Financial Wisdom for Children Part 2

Tugas orang tua saat ini adalah mempersiapkan anak agar siap menghadapi dunia yang semakin heterogen di masa depan.

Membaca kutipan dari Prof. Chandra Chahyadi, penulis buku Financial Wisdom for your kids ini sangat menohok bagi saya. Selama ini saya hanya berpikir mempersiapkan masa depan Kiran dengan ilmu pengetahuan, mengajarkan norma kesopanan, disiplin, dan pengetahuan agama, tetapi tidak terpikirkan untuk mengajarkan Kiran tentang keuangan dan finansial. Well, at least not at his age now. Tetapi ternyata, hasil riset menunjukkan bahwa pengelolaan uang harus mulai diajarkan sejak usia dini sehingga ketika anak beranjak dewasa, mereka sudah terbiasa mengelola keuangan dengan baik.

Di buku tersebut, diceritakan bahwa ada seorang yang sangat kaya raya di Amerika pada abad 19, bernama Cornellius Vanderbilt. Ia mempunyai kerajaan bisnis yang luas pada jamannya. Ketika ia meninggal pada tahun 1887, kekayaannya ditaksir lebih dari USD 100 juta, uang yang sangat fantastis pada waktu itu. Tetapi ketika ada reuni keluarga pada tahun 1970, tidak ada satupun jutawan diantara 120 orang keturunan Vanderbilt. Kisah tragis yang diakibatkan gagalnya orang tua mengajarkan anak-anaknya cara mengelola uang. Tidak mau anak kita seperti itukan?

Jadi, bagaimana caranya mengajarkan pengelolaan uang kepada anak? Berikut ini adalah lanjutan langkah-langkah pengelolaan uang yang bisa diajarkan kepada anak di rumah (5 tips yang lain ada di postingan saya sebelumnya):

  1. Perkenalkan Envelope System

Orang yang pertama kali memperkenalkan saya dengan sistem amplop ini adalah Ian, ketika ia mengetahui bahwa saya mengalami kesulitan mengatur keuangan setelah kami menikah. Ternyata, sistem ini juga disebutkan oleh penulis buku sebagai salah satu cara terbaik dan termudah mengajarkan anak mengatur uang. Bagi anak yang sudah diberikan uang jajan, yang perlu disiapkan adalah 3 amplop (ukuran terserah) dan spidol. Jika anak sudah bisa menulis, suruh ia menuliskan “tabungan”, “jajan”, dan “donasi” pada amplop tersebut. Minta anak untuk memasukkan uang jajannya sebagian ke amplop tabungan (jumlah tergantung kesepakatan) dan ingatkan agar tidak diotak-atik selama waktu tertentu. Nanti setelah waktu yang disepakati, anak bisa membukanya dan membelikan sesuatu sesuai dengan tujuan awal. Begitu pula dengan amplop jajan. Anak bisa menggunakan uang tersebut sepuasnya dengan catatan, kalau habis sebelum waktunya, tidak boleh meminta uang tambahan. Uang di amplop donasi adalah uang yang di khususkan untuk memberi bantuan kepada yang membutuhkan agar jiwa empati dan sosial anak bisa terbangun.

Karena Kiran belum kami berikan uang jajan, maka yang saya lakukan adalah memperlihatkan Kiran amplop saya menaruh uang setiap bulan. Saya jelaskan kepada Kiran uang yang saya masukkan ke dalam amplop adalah uang yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan saya menggunakan amplop agar bisa mengelola uang dengan baik.

Envelope System
  1. Membuat Money Diary

Apa itu Money Diary? Sebenarnya ini adalah catatan pemasukkan dan pengeluaran sederhana. Dengan melakukan hal ini, uang yang masuk dan yang dihabiskan akan bisa tercatat dengan baik. Cara membuatnya bisa di buku atau di HP (menggunakan aplikasi). Semakin detail pencatatan penggunaan uang, semakin bagus. Saya sudah (mencoba) melakukan money diary ini dengan menggunakan Google Keep. Saya mencatat semua pengeluaran dan pemasukan setiap bulan. Saya juga memperlihatkan aplikasi tersebut kepada Kiran agar ia tahu bahwa bundanya (mencoba) menjadi akuntan keluarga yang baik. Tetapi memang kembali lagi ke konsistensi dan ketelitian untuk mencatat semua di Money Diary (PR  saya ini hehe).

  1. Ajarkan anak untuk menabung

Menabung adalah sebuah tindakan penting yang harus orang tua ajarkan kepada anak sejak usia dini. Bagaimana caranya? Mulailah dari membuat tujuan menabung. Dengan adanya tujuan, anak akan lebih semangat untuk menabung. Untuk anak usia dini, mulalah dengan tujuan menabung dengan waktu singkat. Contohnya seperti yang saya dan Ian coba dengan Kiran. Kami membuat tujuan menabung yang singkat, yaitu untuk membeli tiket bioskop dan popcorn. Kamilah yang menabung karena Kiran belum memiliki uang saku. Dengan begitu, Kiran melihat bahwa orang tuanya juga menabung dan menyisihkan uang untuk suatu tujuan.

Tips terbaik mengajarkan anak menabung adalah dengan memberikan mereka tempat menabung khusus yang transparan, misalnya botol bekas air mineral. Mengapa transparan? Karena mereka akan termotivasi untuk terus menabung sampai uangnya penuh. Untuk tips mengajarkan anak menabung akan saya bahas pada tulisan saya selanjutnya.

Saving and Donation
  1. Ajarkan anak untuk berbagi

Mengajarkan anak untuk berbagi sama pentingnya dengan mengajarkan anak mengelola uang. Namun, jika kita ingin anak menjadi seseorang yang murah hati, kita sendiri harus mencontohkan dan menjadi teladan hidup secara langsung. Jadikan memberi sebagai gaya hidup keluarga. Berikan bantuan kepada orang yang membutuhkan bersama anak. Setelah itu, ceritakan apa yang kalian lakukan sehingga anak mengerti pentingnya berbagi.

  1. Libatkan anak dalam keuangan keluarga

Sebagian besar orang tua merasa tidak perlu melibatkan anak dalam diskusi soal keuangan dengan alasan anak-anak masih terlalu kecil untuk mengerti soal uang (termasuk saya sebelum membaca buku ini). Mungkin anak-anak tidak akan mengerti apa yang orang tua bicarakan, tetapi dengan melibatkan mereka, kita menanamkan pemikiran bahwa keberadaan dan pendapat mereka juga penting. Ajak anak berdiskusi ketika akan merencanakan liburan dan mengatur budget keuangannya. Dengan begitu, anak akan tahu berapa banyak uang yang harus dikumpulkan untuk berlibur dan berapa lama semua anggota keluarga harus menabung.

Tips-tips yang saya tuliskan di atas juga sedang saya dan Ian sedang coba aplikasikan dalam kehidupan kami. Dengan pola parenting yang berbeda, tentu pola mengatur keuangan kami juga berbeda. Tetapi kami berusaha (keras) meng-upgrade diri kami berdua agar bisa menjadi memantaskankan diri untuk mengajarkan pengelolaan uang kepada Kiran.

Pelajaran melalui teladan hidup akan berbicara lebih banyak daripada sekedar kata-kata kosong tanpa bukti nyata.

Posted by Nuni

Ibu satu anak yang telah mengajar di sekolah formal semenjak kuliah dan meninggalkan Sekolah HighScope Indonesia setelah 9 tahun mengajar di sana kemudian memutuskan untuk bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya secara langsung dan menjadi seorang ibu profesional.

2 Comments

Leave a Reply

Required fields are marked*