Financial Wisdom for Children Part 1

Beberapa waktu lalu, seorang sahabat keluarga kami, Mba Ida Luther, menghadiahkan satu buku berjudul Financial Widsom for Kids. Setelah membaca satu bab, wahh, I can not put down this book. Isinya bukan hanya soal bagaimana memperkenalkan uang dan finansial keluarga kepada anak, tetapi juga bagaimana mengarahkan anak agar menjadi seseorang manusia yang berkarakter. Sang penulis, Assoc. Prof. Dr. Chandra Chahyadi, MBA, PH. D., CFA, CAIA, juga menyisipkan pengalaman parentingnya mengajarkan kedua anaknya bahwa uang itu bukanlah segalanya. Penulis juga memasukkan kutipan kutipan dan banyak kisah-kisah inspiratif dari pesohor-pesohor dunia yang kisah hidupnya bisa dijadikan pelajaran kita dalam mengajarkan keuangan kepada anak.

Kapan sebaiknya mengajarkan konsep uang kepada anak? Mungkin saat ini Anda berpikir anak anda masih kecil dan belum perlu tahu tentang uang dan bagaimana mengelolanya. Tetapi yang Anda harus ingat, anak melihat apa yang orang tua dan orang dewasa lakukan ketika bertransaksi. Mereka melihat orang dewasa mengambil uang di ATM, membayar barang di kasir, mereka melihat adanya pertukaran. Uang ditukar dengan barang yang diinginkan.

Ada beberapa orang tua (termasuk saya sebelum membaca buku ini) yang merasa bahwa anak kecil sebaiknya jangan diperkenalkan dengan uang terlalu dini, karena bisa membuat mereka “mata duitan” atau ada yang berpikir nanti anak saya jadi minta uang terus untuk jajan. Tetapi cara berpikir seperti itu ternyata salah. Tidak mengajar konsep uang yang benar pada anak bukan hanya membuat mereka tidak tahu tentang cara mengatur uang, tetapi bisa membuat mereka mempunyai cara pandang yang berbeda tentang uang. Tidak ada batasan umur untuk belajar mengenal uang. Justru dari kecil, anak-anak harus punya acara pandang yang dewasa tentang uang agar terbawa dalam kehidupan sampai mereka dewasa.

Jadi bagaimana sih mengajarkan keuangan pada anak?  Berikut adalah intisari yang saya rangkum dari buku tersebut yang sedang kami praktekkan di rumah bersama Kiran:

  1. Ceritakan pengalaman tentang keuangan di masa kecil

Pelajaran pertama tentang pengaturan keuangan diterima anak di rumah dari teladan orang tuanya. Anda dan pasangan berasal dari keluarga yang  berbeda latar belakangnya, termasuk cara mengatur uang. Pengalaman masa kecil tentu menjadikan Anda dan pasangan mempunyai cerita yang berbeda dan bisa dijadikan diskusi yang menarik bersama anak. Tidak mengapa jika ketika pengalaman kecil kita mengatur keuangan sangat buruk, justru bisa menjadi bahan pelajaran yang sangat baik untuk anak.

  1. Bermain permainan keuangan

Ciptakan permainan yang mengharuskan pemain mengeluarkan uang dengan baik. Ajak anak bermain peran “belanja-belanjaan” atau “kasir-kasiran”. Selain mengajarkan konsep matematika sederhana, aktivitas ini juga melatih anak mengenal uang sebagai alat pertukaran. Semakin dewasa, tingkat belajarnya harus semakin meningkat pula. Misalnya, tahun lalu, saya bermain peran jual beli dengan Kiran. Transaksinya menggunakan uang yang Kiran buat sendiri. Karena sekarang Kiran sudah mengenal uang, permainan ini saya buat lebih menantang, yaitu menggunakan price tag. Jadi Kiran juga harus menghitung jumlah barang yang ia beli dan memastikan uang yang ia punya cukup untuk membayar. Sama dengan bermain peran, kami juga bermain monopoli dengan Kiran. Di permainan ini, kami memperkenalkan Kiran dengan konsep uang, menghitung uang dan bertransaksi dengan uang.  Jika anak masih belum mengerti juga? It’s OK. Namanya juga belajar, jangan dipaksakan anak untuk mengerti saat itu juga. Learning is a journey, not a race.

  1. Mengajarkan antara kebutuhan dan keinginan

Menurut si penulis, di usia 4 – 5 tahun, anak sudah mulai bisa diperkenalkan dengan konsep perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Di sekolah tempat saya mengajar dahulu pun, konsep ini diajarkan ketika anak ada di kelas K-1. Kebutuhan yang diperkenalkan adalah kebutuhan yang mendasar dan harus dipenuhi sesegera mungkin, yaitu sandang, pangan, papan dan keinginan adalah sesuatu yang masih bisa ditunda dan tidak berefek apa-apa jika ditinggalkan. Tidak perlu waktu khusus untuk membahas konsep ini. Gunakan waktu menonton TV misalnya (jika ada TV di rumah) untuk membahas iklan-iklan yang disiarkan di TV. Dengan memahami konsep kebutuhan dan keinginan, anak akan terbiasa menahan keinginannya demi memenuhi kebutuhannya terlebih dahulu.

  1. Membuat proyek menabung jangka pendek

Kita bisa mengajarkan anak untuk belajar membuat perencanaan keuangan dengan melakukan proyek menabung bersama keluarga. Salah satu kebiasaan baik yang bisa ditanamkan kepada anak Anda sedari kecil adalah konsep menabung. Sebagai permulaan, buatlah satu rencana menabung dengan durasi waktu singkat di mana semua anggota keluarga saling berkontribusi. Sediakan satu kaleng bekas atau botol, tuliskan target yang akan dicapai bersama, dan menabunglah setiap hari. Proyek ini sedang kami lakukan di rumah. Kiran sangat ingin menonton film Despicable Me yang akan tayang bulan Agustus nanti. Karena Kiran belum kami perkenalkan dengan uang saku, maka saya dan Ian yang menabung dan Kiran yang memasukkan uangnya ke dalam celengan. Hari lebaran kemarin, Kiran mendapatkan sedikit uang dari beberapa saudara. Ia lalu memasukkan sejumlah uang ke dalam tabungan menontonnya. Rupanya ia juga mau berkontribusi. Dengan cara ini anak belajar menabung sekaligus merencanakan keuangan sedari dini dan anak juga melihat bahwa jika mereka menginginkan sesuatu, mereka harus bisa menahan diri.

Piggy bank Kiran
  1. Membuat daftar belanja dengan anak

Berbelanja dengan anak di pasar tradisional atau supermarket biasanya membuat belanjaan kita over budget karena keinginan si anak untuk membeli mainan atau cemilan favorit mereka. Tetapi hal seperti itu akan bisa dihindari, jika menggunakan daftar belanja. Ajak anak membuat daftar barang-barang yang akan dibeli dan jelaskan kepada mereka bahwa yang akan dibeli hanya barang-barang kebutuhan saja. Buat kesepakatan dengan anak bahwa uang yang akan digunakan untuk membayar barang-barang kebutuhan tersebut terbatas. Oleh karena itu, jika anak ingin membeli barang keinginan, anak harus membuat rencana ketika sedang membuat daftar belanja bersama ayah dan ibu di rumah. Jika ada barang yang ingin dibeli diluar rencana daftar belanja, maka anak harus bisa menahan diri. Untuk anak usia balita mungkin akan merengek minta dibelikan, tetapi orang tua harus bisa tegas menolak permintaan si anak agar anak belajar untuk mematuhi apa yang sudah disepakati bersama.

Daftar belanja
Posted by Nuni

<p>Ibu satu anak yang telah mengajar di sekolah formal semenjak kuliah dan meninggalkan Sekolah HighScope Indonesia setelah 9 tahun mengajar di sana kemudian memutuskan untuk bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya secara langsung dan menjadi seorang ibu profesional.</p>

Leave a Reply

Required fields are marked*