Kamtasia (Kampung Komunitas Indonesia)

KAMTASIA diselenggarakan di Kampoeng Java, Salatiga selama 3 hari 2 malam (12-14 Agustus 2016). Konsep kegiatan ini dibuat dengan tema perkemahan. Meskipun berkemah, para peserta dimanjakan dengan layanan yang diberikan oleh panitia mulai dari makanan yang disiapkan tepat waktu dan makanan ringan yang selalu tersedia menjelang makan siang. Tim panitia telah mempersiapkan semuanya dengan baik. Kami pun tidak khawatir dengan anak-anak karena panitia telah menyediakan berbagai kegiatan untuk anak-anak sehingga orangtuanya dengan leluasa mengikuti kegiatan yang berlangsung.

Acara ini dihadiri oleh pelaku komunitas di dunia pendidikan. Para keluarga yang mengutamakan pendidikan berbasis keluarganya. Terdapat lebih kurang 50 keluarga yang mengikuti kegiatan ini. Setiap keluarga ditempatkan dalam sebuah kampung dengan total 7 kampung dan terdapat 6 sampai 8 keluarga di setiap kampungnya. Terdapat kafe dadakan dari komunitas CBE Kampung Juara yang memanjakan kami dengan jajanannya yang sehat dan membuat kami dapat menikmati suguhan kafe di sela-sela kegiatan.

Kegiatan yang pertama kali diadakan ini adalah proses kolaborasi antara komunitas dari berbagai kota. Kami bertemu beberapa keluarga yang sudah kami kenal dan juga berkesempatan untuk mengenal keluarga-keluarga baru yang menyenangkan. Banyak ilmu yang kami dapatkan dari kegiatan ini. Mulai dari penanganan pendidikan anak, cara berkomunitas, sampai dengan pengembangan diri. Untuk saya, kegiatan ini menyegarkan pikiran saya. Bagaimana saya belajar untuk mengelola diri dan berefleksi dari setiap orang yang saya jumpai.

Sudah dua kali saya mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Padepokan Margosari (sebutan untuk keluarga Ibu Septi dan Pak Dodik). Saya mulai melihat ciri khas dari kegiatan yang mereka adakan, salah satunya yang saya suka adalah larangan untuk membahas SARAT (Suku Agama Ras dan Anggota Tubuh) ketika berkegiatan dan fokus pada kebutuhan diri. Ambil yang kita anggap baik dan tidak perlu menghakimi orang lain. Tidak ada benar dan salah melainkan bermanfaat atau tidak bagi yang menerima informasi. Nilai ini mulai saya resapi dan kami terapkan sebagai nilai di dalam keluarga.

Fokus dari kegiatan ini adalah sebagai forum untuk belajar, berbagi dan berjejaring antara pelaku komunitas khususnya di bidang pendidikan dengan tema kegiatan CBE (Community Based Education).

Terdapat beberapa perwakilan dari komunitas yang sudah lama terbentuk dan yang baru terbentuk membagikan cerita dalam komunitasnya. Setiap peserta kegiatan diharapkan dapat mengambil nilai-nilai yang dapat ditiru dan diaplikasikan di dalam komunitasnya masing-masing. Sekali lagi Pak Dodik sebagai moderator mengingatkan kami semua bahwa sesi berbagi tersebut bukanlah sesi penghakiman melainkan sesi berbagi yang harus kami manfaatkan sebaik-baiknya.

Setiap komunitas dibentuk atas dasar kesamaan terhadap sesuatu, mulai dari kesamaan lokasi, kesamaan minat, hobi,atau profesi, kesamaan nilai atau perpaduan dari semuanya. Ketika seseorang bergabung dalam sebuah komunitas tentunya ada sebuah harapan pemenuhan kebutuhan bersama yang kemudian dirancang untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Komitmen setiap anggota komunitas menjadi kunci utama dalam keberlangsungan sebuah komunitas.

Sebulan sebelum para peserta bertemu Pak Dodik dan Ibu Septi menyediakan forum diskusi via Whatsapp untuk persiapan kami yang diadakan seminggu sekali. Dimulai dari sesi Fine Tuning untuk memastikan semua peserta memahami konsep yang diadakan oleh Padepokan Margosari:

Komunitas terdiri dari sekumpulan orang atau kelompok orang yang memiliki kesamaan dan melakukan interaksi sosial diantara mereka.

Sifat komunitas ini longgar sekali, ada yang diorganisasi dengan baik (well organized), ada yang berjalan tanpa arah, ada yang memiliki ikatan kuat,  ada pula yang longgar, ada yang memiliki struktur dan pembagian tugas, ada juga yang serabutan, ada yang berbadan hokum, ada pula yang sekadar kumpulan, dan sebagainya. Sifat-sifat ini tidak serta merta menjadikan sebuah komunitas baik atau tidak baik.

KAMTASIA tidak bermaksud menyatukan pendapat. Peserta justru didorong untuk pulang dengan membawa aneka rupa gagasan yang akan diwujudkan di area aktivitas masing-masing. Warna-warni ini akan menjadikan kita kaya ragam dan memiliki banyak alternative kegiatan komunitas. Perbedaan itu indah dan rahmat. Berbeda itu biasa.

Beberapa tamu yang diundang bukan untuk mengajari hidup berkomunitas melainkan memperkaya wawasan kita.

Sejak Ibu Septi memperkenalkan CBE, banyak dari kami yang penasaran dengan konsep ini. Apa itu CBE dan apakah semua komunitas homeschooling adalah CBE? Dan banyak pertanyaan yang dilontarkan para peserta kegiatan. CBE adalah program swadaya masyarakat di dalam membantu pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dimulai dengan para keluarga mendidik anak-anaknya dengan baik, kemudian meluas pada masyarakat sekitarnya sehingga terwujud generasi yang unggul. 

Pak Dodik memberikan contoh CBE yang terjadi di Venezuela di tingkat pendidikan tinggi sebagai berikut:

Di Venezuela, sebuah revolusi sedang berlangsung dalam dunia pendidikan. Revolusi telah mengubah orientasi pendidikan: pendidikan tidak lagi untuk tujuan profit dan mencetak tenaga kerja murah, tetapi untuk mencerdaskan rakyat dan memanusiakan manusia.

Revolusi pendidikan di Venezuela telah melangkah lebih jauh lagi: metode dan konsep pendidikan pun berubah. Pendidikan tidak melulu formal dan mekanis, tetapi sekarang diselenggarakan secara demokratis, egaliter, dan terintegrasi dengan rakyat atau komunitas.

Salah satu terobosan itu adalah pembentukan sekolah dokter bernama “Medicina Integral Comunitaria” (MIC). Berbeda dengan sekolah dokter pada umumnya, MIC adalah “universitas tanpa tembok”, yang melatih kaum muda untuk menjadi dokter di komunitasnya. Sekolah ini terintegrasi pada dua misi sosial pemerintahan Chavez: program Mission Sucre (program pendidikan) dan Barrio Adentro (program klinik kesehatan komunitas).

Siswa dari MIC adalah para pemuda dari lingkungan di sekitar klinik barrio adentro. Sebagian besar mereka adalah pemuda-pemudi dari keluarga miskin. Pada pagi hari, siswa ini membantu para dokter melayani pasien, seraya mempelajari bagaimana dokter merespon kebutuhan kesehatan komunitas. Pada sore harinya, para siswa akan bertemu dengan para pengajar MIC dalam sebuah klas formal dengan kurikulum sistematis. Para dokter muda ini akan dididik paling cepat enam tahun.

Model MIC sebetulnya diambil dari pengalaman Kuba. Di Kuba, konsep ini dinamai medicina general integral (MIG). Di tahun 1980an, sebagai upaya menjembatani layanan kesehatan dengan keluarga, Kuba memulai program yang disebut “Dokter Keluarga”. Di situ, dokter tinggal kantor medis kecil, sering disebut consultorio, yang berada di tengah komunitas yang dilayaninya.

Di tahun 1990-an, Kuba berhadapan dengan tiga kontradiksi besar: kejatuhan Soviet, krisis ekonomi Kuba, dan embargo AS. Kuba pun mengalami krisis pangan, energi dan obat-obatan. Untuk mengatasi soal krisis di bidang kesehatan, Kuba dipaksa melahirkan dokter lebih banyak. Inilah yang mendasari pembentukan medicina general integral (MIG).

Di Venezuela, konsep pendidikan dokter MIC dimulai tahun 2005, dengan dukungan penuh dokter-dokter Kuba. Saat itu, para dokter Kuba diberi tanggung-jawab ganda: tidak hanya melayani pasien di klinik barrio adentro, tetapi juga mengajar sebagai tutor atau mentor di pelatihan dokter komunitas.

Tujuan utama MIC mengintegrasikan pelatihan dokter keluarga ke dalam komunitas sebagai upaya merespon kebutuhan medis seluruh rakyat, menggunakan sumber daya lokal, dan mempromosikan penjagaan kesehatan preventif.

Keunggulan dari MIC terletak pada penyatuan antara teori dan praktek. Siswa tidak hanya mendengar pemaparan dari para guru, tetapi langsung juga terlibat dalam melayani pasien dengan bantuan dokter komunitas. Dengan begitu, mereka langsung memahami langkah-langkah pengobatan dasar.

MIC melahirkan jenis dokter yang berbeda dengan dokter pada umunya. Dokter yang dilahirkan oleh MIC adalah humanis, sosialis, berkomitmen penuh melayani rakyat.

 

Posted by Rahdian Saepuloh

Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.

Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.

5 Comments

Leave a Reply

Required fields are marked*