Kiran Belajar Mengendarai Sepeda

Kiran Belajar Mengendarai Sepeda

Beberapa minggu terakhir Kiran sedang bersemangat untuk naik sepeda. Padahal sepeda kuning roda 4 yang dia punya sekarang kami belikan tahun lalu. Tapi kalau memang anaknya belum siap ya dimotivasi seperti apapun hasilnya itu sepeda terparkir saja di rumah. Ayahnya yang terlalu bersemangat membelikan sepeda sepertinya.

Minggu lalu, tiba-tiba saja Kiran mengajak ayahnya untuk belajar sepeda. Ayahnya lalu mencopot roda kecil di ban belakang sepeda Kiran. Awalnya Kiran menolak untuk kedua roda kecilnya dilepas, tapi ternyata mau juga anaknya.

Belajar hari pertama, Kiran dan ayahnya pergi ke lapangan bola dekat Rindam Jaya. Karena belinya tahun lalu, jadi kaki Kiran sudah bisa dijejakkan ke tanah kalau dia mau jatuh. Selama belajar di lapangan, total jatuh sekali dan nangis hanya sekali ūüôā . Untung semangatnya tidak¬†kendur. Koordinasi antara tangan, kaki dan keseimbangan badannya sepertinya sudah siap.

Keesokan harinya, Kiran dengan bangganya pamer kalau dia sudah bisa naik sepeda ke kakek dan neneknya. Memang, belajar itu lebih mudah dan cepat kalau si anak sudah siap.

Ringkasan Kegiatan Bulan Maret dan April

Ringkasan Kegiatan Bulan Maret dan April

Dua bulan sudah berlalu semenjak kami meresmikan untuk menjalani pendidikan rumah untuk Kiran. Ibarat benih, kami masih berjuang untuk mencari setitik cahaya untuk bisa tumbuh dan bermanfaat bagi alam. Setalah 2 tahun Kiran menjalani masa pendidikan anak usia dini, kami masih merasakan kesulitan dalam menjalani transisi dari model bersekolah ke pendidikan rumah.

Rencana untuk aktif menulis di blog pun tinggallah rencana karena kami masih berjuang mengatur waktu antara pekerjaan dan menjalani hari bersama Kiran. Kami tidak sempat membuat kiriman untuk blog, karena kegiatan yang luar biasa sibuknya. Hal ini membuat saya berpikir untuk lebih berdisplin lagi dan berkomitmen dalam menulis di blog. Sepertinya saya harus belajar untuk lebih mengatur waktu supaya bisa memenuhi target yang saya inginkan. Menulis kiriman setiap minggu akan lebih masuk akal ketimbang menulis kapan saja. Di bulan Mei ini dan ke depannya saya akan mencoba untuk membuat tulisan setiap minggu dan semoga saya bisa melaksanakannya.

Begitu banyak peristiwa selama bulan Maret dan April dan saya ingin merekam peristiwa tersebut untuk kami kenang nanti selagi masih banyak detil yang saya ingat. Berikut ini adalah beberapa peristiwa yang terjadi di bulan Maret dan April dalam pendidikan rumah kami:

Pendidikan Rumah Kiran

Secara resmi kami menjadikan bulan Maret sebagai momentum untuk memulai pendidikan rumah Kiran secara resmi dan bertepatan dengan berakhirnya masa bersekolah Kiran. Sepertinya tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk menjalani pendidikan rumah jika menunggu kesiapan kami sebagai orangtua atau Kiran sebagai anak yang akan menjalaninya.

Ternyata memang benar, banyak sekali tantangannya dalam memulai pendidikan rumah kami. Seperti yang selalu dikatakan praktisi pendidikan rumah lainnya dan buku-buku tentang homeschooling pun selalu memberikan “peringatan” bahwa tahun pertama akan sulit sekali karena saat tersebut adalah awal dari segalanya, sehingga masih banyak hal yang harus dicoba.

Bagi kami ada beberapa hal yang sangat sulit kami jalani seperti: merancang jadwal, melaksanakan kegiatan sesuai perencanaan, memilih kegiatan yang diminati Kiran, dan yang tersulit dari semua itu adalah mencoba membuat anak kami sebagai subjek (pelaku), bukan objek.

Mengingat kami berdua bekerja, kami mencoba membagi tugas untuk bisa mengisi kegiatan yang berarti untuk Kiran. Istri saya menyiapkan segala keperluan dan bahan-bahan untuk keperluan makan siang saya dan Kiran yang nantinya tinggal kami olah.

Setiap pagi kami memulai kegiatan pada pukul 9 pagi meskipun kami sudah bangun dari pagi. Hal ini kami atur untuk memastikan kami bisa memulai kegiatan tanpa ada kendala. Misalnya, bangun kesiangan, Kiran masih belum siap, belum mandi, dan lain sebagainya. Setelah kami melakukan rutinitas 4 Simple Steps kami, barulah kami memulai kegiatan yang diawali dengan kegiatan fisik, seperti bermain sepeda, bermain bola sepak, atau bermain bola ping pong. Setelah itu kami lanjutkan dengan kegiatan membaca. Saya bacakan satu atau dua buku kemudian saya menyuruh Kiran untuk mengulang secara lisan cerita yang telah saya bacakan dan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan cerita tersebut.

Kami¬†sisipkan juga beberapa kegiatan yang berkaitan dengan komputer untuk mengenalkan Kiran pada pengoperasian komputer dengan cara bermain game (untuk belajar matematika), mendengarkan dongeng, mendengarkan lagu dan bernyanyi (untuk belajar bahasa) dengan cara yang menyenangkan karena Kiran beranggapan bahwa dirinya sedang bermain game. Kami menggunakan abcmouse.com dan online resources dari Calvert untuk kegiatan ini. Setiap kegiatan kami rancang berdurasi 30 menit, sekaligus mengenalkan konsep jam juga kepada Kiran. Setiap hari selama 30 menit pun Kiran mendapatkan “hak istimewanya” untuk bisa melakukan apa pun yang dia inginkan tanpa ada larangan dari saya (meskipun tetap saya berikan pilihan seperti bermain mobil-mobilan, menonton, atau bermain tablet).

Pada pukul 11 siang kami pun mulai mengolah bahan-bahan untuk makan siang kami yang sudah disiapkan dengan baik oleh istri saya. Kiran membantu memotong sayuran, menyiapkan piring dan membereskan piring-piring kotor dan mencucinya. Saya pun jadi belajar mengolah makanan ūüôā

Kegiatan tersulit adalah pada saat makan siang, ketika Kiran selalu memilih makanan yang ingin dimakannya. Meskipun sulit, setiap hari saya mencoba menanamkan pengertian kepada Kiran bahwa tubuh kita membutuhkan makanan dan tidak semua makanan yang dibutuhkan oleh tubuh akan kita sukai. Proses makan ini biasanya memakan waktu lebih lama daripada proses memasaknya. Makan siang kami biasanya berdurasi 30 menit sampai 1 jam.

Kami mencoba merancang jadwal pendidikan rumah Kiran sebagai berikut ini:

 Hari Kegiatan
Senin Berkegiatan di rumah
Selasa Berkegiatan bersama Tunas
Rabu Berkegiatan bersama Oase
Kamis Berkegiatan bersama Tunas
Jumat Berkegiatan di rumah
Sabtu Berkegiatan di Rockstar Gym
Minggu Berkegiatan di Rockstar Gym

Banjir Informasi

Kekalapan kami sebagai orangtua yang mengumpulkan banyak sumber untuk kegiatan Kiran dan ketidakmampuan kami mengolah informasi yang telah dikumpulkan, benar-benar sebuah pelajaran penting bagi kami untuk benar-benar lebih memerhatikan ketertarikan Kiran¬†dan bukanlah ketertarikan kami sebagai orangtua. “Mengarahkan” Kiran tanpa menghilangkan semangatnya ternyata lebih sulit dari yang kami bayangkan.

Dunia Bermain

Sebuah bukti bahwa anak berusia 5 tahun masih usianya bermain. Kami pun akhirnya belajar menerima bahwa anak kami masih senang “bermain” dan belum siap menerima kegiatan yang terlalu banyak dibumbui “peraturan” atau kegiatan yang terlalu benyak melibatkan pensil dan kertas.

Kami masih berusaha untuk tertarik dengan hal-hal yang membuat Kiran tertarik. Bukanlah hal yang mudah bagi kami dengan keseharian kami sebagai pekerja dan selalu berinteraksi dengan orang dewasa beserta permasalahannya yang timbul dari pekerjaan kami kemudian harus segera mengubah diri kami menjadi playful ketika bersama Kiran.

Transisi Situasi

Transisi dari tempat kerja ke rumah atau sebaliknya sangat penting. Menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan saat sulit mengingat tanggung jawab pekerjaan yang sangat besar. Namun, setiap hari saya harus belajar “berdamai dengan diri sendiri” bahwa saya harus bisa berfokus kepada anak saya ketika bersamanya dan fokus bekerja ketika tidak sedang bersama anak saya. Perasaan bersalah selalu menghinggapi diri saya ketika di Kiran, saya memeriksa surel¬†atau menerima panggilan telepon yang berkaitan dengan pekerjaan. Akhirnya sedikit demi sedikit saya harus menerima bahwa pekerjaan bisa menunggu ketika saya bersama Kiran dan ketika bekerja, saya harus bisa efisien supaya tidak mengganggu kebersamaan saya bersama Kiran.

Menemani Ayah Bekerja

Khusus untuk hari Selasa dan Kamis, sepulang berkegiatan di Tunas, Kiran ikut bekerja bersama saya dan menghabiskan sisa waktunya di tempat kerja saya. Untungnya banyak sekali orang yang peduli terhadap Kiran sehingga saya bisa fokus melaksanakan pekerjaan saya. Kadang-kadang ada kenalan yang berbaik hati mengundang Kiran setiap selasa Kamis siang sampai sore untuk bermain di rumahnya yang lokasinya hanya berjarak 1 kilometer dari tempat kerja saya. Istri saya pun biasanya menemui kami sepulang kerja supaya kami bisa pulang ke rumah bersama-sama.

Berjejaring

Kebetulan di bulan Maret adalah awal dari kebersamaan saya dan Kiran berkegiatan bersama Tunas (sebuah komunitas homeschooling untuk anak usia dini). Kami mulai mengatur jadwal supaya bisa mengikuti kegiatan yang dilakukan setiap hari Selasa dan Kamis di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Dengan sambutan yang hangat dari setiap anggota Tunas mulai dari pertemuan pertama kami di Museum Polri, akhirnya saya lebih terlibat di Tunas. Untuk mempermudah para orangtua berkegiatan bersama anak-anaknya juga supaya lebih anak-anak lebih terarah, akhirnya para orangtua memutuskan untuk merancang kegiatan untuk anak-anak berdasarkan tema.

Tema Kegiatan

Tema untuk bulan April adalah tentang tanaman. Berikut ini adalah beberapa foto kegiatan kami bersama Tunas :

Berkemah di Bumi Perkemahan Ragunan

Di penghujung bulan Maret, kami mencoba mengajak Kiran untuk berkemah. Sudah beberapa bulan ke belakang kami berjanji kepada Kiran akan mengajaknya berkemah. Ketika kami pergi ke sana, Kiran senang sekali karena dan akhirnya tahu rasanya berkemah.

Fieldtrip ke Kebun Raya Bogor

Pada bulan April, kami pergi ke Kebun Raya Bogor untuk menepati janji kami yang lainnya kepada Kiran untuk melihat paus biru (binatang kesukaannya) di Museum Zoologi. Kami pergi bersama pamannya yang kebetulan belum pernah naik KRL. Berdasarkan komentar beliau naik KRL ke Bogor, ternyata tidak beda jauh dengan fasilitas yang ada di negara luar sana (Baru sadar kalau sistem perkeretaapian di Jakarta sudah tertata dengan baik).

Bermain Biola

Ketika orang-orang menanyai Kiran tentang alat musik yang disukainya, Kiran hanya menjawab biola. Pada awalnya kami pun kaget karena tidak pernah memperkenalkan biola kepada Kiran. Ternyata Kiran mengetahui alat musik gesek ini dari tayangan Elmo’s World. Setelah beberapa waktu berlalu pun hanya biola yang disebutkan oleh Kiran. Akhirnya kami pun mencoba untuk meyakinkan diri jika Kiran memang tertarik untuk bermain biola. Kami pun berjanji untuk membelikan Kiran biola jika dia memang ingin bermain biola.

Berhubung harga biola yang tidak murah, saya pun mengajak Kiran ke Taman Surapati untuk melihat orang-orang berlatih bermain biola di taman. Di taman Kiran mendapatkan kesempatan untuk menjajal bermain biola dan setelah itu semangatnya semakin berkobar. Melihat binar di matanya, saya sepulang dari taman, kami pun membeli biola dan berencana untuk berlatih biola setiap minggu di taman tersebut.

Bermain biola Mengenal Biola

Mengikuti Gerakan Ayah Bercerita

Suatu hari di pertengahan bulan April saya mendapatkan informasi mengenai Gerakan Ayah Bercerita. Kegiatan ini adalah pelatihan untuk para ayah yang ingin belajar mendongeng. Beruntung sekali saya berkesempatan mengikuti kegiatan ini yang dilakukan tidak jauh dari tempat tinggal saya. Kebetulan mendongeng adalah salah satu kesulitan terbesar saya yang lainnya selain menggambar. Banyak informasi yang saya dapatkan dari kegiatan ini dan sekarang hanya tinggal melatih kemampuan mendongeng saya untuk Kiran.

Belajar Mendongeng melalui Workshop Gerakan Ayah Bercerita

Gerakan Ayah Bercerita – Grup Condet

Berikut ini adalah pengalaman seru lainnya selama 2 bulan terakhir ini dalam kegiatan pendidikan rumah Kiran:

Di umurnya yang kelima tahun kami sangat senang dengan perkembangan Kiran selama ini, berikut ini adalah beberapa hal yang sebelumnya menjadi perhatian kami dan sekarang Kiran bisa melakukannya dengan baik:

  • bersikap lebih mandiri daripada sebelumnya, seperti menyiapkan keperluannya sendiri, mengenakan pakaiannya sendiri dan menyiapkan alat makannya sendiri.
  • lebih nyaman bertemu¬†dengan orang-orang baru.
  • bisa mengendarai sepeda roda dua
  • bisa berinteraksi bersama anak-anak di bawah usianya.
  • mampu mandi sendiri.
  • mampu mengutarakan keinginannya secara lisan.
  • mampu menyampaikan perasaannya ketika merasa senang atau sedih.
  • bisa berenang dengan gaya dog’s paddle.
  • mampu mengikuti instruksi beberapa instruksi yang disampaikan secara sekaligus.
  • mulai menunjukkan minatnya terhadap musik.
  • bisa bermain tebak-tebakan.
  • bisa becanda
  • bisa mengikuti peraturan
  • mampu mengantre dengan baik
  • mampu bersabar menunggu giliran.
  • berani bergaya di depan kamera.
  • bisa berbagi mainan bersama orang lain

Semoga kiriman ini bisa bermanfaat bagi yang membaca dan semoga ke depannya kami bisa lebih konsisten lagi dalam membuat kiriman. Masih banyak sekali hal yang harus kami pelajari sebagai orangtua dan semoga kami bisa terus menikmati proses pembelajaran keluarga kami.

Melatih Motorik Halus Anak Usia Dini

Melatih Motorik Halus Anak Usia Dini

Setiap orang tua pasti menginginkan keterampilan motorik anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Kemampuan motoril kasar anak dimulai dari si anak lahir sampai proses kematangan fisik si anak. Sedangkan kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang dilakukan secara rutin. Orang tua bisa mendampingi anak melakukan permainan yang tanpa si anak sadari mereka sedang dilatih kemampuan motorik halusnya, seperti menyusun balok, memakai baju sendiri, meronce, dan lain sebagainya.

Usia Kiran sekarang sudah memasuki 5 tahun. Kalau dalam tingkat sekolah, Kiran sudah memasuki¬†hitungan TK-B. Lazimnya sekolah TK-B, anak-anak pasti sudah ‚Äúdituntut”¬†untuk menulis, dan menggambar dengan dalih melatih motorik halus. Pandangan kami mengenai hal ini, setiap anak pada akhirnya akan bisa menulis, dengan hasil akhir yang berbeda tentunya. Tergantung seberapa sering anak terekspos dan diberikan stimulasi dengan aktifitas yang bisa merangsang kegiatan motorik halus si anak tersebut.

Saya dan suami berusaha memasukkan stimulan motorik halus di setiap kegiatan yang Kiran lakukan, salah satu kegiatan yang kami lakukan dengan Kiran adalah mengambil biji-bijian menggunakan pinset. Saya mencampur kacang tanah, biji jagung, dan kacang hijau di satu piring, lalu kiran memilah biji-bijian tersebut sesuai jenisnya. Untuk menarik perhatian Kiran, saya mengajak Kiran untuk berlomba memilah biji-bijian tersebut. Seringnya sih saya yang mengalah hehe. Bosan berlomba, bijinya Kiran pindahkan menggunakan pelontar mainannya. Terserah aja deh, yang penting anaknya senang.

Kegiatan lain yang Kiran sukai adalah membuat lubang-lubang di gambar. Pertama, Kiran membuat yang dia suka. Setelah selesai, Kiran menusuk-nusuk pinggiran gambar yang ia buat dengan tusuk gigi atau bolpoin. Kiran suka sekali kegiatan ini.

Yuk melatih motorik anak dengan cara yang menyenangkan. ūüôā

Nutrition Fact Label, Bagaimana sih Cara Membacanya?

Nutrition Fact Label, Bagaimana sih Cara Membacanya?

Selamat pagiiii… ^^

Apa kabar hari ini? Semoga kita semua selalu dilimpahkan kesehatan dan kemudahan oleh tuhan YME, amiinn.

Bagaimana asupan Anda hari ini? Sarapan apakah tadi pagi? Nasi uduk dan gorengan 3 biji? (itu sih saya hehe) . Beberapa teman saya sedang berusaha keras untuk menurunkan berat badan dan cara yang diambil adalah¬†berdiet. Nama dietnya pun macam-macam, ada yang bilang diet Mayo, diet Karbo, sampai diet air putih (cuma minum air putih ajah, ekstrimkan?). Dulu waktu habis melahirkan, saya juga ikut-ikutan diat, nama dietnya EAT CLEAN DIET. Jadi diet itu memungkinkan orang yang berdiet untuk tetap makan 6x sehari. Tapiiii, jenis makanannya harus yang bersih, bukan bersih dari debu, tapi bersih dari lemak dan minyak alias direbus, dikukus, dan ngga di goreng. Rendah karbohidrat tapi tinggi protein. Terus terang, di awal-awal diet, saya masih semangat 45 hehe. Motivasi saya (waktu itu) setinggi gunung dan semangat menggebu-gebu supaya badan bisa kurus lagi, minimal gelambir-gelambir di perut mengecil lah. Tapi bertahan cuma 1-2 bulan saja kalo ngga salah, tergoda sekali saya kalau melihat suami saya makan “normal” dan ngemil-ngemil tjantik. Akhirnya saya melambaikan tangan ke arah kamera *sigh*.

Mungkin banyak dari Anda yang juga berpikiran sama dengan saya, ingin berat badan turun (atau paling ngga tetap di angka yang sama lah), tapi tetap ingin makan cemilan2. Kalau kata Ayah Kiran saya sih “Dream on Bunda” hehehe. Diet itu masalah komitmen dan pengetahuan akan makanan yang dikonsumsi. Akhirnya saya tahu, berat badan bisa terjaga kalau kalori yang masuk terpantau. Lalu tahu dari mana jumlah kalori makanan itu? Naaahh, di setiap bagian belakang kemasan makanan yg kita makan, ada informasi gizi dan nutrisi serta kalori dari makanan tersebut. Kandungan yang ada di makanan tersebut, tertulis dengan jelas sekali serta ada juga berapa kali makanan dalam kemasan itu harus dimakan. Namun, kebanyakan dari kita tidak bisa membaca nutrition facts label dikemasan makanan. Label nutrition facts yang kaya gimana sih? Ini nih contohnya. Ini contoh label yang ada di belakang bungkus kemasan Chitato, my old time fav chrisps.

Di label itu ada tulisan serving per package about 5. Jadi, dalam satu kantong Chitato ukuran 60gr, disarankan untuk dimakan 5 kali, bukan sekali makan habis. Sekali Dibawah tulisan itu ada tulisan lain amount per serving calories 124,8. Makan sekali saja kalorinya 125, gimana makan satu kantong sekali habis 125 x 5 = 625 kalori!! itu baru cemilan Chitato ukuran 60gr lho. Hampir semua orang akan langsung habis makan cemilan seperti itu sekali makan. Dan yang jelas, makan keripik begitu ngga akan kenyang, yang ada mau nambah cemilan yang lain. Padahal tubuh kita perlu dimasukkan makanan bernutrisi.

Kebutuhan kalori setiap orang berbeda2, tapi secara umun, laki-laki membutuhkan kira-kira 2.500 kalori perhari dan wanita membutuhkan sekitar 2.200 kalori. Jadi, pada perempuan misalnya, jika kebutuhan kalori per harinya 2.200 kalori, bisa dibagi menjadi makan pagi sekitar 20 persen, makan siang dan makan malam 30 persen, dan sisanya snack. Snack bisa 2 kali, pagi dan sore, masing-masing 10 persen. Untuk laki-laki hampir sama, hanya saja porsi mereka lebih banyak.

Nah makanya, kalau mengkonsumsi Chitato 60gr sendirian dan sekali habis, tubuh mendapatkan kalori 625, itu baru cemilan loh, belum makan besar. Makanya berhati-hatilah memilih makanan yang akan dikonsumsi. Pilihlah makanan yang sehat dan bernutrisi agar tubuh kita sehat selalu. ^__________^

selamat beraktifitaaass ūüôā

Belajar di mana saja, kapan saja

Belajar di mana saja, kapan saja

Selamat pagi, cuaca hari ini cerah sekali, semoga membuat aktifitas kita semua menjadi lebih bersemangat (baca: bakalan gerah kayanya hari ini). Kiran dan ayahnya sedang bekegiatan di luar nih. Jadi setiap hari Selasa dan Kamis ada pertemuan rutin para praktisi homeschooling anak usia dini bernama Tunas di daerah Tanah Kusir. Tempat tersebut bernama Hikari, tempat teduh dan asri yang pernah di gunakan sebagai TK. Karena pernah menjadi TK, maka di situ ada beberapa permainan seperti perosotan, jungkat-jungkit, dan  Monkey Bar. Pekarangannya pun cukup luas, anak-anak bisa berlarian di tanah yang lumayan lapang.

Pada hari Kamis minggu lalu, kebetulan anak-anak sekolah libur, jadi saya bisa ikut Kiran dan ayahnya datang ke Hikari. Ternyata pengajarnya pada hari itu adalah suami saya sendiri!! (Pantesaaann pagi-pagi repot sendiri :D). Kegiatan di Hikari dimulai dengan perkenalan dengan teman baru, kebetulan ada satu anak yang baru bergabung dengan Tunas. Anak-anak terlihat sangat senang mendapatkan teman baru. Salam dan saling menyapa memang menjadi salah satu kegiatan wajib anak-anak Tunas, agar mereka terbiasa menyapa satu sama lain. Salam pun dilakukan kepada semua orang, tidak hanya antara teman-teman sebaya.

Topik yang sedang diajarkan hari itu adalah bagian-bagian dari pohon, seperti akar, batang, dahan, ranting, dan daun. Anak-anak bereksplorasi, mengamati dan mengobservasi bagian-bagian dari tumbuhan secara langsung. Beruntung Hikari banyak terdapat banyak pepohonan tinggi dan besar, jadi anak-anak bisa memegang dan menyentuh langsung pohon-pohon besar itu. Ada kejadian lucu ketika anak-anak diminta untuk mencari bagian akar dari pohon rambutan. Mereka semua kaget ketika diberitahu kalau akar pohon rambutan itu menyembul dari bawah tanah. Mungkin mereka pikir itu batang biasa hehe. Cara sang guru ‚Äúmengajarkan‚ÄĚ anak-anak balita itu benar-benar menarik dan interaktif; jadi anak-anak ¬†merasa mereka sedang bermain dan belajar. Seru sekali kegiatan mereka! ¬†Jadi kepingin ikutan terus kegiatan Tunas di Hikari hehe.

memegang batang pohon

memegang batang pohon

ini namanya ranting

ini namanya ranting

Setelah itu, anak-anak bersiap untuk makan siang. Tetapi sebelum itu, mereka harus antre untuk mencuci tangan mereka. Para orang tua sudah menyiapkan makanan untuk anak-anak mereka masing-masing di tempat makannya masing-masing. Jadi, semua anak makan sendiri tanpa bantuan orang tua. Sehabis makan, anak-anak mengulas kembali apa yang mereka sudah lakukan dengan riang dan antusias.

Ternyata kegiatan anak-anak homeschooling itu sangat menyenangkan. Mereka sangat aktif dan yang pasti tanpa paksaan melakukan aktifitas di sana. Anak-anak mendapatkan ilmu tanpa harus duduk diam di meja. Untuk saat ini, Kiran mengikuti kegiatan di dua perkumpulan homeschooling, Tunas dan Oase. Para orang tuanya pun sangat open-minded, informatif, berwawasan luas, dan bersahabat. jadi, siapa bilang anak homeschooling itu tidak bersosialisasi dan hanya belajar di rumah? Belajar itu bisa di mana saja dan kapan saja.

anak-anak dan orang tua Tunas

anak-anak dan orang tua Tunas

Oh iya, bagi yang tertarik untuk bergabung, klub Tunas berkegiatan di Hikari daerah Tanah Kusir setiap Selasa & Kamis pukul 10.00 ‚Äď 12.00. Klub Oase berkegiatan di daerah Cipinang setiap hari Rabu pukul 09.00 ‚Äď 12.00.

Untuk lokasi Hikari, silakan ketuk tautan berikut ini : Hikari (dengan petunjuk dari Pondok Indah Mall 2)

Untuk lokasi berkegiatan di Klun Oase biasanya bertempat di Rumah Inspirasi.

Bermain Ular Tangga dan Belajar Berhitung

Bermain Ular Tangga dan Belajar Berhitung

Kali ini saya ingin membagikan cerita tentang permainan kesukaan Kiran.

Pada perayaan natal tahun lalu Kiran mendapatkan kejutan dari Paman Des dan menerima sebuah kado natal berupa permainan ular tangga klasik. Kemasan dari permainan ini didisain dengan apik dan mengedepankan tampilannya yang sangat klasik sehingga siapa pun yang melihatnya akan mengingat masa kecilnya memainkan permainan ini.

Kado Natal

Ini adalah permainan papan pertama Kiran. Pada saat itu juga Kiran meminta untuk memainkannya. Dalam waktu 1 hari Kiran mulai memahami cara memainkan permainan ini dengan konsep permainan yang sangat sederhana, naik ketika berhenti di tangga dan turun ketika berhenti di ular. Semua orang yang Kiran kenal diajak memainkan permainan papan ini, mulai dari ayah dan bundanya hingga semua orang yang tinggal di rumah kakek dan neneknya yang kebetulan berdekatan dengan tempat tinggal kami. Ketika semua orang sudah “selesai” bermain dan Kiran masih ingin bermain, biasanya dia akan mengatakan bermain sendirian.¬†

“So, nobody wants to play with me? Okay, I can play by myself.”

Bermain ular tangga sendirian

Tanpa terasa kami mulai mengenalkan angka satuan, belasan, dan puluhan kepada Kiran karena dia penasaran dengan banyaknya angka yang tertera di atas papan permainan. Seiring waktu berjalan, dalam waktu satu minggu, Kiran sudah mengerti konsep belasan dan puluhan. Setelah itu tanpa diajarkan, Kiran mulai memahami konsep penambahan di bagian papan paling bawah yang menunjukkan satuan. Ketika orang-orangan berdiri di angka 3 dan Kiran melempar dadu yang menunjukkan angka 4, secara otomatis tangan mungilnya akan menggiring orang-orangannya ke kotak angka 7. Saya sendiri sempat terkaget melihat apa yang dilakukannya. Tanpa disadari, dia sudah mulai memahami konsep penambahan. Akhirnya sedikit-demi sedikit kami mulai menantang Kiran untuk memindahkan orang-orangannya tanpa menghitung setiap kotak yang dilaluinya melainkan langsung melompati kotak-kotak tersebut dan menempatkan orang-orangannya di kotak yang dituju.

permainan ular tangga

Ular tangga

Tidak hanya sampai di situ, ternyata setelah terbiasa memainkan permainan papan ini setiap hari (dan bisa lebih dari ¬†10 kali setiap harinya), Kiran mulai terbiasa menyebutkan angka-angka yang diperlukannya untuk mendaratkan orang-orangannya di kotak yang ingin dia tuju. Ketika dia sudah mulai bosan, dia mulai mencari cara bagaimana memainkan permainan ini dengan cara yang berbeda (saya sendiri saja belum pernah melakukannya), yaitu bermain mundur dari atas ke bawah tanpa mengubah¬†fungsi dari tangga dan ularnya. Ketika orang-orangan kami mendarat di tangga, maka kami harus “kembali ke atas” (karena tujuannya adalah kami harus menuruni papan permainan).

Bangun tidur, selepas mandi, setelah makan, pagi, siang, petang, malam, tanpa mengenal waktu, semua orang yang Kiran temui akan diajak bermain ular tangga. Saya merasa beruntung sekali Kiran mendapatkan kado tersebut dan ketika saya menyampaikan cerita ini kepada pamannya, Paman Des merasa senang sekali kado pemberiannya telah berguna.

Meskipun permainan papan ini terkesan “jadul” tetapi permainan sederhana ini telah memberi warna dalam kehidupan keluarga kami sehingga kami selalu bisa berkumpul, bercengkerama dan tertawa bersama tanpa mengenal waktu, rasa lelah dan beban pekerjaan yang sedang membelenggu kami. Sungguh sangat menakjubkan bahwa permainan “purbakala” bisa mempererat hubungan anggota keluarga dan mengajari anak kami sesuatu yang mungkin akan sangat sulit kami ajarkan dengan penuh kerelaan dan kesenangan, yaitu berhitung.

Begitu banyak permainan-permainan modern yang dijual dan dinyatakan sebagai permainan “edukatif” sehingga setiap orang tua (termasuk saya) mulai “menabung” berbagai macam permainan supaya Kiran bisa belajar dengan cara yang menyenangkan, mulai dari flashcard sampai permainan digital.

Permainan-permainan yang ditawarkan di era modern ini memang sangat menarik perhatian. Mulai dari kemasan hingga pernak-pernik mainannya itu sendiri. Namun dibandingkan dengan permainan “purbakala” ini, semua permainan yang sudah saya tabung dan bernilai jauh lebih besar itu tidak semenyenangkan permainan papan ini, ular tangga.

Sebuah pelajaran mendasar sebagai orang tua yang belajar dari anaknya, bahagia itu sangat murah dan sederhana.