Financial Wisdom for Children Part 2

Financial Wisdom for Children Part 2

Reading Time: 4 minutes

Tugas orang tua saat ini adalah mempersiapkan anak agar siap menghadapi dunia yang semakin heterogen di masa depan.

Membaca kutipan dari Prof. Chandra Chahyadi, penulis buku Financial Wisdom for your kids ini sangat menohok bagi saya. Selama ini saya hanya berpikir mempersiapkan masa depan Kiran dengan ilmu pengetahuan, mengajarkan norma kesopanan, disiplin, dan pengetahuan agama, tetapi tidak terpikirkan untuk mengajarkan Kiran tentang keuangan dan finansial. Well, at least not at his age now. Tetapi ternyata, hasil riset menunjukkan bahwa pengelolaan uang harus mulai diajarkan sejak usia dini sehingga ketika anak beranjak dewasa, mereka sudah terbiasa mengelola keuangan dengan baik.

Di buku tersebut, diceritakan bahwa ada seorang yang sangat kaya raya di Amerika pada abad 19, bernama Cornellius Vanderbilt. Ia mempunyai kerajaan bisnis yang luas pada jamannya. Ketika ia meninggal pada tahun 1887, kekayaannya ditaksir lebih dari USD 100 juta, uang yang sangat fantastis pada waktu itu. Tetapi ketika ada reuni keluarga pada tahun 1970, tidak ada satupun jutawan diantara 120 orang keturunan Vanderbilt. Kisah tragis yang diakibatkan gagalnya orang tua mengajarkan anak-anaknya cara mengelola uang. Tidak mau anak kita seperti itukan?

Jadi, bagaimana caranya mengajarkan pengelolaan uang kepada anak? Berikut ini adalah lanjutan langkah-langkah pengelolaan uang yang bisa diajarkan kepada anak di rumah (5 tips yang lain ada di postingan saya sebelumnya):

  1. Perkenalkan Envelope System

Orang yang pertama kali memperkenalkan saya dengan sistem amplop ini adalah Ian, ketika ia mengetahui bahwa saya mengalami kesulitan mengatur keuangan setelah kami menikah. Ternyata, sistem ini juga disebutkan oleh penulis buku sebagai salah satu cara terbaik dan termudah mengajarkan anak mengatur uang. Bagi anak yang sudah diberikan uang jajan, yang perlu disiapkan adalah 3 amplop (ukuran terserah) dan spidol. Jika anak sudah bisa menulis, suruh ia menuliskan “tabungan”, “jajan”, dan “donasi” pada amplop tersebut. Minta anak untuk memasukkan uang jajannya sebagian ke amplop tabungan (jumlah tergantung kesepakatan) dan ingatkan agar tidak diotak-atik selama waktu tertentu. Nanti setelah waktu yang disepakati, anak bisa membukanya dan membelikan sesuatu sesuai dengan tujuan awal. Begitu pula dengan amplop jajan. Anak bisa menggunakan uang tersebut sepuasnya dengan catatan, kalau habis sebelum waktunya, tidak boleh meminta uang tambahan. Uang di amplop donasi adalah uang yang di khususkan untuk memberi bantuan kepada yang membutuhkan agar jiwa empati dan sosial anak bisa terbangun.

Karena Kiran belum kami berikan uang jajan, maka yang saya lakukan adalah memperlihatkan Kiran amplop saya menaruh uang setiap bulan. Saya jelaskan kepada Kiran uang yang saya masukkan ke dalam amplop adalah uang yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan saya menggunakan amplop agar bisa mengelola uang dengan baik.

Envelope System

  1. Membuat Money Diary

Apa itu Money Diary? Sebenarnya ini adalah catatan pemasukkan dan pengeluaran sederhana. Dengan melakukan hal ini, uang yang masuk dan yang dihabiskan akan bisa tercatat dengan baik. Cara membuatnya bisa di buku atau di HP (menggunakan aplikasi). Semakin detail pencatatan penggunaan uang, semakin bagus. Saya sudah (mencoba) melakukan money diary ini dengan menggunakan Google Keep. Saya mencatat semua pengeluaran dan pemasukan setiap bulan. Saya juga memperlihatkan aplikasi tersebut kepada Kiran agar ia tahu bahwa bundanya (mencoba) menjadi akuntan keluarga yang baik. Tetapi memang kembali lagi ke konsistensi dan ketelitian untuk mencatat semua di Money Diary (PR  saya ini hehe).

  1. Ajarkan anak untuk menabung

Menabung adalah sebuah tindakan penting yang harus orang tua ajarkan kepada anak sejak usia dini. Bagaimana caranya? Mulailah dari membuat tujuan menabung. Dengan adanya tujuan, anak akan lebih semangat untuk menabung. Untuk anak usia dini, mulalah dengan tujuan menabung dengan waktu singkat. Contohnya seperti yang saya dan Ian coba dengan Kiran. Kami membuat tujuan menabung yang singkat, yaitu untuk membeli tiket bioskop dan popcorn. Kamilah yang menabung karena Kiran belum memiliki uang saku. Dengan begitu, Kiran melihat bahwa orang tuanya juga menabung dan menyisihkan uang untuk suatu tujuan.

Tips terbaik mengajarkan anak menabung adalah dengan memberikan mereka tempat menabung khusus yang transparan, misalnya botol bekas air mineral. Mengapa transparan? Karena mereka akan termotivasi untuk terus menabung sampai uangnya penuh. Untuk tips mengajarkan anak menabung akan saya bahas pada tulisan saya selanjutnya.

Saving and Donation

  1. Ajarkan anak untuk berbagi

Mengajarkan anak untuk berbagi sama pentingnya dengan mengajarkan anak mengelola uang. Namun, jika kita ingin anak menjadi seseorang yang murah hati, kita sendiri harus mencontohkan dan menjadi teladan hidup secara langsung. Jadikan memberi sebagai gaya hidup keluarga. Berikan bantuan kepada orang yang membutuhkan bersama anak. Setelah itu, ceritakan apa yang kalian lakukan sehingga anak mengerti pentingnya berbagi.

  1. Libatkan anak dalam keuangan keluarga

Sebagian besar orang tua merasa tidak perlu melibatkan anak dalam diskusi soal keuangan dengan alasan anak-anak masih terlalu kecil untuk mengerti soal uang (termasuk saya sebelum membaca buku ini). Mungkin anak-anak tidak akan mengerti apa yang orang tua bicarakan, tetapi dengan melibatkan mereka, kita menanamkan pemikiran bahwa keberadaan dan pendapat mereka juga penting. Ajak anak berdiskusi ketika akan merencanakan liburan dan mengatur budget keuangannya. Dengan begitu, anak akan tahu berapa banyak uang yang harus dikumpulkan untuk berlibur dan berapa lama semua anggota keluarga harus menabung.

Tips-tips yang saya tuliskan di atas juga sedang saya dan Ian sedang coba aplikasikan dalam kehidupan kami. Dengan pola parenting yang berbeda, tentu pola mengatur keuangan kami juga berbeda. Tetapi kami berusaha (keras) meng-upgrade diri kami berdua agar bisa menjadi memantaskankan diri untuk mengajarkan pengelolaan uang kepada Kiran.

Pelajaran melalui teladan hidup akan berbicara lebih banyak daripada sekedar kata-kata kosong tanpa bukti nyata.

Kurikulum Matematika Kelas 2 SD

Kurikulum Matematika Kelas 2 SD

Reading Time: 1 minute

Menyambung postingan kemarin tentang kurikulum Matematika kelas 1 SD, berikut saya unggah kurikulum Matematika untuk kelas 2. Bagi yang baru membaca tulisan ini, bagaimana cara membaca kurikulum sudah saya jelaskan dipostingan saya sebelumnya. Jadi monggo dibaca ya. ^^

Berdasarkan pengalaman saya mengajar di sekolah, anak akan belajar lebih baik jika materi yang diajarkan bukan text-book based alias anak hanya mengerjakan lewat buku paket. Menonton video tentang salah satu topik/materi yang sedang diajarkan di Youtube, perbanyak bermain Math Games, dan hands-on materials akan membuat anak lebih memahami konsep yang diajarkan.

Kalau bingung cara mengajar salah satu KB matematika itu bagaimana dan menggunakan apa, biasanya saya mencari pencerahan di Pinterest.com. Akan ada banyak sekali inspirasi dan ide-ide yang bisa di dapatkan di website itu. PALU GADA deh pokoknya Pinterest itu hehe. Silakan berselancar ke sana.

Untuk mengunduh kurikulum Matematika kelas 2, silakan unduh di sini.

Selamat belajar dan mengajar ya.^^

Kurikulum Matematika Kelas 1 SD

Kurikulum Matematika Kelas 1 SD

Reading Time: 2 minutes

 

Tulisan ini saya buat untuk para homeschooler dan orang tua yang ingin mengajarkan sendiri  pelajaran Matematika untuk anak di rumah. Saya mengajar di sekolah swasta selama 9 tahun dan hampir setiap tahun menyiapkan kurikulum pelajaran untuk murid-murid yang saya ajar bersama para kolega saya. Setelah melihat kurnas pelajaran sekolah dasar negeri, saya dan Ian melihat kurnas tersebut sebenarnya dapat digunakan oleh orang tua di rumah. Kurnas ini kami dapatkan dari internet. Penjabarannya cukup mudah dimengerti dan bahan ajarnya pun bisa dengan sangat mudah didapatkan dari mana saja, tergantung kebutuhan anak.

Namun, karena keterbatasan waktu dan kurangnya konsistensi dari saya (hehe), kurikulum yang saya bagikan ini baru pelajaran Matematika untuk kelas 1. Untuk kelas 2 dan selanjutnya akan saya unggah segera setelah selesai. Silakan unduh filenya di sini.

Bagaimana cara membacanya? Jadi begini, ada 3 komponen di kurikulum tersebut,yaitu:

  1. Kompetensi Dasar (KD) :KD adalah konten atau kompetensi yang terdiri atas sikap, pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik (dalam hal ini anak sendiri ya)
  2. Topik : Topik adalah materi yang akan diajarkan kepada peserta didik
  3. Kegiatan Belajar (KB) :Langkah-langkah pembelajaran agar peserta didik bisa menguasai KD (dapat dilakukan oleh siapa saja yang bertanggung jawab atas pendidikan anaknya, misalnya, orang tua, guru les, anggota keluarga lainnya, dan lain-lain)

Untuk lebih mudahnya silakan lihat screenshot berikut ini:

Untuk KD pertama, anak diharapkan bisa Menjelaskan makna bilangan cacah sampai dengan 99 sebagai banyak anggota suatu kumpulan objek. Membingungkankah? Kalau iya, tidak perlu dibaca ulang, langsung saja ke kegiatan belajarnya. Jadi kegiatan belajarlah yang menjadi kunci tercapainya KD tersebut. Ada 5 kegiatan yang bisa dilakukan bersama dengan anak di rumah (silakan buka kurikulum halaman pertama). Dan kegiatan tersebut bisa dilakukan per kotak atau digabung dengan kotak yang lain. Contohnya:

Nah, mudahkan? Jika sekiranya anak sudah mengerti, berikan checklist pada kolom yang tersedia. Jika belum, anda bisa melanjutkan ke KB yang lain, atau mengganti cara yang lain agar anak anda mengerti. Ingat, banyak jalan menuju Roma 😊. Dari pengalaman saya mengajar kelas 1, bermain games sambil mengajar adalah cara yang terbaik, karena tidak hanya anak akan menyukai materi yang diajarkan, mereka juga lebih mengerti. Jadi selamat belajar ya.

Mengenal DKI Jakarta

Mengenal DKI Jakarta

Reading Time: 2 minutes

Selama 3 minggu terakhir anak-anak kami belajar mengenal kebudayaan betawi yang kemudian diperluas lagi menjadi DKI Jakarta. Berawal dari ketertarikan anak-anak kami bermain bola dunia kemudian kami tindak lanjuti memperkenalkan peta dan lima pulau terbesar di Indonesia.

Proyek bersama mengenai DKI Jakarta ini menjadi langkah awal bagi anak-anak untuk mempelajari daerah-daerah lainnya. Tujuan kami adalah mengenalkan tempat tinggal dan kebudayaan sendiri sebelum mengenal kebudayaan di negeri seberang. Dalam proyek ini kami membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok sesuai dengan pembagian tugasnya yang kami undi bersama. Berikut ini adalah hasil pembagian tugasnya:

  • Adiva: Alat musik tradisional
  • Ahsan dan Akhtar: Peta wilayah Jakarta
  • Alma: kesenian Betawi
  • Kiran: Pakaian dan rumah Betawi
  • Shawqi dan Syifa: Makanan khas Jakarta

Minggu Pertama

Anak-anak berkunjung ke anjungan DKI Jakarta di TMII. Kami meminta bantuan pemandu untuk menjelaskan kepada anak-anak. Ternyata anak-anak bertahan selama 2 jam mendengarkan penjelasan dari Pak Edward, bapak pemandu kami. Anak-anak berlatih memberikan pertanyaan meskipun seringkali pertanyaannya terkesan “asal bertanya” (kalau kita ukur dari sudut pandang orang dewasa. Kami harus berusaha keras untuk tidak berkomentar dan hanya mendampingi anak-anak selama kegiatan berlangsung. Kami pun menyadari hal penting dari kegiatan hari itu bahwa kita tidak bisa menilai anak dari sudut pandang orang dewasa. Apa yang penting untuk kita belum tentu dilihat penting oleh anak-anak.

Minggu Kedua

Sepulang dari TMII, anak-anak kami berikan tugas untuk mengumpulkan informasi sesuai dengan pembagian tugas di atas dan membawa materinya pada minggu selanjutnya. Kiran belajar membuat kartu popup dan menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Anak-anak mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dan mengumpulkannya untuk diolah bersama-sama menjadi sebuah lapbook. Semua anak mencetak gambar yang dikumpulkan, menggunting dan menempelnya dalam format yang bervariasi.

Dalam kegiatan minggu ini, Kiran belajar mengoperasikan komputer untuk mencari informasi di internet, menyimpan gambar dari internet dan melabelinya yang tentunya kegiatan ini memotivasi Kiran dalam kegiatan membacanya.

Minggu Ketiga

Setelah anak-anak menyelesaikan proyeknya. Mereka harus belajar menampilkan hasil pekerjaan mereka kepada para orangtua. Selain belajar untuk berani tampil, anak-anak juga belajar untuk menghormati satu sama lain karena mereka harus belajar mengontrol diri untuk tahu kapan waktunya mendengar dan kapan waktunya untuk didengarkan oleh orang lain. Hal ini menjadi sorotan para orangtua karena anak-anak kami masih perlu berlatih untuk mendengarkan orang lain.

Menjaga ketertarikan selama tiga minggu bukanlah hal yang mudah apalagi konteks informasi yang kami terapkan masih tergolong sederhana karena belum membahas segala sesuatunya secara mendalam, hanya dalam tahap pengenalan. Sayang sekali Shawqi dan Syifa tidak bisa ikut menampilkan hasil pekerjaannya karena harus beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh.

Karena usia anak-anak yang masih tergolong kecil, tentunya proses kegiatan dalam pengerjaan proyek ini lebih penting dan lebih berkesan daripada proyeknya itu sendiri. Bagi kami informasi mengenai DKI Jakarta untuk saat ini cukup “mengenal saja” tetapi kegiatan untuk “mengenal” ini membutuhkan usaha yang tidak cukup dengan kata “saja”. Banyak sekali kesan dan cerita dalam pengerjaan proyek kali ini.

Tiga proyek selanjutnya adalah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Bali yang akan dilakukan dengan siklus yang sama seperti penjabaran di atas. Semoga anak-anak semakin tertarik dan mengenal negerinya sendiri sebelum mengenal negeri orang lain.

Ayah (Mengira) Tahu yang Terbaik Untukmu Nak

Ayah (Mengira) Tahu yang Terbaik Untukmu Nak

Reading Time: 2 minutes

Copi adalah seorang ayah yang mencoba mengajari anaknya yang bernama Paste dengan baik. Kebahagiaan Paste adalah segalanya bagi Copi. Segala sesuatunya sudah disiapkan untuk Paste supaya Paste bisa menjadi seorang anak yang berhasil. Tetapi Paste tidak melakukan hal-hal yang diharapkan Copi mulai merasa tidak bahagia yang kemudian ternyata sedikit demi sedikit merenggut kebahagiaan Paste. Seperti apa ceritanya? Silakan Anda tonton sendiri film singkat yang berjudul Alike.

Film singkat di atas mengingatkan saya dengan cara kita semua dibesarkan (setidaknya untuk generasi saya atau pendahulu saya), “pendidikan” sangatlah penting bagi “masa depan” kita, begitulah petuah yang sering kita dengar dari orangtua kita. Tidak ada yang salah dengan petuah tersebut karena setiap orangtua akan melakukan segalanya demi kebahagiaan anaknya.

Hanya saja bagaimana caranya kita mengetahui bahwa anak kita bahagia?

Orangtua seringkali lupa dan beranggapan bahwa dirinya lebih tahu apa yang terbaik untuk kebahagiaan anaknya. Bahkan kita sering mendengar ungkapan bahwa kita harus menjadi “orang” yang diartikan sebagai seseorang yang dihormati orang lain dan terpandang yang biasanya mengacu pada sebuah status, baik itu status ekonomi atau pangkat.

Orangtua mulai mengambil kendali tanpa melibatkan anaknya untuk menentukan masa depan si anak. Para orangtua mulai khawatir anaknya tidak mampu “bertahan hidup” sehingga mereka beranggapan bahwa dengan mempersiapkan anaknya lebih awal, anaknya dapat mencuri start lebih dulu sehingga anaknya bisa “tampil” dan menjadi juara. Sayangnya perilaku seperti ini bertolak belakang dengan tujuan awal memberikan kebahagiaan kepada si anak. Sebuah awal yang sangat menentukan bagi kebahagiaan si anak. Waktu bermain yang semakin sedikit, kreatifitas yang mulai dibatasi, hingga tekanan dari ketidaksiapan mental dan fisik anak yang ditumbalkan yang berawal dari rasa khawatir anaknya tidak bisa menjadi “orang”.

Apakah ini sebuah penghakiman bahwa apa yang orangtua kita lakukan salah? Tentu saja tidak. Ini adalah pelajaran hidup yang sesungguhnya. Semua orang bertindak atas pengetahuan dan pilihan yang dimilikinya masing-masing. Analogi sederhananya adalah seperti kebiasaan kita memakan sayuran. Apakah kita memakan sayuran karena kita tahu itu sehat untuk tubuh kita meskipun kita tidak suka dengan rasanya atau kita tidak memakan sayuran karena kita tidak suka rasanya yang aneh meskipun kita tahu tubuh kita memerlukan nutrisi dari sayuran tersebut.

Mari sapa anak kita apakah dirinya merasa bahagia?

Blog atau Vlog

Reading Time: 1 minute

Vlogging adalah suatu bentuk kegiatan untuk mendokumentasikan kejadian atau peristiwa dengan bantuan alat perekam video. Alat perekam yang digunakan pun bervariasi, mulai dari ponsel pintar, kamera saku, sampai kamera profesional. Vlogging mengutamakan kekuatan visual sedangkan blogging lebih mengutamakan kekuatan tulisan.

Keduanya adalah alat yang sangat bermanfaat untuk dijadikan media portfolio pribadi atau keluarga. Terdapat kelebihan dan kekurangan pada keduanya. Setelah mengerjakan blog dan vlog, saya dapat membuat perbandingan (sementara) dari keduanya (versi saya):

BLOG

Kelebihan
  • Dapat diedit setelah ditayangkan
  • Tidak memerlukan peralatan canggih
  • Bisa menyematkan tautan tanpa mengganggu isi bacaan
  • Bisa melatih kemampuan menulis dan menemukan gaya menulis sendiri
Kekurangan
  • Menunda kegiatan menulis sehingga akhirnya terlupakan dan tidak dikerjakan
  • Kesulitan mengekspresikan gagasan melalui tulisan
  • Merasa kurang ketika isi tulisan sedikit
  • Bingung mengambil tema cerita

VLOG

Kelebihan
  • Kegiatan bisa langsung dilakukan (lebih spontan)
  • Video lebih menarik perhatian dibandingkan tulisan
  • Video yang konyol cenderung lebih banyak penontonnya (contoh: PPAP, Gangnam Style, dll)
  • Penonton bisa merasakan emosi yang ingin kita sampaikan
  • Isi video lebih penting daripada mutu rekaman video
  • Durasi video bisa singkat atau panjang
  • Data video mentah bisa dihapus setelah vlog selesai dan mengurangi beban penyimpanan di ponsel atau kamera
Kekurangan
  • Memerlukan peralatan canggih, setidaknya ponsel pintar
  • Memerlukan perangkat lunak untuk mengedit video
  • Memerlukan perangkat lunak pengubah format video
  • Memerlukan jaringan internet yang cepat untuk proses mengunggah video
  • Rekaman video tidak bisa diubah setelah tayang.

Begitulah perbandingan yang bisa saya berikan mengenai blog dan vlog. Kira-kira mana yang lebih cocok untuk Anda?