Hanya 6 Kilometer

Reading Time: 1 minute

Setelah selesai melakukan wawancara di kantor PT. KAI di Cikini . . .

Kiran: Bun, I want to ride train to Kota Kasablanka.

Bunda: But we only have 20 minutes left before your tennis class. I think we better take Gojek, it’s very close from here, only 6 kilos.

~Gojeknya sampai~

Kiran: Bun, aku duduk di depan drivernya ya.

Bunda: Jangan ah Ki, jauh soalnya.

Kiran: Tadi kata Bunda deket, only 6 kilos, sekarang bilangnya jauh, gimana sik . . . wishy washy nih bunda . . . (sambil ngelirik ngeledek)

Bunda: Hehe, ternyata jauh juga ya . . . maaf ya, bunda tadi belum lihat peta Ki.. (ngeles dotkom)

Moral lesson: mulutmu harimaumu.. ??

T Vs D

Reading Time: 1 minute

Pagi ini merasakan debat kusir sama Kiran ketika reading time. Mendebatkan bunyi kata “Walked” dan “Talked“..

Bunda: Ki, you read this word (walked) WALKT, with ending T sound. And so is the word talk, it ends with T, so it becomes TALKT.

Kiran: Bunda, I don’t see the T on the word, so it should be walked, ends with -ED, not with T . . . this one (talked) is also ED not with T.

Bunda: How do you know that? Why do you think it is pronounced that way?

Kiran: Because I know it bunda, English is my first language, so I know it. (tsaaahh, gaya bangeett)

Bunda: Well, I think we should check with Uncle Dez, we can ask which one is the correct pronunciation.

Kiran: Okay, we can check it on the internet too.

Mungkin untuk orang lain Kiran seperti ngeyel kalau di kasih tahu. Tapi buat saya, ini kemajuan, karena dia bisa mempertahankan pendapatnya memberikan argumen sesuai pengetahuannya sekarang dan jawabannya tidak terpengaruh pendapat saya.

Dimple

Reading Time: 1 minute

Pagi kemarin:

Kiran: Bunda, ayah has dimples on his cheeks, do I have one?

Bunda: Yes, you did Ki, when you were a baby. I’ll find the photo later.

Sore tadi:

Bunda: Here’s the photo Ki, see, you had one on your right cheek.

Kiran: Oh yeah, I have dimple like ayah (sumringah)

Bunda: How come I dont have one? (Pura-pura sedih)

Kiran: Dont worry Bun, I think you have, but it is covered by fat on your cheeks. (Muka lempeng)

Cars Project

Reading Time: 3 minutes

Beberapa minggu lalu, Kiran mengerjakan proyek keduanya setelah membuat proyek Lapbook ulat sutra. Karena waktu itu Kiran sedang suka dengan ulat dan proses metamorfosisnya, saya melihat semangat di dirinya ketika mengerjakan proyek ulat sutra. Bu Septi juga waktu itu pernah berbagi cerita, ketika anak-anaknya masih kecil, beliau menanyakan APA yang anak-anaknya ingin pelajari, sehingga semangat belajarnya akan tetap terjaga sampai poyeknya selesai. Mengacu pada pengalaman beliau, maka saya mencoba menerapkannya kepada Kiran.

Sebelum memulai proyek kedua ini, Saya bertanya kepada Kiran hal apa yang ingin ia pelajari. Untuk kali ini ternyata Kiran ingin tahu lebih banyak tentang jenis-jenis mobil. Dari jawabannya, saya jadi tahu apa minat anak saya pada saat ini.

Setelah itu, kami membuat rencana untuk proyek mobilnya. Di sini, saya memperkenalkan Kiran untuk membuat rencana menggunakan model pertanyaan 5W1H. dengan model pertanyaan ini, saya ingin Kiran belajar menjabarkan dan merencanakan projeknya secara detil. Dengan membuat rencana, saya ingin Kiran mengerti bahwa dengan membuat perencanaan terlebih dahulu akan mebuat pekerjaannya lebih terarah dan diakhir proyek, akan terlihat kesulitan dan kendala yang terjadi di luar rencana sehingga untuk proyek selanjutnya akan bisa lebih matang lagi dalam membuat perencanaan. Berikut contoh jawaban 5W1H yang Kiran lakukan:

What : What cars are you going to put in your project? 6 cars (merk Kiran sebutkan)

Who : Who is going to do the project? Me and with help from bunda

When : When are you going to do it? Everyday for 4 days

Where : Where are you going to conduct you project? At home and showrooms

Why : Why do you choose this project? I choose this project because I like cars

How : How are you going to do the project?

  • Go to showroom, ask the expert some questions and ask for brochures
  • Check on the internet
  • Draw and print car pictures
  • Present it to my friends
  • Review

Keesokan harinya, sesuai dengan rencana yang Kiran buat, kami mengunjungi total tiga dealer mobil untuk mencari informasi langsung (dari ahlinya). Dalam kegiatan ini Kiran juga saya perkenalkan dengan adab mewawancarai orang lain, mulai dari menyapa, memperkenalkan nama, tujuan, dan menutup wawancara. Pertanyaan yang ditujukan kepada narasumber juga merupakan pertanyaan yang berasal dari Kiran, saya tidak bantu sama sekali. Terserah saja apa yang ingin ia tanyakan. Pada tahap ini, saya melihat kekurangan Kiran ketika bertanya kepada orang lain. Hal ini tentu  menjadi bahan diskusi kami pada malam harinya. Jadi ketika mengunjungi showroom kedua dan ketiga, Kiran mulai memperlihatkan perkembangan dalam bertanya.

Karena keterbatasan waktu (rencananya Kiran hanya menuliskan 4 hari), untuk 3 merk mobil yang lain, Kiran mencari informasinya melalui internet. Dalam kegiatan ini, Kiran belajar mencari informasi lewat website, menyimpan gambar, menyalin gambar ke Microsof Word, serta mengedit gambar. Karena masih tahap perkenalan dengan komputer, maka prosesnya cukup memakan waktu. Tapi karena Kiran menikmatinya, saya juga ikutan senang melihat proses belajarnya. Untuk penggunaan komputer, saya memberikan contoh kepada Kiran bagaimana cara menggunakan komputer, setelah itu, saya biarkan ia melakukannya sendiri. Satu-satunya yang saya bantu hanya mencolokkan charger laptop dan memasukkan kertas ke dalam printer. Sisanya Kiran lakukan sendiri (meskipun lama).

Karena ini Project Based Learning, ketika membuat rencana, Kiran sudah memutuskan akan membuat lapbook untuk proyek ini. Maka setelah selesai mendapatkan semua informasi yang diperlukan, Kiran pun mulai menyusun dan menempel semua gambar ke media yang ia pilih (jilid buku bekas). Kiran menggunting, menempel, menulis, dan menyusun semua gambarnya sendiri.

Setelah semua selesai, Kiran berlatih untuk mempresentasikan proyeknya. Untuk presentasi, saya mau semua yang dijelaskan Kiran adalah murni dari pemikirannya sendiri. Jadi saya hanya memberitahu tata cara presentasi yaitu,

  • Pembuka (salam, memperkenalkan diri dan mukadimah proyek)
  • Isi (proses perjalanan membuat proyek ini)
  • Penutup (mengundang audience untuk bertanya dan menutup presentasi)

Setelah itu, keesokan harinya Kiran mempresentasikan hasilnya kepada ayahnya. Kiran terlihat bangga sekali dengan hasil karyanya.

Hari selanjutnya, kami mengulas kembali projek yang dikerjakan, dan menuliskan apa yang Kiran sudah rasa baik, hal-hal yang perlu diperbaiki untuk projek selanjutnya, dan apa yang Kiran sukai dari projek ini. Ulasan seperti ini diperlukan agar ketika mengerjakan proyek selanjutnya akan bisa lebih baik lagi.

Ketika melakukan proyek ini, Kiran bersemangat sekali. Jika anak diberikan kesempatan untuk melakukan dan mengerjakan hal yang ia suka dan memilih yang akan dikerjakan, binar di matanya menjelaskan semuanya. Ini pengalaman belajar yang saya lakukan dengan Kiran. Semoga bermanfaat.

Marbles Painting

Marbles Painting

Reading Time: 1 minute

Hari ini Kiran dan saya mencoba melukis untuk membuat projek kecil harian. Biasanya kalau diajak menggambar, Kiran suka menolak duluan. Tetapi beberapa waktu lalu saya melihat satu postingan di Pinterest, yaitu melukis dengan kelereng. Setelah saya ceritakan kepada Kiran, ternyata gayung bersambut, anaknya mau! Maka kami lakukanlah projek melukis dengan kelereng hari ini. Ternyata menyenangkan loh. Berikut adalah material yang diperlukan untuk membuat projek ini:

  1. Kelereng (kami pakai 5 buah kelereng)
  2. Kertas ukuran apa saja (kami pakai ukuran A4)
  3. Cat beberapa warna (kami pakai akrilik)
  4. Wadah untuk cat
  5. Selotip (untuk menahan kertas)
  6. Kardus (untuk menahan kelereng)

Membuatnya juga mudah, begini caranya:

  1. Masukkan cat ke wadah, satu wadah untuk satu warna cat ya
  2. Masukan satu kelereng ke setiap wadah berisi cat
  3. Letakkan kertas di dalam kardus, pastikan kertas tidak bergerak
  4. Taruh kelereng yang sudah berlumur cat ke atas kertas di kardus
  5. Goyang-goyangkan kardus hingga kelereng bergerak dan membuat goresan warna

Voila!

Hasil gambar menakjubkan muncul di atas kertas. Mudah sekali bukan? Dan sangat menyenangkan untuk anak-anak. Saking senangnya Kiran, ia sampai berinisiatif mengajak saya untuk membuat video tutorial pembuatan lukisan kelerengnya. Silakan ditonton videonya.  Semoga bermanfaat ya ☺  

Enough is Enough

Enough is Enough

Reading Time: 3 minutes

Minggu lalu saya mendengar Kiran ditegur oleh Nuni karena mencoba mematikan semut. Sambil memompa ban sepeda saya yang kempes saya mengobrol dengan Kiran menanyakan alasan dari tindakannya. “But the ant didn’t die” kilahnya, lalu saya mencoba mengganti ‘why’ dengan “How do you feel about it?”, mencoba menerapkan saran dari Pak Gobind oleh-oleh seminar compassionate parenting. “I feel sorry” jawabnya. Kemudian Kiran melanjutkan kalimatnya dengan “His father will be looking for him if he is dead”.

Tiba-tiba jawaban Kiran membuat saya terdiam dan memerhatikan sekeliling. Kilasan informasi dari buku yang saya baca bersama Kiran melintas di kepala saya kemudian obrolan pun berlanjut “Why do you think animals extinct?” saya bertanya kepada Kiran. “Because people killed them”, jawabannya mengejutkan saya. “Why did the people kill the animals?” saya ingin memastikan sudut pandang yang dimilikinya. “I don’t know” Kiran menutup pembicaraan kami dan meninggalkan saya dalam perenungan. Kami pun melanjutkan kegiatan kami untuk bersepeda bersama pagi itu.

Masih di hari yang sama setelah saya pulang kerja saya teringat sebuah buku yang pernah kami baca bersama mengenai perjalanan manusia prasejarah. Kami pun membaca kembali buku tersebut yang mengawali bacaan kami masa di mana manusia prasejarah belum mengenal peralatan untuk membantunya bertahan hidup. Saya membayangkan pada masa itu semua makhluk berada pada posisi yang sama untuk bertahan hidup, membunuh atau dibunuh. Kemudian beberapa ratus tahun kemudian manusia mulai menemukan peralatan dari bebatuan dan menggunakan pakaian dari kulit binatang untuk membantu mereka bertahan hidup. Api pun ditemukan dan mengubah sejarah manusia. Manusia mulai memegang kendali dan dapat mempertahankan diri dari binatang buas bahkan membuat perangkap binatang yang ingin mereka tangkap. Seiring waktu berjalan, kemampuan manusia untuk bertahan hidup mulai berkembang dengan bantuan beberapa penemuan lainnya. Mereka pun sudah mulai berhenti berpindah-pindah dan mulai menetap di suatu tempat bahkan memiliki hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga mereka tidak perlu lagi berburu demi mengenyangkan perutnya untuk tetap bertahan hidup.

Lembar demi lembar kami baca dan diskusi pun mengalir begitu saja. Kami mencoba membayangkan situasi yang dijelaskan dari masa ke masa. Saya pun mencoba membantu Kiran memahami bahwa apa yang dimiliki oleh orang-orang pada masa kini tidak tersedia di masa lampau. Seberapa berharganya sebuah tongkat, potongan bebatuan dan api untuk keberlangsungan hidup mereka.

Sekarang kita berada di masa yang serba canggih dan kegiatan berburu adalah sebuah olahraga dan bukan kemampuan yang harus dimiliki untuk bertahan hidup. Kemampuan berpikir manusia sudah sangat berkembang melampaui batas-batas yang bisa dibayangkan oleh manusia prasejarah. Sekarang kita berburu harta supaya bisa bertahan hidup. Manusia modern ini sudah merasa tidak memerlukan binatang untuk bertahan hidup. Uang dalam jumlah besar dikeluarkan untuk mengembalikan banyak hal yang sudah tidak kita dapatkan lagi dari alam. Habitat binatang berganti gedung-gedung pencakar langit, sawah-sawah berubah menjadi pabrik, sungai-sungai dan laut dicemari limbah dan sampah dari keseharian kita. Lalu manusia modern ini menghabiskan waktu untuk mendidik diri mencari solusi dari masalah yang ada. Sepertinya kita sudah melampaui batas kebutuhan kita dari sekadar bertahan hidup.

Binatang-binatang sudah kita binasakan karena habitatnya kita hancurkan supaya kita menikmati keistimewaan hak untuk hidup dari sekadar bertahan hidup. Manusia prasejarah membunuh binatang karena mereka membutuhkannya untuk bertahan hidup tanpa merusak rantai kehidupan. Kita sudah tahu cara yang lebih beradab untuk bertahan hidup tetapi malah merusak rantai kehidupan karena sudah menjadi sifat kita untuk tidak pernah merasa cukup. Banyak binatang semakin punah bahkan es di kutub utara pun sudah mulai mencair dan kita masih bisa hidup tentram seolah tidak ada andil dalam kerusakan yang terjadi.

Berapa buah pendingin ruangan yang kita pasang di dalam rumah hanya untuk menyejukkan tubuh kita di dalam rumah. Semakin panas bumi ini semakin banyak pendingin ruangan yang diproduksi dan dipasang di setiap rumah. Tidak cukupkah panas yang kita rasakan saat ini membuat kita membuat kita berpikir andil kita terhadap rasa panas yang kita alami? Ketidakseimbangan alam yang terjadi akibat keegoisan kita.

Belum cukupkah kita memuaskan ego kita dengan memiliki lebih dari yang kita ‘butuhkan’ untuk bertahan hidup?

Tentunya kita kita tidak bisa memperbaiki kerusakan yang telah terjadi, tetapi kita bisa memperpanjang usia bumi dan memperlambat kerusakan terhadap bumi supaya generasi-generasi selanjutnya masih dapat menikmati tinggal di bumi. Mari merenungi gaya hidup kita apakah mempercepat kehancuran bumi atau memperlambatnya.

Buku pun selesai kami baca dan semakin menyadarkan kami untuk selalu bersyukur karena masih bisa menikmati dan tinggal di bumi sebelum masa kehancuran itu tiba.