Presentasi Proyek Bersama

Presentasi Proyek Bersama

Hari Selasa lalu kami melakukan kegiatan seperti biasa di rumah Bibi Nada. Tetapi pertemuan kali ini sedikit berbeda dari pertemuan Selasa lainnya, karena anak-anak mempresentasikan hasil diskusi dan kerja sama antar partner untuk proyek pertama mereka, yeiyy, we are so excited! Anak-anak sudah mempersiapkan proyek ini dari satu minggu yang lalu seperti yang telah dibahas oleh Ayah Kiran sebelumnya. Jadi setiap anak bekerja dengan satu orang temannya untuk mencari solusi dari masalah yang selalu ada ketika bertemu setiap hari Selasa, seperti tidak mau main bergantian, memilih teman, bermain yang aman, dll. Berkat proyek perdana ini, anak-anak juga jadi tahu yang namanya Video Call menggunakan aplikasi Google Hangout, wah lucu deh melihat tingkah polah anak-anak itu ketika melihat wajah temannya di layar HP. Diskusinya 5 menit, bercandanya satu jam hahaha.

Jam 10 tepat kegiatan di mulai. Bibi Sari menawarkan diri untuk menjadi fasilitator kegiatan anak-anak kali ini. Ada yang menarik dari sesi berbagi kali ini, hampir semua anak mencoba untuk memberikan tebak-tebakan! Ya, tebak-tebakan. Seperti tebakan yang diberikan oleh Kiran, “What car that starts with letter L?” Semua orang termasuk orang tua yang mendampingi berusaha untuk menjawab. Ada yang menjawab Lexus tetapi ternyata Tetooott, salah jawabannya. “La Ferrari” jawab Ahsan. dan ternyata jawabannya benar. Tetapi namanya juga anak-anak, ada tebakan yang serius dan ada tebakan yang ngga nyambung. Tapi itu semua menambah keceriaan kami semua.

Selesai pertemuan pagi, anak-anak kami berikan waktu untuk bermain sampai waktunya makan siang. Masih mengusung konsep ala Reggio Emilio, anak-anak bermain tanpa mainan sama sekali. Kami mencoba membiarkan anak-anak untuk mengembangkan imajinasi bersama-sama dengan menggunakan keadaan di lingkungan sekitar rumah Bibi Nada.

Para orang tua pun hampir semua sedang mencoba menjalani pola makan Ketogenic, yaitu pola makan rendah karbo dan tinggi lemak. Jadi makan siang setiap selasa selalu tersedia makanan berlemak dan berkolesterol tinggi hihihi. Bibi Nadalah yang membuat kami mau mencoba pola makan ini. Tujuan pola makan ini Cuma satu: hidup lebih sehat plus bonus berat badan yang turun. Semangat teman2, semoga kita sehat selalu!! Salam lemak!!

Selesai makan siang, anak-anak bersiap untuk mempresentasikan proyek mereka masing-masing dan difasilitasi oleh Paman Simon. Presentasi dimulai dari Ahsan dan Alma yang menjelaskan bagaimana bermain yang nyaman. Ahsan dan Alma bersama-sama membuat poster dan menggambar. Setelah itu, dilanjutkan dengan presentasi dari Akhtar dan Rava. Kedua anak ini masing-masing membuat poster dan menjelaskan bermain dengan semuanya dan tidak memilih teman. Selanjutnya, Adiva dan Rendra yang mempresentasikan cara menjadi pendengar yang baik. Adiva dan Rava menggambar bersama-sama sebelum memulai menjelaskan hasil diskusi mereka. Presentasi proyek diakhiri dengan penjelasan dari Kiran dan Syifa yang menjelaskan bagaimana caranya bergiliran. Syifa dan Kiran memutuskan untuk merekam hasil diskusi mereka dengan bantuan Paman Ian supaya video mereka bisa diunggah di Youtube.

Tak lama sehabis presentasi terakhir selesai, hujan mulai turun dengan derasnya dan anak-anak pun mengakhiri presentasi perdana hari itu dengan hati gembira, karena sehabis itu mereka mandi hujaaaaaannn. Wah, raut muka mereka terlihat sangat bahagia ketika semua orang tua memberikan mereka izin untuk bermain bersama di bawah guyuran air hujan.

Pengalaman hari ini sangat berharga, anak-anak memulai Problem Based Learning perdana mereka dengan lancar. Semoga dengan dimulainya PBL ini, anak-anak akan semakin peka dalam menganalisis masalah dan semakin mudah mencari solusi atas masalah yang terjadi di sekitar mereka. Semoga ilmu yang mereka pelajari sekarang akan berguna bagi kehidupan mereka di masa depan.

YouTube Presentation Project

Beberapa waktu lalu kami sempat kewalahan karena Kiran mulai menawar untuk terus meningkatkan screen timenya. Kami memberikan waktu selama 30 menit setiap hari kepada Kiran untuk menggunakan tablet atau komputer untuk hal yang ingin dia gunakan. Biasanya Kiran menggunakan screen timenya untuk menonton YouTube. Karena pendekatan Kiran kepada kami sudah mulai dengan cara merengek meskipun telah kami ingatkan, akhirnya kami memutuskan untuk tidak memberikan screen time selama 2 hari.

Selama 2 hari itu juga kami meminta Kiran untuk memikirkan kembali mengapa kami harus tetap memberikan screen time kepadanya. Kami pun ingin menggunakan kesempatan ini sebagai proyek untuk melihat kemampuan Kiran dalam menyampaikan gagasannya secara lisan. Maka kami pun meminta Kiran untuk membuat sebuah presentasi untuk apa Kiran akan menggunakan screen timenya.

Setelah berdiskusi bersama bundanya, Kiran pun membuat sebuah gambar untuk membantu presentasinya. Hal-hal apa saja yang ingin dia tonton ketika menonton YouTube. Berikut ini presentasi Kiran mengenai Proyek Presentasi YouTube.

Proyek Kolaborasi Pertama

Proyek Kolaborasi Pertama

Berawal dari obrolan seru dikelilingi makanan tiba-tiba menyerempet pada hal yang lebih serius, proyek untuk anak-anak. Diskusi pun terjadi dengan cukup serius, mulai dari model proyek, tema proyek dan hal-hal lainnya mengenai proyek yang sebetulnya belum bisa kami bayangkan pada saat itu. Ide-ide pun keluar satu persatu dari setiap orangtua dan akhirnya kami bersepakat untuk memulai dari sesuatu yang kecil dahulu yang sering terjadi ketika kami semua berkumpul.

Seminggu kemudian kami pun mulai mengajak anak-anak untuk berdiskusi mengenai masalah yang sering terjadi setiap kali berkegiatan dan mencari solusinya bersama. Berikut ini hasil diskusi orangtua bersama anak-anak mengenai masalah yang sering terjadi ketika berkegiatan bersama. Mengingat jumlah anak yang hadir adalah 9 orang, kami membuat kelompok yang terdiri dari 2 anak untuk mendiskusikan setiap masalah yang ada. Penentuan kelompok dan masalah yang akan dibahas dilakukan dengan cara pengundian.

  • Alma dan Ahsan

Membahas cara bermain yang nyaman untuk mengatasi teman yang usil atau iseng yang mengakibatkan temannya merasa tidak nyaman dan terganggu.

  • Rava dan Akhtar

Membahas cara bermain bersama tanpa meninggalkan temannya yang lain. Usia snak-anak kami bervariasi mulai dari 3 sampai 10 tahun dan anak yang paling kecil biasanya jarang sekali diajak bermain dan cenderung dikucilkan oleh anak-anak yang lebih besar.

  • Kiran, Shawqi dan Syifa

Membahas cara bermain bergiliran. Masalah ini seringkali terjadi ketika anak-anak berebut sesuatu dan tidak ada yang mau mengalah, misalnya bermain ayunan.

  • Rendra dan Adiva

Membahas cara mendengarkan ketika ada orang yang sedang berbicara. Setiap berkegiatan, kami mengadakan pertemuan pagi di mana anak-anak bisa bercerita tentang hal berkesan yang mereka lakukan seminggu sebelumnya. Namun anak-anak belum bisa mengontrol dirinya dengan baik karena seringkali mereka sibuk berbicara satu sama lain ketika ada temannya yang sedang berbicara di depan mereka.

Setiap kelompok anak di atas diberikan waktu selama satu minggu untuk berdiskusi jarak jauh menggunakan aplikasi Google Hangouts untuk mencari solusi dari setiap masalah dan mempresentasikannya di depan teman-temannya. Kiran sudah terbiasa menggunakan aplikasi ini bersama saya untuk menghubungi saya di malam hari ketika saya harus kerja larut dan Kiran ingin mengucapkan selamat malam kepada saya.

Lain cerita untuk teman-temannya yang lain. Ini adalah pengalaman pertama kali mereka menggunakan aplikasi Google Hangouts dan ternyata menjadi momen yang sangat berharga bagi tiap keluarga melihat tingkah anaknya masing-masing ketika melakukan video call dengan temannya. Mulai dari yang bingung, bengong, teriak-teriak,  sampai yang jingkrak-jingkrakan.

Ternyata melakukan video call ini menjadi kegiatan rutin beberapa anak untuk menyapa teman-temannya. Sungguh terasa manfaat teknologi yang semakin membantu dari hari ke hari. Kita bisa melakukan apa saja di mana saja hanya dengan sebuah ponsel pintar murah dan koneksi internet.

Bagaimana hasil diskusi anak-anak? Saya pun penasaran melihat hasilnya.

Blog atau Vlog

Vlogging adalah suatu bentuk kegiatan untuk mendokumentasikan kejadian atau peristiwa dengan bantuan alat perekam video. Alat perekam yang digunakan pun bervariasi, mulai dari ponsel pintar, kamera saku, sampai kamera profesional. Vlogging mengutamakan kekuatan visual sedangkan blogging lebih mengutamakan kekuatan tulisan.

Keduanya adalah alat yang sangat bermanfaat untuk dijadikan media portfolio pribadi atau keluarga. Terdapat kelebihan dan kekurangan pada keduanya. Setelah mengerjakan blog dan vlog, saya dapat membuat perbandingan (sementara) dari keduanya (versi saya):

BLOG

Kelebihan
  • Dapat diedit setelah ditayangkan
  • Tidak memerlukan peralatan canggih
  • Bisa menyematkan tautan tanpa mengganggu isi bacaan
  • Bisa melatih kemampuan menulis dan menemukan gaya menulis sendiri
Kekurangan
  • Menunda kegiatan menulis sehingga akhirnya terlupakan dan tidak dikerjakan
  • Kesulitan mengekspresikan gagasan melalui tulisan
  • Merasa kurang ketika isi tulisan sedikit
  • Bingung mengambil tema cerita

VLOG

Kelebihan
  • Kegiatan bisa langsung dilakukan (lebih spontan)
  • Video lebih menarik perhatian dibandingkan tulisan
  • Video yang konyol cenderung lebih banyak penontonnya (contoh: PPAP, Gangnam Style, dll)
  • Penonton bisa merasakan emosi yang ingin kita sampaikan
  • Isi video lebih penting daripada mutu rekaman video
  • Durasi video bisa singkat atau panjang
  • Data video mentah bisa dihapus setelah vlog selesai dan mengurangi beban penyimpanan di ponsel atau kamera
Kekurangan
  • Memerlukan peralatan canggih, setidaknya ponsel pintar
  • Memerlukan perangkat lunak untuk mengedit video
  • Memerlukan perangkat lunak pengubah format video
  • Memerlukan jaringan internet yang cepat untuk proses mengunggah video
  • Rekaman video tidak bisa diubah setelah tayang.

Begitulah perbandingan yang bisa saya berikan mengenai blog dan vlog. Kira-kira mana yang lebih cocok untuk Anda?

Bagaimana cara memperlakukan anak?

Sudah agak lama saya ingin sekali menuangkan pikiran mengenai satu hal ini. Bagaimana cara kita sebenarnya harus memperlakukan anak? Bagaimana cara menyikapi tingkah laku anak yang kadang menyebalkan, menguras kesabaran, dan mengganggu apa yang sedang kita kerjakan?

Sebagian besar dari kita secara tidak sadar mungkin akan menerapkan cara yang sama seperti kita diperlakukan dulu waktu kecil. Dalam hal ini cara orangtua mendidik sangat berperan untuk membentuk perilaku kita. Tentu saja semua itu sangat dipengaruhi oleh kultur dan budaya, agama, tradisi, dan kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga. 

Misalnya, dulu untuk saya hukuman fisik itu tidak terasa sebagai siksaan. Saya dan adik saya cukup banyak dapat hukuman secara fisik dari orangtua kami. Papi menghukum kami dengan mengunci di dalam kamar gelap, gudang, atau kamar mandi. Mami menghukum dengan pukulan. Kadang menggunakan tangan, kadang gagang kemoceng. Tapi entah kenapa saya tidak pernah merasa tersiksa… Kami tidak tumbuh dewasa dengan membenci orangtua kami karena memperlakukan kami demikian.

Di keluarga yang lain mungkin tidak pernah ada hukuman fisik. Bisa berupa tugas tambahan yang harus dikerjakan, atau bahkan peringatan saja. Mungkin juga ada orangtua yang melakukan pembiaran pada anak-anaknya yang bandel. Tidak mau diatur. Mereka membiarkan anak-anak belajar dari pengalamannya sendiri. 

Ada juga orangtua yang menerapkan ajaran Nabi Muhammad dalam mendidik anaknya. Saat anak berumur 0-7 tahun perlakukan dia seperti raja. Berikan apa yang dia inginkan. Saat anak berumur 7-14 tahun perlakukan dia seperti tawanan.  Batasi dengan aturan dan tanggungjawab. Setelah anak berumur lebih dari 14 tahun perlakukan dia seperti sahabat. Tentu saja penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi anak dan keluarga masing-masing. 

Tidak ada satu cara yang sempurna dan paling benar untuk diterapkan ke semua anak. Seperti yang sudah disebutkan tadi, semua tergantung dari kultur, cara berpikir, dan kebiasaan dalam keluarga masing-masing.

Lalu, seperti apa perlakuan yang ideal yang bisa dipakai sebagai panduan untuk memperlakukan anak kita? Mungkin sebelum menjawab itu kita harus bertanya pada diri sendiri apa sih arti anak untuk kita?

Menurut saya kedewasaan seseorang seharusnya tumbuh bersama anaknya. Anak kita akan mengajarkan banyak sekali, kalau kita mengijinkannya dan mau membuka pikiran untuk semua kemungkinan. Kita akan belajar pengendalian emosi, belajar manajemen waktu, belajar bangun pagi, belajar mengatasi konflik, belajar bernegosiasi, belajar psikologi anak, belajar mendengarkan, bahkan belajar memasak (walaupun cuma masak bubur ?).

Seperti yang disebutkan bibi Nada Arini, “Terima kasih telah menjadi ladang belajar untuk ibu, nak…” Anak kita sebetulnya adalah guru yang sangat hebat. Lalu bagaimana seharusnya kita memperlakukan “guru” kecil kita ini?

Meski terkadang timbul masa-masa melelahkan, menyebalkan, menjengkelkan, tapi saya yakin pasti jauh lebih banyak masa-masa menyenangkan bersama anak kita, kan? Cara yang paling sederhana adalah ingat saja selalu momen yang menyenangkan itu dan lupakanlah saat yang tidak menyenangkan. 

Ada satu cara pikir yang saya amini. Suatu saat nanti kita akan menjadi tua dan tak berdaya. Persis seperti anak kecil. Makin tua makin mirip dengan anak kecil, balita, bahkan bayi. Saat kita sudah terlalu lemah untuk berjalan sendiri, harus dituntun seperti dulu kita belajar berjalan sewaktu bayi. Saat itu pun mungkin tingkah laku kita seperti anak kecil. Dan mungkin menyebalkan bagi anak kita yang sudah dewasa, dengan banyak kesibukannya. Maka keadaan akan berbalik. Saat itu bagaimana kita ingin diperlakukan oleh anak kita? Coba jawablah sejujurnya.

Maka perlakukanlah anak seperti kita ingin diperlakukan olehnya di masa depan. Sesederhana itu. Dengarkan, sayangi, perhatikan, lindungi, maafkan.

Hargai lah “guru-guru kecil” pengajar kehidupan, karena melalui mereka Tuhan kerap berbicara…

Belajar Menyablon Kaos

Kegiatan kali ini kami bertandang ke rumah Bibi Sari dan Paman Samli. Kami ke rumah Bibi Sari untuk menyablon kaos untuk “seragam Belajar Bersama” dan di sana peralatannya lengkap. Alat-alat-alat yang dibutuhkan untuk menyablon kaos adalah cat acrylic, busa, stensil gambar atau tulisan yang akan disablon, dan alas karton.  Kaosnya sendiri bertuliskan Belajar Bersama, nama masing-masing anak serta cap tangan masing-masing anak. Tentunya sudah ada yang berkeinginan untuk melukiskan yang lain pada kaosnya.

Pertama-tama, kami membuat stensilnya  dulu. Bibi Sari punya printer yang keren sekali.  Biasanya printer dapat mencetak/menggambar, printer ini dapat memotong. Membuat pekerjaan kami  jadi lebih mudah. Hanya saja karena setiap kaos memiliki nama berbeda-beda, pembuatan polanya tetap memakan waktu. Stensil  dibuat dengan menggunakan freezer paper, yang sebetulnya diperuntukkan untuk membungkus daging ketika akan dibekukan. Kertas khusus untuk membuat stensil sangatlah mahal, maka freezer paper ini dapat dijadikan alternatif. Setelah stensil terpotong maka stensil perlu ditempelkan ke kaos dengan cara disetrika. Ketika dipanaskan, stensil menempel dengan rapi ke kaos. Setiap stensil dapat dipergunakan ulang sampai 5 kali.

Setelah  semua stensil tertempel, waktu makan siang pun tiba.  Wah . . . harus mengisi  bensin  dulu nih. Perut rasanya lapar sekali. Seperti biasanya makanan begitu banyak. Langsung dengan lahap kami menyantap semua makanan. Tandas!

Setelah makan siang selesai, kami pun mulai menyablon.  Anak-anak duduk berderet menggunakan celemek. Kaos yang sudah ditempel stensil diberi alas karton ditengah-tengahnya agar cat acrylic tidak meresap kebawah. Kemudian cat acrylic pun dibagikan. Langkah selanjutnya busa ditempelkan ke cat lalu ditepuk-tepukan ke kaos sampai semua stensil tertutup warna dengan rapat. Sebaiknya busa tidak diusapkan karena stensil dapat terangkat.

Terbayangkankan hebohnya. Setiap anak tidak sabar ingin mewarnai kaosnya dengan warna pilihan masing-masing. Saking semangatnya begitu menerima busa, langsung menempelkan ke kaos diluar stensilan hihihi. ternyata cat crylic cepat kering lho. Jadi mengerjakannya harus cukup cekatan. Untuk cap tangan, busa yang sudah beri cat ditepuk-tepukkan ke telapak tangan. Setelah warna rata, tempelkan telapak tangan ke kaos dengan cukup kuat. Jadi deh.

Untuk yang ingin menggambar bebas langsung dikaos, ternyata cukup sulit dilakukan. Cat acrylic cepat kering dan bahan kaospun dengan cepat menyerap catnya sehingga usapan cat tidak seperti ketika di atas kanvas. Sepertinya cara yang paling mudah memang membuat stensilan lalu menepuk-nepuk warna satu persatu.  Ketika semua stensilan selesai diwarnai, stensilan dapat langsung dilepas, lalu hasil sablonan di press panas agar benar-benar kering dan meresap ke kaos. Setrika dapat  juga digunakan  untuk tahap ini.

Selesaaaai… 

Anak-anak langsung ingin menggunakan hasil karyanya. Mereka pun lalu foto bersama menggunakan hasil karya mereka. Wah . . . seru sekali hari ini. Terima kasih Bibi Sari dan Paman Samli.