Konsekuensi Logis

Dua minggu yang lalu, Kiran dan 3 orang temannya menghilangkan bola tendang milik Maji. Salah satu anak menendang bola terlalu tinggi sehingga bolanya melambung keluar pagar. Ketika dicari, bola tersebut hilang dan tidak dapat ditemukan. Lalu, setelah mengatakan maaf ke Maji dan mamanya berarti masalah selesai? NO WAY, JOSE! Mereka harus menerima konsekuensi logis dari perbuatan mereka.

Jadi apa itu konsekuensi logis? It is apology beyond action. Konsekuensi logis adalah strategi yang biasanya digunakan oleh para guru apabila murid-murid di kelas mereka berperilaku yang membuat orang lain tidak nyaman. Ketika saya masih menjadi guru, hampir setiap hari saya menerapkan konsekuensi logis kepada anak-anak apabila peringatan sudah tidak lagi diindahkan serta perilaku dan tindakan mereka tidak membuat nyaman atau bahkan merugikan orang lain. Dengan memberikan konsekuensi logis atau konsekuensi yang sesuai dengan perbuatan mereka, anak-anak akan belajar bertanggung jawab atas tindakan yang mereka lakukan.

Sering kali, orang dewasa, dalam hal ini orang tua, ketika anak misbehave, mereka cenderung memberikan konsekuensi yang tidak logis alias ngga nyambung. Contohnya, anak memukul temannya hingga temannya menangis. Alih-alih menyuruh anak meminta maaf, orang tuanya malah memarahi dan menghukumnya dengan tidak boleh menonton TV selama 1 minggu. Atau kalau di film-film bule, orang tuanya akan bilang “You are grounded, now go to your room!” dan anak yang dihukum akan banting pintu (korban TV banget saya ☺). Nah, dari kacamata si anak, dia akan merasa dihukum. Anak-anak akan takut dihukum. Kalau anak takut, apa yang ia pelajari? “Lain kali jangan sampai ketahuan mama atau papa ah, nanti dimarahi lagi”. Nah, yang ada anak akan takut, takut dimarahi, takut ketahuan. Apakah itu yang Anda mau? Anak takut atau anak belajar? Dengan menerapkan 3 jenis konsekuensi logis berikut ini dalam keseharian Anda, diharapkan nantinya anak akan mengerti dan belajar dari kesalahannya.

YOU BREAK IT, YOU FIX IT.
Strategi pertama adalah You Break It, You Fix It. Kasus Kiran di atas adalah contoh konsekuensi logis yang pertama. Setelah meminta maaf kepada Majid dan Bibi Nada, konsekuensi untuk Kiran dan kawan-kawannya adalah mengganti bola milik Maji. Anak-anak itu sepakat untuk bekerja di rumah, mengumpulkan uang yang nantinya akan digunakan untuk membeli bola. Masuk akal kan? Contoh lainnya, Kiran bermain dengan tanah di pekarangan rumah sehingga mengotori lantai dan halaman. Apakah saya marah? Ngga dong! Setelah meminta maaf kepada saya, Konsekuensi Kiran adalah membersihkan pekarangan dari tanah dan mengepel lantai hingga bersih, dan mencuci bajunya yang terkena noda. Terdengar kejam mungkin untuk sebagian orang tua, tapi lihat sisi pendidikannya, Kiran akan lebih berhati-hati dalam bertindak di kemudian hari.

Strategi ini lebih menekankan pada konsekuensi yang diterima si anak apabila ia merusakkan sesuatu yang disengaja ataupun tidak dan si anak harus memperbaiki kerusakan itu. Anak merusakkan barang, ia harus perbaiki, dengan cara apapun yang ia bisa lakukan. Anak bermain dengan mainan sampai berantakan, konsekuensinya ia harus membereskan mainannya sendiri sampai bersih. Konsekuensi ini harus bersih dari interupsi orang dewasa ya. Biarkan anak belajar memperbaiki kesalahannya.

LOSS OF PRIVILEGE
Strategi kedua ini diterapkan ketika perilaku anak tidak sesuai dengan kesepakatan yang sudah dibuat. Orang tua sudah mengingatkan anak beberapa kali, tetapi si anak tidak mendengarkan peringatannya. Konsekuensinya, si anak kehilangan waktu bermainnya untuk beberapa saat atau untuk hari itu. Contoh: setiap hari Kiran mempunyai tanggung jawab yang disebut simple steps. Kegiatan belajar Kiran di rumah dimulai jam 9 dan Kiran memilih untuk bermain tablet sebagai awal kegiatan. Jadi Kiran harus sudah menyelesaikan simple stepsnya sebelum jam 9. Lewat jam 9, berarti konsekuensinya Kiran kehilangan waktu bermain tabletnya.

Contoh lain misalnya, Kiran bermain spidol milik saya. Setelah bermain, Kiran tidak membereskannya lagi sampai saya ingatkan berkali-kali. Untuk itu, konsekuensi Kiran adalah ia tidak boleh bermain lagi dengan spidol saya pada hari itu. Kiran baru boleh meminjam spidol saya lagi sesuai kesepakatan yang dibuat bersama saya. Perlu diingat bahwa konsekuensi logis ini digunakan ketika orang tua dan anak sudah tahu aturan yang berlaku. Jadi ketika konsekuensi ini Anda berikan, usahakan untuk membahas kembali dengan anak agar anak mengerti ekspektasi Anda.

TIME OUT
Strategi ketiga ini diberikan ketika anak tidak bisa mengontrol tindakannya. Ketika bermain bersama teman-temannya, Anda melihat sendiri anak Anda memukul temannya atau anak Anda melakukan hal yang tidak membuat temannya nyaman. Apabila Anda sudah mengingatkan anak berkali-kali namun anak masih saja bertindak tidak terkontrol, time out adalah solusi terbaik. Panggil si anak, ajak anak duduk dekat Anda, beritahu kenapa Anda memanggilnya, dan berikan ia waktu untuk memikirkan tindakannya tadi. Anak Anda bisa kembali bermain setelah ia berjanji untuk mengontrol cara bermainnya.

Dengan menerapkan konsekuensi logis di atas, tidak hanya keseharian orang tua dan anak akan lebih harmonis, tetapi juga membuat anak belajar dari tindakan dan perilaku yang kurang baik (dan juga menjaga kewarasan orang tua hehe). Jadi, stop memberikan hukuman kepada anak, ajak anak bicara, berikan konsekuensi yang logis kepadanya.

Kiran dan temannya sempat protes ketika mereka diminta untuk bertanggung jawab mengganti bola milik Maji. Dia merasa bukan dia yang menghilangkan, tetapi karena Kiran ikut bermain, ia juga harus bertanggung jawab mengembalikan bola Maji. Setelah berdiskusi, diputuskan bahwa anak-anak ini akan bekerja untuk mendapatkan uang. Lalu mereka akan menggunakan uang yang mereka kumpulkan bersama untuk membeli bola baru untuk Maji. Banyak orang tua yang akan menggampangkan masalah seperti ini. Ah 30 ribu aja, nanti mama belikan yang baru. Padahal dengan mendapatkan konsekuensi seperti ini, anak-anak belajar banyak hal. Mereka belajar untuk menghargai barang milik orang lain, menghargai segala jenis pekerjaan, dan akan lebih berhati-hati ketika bertindak. Konsekuensi justru akan mendewasakan mereka, asalkan konsekuensi yang diberikan sesuai dengan perbuatan mereka.

Posted by Rahdian Saepuloh

Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.

Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.

Leave a Reply

Required fields are marked*