Pastikan Keberadaan Keluarga Ketika Diperlukan

Pastikan Keberadaan Keluarga Ketika Diperlukan

Akhirnya, musim hujan yang telah dinantikan sudah dimulai. Biasanya banyak persiapan yang harus kita lakukan dalam menghadapi musim hujan. Mulai dari menyiapkan mental dan perlengkapan diri,  khususnya untuk orang-orang yang tinggal di Jakarta karena di musim ini tingkat kemacetan lalu lintas akan bertambah parah. Tidak sedikit juga kecelakaan yang disebabkan oleh jalanan rusak yang tertutupi genangan air sehingga menyebabkan para pengendara sepeda motor harus lebih berhati-hati dalam berkendara.

Tentunya memastikan keselamatan anggota keluarga tidak hanya dilakukan pada saat musim hujan. Ada beberapa hal yang biasanya kita persiapkan ketika menghadapi musim hujan khususnya jas hujan, payung dan sepetu bot. Kali ini saya ingin menyarankan setiap orang untuk memaksimalkan ponsel pintarnya untuk memastikan keselamatan anggota keluarganya. Pada tulisan ini saya ingin membagikan pengalaman keluarga kami dalam menggunakan aplikasi yang bernama Life360 berbasis Andorid yang bisa diunduh gratis oleh penggunanya. Aplikasi ini memberikan ketenangan bagi seluruh anggota keluarga kami.

Aplikasi ini dapat digunakan untuk membantu orangtua yang masih khawatir terhadap anaknya yang beranjak dewasa dan baru dilepas untuk keluar rumah sendiri atau bagi para orangtua yang memiliki anak perempuan dan ingin memastikan keberadaannya jika terjadi apa-apa terhadap anaknya. Selain itu aplikasi ini dapat mempermudah kita melacak ponsel kita yang hilang.

Family Locator Application

Family Locator Application

Apa itu Life360?

Aplikasi ini bisa Anda temukan jika Anda mengetikkan kata kunci “family locator” di Playstore. Apa itu Life360? Secara teknis aplikasi ini adalah alat pelacak dengan menggunakan alat pemosisi global (GPS) yang terdapat di dalam ponsel pintar kita. Aplikasi ini berfungsi untuk memberitahu para penggunanya lokasi masing-masing yang tentunya hanya bisa dilihat jika kita berada di dalam “lingkaran” yang sudah ditentukan.

Teknologi hadir untuk mempermudah hidup kita, sehingga jika aplikasi ini disalahgunakan untuk keperluan “mengawasi” tentunya para penggunanya tidak akan merasa nyaman karena merasa dirinya “diawasi” setiap saat. Oleh karena itu saya menyarankan penggunaan aplikasi ini untuk digunakan dengan persetujuan para penggunanya demi alasan keselamatan.

Peringatan: Jangan menggunakan aplikasi ini jika Anda belum berkeluarga dan masih dalam proses saling mengenal. Orang-orang yang sudah berkeluarga pun belum tentu mau menggunakan aplikasi ini karena tidak akan bisa lagi membohongi anggota keluarganya 😉 

Pengaturan Dasar Aplikasi

Setelah Anda memasang aplikasi Life360 di ponsel pintar Anda, lakukan langkah-langkah berikut:

  • Carilah menu yang bertuliskan “Circle” dan buatlah lingkaran keluarga atau teman-teman Anda.
  • Kemudian ketuk pada pilihan “Add someone”. Anda bisa memilih orang yang ingin Anda masukkan dari dalam kontak atau Anda bisa memasukkan informasi mengenai orang tersebut secara manual.
  • Setelah Anda memasukkan orang-orang ke dalam lingkaran, selanjutnya Anda bisa mengatur menamai 2 lokasi yang selalu dikunjungi oleh orang-orang di dalam lingkaran Anda (untuk jumlah lokasi tak berbatas, Anda harus menggunakan layanan Premium yang disediakan dengan membayar sejumlah uang yang bisa dibayarkan per bulan atau per tahun).

Selama setahun ini kami sudah menggunakan aplikasi Life360 secara gratis yang hanya dilengkapi fitur standar dengan 2 lokasi. Keluarga kami misalnya, mengatur kedua lokasi tersebut dengan lokasi rumah dan tempat kerja Bunda Kiran.

Lokasi yang telah diatur

2 lokasi gratis yang telah diatur

Perbedaan antara layanan gratis dan berbayar hanyalah dari berapa banyak lokasi yang bisa kita atur. Untuk menggunakan lebih dari 2 lokasi, kita harus menggunakan layanan premium dengan sistem pembayaran per bulan atau per tahun. Di luar 2 lokasi yang telah diberikan secara cuma-cuma tersebut, kita masih bisa memantau lokasi para pengguna di dalam lingkaran kita. Hanya saja tidak bisa kita bernama.

Keuntungan menggunakan lokasi yang bisa kita atur adalah fitur pemberitahuan otomatisnya. Fitur ini bisa memberitahu di antara para penggunanya jika ada seseorang yang tiba atau meninggalkan lokasi yang sudah kita atur. Dengan pengaturan seperti ini saya dan istri sudah tidak perlu saling mengabari jika hendak pergi dari rumah atau tiba di rumah, karena secara otomotis aplikasi ini akan memberitahu para penggunanya bahwa orang tersebut sudah tiba di lokasi atau meninggalkan lokasi. Tentunya setiap pengguna bisa mengatur notifikasi ini untuk diaktifkan pada orang tertentu saja atau pada setiap pengguna di dalam lingkarannya.

Kapan pun Anda ingin memastikan keberadaan anggota keluarga Anda, aplikasi ini bisa menghilangkan kekhawatiran Anda dalam hitungan detik. Saya dan keluarga menggunakan aplikasi ini karena dalam menjalani pendidikan rumah Kiran, saya sering pergi keluar rumah dan Bunda Kiran bisa mengecek keberadaan kami setiap saat. Saya pun sangat khawatir karena Bunda Kiran menggunakan sepeda motor sebagai kendaraan utama dalam menjalani aktifitasnya. Sebagai antisipasi masalah di jalan raya, Bunda Kiran bisa mengirimkan koordinatnya sehingga saya bisa mendatangi lokasi tersebut dan membantunya jika berada dalam keadaan darurat. Saya pun bisa memantau orangtua saya yang jaraknya ratusan kilometer di Bandung dan memastikan keberadaan mereka jika ada situasi darurat.

Selain itu banyak fitur lainnya yang bisa kita gunakan dengan cuma-cuma seperti reminder, task, chat, emergency alert dan manual check in.

Fitur lainnya bisa dilihat dari cuplikan layar berikut ini:

 

Perayaan Natal Jakarta Homeschool Club 2015

Perayaan Natal Jakarta Homeschool Club 2015

Salah satu alasan kami menjalani model pendidikan rumah bagi Kiran adalah penguatan karakter. Fokus utama pendidikan kami berada pada pendidikan karakter daripada akademis. Banyak hal yang berkaitan dengan pendidikan karakter di antaranya adalah memiliki toleransi terhadap orang lain terlepas dari status dan kepercayaannya. Tidak ada satu manusia terlahir memiliki “label”, manusia dewasalah yang memberikan status dan label sehingga hubungan di antara individu semakin jauh dari rasa kemanusiaan.

Kami menyadari bahwa untuk memiliki sikap bertoleransi memerlukan perjalanan panjang dan pemahaman terhadap sifat ini bukanlah sebuah teori yang bisa kita ajarkan dalam waktu yang singkat. Kenyataannya belajar bertoleransi terhadap orang lain harus berada di dalam situasi “menyaksikan” atau “mengalami” karena hakikatnya mengetahui informasi dan menjalankan apa yang kita ketahui adalah dua hal yang sangat berbeda. Oleh karena itu, saya selalu mencari kesempatan untuk memperkenalkan Kiran kepada hal-hal baru yang mungkin untuk kebanyakan orang dianggap liberal. Tetapi saya selalu yakin bahwa segala sesuatu yang diniatkan dengan baik akan berakhir dengan baik.

Pengalaman kali ini sangat berkesan bagi kami sekeluarga. Semua berawal dari perkenalan kami dengan Ibu Ida Luther dan keluarga pada acara Festival Pendidikan Rumah (FESPER) 2015 di Cibodas pada bulan Agustus lalu. Setelah acara FESPER kami pun berkomunikasi via Whatsapp dan Facebook. Meskipun baru saling mengenal, entah mengapa sepertinya kami seperti sudah kenal lama tidak merasa canggung pada saat berkomunikasi (situasi seperti ini mulai menjadi pola keseharian kami semenjak menjalani pendidikan rumah dan bertemu dengan para praktisi pendidikan berbasis keluarga).

Singkat cerita saya menyampaikan kepada Ibu Ida bahwa kami ingin memberikan kesempatan kepada Kiran untuk merasakan indahnya memiliki sifat toleransi, salah satunya kami selalu mengundang diri kepada teman dekat kami yang beragama kristen yang sudah kami anggap sebagai keluarga pada setiap perayaan natal. Ya, kami yang mengundang diri dan tahun ini akan menjadi perayaan natal kami yang kelima bersama sahabat kami. Oleh karena itu, Ibu Ida pun tidak ragu untuk mengundang kami menghadiri acara perayaan natal Jakarta Homeschool Club (JHC) yang diselenggarakan pada tanggal 5 Desember 2015 di Jakarta Design Center.

Konsep acara ini patut ditiru karena minim sampah. Setiap keluarga membawa makanan yang bisa dibagikan kepada semua orang yang hadir dan setiap orang harus membawa peralatan makannya sendiri. Kami pun datang tepat pada waktu yang telah ditentukan dan langsung disambut oleh Kim (putri Ibu Ida). Acara ini dipandu langsung oleh Ibu Ida dan kami pun baru mengetahui kemudian bahwa Ibu Ida ternyata adalah salah satu dari tiga orang pendiri JHC.

Ada rasa waswas karena ini pertama kalinya kami bertemu dengan orang-orang di JHC dan pada saat acara yang sangat spesial bagi mereka. Apalagi JHC adalah komunitas homeschooling kristen dan kami adalah satu-satunya keluarga non-kristen yang hadir pada acara tersebut. Tetapi semua kekhawatiran itu langsung sirna ketika kami disambut dengan sangat ramah oleh setiap anggota JHC sejak awal kedatangan kami, bahkan kami pun terharu karena setiap makanan diberikan label dengan keterangan halal dan tidak halal dan beberapa orang mengingatkan kami menu apa saja yang halal pada saat makan malam berlangsung. Ada beberapa nama yang kami langsung kenal seperti Ibu Lenny dan Lina kemudian Ibu Dewi yang membantu saya menyisihkan makanan tidak halal karena saya salah mengambil.

Ibu Ida (paling kiri) dan Ibu Lenny (paling kanan)

Selama kami berada di acara tersebut, tidak sedikit pun kami melihat ada pandangan aneh baik dari anak-anak maupun orang dewasa JHC. Keberadaan Bunda Kiran yang berkerudung pun tidak terlihat mengganggu mereka. Bahkan kami pun diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri dan berbagi di bagian acara “Family Sharing Moment” di mana setiap keluarga menyampaikan rasa syukurnya dan kesan-kesan mereka dalam menjalani pendidikan rumahnya masing-masing tahun ini. Pola lainnya pun terlihat ketika para praktisi pendidikan berbasis keluarga ini mulai mendapatkan berkah dan kebahagiaan dari pendidikan rumah yang mereka jalani. Pengalaman perbaikan kehidupan di dalam keluarga ini selalu saya dengar dari para praktisi pendidikan rumah dan sedikit demi sedikit keluarga kami pun merasakannya.

Ada satu kegiatan di dalam rangkaian acara tersebut yang sangat berkesan bagi kami dan khususnya Kiran, di mana Ibu Ida memberikan Character Recognition Certificate kepada semua anak JHC atas pencapaian mereka hasil observasi keseharian mereka pada saat berkegiatan di JHC. Setiap anak menantikan namanya dipanggil ke depan untuk menerima sertifikat tersebut dan terlihat sangat senang ketika menerima sertifikatnya. Tanpa diduga di akhir pemberian sertifikat itu, ternyata nama Kiran dipanggil. Dari interaksi Kiran pada saat acara FESPER bersama Ibu Ida sekeluarga, Kiran pun mendapatkan sertifikat dengan kualitas karakter Tolerance. Kiran pun merasakan sensasi kebahagiaan menerima sertifikat tersebut. Senyumnya melebar dan matanya berbinar pada saat namanya dipanggil ke depan oleh Ibu Ida.

 

Berikut ini adalah dokumentasi acara tersebut: 

Tidak terasa tiga jam pun telah berlalu dan kami menikmati setiap menitnya bersama keluarga JHC. Meskipun tidak banyak bercengkerama dengan para orangtua JHC, tetapi bahasa tubuh dan cara mereka menerima kami sangat membuat kami merasa nyaman. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ida dan seluruh keluarga JHC atas keramahan dan kehangatannya menerima kami sekeluarga. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan untuk lebih mengenal satu sama lain. Kami pun berharap Kiran dapat mengenang pengalaman malam itu dan menjadikannya sebagai contoh yang baik sikap bertoleransi antar umat beragama.

Seandainya semua orang bisa saling bertoleransi seperti ini tanpa memandang warna kulit, negara, dan khususnya agama. Bisa dibayangkan indahnya persatuan di dunia ini hidup rukun berdampingan seperti cuplikan lagu Imagine yang dilantunkan John Lenon di bawah ini.

. . .
Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one
. . .

Ulasan Film Dino yang Baik (The Good Dinosaur)

Ulasan Film Dino yang Baik (The Good Dinosaur)

Kemarin malam kami menonton film terbaru karya Disney Pixar yang berjudul The Good Dinosaur. Awalnya sedikit terkejut ketika sedang memesan tiket melalui layanan m-tix 21 Cineplex, karena judul paling atas yang saya lihat adalah “Dino yang Baik”.  Kemudian ketika saya menggulung layar ke bawah barulah muncul judul The Good Dinosaur. Ternyata ada dua judul film yang berbeda. Pada saat menonton cuplikan filmnya, tidak terlihat begitu menarik dan rancangan poster film yang terlihat biasa juga membuat saya berpikir untuk membatalkan pemesanan tiket yang sedang saya lakukan.

Dino Yang Baik

Dino Yang Baik

Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya saya memutuskan untuk menonton film yang sudah disulihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia. Entah mengapa setelah memesan tiket ada beberapa pertanyaan yang muncul di dalam pikiran saya, apakah mutu bahasanya bagus, apakah pengisi suaranya bisa menjiwai karakter yang disuarakan, apakah ceritanya bagus atau tidak dan apakah pengisi suara yang dipilih cocok untuk mengisi suara setiap karakter. Entah mengapa pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Mungkin karena saking langkanya pilihan tayangan anak-anak yang bermutu (baik dari sisi cerita maupun bahasa) bisa kita nikmati.

Banyak nilai-nilai baik yang bisa dipetik dari film tersebut, khususnya masalah keberanian. (Saya tidak akan bercerita banyak mengenai cerita filmnya supaya tidak merusak suasana pembaca yang berniat menonton film ini)

Cerita yang Emosional

Kami bertiga sangat menikmati film yang berdurasi 100 menit tersebut. Alur ceritanya mudah diikuti dan dipahami oleh anak-anak dan disajikan dengan sangat baik sehingga membuat emosi kami bercampur aduk. Bahkan Kiran pun sangat berfokus menonton dan sempat menitikkan air mata di beberapa bagian sampai berbisik kepada kami “I think I need a hug”.

Animasi Realistis

Mutu animasi karya Pixar yang sudah tidak diragukan lagi dibuat dengan apik dan semakin terlihat nyata membuat saya semakin berdecak kagum terhadap para pembuatnya. Segala sesuatu yang ditayangkan terlihat sangat nyata kecuali untuk karakter-karakternya. Saya memberikan acungan dua jempol untuk buah karya kerjasama tim Pixar yang telah bekerja keras demi menyajikan visualisasi yang bisa membuat penontonnya terpukau.

Mutu Bahasa

Sesampainya di rumah saya langsung mencari informasi mengenai alasan dibuatnya film ini dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan penuturan Amit Malhotra, selaku General Manager The Walt Disney Company Asia Tenggara, Indonesia merupakan salah satu pasar utama Disney Pixar di Asia Tenggara dan  berharap masyarakat Indonesia dapat menangkap pesan dalam film tersebut dengan lebih mudah setelah disulih suara ke bahasa Indonesia.

Indonesia merupakan satu dari tiga negara yang akan disuguhi The Good Dinosaur versi dubbing. Oleh karena itu kita harus menyambut baik usaha yang telah dilakukan oleh pihak Walt Disney. Terlepas dari sisi bisnis, saya melihat sebuah harapan baru dalam industri film yang bisa diikuti oleh para pembuat film di tanah air.

Mutu bahasa yang disajikan pun patut diacungi dua jempol karena menggunakan bahasa Indonesia standar (baku) tetapi tidak terdengar “kaku” untuk didengarkan. Terlihat komitmen dari pihak Walt Disney untuk menyajikan film berbahasa Indonesia baku yang tidak terpengaruh oleh dialek lokal, khususnya dialek Jakarta.

Kredit lainnya harus kita berikan kepada penerjemah naskah film dan para pengisi suara yang telah bekerja keras untuk memberikan pengalaman menonton film berbahasa Indonesia yang baik dan sangat bisa dinikmati oleh semua usia. Jika banyak film asing lainnya yang disulihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia, tentunya akan mengangkat profesi penerjemah dan pengisi suara ke lini depan industri perfilman kita.

Pengakuan

Hal lainnya yang membuat saya mengagumi hasil karya ini adalah dipampangnya kredit pengisi suara pada bagian paling atas dari semua kredit yang ditayangkan di akhir film. Ada perasaan yang berbeda ketika saya membaca nama-nama Indonesia dipampang paling atas dari kredit film yang dibuat oleh produsen film tersohor di dunia. Ada perasaan haru dan bangga ketika produsen film memberikan pengakuan kepada para pengisi suara karena atas usaha merekalah film yang mereka bisa lebih tepat sasaran dan lebih bisa dinikmati oleh para penontonnya tanpa adanya kendala bahasa.

Pemutar Film

Selain pihak produsen film, kita pun harus memberikan kredit kepada pihak pemutar film yang bersedia menayangkan film tersebut di dalam dua bahasa dengan jadwal tayang yang berbeda sehingga bisa mempermudah penonton untuk menikmati film tanpa harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris.

Kesimpulan

Kesimpulan saya, film ini telah dibuat dan dipersiapkan dengan sangat baik untuk dinikmati secara khusus oleh masyarakat Indonesia. Sebagai orang Indonesia, saya sangat tersanjung dengan adanya film ini dan ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat. Saya sangat menyarankan orang-orang yang berniat menonton film ini untuk menonton versi bahasa Indonesia supaya bisa mendapatkan pengalaman baru sekaligus memperkenalkan anak-anak terhadap film berbahasa Indonesia yang sangat bermutu.

Meskipun kategori film ini untuk semua umur, tetapi saya tidak menyarankan anak di bawah umur 5 tahun untuk menonton karena ada beberapa adegan yang dikhawatirkan akan membuat anak-anak takut karena efek suara yang sangat keras misalnya. Kiran yang berumur lima tahun terlihat sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir dan sangat menyukai karakter “Papa T-rex”. Banyak adegan yang bisa dijadikan bahan diskusi bersama anak untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan dari film ini.

Penasaran dengan film ini, segera kunjungi bioskop terdekat.

Mengunjungi Komunitas Oerang Kampoeng

Mengunjungi Komunitas Oerang Kampoeng

Beberapa bulan lalu saya berkenalan dengan seseorang di jejaring sosial Facebook yang ternyata adalah kakak kelas saya di SMA dulu. Nama panggilannya Kang Adun. Saya memerhatikan di beberapa status Facebook Kang Adun ada kegiatan-kegiatan yang cukup menarik. Setelah mengobrol melalui Blackberry Messenger, ternyata Kang Adun sedang merancang sebuah program kebudayaan berbasis komunitas dengan nama Komunitas Oerang Kampoeng yang berlokasi di Cicalung.

Karena tertarik dengan program yang sedang dirancangnya, saya pun membuat janji untuk mengunjungi komunitas tersebut karena kebetulan dalam waktu dekat akan mengunjungi orangtua saya di Cicalengka. Singkat cerita, akhirnya saya dan Bunda Kiran pun mengunjungi tempat mereka berkumpul dan berkegiatan yang ternyata tempat tersebut adalah rumah dari teman SMA saya, Deni, meskipun dulu tidak berteman akrab dan sebatas kenal saja. Sayangnya Kiran tidak mau ikut berkunjung dan lebih memilih bermain bersama kakeknya melepas rindu karena sudah lama tidak mengunjungi kakek dan neneknya.

Ketika kami tiba di lokasi, terlihat beberapa anak mengenakan baju pangsi sunda sedang berkumpul dan kami pun disambut oleh keramahan Kang Adun. Kami dipersilakan memasuki saung bambu yang berisikan anak-anak dengan rentang usia 8 sampai 13 tahun yang sedang belajar bahasa Inggris. Sesaat kemudian Kang Edo, guru bahasa Inggris anak-anak tersebut datang dan memulai kelasnya. 

Pelajaran Bahasa Inggris

Karena anak-anaknya bersekolah dari hari Senin sampai hari Sabtu,  kegiatan pun hanya dilakukan setiap hari Minggu. Kegiatan yang dilakukan adalah berkebun, belajar bahasa Inggris, dan belajar kesenian tradisional. Kegiatan ini sudah berjalan selama satu setengah tahun dan telah mengumpulkan sekitar 50 orang anak yang datang dari berbagai lokasi secara sukarela. Bahkan ada beberapa anak yang rela berjalan berkilo-kilo hanya untuk bermain dan berkegiatan bersama di komunitas ini. Berkat arahan Kang Adun dan teman-temannya, anak-anak tersebut dilatih untuk berani tampil dan menguasai keterampilan bermain alat musik tradisional, berbahasa Inggris, dan berkebun.

Tujuan dari dibentuknya komunitas ini adalah untuk memberikan edukasi kepada warga sekitar untuk tidak meninggalkan kebudayaan yang dimilikinya. Saat ini Kang Adun dan teman-temannya sedang merancang beberapa program untuk ditawarkan kepada sekolah-sekolah di sekitarnya supaya anak-anak sekolah bisa mengenal dan tidak melupakan kebudayaan Sunda.

Berikut ini kegiatan yang dilakukan di Komunitas Oerang Kampoeng

Semoga dengan segala keterbatasannya komunitas ini bisa menjalankan visi dan misinya untuk melestarikan kebudayaan Sunda dan keberadaannya memberikan manfaat bagi banyak orang.

Makki Roll dan Onigiri

Makki Roll dan Onigiri

Saya suka sekali makanan Jepang. Banyak masakan Jepang yang rasanya sangat bersahabat di lidah. Berhubung saya senang sekali sama yang namanya Makki Roll, kok ya jebol juga kantong kalau saban minggu suwon ke restoran Jepang. Waktu saya masih rajin belajar masak (sekarang ngga lagi ;p) di majalah yang saya beli ada resep membuat Makki Roll untuk pemula. Resepnya juga gampang, isi makki roll bisa dibeli disupermarket terdekat. Cuma tinggal beli Makisu (tikar kecil dari bamboo untuk menggulung roll), Nori (rumput laut), rice vinegar, Shoyu (kecap asin Jepang) sama wasabi (sambel ala jepang) ajahh. Karena proses membuatnya gampang dan mudah, jadilah makki roll ini andalan saya untuk bekal Kiran dan ayahnya kalau berkegiatan di luar.

Jenis masakan Jepang yang bisa untuk pilihan bekal juga adalah Onogiri. Onigiri adalah nasi kepal yang dibentuk segitiga dan dibungkus Nori. Kalau di resep aslinya, onigiri diisi buah acar buah plum. Kalau saya isinya suka-suka. Tergantung persediaan di kulkas hehe. Tapi lebih sering isi daging keju mayonnaise. Membuat onigiri juga sangat gampang dan cepat. Untuk resep Makki roll dan Onigiri saya tuliskan di bawah ya, semoga bisa bermanfaat.

Resep Makki Roll

Bahan nasi:

Nasi kurleb setengah liter, masak, dinginkan di suhu ruang

5 sdm Cuka beras

½ sdm garam

½ sdm gula pasir

Campur cuka, garam, dan gula lalu aduk rata

Setelah itu siramkan ke atas nasi hangat, aduk rata. Cicipi keasaman nasinya.

Jika dirasa kurang asam, bisa ditambahkan campuran cuka lagi.

 

Bahan – bahan isi:

1 Timun Jepang, belah jadi 8 potongan memanjang

1 telur, buat dadar dan potong-potong memanjang

Keju cheddar, potong ukuran kotak memanjang

Sosis, belah 2 dan goreng

Mayonnaise

Selada (optional)

Cara membuat:

Taruh Nori di atas Makisu, bagian Nori yang shiny dibagian bawah.

Ambil satu centong nasi, taruh di atas nasi dan ratakan, sisakan kira-kira 5 cm (jangan diisi penu nasi) Nori agar bisa menempel ketika digulung nanti.

Taruh timun, selada, sosis, telur, dan keju di atas nasi, atur rapi.

Olehkan mayonnaise untuk menambah rasa

Gulung perlahan, sampai nori membentuk bulat. Tekan-tekan makisu agar makki roll padat.

Potong makki roll dan sajikan dengan shoyu dan wasabi

 

RESEP ONIGIRI

Bahan – bahan:

Lembaran Nori

Nasi hangat

Garam

Keju cheddar, parut

Kornet/ daging ayam/daging sapi cincang, tumis dengan bawang Bombay, bawang putih, garam dan lada hingga matang

Mayonnaise

 

Cara membuat:

Gunting 1 lembar Nori menjadi 4 lembar kecil

Campur nasi hangat dengan garam, aduk rata, cicipi sampai terasa pas di lidah.

Basahi tangan dengan air matang

Ambil secentong nasi, taruh di tangan kiri,

Masukkan keju, mayonnaise, dan daging tumis

Bentuk nasi menjadi segitiga, tekan-tekan dan padatkan

Bungkus nasi dengan nori

Sajikan dengan shoyu atau abon cabe.

Nah, mudahkan membuatnya. Sekali membuat dijamin ingin buat lagi dan lagi soalnya mudah sekali membuatnya. Bekal yang mengenyangkan dan menyenangkan ^^

 

 

Churros, Makanan Favorit Keluarga Kami.

Churros, Makanan Favorit Keluarga Kami.

Kiran suka sekali ngemil. Berhubung Kiran termasuk Picky Eater, cemilan yang dia suka juga tidak banyak. Karena bundanya Kiran bukan termasuk ibu yang rajin berkutat di dapur (ngaku ;p), jadi bisanya buat makanan yang termasuk kategori mudah saja. Waktu kami sedang jalan ke Pejaten Mall, di lantai 3 ada stall Churros. Karena penasaran lihat gerobaknya yang unik, jadi coba beli deh, dan bentuknya pun unik, panjang gitu adonannya. Kiran ternyata suka banget. Besoknya saya konsultasi sama mbah Gugel, ternyata mudah sekali  resepnya. Bahan – bahannya juga pasti ibu-ibu di rumah punya semua. Setelah itu jadilah Churros makanan favorit Kiran. Bagi yang mau mencoba, saya tuliskan resepnya ya. Monggo dicoba di rumah masing-masing.

Resep Churos

Bahan – bahan:

250 cc air

150 gr tepung terigu

50 gr margarin

1 sdm gula pasir

Sejumput garam

1 butir telur

Vanili bubuk sesuai selera

 

Cara membuat:

Masukkan air, margarin, gula pasir, dan garam ke dalam panci. Masak hingga mendidih lalu matikan api.

Campur tepung yang sudah dicampur vanilla ke dalam panci. Aduk sampai rata.

Biarkan sejenak hingga uap panas hilang. Setelah itu, masukkan telur dan aduk rata.

Masukkan adonan ke dalam pipping bag yang sudah dipasang spuit bintang

Goreng dalam minyak panas hingga berwarna kecoklatan

Churros siap di makan dengan gula bubuk atau selai.

churros

Selamat mencoba ^^