Family Team Building with Jakarta Homeschool Club

Tahun ini kami kembali diundang oleh Ibu Ida Luther  untuk menghadiri kegiatan JHC (Jakarta Homeschool Club) dengan tema family team building yang diadakan hari Sabtu, 10 Desember 2016 di Vila Bukit Hambalang. (Cerita tahun lalu bisa dibaca di sini)

Sekilas mengenai masa kanak-kanak saya yang dibesarkan di dalam masyarakat yang mengharamkan saya untuk mengucapkan selamat natal kepada yang merayakannya. Bahkan ketika tiba di Jakarta, keluarga saya sempat khawatir karena saya tinggal selama bertahun-tahun dengan keluarga penganut Kristen bahkan teman saya adalah Leader Assistant organisasi BSF (Bible Study Fellowship) dari Bethlehem. Cemoohan dari orang-orang sekitar sering saya dengar, mulai dari kafir, murtad, liberal dan sebagainya. Tapi biarlah, anjing menggonggong kafilah berlalu. Saya tidak memiliki waktu untuk membenci orang lain.

Inilah alasannya mengapa saya anti sekali dengan pemberian label terhadap sesuatu. Status agama, status ekonomi, status pendidikan, dan label-label lainnya yang semakin menjauhkan kita sebagai manuasia. Interaksi antar manusia mulai tersaring karena label-label tersebut. Segala sesuatu yang berkaitan dengan label-label tersebut selalu menjadi isu seksi untuk dibahas dan dijadikan pergunjingan. Perbedaan tidak lagi dilihat sebagai sebuah keindahan. Semua harus sama, bahkan dikerucutkan lagi harus menjadi satu golongan.

Melihat kondisi toleransi antar umat di negeri tercinta yang sudah mulai terkikis semakin memperkuat kami untuk menunjukkan kepada Kiran arti dari kerukunan hidup beragama yang sudah menjadi pemandangan langka di negeri ini. Mengenali dan memahami setiap umat dengan keyakinannya masing-masing dapat membawa kebahagiaan untuk yang melakukannya. Setiap ajaran agama selalu mengajarkan kebaikan terhadap sesama dan lingkungannya. Bukan kebencian dan kekerasan.

Dalam kegiatan ini Kiran mulai mengamati bagaimana umat lain berdoa, bersyukur dan melakukan perayaannya tanpa sedikit pun merasa terganggu atau canggung dengan keberadaan kami. Semua orang menyambut kami dengan ramah dan memuliakan kami sebagai tamu mereka. Kami mengobrol, bersenda gurau dan bermain bersama seharian. Tua dan muda berkumpul bersama. Tidak ada label yang melekat, sungguh tidak terasa perbedaan di antara kami semua, kami hanyalah para manusia tanpa label yang sedang bergembira.

Kegiatan diawali dengan sarapan bersama kemudian semua orang menyalakan lilin sebagai sebuah simbolisme sambil menyanyikan lagu Joy to the World. Selanjutnya kami berkegiatan bersama dipandu oleh Pak Dudi dan timnya dari Bandung melakukan beberapa permainan yang membuat kami semua tertawa lepas bahkan sampai menangis terpingkal-pingkal. Setelah berkegiatan bersama, kami istirahat untuk menyantap makan siang. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian Character Recognition Certificate. Sertifikat ini diberikan kepada setiap anak atas pencapaian masing-masing anak di setiap tahun.

Ibu Ida memanggil setiap anak ke depan dengan menyelamati mereka atas pencapaian mereka. Tahun lalu Kiran mendapatkan nilai Tolerance untuk Character Recognition Certificate yang diterimanya. Tahun ini Kiran mendapatkan Sincerity. Berbeda dengan Kiran, anak-anak JHC mendapatkan penilaiannya dari observasi langsung ketika mereka berkegiatan bersama. Ibu Ida mencatat nilai-nilai yang menonjol dari setiap anak.

Setelah acara pemberian sertifikat selesai, anak-anak saling bertukar kado yang sudah disiapkan sebelumnya. Nilai kado ditentukan seharga Rp 25.000 supaya tidak memberatkan tetapi tetap tidak menghilangkan semangat berbagi di antara anak-anak. Nampak wajah-wajah yang sudah tidak sabar menantikan kegiatan bertukar kado ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan berbagi cerita. Setiap keluarga maju ke depan dan mengucapkan rasa syukurnya tahun ini.

Ini adalah bagian yang paling saya sukai karena setiap orang menyampaikan rasa syukurnya dan mengingatkan saya atas segala kekhilafan saya untuk hal-hal yang tidak pernah saya syukuri. Kami pun mendapatkan giliran dan menyampaikan rasa syukur kami tahun ini bahwa Nuni sudah berhenti bekerja dan dapat meluangkan waktu lebih banyak bersama saya dan Kiran. Sedangkan rasa sykur Kiran tahun ini adalah “I am thankful because I can sleep late until 10 O’clock”. Saya terkesima dengan kepolosan, kesungguhan dan kedewasaan setiap anak ketika menyampaikan rasa syukurnya. Sungguh suatu pengalaman yang sangat berkesan untuk kami semua.

Banyak sekali kegiatan yang menginspirasi kami ketika kami berada di sana. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ida Luther dan Kim yang sudah mengundang kami dan memberikan kesempatan kepada keluarga kami untuk belajar. Oma Wang dan Oma Maria yang selalu bersemangat di usianya yang sudah senja, salut! Terima kasih juga untuk penerimaan dan keseruannya kepada seluruh keluarga JHC.

Kami sangat berharap dapat memperkenalkan Kiran pada ajaran agama lainnya secara langsung jika ada kesempatan supaya ketika besar nanti Kiran dapat bertumbuh menjadi seorang penyayang terhadap sesamanya, tanpa memedulikan label yang melekat pada orang tersebut.

Posted by Rahdian Saepuloh

<p>Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.</p>
<p>Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.</p>

4 Comments

  1. Beautifully written! Thank you for sharing the memory in photos and words. We hope JHC families have learn much from your family’s sharing too. May Kiran grow up and be a blessings to many.

Leave a Reply

Required fields are marked*