Berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa

Berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa

Setelah sebelumnya berkeliling di sekitar Semarang, sudah saatnya kami bersiap-siap pergi ke Salatiga untuk menghadiri kegiatan KAMTASIA. Karena kegiatan tersebut dimulai pada pukul satu siang dan waktu tempuh dari Museum Kereta Api Ambarawa ke lokasi kegiatan KAMTASIA hanya 20 menit kami pun menyempatkan diri mampir ke Museum Kereta Api Ambarawa yang dapat kami tempuh dalam waktu 40 menit dari tempat kami menginap.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 ketika kami tiba di sana dan kami langsung membeli tiket masuk museum seharga lima ribu rupiah per orang. Ketika memasuki area museum, kami melihat sejarah perkeretaapian yang terpampang di dinding museum (tulisan tentang sejarah kereta api akand ditulis terpisah karena panjang). Kami melihat koleksi kereta api uap dan kereta api diesel yang kondisinya terawat dengan baik. Kondisi museum pun terlihat terawat dan hampir tidak ada sampah di sekitar museum sehingga membuat kami merasa nyaman berlama-lama di sana. Sayangnya, kami tidak dapat kesempatan menaiki kereta api wisata karena kereta api wisata hanya beroperasi pada hari Minggu dengan 3 jadwal keberangkatan, pukul sepuluh pagi, pukul dua belas siang dan pukul dua siang.

Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum. Di museum ini terdapat peninggalan kereta api uap bergerigi yang sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. 

Anak-anak pun mulai mengeksplorasi museum dan mengamati setiap kereta yang dipajang. Dua jam kemudian, anak-anak masih asyik berkeliling di museum. Terlihat Kiran, Syifa dan Shawqi sangat menikmati waktu mereka di tempat museum. Kadang-kadang mereka pun merasa terganggu ketika kami mengajak mereka untuk berfoto bersama. 

Ketika saya memisahkan diri dari rombongan untuk beristirahat di pintu keluar. Nuni memanggil saya dan mengatakan bahwa Kiran tercebur ke dalam bak cuci kereta api. Ternyata karena sedang tidak fokus Kiran tidak sadar bahwa dia menginjak bak cuci yang dia kira adalah jalan. Untung saja Kiran bisa berenang karena baknya ternyata cukup dalam. Sebuah pengalaman yang membuat semua orang deg-degan. 

Setelah selesai mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa, kami pun segera meluncur ke Kampoeng Java di Salatiga untuk mengikuti kegiatan KAMTASIA.

Nantikan cerita selanjutnya tentang KAMTASIA  . . .

Berkunjung ke Semarang

Berkunjung ke Semarang

Untuk pertama kalinya kami bertiga melakukan perjalanan yang cukup lama selama 10 hari. Perjalanan ini pun kami jadikan sebagai perayaan Nuni yang sudah menjadi ibu rumah tangga selama satu bulan ini. Tujuan utama dari perjalanan ini adalah menghadiri acara KAMTASIA (Kampung Komunitas Indonesia) yang diselengarakan di Salatiga selama 3 hari 2 malam. Karena perjalanan yang kami tempuh cukup jauh, kami pun merencanakan untuk mampir ke Semarang dan mengunjungi beberapa tempat di sana. Kemudian sepulangnya dari Salatiga kami berkunjung ke Cicalengka untuk merayakan ulang tahun kakek Kiran sekaligus menunjukkan perayaan kemerdekaan di sana kepada Kiran.

Selepas itu, saya harus mengunjungi beberapa tempat di Bandung kota dan daerah Lembang untuk keperluan pekerjaan. Jadi sekalian saja kami rencanakan sebagai liburan panjang untuk kami bertiga; belajar, bermain dan bekerja. Semenjak Nuni berhenti bekerja, kami semakin menikmati kehidupan keluarga kami. Setiap hari kami berdiskusi dan belajar untuk menyelaraskan kehidupan keluarga kami. Satu hal yang kami rasakan dan sangat kami nikmati bersama, tidak ada lagi perasaan terpisah antara bekerja, berumah tangga dan menjalani pendidikan rumah Kiran. Semakin lama semuanya menjadi sebuah kesatuan. Perjalanan panjang ini contohnya, tidak mungkin kami lakukan jika Nuni masih dalam keadaan bekerja.

Mengingat perjalanan yang cukup panjang, saya akan membagikan cerita perjalanan kami dalam beberapa bagian.

HARI PERTAMA  (JAKARTA-SEMARANG)

Kami berangkat pada Kamis malam bersama keluarga Mas Samli (Samli, Sari, Shawqi, dan Syifa) yang tinggal di Tangerang Selatan. Setelah beberapa hari sebelumnya kami berkomunikasi via Whatsapp kami bersepakat untuk bertemu di tempat istirahat yang berlokasi di kilometer 42. Kami pun berangkat pukul 10 malam dari rumah dan tiba di tempat istirahat pukul 11.30. Setelah menunggu Mas Samli dan keluarganya selama setengah jam karena sebelumnya mendapat kabar sedang terjebak di daerah Cilandak, saya pun mencoba menghubungi Mbak Sari dan ternyata mereka sudah melewati kami tempat kami. Rupanya ada kesalahan karena tempat istirahat yang dimaksud berlokasi di kilometer 39 bukan 42. Akhirnya kami pun bertemu di tempat istirahat selanjutnya di kilometer 57 dan berkendara bersama menuju Semarang. Berikut ini timelapse perjalanan kami dari Jakarta ke Semarang:

Kelenteng Sam Poo Kong

Kelenteng Gedung Batu Sam Poo Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”. (sumber: wikipedia)

Sembilan jam kemudian kami pun tiba di Semarang pada hari Jumat pagi dan segera mengunjungi tempat pertama yang ingin kami kunjungi bersama, Kelenteng Sam Poo Kong. Ketika kami tiba, tempat parkir sudah mulai terisi mobil dan bus menunjukkan jumlah pengunjung yang meningkat selama kami berada di sana. Kami tidak melakukan penelusuran informasi mengenai tempat ini sebelumnya karena ingin menjadikan kegiatan ini sealami mungkin bagi Kiran dengan harapan banyak pertanyaan yang akan muncul darinya ketika tiba di sana. Rupanya Kiran dan Shawqi hanya tertarik dengan ular sanca yang berada di kandang, katak yang sedang berenang di parit dan seekor tikus yang kelelahan akibat terjebak di dalam parit daripada kemegahan bangunan Klenteng Sam Poo Kong. Setelah kami mencoba memancing mereka pun dengan mengajukan pertanyaan pancingan yang berkaitan dengan klenteng dan patung-patung besar di sekitarnya, perhatian mereka berdua masih tetap terpusat di ketiga hal di atas, ya sudahlah. Berbeda dengan Syifa yang sudah berusia 10 tahun menunjukkan pengamatan terhadap sekelilingnya dan mengajukan beberapa pertanyaan terhadap hal-hal yang membuatnya penasaran.

Terdapat 2 tempat penjualan tiket yang berbeda, yang pertama menjual tiket masuk area luar klenteng Rp 5.000 dan tempat penjualan tiket yang kedua menjual tiket untuk memasuki kelenteng sebesar Rp 30.000. Kami hanya membeli tiket untuk area luar kelenteng karena kami tiket yang dijual untuk memasuki kelenteng pun ternyata akses yang diberikan sangat terbatas dan kami hanya bisa melihat dari luar kelenteng (sama saja dengan melihat dari area luar kelenteng hanya saja jaraknya beberapa meter lebih dekat). Jujur saja kami agak bingung dengan konsep penjualan tiket yang ditawarkan. Tapi ya begitulah adanya.

Dari area luar kelenteng kami dapat menikmati keindahan arsitektur bangunannya yang megah dan tempatnya yang bersih terawat. Ada sebuah patung besar Laksamana Cheng He sebagai simbol bahwa beliau pernah dating ke Semarang dan sempat tinggal di sana. Bagi yang tertarik mendatangi tempat ini, lebih baik untuk berkunjung di pagi hari atau di sore hari untuk menghindari teriknya sengatan matahari. Tempat ini ramah anak karena areanya yang luas sehingga anak-anak dapat bergerak bebas ke sana sini.

Selepas itu, kami melanjutkan perjalanan ke Mesjid Agung Jawa Tengah, yang katanya adalah masjid kebanggaan warga Jawa Tengah. Dengan penuh harapan kami mendatangi tempat ini karena sempat melakukan penelusuran melalui mesin pencari Google dan foto-foto yang muncul di dalam hasil penelusuran sangat menarik. Begitu tiba di sana, kami merasa kecewa, karena mesjid kebanggaan masyarakat Jawa Tengah ini tidak seperti yang kami harapkan. Kondisi yang paling memprihatinkan adalah sampah yang berserakan di sekitar masjid. Terlihat banyak pengunjung yang berpotret di sekitar mesjid.

Berdasarkan keterangan Mbak Sari yang tiba lebih awal di sana (karena kami sempat terpisah dan tersasar) coretan di dinding masjid pun terlihat mengotori keindahan masjid ini. Bangunan nan megah pun tidak terasa nyaman karena kondisinya yang tidak terawat. Langit-langit yang kotor seolah tidak pernah dibersihkan sejak pertama kali dibangun. Karena tidak banyak hal yang bisa kami nikmati di sana, kami pun tidak berlama-lama di sana dan segera meninggalkan tempat tersebut selepas menunaikan solat Jumat.

Selanjutnya kami berencana mengunjungi Lawang Sewu. Tetapi, karena perjalanan panjang yang kami lakukan dari Jakarta dan belum sempat istirahat, akhirnya kunjungan ke Lawang Sewu pun kami batalkan dan segera meluncur ke penginapan kami di Djajanti House. Rencananya kami beristirahat sejenak dan mengunjungi Lawang Sewu di sore hari kemudian berwisata kuliner pada malam hari. Setelah berkeliling mencari Djajanti House karena lokasi di Google Maps yang salah, tibalah kami di sana pada pukul dua sore. Karena anak-anak masih bersemangat untuk bermain, kami pun menyempatkan diri untuk bermain menemani mereka meskipun badan sudah sangat kelelahan. Setelah kami puas bermain, saya sangat kelelahan karena belum tidur sejak Kamis malam. Akhirnya saya mandi dan beristirahat untuk menyegarkan diri. Rupanya saya tertidur pulas dan bangun tidur keesokan paginya sehingga rencana mengunjungi Lawang Sewu dan wisata kuliner pun tidak jadi kami lakukan. Mbak Sari dan keluarga sempat mencoba membangungkan kami pada malam hari untuk berwisata kuliner, tetapi Nuni dan Kiran pun ternyata terlelap dengan nyenyak sehingga mereka berwisata kuliner tanpa kami.

Saya sangat merekomendasikan Djajanti House sebagai tempat istirahat di Semarang. Tempat ini menyewakan 8 kamar dengan 2 jenis pilihan kamar dengan harga Rp 300.000 (sudah termasuk sarapan untuk dua orang) dan Rp 350.000 per malamnya (sudah termasuk sarapan untuk tiga orang). Selain harganya yang bersahabat, tempat ini unik, nyaman dan tenang. Berikut ini kondisi Djajanti House pada saat kami berkunjung:

Nantikan lanjutan cerita perjalanan kami berikutnya di Museum Kereta Api Ambarawa dan Kemah KAMTASIA . . .

Ruang dan Waktu untuk Minat Alma.

Ruang dan Waktu untuk Minat Alma.

It doesn’t matter that her cutting isn’t straight.
It doesn’t matter that she tape it with black tape and need to used the longest tape to bind a tiny piece of paper.
It doesn’t matter that she only draw the necklace on one side.
It doesn’t matter…

What matter is she have an idea and not afraid to make it happen. The skill will follow eventually.

Dulu ketika Alma saya ajak membuat sesuatu, seringnya ditolak atau setengah jalan berhenti. Reaksi tersebut saya artikan sebagai ketidaktertarikan kepada art & craft. Dibelikan buku mewarnai, buku gambar, spidol, crayon juga jarang disentuh. Kalau digunakan, malah digunakan untuk menggambar badannya atau dipatah-patah.

Namun setelah baca sana-sini, agaknya saya tahu dimana kesalahan saya. Bukan Alma tidak suka art & craft tapi mungkin belum suka. Mungkin kegiatan sebelumnya saya memberikan terlalu banyak komando.

“Pegang gunting begini Alma.”

“Guntingnya dekat garis Alma.”

“Lemnya jangan banyak-banyak Alma.”

“Kalau buat gunting-gunting saja, pakai kertas bekas Alma.”

“Gambarnya jangan di kertas baru lagi, kertas tadi masih ada sisa.” Dan masih banyak lagi.

Bagaimana kegiatan itu akan terasa menyenangkan kalau wejangannya seabrek-abrek. Keinginan saya membantu dan membimbing Alma malah jadi bumerang.

Akhirnya, semua barang art & craft saya turunkan sehingga Alma bisa raih. Awal-awal dia suka bikin salju. Kertas disobek atau gunting kecil-kecil lalu ditebarkan ke atas kemudian jatuh ke lantai. Dulu saya suka ngomel karena ini yang Alma sering lakukan kalau ketemu kertas dan gunting. Kegiatan yang saya maknai hanya buang-buang kertas, tidak ada hasilnya selain sampah kertas. Tapi kali ini saya berusaha melihat dari sisi Alma. Dia sedang berkarya. Dia sedang mencoba. Nikmati saja.

Setelah saya melatih diri untuk menahan tidak memberi wejangan, kesukaan Alma terhadap art & craft meningkat pesat. Hampir semua karya Alma dilakukan mandiri dan semua atas inisiatifnya sendiri.

Menggunting masih belok-belok, begitu juga menarik garis. Masih suka menggunakan lem berlebihan dan kertas banyak yang terbuang. Tapi apakah semua itu lebih penting daripada memupuk minatnya? Kalau anak sudah minat, dia akan mengerjakannya dengan suka cita dan berulang-ulang. Dengan pengulangan inilah dia bisa melatih skill-skill yang diperlukan sesuai dengan kesiapannya. Anak sesungguhnya adalah pembelajar sejati. Berilah mereka ruang dan waktu untuk menemukan dirinya dan minatnya.

Membuat Es Krim Goyang

Membuat Es Krim Goyang

Minggu ini kami belajar bersama hari Senin karena satu dan lain hal. Tapi tidak ada istilah I Don’t Like Monday pada kamus kami, jam setengah tujuh kami semua meluncur ke Jagakarsa untuk memulai hari bersama keluarga lainnya.  Walaupun  hujan plus macet, tetap tidak menyurutkan semangat kami untuk beraktifitas bersama, apalagi Sifu Simon dari pagi sudah menanyakan waktu keberangkatan kami. Seperti Minggu lalu, berlatih Kungfu akan menjadi agenda tetap kami para orang tua yang ‘mager’ (malas gerak). Gurunya saja semangat begitu, kami juga ikutan semangat deh. Latihan Senin ini formasinya lengkap, Bibi Anita sudah sehat, yeeiiy, jadi ada teman senasib sependeritaan deh hihihi.

Lalu, kalau semua orangtua berolah raga, anak-anak ikutan jugakah? Ya jelas ngga dong. Mereka sibuk melepas rindu setelah seminggu tak bertemu. Sudah beberapa minggu ini Bibi Nada tidak mengeluarkan mainan milik Alma ketika anak-anak berkunjung. Justru dengan tidak adanya mainan, mereka jadi lebih dekat satu sama lain. Anak-anak menjadi lebih imaginative ketika bermain, misalnya mereka membuat rumah-rumahan dari kain dan bangku, pesawat dari lemari, bahkan main sekolah-sekolahan. Hmm, kayaknya mainan-mainan di rumah juga harus disingkirkan nih.

Kiran dan Ahsan juga sudah mengganti pesawat milik Alma yang rusak minggu lalu. Setelah satu minggu kedua anak laki-laki tersebut mengumpulkan uang, akhirnya terbeli juga pesawat yang persis sama. Alma pun senang menerima pesawat pengganti yang diberikan oleh Kiran dan Ahsan. Semoga dengan kejadian ini anak-anak belajar untuk saling menghargai dan menghormati barang milik orang lain.

Selesai berolahraga, kami menyantap cireng dan pepaya sebagai menu sarapan bersama. Kami pun memulai kegiatan bersama anak-anak dengan melakukan pertemuan pagi. Pada kegiatan ini, anak-anak diminta untuk berbagi cerita. Mereka bebas menceritakan tentang apa saja yang mereka mau. Ketika bercerita, anak-anak belajar banyak hal, seperti belajar berbicara di depan orang banyak, belajar merangkai kalimat, belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan, dan belajar mendengarkan ketika ada yang berbicara. Kali ini, semua anak mau berbagi cerita, mulai dari mobil yang bisa berubah menjadi robot sampai boneka Barbie. Setelah itu anak-anak menari lagu Tooty Ta bersama. Wah, seru deh.

Setelah itu, project pun dimulai. Mau membuat apa hari ini? Project minggu ini, anak-anak membuat es krim dengan cara tradisional yaitu menggunakan garam dan es batu. Loh kok garam? Asin dong? Ngga dong, garam dan es batu di sini adalah sebagai media pendingin dari minuman atau cairan yang akan dibekukan. Jadi garam berfungsi sebagai penurun suhu es batu sehingga suhu disekitarnya cukup dingin untuk membekukan susu. Jika tidak ditaburkan garam, suhu es batu tidak akan cukup dingin untuk membekukan susu menjadi es krim. Cara membekukannya juga mudah, cukup digoyang atau dikocok saja selama beberapa saat lalu es krim siap dinikmati. Sluurrpp, enaaakkk.

Berikut adalah bahan dan peralatan yang kami gunakan untuk membuat es krim goyang:

  • 2 Plastic Ziplock ukuran besar
  • Es batu (dihancurkan sampai menjadi bongkahan kecil)
  • 1 mangkok besar
  • Garam
  • Handuk atau sarung tangan (untuk melindungi telapak tangan kedingingan ketika mengocok es)
  • Susu cair (rasa sesuai selera)
  • Bahan taburan es krim (meises, susu kental, keju parut, dan sebagainya)

Cara membuat:

  • Masukkan bongkahan es batu yang sudah dihancurkan ke dalam mangkok besar dan taburi garam.
  • Masukkan es ke dalam plastic Ziplock 1
  • Tuang susu cair ke dalam plastic Ziplock 2, tutup rapat
  • Masukkan plastic Ziplock 2 yang berisi susu ke dalam plastic Ziplock 1
  • Tutup rapat plastic Ziplock 1 kemudian kocok atau goyangkan ziplock tersebut selama 10 sampai 15 menit atau sampai susu menjadi solid. (Jangan lupa untuk menggunakan handuk atau sarung tangan supaya tangan tidak kedinginan)
  • Pindahkan es yang sudah membeku ke wadah. Berikan taburan kesukaanmu.

Nah, minggu depan kira-kira kami akan berkegiatan apa ya? Tunggu postingan berikutnya.

“Children make their own paths into the unknown, paths we would never think of making for them”

-John Holt-

Foosball dari Kotak Sereal

Foosball dari Kotak Sereal

Kemarin saya sempat membagikan cuplikan video permainan cereal box tabletop foosball game (panjang ya namanya). Cara membuat permainan ini sempat saya tonton di dalam salah satu koleksi video dari grup Facebook yang saya ikuti, 5-Minutes Craft. Ya, sesuai dengan namanya, semua kegiatan yang dibagikan di grup tersebut bisa dilakukan dalam waktu 5 menit (jika bahan-bahan sudah tersedia).

Salah satu video yang saya sempat simpan  di dalam daftar penyimpanan Facebook saya beberapa waktu lalu adalah cara membuat Shoe Box Table Football.

Ketika saya bangun tidur kemarin, saya melihat Kiran sedang memegang kotak sereal Co*****nch di dapur sambil menemani bundanya memasak. Tiba-tiba saya teringat video yang pernah saya lihat di 5-Minutes Craft. Setelah mengecek ke dapur, bahan-bahan yang diperlukan pun sudah tersedia, akhirnya kami langsung mengeksekusinya bersama-sama.

Sangat mudah dan singkat untuk membuatnya. Karena kegiatan ini bersifat spontan, hasilnya tidak seindah contohnya (sayang, kami juga tidak sempat mendokumentasikan proses pembuatannya). Meskipun hasil akhirnya tidak sebagus contohnya, tetapi tidak menghilangkan keseruan yang terjadi ketika memainkannya. Permainan yang sangat sederhana tetapi sangat menyenangkan untuk dimainkan sekaligus memupuk kedekatan antara orangtua dan anak.

Untuk peralatan, bahan-bahan dan cara membuatnya bisa melihat sumber asli video tutorialnya, silakan ketuk di sini, hasilnya jauh lebih baik daripada yang kami buat. Silakan kreasikan sesuka hati bersama ananda tersayang.

Selamat bermain bersama keluarga tercinta 🙂

Apology of Action

Apology of Action

Selamat sore semuanya, apa kabar hari ini? Semoga kita semua sehat-sehat selalu ya. Saya sedang berada di atap Mall Kota Kasablanka, menemani Kiran berenang. Di kejauhan saya melihat dua orang anak laki-laki mengambil kacamata renang seorang anak perempuan, adik salah satu anak laki-laki sepertinya. Si anak perempuan itu menangis dan kedua anak laki-laki itu dimarahi oleh seorang perempuan. Saya jadi ingat kejadian Selasa lalu di rumah bibi Nada.

Waktu itu terjadi insiden yang melibatkan duo sahabat Kiran dan Ahsan ketika sedang berkegiatan di rumah Alma. Insiden tersebut mengakibatkan hancurnya mainan pesawat milik Alma dan Maji sampai berkeping-keping. Memang apa yang dua anak ini lakukan? Jadi sepertinya mereka ingin mengetahui hubungan antara barbel 1 kilo, pesawat replika plastik besar dan gaya gravitasi bumi. Mereka menjatuhkan barbel 1 kilo itu ke atas pesawat plastik Alma. Hasilnya sudah bisa ditebak, hancur minaahh itu pesawat.

Apology of Action

Korban

Mengetahui pesawatnya hancur, Ahsan dan Kiran meminta maaf kepada Alma. Tapi apa gunanya polisi kalau masalah bisa selesai hanya dengan meminta maaf? Meskipun Alma memaafkan Kiran dan Ahsan, tetap ada konsekuensi yang harus mereka lakukan. Mereka harus mengganti pesawat mainan Alma yang rusak. Kalau di ilmu keguruan yang saya pernah pelajari, konsekuensi yang Kiran dan Ahsan harus jalani ini disebut Apology of Action, yaitu permintaan maaf yang diiringi oleh tindakan nyata sebagai rasa tanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. You break it, you fix it, istilahnya begitu. Kamu merusakkan mainan aku, kamu harus perbaiki. Tidak bisa diperbaiki? Ganti dengan yang baru. Jadi dengan konsekuensi logis seperti ini, diharapkan anak akan belajar dari perbuatan mereka sehingga di kemudian hari tidak melakukannya lagi. Ada 3 jenis konsekuensi logis yang bisa diterapkan kepada anak-anak, nanti akan saya bahas ditulisan selanjutnya.

Jadi apa konsekuensi logis yang Kiran dan Ahsan lakukan? Berdasarkan diskusi antara Kiran dan Ahsan yang didampingi oleh kedua orang tua, mereka sepakat akan mengumpulkan uang untuk mengganti pesawat Alma. Harga pesawat tersebut menurut Bibi Nada sekitar 80 ribu, jadi Kiran dan Ahsan akan patungan masing-masing 40 ribu dan akan membeli pesawat tersebut bersama-sama. Di rumah, Kiran dan Ahsan berdiskusi dengan orang tua masing-masing tentang bagaimana cara mengumpulkan uang.

Pada hari Rabu, saya berdiskusi dengan Kiran, bagaimana caranya mengumpulkan uang. Awalnya Kiran mau membuat kartu dan menjualnya ke om dan tantenya, tapi karena anaknya ogah nulis banyak, ide itu dicoret. Ide selanjutnya Kiran mau menjual beberapa mainannya, tapi karena galau tak berkesudahan, coret lagi hehe. Sampai akhirnya tersebut ide membuat kue. Kebetulan setiap hari Jumat itu Cooking Project Day, jadi sekalianlah kami berproject ria membuat Genji Pie cookies. Kenapa Genji Pie cookies? Kebetulan Kiran suka sekali makanan itu, dan berhubung membuatnya gampang banget dan cepat, jadilah kue tersebut kami eksekusi.

Hasil diskusi kami tulis di papan diskusi. Sebenarnya Kiran punya cukup uang miliknya untuk membeli pesawat baru, tapi saya dan ayahnya sepakat untuk tetap menyarankan Kiran mencari uang. Niat kami untuk mengajarkan tanggung jawab kepada Kiran atas segala tindakan yang dilakukannya. Judulnya jualan, padahal modal membeli bahannya saja 70 ribu dan diambil dari uang tabungan Kiran hahahaha.

Biasanya kalau cooking project sama Kiran itu ngga lama, at least Kiran membantu di awal-awal untuk mencampur bahan dan mencetak beberapa kali dan di akhir untuk menyapu lantai dan membereskan peralatan. Karena fokusnya masih singkat, biasanya saya yang meneruskan perjuangan sampai selesai. Nah untuk cooking project kali ini Kiran benar-benar melakukan dari awal sampai akhir. Mulai dari mencetak adonan, memotong, memasukkan ke stoples, sampai mempromosikan hasil kuenya ke pembeli. Cooking project kami mulai dari jam 10 dan selesai jam 3. Waktu yang cukup lama untuk Kiran karena teman-teman di rumah sudah bolak-balik memanggil Kiran untuk mengajak bermain bersama. Tapi karena project kuenya belum selesai, Kiran tidak bisa bermain. Terlihat wajahnya sedih karena tidak bisa bermain dengan temannya dan kami harus mengingatkan Kiran kembali kenapa ia harus melakukan project ini. Untuk satu stoples kue dijual 15 ribu rupiah. Alhamdulillah dagangan (hasil nodong om tante kakek dan ayah) laris manis hehe.

Di malam hari, saya mengulas kembali kegiatan hari ini dengan Kiran, saya senang Kiran bisa mengalami konflik seperti ini. Semoga apa yang Kiran dan Ahsan pelajari dari konsekuensi yang mereka lakukan, membuat mereka lebih berhati-hati lagi ketika bermain.