Kedudukan Bahasa Indonesia Saat Ini

Belakangan ini saya sering mendengar, membaca dan bahkan berdiskusi mengenai persoalan kedudukan bahasa Indonesia. Saya bukanlah seorang ahli bahasa tetapi kebetulan saya memiliki ketertarikan untuk lebih mengenal bahasa Indonesia karena pekerjaan saya berkaitan dengan pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing. Menurut saya, ketika kita ingin melihat kedudukan sebuah bahasa, kita harus bisa melihatnya secara utuh dan menyeluruh, tidak dilihat dari satu sisi atau pun beberapa sifat dari bahasa itu sendiri.

Ketika kita membicarakan masalah kebahasaan, argumen dari sisi semantik (ilmu tentang makna kata dan kalimat) dan sintaksis (ilmu tata kalimat) contohnya, akan selalu berbenturan karena setiap sudut pandang memiliki nilai-nilai yang dianutnya. Tanpa bermaksud menyederhanakan kerumitan yang melekat pada bahasa Indonesia, saya ingin mengajak para pembaca untuk melihat bahasa Indonesia seutuhnya sebagai sebuah identitas diri dan bangsa.

Sebuah bahasa akan tetap ada jika ada penuturnya. Oleh karena itu, memastikan setiap orang menggunakan bahasanya adalah sebuah kunci keberlangsungan bahasa itu sendiri. Menggunakan bahasa dengan baik sesuai dengan segala sesuatu yang melekat pada bahasa itu sendiri sama halnya dengan berkendara di jalan raya. Seseorang yang sudah memiliki pemahaman tentang kemanan berkendara di jalan raya dan memahami segala risiko yang mungkin timbul terhadap dirinya dan orang lain adalah seseorang yang memiliki martabat (tingkat harkat kemanusiaan). Sama halnya dalam berbahasa. 

Jika seseorang secara sadar “melanggar” sebuah peraturan atau rambu lalu lintas, tentunya tidak benar untuk “membenarkan” pelanggaran tersebut dari sisi mana pun baik secara kontekstual maupun situasional (misalnya karena alasan darurat, terburu-buru, terlambat masuk kerja atau alasan lainnya). Begitu juga dengan berbahasa, kita tentunya tidak benar (bukan masalah bisa atau tidak bisa) ketika seseorang secara sadar bahkan terbiasa untuk berbuat salah dalam berbahasa demi alasan konteks dan situasi. Padahal setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia sudah dilengkapi dengan berbagai fiturnya untuk memenuhi kebutuhan para penuturnya dalam setiap konteks dan situasi yang diperlukan.

Saya ingin mengajak para pembaca untuk melihat pemakaian bahasa Indonesia ini sebagai bentuk kesadaran diri masyarakat yang bermartabat dan tidak melihatnya dari sudut pandang peraturan semata.

Jika kita memiliki informasi untuk menggunakan bahasa Indonesia dan lebih memilih untuk tidak menggunakannya, tentunya tidak adil untuk mempertanyakan kedudukan bahasa Indonesia. Lebih tepatnya yang harus kita pertanyakan adalah kedudukan kita sebagai penutur bahasa tersebut. Dalam berbahasa Indonesia misalnya, seseorang yang bertutur kata dengan baik akan dianggap sebagai “mahluk aneh”, sehingga antara pihak kesatu dan pihak lainnya akan berdebat mengenai apa yang “lebih berterima” digunakan sesuai dengan konteks dan situasinya.

Sayangnya tidak banyak yang menyadari bahwa bahasa adalah bagian dari identitas setiap individu. Bagaimana individu itu memahami penggunaan sebuah bahasa dan menggunakannya untuk mengomunikasikan pikirannya masih belum begitu dipahami dengan baik oleh masyarakat kita. Tentunya berbahasa dengan baik bukan hanya sekadar berkomunikasi dan menghormati lawan bicara tetapi juga menunjukkan martabat dari individu itu sendiri.

Berbahasa dengan baik juga bukan hanya perkara enak didengar atau tidak oleh lawan bicaranya. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, sulit sekali untuk menyapa seseorang dengan dengan panggilan “bapak” atau “ibu” sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang diajak bicara. Secara otomatis setiap orang akan berkomentar bahwa dirinya tidaklah tua dan lebih memilih untuk dipanggil “mas” atau “mbak” atau bahkan nama. Dengan kata lain, orang yang bermartabat dan ingin menghormati orang lain “dipaksa” untuk menurunkan derajatnya hanya dengan alasan keluwesan berbahasa, kepraktisan berbahasa, konteks dan situasi yang terjadi di antara orang-orang tersebut. Sekali lagi, saya ingin mengajak para pembaca untuk melihat masalah kebahasaan ini sebagai refleksi bagi kita semua bahwa masalahnya terletak di penuturnya bukan bahasanya.

Apakah kita menginginkan anak-anak kita mampu berbahasa Indonesia dengan baik? Pertanyaan besarnya, Apakah kita mampu memberikan contoh yang baik? Kebutuhan terhadap sesuatu akan ada jika orang-orang tetap menggunakannya. Berdasarkan situasi ini terbentuklah Masyarakat Peduli Bahasa Indonesia (MPBI). Berikut ini adalah landasan pemikiran dari Masyarakat Peduli Bahasa Indonesia yang ditulis oleh teman saya Bayu (Kepala Divisi Pengkajian Bahasa Indonesia dan Pengembangan Kurikulum di Language Studies Indonesia) :

Pada tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia berjanji untuk berbahasa satu sebagai perwujudan kesatuan bangsa. Bahasa yang dipilih bukanlah bahasa Indonesia dengan embel-embel (bahasa Indonesia “gado-gado”: bahasa Indonesia-Inggris, Indonesia-Jawa, Indonesia-Sunda & campuran lainnya. Tidak juga bahasa Indonesia dengan pemotongan di sana-sini: bahasa gaul, bahasa prokem dan lainnya) tetapi bahasa Indonesia yang sebenarnya (yang memang sejatinya hanya satu) yaitu bahasa Indonesia yang baku (standar). Ke manakah komitmen itu kemudian? semua unsur bangsa seperti tanpa sadar telah bersepakat untuk menghapus bahasa standar tersebut, dalam terminologi studi kebahasaan bahkan disebutkan secara personifikatif “membunuhnya”. Bahkan bila diizinkan saya akan meminjam istilah yang digaungkan oleh David Crystal, seorang bahasawan berkewarganegaraan Inggris untuk menggambarkan secara tepat peristiwa ini Language Suicide (bunuh diri bahasa), yang secara umum menyatakan bahwa telah terjadi sebuah pemusnahan bahasa yang dilakukan oleh penuturnya sendiri.

Hal ini (pemusnahan bahasa) tidak terlalu menjadi soal bila kita (anak bangsa) memang bersepakat melakukan itu, dengan alasan tertentu seperti membuat bahasa baru yang lebih relevan dengan kebutuhan kita. Pertanyaan selanjutnya, apakah kita semua melakukan hal ini dengan sadar? Apakah kita semua melakukan ini atas dasar keinginan kita? Bila jawabannya tidak, asumsi yang timbul kemudian adalah kita sebagai bangsa tidak sadar kita sedang bersama-sama melakukan pembunuhan tersebut.

Banyak orang yang kemudian menyerah kepada kenyataan “betapa beragamnya bangsa Indonesia” yang kemudian dijadikan dalih empiris untuk tidak memperjuangkan kebakuan bentuk bahasa Indonesia. Pendahulu kita telah melihat keberagaman kita, sehingga mereka berpikir bahwa sebelum menyatukan hati, jiwa, semangat, salah satu bagian terpenting yang harus diseragamkan (melalui sumpah pemuda) adalah Bahasa, yang kemudian ditetapkanlah bahasa Indonesia sebagai bahasa identitas SATU-SATUNYA.

Bila kemudian kita menyerah kepada keberagaman kita untuk mengindonesiakan bahasa Indonesia, dengan dalih “setiap orang berhak berkomunikasi dengan cara dan bahasa yang dipilihnya sebagai wahana mewariskan budaya kelokalannya”, antitesis untuk pendapat tersebut adalah, ”lalu mengapa sepupu saya yang tinggal di Lhoksumawe bisa fasih sekali berdialek Jakarta!? (menggucapkan /nggak/ atau /gak/ misalnya)”. Bila sumber tuturan bahasa tersebut jaraknya ratusan kilometer dan berhasil menyerap ke dalam pemakaian sehari-hari dan terjangkau, lalu mengapa bahasa Indonesia tidak ada dalam tuturan sehari-hari di lokasi yang sama saat bahasa ini punya lebih banyak sumber (bacaan, tulisan pemerintahan: pengumuman, imbauan, surat negara dan contoh lainnya)?

Fenomena berikutnya, bagaimana bisa media cetak yang menjadi sumber bacaan bahasa tersebut kemudian ikut berkontribusi mengaburkan makna leksikal (makna kata dalam kamus) hanya demi keuntungan yang sebesar-besarnya.

Sumber kompas.com (09/11/2015 jam akses 15.04)

Daftar judul berita:

  1. Peneliti Temukan Cara Efektif Tenangkan Bayi Menangis. Sumber
  1. Kontras : Polisi Hanya Tangkap “Otak Kecil” Kasus Pembunuhan Salim Kancil. Sumber
  1. Terminal Mewah Pulo Gebang Hanya Jadi Tempat Tidur Sopir dan Tunawisma. Sumber

Dari sekian banyak judul berita ketika situs tersebut terakses, kita bisa melihat bahwa “hanya dari judul saja” dapat kita simpulkan mereka tidak ingin kehilangan keuntungan atau “mengirit kolom” dengan menghilangkan (menimalkan) penggunaan imbuhan (dalam kasus ini kebetulan semua kalimat membutuhkan awalan Me-).

Untuk diingat, yang kita bicarakan adalah bahasa Indonesia baku, tanpa embel-embel apapun. Bahkan bila dipaksakan menciptakan embel-embel “media massa”. Tidak ada lagi jawaban yang lain kecuali, ”bahasa ini tidak lagi menjadi pilihan”.

Kedua hal tersebut (mengasingnya penggunaan dan penyederhanaan bahasa) adalah ciri-ciri proses kepunahan bahasa. Apakah hal ini masih menjadi hal yang tidak penting lagi?

Lalu bagaimanakah cara pandang kita sebagai bangsa? adakah yang tersisa? Memang betul, bahasa daerah adalah akar bahasa nasional, yang menopang keberlangsungan bahasa tersebut. Tetapi bukankah kita memerlukan cara pandang kolektif sebagai bangsa, dan bagaimana cara pandang itu bisa tercipta bila perantara komunikasi dan alat bertukar pikiran (bahasa) rusak? Atau malah kemudian menjadi asing? Hal yang sangat logis terjadi kemudian adalah superioritas bahasa lokal satu terhadap yang lainnya, yang pasti akan membunuh bahasa lokal yang tidak terpilih. Lalu bahasa apa yang akan kita miliki?

Pemerintah bukan tidak melakukan apapun, melalui badan bahasa yang luar biasa bekerja keras membuat berbagai gerakan, mereka berusaha memelekkan masyarakat untuk menyemarakkan lagi bahasa Indonesia. Hanya saja, entah bagaimana tidak ada gebrakan yang terasa. Undang-undang sudah ada, kongres bahasa sudah ada, berbagai seminar kebahasaan sudah ada, entah apa lagi yang tidak tersentuh.

Oleh karena itu, pilihan ada di tangan kita yang menyadari bahwa pembunuhan ini sedang berlangsung secara masif dan agresif untuk turun tangan ataukah berpangku tangan. Dengan rasa keprihatinan terhadap bahasa Indonesia yang sedikit demi sedikit terlupakan, saya bersama teman saya ingin mengajak para pembaca untuk bergabung dalam Masyarakat Peduli Bahasa Indonesia (MPBI). Tujuan dari gerakan ini adalah untuk membangun kesadaran pemakaian bahasa Indonesia dengan cara mendokumentasikan setiap kesalahan yang terlihat di lapangan sebagai wujud kepedulian kita terhadap pemakaian bahasa Indonesia.

Semoga dengan mendokumentasikannya kita bisa bersama-sama membangun kesadaran diri pribadi dan orang lain untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan bisa lebih mengenal bahasa Indonesia lebih baik lagi. Demi martabat bangsa, identitas diri kita dan identitas anak-anak kita di masa yang akan datang.

Silakan ikuti akun jejaring sosial di bawah ini untuk ikut serta mendokumentasikan dan mengungggah kesalahan pemakaian bahasa Indonesia yang terjadi di sekeliling kita:

twitter : @satubahasakita

Facebook : Masyarakat Peduli Bahasa Indonesia

Instagram : @pedulibahasaindonesia

Posted by Rahdian Saepuloh

<p>Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.</p>
<p>Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.</p>

2 Comments

  1. Saya sangat mendukung penggunaan bahasa Indonesia yang benar dan baik. Apakah ada saran-saran yang dapat ayah Kiran sampaikan pada kami, bagaimana caranya agar kami dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan benar dan baik? Mungkin hal itu akan mempermudah bagi saya dan teman-teman yang lain yang belum dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan benar dan baik. Salam.

    1. Saran saya, mulailah dari diri sendiri dan gunakan bahasa yang kita miliki sebaik mungkin. Jika ragu, merujuklah kepada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Saya pun masih belajar dan kesulitan untuk mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari. Lebih mudah menerapkannya di dalam lingkungan kerja karena kondisinya yang lebih formal. Mungkin ketika kita berkumpul, bisa kita praktikan bersama ya supaya anak-anak bisa belajar juga.

Leave a Reply

Required fields are marked*