Memeluk Emosi

Memeluk Emosi

Reading Time: 4 minutes

Menjalani homeschooling merupakan pencerahan bagi keluarga kami. Belajar satu sama lain, saling memahami antara satu sama lain dan mencoba untuk saling mengerti. Setiap kali mendapat ilmu untuk tujuan homeschooling ternyata selalu kembali kepada pembenahan diri orangtua. Mendidik anak bukanlah mengajari anak tetapi mengajari diri sendiri supaya bisa menjadi teladan bagi anak. Setiap pemelajaran yang terjadi di dalam menjalani homeschooling adalah proses mengenali diri.

Menyambung tulisan sebelumnya mengenai keakuan, tulisan ini akan membahas mengenai emosi dan luka lama. Emosi adalah luapan perasaan atau keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti sedih, malu, marah, gembira, kecewa, dan lain sebagainya. Sedangkan definisi dari luka lama di sini adalah sebuah pengalaman tidak menyenangkan dari masa lalu atas cara kita diperlakukan (oleh siapa pun) dan membentuk perilaku kita saat ini.

Orangtua membesarkan anaknya supaya anaknya bisa menjadi anak yang ‘berbakti’ kepada orangtua, bermanfaat bagi keluarga dan negara, menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik supaya kelak sukses dan mapan, membuatkan rumah di dekat rumah orangtuanya supaya bisa tinggal berdekatan dan banyak bentuk keakuan lainnya yang orangtua lakukan atas nama rasa sayang. Seorang anak yang dibesarkan sebagai kebanggaan orangtua, menuruti apa kata orangtua dan memenuhi harapan orangtua sebenarnya berada dalam tekanan emosi yang sangat besar karena semua perilakunya harus memenuhi harapan orangtua.

Seperti yang saya alami ketika duduk di bangku sekolah bagaimana susahnya untuk menduduki peringkat satu di dalam kelas. Ketika nilai-nilai ulangan saya tidak sebesar murid-murid lainnya, ketika saya dituntut untuk menggungguli siswa berprestasi di sekolah dengan kemampuan akademis yang pas-pasan. Ketika tuntutan itu tidak dapat saya penuhi saya pun dibandingkan, dimarahi dan diceramahi yang dengan perkataan yang menjatuhkan kepercayaan diri sehingga saya merasa orangtua saya membuat saya merasa bersalah, kecewa, kesal dan marah terhadap diri sendiri karena tidak mampu memenuhi keinginan mereka. Saya pun mulai bertumbuh dengan rasa takut, tidak mampu dan tidak percaya diri. Perasaan ini saya pendam dan tidak pernah saya tangani sampai saya dewasa dan akhirnya tanpa saya sadari membentuk kepribadian saya.

Setelah saya lebih dewasa dan berada dalam posisi ‘mampu’ membuat keputusan sendiri, pertentangan antara saya dan orangtua pun tidak terhindarkan. Saya selalu mencoba untuk berseberangan dengan setiap pemikiran mereka karena tidak ingin merasa bersalah lagi.

Menyedihkan memang ketika semua itu dilakukan atas nama cinta berbalut ego karena sebenarnya orangtua saya hanya ingin memastikan kehidupan yang lebih baik dari yang mereka miliki. Di saat yang bersamaan saya berterima kasih dengan cara saya dibesarkan karena menjadikan saya menjadi pribadi yang tidak cengeng dan mandiri. Selalu ada pelajaran yang bisa kita petik dari setiap kejadian. Cerita di atas bukan mengenai perlakuan orangtua saya terhadap saya, karena saya memahami mereka hanya melakukan apa yang mereka ketahui dengan caranya sendiri tetapi tentang hasil dari perbuatan kita sebagai orangtua yang dapat membuat luka terhadap anak kita tanpa kita menyadarinya.

Setelah mengikuti seminar Pak Gobind, saya baru sadar bahwa alasan saya terlalu keras dengan diri saya adalah bukan karena saya berprinsip melainkan karena saya tidak merawat dan menyembuhkan luka dari masa lalu tersebut di atas. Saya selalu menuntut hasil yang sempurna, melihat hasil seperti yang saya inginkan, dan sangat kaku dengan aturan. Untuk urusan pekerjaan mungkin baik, tetapi dalam kehidupan keseharian saya kesulitan mengelola emosi di dalam diri. Seringkali saya harus ‘merasa’ kecewa untuk hal-hal sepele. Emosi saya sering terpancing ketika saya tidak menemukan barang di tempat yang semestinya, ketika orang-orang di rumah tidak berlaku seperti yang saya pikir seharusnya mereka berlaku.

Untuk menghindari emosi yang saya rasakan ketika perasaan itu muncul seringkali saya diam dan mengalihkan pikiran saya dengan bekerja. Tidak jarang juga saya tidak bisa menahan diri mencerocos sampai semua pesan saya keluarkan baru merasa lega dengan melupakan perasaan orang tersebut. Yang selalu saya sesalkan adalah ketika saya kurang istirahat kemudian segala sesuatu dengan mudahnya menjadi pemicu untuk membuka luka lama saya.

Ternyata hal-hal yang selama ini saya hindari bahkan berjanji untuk tidak akan dilakukan telah menjadi bagian diri saya dan berevolusi dalam bentuk yang lain. Beberapa hari setelah seminar saya mencoba untuk melatih kesadaran mengenali luka yang ada di dalam diri. Mencari naga yang yang bersembunyi di dalam diri untuk menjinakkannya.

Kuncinya adalah belajar ‘merasa’. Bagaimana kita memperlakukan diri kita dan orang lain sebagaimana mestinya tanpa ada syarat yang melekat. Perasaan sayang yang dibalut dengan marah, kesal atau kecewa hanyalah sebuah ilusi dari luka lama kita. Naga yang terbangun dari tidurnya.

Pak Gobind membuat contoh ketika kita terluka di bagian tangan, kemudian seseorang menyentuh luka tersebut tentu rasa sakit akan kita rasakan. Sesungguhnya orang tersebut hanya mengingatkan kita akan luka yang kita miliki supaya kita merawat dan menyembuhkan luka tersebut. Luka tersebut ibarat pengalaman masa lalu kita yang pahit yang belum kita sembuhkan karena tidak tahu cara merawatnya. Orang yang menyentuh luka tersebut bisa jadi siapa saja termasuk anak kita yang sebetulnya bukan yang membuat kita terluka tetapi memberitahu dan mengingatkan kita akan luka masa lalu yang harus kita rawat dan sembuhkan. Berterima kasihlah kepadanya.

MEMELUK EMOSI

Ketika kita berhadapan dengan seseorang kemudian muncul emosi yang membuat kita tidak nyaman (terintimidasi, marah, malu dan lain sebagainya), berbicaralah dengan diri sendiri mengapa rasa itu muncul.

Keberadaan orang-orang di sekitar saya ternyata membantu saya untuk mengenali setiap luka dalam diri yang harus saya rawat dan sembuhkan. Caranya bagaimana? hadapi dan kenali sumber emosi yang kita rasakan. Berbicaralah dengan diri kita di masa lalu apa yang membuat kita terluka. Rawatlah luka tersebut dengan mengenali luka yang kita miliki sampai luka tersebut dapat kita sembuhkan.

Perbuatan adalah tanggapan dari emosi yang kita miliki. Saya harus belajar ‘merasa’ dan mengenali luka yang saya miliki. Emosi yang saya miliki tidak ada sangkut pautnya dengan orang tersebut. Seseorang yang membuat saya kesal, malu, marah atau benci adalah cerminan dari luka yang saya miliki. Saya harus belajar merasakan emosi yang saya miliki dan berhenti mengalihkan perasaan yang muncul setiap kali datang. Belajar menerima supaya terhindar dari keakuan supaya bisa merasakan tulusnya menyayangi.

Mari kita bersama-sama belajar merasa.

Belajar Melepas Keakuan

Belajar Melepas Keakuan

Reading Time: 3 minutes

Kali ini saya dan Nuni mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari Gobind Vashdev mengenai compassionate parenting. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan pada pemelajaran kali ini dan saya akan mencoba mengulas kembali hal apa saja yang menjadi perhatian saya ketika mengikuti kegiatan tersebut. Hasil belajar setiap orang bisa berbeda sehingga apa yang saya akan sampaikan sepenuhnya adalah interpretasi saya pribadi. Jika ada kekeliruan dalam tulisan ini sangat mungkin dikarenakan kesalahan interpretasi saya atau ketidakpahaman saya terhadap informasi yang saya terima dan sewaktu-waktu dapat diralat demi kejelasan informasi.

Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti seminar beliau. Fokus dari seminar ini adalah bagaimana orangtua dapat memahami arti dari kata cinta atau kasih sayang yang sebenarnya supaya kita bisa berhubungan baik dengan anak. Baru kali ini saya kesulitan menulis karena banyak sekali hal yang ingin saya sampaikan. Oleh karena itu saya akan membagi pengalaman mengikuti seminar Pak Gobind menjadi beberapa bagian supaya mudah untuk dibaca sekaligus memberikan saya waktu untuk mengulas kembali informasi yang saya terima.

Untuk bagian pertama, saya akan menyampaikan pelajaran yang saya terima tentang perbedaan sayang  dengan kemelekatan (tanpa mengurangi rasa hormat demi kejelasan berbahasa izinkan saya mengubah kata ‘kemelekatan’ dengan ‘keakuan‘ yang saya anggap mendekati arti yang dimaksud karena ‘kemelekatan’ tidak sesuai dengan norma berbahasa Indonesia). Saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk mencoba jujur dan berdialog dengan dirinya sendiri supaya mendapatkan manfaat dari apa yang akan saya bagikan.

Tanpa kita sadari ternyata kata ‘sayang’ yang selama ini kita gunakan berbeda makna dengan kata ‘sayang’ yang sesungguhnya ingin kita gunakan. Selama ini yang kita kenali adalah bentuk sayang dengan syarat. Kita melakukan sesuatu dengan melekatkan timbal balik dalam bentuk harapan. Contohnya kita menyayangi pasangan atau anak kita dengan harapan pasangan atau anak kita melakukan hal yang sama terhadap kita. Kita memarahi anak dengan balutan kata sayang untuk memperlembutnya dan menyembunyikan perasaan kita yang tidak dapat kita kelola dengan baik untuk mengontrol anaknya (disengaja atau tidak). Kita memperlakukan orang lain dengan baik dan berharap orang lain memperlakukan kita dengan baik juga. Pokoknya semua yang saya berikan atau saya lakukan harus saya terima kembali dalam bentuk yang sama. Sehingga ketika kita tidak menerima sesuai yang kita harapkan muncul rasa kecewa. Dari mana rasa kecewa ini bisa muncul jika bukan dari sebuah harapan?

Apakah sudah mulai terbayang kata ‘sayang’ (baca: keakuan) yang terjadi seperti dalam hubungan di atas? Anda boleh setuju atau tidak dengan hal ini. Tulisan ini bukanlah untuk mengkritik atau menghakimi tetapi sekadar berbagi, sebuah ajakan untuk meningkatkan kesadaran diri. Mungkin kita tidak tahu atau tidak sadar akan apa yang biasa kita lakukan. 

Apa yang terjadi ketika kita tidak menerima perlakuan sesuai harapan? Apakah kita masih merasakan hal yang sama untuk orang itu? Apakah hubungan kita dengan orang itu berubah? Kemudian apakah motivasi dari setiap tindakan yang kita lakukan berdasarkan pengharapan atau pelepasan?

Rasa sayang yang sesungguhnya tidak akan melekatkan apa pun kepada orang yang kita sayangi; anak, pasangan, orangtua, atau pun orang lain. Tidak ada sebuah harapan atau timbal balik dari perlakuan yang kita berikan baik secara fisik maupun emosi. Bahkan mungkin sebetulnya kita tidak mencintai pasangan kita, tetapi mencintai kriteria yang ada pada pasangan kita. Kriteria yang hanya ada di dalam pikiran kita sendiri sehingga ketika kita bertemu dengan seseorang yang ‘memenuhi’ kriteria tersebut, terjadi sebuah pemenuhan ‘keakuan’ di antara keduanya. Tanpa diantisipasi ternyata banyak sekali hal-hal yang tidak memenuhi kriteria dari pasangan tersebut setelah tinggal bersama sehingga rasa yang terjadi di antara keduanya hanyalah keakuan, “Kalau kamu tidak begini, aku akan begitu”, “kalau kamu anu aku akan anu”. Seringkali kita melakukan hal yang sama terhadap anak kita, misalnya, “kalau kamu tidak menghabiskan makanannya, kita tidak jadi beli es krim ya”.

Jika memang begitu adanya, saya ingin mengatakan “aku tidak mencintaimu istriku. Aku ingin belajar melepasmu, mendukungmu sampai kamu mencapai potensi diri tertinggimu. Aku akan selalu bersamamu, menerimamu dan memahamimu, bukan mengubahmu seperti apa yang aku inginkan.”

Untuk ananda Kiran, semoga ini menjadi pengingat untuk ayah supaya ayah bisa menyayangimu tanpa syarat. Ayah akan belajar untuk tidak melekatkan keakuan dan menyayangimu apa adanya.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” ― Sapardi Djoko Damono

Jangan Remehkan Pertanyaan Anak

Reading Time: 2 minutes

Sisa hujan semalam masih mengguyur atap rumah kami di pagi hari yang membuat kami malas keluar untuk bersepeda pagi. Karena saya ada jadwal wawancara dengan pelamar kerja saya pun harus segera bersiap-siap berangkat kerja dan saya mengajak Kiran untuk mandi bersama. Sebelum mandi bersama Kiran sempat bertanya “What kind of leaves that silk worm eats?” Kiran mengajukan pertanyaan tersebut karena hari Jumat yang akan datang kami akan mengikuti kegiatan SHINE mengenai ulat sutera di Bogor. Kemudian saya menjawab daun pohon murbei (otomatis menjawab sok tahu). Kemudian kok terasa aneh memberitahu Kiran hal yang saya sendiri tidak ketahui dengan pasti (hati langsung tidak nyaman dan merasa bersalah). Kemudian pertanyaan selanjutnya dari Kiran adalah “What so special about silk worm?”. Pertanyaannya semakin berat untuk dijawab yang membuat saya sadar dari respons tidak bertangung jawab saya satu menit sebelumnya. Saya pun mengajak Kiran untuk menjadikan pertanyaan ini sebagai kegiatan hari ini bersama Nuni karena saya tidak akan berada di rumah seharian.

Beberapa menit berselang dan kami pun memasuki kamar mandi. Kemudian Kiran melihat sesuatu di lantai kamar mandi kemudian bertanya kembali “What is that Ayah?” saya menjawab “It looks like algae” disambung dengan pertanyaan selanjutnya “What is algae?” kemudian saya menjawab “Hmm I’m not sure what it is. How about we check on the internet and find it out?”. Saya bersyukur hari ini dapat mengelola emosi saya dengan baik karena biasanya kalau sedang terburu-buru banyak hal yang saya acuhkan termasuk pertanyaan atau komentar dari Kiran.

Dalam hati saya bergumam “Wah banyak sekali ternyata yang saya tidak tahu ya”. Kami pun melanjutkan kegiatan kami di kamar mandi dan 5 menit kemudian tiba-tiba Kiran bertanya lagi “How did dinosaurs died?” Tidak bisa menahan diri untuk menjawab saya pun terpancing mengatakan “because of the meteors. There were meteors hit earth and killed the dinosaurs”. Saya mulai khawatir karena tidak tahu pertanyaan selanjutnya seperti apa. Kemudian pertanyaan lanjutan dari Kiran adalah “Is it real?”. Seperti yang saya duga, saya kebingungan dibuatnya. Tiba-tiba saya menyadari bahwa selama ini saya tidak pernah meluangkan waktu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dinosaurus, hanya berbekal kata orang saja atau bacaan dari sumber yang tidak jelas. Selanjutnya saya berpikir bagaimana saya memperoleh informasi yang saya miliki saat ini. Akhirnya saya harus berkata “You are asking a lot of questions and I am happy about it. Unfortunately I do not know the answers. How about we make a list and start finding out what you really want to know”. Kiran pun setuju dan saya mulai menuliskan semua pertanyaan Kiran pagi ini.

Sebelum berangkat kerja, saya berdiskusi singkat dengan Nuni untuk memastikan Nuni mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang saya tulis di papan tulis dan meminta Nuni untuk melakukan riset di internet bersama Kiran hari ini.

Saya berangkat kerja dengan perasaan sedih, bahagia dan bangga. Masih banyak hal yang harus saya benahi sebagai orangtua dan salah satunya adalah untuk berhenti menjadi orang yang sok tahu. Memang benar belajar adalah sebuah perjalanan dan bukan tujuan. Saya sangat menikmati proses homeschooling keluarga kami karena itulah yang memaksa kami semua untuk terus belajar setiap saat dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu terlepas dari usia kami.

Semoga pengalaman saya di atas dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak pernah menganggap remeh komentar atau pertanyaan dari anak-anak kita. Kita harus selalu waspada (terhadap diri kita sendiri) untuk selalu terjaga dan siap berdiskusi bersama anak sesibuk apa pun kita. Jika ada pengalaman lain dari para pembaca silakan tinggalkan pengalaman Anda di kolom komentar semoga bisa menjadi bahan belajar untuk kita semua.

I Need Time Out for a While

Reading Time: 3 minutes

Bayangkan dua kejadian ini di pagi hari, Anda sedang menyiapkan sarapan sambil mengingatkan anak Anda untuk mandi, 15 menit kemudian ternyata si anak masih belum mandi. Anda mengingatkan lagi untuk mandi. Keran air terdengar menyala dan ketika Anda melongok ke dalam kamar mandi, bak mandi penuh busa, mainan basah di lantai, isi botol shampoo habis. Kejadian yang kedua, kakak dan adik sedang main bersama. Si kakak senang sekali menggoda si adik dan adik menangis ketika digoda kakaknya. Tetapi jika kakak diam, si adik akan mulai menggoda si kakak. Anda tinggal sebentar, ternyata mereka sedang memperebutkan sesuatu, si adik menangis, dan mainan berantakan di mana-mana.

Do they sound familiar? Mungkin itu hampir pernah dirasakan oleh semua ibu ya. Kalau dipikir-pikir rasanya mau memarahi anak. Tapi apakah memarahi anak sampai suara naik beberapa oktaf akan menyelesaikan masalah? Apakah nyerocos kepada anak sampai Anda puas berarti anak mengerti kesalahannya? Tidak bunda. Penelitian menunjukkan bahwa sel-sel otak anak akan hilang apabila Anda menggunakan suara keras apalagi membentaknya. Memarahi anak di depan umum juga bukanlah cara yang baik dan bijak. Mengapa? Karena anak akan merasa malu dimarahi di depan orang lain, bahkan di depan kakak atau adiknya. Anak adalah pribadi yang punya harga diri dan harus Anda hormati. Anda juga tidak mau diperlakukan seperti itu kan? Jadi apabila Anda mengalami situasi seperti dua kejadian di atas, Time Out adalah salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengelola emosi Anda.

Apa itu Time Out?

Time Out adalah salah satu metode self- control yang orang tua bisa lakukan di rumah ketika emosi tidak terkontrol. Pada awalnya, Time Out adalah konsekuensi yang diterapkan oleh sekolah tempat saya mengajar dulu. Ketika anak murid melakukan hal yang melanggar peraturan dan anak tersebut sudah diingatkan berkali-kali, konsekuensi yang diterima oleh anak adalah Time Out, yaitu berhenti dari kegiatan yang sedang dilakukan, duduk di kursi atau suatu tempat, dan menenangkan diri. Apabila sudah tenang kembali, anak tersebut akan diajak bicara oleh guru. Sejalan dengan ide tersebut, untuk Time Out ini, kitalah sebagai orang tua yang menggunakan metode ini untuk menenangkan diri sejenak. Apabila diri kita sudah tenang, ajak anak untuk membicarakan perilakunya dan memutuskan bersama apa yang harus diperbaikinya.

 Seperti apa teknis Time Out? Ingatkan anak untuk menghentikan kegiatan yang sedang ia lakukan. Katakan kepadanya bahwa Anda tidak suka dengan tindakannya dan Anda butuh Time Out. Biarkan anak duduk dan memikirkan perilakunya yang sudah membuat Anda kesal. Bicarakan insiden dengan anak Anda baik-baik setelah emosi Anda reda. Diskusikan baik-baik agar anak mengerti kesalahannya dan cari jalan keluar bersama agar hal tersebut tidak terjadi lagi. Setelah beberapa kali menerapkan metode Time Out ini di rumah, anak saya mengerti bahwa ketika orang tuanya membutuhkan Time Out, berarti ada tindakan atau perilakunya yang harus diperbaiki.

Ketika bertemu Bu Septi Wulandani di event Kamtasia beberapa bulan lalu, saya menanyakan bagaimana beliau bisa mengelola emosinya ketika mengajar dan mendidik 3 orang anak yang usianya terpaut tidak jauh satu sama lain. Selama 9 tahun mengajar di sekolah menghadapi 24 anak yang setiap hari berkonflik sudah merupakan makanan sehari-hari untuk saya. Tetapi ketika menghadapi anak sendiri, sungguh menguras emosi. Bu Septi menjelaskan bahwa emosi dalam menghadapi anak itu wajar, tetapi bagaimana cara mengatasi emosi tersebutlah yang penting. Jangan sampai anak menjadi korban emosi kita yang tidak terkontrol. Cara yang Bu Septi lakukan adalah ketika beliau kesal dengan anaknya beliau memasuki ke kamar mandi, menyalakan air keran, dan menangis sampai perasaan beliau lega. Ketika perasaan lebih baik, barulah Bu Septi keluar dan kembali lagi mengajar ketiga anaknya. Setelah itu beliau akan membahas masalah yang terjadi dengan anak-anaknya. Cara yang Bu Septi pakai ternyata sama dengan Time Out yang dipakai di sekolah saya dulu. Jadi tidak hanya anak yang butuh waktu untuk menenangkan diri, orang tua juga ternyata memerlukannya.

Time Out untuk saya benar-benar bermanfaat. Selain membantu saya mengelola emosi, juga membawa dampak positif untuk anak saya. Kiran menjadi lebih peka dan lebih mengerti ketika diajak berdiskusi. Perlu diingat oleh  orang tua, sering kali ucapan yang keluar dari hati yang penuh emosi akan menyakiti orang yang menjadi lawan bicara, dalam hal ini anak sendiri.  Lagipula, marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada malah membuat kepala Anda sakit.

Ayah (Mengira) Tahu yang Terbaik Untukmu Nak

Ayah (Mengira) Tahu yang Terbaik Untukmu Nak

Reading Time: 2 minutes

Copi adalah seorang ayah yang mencoba mengajari anaknya yang bernama Paste dengan baik. Kebahagiaan Paste adalah segalanya bagi Copi. Segala sesuatunya sudah disiapkan untuk Paste supaya Paste bisa menjadi seorang anak yang berhasil. Tetapi Paste tidak melakukan hal-hal yang diharapkan Copi mulai merasa tidak bahagia yang kemudian ternyata sedikit demi sedikit merenggut kebahagiaan Paste. Seperti apa ceritanya? Silakan Anda tonton sendiri film singkat yang berjudul Alike.

Film singkat di atas mengingatkan saya dengan cara kita semua dibesarkan (setidaknya untuk generasi saya atau pendahulu saya), “pendidikan” sangatlah penting bagi “masa depan” kita, begitulah petuah yang sering kita dengar dari orangtua kita. Tidak ada yang salah dengan petuah tersebut karena setiap orangtua akan melakukan segalanya demi kebahagiaan anaknya.

Hanya saja bagaimana caranya kita mengetahui bahwa anak kita bahagia?

Orangtua seringkali lupa dan beranggapan bahwa dirinya lebih tahu apa yang terbaik untuk kebahagiaan anaknya. Bahkan kita sering mendengar ungkapan bahwa kita harus menjadi “orang” yang diartikan sebagai seseorang yang dihormati orang lain dan terpandang yang biasanya mengacu pada sebuah status, baik itu status ekonomi atau pangkat.

Orangtua mulai mengambil kendali tanpa melibatkan anaknya untuk menentukan masa depan si anak. Para orangtua mulai khawatir anaknya tidak mampu “bertahan hidup” sehingga mereka beranggapan bahwa dengan mempersiapkan anaknya lebih awal, anaknya dapat mencuri start lebih dulu sehingga anaknya bisa “tampil” dan menjadi juara. Sayangnya perilaku seperti ini bertolak belakang dengan tujuan awal memberikan kebahagiaan kepada si anak. Sebuah awal yang sangat menentukan bagi kebahagiaan si anak. Waktu bermain yang semakin sedikit, kreatifitas yang mulai dibatasi, hingga tekanan dari ketidaksiapan mental dan fisik anak yang ditumbalkan yang berawal dari rasa khawatir anaknya tidak bisa menjadi “orang”.

Apakah ini sebuah penghakiman bahwa apa yang orangtua kita lakukan salah? Tentu saja tidak. Ini adalah pelajaran hidup yang sesungguhnya. Semua orang bertindak atas pengetahuan dan pilihan yang dimilikinya masing-masing. Analogi sederhananya adalah seperti kebiasaan kita memakan sayuran. Apakah kita memakan sayuran karena kita tahu itu sehat untuk tubuh kita meskipun kita tidak suka dengan rasanya atau kita tidak memakan sayuran karena kita tidak suka rasanya yang aneh meskipun kita tahu tubuh kita memerlukan nutrisi dari sayuran tersebut.

Mari sapa anak kita apakah dirinya merasa bahagia?

Pentingnya Konsep Diri Positif

Reading Time: 4 minutes

Ingat masa-masa kita sekolah? Ketika menerima hasil ujian yang kurang baik, tentunya  semua orang merasa kecewa, sedih mungkin juga marah dengan diri sendiri. Setelah itu ada yang menyerah dengan keadaan dan terus bersedih atau meratapi  nasib ada juga yang termotivasi untuk mencoba lebih keras. Kira-kira apa ya yang  menyebabkan perbedaan dari kedua reaksi ini?

Salah satu hal yang memengaruhi seseorang dalam menghadapi tantangan dalam hidupnya adalah cara pandangnya terhadap sesuatu dan ini berkaitan erat dengan konsep diri (http://www.gozen.com/why-one-kid-gives-up-while-another-one-does-not-a-visual-story/). 

Konsep diri adalah bagaimana kita menilai dan memandang  diri kita sendiri, yang kemudian akan menentukan bagaimana kita menjalani hidup.  Apabila kita memiliki pandangan positif dan sehat maka pengalaman kita akan positif juga. Bukan berarti kita tidak akan mengalami kesulitan tetapi kita akan memiliki pendekatan yang sehat dan baik ketika menghadapi suatu masalah. Apabila pandangan atau penilaian terhadap diri kita kurang baik dan rapuh maka ketika menghadapi kesulitan dalam hidup kita akan merasa sangat kesusahan dan kewalahan. Apabila anak memiliki konsep  diri yang positif tentunya akan sangat menolong dirinya dalam menjalani hidupnya sehari-hari.

Konsep diri bersumber dari respon atau penilaian orang terdekat terhadap diri kita dan penilaian terhadap diri sendiri.

Konsep diri positif: saya cantik, saya pandai memasak, saya pintar menggambar.
Konsep diri negatif: saya hitam, saya pendek, saya tidak bisa memasak, saya menggambar lingkaran saja jelek.

Perlu diingat konsep diri ini adalah masalah PERSEPSI. Jadi bisa saja dua orang sama-sama hitam dan pendek tapi yang satu merasa cantik/ganteng, yang satu lagi merasa jelek. Dua  orang yang memiliki kemampuan memasak yang sama tapi yang satu tetap merasa tidak bisa apa-apa sedang yang satu lagi merasa bangga dengan kemampuannya.

Orang tua diharapkan tidak memberi cap pada anak, baik yang diucapkan atau yang dirasakan dalam hati. Menggunakan kalimat yang positif ketika berkomunikasi dengan anak.

Contoh:

“Aduuh, susah banget ngajarin kamu”  diubah menjadi Kamu bisa kok nak, hanya perlu waktu saja, ayo kita coba lagi”.

“Gitu aja kok ga bisa” diubah menjadi  “Yuk kita coba lagi, tadi hanya kurang sedikit kok. Ayo semangat.”

“Kamu nih bikin malu ibu”  diubah menjadi “Jangan khawatir, kita semua pernah buat salah, mama tau kamu anak baik. Kesalahan kan proses belajar.”

“Duuuh males banget siih”  diubah menjadi Mungkin kamu capek ya. Ayoo.. semangat. Sebentar lagi selesai kok.”

Bagaimana orang tua dapat membantu menumbuhkan konsep diri positif pada anak? 

1. MULAI DARI ORANG TUA DULU

  • Orang tua yang memiliki konsep diri positif, anaknya positif pula. Jadi yang merasa jelek, tidak becus dan lain-lain, segeralah diperbaiki. Sadari bahwa kita semua unik dan punya kelebihan. Kalau kita merasa jelek karena fitur tubuh yg kita tidak suka, sama saja kita bilang ke anak kamu juga jelek karena hidungmu pun tidak mancung seperti ibu. Atau kalau kita rajin sekali mengkritisi diri sendiri, maka anak juga akan dengan sangat mudah mengkritisi diri sendiri.  Hal ini akan menumbuhkan keraguan dalam diri anak pada kemampuannya sendiri.
  • Berdamai dengan masa lalu. Kita semua punya masalah dan sampah masa lalu. Berdamailah dan maafkanlah masa lalu itu. Karena sampah masa lalu itu dapat membuat pandangan kita ke depan menjadi negatif dan memberatkan langkah kita.

2. PAHAMI APA ITU KONSEP DIRI

Komponen konsep diri:

1. Gambaran tentang diri

  • fisik: saya tinggi, saya gemuk
  • afeksi: saya penyayang, saya pendiam, saya pemalu
  • keahlian: saya seorang ayah, saya guru, saya ibu

2. Bagaimana kita menilai diri sendiri (kepercayaan diri) 

Positif: saya suka tubuh saya, saya ibu yang hebat
Negatif: saya terlalu tinggi, saya ibu yang ga becus

Komponen kepercayaan diri atau self esteem:

Harga Diri

Anak yang merasa dihargai keberadaannya, yang didengar oleh orang tersayangnya akan cenderung memiliki kepercayaan tinggi. 

Yang bisa dilakukan:
– Sapa anak dengan penuh kebahagiaan ketika bertemu (bangun tidur, habis main, pulang sekolah, dll)
– Panggil dengan nama, bukan olokan
– Bicara dengan penuh kasih
– Mendengarkan anak dengan penuh perhatian

Keberhasilan

Perasaan bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu dan berhasil, akan menumbuhkan rasa percaya diri

Yang bisa dilakukan:

– Beri anak kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri sesuai usianya. Berilah pilihan sederhana dan hargai pilihannya. Contoh, sejak kecil memilih baju sendiri.

– Beri kesempatan untuk mengalami keberhasilan kecil sesuai usia. Tentu saja perlu diingat semua proses. Kalau gagal, anak diberi semangat bukan dimarahi. Contoh : pakai baju sendiri, merapikan kamarnya, membantu memasak dan jangan samakan hasilnya dengan orang dewasa. Hargai proses yang telah mereka lakukan agar anak tidak patah semangat.

– Terlibatlah dalam kegiatan yang anak sukai walau kita tidak suka. Ini akan menunjukkan bahwa kita mendukung anak.

Konsistensi

Anak butuh keteraturan. Segala perubahan sebaiknya luangkan waktu untuk menjelaskan kepada anak. Aturan-aturan yang dibuat hendaknya konsisten dan berlaku untuk semua orang. Apabila ada pengecualian, harus didasari alasan yang jelas untuk anak. Libatkan pula anak dalam membuat aturan-aturan dalam rumah.

Pujian dan Penghargaan

Pujian dan penghargaan dapat menumbuhkan rasa suka terhadap dirinya sendiri atau menumbuhkan kepercayaan diri. Rayakan keberhasilan anak dengan cara yang sederhana dan terima kegagalannya sebagai proses belajar dengan membesarkan hatinya. 

Gambaran ideal tentang diri: 

Bantu anak memiliki keinginan  untuk  menjadi lebih baik dengan mencontohkan impian atau bayangan ideal tentang diri kita sendiri.

– Saya ingin jadi ibu yang selalu hadir buat anak.

– Saya ingin jadi pengusaha sukses.

3. KENALI TEMPERAMEN ANAK

Setiap anak berbeda dan spesial. Ada yang pendiam dan ada yang aktif. Ada yang sensitif ada yang tidak. Ada yang mudah berteman ada yang suka menyendiri.

Semua ini hanya ciri-ciri unik seseorang. Tidak ada yang lebih baik dan buruk. Temperamen adalah pola tindakan dan emosi  yang menjadi karakterisktik seseorang yang berpengaruh terhadap cara merespon lingkungan.  Dalam membimbing anak, kita harus memerhatikan dan mengenali tempramen anak. Dengan mengetahui temperamen anak, orangtua dapat membantu keunikan anak ke arah yang lebih positif. Jangan memaksa anak untuk seperti anak yang lain. Fokuslah pada kelebihannya. Ketika orangtua merespon anak sesuai dengan temperamennya anak akan tumbuh sehat dan gembira. Hal ini juga akan mengurangi rasa frustasi orang tua dan anak. 

Demikian 3 langkah yang dapat orangtua lakukan untuk membentuk konsep diri positif dalam diri anak. Apabila anak memiliki konsep diri positif, maka akan lebih mudah untuk dirinya mengadapi tantangan hidup.  Konsep diri positif membuat anak melihat dirinya dan lingkungannya dengan positif juga, dengan pandangan ke depan yang positif maka dengan mudah anak-anak mencintai dirinya dan lingkungannya. Tentunya dengan rasa cinta ini, insya allah anak-anak dapat membuat keputusan yang baik pula terhadap kehidupannya.