Renting Project

Renting Project

Reading Time: 2 minutes

Berawal dari obrolan ringan tentang barang-barang yang menumpuk lalu berujung pada sebuah ide untuk “mengeluarkan” barang-barang yang jarang terpakai supaya tidak memenuhi rumah. Kemudian teringat tentang obrolan mengenai community-based education, bukan pada pelaksanaan pedidikannya melainkan pada community supportnya (kata community di sini bisa diartikan secara luas sebagai masyarakat).

Teringat juga pada obrolan lainnya bersama beberapa keluarga praktisi pendidikan berbasis keluarga yang mengeluhkan terbatasnya alat-alat pendidikan atau mahalnya biaya investasi untuk barang-barang yang diperlukan oleh anak-anaknya dan bersifat sementara.

Karena memiliki perhatian yang sama, beberapa keluarga di Belajar Bersama akhirnya berdiskusi dan bersepakat untuk mengadakan sebuah proyek untuk menyewakan peralatan yang kami miliki kepada masyarakat. Terdapat beberapa kekhawatiran mengenai bagaimana nanti penyewa memperlakukan barang yang akan kami sewakan dan kekhawatiran lainnya. Oleh karena itu, kami membuatkan aturan main yang bisa dibaca di web proyek kami pada laman Syarat Sewa.

Saya sempat melempar ide ini di dinding Facebook saya dan ternyata responsnya cukup baik. Bahkan beberapa orang menghubungi saya melalui jalur pribadi menanyakan apakah mereka bisa ikut menitipkan barang-barangnya. Untuk saat ini kami masih menampung ide tersebut dan belum berani mengeksekusinya karena satu dan lain hal, khususnya kendala teknis mengenai pengiriman barang. Akhirnya kami putuskan untuk saat ini, proyek ini kami kerjakan sendiri dulu dan belum bisa menerima penitipan barang dari pihak lain. Kami akan memberikan kabar jika hal itu sudah bisa dilakukan.

Perlu persiapan setidaknya satu bulan untuk menyiapkan sistem yang akan kami gunakan. Mengingat kami semua memiliki kesibukan masing-masing, akhirnya kami putuskan untuk membuat situs web yang kami harap dapat memudahkan kami dan penyewa untuk pemesanan dan pengelolaan barang yang kami sewakan.

Barang-barang yang kami sewakan sudah kami bagi menjadi beberapa kategori untuk memudahkan penyewa mencari barang yang diperlukannya dan kategori barang ini akan terus bertambah. Untuk menghemat waktu, supaya situs web ini dapat kami luncurkan secepatnya kami menggunakan foto-foto yang tersedia di internet supaya kami tidak perlu memotret barang yang kami sewakan, begitu juga deskripsinya. Fokus kami saat ini adalah situs web kami bisa segera diluncurkan dan orang-orang dapat menggunakan barang-barang kami. Kami akan menambah jumlah barang setiap minggunya dan deskripsi setiap barang akan kami ganti secara bertahap ke dalam bahasa Indonesia.

Kami telah membuat Facebook Page untuk proyek ini. Jika Anda rasa informasi ini bermanfaat bagi Anda, keluarga Anda atau teman-taman Anda, silakan kunjungi FB Page kami di : https://www.facebook.com/rentingproject/

Semoga proyek ini membawa manfaat bagi kita semua. Kami berharap dapat membantu Anda dan keluarga untuk meringankan biaya pengeluaran keluarga Anda. Kami nantikan kritik dan saran dari Anda sekalian. Silakan kirimkan masukan Anda ke kontak@belajarbersama.com

Berikut ini adalah situs web yang dibuat sepenuh hati untuk kemudahan proyek kami yang kami beri nama Renting Project (Repro) http://repro.belajarbersama.com

Kamtasia (Kampung Komunitas Indonesia)

Kamtasia (Kampung Komunitas Indonesia)

Reading Time: 4 minutes

KAMTASIA diselenggarakan di Kampoeng Java, Salatiga selama 3 hari 2 malam (12-14 Agustus 2016). Konsep kegiatan ini dibuat dengan tema perkemahan. Meskipun berkemah, para peserta dimanjakan dengan layanan yang diberikan oleh panitia mulai dari makanan yang disiapkan tepat waktu dan makanan ringan yang selalu tersedia menjelang makan siang. Tim panitia telah mempersiapkan semuanya dengan baik. Kami pun tidak khawatir dengan anak-anak karena panitia telah menyediakan berbagai kegiatan untuk anak-anak sehingga orangtuanya dengan leluasa mengikuti kegiatan yang berlangsung.

Acara ini dihadiri oleh pelaku komunitas di dunia pendidikan. Para keluarga yang mengutamakan pendidikan berbasis keluarganya. Terdapat lebih kurang 50 keluarga yang mengikuti kegiatan ini. Setiap keluarga ditempatkan dalam sebuah kampung dengan total 7 kampung dan terdapat 6 sampai 8 keluarga di setiap kampungnya. Terdapat kafe dadakan dari komunitas CBE Kampung Juara yang memanjakan kami dengan jajanannya yang sehat dan membuat kami dapat menikmati suguhan kafe di sela-sela kegiatan.

Kegiatan yang pertama kali diadakan ini adalah proses kolaborasi antara komunitas dari berbagai kota. Kami bertemu beberapa keluarga yang sudah kami kenal dan juga berkesempatan untuk mengenal keluarga-keluarga baru yang menyenangkan. Banyak ilmu yang kami dapatkan dari kegiatan ini. Mulai dari penanganan pendidikan anak, cara berkomunitas, sampai dengan pengembangan diri. Untuk saya, kegiatan ini menyegarkan pikiran saya. Bagaimana saya belajar untuk mengelola diri dan berefleksi dari setiap orang yang saya jumpai.

Sudah dua kali saya mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Padepokan Margosari (sebutan untuk keluarga Ibu Septi dan Pak Dodik). Saya mulai melihat ciri khas dari kegiatan yang mereka adakan, salah satunya yang saya suka adalah larangan untuk membahas SARAT (Suku Agama Ras dan Anggota Tubuh) ketika berkegiatan dan fokus pada kebutuhan diri. Ambil yang kita anggap baik dan tidak perlu menghakimi orang lain. Tidak ada benar dan salah melainkan bermanfaat atau tidak bagi yang menerima informasi. Nilai ini mulai saya resapi dan kami terapkan sebagai nilai di dalam keluarga.

Fokus dari kegiatan ini adalah sebagai forum untuk belajar, berbagi dan berjejaring antara pelaku komunitas khususnya di bidang pendidikan dengan tema kegiatan CBE (Community Based Education).

Terdapat beberapa perwakilan dari komunitas yang sudah lama terbentuk dan yang baru terbentuk membagikan cerita dalam komunitasnya. Setiap peserta kegiatan diharapkan dapat mengambil nilai-nilai yang dapat ditiru dan diaplikasikan di dalam komunitasnya masing-masing. Sekali lagi Pak Dodik sebagai moderator mengingatkan kami semua bahwa sesi berbagi tersebut bukanlah sesi penghakiman melainkan sesi berbagi yang harus kami manfaatkan sebaik-baiknya.

Setiap komunitas dibentuk atas dasar kesamaan terhadap sesuatu, mulai dari kesamaan lokasi, kesamaan minat, hobi,atau profesi, kesamaan nilai atau perpaduan dari semuanya. Ketika seseorang bergabung dalam sebuah komunitas tentunya ada sebuah harapan pemenuhan kebutuhan bersama yang kemudian dirancang untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Komitmen setiap anggota komunitas menjadi kunci utama dalam keberlangsungan sebuah komunitas.

Sebulan sebelum para peserta bertemu Pak Dodik dan Ibu Septi menyediakan forum diskusi via Whatsapp untuk persiapan kami yang diadakan seminggu sekali. Dimulai dari sesi Fine Tuning untuk memastikan semua peserta memahami konsep yang diadakan oleh Padepokan Margosari:

Komunitas terdiri dari sekumpulan orang atau kelompok orang yang memiliki kesamaan dan melakukan interaksi sosial diantara mereka.

Sifat komunitas ini longgar sekali, ada yang diorganisasi dengan baik (well organized), ada yang berjalan tanpa arah, ada yang memiliki ikatan kuat,  ada pula yang longgar, ada yang memiliki struktur dan pembagian tugas, ada juga yang serabutan, ada yang berbadan hokum, ada pula yang sekadar kumpulan, dan sebagainya. Sifat-sifat ini tidak serta merta menjadikan sebuah komunitas baik atau tidak baik.

KAMTASIA tidak bermaksud menyatukan pendapat. Peserta justru didorong untuk pulang dengan membawa aneka rupa gagasan yang akan diwujudkan di area aktivitas masing-masing. Warna-warni ini akan menjadikan kita kaya ragam dan memiliki banyak alternative kegiatan komunitas. Perbedaan itu indah dan rahmat. Berbeda itu biasa.

Beberapa tamu yang diundang bukan untuk mengajari hidup berkomunitas melainkan memperkaya wawasan kita.

Sejak Ibu Septi memperkenalkan CBE, banyak dari kami yang penasaran dengan konsep ini. Apa itu CBE dan apakah semua komunitas homeschooling adalah CBE? Dan banyak pertanyaan yang dilontarkan para peserta kegiatan. CBE adalah program swadaya masyarakat di dalam membantu pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dimulai dengan para keluarga mendidik anak-anaknya dengan baik, kemudian meluas pada masyarakat sekitarnya sehingga terwujud generasi yang unggul. 

Pak Dodik memberikan contoh CBE yang terjadi di Venezuela di tingkat pendidikan tinggi sebagai berikut:

Di Venezuela, sebuah revolusi sedang berlangsung dalam dunia pendidikan. Revolusi telah mengubah orientasi pendidikan: pendidikan tidak lagi untuk tujuan profit dan mencetak tenaga kerja murah, tetapi untuk mencerdaskan rakyat dan memanusiakan manusia.

Revolusi pendidikan di Venezuela telah melangkah lebih jauh lagi: metode dan konsep pendidikan pun berubah. Pendidikan tidak melulu formal dan mekanis, tetapi sekarang diselenggarakan secara demokratis, egaliter, dan terintegrasi dengan rakyat atau komunitas.

Salah satu terobosan itu adalah pembentukan sekolah dokter bernama “Medicina Integral Comunitaria” (MIC). Berbeda dengan sekolah dokter pada umumnya, MIC adalah “universitas tanpa tembok”, yang melatih kaum muda untuk menjadi dokter di komunitasnya. Sekolah ini terintegrasi pada dua misi sosial pemerintahan Chavez: program Mission Sucre (program pendidikan) dan Barrio Adentro (program klinik kesehatan komunitas).

Siswa dari MIC adalah para pemuda dari lingkungan di sekitar klinik barrio adentro. Sebagian besar mereka adalah pemuda-pemudi dari keluarga miskin. Pada pagi hari, siswa ini membantu para dokter melayani pasien, seraya mempelajari bagaimana dokter merespon kebutuhan kesehatan komunitas. Pada sore harinya, para siswa akan bertemu dengan para pengajar MIC dalam sebuah klas formal dengan kurikulum sistematis. Para dokter muda ini akan dididik paling cepat enam tahun.

Model MIC sebetulnya diambil dari pengalaman Kuba. Di Kuba, konsep ini dinamai medicina general integral (MIG). Di tahun 1980an, sebagai upaya menjembatani layanan kesehatan dengan keluarga, Kuba memulai program yang disebut “Dokter Keluarga”. Di situ, dokter tinggal kantor medis kecil, sering disebut consultorio, yang berada di tengah komunitas yang dilayaninya.

Di tahun 1990-an, Kuba berhadapan dengan tiga kontradiksi besar: kejatuhan Soviet, krisis ekonomi Kuba, dan embargo AS. Kuba pun mengalami krisis pangan, energi dan obat-obatan. Untuk mengatasi soal krisis di bidang kesehatan, Kuba dipaksa melahirkan dokter lebih banyak. Inilah yang mendasari pembentukan medicina general integral (MIG).

Di Venezuela, konsep pendidikan dokter MIC dimulai tahun 2005, dengan dukungan penuh dokter-dokter Kuba. Saat itu, para dokter Kuba diberi tanggung-jawab ganda: tidak hanya melayani pasien di klinik barrio adentro, tetapi juga mengajar sebagai tutor atau mentor di pelatihan dokter komunitas.

Tujuan utama MIC mengintegrasikan pelatihan dokter keluarga ke dalam komunitas sebagai upaya merespon kebutuhan medis seluruh rakyat, menggunakan sumber daya lokal, dan mempromosikan penjagaan kesehatan preventif.

Keunggulan dari MIC terletak pada penyatuan antara teori dan praktek. Siswa tidak hanya mendengar pemaparan dari para guru, tetapi langsung juga terlibat dalam melayani pasien dengan bantuan dokter komunitas. Dengan begitu, mereka langsung memahami langkah-langkah pengobatan dasar.

MIC melahirkan jenis dokter yang berbeda dengan dokter pada umunya. Dokter yang dilahirkan oleh MIC adalah humanis, sosialis, berkomitmen penuh melayani rakyat.

 

​Berkunjung ke Sanggar Akar Kalimalang

​Berkunjung ke Sanggar Akar Kalimalang

Reading Time: 4 minutes

Berawal dari keinginan saya untuk memperkenalkan kegiatan seni kepada Adiva, sabtu pagi kemarin kami mengikuti kegiatan Klub Oase berkunjung ke Sanggar Akar. Ternyata Sanggar Anak Akar dekat sekali dari tempat tinggal kami. Hanya 5 menit perjalanan dengan mobil sudah tiba di lokasi. Saya memang tidak punya ekspektasi apa-apa karena belum pernah datang ke sebuah sanggar sebelumnya, tapi Sanggar Akar ini betul-betul unik.   

Dari luar sanggar ini terlihat seperti rumah saja, dengan banyak tanaman di sisi depan pagarnya. Yang terlihat hanya jalan masuk ke dalam ruangan panjang ke belakang selebar satu mobil. Mirip seperti carport  atau garasi. Ada deretan tanaman perdu di sisi kirinya dengan beberapa pohon di antaranya. Setelah melewati jalan masuk ada aula, sebuah ruangan besar di sebelah kanan berlantaikan keramik putih. Satu-satunya ruangan di seluruh sanggar yang dilapisi keramik putih. Tempat anak-anak berkumpul, berkegiatan bersama, berlatih teater, bermain musik, dan juga menerima tamu. Atapnya tinggi dan di bagian atas aula ini terlihat pagar dan dinding yang terbuat dari kayu. Bangunan ini merupakan bagian depan sanggar. Sedangkan bagian belakang sanggar berupa bangunan berstruktur beton dan berdinding bata exposed setinggi 4 lantai. Tanpa plesteran dan acian. Sangat alami. Lantainya pun hanya acian semen yang dihaluskan, yang sudah licin karena seringnya terinjak alas kaki.

Di sisi belakang aula yang dipisahkan oleh ruang terbuka dengan tangga ke atas, rupanya difungsikan sebagai dapur. Saat itu sedang ada beberapa orang yang mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak. Satu hal yang unik, mereka masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Dan kayu bakar ini adalah sumbangan dari masyarakat sekitar sanggar. Di sisi kiri area dapur ini ada ruangan terbuka juga dengan pohon besar di tengahnya. Di ujungnya ada ruangan untuk melukis dan membuat sablon kaos. Di tengah antara kedua ruang terbuka itu terdapat meja besar. Meja ini rupanya meja makan dan meja menerima tamu. Di bagian belakang ada ruangan lagi seperti teras yang dipakai juga untuk menerima tamu, dan di samping kanannya ada gudang properti teater.

Suasana di dalam sanggar ini sangat berbeda dengan kondisi di luar. Sementara jalan Kalimalang selalu ramai dan padat dengan kendaraan, di dalam terasa lebih tenang. Seolah kami tidak berada di Jakarta. Seperti ketenangan di Yogyakarta atau kota kecil lainnya, yang tidak penuh dengan hiruk pikuk kota besar. Di meja besar tempat kami duduk terasa suasana teduhnya pepohonan, dan tercium aroma kayu bakar yang sudah disiapkan untuk memasak. Sementara di aula terdengar anak-anak, termasuk anak-anak Klub Oase yang berlatih teater bersama-sama. Sungguh suasana yang menyenangkan.

Kami disambut dan berdiskusi banyak dengan dua pengurus Sanggar Akar, Putri dan Nisa. Mereka bercerita tentang bagaimana dulu sanggar ini menjadi tempat tinggal lebih dari 50 anak. Tempat untuk anak-anak belajar dan mengekspresikan dirinya. Sanggar Akar sudah terbentuk sejak 1994 dan menempati bangunan di Kalimalang ini selama lebih dari 10 tahun. Keberadaan Sanggar Akar sudah sangat diterima dengan baik oleh warga sekitar, dan menjadi jalan keluar bagi banyak anak untuk memperoleh pendidikan. Saat ini hanya tinggal 4 orang yang tinggal di sini. Para orangtua yang awalnya menempatkan anaknya di sanggar, menarik kembali anak-anaknya ke sekolah formal karena terbitnya Kartu Jakarta Pintar. Di satu sisi tentunya saya mengerti bahwa pemerintah berusaha supaya semakin banyak anak yang bisa melanjutkan sekolah, tapi di lain sisi sangat disayangkan tempat seperti Sanggar Akar ini menjadi redup, karena sejatinya pendidikan tidak hanya didapatkan di bangku sekolah saja. Bahkan mungkin anak-anak bisa mendapatkan lebih banyak di sini.

Setelah mengobrol sejenak, kami diajak berkeliling bangunan sanggar ini oleh Nisa. Di lantai atas ada beberapa ruangan termasuk ruang lab komputer, ruang administrasi, ruang rapat, ruang kerja, dan ruang-ruang lainnya. Termasuk juga kamar-kamar tempat tinggal. Di lantai 3 ada sebuah ruangan besar yang bisa juga dipakai sebagai tempat latihan musik dan teater, sebagai pengganti aula apabila diperlukan. Ada sebuah papan tulis hitam masih dengan gambar partitur yang terakhir ditulis. Dan ada sebuah piano, yang walaupun tampak sudah lama tidak dipakai tapi ternyata masih merdu suaranya. Pak Siddiq, salah satu anggota Klub Oase, sempat mencoba memainkan beberapa baris lagu.

Di lantai 2 kami sempat bertemu dan berbincang dengan Bapak Ibe Karyanto, pimpinan dari Sanggar Akar. Beliau bercerita tentang perjuangan membangun Sanggar Akar hingga memiliki bangunan sebesar sekarang ini. Para penggagas Sanggar Akar memang ingin memberikan wadah bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan, dan memberikan hak-hak anak untuk mengembangkan diri. Oleh karena itu mereka berjuang supaya bisa memiliki bangunan ini. Bangunan setinggi 4 lantai ini ternyata dibangun hanya oleh 2 orang tukang dan anak-anak Sanggar Akar. Dari mulai sampai selesai layak huni menghabiskan waktu 9 bulan. Membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat sekitar, sehingga bisa diterima keberadaannya, dan membuat para orangtua merasa tenang menitipkan anaknya di sini. Sebuah social cost yang sangat tinggi, yang mungkin bisa hilang, karena ada wacana pembangunan jalan layang yang menyebabkan bangunan ini terkena pembebasan lahan. Walaupun belum jelas kapan pelaksanaannya, namun ini membuat para pengurus sanggar merasa waswas. Tak terbayang bagaimana jerih payah semua orang yang ikut berperan di bangunan sanggar ini akan hilang, dan anak-anak tidak punya tempat lagi untuk belajar dan mengembangkan diri.

Tapi selama bangunan ini masih berdiri, Sanggar Akar akan terus berkarya. Seperti pertunjukan teater dan musik yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Juga kelas-kelas pelatihan untuk anak-anak, yang sebagian besar diisi oleh para relawan. Seperti latihan teater yang diikuti oleh anak-anak Oase di aula depan. Setelah sesi perkenalan, mereka dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk membuat pertunjukan bermain peran singkat. Mereka dibebaskan untuk saling berdiskusi untuk menentukan cerita dan peran masing-masing anak. Selama kami berkeliling tadi rupanya anak-anak sedang sibuk merancang pertunjukan mereka. Sesudah itu satu per satu kelompok mementaskan cerita yang mereka buat bersama. Setelah selesai satu pementasan, mereka menjelaskan ceritanya dan anak-anak dari kelompok yang lain bisa bertanya.

Memang sangat singkat dan sederhana, tapi ide cerita itu datang dari anak-anak sendiri, mereka bisa dan mau berkompromi, bekerjasama saling mengisi peran dalam pertunjukan mereka. Sungguh banyak yang dipelajari anak-anak hari ini. Selain mendapat teman-teman baru, berkunjung ke sebuah bangunan sanggar yang unik, bisa mengalah untuk menerima ide dari anak yang lain, dan mencoba untuk menjalankan tugasnya memerankan cerita yang mereka setujui bersama. Semua ini dilakukan hanya dalam waktu 1 jam. Mungkin orang dewasa pun mengalami kesulitan untuk merancang pertunjukan singkat hanya dalam waktu 1 jam. Sungguh kita bisa belajar banyak dari anak-anak kita.

Sejujurnya pada saat awal saya masuk ke dalam sanggar ini kesan pertama saya adalah bangunan ini tua dan tidak terawat, mungkin jarang dibersihkan. Banyak barang di mana-mana. Tapi setelah saya semakin mengenalnya, itu cuma satu nilai minus yang tertutup oleh banyak nilai plus. Bagaimana sanggar ini dibangun, seberapa banyak impian dan harapan para pendiri dan pengurusnya, dan sudah berapa banyak anak yang terbantu olehnya. Saya harap Sanggar Akar terus berkarya dan bahkan menjadi lebih besar supaya bisa membantu lebih banyak anak. Seperti juga anak saya….

“Adiva…, apakah kamu senang bermain di sini hari ini?”

“Iya, pa… Aku tadi jadi zombie…”

“Mau main ke sini lagi?”

“Mau…………” 🙂

Foosball dari Kotak Sereal

Foosball dari Kotak Sereal

Reading Time: 1 minute

Kemarin saya sempat membagikan cuplikan video permainan cereal box tabletop foosball game (panjang ya namanya). Cara membuat permainan ini sempat saya tonton di dalam salah satu koleksi video dari grup Facebook yang saya ikuti, 5-Minutes Craft. Ya, sesuai dengan namanya, semua kegiatan yang dibagikan di grup tersebut bisa dilakukan dalam waktu 5 menit (jika bahan-bahan sudah tersedia).

Salah satu video yang saya sempat simpan  di dalam daftar penyimpanan Facebook saya beberapa waktu lalu adalah cara membuat Shoe Box Table Football.

Ketika saya bangun tidur kemarin, saya melihat Kiran sedang memegang kotak sereal Co*****nch di dapur sambil menemani bundanya memasak. Tiba-tiba saya teringat video yang pernah saya lihat di 5-Minutes Craft. Setelah mengecek ke dapur, bahan-bahan yang diperlukan pun sudah tersedia, akhirnya kami langsung mengeksekusinya bersama-sama.

Sangat mudah dan singkat untuk membuatnya. Karena kegiatan ini bersifat spontan, hasilnya tidak seindah contohnya (sayang, kami juga tidak sempat mendokumentasikan proses pembuatannya). Meskipun hasil akhirnya tidak sebagus contohnya, tetapi tidak menghilangkan keseruan yang terjadi ketika memainkannya. Permainan yang sangat sederhana tetapi sangat menyenangkan untuk dimainkan sekaligus memupuk kedekatan antara orangtua dan anak.

Untuk peralatan, bahan-bahan dan cara membuatnya bisa melihat sumber asli video tutorialnya, silakan ketuk di sini, hasilnya jauh lebih baik daripada yang kami buat. Silakan kreasikan sesuka hati bersama ananda tersayang.

Selamat bermain bersama keluarga tercinta 🙂

Ulasan Film Dino yang Baik (The Good Dinosaur)

Ulasan Film Dino yang Baik (The Good Dinosaur)

Reading Time: 3 minutes

Kemarin malam kami menonton film terbaru karya Disney Pixar yang berjudul The Good Dinosaur. Awalnya sedikit terkejut ketika sedang memesan tiket melalui layanan m-tix 21 Cineplex, karena judul paling atas yang saya lihat adalah “Dino yang Baik”.  Kemudian ketika saya menggulung layar ke bawah barulah muncul judul The Good Dinosaur. Ternyata ada dua judul film yang berbeda. Pada saat menonton cuplikan filmnya, tidak terlihat begitu menarik dan rancangan poster film yang terlihat biasa juga membuat saya berpikir untuk membatalkan pemesanan tiket yang sedang saya lakukan.

Dino Yang Baik

Dino Yang Baik

Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya saya memutuskan untuk menonton film yang sudah disulihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia. Entah mengapa setelah memesan tiket ada beberapa pertanyaan yang muncul di dalam pikiran saya, apakah mutu bahasanya bagus, apakah pengisi suaranya bisa menjiwai karakter yang disuarakan, apakah ceritanya bagus atau tidak dan apakah pengisi suara yang dipilih cocok untuk mengisi suara setiap karakter. Entah mengapa pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Mungkin karena saking langkanya pilihan tayangan anak-anak yang bermutu (baik dari sisi cerita maupun bahasa) bisa kita nikmati.

Banyak nilai-nilai baik yang bisa dipetik dari film tersebut, khususnya masalah keberanian. (Saya tidak akan bercerita banyak mengenai cerita filmnya supaya tidak merusak suasana pembaca yang berniat menonton film ini)

Cerita yang Emosional

Kami bertiga sangat menikmati film yang berdurasi 100 menit tersebut. Alur ceritanya mudah diikuti dan dipahami oleh anak-anak dan disajikan dengan sangat baik sehingga membuat emosi kami bercampur aduk. Bahkan Kiran pun sangat berfokus menonton dan sempat menitikkan air mata di beberapa bagian sampai berbisik kepada kami “I think I need a hug”.

Animasi Realistis

Mutu animasi karya Pixar yang sudah tidak diragukan lagi dibuat dengan apik dan semakin terlihat nyata membuat saya semakin berdecak kagum terhadap para pembuatnya. Segala sesuatu yang ditayangkan terlihat sangat nyata kecuali untuk karakter-karakternya. Saya memberikan acungan dua jempol untuk buah karya kerjasama tim Pixar yang telah bekerja keras demi menyajikan visualisasi yang bisa membuat penontonnya terpukau.

Mutu Bahasa

Sesampainya di rumah saya langsung mencari informasi mengenai alasan dibuatnya film ini dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan penuturan Amit Malhotra, selaku General Manager The Walt Disney Company Asia Tenggara, Indonesia merupakan salah satu pasar utama Disney Pixar di Asia Tenggara dan  berharap masyarakat Indonesia dapat menangkap pesan dalam film tersebut dengan lebih mudah setelah disulih suara ke bahasa Indonesia.

Indonesia merupakan satu dari tiga negara yang akan disuguhi The Good Dinosaur versi dubbing. Oleh karena itu kita harus menyambut baik usaha yang telah dilakukan oleh pihak Walt Disney. Terlepas dari sisi bisnis, saya melihat sebuah harapan baru dalam industri film yang bisa diikuti oleh para pembuat film di tanah air.

Mutu bahasa yang disajikan pun patut diacungi dua jempol karena menggunakan bahasa Indonesia standar (baku) tetapi tidak terdengar “kaku” untuk didengarkan. Terlihat komitmen dari pihak Walt Disney untuk menyajikan film berbahasa Indonesia baku yang tidak terpengaruh oleh dialek lokal, khususnya dialek Jakarta.

Kredit lainnya harus kita berikan kepada penerjemah naskah film dan para pengisi suara yang telah bekerja keras untuk memberikan pengalaman menonton film berbahasa Indonesia yang baik dan sangat bisa dinikmati oleh semua usia. Jika banyak film asing lainnya yang disulihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia, tentunya akan mengangkat profesi penerjemah dan pengisi suara ke lini depan industri perfilman kita.

Pengakuan

Hal lainnya yang membuat saya mengagumi hasil karya ini adalah dipampangnya kredit pengisi suara pada bagian paling atas dari semua kredit yang ditayangkan di akhir film. Ada perasaan yang berbeda ketika saya membaca nama-nama Indonesia dipampang paling atas dari kredit film yang dibuat oleh produsen film tersohor di dunia. Ada perasaan haru dan bangga ketika produsen film memberikan pengakuan kepada para pengisi suara karena atas usaha merekalah film yang mereka bisa lebih tepat sasaran dan lebih bisa dinikmati oleh para penontonnya tanpa adanya kendala bahasa.

Pemutar Film

Selain pihak produsen film, kita pun harus memberikan kredit kepada pihak pemutar film yang bersedia menayangkan film tersebut di dalam dua bahasa dengan jadwal tayang yang berbeda sehingga bisa mempermudah penonton untuk menikmati film tanpa harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris.

Kesimpulan

Kesimpulan saya, film ini telah dibuat dan dipersiapkan dengan sangat baik untuk dinikmati secara khusus oleh masyarakat Indonesia. Sebagai orang Indonesia, saya sangat tersanjung dengan adanya film ini dan ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat. Saya sangat menyarankan orang-orang yang berniat menonton film ini untuk menonton versi bahasa Indonesia supaya bisa mendapatkan pengalaman baru sekaligus memperkenalkan anak-anak terhadap film berbahasa Indonesia yang sangat bermutu.

Meskipun kategori film ini untuk semua umur, tetapi saya tidak menyarankan anak di bawah umur 5 tahun untuk menonton karena ada beberapa adegan yang dikhawatirkan akan membuat anak-anak takut karena efek suara yang sangat keras misalnya. Kiran yang berumur lima tahun terlihat sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir dan sangat menyukai karakter “Papa T-rex”. Banyak adegan yang bisa dijadikan bahan diskusi bersama anak untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan dari film ini.

Penasaran dengan film ini, segera kunjungi bioskop terdekat.

Mengunjungi Komunitas Oerang Kampoeng

Mengunjungi Komunitas Oerang Kampoeng

Reading Time: 2 minutes

Beberapa bulan lalu saya berkenalan dengan seseorang di jejaring sosial Facebook yang ternyata adalah kakak kelas saya di SMA dulu. Nama panggilannya Kang Adun. Saya memerhatikan di beberapa status Facebook Kang Adun ada kegiatan-kegiatan yang cukup menarik. Setelah mengobrol melalui Blackberry Messenger, ternyata Kang Adun sedang merancang sebuah program kebudayaan berbasis komunitas dengan nama Komunitas Oerang Kampoeng yang berlokasi di Cicalung.

Karena tertarik dengan program yang sedang dirancangnya, saya pun membuat janji untuk mengunjungi komunitas tersebut karena kebetulan dalam waktu dekat akan mengunjungi orangtua saya di Cicalengka. Singkat cerita, akhirnya saya dan Bunda Kiran pun mengunjungi tempat mereka berkumpul dan berkegiatan yang ternyata tempat tersebut adalah rumah dari teman SMA saya, Deni, meskipun dulu tidak berteman akrab dan sebatas kenal saja. Sayangnya Kiran tidak mau ikut berkunjung dan lebih memilih bermain bersama kakeknya melepas rindu karena sudah lama tidak mengunjungi kakek dan neneknya.

Ketika kami tiba di lokasi, terlihat beberapa anak mengenakan baju pangsi sunda sedang berkumpul dan kami pun disambut oleh keramahan Kang Adun. Kami dipersilakan memasuki saung bambu yang berisikan anak-anak dengan rentang usia 8 sampai 13 tahun yang sedang belajar bahasa Inggris. Sesaat kemudian Kang Edo, guru bahasa Inggris anak-anak tersebut datang dan memulai kelasnya. 

Pelajaran Bahasa Inggris

Karena anak-anaknya bersekolah dari hari Senin sampai hari Sabtu,  kegiatan pun hanya dilakukan setiap hari Minggu. Kegiatan yang dilakukan adalah berkebun, belajar bahasa Inggris, dan belajar kesenian tradisional. Kegiatan ini sudah berjalan selama satu setengah tahun dan telah mengumpulkan sekitar 50 orang anak yang datang dari berbagai lokasi secara sukarela. Bahkan ada beberapa anak yang rela berjalan berkilo-kilo hanya untuk bermain dan berkegiatan bersama di komunitas ini. Berkat arahan Kang Adun dan teman-temannya, anak-anak tersebut dilatih untuk berani tampil dan menguasai keterampilan bermain alat musik tradisional, berbahasa Inggris, dan berkebun.

Tujuan dari dibentuknya komunitas ini adalah untuk memberikan edukasi kepada warga sekitar untuk tidak meninggalkan kebudayaan yang dimilikinya. Saat ini Kang Adun dan teman-temannya sedang merancang beberapa program untuk ditawarkan kepada sekolah-sekolah di sekitarnya supaya anak-anak sekolah bisa mengenal dan tidak melupakan kebudayaan Sunda.

Berikut ini kegiatan yang dilakukan di Komunitas Oerang Kampoeng

Semoga dengan segala keterbatasannya komunitas ini bisa menjalankan visi dan misinya untuk melestarikan kebudayaan Sunda dan keberadaannya memberikan manfaat bagi banyak orang.