Jok Motor Ternyaman Versi Kiran

Jok Motor Ternyaman Versi Kiran

Reading Time: 2 minutes

Saya dan Kiran adalah pengguna setia ojek online. Berhubung kegiatan Kiran sebagian besar di luar rumah, dalam satu minggu, kami bisa menggunakan jasa ojek online 4 kali bolak balik (8 kali). Semua layanan ojek onlinepun sudah kami coba, mulai dari yang berwarna hijau sampai yang berwarna hitam. Jadi kami berdua sudah merasakan bermacam-macam merek motor, mulai dari motor besar, sampai motor kecil, hanya Vespa saja yang belum pernah kami coba hehe.

Projek pengamatan ini bermula dari ketidaknyamanan Kiran ketika duduk di beberapa motor ojek online. Suatu hari kami mendapatkan ojek online yang menggunakan motor besar keluaran Yamaha yang sedang naik daun, Yamaha Nmax. Ketika duduk di jok motor tersebut, Kiran terus menerus merosot ke depan sehingga ia harus berkali-kali membetulkan posisi duduknya.

“I don’t like this motorcycle, Bun. I keep sliding down to the front.” Ujar Kiran.

“If you don’t like this motorcycle, what do you like then?” tanya saya.

“I like motorcycle with comfortable seat” Jawab Kiran.

Nah, dari situlah proyek pengamatan ini kami dimulai. Berdasarkan kesepakatan, Kiran mengamati, merasakan dan memutuskan merek motor yang paling yang joknya paling nyaman untuk diduduki. Sebelum menaiki motor yang akan mengantar kami ke tempat tujuan, Kiran mengamati merek motor tersebut. Lalu kiran menilai kenyamanan dari jok motor yang dinaikinya. Parameter penilaian kenyamanannya dari mana? Kiran menilai tingkat kenyamanan dari setiap sepeda motor yang dinaikinya berdasarkan empuk atau tidaknya jok motor yang ia duduki. Untuk mempermudah pengamatan, saya membuatkan lembar observasi sederhana yang Kiran gunakan untuk mencatat hasil pengamatannya. Durasi pengamatan dilakukan berdasarkan 10 kali berkendara dengan ojek online secara acak.

Dari pengamatan yang dilakukan tersebut, Kiran memyimpulkan bahwa motor yang memiliki jok paling nyaman adalah Honda Megapro, Karena jok motor tersebut membuat Kiran duduk nyaman dan motor tersebut adalah motor balap (kalau yang ini sih opini Kiran sendiri ^__^)

pengamatan jok motor ternyaman

Pengamatan jok motor ternyaman

Adakah kendala ketika mengerjakan proyek ini? Tentu ada! Namanya juga anak-anak, memang masih harus selalu diingatkan untuk konsisten. Kiran masih harus diingatkan untuk mengisi lembar pengamatan, Karena ia cenderung enggan untuk menulis. Terkadang sayapun lupa untuk mengingatkan Kiran untuk menulis keesokan harinya apabila kami pulang malam hari menggunakan ojek online dan ia sudah tertidur di atas motor. Untuk kami proyek pengamatan ini sangat bermanfaat karena bisa melatih keterampilan observasi Kiran.

Setelah menyelesaikan proyek ini, Kiran sudah berencana untuk membuat proyek pengamatan lainnya pada saat kami menggunakan layanan ojek online. Apa yang mau ia amati? Ternyata Kiran mau mengamati pelanggaran lalu lintas di jalan. Tunggu di postingan berikutnya ya.

Belajar Bersama Goes to Nature

Belajar Bersama Goes to Nature

Reading Time: 4 minutes

Berikut ini adalah dokumentasi kegiatan perdana Belajar Bersama Goes to Nature di Bumi Perkemahan Mandalawangi di Cibodas Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Terdapat 11 keluarga yang turut serta dalam kegiatan perdana ini.


Apa itu Belajar Bersama Goes to Nature?

Ini adalah salah satu kegiatan luar ruangan Belajar Bersama yang akan kami adakan setiap bulan dengan mengumpulkan keluarga pecinta alam untuk berkegiatan bersama. Latar belakang kegiatan ini kami adakan untuk melatih ketekunan dan kreatifitas dalam bermain serta menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap alam sekitarnya, dan menumbuhkan kesadaran khususnya masalah sampah. Kami melihat kebutuhan anak-anak kami yang sudah jarang menjejakkan kakinya menyentuh tanah, batu, rumput dan mereka terlalu terbiasa melihat sampah.

Kapan dan di mana kegiatan ini dilakukan?

Kami berencana mengadakan kegiatan di alam bebas secara rutin setidaknya setiap bulan. Saat ini kegiatan yang akan kami adakan adalah, berkemah dan naik gunung. Alternatif kegiatan lainnya mungkin bertambah seiring waktu berjalan berdasarkan kebutuhan keluarga yang ada. Kegiatan ini akan berpindah-pindah berdasarkan kebutuhan pada saat itu

Kegiatan ini untuk siapa?

Meskipun kegiatan ini diadakan oleh perkumpulan keluarga homeschooling Belajar Bersama tetapi kegiatan ini terbuka untuk umum (menjalani homeschooling maupun bersekolah) tetapi tertutup hanya untuk keluarga bukan orang yang masih lajang. Bertemu dengan orang baru dapat melatih kepercayaan diri setiap anggota keluarga baik orangtua maupun anaknya untuk berani berinteraksi dengan orang baru yang belum dikenalnya.

Apa yang dilakukan selama berkegiatan?

Ini adalah pertanyaan kebanyakan orang pada saat kami melakukan kegiatan perdana kami sekaligus menjadi sorotan kami bagi siapa pun yang berminat untuk mengikuti kegiatan ini untuk mengantisipasi rasa kecewa yang tidak diinginkan. Kegiatan utama kami adalah untuk tidak melakukan banyak kegiatan selama kegiatan berlangsung. Kami ingin melatih insting anak-anak untuk secara alamiah merespons terhadap apa yang ada di sekitar mereka. Tidak ada kegiatan menggambar, bermain gawai, atau kegiatan lainnya yang bisa dilakukan di rumah. Sesungguhnya orangtua yang akan belajar banyak dari anak-anaknya karena anak-anak tahu bagaimana caranya bersenang-senang dan menikmati waktu mereka selama berada di alam terbuka tanpa memikirkan apa pun dan hanya berfokus pada “saat ini”. Setidaknya itulah pelajaran paling berharga yang kami dapatkan dari anak-anak kami ketika melakukan kegiatan perdana ini. 

Bagaimana cara mendapatkan informasi kegiatan ini?

Semua kegiatan kami akan kami informasikan melalui Facebook Page Belajar Bersama. Untuk memastikan keluarga Anda tidak ketinggalan informasi, silakan ketuk tombol “like” dan semua informasi yang kami buat akan secara otomatis muncul di beranda Facebook Anda.

Apakah ada syarat khusus untuk mengikuti kegiatan ini?

Ya, semua peserta kegiatan diharapkan memikirkan sampahnya. Kami ingin mengajak semua orang untuk menjadi panutan bagi anak-anak kami dengan melatih kepekaan terhadap masalah sampah. Mengingat kegiatan perdana kami masih memproduksi sampah yang cukup banyak, kami akan menerapkan aturan yang lebih terperinci mengenai pilihan makanan yang boleh dan tidak boleh dibawa selama berkegiatan untuk mengantisipasi timbulnya sampah anorganik yang dapat mengganggu dan mengotori lokasi kegiatan.

Silakan kunjungi FB Page Belajar Bersama jangan sampai ketinggalan kegiatan kami selanjutnya


Testimoni dari beberapa peserta kegiatan

‘ayo bu… naik gunung, ternyata seru disini..

‘wah.. hati hati ya nak..

‘iya bu.. dengan antusias orion dan luna naik ke tangga batu menuju bumi perkemahan mandalawangi taman nasional gunung gede pangrango kemarin.

‘ketemu sungai… ihh deras airnya..

‘seru ya or… suka suka… kata luna dengan gembira.

‘iya lun.. ayo kutuntun, ini tanjakan lhoo… orion membantu adiknya naik, sementara ibu dibelakang sambil menggendong carrier..😀

‘hati hati ya kakak dan adik… adiknya dituntun, lihat jalan didepan…

begitulah ketika kemarin menemani anak anak di camp ground..

~ Verena Ety Prasetyaningsih, Bogor ~

Hai, baru pulang dari rumah waktu refleksi sekalian posting dan sharing cerita camping Mandalawangi.

Pengalaman yang hangat dan pertama yang tidak akan terlupakan walau dihantam dengan suhu malam 16C.

Bertemu dengan semua keluarga yang berbeda latarbelakang dari sekolah dan yang menjalankan HS. Dari yang umur nya tua sampai yang bayi.

Berbaur di perkemahan sana. “Seru”, “senang”, itu saja kata anak-anak saya.

Hidup ini seperti napas, kita merasakan, mengambil napas dan menghembuskan nya lagi. Kenapa bernapas harus ditahan?

Terima kasih keluarga Ayah Kiran, mbk Nuni Amaliah, Nada, Yulia Karlina, Metta Setiawan, Verena Ety Prasetyaningsih, mbk Weni Widiafransi, mbk Siti Andriani, Annette Varash (ini saya salut karakter bumil satu ini), keluarga mbk Ira, dan anak anak.

Kita disini sama derajat semuanya. Semoga postingan saya bisa menginspirasi bagi keluarga single parent seperti saya dan yang lainnya.

Bangga pada anak anak saya yang tidak mengeluh sedikitpun.

~ Yemmi Liu, Sukabumi ~

Akhirnya hari yang sudah ditunggu-tunggu Benn, datang sudah. Hari ini kami akan pergi ke Cibodas untuk ikut acara kemping Belajar Bersama Goes to Nature di Wisata Alam Mandalawangi – Cibodas.

Subuh dibangunkan, langsung bangkit dari tempat tidur dan menyiapkan diri ganti baju. (Meskipun setelahnya sembari menunggu Mami Papi final check barang bawaan, agak molor lagi di sofa hahaha).

Ooopsss…tol Merak-Jakarta muacettt, mari kita putar arah, lewat tol Jorr saja. Thanks God, perjalananan lancar hingga sampai di tujuan.

Yayyy…sampai juga kami di Kawasan Wisata Alam Mandalawangi Cibodas, sejukkk segarrr.

Benn sudah tidak sabar berjalan menuju lokasi tempat kita akan kemping. Apalagi setelah tau kalau Kiran sudah sampai di lokasi dari tadi.

Wah ternyata lumayan juga naik turun tangga, sedikit jalan berbatu untuk menuju lokasi kemping di pinggir sungai. Tapi begitu sampai lokasi, langsung terbayar rasa capek di awal tadi. Cakep lokasi kempingnya, persis di pinggir sungai. Benn n Mia langsung tak sabar ingin nyebur ke air, apalagi melihat teman-teman yang lain sudah pada seru berbasah-basahan di sungai.

Sabar ya Nak, kita dirikan tenda dulu. Supaya nanti selesai main air, sudah ada tempat istirahat jika perlu.

Sungainya jernih sekali, segar dan pastinya duinginnnnnn.

Meskpun dingin, tapi anak-anak pada betah sekali bermain tak henti-henti.

Termasuk anak kecil ini, mencoba menyeberangi sungai dari satu batu ke batu yang lain.

Sesekali hendak lompat bergaya streamline jump, ooppsss…stop! Sungainya kurang dalam untuk streamline jump, Nak, jidat bisa terbentur batu nanti.

~ Metta Setiawan, Karawaci ~

Akan selalu ada yang kami pelajari disaat berkegiatan bersama dengan anak-anak. Begitupun disaat kami berkegiatan bersama di alam bersama teman-teman keluarga Belajar Bersama di bumi perkemahan mandalawangi cibodas.

Belajar dari alam, belajar tanpa menjudge apapun, belajar arti kebersamaan, belajar menghargai perbedaan, belajar mencintai alam, belajar mengenal pencipta diri dan semesta.. tanpa membawa ego diri, melepas segala penat, menghirup udara yang seakan mengingatkan kami, menyadarkan kami akan tanggungjawab yang ada didalam diri kami, menjaga alam sebagai wujud kehadiran kami di muka bumi ini.

~ Weni Widiafransi, Bekasi ~

Setiap kegiatan bersama beberapa keluarga homeschool, selalu menimbulkan kesan dan hikmah tersendiri bagi kami. Kami belajar saling kenal-mengenal, dan belajar memahami. Belajarnya sambil menikmati alam. Hanya menikmati alam. Sungguh memukau dan menyenangkan.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal….” kutipan QS 49:13

*Kemping di Mandalawangi, Cibodas. Jumat-Sabtu, 16-17 Juni 2017. Ramadhan.

~ Siti Andriani, Jakarta Pusat ~

Trekking pagi ini….

Alam, sumber belajar yang kaya namun kadang terlupakan dan terabaikan.

~ Annette Mau, Kelapa Gading ~

Film Class Dismissed

Film Class Dismissed

Reading Time: 2 minutes

Class Dismissed adalah film berdurasi 90 menit. Film ini berkisah tentang sebuah keluarga di Los Angeles yang anak-anaknya merasa tidak puas dengan sistem pendidikan mereka padahal mereka bersekolah di sekolah negeri terbaik di kotanya. Rachel sebagai ibu dari kedua anaknya Ana dan Lily berusaha untuk membantu anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik bagi mereka. Melihat kondisi anak-anaknya yang sudah mulai tidak menikmati proses pendidikannya dan sistem sekolah yang sudah melenceng jauh dari arti pendidikan yang sebenarnya, Rachel memenuhi keinginan anak-anaknya untuk keluar dari sistem pendidikan formal untuk menjalani homeschooling.

Jauh dari harapan anak-anaknya, Rachel yang memiliki informasi terbatas mengenai homeschooling mengalami kesulitan untuk membantu mereka. Dimulai dengan kesalahan umum praktisi pemula homeschooling, Rachel memindahkan rutinitas sekolah ke dalam rumahnya. Selain itu pola pikir Rachel yang belum berubah karena merasa khawatir dengan ketidakmampuannya mengajar anak-anaknya dan ketakutan dirinya memberikan kebebasan kepada anak-anaknya. Semua ketakutan Rachel cukup mewakili pengalaman para praktisi yang baru memulai homeschooling atau yang masih menimbang untuk homeschooling. Melihat ketidakpuasan anak-anaknya, Rachel dan Todd, suaminya berusaha untuk memahami keinginan belajar mereka dengan bertemu praktisi homeschooling lainnya dan mulai mengenal proses deschooling. Masalah lainnya melanda keluarga Rachel ketika mereka mengalami kesulitan keuangan dan memutuskan untuk mengikuti program charter school. Setelah 6 bulan menjalani program charter school, keluarga mereka memutuskan untuk kembali menjalani homeschooling. Kali ini Rachel mulai bisa mengubah pemikirannya dan percaya kepada anak-anaknya bahwa mereka mampu menjalani proses pendidikannya.

Selain berkisah mengenai proses pendidikan keluarga Rachel, terdapat wawancara singkat seputar homeschooling bersama Patrik Farenga rekan sejawat John Holt, Diane Flynn Keith, Laurie A. Couture, Amy Milstein, Blake Boles (Direktur Unschool Adventures), Dale J. Stephens (Pendiri Uncollege), Sandra Dodd (Penulis buku The Big Book of Unschooling). Apakah Anda penasaran dengan cerita selengkapnya? Silakan beli filmnya di sini http://classdismissedmovie.com/see-the-film/buy-the-dvd/ atau jika Anda tinggal di daerah Jakarta dan tertarik untuk menonton film ini bersama-sama silakan tinggalkan pesan di kolom komentar untuk melihat jumlah peminatnya. Berikut ini cuplikan resmi film tersebut:

Percobaan Sains : Mengapung dan Tenggelam

Percobaan Sains : Mengapung dan Tenggelam

Reading Time: 2 minutes

Pada hari Kamis (25/5) kami mengadakan percobaan sains mengapung dan tenggelam. Anak-anak yang mengikuti percobaan ini berusia antara 4 sampai 10 tahun. Anak-anak melakukan percobaan bersama untuk kemudian diulas oleh orangtua masing-masing di rumah.

Tujuan

Dari kegiatan ini anak-anak membuat prediksi terhadap berbagai benda dan kondisinya ketika berada di air, mengapung atau tenggelam dan mengklasifikasikan barang-barang tersebut. Mereka belajar untuk memprediksi dan mengambil kesimpulan dari percobaan yang mereka lakukan. Tujuan utama percobaan ini adalah membuktikan prediksi dan membuat kesimpulan dari benda-benda yang digunakan di dalam percobaan.

Peralatan

Peralatan yang kami gunakan di dalam percobaan ini cukup sederhana. Kami menggunakan kotak besar transparan besar yang diisi air untuk mengamati benda di air. Benda yang kami gunakan saat melakukan percobaan: batu, daun, tutup botol plastik, batang tanaman, botol kaca, botol plastik kosong, botol plastik berisi cat, kunci pas mainan berbahan plastik, jahe, bawang, lemon, kaca kecil, tag koper berbahan karet, mainan kayu, kotak plastik, dan kuas cat.

Percobaan

Di awal percobaan anak-anak memprediksi bahwa benda-benda berat akan tenggelam. Setelah melakukan percobaan anak-anak menyimpulkan bahwa tidak semua benda berat tenggelam di dalam air dan mereka dapat mengaitkannya dalam kehidupan mereka dengan mengambil contoh perahu yang berat dan dapat mengapung.

Sesuai dengan usianya saat ini, anak-anak baru dapat mengaitkan benda yang mengapung dan tenggelam hanya dari bobot benda. Mengingat durasi percobaan yang cukup menyita waktu karena harus mengatur anak-anak yang cukup ribut karena terlalu bersemangat, anak-anak tidak sempat melakukan pengamatan dari benda-benda yang sudah dipisahkan berdasarkan kategorinya, mengapung dan tenggelam.

Tantangan Percobaan

saya memberikan dua tantangan prediksi kepada anak-anak. Tantangan yang pertama adalah memprediksi apa yang akan terjadi jika jumlah airnya ditambahkan. Anak-anak memprediksi bahwa tidak ada yang berubah terhadap benda-benda yang telah diklasifikasikan sebagai benda yang tenggelam dan mengapung meskipun airnya ditambah. Setelah dibuktikan dengan menambahkan air ke dalam kotak percobaan, terbukti prediksi mereka benar.

Tantangan kedua yang saya berikan kepada anak-anak adalah membuat batu kecil bisa mengapung dengan bantuan benda-benda mengapung yang tersedia. Karena jumlah anak yang cukup banyak, saya membagi mereka menjadi dua kelompok. Anak-anak terlihat tertantang untuk melakukan tantangan ini dan mereka mengerjakannya dengan cukup serius. Berbagai cara mereka lakukan tetapi mereka belum berhasil untuk membuat batu tersebut mengapung dengan bantuan benda-benda yang termasuk ke dalam benda yang tidak tenggelam.

Dari hasil pengamatan saya anak-anak masih kesulitan untuk bekerja sama di dalam kelompok karena masing-masing kelompok terlihat saling berebut barang. Belum terlihat kerjasama di antara anak-anak untuk menyelesaikan tugas bersama-sama. SItuasi ini menjadi perhatian orangtua untuk melakukan pengamatan terhadap perkembangan anak-anaknya pada kegiatan berikutnya.

Kegiatan tambahan

Kami tidak sempat melakukan kegiatan tambahan ini karena keterbatasan waktu dan fokus anak-anak yang sudah hilang. Kegiatan tambahan ini bisa dilakukan dengan membantu anak-anak untuk mendiskusikan persamaan dan perbedaan dari ciri-ciri benda yang membuatnya mengapung atau tenggelam. Anak-anak dapat dibantu untuk mengamati benda-benda tersebut dan mencapai pada kesimpulan bahwa bobot benda bukan satu-satunya faktor yang dapat membuat sesuatu tenggelam atau mengapung.

Pada kegiatan ini anak-anak terlihat terlalu bersemangat dan kesulitan mengelola dirinya sehingga saya harus beberapa kali mengingatkan mereka untuk memerhatikan instruksi yang saya berikan kepada mereka. Selain itu kami harus melatih anak-anak untuk dapat bekerja sama lebih baik lagi dan tidak sibuk dengan keinginannya masing-masing sehingga tidak acuh terhadap keinginan teman-temannya seperti yang terjadi ketika saya memberikan tantangan percobaan dan membagi mereka menjadi dua kelompok yang terdiri dari 4 dan 5 anak.

Berikut ini dokumentasi kegiatan percobaan sains kami:

Trekking di Gunung Mandalawangi

Trekking di Gunung Mandalawangi

Reading Time: 2 minutes

Minggu kami trekking ke Gunung Mandalawangi di Cijapati daerah perbatasan Bandung dan Garut. Kami berkegiatan dari jam 10 pagi dan kembali ke kaki gunung pukul 4 sore. Perjalanan naik dan turun gunungnya sendiri memakan waktu 3 jam dan dilakukan dengan santai mengikuti kemampuan Kiran. Sayangnya Nuni tidak bisa ikut karena keracunan makanan dan harus beristirahat di rumah. Saya mengajak teman saya dari Kanada yang sedang berkunjung ke Jakarta dan Kang Ian yang tinggal tidak jauh dari Cijapati untuk melakukan perjalanan ini.

Kami mengawali dengan memasuki area perkebunan sayur mayur dan perkebunan kayu jati putih. Memasuki kaki gunung kami disambut oleh barisan pohon pinus yang melindungi kami dari teriknya sinar matahari. Semakin jauh kami melangkah ke dalam hutan, kami hanya mendengar bunyi langkah kami dan bunyi tonggeret di sekeliling kami. Di pemberhentian pertama kami beristrirahat sambil mengamati sisa-sisa buah kopi yang telah habis dipanen. Setelah beristirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan kami melewati pohon kopi arabika dan tanaman tembakau. Perjalanan kami berakhir setelah kami tiba di perkebunan teh sebagai titik tertinggi pendakian kami. Kurang lebih 100 meter sebelum mengakhiri perjalanan kami, Kiran sempat menangis karena mendapati saya dua kali menginjak duri dan Kiran takut kakinya akan menginjak duri juga. Kiran dihadapkan pada sebuah pilihan untuk turun kembali dan mengikuti rasa takutnya atau terus berjalan ke atas dan menghadapi rasa takutnya. Setelah saya berikan waktu untuk membuat keputusan, dan memberikan motivasi akhirnya Kiran menuntaskan perjalanannya. Pelajaran berharga lainnya yang bisa saya saksikan dengan hanya menemani dan mengamati. Tidak ada rencana khusus selain berjalan-jalan di gunung saja dan di menit-menit terakhir kami memutuskan untuk membuat nasi liwet di sana dengan perbekalan yang secukupnya dan kami sangat terbantu dengan peralatan memasak yang dibawa oleh Kang Ian sehingga kami bisa menikmati makanan sambil beristrirahat di perkebunan teh

Banyak hal yang bisa saya dapatkan mengenai perkembangan diri Kiran ketika saya menahan diri untuk tidak mengatur dan menentukan apa yang terjadi pada saat berkegiatan bersama Kiran. Tidak perlu banyak berceramah atau mengajari karena alam akan dengan sendirinya mengajari anak kita apa yang perlu diketahuinya. Menemani Kiran dan melakukan pengamatan perkembangan dirinya dari waktu ke waktu sedang saya menjadi perhatian saya untuk membangun kesadaran diri saya supaya terbebas dari penghakiman terhadap Kiran.

Belajar dari alam untuk mengenal diri lebih baik lagi. Melihat Kiran berinteraksi bersama orang dewasa membuat saya senang karena saya bisa melihat keterampilan Kiran untuk memulai percakapan dan melatih kemampuan berbahasanya. Bahasa tubuhnya memperlihatkan kondisi dirinya di sebuah tempat. Saya melihat gerakan tubuhnya yang ragu karena merasa tidak aman ketika memanjat bebatuan, menyeberangi aliran air sampai berjumpa dengan beberapa binatang kecil di sepanjang perjalanan. Menjadi bagian dari kelompok, menawarkan bantuan untuk memasak sampai menghibur diri sendiri dengan batang dan ranting pohon yang disediakan oleh alam menunjukkan perkembangan dirinya di usianya yang baru saja menginjak tujuh tahun.

Berikut ini video perjalanan kami, silakan klik subscribe untuk menerima video perjalanan homeschooling kami secara berkala di channel Youtube kami.

Benar Vs Salah

Benar Vs Salah

Reading Time: 3 minutes

Pagi itu setelah Kiran selesai berlatih teknik berenangnya, saya memberikan waktu kepada Kiran untuk bermain di kolam renang bermain anak-anak. Belum lama saya duduk, saya mendapati Kiran tengah memanjat bagian samping tangga luncuran. Ketika hendak menegur Kiran untuk menggunakan tangga yang tersedia tiba-tiba saya berhenti dan merenung sejenak, “Mengapa saya harus menegur Kiran? Apakah yang dilakukannya salah?” Dia tidak mengantre, dia melanggar peraturan dan bagaimana kalau dia terjatuh kemudian terluka, dan banyak hal lainnya yang berkecamuk di dalam pikiran saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa dan melakukan pengamatan sambil merekam kegiatan bermain Kiran selama satu jam.

Selama pengamatan berlangsung saya mencoba mengontrol diri untuk tidak mengatakan apa pun bahkan ketika Kiran memanggil pun, saya hanya tersenyum dan menjawab seadanya. Ada perasaan yang mengganggu ketika saya “berpikir” Kiran telah melakukan sesuatu yang salah sehingga membuat saya kecewa, sedih dan marah karena tidak dapat mengikuti peraturan yang sebetulnya (manurut saya) sudah diketahuinya. Kemudian saya berdialog dengan diri sendiri dan bertanya “Apa yang membuat kamu emosi?” Saya mencoba memeluk emosi yang sedang saya rasakan saat itu. Kemudian saya teringat dengan konsep kata “kotor” yang disampaikan oleh Gobind Vashdev. Apa sebenarnya kotor itu? Ini adalah sebuah konsep bahasa yang sifatnya subjektif karena definisi kotor saya dan Anda pasti berbeda. Ketika kita melihat lantai penuh pasir mengapa kita mengatakan lantai tersebut kotor. Mengapa tidak kita katakan saja lantainya berpasir karena memang begitu keadaannya.

Setelah mengingat konsep bahasa yang sifatnya subjektif tersebut, saya mulai berefleksi kembali tentang pengamatan saya terhadap perilaku Kiran di kolam renang. Saya merasakan emosi karena saya “menilai” tindakan yang Kiran lakukan salah. Kemudian saya mencoba mendefinisikan kata benar dan salah berdasarkan pemahaman saya saat itu dan bagaimana saya dapat membahasakannya kepada Kiran dan ternyata sulit. Selama saya merekam saya hanya berdoa semoga dia terluka atau membuat orang lain terluka.

Singkat cerita pada saat makan malam bersama saya menunjukkan kepada Kiran rekaman video ketika dia sedang di kolam renang dan dengan sungguh-sungguh bertanya sekadar ingin tahu apa yang dipikirkannya pada setiap hal yang saya soroti di dalam rekaman video tersebut. Saya pun mencoba mengolah kalimat saya sebaik mungkin dan bertanya kepada Kiran “May I know what made you climbed the side of the stairs instead of using the stairs?” Kiran pun menjawab “I want to do it (go up)  faster”. Kemudian saya menanggapi jawabannya “is there any other reason why you did that?” dan ternyata tidak ada alasan lainnya kecuali ingin mengambil jalan pintas supaya dia bisa tiba di atas luncuran lebih cepat.

Selanjutnya kami membahas mengenai keberadaan peraturan di semua tempat dan mengapa peraturan tersebut dibuat. Kiran memang sudah tahu semua hal terkait peraturan dan alasannya. Saya melihat perilakunya tidak jauh berbeda dengan kita sebagai orang dewasa yang mengambil jalan pintas meskipun tahu kita melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku atau kesalahan yang kita lakukan. Misalnya, membuang sampah sembarangan, merokok di tempat umum, melanggar lampu lalu lintas, memotong antrean, dan banyak hal lainnya yang kita lakukan. Saya merasa lega karena bisa menahan diri dan menunggu sampai waktu makan malam untuk mendapatkan jawaban yang jujur itu dan terhindar dari jebakan penghakiman dan emosi saya.

Masalah sebenarnya adalah bukan mengenai benar atau salah melainkan kesadaran dari tindakan yang kita lakukan. Kita akan menerima hasil dari apapun yang kita lakukan, konsekuensi logis. Kiran mengambil jalan pintas risikonya terjatuh dan terluka, maka itulah konsekuensi logisnya. Menurut pendapat saya menumbuhkan kesadaran terhadap anak tentang konsekuensi logis dari setiap pilihannya lebih penting daripada memberitahunya tentang benar dan salah atau baik dan buruk.

Untuk menghindari jebakan konsep bahasa yang subjektif, di dalam video ini saya menghitung berapa kali Kiran menggunakan tangga dan mengambil jalan pintas untuk tiba di atas luncuran. Video tersebut kami jadikan bahan refleksi bersama dan kesimpulan yang kami dapatkan adalah boleh bersenang-senang tetapi dengan tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain baik secara fisik maupun emosi.

Pertama kalinya saya berdiskusi dengan Kiran dengan melepas semua ego yang saya miliki sebagai orang dewasa yang merasa lebih tahu yang benar dan yang salah. Benar dan salah adalah konsep bahasa yang bersifat subjektif sehingga membahas perilaku dia apa adanya tanpa memberikan label “benar” atau “salah” membantu saya dan Kiran untuk berefleksi lebih baik lagi terhadap segala sesuatu yang dilakukannya tanpa harus menghakiminya.

Jangan menonton video di bawah tanpa membaca tulisan ini seutuhnya supaya Anda memahami tujuan saya membuat video ini.