bersama di alam bersama teman-teman keluarga Belajar Bersama di bumi perkemahan mandalawangi cibodas.

Belajar dari alam, belajar tanpa menjudge apapun, belajar arti kebersamaan, belajar menghargai perbedaan, belajar mencintai alam, belajar mengenal pencipta diri dan semesta.. tanpa membawa ego diri, melepas segala penat, menghirup udara yang seakan mengingatkan kami, menyadarkan kami akan tanggungjawab yang ada didalam diri kami, menjaga alam sebagai wujud kehadiran kami di muka bumi ini.

~ Weni Widiafransi, Bekasi ~

Setiap kegiatan bersama beberapa keluarga homeschool, selalu menimbulkan kesan dan hikmah tersendiri bagi kami. Kami belajar saling kenal-mengenal, dan belajar memahami. Belajarnya sambil menikmati alam. Hanya menikmati alam. Sungguh memukau dan menyenangkan.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal….” kutipan QS 49:13

*Kemping di Mandalawangi, Cibodas. Jumat-Sabtu, 16-17 Juni 2017. Ramadhan.

~ Siti Andriani, Jakarta Pusat ~

Trekking pagi ini….

Alam, sumber belajar yang kaya namun kadang terlupakan dan terabaikan.

~ Annette Mau, Kelapa Gading ~

Melatih Diri “Walk the Talk”

Melatih Diri “Walk the Talk”

Menyambung 2 tulisan sebelumnya mengenai rasa sayang dan menyembuhkan luka lama supaya kita bisa memiliki hubungan yang baik bersama anak adalah dengan cara melatih diri, bagaimana kita mulai menerapkan informasi yang kita miliki dan menjadi teladan bagi anak kita.

Apa yang kita lakukan adalah hasil dari perasaan atau emosi kita. Dengan mengenali emosi yang kita rasakan diharapkan kita dapat mengatur perbuatan atau pikiran kita.

Seringkali orangtua dan anak meributkan suatu hal yang dapat membuat hubungan keduanya tidak baik karena keduanya masih mempertahankan ego masing-masing bukan tentang mengapa hal tersebut ‘seharusnya’ terjadi atau dilakukan. Penerimaan satu sama lain tanpa kondisi yang dipersyaratkan memerlukan motivasi dan relevansi sehingga setiap pihak tidak harus berharap terhadap satu sama lain. Sebuah konsekuensi logis.

Tanpa kita sadari tindakan mengontrol anak kita ternyata bukanlah perwujudan dari kasih sayang kita sebagai orangtua melainkan ego yang berawal dari kekurangan diri kita sendiri kemudian berlanjut menjadi sebuah kecemasan sehingga berujung pada kontrol yang sering kita sebut sebagai ‘cinta atau sayang’. Misalnya kita memasukkan anak kita ke sebuah sekolah mahal dengan harapan anak kita bisa sukses atau mapan dan terlindungi secara finansial dan dihormati orang. Ini adalah sebuah asumsi yang berkembang di masyarakat jika anak tidak masuk sekolah yang bagus (baca: mahal) maka masa depannya tidak akan baik. Ketika anaknya tidak sukses lantas kita kecewa karena anak kita tidak menjadi seperti yang kita harapkan. Inikah yang dinamakan cinta?

SAYANG ATAU TAKUT

Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata ‘takut’ atau ‘cinta’? Kita ambil sebuah contoh ketika kita sedang makan bersama anak kemudian anak kita tidak menghabiskan makanannya. Kita semua tahu mengenal dua cara untuk menyelesaikan masalah ini. Yang pertama adalah dengan memaksa anak menghabiskan makanannya atau yang kedua membujuk anak dengan berbagai cerita yang membuat anak merasa bersalah. Mulai dari seberapa panjang perjalanan makanan menuju meja makan, para petani yang bekerja keras untuk menghasilkan makanan sampai bercerita tentang orang-orang kelaparan yang berada di negeri orang lain. Semua ini kita lakukan atas nama cinta atau sayang terhadap anak. Khawatir anaknya sakit atau terjadi sesuatu terhadap anaknya. Padahal rasa “cinta” yang kita rasakan bukanlah rasa cinta yang sebenarnya, tetapi ketakutan orangtua berbalut rasa khawatir yang berlebihan terhadap anak.

Ternyata rasa sayang tidak harus selalu “tampil” selaras dengan perbuatan. Ketika kita membantu anak mengenal sinyal tubuhnya terhadap rasa lapar tidaklah mudah bagi orangtua. Rasa khawatir yang tidak beralasan atau rasa nyaman yang memudahkan orangtua untuk ‘memberi’ makan kepada anaknya lebih mudah untuk dilakukan. Tetapi anak tersebut tidak memiliki motivasi untuk mengenal segala jenis makanan yang diperlukan bagi tubuhnya dan ketika tidak ada motivasi dari diri sendiri, anak tersebut tidak akan melihat relevansi dari tindakan yang harus dilakukannya sehingga kegiatan makan hanyalah sebuah rutinitas yang harus dilakukannya tanpa tahu pasti mengapa hal itu harus dilakukan dan diperlukan oleh tubuhnya sendiri.

Kita selalu mengajari anak kita untuk merawat barang-barang, rumah, binatang dan kendaraan tetapi sering kali gagal menerapkan konsep merawat diri terhadap anak kita. Ketika ada motivasi kemudian muncul relevansi.

Sebelum kami menjalani homeschooling pun kejadian seperti ini selalu terjadi di dalam kehidupan keluarga kami. Kami menyuruh Kiran makan untuk membuat kami nyaman (karena takut dia sakit jika dia melewatkan waktu makannya). Kami menyuruh Kiran mandi karena sebuah keharusan turun menurun yang terjadi di masyarakat. Kiran harus menggosok giginya sebelum tidur karena kami takut giginya berlubang karena kami takut giginya jelek dan rusak, dan masih banyak rutinitas lainnya yang kami terapkan kepada Kiran tanpa dia memiliki motivasi dan relevansi terhadap setiap kegiatan yang dilakukannya.

Semenjak menjalani homeschooling, kami mulai menyadari hal-hal tersebut dan berdamai dengan diri sendiri bahwa untuk menyayangi anak kami diperlukan kesabaran, rasa sayang tanpa syarat, dan menyembuhkan luka lama kami. Membangun kesadaran dan mengubah pola pikir kami tidaklah mudah. Kami pun masih belajar untuk konsisten menjalaninya. Perlahan tetapi pasti, seiring waktu berjalan kami mulai melihat hasilnya. Belakangan ini kami merasa bahagia ketika Kiran meminta makan karena dia lapar, ketika Kiran sudah mulai menggosok giginya sebelum tidur karena dia sadar giginya adalah tanggung jawabnya dan memerlukan perawatan, ketika Kiran tidur karena tahu tubuhnya perlu istirahat, sampai baru-baru ini Kiran sudah mulai mandi tanpa menggunakan sabun dan sampo karena tidak mau mencemari lingkungan. Perilaku seperti ini tidak mudah dilakukan ketika kami masih berusaha mengontrol dan mengharapkan Kiran melakukan sesuai dengan apa yang kami inginkan.

PEKERJAAN RUMAH KAMI

Mari kita berefleksi, apakah tindakan yang kita lakukan itu demi anak kita atau demi kenyamanan kita?

Setelah mengikuti seminar Pak Gobind mengenai compassionate parenting, ada beberapa hal yang masih kami latih untuk menerapkannya terhadap Kiran:

  • Meningkatkan kesadaran bahwa kami adalah fasilitator yang tugasnya memfasilitasi Kiran untuk menjadi seorang pemelajar.
  • Membantu Kiran menemukan motivasi supaya dirinya memiliki relevansi atas segala hal yang dilakukannya.
  • Melatih diri kami untuk tidak terjebak dengan asumsi dan mulai berfokus pada kenyataan.
  • Mengonfirmasi kembali setiap pertanyaan atau pernyataan Kiran secara keseluruhan tanpa berpekulasi.
  • Tidak membuat Kiran merasa bersalah, mempermalukannya dan apatis
  • Mulai mengganti teknik mengonfirmasi dari “mengapa” menjadi “apa yang membuatmu . . .” atau “apa yang kamu rasakan . . .” untuk membantunya merasa dan mengenali emosi.
  • Yang terakhir adalah walk the talk (konsisten menjalani setiap informasi yang kami miliki)

The way we see the problem is the problem

 

Memeluk Emosi

Memeluk Emosi

Menjalani homeschooling merupakan pencerahan bagi keluarga kami. Belajar satu sama lain, saling memahami antara satu sama lain dan mencoba untuk saling mengerti. Setiap kali mendapat ilmu untuk tujuan homeschooling ternyata selalu kembali kepada pembenahan diri orangtua. Mendidik anak bukanlah mengajari anak tetapi mengajari diri sendiri supaya bisa menjadi teladan bagi anak. Setiap pemelajaran yang terjadi di dalam menjalani homeschooling adalah proses mengenali diri.

Menyambung tulisan sebelumnya mengenai keakuan, tulisan ini akan membahas mengenai emosi dan luka lama. Emosi adalah luapan perasaan atau keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti sedih, malu, marah, gembira, kecewa, dan lain sebagainya. Sedangkan definisi dari luka lama di sini adalah sebuah pengalaman tidak menyenangkan dari masa lalu atas cara kita diperlakukan (oleh siapa pun) dan membentuk perilaku kita saat ini.

Orangtua membesarkan anaknya supaya anaknya bisa menjadi anak yang ‘berbakti’ kepada orangtua, bermanfaat bagi keluarga dan negara, menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik supaya kelak sukses dan mapan, membuatkan rumah di dekat rumah orangtuanya supaya bisa tinggal berdekatan dan banyak bentuk keakuan lainnya yang orangtua lakukan atas nama rasa sayang. Seorang anak yang dibesarkan sebagai kebanggaan orangtua, menuruti apa kata orangtua dan memenuhi harapan orangtua sebenarnya berada dalam tekanan emosi yang sangat besar karena semua perilakunya harus memenuhi harapan orangtua.

Seperti yang saya alami ketika duduk di bangku sekolah bagaimana susahnya untuk menduduki peringkat satu di dalam kelas. Ketika nilai-nilai ulangan saya tidak sebesar murid-murid lainnya, ketika saya dituntut untuk menggungguli siswa berprestasi di sekolah dengan kemampuan akademis yang pas-pasan. Ketika tuntutan itu tidak dapat saya penuhi saya pun dibandingkan, dimarahi dan diceramahi yang dengan perkataan yang menjatuhkan kepercayaan diri sehingga saya merasa orangtua saya membuat saya merasa bersalah, kecewa, kesal dan marah terhadap diri sendiri karena tidak mampu memenuhi keinginan mereka. Saya pun mulai bertumbuh dengan rasa takut, tidak mampu dan tidak percaya diri. Perasaan ini saya pendam dan tidak pernah saya tangani sampai saya dewasa dan akhirnya tanpa saya sadari membentuk kepribadian saya.

Setelah saya lebih dewasa dan berada dalam posisi ‘mampu’ membuat keputusan sendiri, pertentangan antara saya dan orangtua pun tidak terhindarkan. Saya selalu mencoba untuk berseberangan dengan setiap pemikiran mereka karena tidak ingin merasa bersalah lagi.

Menyedihkan memang ketika semua itu dilakukan atas nama cinta berbalut ego karena sebenarnya orangtua saya hanya ingin memastikan kehidupan yang lebih baik dari yang mereka miliki. Di saat yang bersamaan saya berterima kasih dengan cara saya dibesarkan karena menjadikan saya menjadi pribadi yang tidak cengeng dan mandiri. Selalu ada pelajaran yang bisa kita petik dari setiap kejadian. Cerita di atas bukan mengenai perlakuan orangtua saya terhadap saya, karena saya memahami mereka hanya melakukan apa yang mereka ketahui dengan caranya sendiri tetapi tentang hasil dari perbuatan kita sebagai orangtua yang dapat membuat luka terhadap anak kita tanpa kita menyadarinya.

Setelah mengikuti seminar Pak Gobind, saya baru sadar bahwa alasan saya terlalu keras dengan diri saya adalah bukan karena saya berprinsip melainkan karena saya tidak merawat dan menyembuhkan luka dari masa lalu tersebut di atas. Saya selalu menuntut hasil yang sempurna, melihat hasil seperti yang saya inginkan, dan sangat kaku dengan aturan. Untuk urusan pekerjaan mungkin baik, tetapi dalam kehidupan keseharian saya kesulitan mengelola emosi di dalam diri. Seringkali saya harus ‘merasa’ kecewa untuk hal-hal sepele. Emosi saya sering terpancing ketika saya tidak menemukan barang di tempat yang semestinya, ketika orang-orang di rumah tidak berlaku seperti yang saya pikir seharusnya mereka berlaku.

Untuk menghindari emosi yang saya rasakan ketika perasaan itu muncul seringkali saya diam dan mengalihkan pikiran saya dengan bekerja. Tidak jarang juga saya tidak bisa menahan diri mencerocos sampai semua pesan saya keluarkan baru merasa lega dengan melupakan perasaan orang tersebut. Yang selalu saya sesalkan adalah ketika saya kurang istirahat kemudian segala sesuatu dengan mudahnya menjadi pemicu untuk membuka luka lama saya.

Ternyata hal-hal yang selama ini saya hindari bahkan berjanji untuk tidak akan dilakukan telah menjadi bagian diri saya dan berevolusi dalam bentuk yang lain. Beberapa hari setelah seminar saya mencoba untuk melatih kesadaran mengenali luka yang ada di dalam diri. Mencari naga yang yang bersembunyi di dalam diri untuk menjinakkannya.

Kuncinya adalah belajar ‘merasa’. Bagaimana kita memperlakukan diri kita dan orang lain sebagaimana mestinya tanpa ada syarat yang melekat. Perasaan sayang yang dibalut dengan marah, kesal atau kecewa hanyalah sebuah ilusi dari luka lama kita. Naga yang terbangun dari tidurnya.

Pak Gobind membuat contoh ketika kita terluka di bagian tangan, kemudian seseorang menyentuh luka tersebut tentu rasa sakit akan kita rasakan. Sesungguhnya orang tersebut hanya mengingatkan kita akan luka yang kita miliki supaya kita merawat dan menyembuhkan luka tersebut. Luka tersebut ibarat pengalaman masa lalu kita yang pahit yang belum kita sembuhkan karena tidak tahu cara merawatnya. Orang yang menyentuh luka tersebut bisa jadi siapa saja termasuk anak kita yang sebetulnya bukan yang membuat kita terluka tetapi memberitahu dan mengingatkan kita akan luka masa lalu yang harus kita rawat dan sembuhkan. Berterima kasihlah kepadanya.

MEMELUK EMOSI

Ketika kita berhadapan dengan seseorang kemudian muncul emosi yang membuat kita tidak nyaman (terintimidasi, marah, malu dan lain sebagainya), berbicaralah dengan diri sendiri mengapa rasa itu muncul.

Keberadaan orang-orang di sekitar saya ternyata membantu saya untuk mengenali setiap luka dalam diri yang harus saya rawat dan sembuhkan. Caranya bagaimana? hadapi dan kenali sumber emosi yang kita rasakan. Berbicaralah dengan diri kita di masa lalu apa yang membuat kita terluka. Rawatlah luka tersebut dengan mengenali luka yang kita miliki sampai luka tersebut dapat kita sembuhkan.

Perbuatan adalah tanggapan dari emosi yang kita miliki. Saya harus belajar ‘merasa’ dan mengenali luka yang saya miliki. Emosi yang saya miliki tidak ada sangkut pautnya dengan orang tersebut. Seseorang yang membuat saya kesal, malu, marah atau benci adalah cerminan dari luka yang saya miliki. Saya harus belajar merasakan emosi yang saya miliki dan berhenti mengalihkan perasaan yang muncul setiap kali datang. Belajar menerima supaya terhindar dari keakuan supaya bisa merasakan tulusnya menyayangi.

Mari kita bersama-sama belajar merasa.

Belajar Melepas Keakuan

Belajar Melepas Keakuan

Kali ini saya dan Nuni mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari Gobind Vashdev mengenai compassionate parenting. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan pada pemelajaran kali ini dan saya akan mencoba mengulas kembali hal apa saja yang menjadi perhatian saya ketika mengikuti kegiatan tersebut. Hasil belajar setiap orang bisa berbeda sehingga apa yang saya akan sampaikan sepenuhnya adalah interpretasi saya pribadi. Jika ada kekeliruan dalam tulisan ini sangat mungkin dikarenakan kesalahan interpretasi saya atau ketidakpahaman saya terhadap informasi yang saya terima dan sewaktu-waktu dapat diralat demi kejelasan informasi.

Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti seminar beliau. Fokus dari seminar ini adalah bagaimana orangtua dapat memahami arti dari kata cinta atau kasih sayang yang sebenarnya supaya kita bisa berhubungan baik dengan anak. Baru kali ini saya kesulitan menulis karena banyak sekali hal yang ingin saya sampaikan. Oleh karena itu saya akan membagi pengalaman mengikuti seminar Pak Gobind menjadi beberapa bagian supaya mudah untuk dibaca sekaligus memberikan saya waktu untuk mengulas kembali informasi yang saya terima.

Untuk bagian pertama, saya akan menyampaikan pelajaran yang saya terima tentang perbedaan sayang  dengan kemelekatan (tanpa mengurangi rasa hormat demi kejelasan berbahasa izinkan saya mengubah kata ‘kemelekatan’ dengan ‘keakuan‘ yang saya anggap mendekati arti yang dimaksud karena ‘kemelekatan’ tidak sesuai dengan norma berbahasa Indonesia). Saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk mencoba jujur dan berdialog dengan dirinya sendiri supaya mendapatkan manfaat dari apa yang akan saya bagikan.

Tanpa kita sadari ternyata kata ‘sayang’ yang selama ini kita gunakan berbeda makna dengan kata ‘sayang’ yang sesungguhnya ingin kita gunakan. Selama ini yang kita kenali adalah bentuk sayang dengan syarat. Kita melakukan sesuatu dengan melekatkan timbal balik dalam bentuk harapan. Contohnya kita menyayangi pasangan atau anak kita dengan harapan pasangan atau anak kita melakukan hal yang sama terhadap kita. Kita memarahi anak dengan balutan kata sayang untuk memperlembutnya dan menyembunyikan perasaan kita yang tidak dapat kita kelola dengan baik untuk mengontrol anaknya (disengaja atau tidak). Kita memperlakukan orang lain dengan baik dan berharap orang lain memperlakukan kita dengan baik juga. Pokoknya semua yang saya berikan atau saya lakukan harus saya terima kembali dalam bentuk yang sama. Sehingga ketika kita tidak menerima sesuai yang kita harapkan muncul rasa kecewa. Dari mana rasa kecewa ini bisa muncul jika bukan dari sebuah harapan?

Apakah sudah mulai terbayang kata ‘sayang’ (baca: keakuan) yang terjadi seperti dalam hubungan di atas? Anda boleh setuju atau tidak dengan hal ini. Tulisan ini bukanlah untuk mengkritik atau menghakimi tetapi sekadar berbagi, sebuah ajakan untuk meningkatkan kesadaran diri. Mungkin kita tidak tahu atau tidak sadar akan apa yang biasa kita lakukan. 

Apa yang terjadi ketika kita tidak menerima perlakuan sesuai harapan? Apakah kita masih merasakan hal yang sama untuk orang itu? Apakah hubungan kita dengan orang itu berubah? Kemudian apakah motivasi dari setiap tindakan yang kita lakukan berdasarkan pengharapan atau pelepasan?

Rasa sayang yang sesungguhnya tidak akan melekatkan apa pun kepada orang yang kita sayangi; anak, pasangan, orangtua, atau pun orang lain. Tidak ada sebuah harapan atau timbal balik dari perlakuan yang kita berikan baik secara fisik maupun emosi. Bahkan mungkin sebetulnya kita tidak mencintai pasangan kita, tetapi mencintai kriteria yang ada pada pasangan kita. Kriteria yang hanya ada di dalam pikiran kita sendiri sehingga ketika kita bertemu dengan seseorang yang ‘memenuhi’ kriteria tersebut, terjadi sebuah pemenuhan ‘keakuan’ di antara keduanya. Tanpa diantisipasi ternyata banyak sekali hal-hal yang tidak memenuhi kriteria dari pasangan tersebut setelah tinggal bersama sehingga rasa yang terjadi di antara keduanya hanyalah keakuan, “Kalau kamu tidak begini, aku akan begitu”, “kalau kamu anu aku akan anu”. Seringkali kita melakukan hal yang sama terhadap anak kita, misalnya, “kalau kamu tidak menghabiskan makanannya, kita tidak jadi beli es krim ya”.

Jika memang begitu adanya, saya ingin mengatakan “aku tidak mencintaimu istriku. Aku ingin belajar melepasmu, mendukungmu sampai kamu mencapai potensi diri tertinggimu. Aku akan selalu bersamamu, menerimamu dan memahamimu, bukan mengubahmu seperti apa yang aku inginkan.”

Untuk ananda Kiran, semoga ini menjadi pengingat untuk ayah supaya ayah bisa menyayangimu tanpa syarat. Ayah akan belajar untuk tidak melekatkan keakuan dan menyayangimu apa adanya.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” ― Sapardi Djoko Damono

Kamtasia (Kampung Komunitas Indonesia)

Kamtasia (Kampung Komunitas Indonesia)

KAMTASIA diselenggarakan di Kampoeng Java, Salatiga selama 3 hari 2 malam (12-14 Agustus 2016). Konsep kegiatan ini dibuat dengan tema perkemahan. Meskipun berkemah, para peserta dimanjakan dengan layanan yang diberikan oleh panitia mulai dari makanan yang disiapkan tepat waktu dan makanan ringan yang selalu tersedia menjelang makan siang. Tim panitia telah mempersiapkan semuanya dengan baik. Kami pun tidak khawatir dengan anak-anak karena panitia telah menyediakan berbagai kegiatan untuk anak-anak sehingga orangtuanya dengan leluasa mengikuti kegiatan yang berlangsung.

Acara ini dihadiri oleh pelaku komunitas di dunia pendidikan. Para keluarga yang mengutamakan pendidikan berbasis keluarganya. Terdapat lebih kurang 50 keluarga yang mengikuti kegiatan ini. Setiap keluarga ditempatkan dalam sebuah kampung dengan total 7 kampung dan terdapat 6 sampai 8 keluarga di setiap kampungnya. Terdapat kafe dadakan dari komunitas CBE Kampung Juara yang memanjakan kami dengan jajanannya yang sehat dan membuat kami dapat menikmati suguhan kafe di sela-sela kegiatan.

Kegiatan yang pertama kali diadakan ini adalah proses kolaborasi antara komunitas dari berbagai kota. Kami bertemu beberapa keluarga yang sudah kami kenal dan juga berkesempatan untuk mengenal keluarga-keluarga baru yang menyenangkan. Banyak ilmu yang kami dapatkan dari kegiatan ini. Mulai dari penanganan pendidikan anak, cara berkomunitas, sampai dengan pengembangan diri. Untuk saya, kegiatan ini menyegarkan pikiran saya. Bagaimana saya belajar untuk mengelola diri dan berefleksi dari setiap orang yang saya jumpai.

Sudah dua kali saya mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Padepokan Margosari (sebutan untuk keluarga Ibu Septi dan Pak Dodik). Saya mulai melihat ciri khas dari kegiatan yang mereka adakan, salah satunya yang saya suka adalah larangan untuk membahas SARAT (Suku Agama Ras dan Anggota Tubuh) ketika berkegiatan dan fokus pada kebutuhan diri. Ambil yang kita anggap baik dan tidak perlu menghakimi orang lain. Tidak ada benar dan salah melainkan bermanfaat atau tidak bagi yang menerima informasi. Nilai ini mulai saya resapi dan kami terapkan sebagai nilai di dalam keluarga.

Fokus dari kegiatan ini adalah sebagai forum untuk belajar, berbagi dan berjejaring antara pelaku komunitas khususnya di bidang pendidikan dengan tema kegiatan CBE (Community Based Education).

Terdapat beberapa perwakilan dari komunitas yang sudah lama terbentuk dan yang baru terbentuk membagikan cerita dalam komunitasnya. Setiap peserta kegiatan diharapkan dapat mengambil nilai-nilai yang dapat ditiru dan diaplikasikan di dalam komunitasnya masing-masing. Sekali lagi Pak Dodik sebagai moderator mengingatkan kami semua bahwa sesi berbagi tersebut bukanlah sesi penghakiman melainkan sesi berbagi yang harus kami manfaatkan sebaik-baiknya.

Setiap komunitas dibentuk atas dasar kesamaan terhadap sesuatu, mulai dari kesamaan lokasi, kesamaan minat, hobi,atau profesi, kesamaan nilai atau perpaduan dari semuanya. Ketika seseorang bergabung dalam sebuah komunitas tentunya ada sebuah harapan pemenuhan kebutuhan bersama yang kemudian dirancang untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Komitmen setiap anggota komunitas menjadi kunci utama dalam keberlangsungan sebuah komunitas.

Sebulan sebelum para peserta bertemu Pak Dodik dan Ibu Septi menyediakan forum diskusi via Whatsapp untuk persiapan kami yang diadakan seminggu sekali. Dimulai dari sesi Fine Tuning untuk memastikan semua peserta memahami konsep yang diadakan oleh Padepokan Margosari:

Komunitas terdiri dari sekumpulan orang atau kelompok orang yang memiliki kesamaan dan melakukan interaksi sosial diantara mereka.

Sifat komunitas ini longgar sekali, ada yang diorganisasi dengan baik (well organized), ada yang berjalan tanpa arah, ada yang memiliki ikatan kuat,  ada pula yang longgar, ada yang memiliki struktur dan pembagian tugas, ada juga yang serabutan, ada yang berbadan hokum, ada pula yang sekadar kumpulan, dan sebagainya. Sifat-sifat ini tidak serta merta menjadikan sebuah komunitas baik atau tidak baik.

KAMTASIA tidak bermaksud menyatukan pendapat. Peserta justru didorong untuk pulang dengan membawa aneka rupa gagasan yang akan diwujudkan di area aktivitas masing-masing. Warna-warni ini akan menjadikan kita kaya ragam dan memiliki banyak alternative kegiatan komunitas. Perbedaan itu indah dan rahmat. Berbeda itu biasa.

Beberapa tamu yang diundang bukan untuk mengajari hidup berkomunitas melainkan memperkaya wawasan kita.

Sejak Ibu Septi memperkenalkan CBE, banyak dari kami yang penasaran dengan konsep ini. Apa itu CBE dan apakah semua komunitas homeschooling adalah CBE? Dan banyak pertanyaan yang dilontarkan para peserta kegiatan. CBE adalah program swadaya masyarakat di dalam membantu pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dimulai dengan para keluarga mendidik anak-anaknya dengan baik, kemudian meluas pada masyarakat sekitarnya sehingga terwujud generasi yang unggul. 

Pak Dodik memberikan contoh CBE yang terjadi di Venezuela di tingkat pendidikan tinggi sebagai berikut:

Di Venezuela, sebuah revolusi sedang berlangsung dalam dunia pendidikan. Revolusi telah mengubah orientasi pendidikan: pendidikan tidak lagi untuk tujuan profit dan mencetak tenaga kerja murah, tetapi untuk mencerdaskan rakyat dan memanusiakan manusia.

Revolusi pendidikan di Venezuela telah melangkah lebih jauh lagi: metode dan konsep pendidikan pun berubah. Pendidikan tidak melulu formal dan mekanis, tetapi sekarang diselenggarakan secara demokratis, egaliter, dan terintegrasi dengan rakyat atau komunitas.

Salah satu terobosan itu adalah pembentukan sekolah dokter bernama “Medicina Integral Comunitaria” (MIC). Berbeda dengan sekolah dokter pada umumnya, MIC adalah “universitas tanpa tembok”, yang melatih kaum muda untuk menjadi dokter di komunitasnya. Sekolah ini terintegrasi pada dua misi sosial pemerintahan Chavez: program Mission Sucre (program pendidikan) dan Barrio Adentro (program klinik kesehatan komunitas).

Siswa dari MIC adalah para pemuda dari lingkungan di sekitar klinik barrio adentro. Sebagian besar mereka adalah pemuda-pemudi dari keluarga miskin. Pada pagi hari, siswa ini membantu para dokter melayani pasien, seraya mempelajari bagaimana dokter merespon kebutuhan kesehatan komunitas. Pada sore harinya, para siswa akan bertemu dengan para pengajar MIC dalam sebuah klas formal dengan kurikulum sistematis. Para dokter muda ini akan dididik paling cepat enam tahun.

Model MIC sebetulnya diambil dari pengalaman Kuba. Di Kuba, konsep ini dinamai medicina general integral (MIG). Di tahun 1980an, sebagai upaya menjembatani layanan kesehatan dengan keluarga, Kuba memulai program yang disebut “Dokter Keluarga”. Di situ, dokter tinggal kantor medis kecil, sering disebut consultorio, yang berada di tengah komunitas yang dilayaninya.

Di tahun 1990-an, Kuba berhadapan dengan tiga kontradiksi besar: kejatuhan Soviet, krisis ekonomi Kuba, dan embargo AS. Kuba pun mengalami krisis pangan, energi dan obat-obatan. Untuk mengatasi soal krisis di bidang kesehatan, Kuba dipaksa melahirkan dokter lebih banyak. Inilah yang mendasari pembentukan medicina general integral (MIG).

Di Venezuela, konsep pendidikan dokter MIC dimulai tahun 2005, dengan dukungan penuh dokter-dokter Kuba. Saat itu, para dokter Kuba diberi tanggung-jawab ganda: tidak hanya melayani pasien di klinik barrio adentro, tetapi juga mengajar sebagai tutor atau mentor di pelatihan dokter komunitas.

Tujuan utama MIC mengintegrasikan pelatihan dokter keluarga ke dalam komunitas sebagai upaya merespon kebutuhan medis seluruh rakyat, menggunakan sumber daya lokal, dan mempromosikan penjagaan kesehatan preventif.

Keunggulan dari MIC terletak pada penyatuan antara teori dan praktek. Siswa tidak hanya mendengar pemaparan dari para guru, tetapi langsung juga terlibat dalam melayani pasien dengan bantuan dokter komunitas. Dengan begitu, mereka langsung memahami langkah-langkah pengobatan dasar.

MIC melahirkan jenis dokter yang berbeda dengan dokter pada umunya. Dokter yang dilahirkan oleh MIC adalah humanis, sosialis, berkomitmen penuh melayani rakyat.