Berakhir Pekan di Sarongge

Berakhir Pekan di Sarongge

Waktu menunjukkan pukul 2 pagi, saya segera bersiap-siap dan memesan layanan ojek online untuk mengantar saya ke salah satu SPBU di jalan Gatot Subroto, Jakarta. Setelah menunggu lama akhirnya saya berhasil tiba di lokasi sekitar pukul 03.30 dan bertemu teman-teman baru yang akan menghabiskan waktu bersama selama 2 hari ke depan dengan tema kegiatan The Forest Romance. Kami akan pergi ke Sarongge di daerah Cianjur untuk bertemu penulis buku Cerita Hidup Rosidi dan Sarongge, Tosca Santoso. (more…)

Belajar Bersama Goes to Nature

Belajar Bersama Goes to Nature

Berikut ini adalah dokumentasi kegiatan perdana Belajar Bersama Goes to Nature di Bumi Perkemahan Mandalawangi di Cibodas Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Terdapat 11 keluarga yang turut serta dalam kegiatan perdana ini.


Apa itu Belajar Bersama Goes to Nature?

Ini adalah salah satu kegiatan luar ruangan Belajar Bersama yang akan kami adakan setiap bulan dengan mengumpulkan keluarga pecinta alam untuk berkegiatan bersama. Latar belakang kegiatan ini kami adakan untuk melatih ketekunan dan kreatifitas dalam bermain serta menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap alam sekitarnya, dan menumbuhkan kesadaran khususnya masalah sampah. Kami melihat kebutuhan anak-anak kami yang sudah jarang menjejakkan kakinya menyentuh tanah, batu, rumput dan mereka terlalu terbiasa melihat sampah.

Kapan dan di mana kegiatan ini dilakukan?

Kami berencana mengadakan kegiatan di alam bebas secara rutin setidaknya setiap bulan. Saat ini kegiatan yang akan kami adakan adalah, berkemah dan naik gunung. Alternatif kegiatan lainnya mungkin bertambah seiring waktu berjalan berdasarkan kebutuhan keluarga yang ada. Kegiatan ini akan berpindah-pindah berdasarkan kebutuhan pada saat itu

Kegiatan ini untuk siapa?

Meskipun kegiatan ini diadakan oleh perkumpulan keluarga homeschooling Belajar Bersama tetapi kegiatan ini terbuka untuk umum (menjalani homeschooling maupun bersekolah) tetapi tertutup hanya untuk keluarga bukan orang yang masih lajang. Bertemu dengan orang baru dapat melatih kepercayaan diri setiap anggota keluarga baik orangtua maupun anaknya untuk berani berinteraksi dengan orang baru yang belum dikenalnya.

Apa yang dilakukan selama berkegiatan?

Ini adalah pertanyaan kebanyakan orang pada saat kami melakukan kegiatan perdana kami sekaligus menjadi sorotan kami bagi siapa pun yang berminat untuk mengikuti kegiatan ini untuk mengantisipasi rasa kecewa yang tidak diinginkan. Kegiatan utama kami adalah untuk tidak melakukan banyak kegiatan selama kegiatan berlangsung. Kami ingin melatih insting anak-anak untuk secara alamiah merespons terhadap apa yang ada di sekitar mereka. Tidak ada kegiatan menggambar, bermain gawai, atau kegiatan lainnya yang bisa dilakukan di rumah. Sesungguhnya orangtua yang akan belajar banyak dari anak-anaknya karena anak-anak tahu bagaimana caranya bersenang-senang dan menikmati waktu mereka selama berada di alam terbuka tanpa memikirkan apa pun dan hanya berfokus pada “saat ini”. Setidaknya itulah pelajaran paling berharga yang kami dapatkan dari anak-anak kami ketika melakukan kegiatan perdana ini. 

Bagaimana cara mendapatkan informasi kegiatan ini?

Semua kegiatan kami akan kami informasikan melalui Facebook Page Belajar Bersama. Untuk memastikan keluarga Anda tidak ketinggalan informasi, silakan ketuk tombol “like” dan semua informasi yang kami buat akan secara otomatis muncul di beranda Facebook Anda.

Apakah ada syarat khusus untuk mengikuti kegiatan ini?

Ya, semua peserta kegiatan diharapkan memikirkan sampahnya. Kami ingin mengajak semua orang untuk menjadi panutan bagi anak-anak kami dengan melatih kepekaan terhadap masalah sampah. Mengingat kegiatan perdana kami masih memproduksi sampah yang cukup banyak, kami akan menerapkan aturan yang lebih terperinci mengenai pilihan makanan yang boleh dan tidak boleh dibawa selama berkegiatan untuk mengantisipasi timbulnya sampah anorganik yang dapat mengganggu dan mengotori lokasi kegiatan.

Silakan kunjungi FB Page Belajar Bersama jangan sampai ketinggalan kegiatan kami selanjutnya


Testimoni dari beberapa peserta kegiatan

‘ayo bu… naik gunung, ternyata seru disini..

‘wah.. hati hati ya nak..

‘iya bu.. dengan antusias orion dan luna naik ke tangga batu menuju bumi perkemahan mandalawangi taman nasional gunung gede pangrango kemarin.

‘ketemu sungai… ihh deras airnya..

‘seru ya or… suka suka… kata luna dengan gembira.

‘iya lun.. ayo kutuntun, ini tanjakan lhoo… orion membantu adiknya naik, sementara ibu dibelakang sambil menggendong carrier..😀

‘hati hati ya kakak dan adik… adiknya dituntun, lihat jalan didepan…

begitulah ketika kemarin menemani anak anak di camp ground..

~ Verena Ety Prasetyaningsih, Bogor ~

Hai, baru pulang dari rumah waktu refleksi sekalian posting dan sharing cerita camping Mandalawangi.

Pengalaman yang hangat dan pertama yang tidak akan terlupakan walau dihantam dengan suhu malam 16C.

Bertemu dengan semua keluarga yang berbeda latarbelakang dari sekolah dan yang menjalankan HS. Dari yang umur nya tua sampai yang bayi.

Berbaur di perkemahan sana. “Seru”, “senang”, itu saja kata anak-anak saya.

Hidup ini seperti napas, kita merasakan, mengambil napas dan menghembuskan nya lagi. Kenapa bernapas harus ditahan?

Terima kasih keluarga Ayah Kiran, mbk Nuni Amaliah, Nada, Yulia Karlina, Metta Setiawan, Verena Ety Prasetyaningsih, mbk Weni Widiafransi, mbk Siti Andriani, Annette Varash (ini saya salut karakter bumil satu ini), keluarga mbk Ira, dan anak anak.

Kita disini sama derajat semuanya. Semoga postingan saya bisa menginspirasi bagi keluarga single parent seperti saya dan yang lainnya.

Bangga pada anak anak saya yang tidak mengeluh sedikitpun.

~ Yemmi Liu, Sukabumi ~

Akhirnya hari yang sudah ditunggu-tunggu Benn, datang sudah. Hari ini kami akan pergi ke Cibodas untuk ikut acara kemping Belajar Bersama Goes to Nature di Wisata Alam Mandalawangi – Cibodas.

Subuh dibangunkan, langsung bangkit dari tempat tidur dan menyiapkan diri ganti baju. (Meskipun setelahnya sembari menunggu Mami Papi final check barang bawaan, agak molor lagi di sofa hahaha).

Ooopsss…tol Merak-Jakarta muacettt, mari kita putar arah, lewat tol Jorr saja. Thanks God, perjalananan lancar hingga sampai di tujuan.

Yayyy…sampai juga kami di Kawasan Wisata Alam Mandalawangi Cibodas, sejukkk segarrr.

Benn sudah tidak sabar berjalan menuju lokasi tempat kita akan kemping. Apalagi setelah tau kalau Kiran sudah sampai di lokasi dari tadi.

Wah ternyata lumayan juga naik turun tangga, sedikit jalan berbatu untuk menuju lokasi kemping di pinggir sungai. Tapi begitu sampai lokasi, langsung terbayar rasa capek di awal tadi. Cakep lokasi kempingnya, persis di pinggir sungai. Benn n Mia langsung tak sabar ingin nyebur ke air, apalagi melihat teman-teman yang lain sudah pada seru berbasah-basahan di sungai.

Sabar ya Nak, kita dirikan tenda dulu. Supaya nanti selesai main air, sudah ada tempat istirahat jika perlu.

Sungainya jernih sekali, segar dan pastinya duinginnnnnn.

Meskpun dingin, tapi anak-anak pada betah sekali bermain tak henti-henti.

Termasuk anak kecil ini, mencoba menyeberangi sungai dari satu batu ke batu yang lain.

Sesekali hendak lompat bergaya streamline jump, ooppsss…stop! Sungainya kurang dalam untuk streamline jump, Nak, jidat bisa terbentur batu nanti.

~ Metta Setiawan, Karawaci ~

Akan selalu ada yang kami pelajari disaat berkegiatan bersama dengan anak-anak. Begitupun disaat kami berkegiatan bersama di alam bersama teman-teman keluarga Belajar Bersama di bumi perkemahan mandalawangi cibodas.

Belajar dari alam, belajar tanpa menjudge apapun, belajar arti kebersamaan, belajar menghargai perbedaan, belajar mencintai alam, belajar mengenal pencipta diri dan semesta.. tanpa membawa ego diri, melepas segala penat, menghirup udara yang seakan mengingatkan kami, menyadarkan kami akan tanggungjawab yang ada didalam diri kami, menjaga alam sebagai wujud kehadiran kami di muka bumi ini.

~ Weni Widiafransi, Bekasi ~

Setiap kegiatan bersama beberapa keluarga homeschool, selalu menimbulkan kesan dan hikmah tersendiri bagi kami. Kami belajar saling kenal-mengenal, dan belajar memahami. Belajarnya sambil menikmati alam. Hanya menikmati alam. Sungguh memukau dan menyenangkan.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal….” kutipan QS 49:13

*Kemping di Mandalawangi, Cibodas. Jumat-Sabtu, 16-17 Juni 2017. Ramadhan.

~ Siti Andriani, Jakarta Pusat ~

Trekking pagi ini….

Alam, sumber belajar yang kaya namun kadang terlupakan dan terabaikan.

~ Annette Mau, Kelapa Gading ~

Trekking di Gunung Mandalawangi

Trekking di Gunung Mandalawangi

Minggu kami trekking ke Gunung Mandalawangi di Cijapati daerah perbatasan Bandung dan Garut. Kami berkegiatan dari jam 10 pagi dan kembali ke kaki gunung pukul 4 sore. Perjalanan naik dan turun gunungnya sendiri memakan waktu 3 jam dan dilakukan dengan santai mengikuti kemampuan Kiran. Sayangnya Nuni tidak bisa ikut karena keracunan makanan dan harus beristirahat di rumah. Saya mengajak teman saya dari Kanada yang sedang berkunjung ke Jakarta dan Kang Ian yang tinggal tidak jauh dari Cijapati untuk melakukan perjalanan ini.

Kami mengawali dengan memasuki area perkebunan sayur mayur dan perkebunan kayu jati putih. Memasuki kaki gunung kami disambut oleh barisan pohon pinus yang melindungi kami dari teriknya sinar matahari. Semakin jauh kami melangkah ke dalam hutan, kami hanya mendengar bunyi langkah kami dan bunyi tonggeret di sekeliling kami. Di pemberhentian pertama kami beristrirahat sambil mengamati sisa-sisa buah kopi yang telah habis dipanen. Setelah beristirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan kami melewati pohon kopi arabika dan tanaman tembakau. Perjalanan kami berakhir setelah kami tiba di perkebunan teh sebagai titik tertinggi pendakian kami. Kurang lebih 100 meter sebelum mengakhiri perjalanan kami, Kiran sempat menangis karena mendapati saya dua kali menginjak duri dan Kiran takut kakinya akan menginjak duri juga. Kiran dihadapkan pada sebuah pilihan untuk turun kembali dan mengikuti rasa takutnya atau terus berjalan ke atas dan menghadapi rasa takutnya. Setelah saya berikan waktu untuk membuat keputusan, dan memberikan motivasi akhirnya Kiran menuntaskan perjalanannya. Pelajaran berharga lainnya yang bisa saya saksikan dengan hanya menemani dan mengamati. Tidak ada rencana khusus selain berjalan-jalan di gunung saja dan di menit-menit terakhir kami memutuskan untuk membuat nasi liwet di sana dengan perbekalan yang secukupnya dan kami sangat terbantu dengan peralatan memasak yang dibawa oleh Kang Ian sehingga kami bisa menikmati makanan sambil beristrirahat di perkebunan teh

Banyak hal yang bisa saya dapatkan mengenai perkembangan diri Kiran ketika saya menahan diri untuk tidak mengatur dan menentukan apa yang terjadi pada saat berkegiatan bersama Kiran. Tidak perlu banyak berceramah atau mengajari karena alam akan dengan sendirinya mengajari anak kita apa yang perlu diketahuinya. Menemani Kiran dan melakukan pengamatan perkembangan dirinya dari waktu ke waktu sedang saya menjadi perhatian saya untuk membangun kesadaran diri saya supaya terbebas dari penghakiman terhadap Kiran.

Belajar dari alam untuk mengenal diri lebih baik lagi. Melihat Kiran berinteraksi bersama orang dewasa membuat saya senang karena saya bisa melihat keterampilan Kiran untuk memulai percakapan dan melatih kemampuan berbahasanya. Bahasa tubuhnya memperlihatkan kondisi dirinya di sebuah tempat. Saya melihat gerakan tubuhnya yang ragu karena merasa tidak aman ketika memanjat bebatuan, menyeberangi aliran air sampai berjumpa dengan beberapa binatang kecil di sepanjang perjalanan. Menjadi bagian dari kelompok, menawarkan bantuan untuk memasak sampai menghibur diri sendiri dengan batang dan ranting pohon yang disediakan oleh alam menunjukkan perkembangan dirinya di usianya yang baru saja menginjak tujuh tahun.

Berikut ini video perjalanan kami, silakan klik subscribe untuk menerima video perjalanan homeschooling kami secara berkala di channel Youtube kami.

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Ketiga (Catatan Kiran)

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Ketiga (Catatan Kiran)

Setelah tulisan sebelumnya membahas mengenai hari pertama dan dua hari terakhir di TNTP, tulisan ini adalah hasil pengamatan kami terhadap Kiran mulai dari persiapan dan selama melakukan perjalanan.

Apa saja yang Kiran lakukan selama di bandara dan di perahu selama tiga hari. Apakah Kiran tidak merasa bosan? Tentu saja rasa bosan hadir tetapi Kiran mampu mengatasi kebosanannya dengan benyak cara, seperti mengobrol dengan orang-orang di sekitarnya, bermain hujan, menyapa setiap orang yang di dalam perahu yang berpapasan, bermain kartu, bermain kaus kaki, mondar mandir mengelilingi perahu, tidur-tiduran, dan menikmati pemandangan. Selama melakukan perjalanan tidak ada rengekan dari Kiran dan kami melihat Kiran menikmati sekali perjalanannya selama berada di TNTP.

Persiapan

Pada perjalanan ini Kiran belajar memprediksi kebutuhannya  selama bepergian 3 hari. Kiran dapat menyiapkan barang bawaannya dan memeriksa ulang barang bawaannya secara mandiri sebelum pergi. Salah satu tambahan bawaan kami kali ini adalah kotak makanan, sendok dan garpu untuk memastikan kami bisa membeli makanan tanpa harus menggunakan plastik atau kemasan lainnya jika kami ingin membeli makanan di dalam perjalanan. Peralatan makan ini berada di dalam tas kami masing-masing.

Di bandara

Maskapai penerbangan yang kami gunakan tidak memiliki layanan web check-in sehingga kami harus mengantre cukup lama untuk mendapatkan tiket masuk pesawat karena antrean cukup panjang dan banyak penumpang yang membawa bagasi. Kiran terlihat santai dan mampu menghibur dirinya sendiri dengan mengajak kami bermain untuk mengusir rasa bosannya. Kami pun memainkan beberapa permainan ketika menunggu pesawat datang. Meskipun beberapa kali terlihat merasa bosan tetapi kami tidak mendengarkan keluhan apa pun dari Kiran.

Mengingat banyaknya markah dan papan iklan di dalam bandara, Kiran terlihat cukup sibuk membaca tulisan yang ada di sekelilingnya. Ternyata memang kalau anaknya sudah siap tidak perlu disuruh membaca, anaknya sendiri yang akan membaca dengan suka hati ketika dirinya siap.

Di atas perahu

Kami melihat Kiran selalu berusaha untuk memulai percakapan dengan orang-orang. Pemandu kami cukup kewalahan karena Kiran banyak bertanya kepadanya selama berada di atas perahu bahkan pemandu kami tidak dapat menolak ketika Kiran mengajaknya bermain kartu.

Kiran sudah mulai belajar berbasa basi sebagai pembuka percakapan meskipun agak kocak, seperti, “Bapak, belum mandi ya?” kemudian mengalirlah obrolan mereka untuk beberapa saat. Kami menilai Kiran sudah mampu menyampaikan keinginannya dengan baik seperti menanyakan kepada nakhoda “Bapak, berapa menit lagi kita sampai?” begitu pula ketika berinteraksi dengan Reka, “Tante, aku lapar mau makan”.

Pekerjaan rumah

Satu hal yang menjadi perhatian kami saat ini adalah melatih Kiran untuk menyebut nama orang yang diajak berbicara. Sering kali Kiran tidak mengingat nama orang-orang yang berinteraksi dengannya. Saat ini Kiran terlihat hanya menggunakan kata “bapak, ibu, tante, om, paman, dan bibi” tanpa diikuti nama orang tersebut. Begitu pula ketika bermain dengan teman barunya.

Beginilah cara kami menemani Kiran belajar dengan mengajaknya bepergian baik jarak dekat ke tempat kerja atau jarak jauh dan bertemu banyak orang baru membantu dirinya untuk belajar berkomunikasi dan belajar menempatkan diri. Bagaimana menjadi bagian dalam percakapan, menginterupsi percakapan dan menjadi pendengar yang baik. Dengan mengobrol kami melatih kemampuan berbahasanya. Bagaimana menyampaikan gagasan pikirannya dan memperkenalkannya pada kosakata baru yang diperlukannya.

Tidak banyak yang kami tuntut dari Kiran di usianya saat ini. Kami hanya mengamati kemandirian, nalar, bahasa, adab dan perilakunya untuk kemudian kami jadikan tujuan pencapaian keluarga kami bersama Kiran. Saat ini kemampuan akademis tidak kami persoalkan dan kami cukup senang dengan kemampuan membaca dan berhitung Kiran yang dipelajarinya secara alami dalam kegiatan sehari-hari atau melakukan permainan bukan dengan mengisi lembar kerja. Karena kami percaya belajar tidak selalu tentang hal-hal terkait akademis kami juga harus belajar tentang pemanusiaan.

Melakukan perjalanan, berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling kemudian melakukan pengamatan selama melakukan perjalanan. Itulah yang kami lakukan ketika menjalani travelschooling bersama Kiran.

Kami tidak membuat penilaian secara khusus tetapi melakukan pengamatan secara diam-diam. Sepertinya membuat panduan yang bisa kami gunakan untuk mengukur perkembangan Kiran dari waktu ke waktu akan mempermudah pencatatan pengamatan kami. Saya jadi bersemangat untuk membuat panduannya.

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Kedua

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Kedua

Pagi ini kami dibangunkan kicauan burung di sekitar pinggir sungai. Tadi malam kami tidur di atas perahu tanpa merasakan hawa dingin meskipun kami tidak menggunakan selimut. Baru kali ini saya mengalami tidur di alam bebas tanpa merasa kedinginan atau pun kepanasan.

Setelah kru perahu menyiapkan perahu, Reka sudah menyiapkan sarapan ala barat untuk kami, panekuk pisang, telur mata sapi dan roti bakar sudah tersaji dengan rapi di atas meja makan. Setelah menyelesaikan makan pagi, kami pun melanjutkan perjalanan ke hulu sungai Sekonyer menuju pos kedua di Camp Pondok Tanggui untuk melihat orangutan di feeding area pada pukul 9 pagi. Seperti kemarin, setibanya kami di Camp Pondok Tanggui kami harus melakukan perjalanan singkat sekitar 30 menit ke dalam hutan menuju tempat pemberian makan orangutan.

Jarak batas pengamatan di tempat ini lebih dekat daripada jarak batas pengamatan di Camp Tanjung Harapan kemarin. Kali ini kami bisa mengamati orangutan dari jarak 6-8 meter. Ada pengalaman yang menarik di tempat ini karena ada 2 ekor orangutan yang melintas di atas kami dan hanya berjarak  sekitar 2 meter bahkan sempat berhenti beberapa saat sebelum mereka memasuki area makan. Terdapat 5 ekor orangutan yang datang silih berganti menikmati pisang dan susu yang disediakan. Setiap kali seekor orangutan menyantap makanannya, orangutan yang lainnya hanya mengamati seolah menunggu gilirannya tiba. Sungguh pemandangan yang luar biasa menyaksikan orangutan dari jarak dekat yang  bergerak bebas memanjat pohon dan bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lainnya.

Setelah puas melihat orangutan, kami berjalan kembali menelusuri hutan menuju perahu kami yang sudah menanti di pangkalan. Di tengah perjalanan kami melihat beraneka ragam semut berukuran besar, kantung semar pemakan serangga dan berbagai jenis lumut yang tumbuh di atas tanah dan batang pohon besar. Dari Camp Pondok Tanggui tujuan selanjutnya adalah pos ketiga, Camp Leakey, situs terbesar di TNTP dan salah satu tonggak sejarah kegiatan ekowisata di Indonesia. Di tengah perjalanan menuju Camp Leakey warna air sungai berubah dari warna cokelat menjadi hitam kemerahan. Pemandu kami menjelaskan bahwa sebenarnya air sungai yang tampak sangat jernih tetapi dasar sungai adalah gambut dan terjadi fermentasi dari dedaunan yang membusuk yang menyebabkan warna air tampak gelap dan di bagian atas air terlihat warna air kemerahan seperti air teh. Terlihat beberapa ekor burung eksotis yang saya tidak ingat namanya satu persatu melintas di depan perahu kami. Mulai dari burung kecil berwarna warni,  berparuh biru, berparuh merah, sampai burung besar terbang rendah di atas permukaan sungai seolah menyambut kedatangan kami dengan masing-masing suaranya yang khas.

Siang ini kami menyantap makanan khas setempat opor terong khas Kalimantan yang menggoyang lidah kami karena rasanya cukup pedas. Ikan mas goreng dan tumis tempe tahu melengkapi makan siang kami di atas perahu. Kiran terlihat lebih nyaman dan bertanya jawab bersama seluruh kru perahu. Saking nyamannya sampai tidak sungkan lagi meminta makan ketika merasa lapar.

Akhirnya kami tiba di pangkalan Camp Leakey sebagai pos terakhir yang berjarak 60 kilometer dari titik awal keberangkatan kami. Waktu berkunjung di Camp Leakey adalah pukul 14.00 – 16.00 dan kami tiba di sana sejam sebelum waktu berkunjung dibuka. Beberapa saat setelah perahu berlabuh di pangkalan hujan deras mengguyur. Tentu saja situasi ini membuat Kiran girang karena bisa bermain hujan. Awalnya saya enggan bermain hujan-hujanan karena takut sakit, tetapi akhirnya saya ikut bermain hujan juga bersama Kiran mengingat kesempatan langka bermain hujan di paru-paru dunia. Sejam kemudian hujan berhenti dan pemandu kami mengajak kami pergi menuju area pemberian makan orangutan di Camp Leakey tetapi kami menolak karena merasa lebih nyaman berada di atas perahu setelah mengonfirmasi kepada pemandu kami kegiatan di sana hanya sebatas observasi orangutan seperti di pos 1 dan pos 2 sebelumnya. Kami mengajak kapten perahu kami untuk kembali menyusuri sungai dan menikmati keindahan alam di sepanjang sungai dan menyaksikan bekantan dan monyet ekor panjang yang berkumpul di atas pohon. Beberapa kali buaya pun terlihat oleh pemandu kami tetapi saya hanya melihat seekor buaya yang terlindas tepat di bawah perahu kami.

Langit masih mendung dan tidak terasa perjalanan menuju hilir sungai mulai menggelap menunjukkan malam telah tiba. Kali ini kami meminta bermalam di tepi sungai dan bukan di pangkalan seperti malam sebelumnya. Kapten dan krunya menyusuri sungai mencari tempat yang tepat untuk menambatkan perahunya. Setelah cukup lama mencari, waktu telah menunjukkan pukul 7 malam dan perahu kami pun merapat di tepi sungai bertambat pada batang pohon nipah. Langit terlihat gelap dan kami agak kecewa karena tidak dapat menikmati gemerlap bintang malam ini. Tanpa diduga, ternyata perahu kami berhenti tepat di depan dua pohon yang sedang dihinggapi ratusan kunang-kunang seolah alam mencoba menghibur kami karena tidak dapat menikmati kemilau bintang dan digantikan dengan kerlip kunang-kunang. Kami pun tersihir dengan pemandangan yang disuguhkan alam untuk kami. Makan malam ditemani kerlip kunang-kunang, alam terlalu baik menyambut kami. Rasa syukur yang tak terhingga kami panjatkan atas segala nikmat yang kami terima selama di sana. Bersyukur masih dapat menikmati keindahan sang pencipta sebelum suatu hari punah oleh keserakahan manusia. Kiran dan Tessa sudah terlelap di dalam kurung kelambu sedangkan saya dan Nuni masih asyik mengobrol sampai larut sambil menikmati kerlip kunang-kunang sambil berdiskusi tentang keindahan alam dan keserakahan diri yang perlahan menghancurkan alam.

Keesokan paginya kami bangun pukul 5 pagi disambut kicauan burung-burung dan sinar matahari yang terhalang pepohonan dan memancar menerangi satu sisi perahu kami. Berat hati meninggalkan semua keindahan alam ini tetapi kami harus mengejar pesawat pagi yang akan mengantar kami kembali ke Jakarta pukul 10 pagi. Perahu mulai bergerak ke arah muara dan kembali ke Pelabuhan Kumai. Sepanjang perjalanan kami semua terdiam seolah tidak rela meninggalkan tempat tersebut. Kami mencoba menikmati setiap detik keheningan yang tersisa menuju ingar bingar kehidupan masyarakat modern.

Selamat tinggal alam yang telah mengingatkan kami akan keindahan Sang Pencipta. Maafkan kami yang terlalu mencintai diri sendiri dan melupakan tugas kami untuk merawatmu. Semoga kami berkesempatan untuk kembali dan menikmati keindahanmu.

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Pertama

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Pertama

Kali ini kami berempat, saya, Nuni, Kiran, dan adik saya, Tessa pergi mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Mengingat saya belum pernah pergi ke Kalimantan sebelumnya, untuk pertama kalinya kami melakukan perjalanan dengan menggunakan jasa pemandu tur untuk alasan keamanan. Kami mengambil program tur tiga hari dua malam. Hari pertama kami berangkat dengan penerbangan pagi pukul 09.30 dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Seharusnya penerbangan tersebut hanya memakan waktu satu jam lima belas menit tetapi pesawat kami mengalami penundaan penerbangan selama satu jam. Setelah mendarat di Bandara Iskandar (Pangkalan Bun) kami dijemput oleh salah satu staff penyedia jasa tur yang bernama Arief. Pemandangan menjelang pesawat mendarat sangat menyejukkan mata, saya hanya melihat pepohonan dan perkebunan yang saat itu saya belum tahu bahwa itu adalah perkebunan kelapa sawit, ya perkebunan kelapa sawit sudah memenuhi area tidak jauh dari bandara.

Setelah melakukan perjalanan menggunakan mobil selama 20 menit kami pun tiba di pelabuhan Kumai sebagai pintu masuk TNTP. Arief hanya mengantarkan kami ke dermaga dan kami “dipindahtangankan” kepada seorang pemandu yang bernama Arifin beserta tim perahu kelotok yang berjumlah tiga orang, seorang kapten, seorang asisten kapten dan seorang tukang masak. Kami pun bergegas menaiki perahu dengan penuh semangat. Ada tiga ukuran perahu kelotok yang tersedia di sana, perahu kecil, sedang dan besar. Kami menggunakan perahu berukuran sedang yang bernama Harapan Mina.

Terdapat tiga tempat rehabilitasi orangutan yang akan kami kunjungi di dalam perjalanan ini: Camp Tanjung Harapan, Camp Tanggui, dan Camp Leakey.

Hari Pertama

Setelah perahu meninggalkan pelabuhan dan mengarah ke muara, perahu kami bergerak ke arah hulu melawan arus sungai. Ketika meninggalkan hilir, ada pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, yaitu pertemuan air laut dan air tawar yang membentuk garis jelas karena air sungai yang berwarna cokelat dan air laut yang berwarna hitam. Taman nasional yang seluas pulau Bali berada di sebelah kanan perahu kami. Kami mengawali perjalanan menyusuri sungai Sekonyer menuju Camp Tanjung Harapan selama lebih kurang 2 jam sambil menikmati jamuan makan siang di atas perahu yang dimasak dengan lezat oleh seorang gadis yang bernama Reka.

Hawa di sungai Sekonyer membuat kami terkejut karena kami pikir akan berhawa panas mengingat tempat ini adalah hutan hujan tropis. Tetapi ternyata hawa di sana sangat sempurna, tidak panas dan tidak dingin. Ketika perahu melaju kami menikmati silir angin.

Setelah tiba di Camp Tanjung Harapan, kami melakukan perjalanan singkat selama 30 menit ke dalam hutan menuju feeding area untuk orangutan yang masih dalam proses rehabilitasi atau orang-orang di sana menyebutnya orangutan semi liar. Jalur trekking menuju feeding area pun ramah anak dan Kiran terlihat menikmati perjalanannya di dalam hutan tanpa keluhan. Masih banyak orangutan yang belum sepenuhnya bisa bertahan hidup secara mandiri dan TNTP ini adalah surga bagi orangutan karena mereka bisa belajar bertahan hidup di alam tanpa harus terganggu oleh manusia. Orangutan yang datang ke feeding area mendapatkan pisang dan susu sekali dalam sehari, terdapat petugas yang menyiapkan makanan pada waktu tertentu untuk memastikan mereka mendapatkan makanan jika memerlukannya. Kami hanya melihat 4 ekor orang utan yang datang kami mengamatinya dari tempat pengamatan yang berjarak lebih kurang 20 meter.

Dari Camp Tanjung Harapan, kami diajak menyusuri sungai Sekonyer lagi dan mencari kawanan bekantan di sepanjang pinggiran sungai. Perahu kami merapat ke dekat tanaman bakung supaya kami dapat menikmati pemandangan sekelompok bekantan yang sedang berkumpul di atas pohon. Mengamati binatang di habitatnya secara bebas merupakan pengalaman yang luar biasa dan sulit untuk dideskripsikan melalui kata-kata. Sambil menikmati pemandangan tersebut dari atas perahu Reka memanjakan kami lagi dengan sepiring pisang goreng yang mengepul panas melengkapi sore hari kami.

Kiran terlihat menikmati hari pertamanya dengan berbincang-bincang bersama kapten dan pemandu kami, Arifin. Sesekali Kiran berkeliling ke bagian bawah perahu dan kembali ke bagian atas perahu untuk mengusir kebosanannya. Kami pun mengamati perkembangan interaksi sosial Kiran yang meningkat dan lebih percaya diri bertemu dengan orang baru dan berinteraksi tanpa kesulitan.

Setelah puas mengamati bekantan, atau lebih tepatnya diamati oleh bekantan, perahu kami kembali ke dermaga di Camp Tanjung Harapan. Sebagai pelengkap malam pertama kami di sana, kami memindahkan meja makan ke bagian paling belakang perahu yang tidak beratap dan kami menikmati makan malam di atas perahu ditemani cahaya lilin dan diterangi gemerlap bintang di langit. Keadaan di sungai gelap gulita dan tidak ada cahaya kecuali yang berasal dari dalam perahu sehingga kami bisa menikmati indahnya bintang yang berkilauan di langit. Tidak hanya itu, karena kami sangat beruntung dapat menyaksikan benda langit yang jatuh ketika kami sedang asyik menikmati bintang-bintang di atas langit.

Selepas makan malam seharusnya kami melakukan trekking malam ke dalam hutan untuk melihat satwa-satwa yang ada di malam hari. Tetapi karena kondisi kesehatan saya yang tidak fit, kami pun memutuskan untuk beristirahat supaya keesokan harinya saya bisa berkegiatan lebih maksimal. Matras pun digelar di geladak dan kelambu dipasang di sekeliling matras untuk melindungi kami dari serangan nyamuk. Kegelapan dan keheningan malam membuat kami cepat terlelap. Suara-suara binatang malam ibarat lantunan lagu yang mengantarkan kami menuju alam mimpi.

TNTP bisa dijadikan sebagai tempat alternatif bagi pasangan yang ingin berbulan madu dan menjauh diri dari keramaian.

Bersambung ke bagian kedua . . .