Pengakuan Dosa Vs Keteguhan Prinsip

Pengakuan Dosa Vs Keteguhan Prinsip

Pagi ini ketika saya bangun tidur, saya menemukan Kiran sedang asyik bermain dengan kereta api mainannya. Saya duduk di sofa dan menyapanya, Kiran langsung berkata “Ayah, I’m sorry if I used your batteries for my train yesterday.” dengan spontan saya merespons “Why did you do that? Why did you not ask permission first?” mencoba mengingatkan peraturan yang telah kami sepakati bersama untuk selalu meminta izin ketika hendak menggunakan barang orang lain.

Kemudian Kiran membalas pertanyaan saya dengan alasan “but I only used it for a short time. Your battery still have power.” Mendengar alasan itu saya pun menunjukkan kekecewaan saya bukan karena baterainya yang dia digunakan tetapi karena Kiran tidak meminta izin. Saat itu saya berpikir ini adalah masalah prinsip dan tidak bisa dibiarkan, Kiran harus tahu bahwa ayahnya sedih dan kecewa. Guilt trap, hal yang saya sendiri tidak sukai tetapi secara spontan saya lakukan terhadap Kiran dengan alasan ingin mengajarinya bahwa tindakan itu tidak dapat dibenarkan.

Akhirnya saya pun memaafkan Kiran dan mengingatkannya untuk selalu meminta izin jika ingin menggunakan barang orang lain. Masalah selesai, Kiran pun kembali bermain dan saya bersiap-siap untuk bekerja.

Ketika sedang bermotor menuju tempat kerja, saya masih memikirkan tentang kejadian tadi. Wajahnya yang menyesal masih terbayang dengan jelas. Terasa ada yang mengganjal dan mengganggu pikiran saya mengenai kejadian tersebut. Sepanjang perjalanan pun saya mencoba mencari tahu apa yang salah dengan kejadian tadi pagi. Saya mulai mempertanyakan apa yang akan saya lakukan jika saya adalah Kiran. Saya tahu apa yang akan saya lakukan, berbohong dan tidak akan ada yang tahu.

Timbul penyesalan dalam diri karena terlambat menyadari bahwa saya seharusnya merespons dengan cara yang berbeda. Dengan penuh kesadaran sekarang saya mencoba untuk membayangkan kejadian tersebut dengan menunjukkan apresiasi dari keberaniannya mengakui kesalahan yang dia lakukan. Padahal kalau Kiran tidak mengatakan hal itu saya pun tidak akan tahu bahwa baterainya dipakai dan tidak akan ada masalah timbul pagi ini. Seharusnya kejadian pagi ini menjadi pengalaman yang lebih berarti bagi kami daripada hanya sekadar berpegang teguh pada prinsip apa pun yang terjadi.

Pelajaran lagi sebagai orangtua (yang seringkali merasa lebih tahu daripada anak) untuk selalu mengambil jeda sebelum merespons terhadap suatu kejadian khususnya yang berkaitan dengan prinsip.

Ada kalanya kita harus mengesampingkan sesuatu untuk menyambut sesuatu yang lain.

Guardian of a Child of God (8)

God has entrusted this life into your hands and your protection. All that is asked of you is that you think of youe child and look at your child and treat your child as if this were God’s child also. Don’t be afraid to trust yourself as you have been trusted. You are indeed caring for God’s own child. This means you’ve got a lot of help.

Hugh & Gayle Prather

Spiritual Parenting : A Guide to Understanding and Nurturing the Heart of Your Child

Guardian of a Child of God (7)

Using our kids’ desires as leverage is just one of many ways we manipulate them, but it is a particularly unloving way because, in a sense, we are asking them to sell their souls. We hold out something they want and say “You can have it as soon as you become the person I want you to be.”

Hugh & Gayle Prather

Spiritual Parenting : A Guide to Understanding and Nurturing the Heart of Your Child

If you are to see your child from a perspective greater than your ego history, you must approach child care as holy work. Which means happy work. If you can relax and enjoy your child-instead of straining againts the burdens of child care-you are doing all any mother or father ever need do. You have, in fact, begun the healing of the world.

Read more

All that we teach our kids by consistently trying to correct them in anger is that we believe deeply in anger as the most effective approach to difficulties.

These parents must remember that it is not the parents’ function to turn againts their children. It is the child’s function to turn againts the parent-if that is what happens. And very often adolescents and adult children appear to do just that, even as we have so often rejected the One who never rejects us.

Read more

Only Peace leads our children to peace; only love can find the place of Love.

Read more