Apa Saja yang dilakukan Selama Travelschooling

Travelschooling, ngapain aja sih?

Di awal tahun 2017, travelschooling  menjadi salah satu resolusi keluarga kami. Semenjak kami memutuskan untuk bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan Kiran, belajar langsung dari alam dan ahlinya sudah menjadi cita-cita kami.

Baru setelah saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di pertengahan tahun lalu, travelschooling pertama kami terlaksana. Waktu itu kami berkunjung ke Salatiga, Ambarawa, Semarang. Temanggung, dan lanjut ke Bandung. Ternyata benar kata orang ya, travelling itu bikin nagih hehe. Tapi karena kami keluarga homeschooler, pengalaman selama di perjalanan secara sadar kami gunakan sebagai sarana belajar. Oleh karena itu, kami membuka diri untuk  mendapatkan pembelajaran dari tempat- tampat yang kami kunjungi.

Sebenarnya travelschooling itu apa sih? Travelschooling menurut pengertian kami adalah belajar mengalami langsung dengan berada di lokasi dan dari orang-orang yang tinggal di lokasi tersebut. Dengan kata lain, belajar dari pengalaman-pengalaman dan interaksi selama di perjalanan. Pada kesempatan kedua ini, kami melakukan perjalanan ke daerah Bandung Timur, yaitu ke daerah Cicalengka, Cijapati dan ke Purwakarta. Berdasarkan pengalaman kami travelschooling, ada banyak manfaat yang kami dapatkan selama berada jauh dari rumah kali ini, yaitu:

Ngobrol, ngobrol dan ngobrol

Perjalanan berjam-jam di dalam mobil tidak akan terasa membosankan jika digunakan untuk ngobrol banyak hal. Seperti yang kami lakukan selama 3 jam perjalanan ke Bandung, topik random, mulai dari tebak-tebakan merk mobil, membahas perjalanan padi menjadi nasi, sejarah Lamborghini, sampai The Power of Dream seorang Seichiro Honda. Ketika ngobrol tentang sesuatu atau ketika Kiran bertanya, kami memulainya atau menjawabnya dengan mengajukan pertanyaan ke Kiran, “What do you think, Kiran?” Kami biarkan jawaban polos seorang anak mengalir dengan sendirinya. Dari situ, selain melatih proses berpikir Kiran, kami bisa melihat sejauh mana informasi yang ia tahu tentang suatu hal. Ngobrol pun bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Cape ngobrol? Saatnya putar musik, saya memasukkan lagu yang disukai semua anggota keluarga dan bernyanyilah kami bersama-sama selama di perjalanan.

Mendekatkan anggota keluarga

Ketika travelschooling, kami merasa kedekatan kami lebih terasa satu sama lain karena menghabiskan waktu 24 jam bersama-sama.  Untuk travelschooling kali ini, kami berkesempatan tinggal selama 2 hari dengan warga setempat di daerah Cijapati, suatu daerah di atas gunung Mandalawangi, di perbatasan Bandung dan Garut. Di daerah ini sama sekali tidak ada sinyal Hp dan koneksi internet. Jadi selama 2 hari di sana, batre HP saya awet sekali hihihi. Nah, momen berharga ini kami manfaatkan untuk bisa lebih dekat dengan keluarga. Berjalan-jalan menikmati hamparan sawah dan pepohonan hijau, memasak makanan, membaca buku, akan sangat terasa menyenangkan jika dilakukan bersama-sama. Kalau bosan bagaimana? Kami membawa kartu permainan. Kiran suka sekali bermain Uno, jadi kami bisa berkali-kali bermain kartu Uno dan tertawa lepas bersama, Baru kali itu hari-hari kami terasa panjang karena tidak terganggu alat komunikasi.

Berinteraksi dengan warga setempat

Sebagai keluarga homeschooler, kami berusaha memantaskan diri menjadi role model bagi Kiran. Jadi dalam perjalanan ini, kami berusaha menunjukkan kepada Kiran cara berinteraksi dengan masyarakat setempat. Beruntung Ian mengenal beberapa orang di kampung yang kami singgahi dan kami diperbolehkan menginap di rumah salah satu warga bernama Dahlan. Dahlan adalah seorang seorang guru muda yang mengajar satu-satunya SMP di daerah Cijapati. Dahlan memperbolehkan kami untuk menginap di rumahnya. Kami belajar banyak sekali dari seorang Dahlan, terutama  tentang keikhlasan. Selain itu, kami juga diundang untuk mengunjungi SMP Dahlan mengajar. Ian pun diminta untuk membantu salah satu siswa sekolah itu. Guru-guru di sekolah itu menyambut kami dengan makanan khas daerah Sunda. Kiran pun belajar membaur dengan siswa di sekolah. Meskipun usia Kiran jauh lebih muda, mereka mau bermain bersama Kiran. Ke manapun kami berjalan, senyuman, anggukan dan sapaan berbahasa Sunda selalu dilemparkan oleh warga setempat. Keramahan yang jarang sekali terlihat di Jakarta. Kehangatan yang diberikan oleh warga yang tidak terpapar kemajuan teknologi inilah yang kami ingin Kiran rasakan dan semoga memberikan kesan yang mendalam di dalam dirinya.

Mendekatkan diri dengan alam

Lebih dekat dengan alam adalah salah satu dari banyak alasan kenapa kami memulai perjalanan ini. Dari awal, saya dan Ian ingin Kiran mendapatkan pengalaman yang tidak akan ia dapatkan di Jakarta. Bermain tanah, turun ke sawah, mengejar ayam dan bebek, mengenal berbagai macam tanaman (yang ayah dan bundanya tahu aja sih hehe), menangkap belut, mendaki gunung, menyusuri sungai kecil, dan yang paling penting menikmati semua ciptaan yang kuasa. Susahnya sinyal dan koneksi internet terasa sangat menguntungkan bagi kami, karena banyaknya waktu bisa kami luangkan untuk mengajak Kiran bersyukur atas ciptaan yang Maha Kuasa.

Mengenal kesenian setempat

Ketika berkunjung ke Cijapati, kami beruntung bisa melihat langsung permainan musik Calung, salah satu kesenian tradisional daerah Jawa Barat. Anak-anak setempat sedang berlatih memainkan alat musik tersebut. Setelah itu, diskusi pun mengalir, mulai dari bahan baku alat musik tersebut, cara memainkannya, sampai cara membuatnya. Sayangnya Kiran tidak sempat mencoba memainkan Calung tersebut, Isin ceunah hehe.

Mencoba kuliner setempat

Berkunjung ke suatu daerah tidak lengkap rasanya jika tidak mencoba makanan khas setempat. Lebih bagus lagi jika bisa terlibat dalam proses membuat masakan khas daerah itu. Dengan mencoba makanan lokal, kita bisa tahu sumber daya alam yang menjadi bahan dasar makanan yang disantap. Selama di Cijapati, lidah kami dimanjakan dengan cemilan khas yang bahan dasarnya diambil langsung dari pekarangan, yaitu combro, singkong goreng, ubi rebus, awug, dan keripik singkong. Lidah tidak cocok dengan masakan lokal? Jangan khawatir, Indomaret dan masakan Padang bertebaran di mana-mana.

Belajar bahasa lokal

Karena kunjungan kali ini ke Bandung, otomatis bahasa yang kami dengar adalah bahasa Sunda. Karena Ian adalah penutur asli, saya dan Kiranlah yang banyak belajar bahasa lokal. Kiran justru banyak mendapatkan kosakata baru dari interaksi dengan anak-anak warga setempat. Begitu pula dengan saya, selama satu minggu di Jawa Barat, perbendaharaan kata Sunda saya cukup meningkat hehe.

Main, main dan main

Sebelum memulai perjalanan, saya dan Ian sepakat akan mengurangi penggunaan gawai selama di perjalanan dan tidak memberikan gawai untuk Kiran sama sekali. Ternyata, it worked! Kiran hanya sekali meminta untuk bermain game di gawai. Setelah itu ia sama sekali tidak ingat dan sibuk bermain. Dalam keterbatasan, apa pun bisa menjadi permainan bagi anak-anak. Daun dan batu pun bisa disulap menjadi kompor dan piring. Pasir dan batu bisa menjadi istana di dunia imajinasi mereka. Dunia yang akan membuat anak –anak menikmati masa kecilnya dengan bahagia. Kitalah sebagai orang dewasa yang harus menjaga agar dunia itu tetap ada selamanya.    

 

Travelschooling (Part 2)

Travelschooling (Part 2)

Travelschooling, ngapain aja sih?

Di awal tahun 2017, travelschooling  menjadi salah satu resolusi keluarga kami. Semenjak kami memutuskan untuk bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan Kiran, belajar langsung dari alam dan ahlinya sudah menjadi cita-cita kami.

Baru setelah saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di pertengahan tahun lalu, travelschooling pertama kami terlaksana. Waktu itu kami berkunjung ke Salatiga, Ambarawa, Semarang. Temanggung, dan lanjut ke Bandung. Ternyata benar kata orang ya, travelling itu bikin nagih hehe. Tapi karena kami keluarga homeschooler, pengalaman selama di perjalanan secara sadar kami gunakan sebagai sarana belajar. Oleh karena itu, kami membuka diri untuk  mendapatkan pembelajaran dari tempat- tampat yang kami kunjungi.

Sebenarnya travelschooling itu apa sih? Travelschooling menurut pengertian kami adalah belajar mengalami langsung dengan berada di lokasi dan dari orang-orang yang tinggal di lokasi tersebut. Dengan kata lain, belajar dari pengalaman-pengalaman dan interaksi selama di perjalanan. Pada kesempatan kedua ini, kami melakukan perjalanan ke daerah Bandung Timur, yaitu ke daerah Cicalengka, Cijapati dan ke Purwakarta. Berikut ini manfaat yang kami dapatkan dari pengalaman travelschooling kami:

Ngobrol, ngobrol dan ngobrol

Perjalanan berjam-jam di dalam mobil tidak akan terasa membosankan jika digunakan untuk ngobrol banyak hal. Seperti yang kami lakukan selama 3 jam perjalanan ke Bandung, topik random, mulai dari tebak-tebakan merk mobil, membahas perjalanan padi menjadi nasi, sejarah Lamborghini, sampai The Power of Dream seorang Seichiro Honda. Ketika ngobrol tentang sesuatu atau ketika Kiran bertanya, kami memulainya atau menjawabnya dengan mengajukan pertanyaan ke Kiran, “What do you think, Kiran?” Kami biarkan jawaban polos seorang anak mengalir dengan sendirinya. Dari situ, selain melatih proses berpikir Kiran, kami bisa melihat sejauh mana informasi yang ia tahu tentang suatu hal. Ngobrol pun bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Cape ngobrol? Saatnya putar musik, saya memasukkan lagu yang disukai semua anggota keluarga dan bernyanyilah kami bersama-sama selama di perjalanan.

Mendekatkan anggota keluarga

Ketika travelschooling, kami merasa kedekatan kami lebih terasa satu sama lain karena menghabiskan waktu 24 jam bersama-sama.  Untuk travelschooling kali ini, kami berkesempatan tinggal selama 2 hari dengan warga setempat di daerah Cijapati, suatu daerah di atas gunung Mandalawangi, di perbatasan Bandung dan Garut. Di daerah ini sama sekali tidak ada sinyal Hp dan koneksi internet. Jadi selama 2 hari di sana, batre HP saya awet sekali hihihi. Nah, momen berharga ini kami manfaatkan untuk bisa lebih dekat dengan keluarga. Berjalan-jalan menikmati hamparan sawah dan pepohonan hijau, memasak makanan, membaca buku, akan sangat terasa menyenangkan jika dilakukan bersama-sama. Kalau bosan bagaimana? Kami membawa kartu permainan. Kiran suka sekali bermain Uno, jadi kami bisa berkali-kali bermain kartu Uno dan tertawa lepas bersama, Baru kali itu hari-hari kami terasa panjang karena tidak terganggu alat komunikasi.

Berinteraksi dengan warga setempat

Sebagai keluarga homeschooler, kami berusaha memantaskan diri untuk menjadi role model untuk Kiran. Jadi dalam perjalanan ini, kami berusaha menunjukkan kepada Kiran cara berinteraksi dengan masyarakat setempat. Beruntung Ian mengenal beberapa orang di kampung yang kami singgahi dan kami diperbolehkan menginap di rumah salah satu warga bernama Dahlan. Dahlan adalah seorang seorang guru muda yang mengajar satu-satunya SMP di daerah Cijapati. Dahlan memperbolehkan kami untuk menginap di rumahnya. Kami belajar banyak sekali dari seorang Dahlan, terutama  tentang keikhlasan. Selain itu, kami juga diundang untuk mengunjungi SMP Dahlan mengajar. Ian pun diminta untuk membantu salah satu siswa sekolah itu. Guru-guru di sekolah itu menyambut kami dengan makanan khas daerah Sunda. Kiran pun belajar membaur dengan siswa di sekolah. Meskipun usia Kiran jauh lebih muda, mereka mau bermain bersama Kiran. Ke mana pun kami berjalan, senyuman, anggukan dan sapaan berbahasa Sunda selalu dilemparkan oleh warga setempat. Keramahan yang jarang sekali terlihat di Jakarta. Kehangatan yang diberikan oleh warga yang tidak terpapar kemajuan teknologi inilah yang kami ingin Kiran rasakan dan semoga memberikan kesan yang mendalam di dalam dirinya.

Mendekatkan diri dengan alam

Lebih dekat dengan alam adalah salah satu dari banyak alasan kenapa kami memulai perjalanan ini. Dari awal, saya dan Ian ingin Kiran mendapatkan pengalaman yang tidak bisa ia dapatkan di Jakarta. Bermain tanah, turun ke sawah, mengejar ayam dan bebek, mengenal berbagai macam tanaman (yang ayah dan bundanya tahu aja sih hehe), menangkap belut, mendaki gunung, menyusuri sungai kecil, dan yang paling penting menikmati semua ciptaan yang kuasa. Susahnya sinyal dan koneksi internet terasa sangat menguntungkan bagi kami, karena banyaknya waktu bisa kami luangkan untuk mengajak Kiran bersyukur atas ciptaan yang Maha Kuasa.

Mengenal kesenian daerah tersebut

Ketika berkunjung ke Cijapati, kami beruntung bisa melihat langsung permainan musik Calung, salah satu kesenian tradisional daerah Jawa Barat. Anak-anak setempat sedang berlatih memainkan alat musik tersebut. Setelah itu, diskusi pun mengalir, mulai dari bahan baku alat musik tersebut, cara memainkannya, sampai cara membuatnya. Sayangnya Kiran tidak sempat mencoba memainkan Calung tersebut, Isin ceunah hehe.

Mencoba kuliner lokal

Berkunjung ke suatu daerah tidak lengkap rasanya jika tidak mencoba makanan khas setempat. Lebih bagus lagi jika bisa terlibat dalam proses membuat masakan khas daerah itu. Dengan mencoba makanan lokal, kita bisa tahu sumber daya alam yang menjadi bahan dasar makanan yang disantap. Selama di Cijapati, lidah kami dimanjakan dengan cemilan khas yang bahan dasarnya diambil langsung dari kebun yaitu combro, singkong goreng, ubi rebus, awug, dan keripik singkong.

Belajar bahasa penduduk setempat

Karena kunjungan kali ini ke Bandung, otomatis bahasa yang kami dengar adalah bahasa Sunda. Karena Ian adalah penutur asli, saya dan Kiranlah yang banyak belajar bahasa lokal. Kiran justru banyak mendapatkan kosakata baru dari interaksi dengan anak-anak warga setempat. Begitu pula dengan saya, selama satu minggu di Jawa Barat, perbendaharaan kata Sunda saya cukup meningkat hehe.

Main, main dan main

Sebelum memulai perjalanan, saya dan Ian sepakat akan mengurangi penggunaan gawai selama di perjalanan dan tidak memberikan gawai untuk Kiran sama sekali. Ternyata, it worked! Kiran hanya sekali meminta untuk bermain game di gawai. Setelah itu ia sama sekali tidak ingat dan sibuk bermain. Dalam keterbatasan, apa pun bisa menjadi permainan bagi anak-anak. Daun dan batu pun bisa disulap menjadi kompor dan piring. Pasir dan batu bisa menjadi istana di dunia imajinasi mereka.

Apakah ada yang mau mengundang kami ke kampung halamannya, hehehe?

 

Travelschooling (Part 1)

Travelschooling (Part 1)

Gabungan kata ‘travel’ dan ‘school’ ini sudah kita lakukan sejak dulu hanya saja dahulu belum ada istilah yang tepat untuk menyebutnya. Ini hanyalah masalah cara pandang kita terhadap sesuatu. Biasanya kalau suatu kegiatan diberikan label yang menarik, maka orang-orang akan lebih tertarik untuk memahaminya. Kami pun ingin turut menyuarakan keistimewaan dari travelschooling. Menerapkan konsep pendidikan yang sejalan dengan tujuan travelling yang berfokus pada proses dan bukan tujuan. Kita semua pasti mencapai tujuan hanya masalah waktu saja. Bagian yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menikmati dan mengambil pelajaran dari setiap proses yang kita jalani. 

Menjalani travelschooling tidak perlu jauh-jauh dan mahal, mengunjungi keluarga atau teman yang tinggal di kota tetangga pun bisa kita lakukan. Pengalaman kali ini kami mengundang diri kami untuk tinggal bersama salah seorang teman kami di sekitar perbatasan Bandung dan Garut di daerah Cijapati. Beruntung kami diizinkan tinggal bersama Dahlan seorang pemuda setempat yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan. Ketika kami tiba di rumahnya kami dikenalkan kepada Risko seorang murid kelas 2 madrasah aliah yang merupakan salah satu anak didiknya yang sudah 6 bulan tinggal bersamanya. Dahlan pun bercerita bahwa orangtua Risko memiliki keterbatasan fisik dan ekonomi untuk menyekolahkannya. Dahlan dan teman-teman sejawatnya mencoba membantu Risko mengingat semangat belajarnya yang sangat tinggi. Guru-guru muda yang masih berstatus guru honorer itu bahu membahu mendukung keseharian Risko supaya bisa tetap bersekolah. Risko adalah seorang anak yang pemalu. Kiran suka sekali dengan Risko sampai saat ini pun selalu menyebut nama Risko karena memang Risko adalah seorang anak yang lugu dan likeable.

Dahlan adalah seorang guru bahasa Inggris dan mencoba melatih Risko untuk berbicara bahasa Inggris dalam keseharian mereka. Mereka pun membuka rumah mereka kepada anak-anak tingkat dasar di sekitar untuk belajar bahasa Inggris di sore hari. Meskipun pelajaran bahasa Inggris sudah dihapus dari kurikulum saat ini tetapi Dahlan meyakini anak-anak sekolah dasar masih memerlukan bahasa Inggris. Saat kami berada di sana ada dua orang anak yang sedang berlajar bahasa Inggris bersama Risko bahkan anak-anaknya diantar dan dijemput. Bayarannya apa, kebahagiaan. Ketulusannya mendidik patut kita tiru.

Kami pun mengobrol berjam-jam dan bermain kartu Uno bersama ditemani ubi rebus dan goreng singkong yang menghangatkan tubuh kami melawan rasa dingin yang mulai menyerang. Keesokan harinya kami diundang oleh Ibu Heni, wakil kepala SMP Bina Harapan Bangsa, untuk berkunjung ke sana. Ketika kami tiba di sana Dahlan sedang sibuk melatih anak-anak pramuka yang akan mengikuti LKBB (Lomba Ketangkasan Baris Berbaris) tingkat propinsi yang di adakan di daerah Rancaekek. Kami melihat semangat yang membara dari para siswa yang akan mengikuti lomba tersebut. Bel istirahat berbunyi dan kedua regu yang akan menjadi perwakilan sekolah pun tampil di tengah lapangan basket ditonton oleh semua siswa yang sedang beristirahat. Dahlan menjelaskan latihan pada waktu istirahat ini adalah untuk melatih mental kedua regu supaya percaya diri menghadapi ratusan pasang mata yang akan menonton mereka pada saat lomba. Cara yang sangat cerdas.

Kiran terlihat sangat menikmati suguhan formasi baris berbaris yang ditampilkan oleh kedua regu sekolah itu. Kami pun bercengkerama dengan guru-guru lainnya yang sedang beristirahat di ruang guru dan menikmati suara merdu dari seorang siswi yang akan mengikuti lomba kesenian antar sekolah. Kami pun berkesempatan untuk melihat keterampilan seorang siswi yang akan dikirimkan untuk lomba bercerita bahasa Inggris. Luar biasa semangat belajar para siswa yang bersekolah di sana dan hal ini pun diakui guru-guru di sana. Mereka mengaku murid-murid di SMP Bina Harapan Bangsa masih belum terkontaminasi oleh derasnya teknologi yang di lain sisi adalah keterbatasan mereka untuk menerima informasi dari apa yang terjadi di luar wilayah mereka. 

Dengan segala keterbatasannya mereka menerima pelajaran TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) dan dibekali pembelajaran Microsoft Office serta diberi tugas untuk mengakses internet setiap minggu yang mengharuskan mereka untuk ‘turun gunung’. Murid-murid yang bersemangat ditangani oleh para pendidik yang berdedikasi.

Kami sangat berterima kasih atas penerimaan yang sangat hangat oleh semua pihak SMP Bina Harapan Bangsa. Khususnya untuk Dahlan dan Risko untuk kebersamaannya selama kami tinggal di sana. Semoga kita bisa melakukannya lagi di lain kesempatan. Berdasarkan pengalaman ini saya mendapatkan sebuah ide ‘holiday swap’ (bertukar pengalaman tinggal di rumah orang lain sebagai alternatif liburan yang dapat mengedukasi anak-anak). Apakah Anda tertarik? Silakan kontak saya jika tertarik bergabung dan ingin ikut menindaklanjuti ide ini.

Berikut ini vlog bagian pertama yang saya buat untuk mendokumentasikan kegiatan travelschooling kami:

Belajar di Mana Saja

Belajar di Mana Saja

Minggu lalu Kiran memiliki dua proyek. Proyek pertama adalah proyek bersama mengenai DKI Jakarta dan Kiran mendapatkan bagian untuk mencari informasi mengenai pakaian dan rumah Betawi. Proyek yang kedua adalah proyek pribadi Kiran membuat lapbook mengenai ulat sutra. Dua minggu yang lalu Kiran berkunjung ke Rumah Sutra di Bogor dan belajar secara langsung dari ahlinya.

Sesuai dengan judulnya, saya ingin membagikan pengalaman Kiran melakukan presentasi 2 hari yang lalu dalam perjalanan menuju Bandung. Jika Anda menonton video berikut ini abaikan saja lokasinya karena kami berada di dalam sebuah toko waralaba di Stasiun Gambir. Karena jadwal yang cukup padat, kami banyak berkegiatan di luar baik itu berkaitan dengan keseharian Kiran maupun pekerjaan yang saya lakukan. Oleh karena itu, ketika Kiran menyelesaikan proyek lapbooknya, kami membawa lapbook yang Kiran buat dalam perjalanan kami ke Bandung.

Fleksibilitas dalam melakukan kegiatan belajar Kiran adalah salah satu keuntungan dalam menjalani homeschooling bersama Kiran. Kami dapat melakukan pekerjaan atau kegiatan lainnya tanpa harus mengorbankan kegiatan anggota keluarga lainnya.

Tujuan dari proyek ini sebenarnya adalah untuk melatih Kiran membuat lapbook dengan harapan dirinya terbiasa dengan tahapan yang harus dilakukan dalam membuat lapbook sebagai salah satu model belajar yang bisa dilakukannya.

Ada tiga hal yang menarik perhatian Kiran mengenai ulat sutra: ulatnya, predatornya, dan siklus hidupnya. Kiran membuat gambar-gambarnya secara bertahap kemudian menempelkannya di dalam sebuah map. Kiran menulisi gambar-gambar yang dibuatnya sedangkan judul sampulnya ditulis oleh Nuni. Berikut ini presentasi Kiran mengenai ulat sutra:

Bermain Bersama di Alam Bebas

Bermain Bersama di Alam Bebas

Kami memiliki agenda bulanan untuk bermalam bersama dengan tujuan mempererat ikatan di antara keluarga. Di Jakarta semua kegiatan selalu diadakan di dalam ruangan, sulit sekali untuk berkegiatan di luar ruangan. Oleh karena itu kami merasa ada baiknya memiliki agenda bulanan bersama anak-anak supaya mereka bisa bermain di alam bebas dan merasakan keindahan alam secara langsung. Beberapa kali kami berkemah bersama tetapi kali ini kami menginap di rumah Paman Rian yang berlokasi di Parakan Salak, Sukabumi. Kami menginap di sana selama 3 hari 2 malam.

Setelah menempuh perjalan selama tiga jam kami tiba di rumah Paman Rian dan kami semua langsung disuguhi pemandangan luar biasa, para petani yang sedang menanam padi. Terik matahari mulai terasa menyengat kulit. Terlihat seorang petani membuat pola kotak-kotak menggunakan peralatan sederhana di sawah yang tanahnya sudah diolah untuk membantu petani lainnya menanam padi menggunakan pola tersebut sebagai panduan jarak tanam. Di saat yang sama petani-petani lainnya yang kebanyakan adalah perempuan bekerja beriring menanam bibit padi di area yang sudah disiapkan. Anak-anak kami sangat beruntung karena untuk pertama kalinya mereka menyaksikan secara langsung proses penanaman padi. Anak-anak melihat usaha para petani yang bekerja keras untuk menanam padi.

Setelah puas mengamati para petani bekerja di sawah, kami pun melanjutkan perjalanan menuju sungai yang terletak tidak jauh dari sawah. Kami melewati kebun singkong di mana tanaman-tanaman tersebut tumbuh tinggi menunjukkan kesuburan tanahnya. Anak-anak pun melewati tumpukan jerami sisa panen sebelumnya dan melakukan pengamatan singkat di sana.

Tidak lama kemudian kami pun tiba di sungai. Anak-anak terlihat sangat menikmati waktu mereka di sungai. Mungkin karena aliran airnya yang tidak begitu deras membuat mereka nyaman bermain di sana. Mereka melompat ke sana kemari mencoba memuaskan keingintahuan mereka di sungai. Mereka menemukan kepiting, ikan dan udang di sungai yang sangat menarik perhatian mereka. Mereka pun melempari sungai dengan bebatuan  dan mengamati cipratan air yang terjadi menggunakan ukuran batu yang berbeda. Setelah puas berbasah-basah mereka pun kembali ke rumah Paman Rian dan membersihkan diri. Ternyata beberapa jam kemudian mereka mengajak kami pergi ke sungai lagi. Keriangan pun terjadi lagi di sungai dan mereka kembali ketika matahari hampir terbenam. Senangnya melihat mereka bermain bebas di alam terbuka. Syukur kami terhadap berkah dan karunia-Nya.

Keesokan harinya Paman Rian dan Bibi Rina mengajak kami untuk mengunjungi sebuah Situ Gunung di Cisaat. Kami menempuh perjalanan selama dua jam untuk tiba di lokasi. Ternyata danau ini terletak di bawah kaki Gunung Pangrango. Tidak banyak yang kami lakukan di sana selain makan dan menikmati pemandangan di sekitar danau yang diramaikan oleh kegembiraan anak-anak yang sedang asyik bermain bersama. Setelah kami semua memuaskan diri di sana, kami pun kembali untuk menyantap makan siang bersama. Setelah makan siang, kira-kira kegiatan apa yang anak-anak lakukan? Bermain di sungai (lagi).

Dua jam kemudian mereka sudah kembali. Terdengar teriakan mereka dari tengah sawah berlari kembali menuju rumah karena hujan mulai mulai turun dan semakin deras. Hujan tidak berhenti sampai malam hari dan kami pun mengisi waktu kami dengan mengobrol bersama dan anak-anak menyibukkan diri mereka dengan berbagai kegiatannya menghibur diri mereka sendiri dengan bermain bersama. Memang benar, dalam keadaan terbatas, anak-anak dapat mengeksplorasi imajinasinya tanpa harus dimanjakan dengan berbagai mainan (edukatif). Beberapa konflik terjadi tetapi pada akhirnya mereka dapat menyelesaikannya sendiri. Malam pun tiba dan suara obrolan kami digantikan oleh keheningan malam yang diiringi kemerduan suara binatang-binatang di sawah. 

Hari terakhir, kami pun mendapatkan kejutan karena pada pagi hari kami berjalan kaki ke pasar tradisional untuk sarapan di sana ternyata tidak jauh dari sana kami menemukan danau kecil yang bernama Situ Sukarame dan rencana sarapan di pasar pun batal dan kami menghabiskan pagi menyusuri pinggir danau. Anak-anak menaiki rakit untuk menyeberangi danau dan melihat seekor kalajengking yang telah mati. Sekali lagi mereka melihat pemandangan yang tidak pernah mereka saksikan di Jakarta. Meskipun anak-anak kelelahan tetapi semuanya merasa senang.

Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 dan kami pun kembali ke Jakarta dengan perasaan senang luar biasa. Terima kasih Bibi Rina, Paman Rian, Rafa dan Rendra untuk pengalamannya yang tidak akan terlupakan. Banyak hal yang anak-anak pelajari di dalam kegiatan ini. Selama tiga hari anak-anak bermain bersama dan semakin mengenal satu sama lain. Obrolan malam orangtua pun menarik untuk ditindaklanjuti. Obrolannya tentang apa? Nanti saja saya ceritakan kalau sudah terealisasi supaya penasaran  😉 

CATATAN

Dalam perjalanan ini kami menggunakan aplikasi Wave untuk memantau masing-masing kendaraan ketika sedang berkendara sehingga mempermudah kami ketika kendaraan kami terpencar cukup jauh. Wave adalah sebuah aplikasi untuk berbagi lokasi secara waktu nyata (real time) dengan kontak yang kita pilih dan waktu akses pun dapat kita batasi mulai dari 15 menit sampai dengan 8 jam demi kenyamanan privasi penggunanya. Fungsinya lebih kurang sama seperti Life360 tetapi dengan batasan waktu sehingga para pengguna Wave hanya saling berbagi akses  ketika diperlukan saja sedangkan Life360 tidak dibatasi oleh waktu dan selalu terhubung setiap saat (meskipun bisa kita matikan secara manual di bagian pengaturan jika diperlukan). Aplikasi ini pun dilengkapi dengan fitur chat dan bisa melakukan panggilan. Kita bisa berbagi lokasi dengan salah satu kontak kita atau secara berkelompok dengan cara membuat grup (maksimal 10 kontak).

Kamtasia (Kampung Komunitas Indonesia)

Kamtasia (Kampung Komunitas Indonesia)

KAMTASIA diselenggarakan di Kampoeng Java, Salatiga selama 3 hari 2 malam (12-14 Agustus 2016). Konsep kegiatan ini dibuat dengan tema perkemahan. Meskipun berkemah, para peserta dimanjakan dengan layanan yang diberikan oleh panitia mulai dari makanan yang disiapkan tepat waktu dan makanan ringan yang selalu tersedia menjelang makan siang. Tim panitia telah mempersiapkan semuanya dengan baik. Kami pun tidak khawatir dengan anak-anak karena panitia telah menyediakan berbagai kegiatan untuk anak-anak sehingga orangtuanya dengan leluasa mengikuti kegiatan yang berlangsung.

Acara ini dihadiri oleh pelaku komunitas di dunia pendidikan. Para keluarga yang mengutamakan pendidikan berbasis keluarganya. Terdapat lebih kurang 50 keluarga yang mengikuti kegiatan ini. Setiap keluarga ditempatkan dalam sebuah kampung dengan total 7 kampung dan terdapat 6 sampai 8 keluarga di setiap kampungnya. Terdapat kafe dadakan dari komunitas CBE Kampung Juara yang memanjakan kami dengan jajanannya yang sehat dan membuat kami dapat menikmati suguhan kafe di sela-sela kegiatan.

Kegiatan yang pertama kali diadakan ini adalah proses kolaborasi antara komunitas dari berbagai kota. Kami bertemu beberapa keluarga yang sudah kami kenal dan juga berkesempatan untuk mengenal keluarga-keluarga baru yang menyenangkan. Banyak ilmu yang kami dapatkan dari kegiatan ini. Mulai dari penanganan pendidikan anak, cara berkomunitas, sampai dengan pengembangan diri. Untuk saya, kegiatan ini menyegarkan pikiran saya. Bagaimana saya belajar untuk mengelola diri dan berefleksi dari setiap orang yang saya jumpai.

Sudah dua kali saya mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Padepokan Margosari (sebutan untuk keluarga Ibu Septi dan Pak Dodik). Saya mulai melihat ciri khas dari kegiatan yang mereka adakan, salah satunya yang saya suka adalah larangan untuk membahas SARAT (Suku Agama Ras dan Anggota Tubuh) ketika berkegiatan dan fokus pada kebutuhan diri. Ambil yang kita anggap baik dan tidak perlu menghakimi orang lain. Tidak ada benar dan salah melainkan bermanfaat atau tidak bagi yang menerima informasi. Nilai ini mulai saya resapi dan kami terapkan sebagai nilai di dalam keluarga.

Fokus dari kegiatan ini adalah sebagai forum untuk belajar, berbagi dan berjejaring antara pelaku komunitas khususnya di bidang pendidikan dengan tema kegiatan CBE (Community Based Education).

Terdapat beberapa perwakilan dari komunitas yang sudah lama terbentuk dan yang baru terbentuk membagikan cerita dalam komunitasnya. Setiap peserta kegiatan diharapkan dapat mengambil nilai-nilai yang dapat ditiru dan diaplikasikan di dalam komunitasnya masing-masing. Sekali lagi Pak Dodik sebagai moderator mengingatkan kami semua bahwa sesi berbagi tersebut bukanlah sesi penghakiman melainkan sesi berbagi yang harus kami manfaatkan sebaik-baiknya.

Setiap komunitas dibentuk atas dasar kesamaan terhadap sesuatu, mulai dari kesamaan lokasi, kesamaan minat, hobi,atau profesi, kesamaan nilai atau perpaduan dari semuanya. Ketika seseorang bergabung dalam sebuah komunitas tentunya ada sebuah harapan pemenuhan kebutuhan bersama yang kemudian dirancang untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Komitmen setiap anggota komunitas menjadi kunci utama dalam keberlangsungan sebuah komunitas.

Sebulan sebelum para peserta bertemu Pak Dodik dan Ibu Septi menyediakan forum diskusi via Whatsapp untuk persiapan kami yang diadakan seminggu sekali. Dimulai dari sesi Fine Tuning untuk memastikan semua peserta memahami konsep yang diadakan oleh Padepokan Margosari:

Komunitas terdiri dari sekumpulan orang atau kelompok orang yang memiliki kesamaan dan melakukan interaksi sosial diantara mereka.

Sifat komunitas ini longgar sekali, ada yang diorganisasi dengan baik (well organized), ada yang berjalan tanpa arah, ada yang memiliki ikatan kuat,  ada pula yang longgar, ada yang memiliki struktur dan pembagian tugas, ada juga yang serabutan, ada yang berbadan hokum, ada pula yang sekadar kumpulan, dan sebagainya. Sifat-sifat ini tidak serta merta menjadikan sebuah komunitas baik atau tidak baik.

KAMTASIA tidak bermaksud menyatukan pendapat. Peserta justru didorong untuk pulang dengan membawa aneka rupa gagasan yang akan diwujudkan di area aktivitas masing-masing. Warna-warni ini akan menjadikan kita kaya ragam dan memiliki banyak alternative kegiatan komunitas. Perbedaan itu indah dan rahmat. Berbeda itu biasa.

Beberapa tamu yang diundang bukan untuk mengajari hidup berkomunitas melainkan memperkaya wawasan kita.

Sejak Ibu Septi memperkenalkan CBE, banyak dari kami yang penasaran dengan konsep ini. Apa itu CBE dan apakah semua komunitas homeschooling adalah CBE? Dan banyak pertanyaan yang dilontarkan para peserta kegiatan. CBE adalah program swadaya masyarakat di dalam membantu pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dimulai dengan para keluarga mendidik anak-anaknya dengan baik, kemudian meluas pada masyarakat sekitarnya sehingga terwujud generasi yang unggul. 

Pak Dodik memberikan contoh CBE yang terjadi di Venezuela di tingkat pendidikan tinggi sebagai berikut:

Di Venezuela, sebuah revolusi sedang berlangsung dalam dunia pendidikan. Revolusi telah mengubah orientasi pendidikan: pendidikan tidak lagi untuk tujuan profit dan mencetak tenaga kerja murah, tetapi untuk mencerdaskan rakyat dan memanusiakan manusia.

Revolusi pendidikan di Venezuela telah melangkah lebih jauh lagi: metode dan konsep pendidikan pun berubah. Pendidikan tidak melulu formal dan mekanis, tetapi sekarang diselenggarakan secara demokratis, egaliter, dan terintegrasi dengan rakyat atau komunitas.

Salah satu terobosan itu adalah pembentukan sekolah dokter bernama “Medicina Integral Comunitaria” (MIC). Berbeda dengan sekolah dokter pada umumnya, MIC adalah “universitas tanpa tembok”, yang melatih kaum muda untuk menjadi dokter di komunitasnya. Sekolah ini terintegrasi pada dua misi sosial pemerintahan Chavez: program Mission Sucre (program pendidikan) dan Barrio Adentro (program klinik kesehatan komunitas).

Siswa dari MIC adalah para pemuda dari lingkungan di sekitar klinik barrio adentro. Sebagian besar mereka adalah pemuda-pemudi dari keluarga miskin. Pada pagi hari, siswa ini membantu para dokter melayani pasien, seraya mempelajari bagaimana dokter merespon kebutuhan kesehatan komunitas. Pada sore harinya, para siswa akan bertemu dengan para pengajar MIC dalam sebuah klas formal dengan kurikulum sistematis. Para dokter muda ini akan dididik paling cepat enam tahun.

Model MIC sebetulnya diambil dari pengalaman Kuba. Di Kuba, konsep ini dinamai medicina general integral (MIG). Di tahun 1980an, sebagai upaya menjembatani layanan kesehatan dengan keluarga, Kuba memulai program yang disebut “Dokter Keluarga”. Di situ, dokter tinggal kantor medis kecil, sering disebut consultorio, yang berada di tengah komunitas yang dilayaninya.

Di tahun 1990-an, Kuba berhadapan dengan tiga kontradiksi besar: kejatuhan Soviet, krisis ekonomi Kuba, dan embargo AS. Kuba pun mengalami krisis pangan, energi dan obat-obatan. Untuk mengatasi soal krisis di bidang kesehatan, Kuba dipaksa melahirkan dokter lebih banyak. Inilah yang mendasari pembentukan medicina general integral (MIG).

Di Venezuela, konsep pendidikan dokter MIC dimulai tahun 2005, dengan dukungan penuh dokter-dokter Kuba. Saat itu, para dokter Kuba diberi tanggung-jawab ganda: tidak hanya melayani pasien di klinik barrio adentro, tetapi juga mengajar sebagai tutor atau mentor di pelatihan dokter komunitas.

Tujuan utama MIC mengintegrasikan pelatihan dokter keluarga ke dalam komunitas sebagai upaya merespon kebutuhan medis seluruh rakyat, menggunakan sumber daya lokal, dan mempromosikan penjagaan kesehatan preventif.

Keunggulan dari MIC terletak pada penyatuan antara teori dan praktek. Siswa tidak hanya mendengar pemaparan dari para guru, tetapi langsung juga terlibat dalam melayani pasien dengan bantuan dokter komunitas. Dengan begitu, mereka langsung memahami langkah-langkah pengobatan dasar.

MIC melahirkan jenis dokter yang berbeda dengan dokter pada umunya. Dokter yang dilahirkan oleh MIC adalah humanis, sosialis, berkomitmen penuh melayani rakyat.