Legalitas Homeschooling

CATATAN PENTING

Agenda Kegiatan

Profil Pengisi Acara


LATAR BELAKANG

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kami ingin menjelaskan latar belakang dari kegiatan Legalitas Homeschooling yang akan diadakan pada tanggal 9 April 2017.

Kami adalah beberapa keluarga praktisi homeschooling yang terpanggil untuk menginisiasi kegiatan ini sebagai bentuk dukungan kami dari kegiatan Safari Homeschooling yang diadakan oleh Perserikatan Homeschooler Indonesia (PHI).

Semua orang yang terlibat di dalam kepanitiaan adalah sukarelawan tanpa bayaran dan semua dana yang terkumpul dari semua peserta kegiatan kami gunakan sepenuhnya untuk keperluan transportasi narasumber (narasumber tidak memungut biaya apapun dari kegiatan ini).

Beberapa hal yang melatarbelakangi kegiatan ini adalah (klik link di bawah untuk melihat informasi selengkapnya) :


SAFARI HOMESCHOOLER

Adapun realisasi dari kegiatan yang akan diadakan pada tanggal 9 April 2017 nanti adalah tindak lanjut dari ajakan SAFARI KELILING HOMESCHOOLER berikut ini:

PERSERIKATAN HOMESCHOOLER INDONESIA, SIAPA ITU? MENGAPA MELAKUKAN SAFARI HOMESCHOOLER?

(Suatu Ajakan untuk Bergabung ke dalam Gerakan Homeschooler se-Indonesia)

PENGANTAR

Sudah bertahun-tahun sebetulnya, para praktisi HS merasa adanya kebutuhan untuk advokasi. Advokasi artinya upaya memperjuangkan kepentingan homeschooler di hadapan pemerintah dan masyarakat. Namun, disadari bahwa untuk melakukan advokasi, kita butuh organisasi lintas daerah.

Awalnya para praktisi HS maju-mundur untuk membentuk organisasi karena kendala jarak dan waktu. Selain tinggal di kota yang terpisah-pisah, kebanyakan praktisi merasa sudah cukup sibuk dengan urusan mendidik anak-anak. Sempat ada beberapa praktisi yang berusaha membentuk organisasi, tetapi karena satu dan lain hal akhirnya terhenti di tengah jalan.

ANSOS DAN INDONESIA HOMESCHOOLERS

Bulan Oktober 2016, kebetulan beberapa homeschooler terlibat dalam Pertemuan Nasional Jaringan Pendidikan Alternatif di Yogyakarta. Ada yang jadi panitia, ada yang jadi perwakilan dari komunitas HS masing-masing. Di situlah saya mencetuskan ide agar sekalian saja dari Yogya, para homeschooler langsung lanjut berkumpul di Semarang, untuk membahas rencana kongkret mengawali gerakan homeschooler.

Gayung bersambut. Belasan homeschooler dari berbagai kota bersedia ikut rembugan. Ada Mas Aar, Mas Siddiq, Mbak Lala, Mbak Mella, Mbak Annette, Mbak Wiwiet dari Jakarta. Mbak Moi dari Cilegon. Mbak Idaul dari Malang. Mbak Rebecca dari Nias. Putri dari Semarang. Mas Sapta dan Mbak Ira dari Yogya. Lyly dari Surabaya. Mbak Ade dari Salatiga. Menyusul bergabung kemudian Mbak Noor Aini dari Solo dan Mbak Raken dari Jakarta.

Rembugan dikemas dalam bentuk kelas analisis sosial (ansos) tanggal 24-25 Oktober 2016 di Semarang. Dalam kelas ini, para peserta, dibantu oleh fasilitator, menganalisis bersama akar dari masalah-masalah yang dihadapi homeschooler (http://bit.ly/2iG1ReU). Didapati bahwa intinya, pemerintah dan masyarakat masih terkurung dalam paradigma “pendidikan = persekolahan”. Baik kebijakan maupun aparat di dinas pendidikan belum paham esensi dari pendidikan dan homeschooling, sehingga tidak akomodatif pada kepentingan HSer.

Problem mendasar lainnya, kebanyakan homeschooler sendiri belum punya pengetahuan tentang aturan hukum yang mengatur mereka dan belum bergerak secara sistematis untuk memperjuangkan kebijakan yang mewakili kepentingan Hser. Sementara di sisi lain, banyak pihak yang menjual label “homeschooling” untuk bisnis pendidikan mereka, dan mereka justru aktif berorganisasi dan melobi pemerintah demi kepentingannya, yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan “sekolahrumah sejati” (http://bit.ly/2ixmXeJ).

Dari kelas ansos, para peserta sepakat memakai forum Indonesia Homeschoolers dan event festival homeschooling tahunan untuk merangkul para HSer agar lebih erat lagi. Namun, pembentukan organisasi masih ditunda karena sebagian peserta masih ragu dan punya kekuatiran jangan-jangan akan berhenti di tengah jalan lagi seperti dulu.

SARASEHAN DAN PHI

Ansos menyadarkan kami bahwa pengetahuan HSer tentang kebijakan yang mengatur HS masih minim. Sebagai tindak lanjut, saya menginisiasi Sarasehan “Homeschooling dalam Peta Kebijakan Pendidikan Nasional” di Yogya, tanggal 11 Desember 2016. Kami mengundang Fauzi Eko Pranyono, pemerhati pendidikan non-formal sekaligus anggota tim perumus juknis sekolahrumah Kemdikbud (http://bit.ly/2i8c7Jj).

Dari sarasehan, makin tersadar bahwa selama ini kita homeschooler terlalu pasif, bahkan tidak terlibat sama sekali dalam proses penyusunan kebijakan yang sebetulnya sangat krusial bagi nasib kita. Beda jauh dengan organisasi lembaga HS yang giat mengajukan usul ini-itu pada pemerintah. Akhirnya, saya usulkan kepada tim Indonesia Homeschooler agar segera membentuk organisasi homeschooler, supaya tahun 2017, kita sudah bisa cepat bergerak mengawal perumusan berbagai kebijakan dan segala kegiatan advokasi lainnya.

Setelah dilontarkan, sepuluh orang berkomitmen untuk menjadi anggota inti dan pendiri organisasi homeschooler, sementara yang lainnya siap mendukung tapi belum mau terlibat dalam struktur organisasi. Adapun sepuluh orang tersebut adalah:

1. Ellen Kristi (Semarang)

2. Anggrahenny C Putri (Semarang)

3. Sapta Nugraha (Yogyakarta)

4. Dominika Oktavira Arumdati (Yogyakarta)

5. Noor Aini Prasetyawati (Solo)

6. Moi Kusman (Cilegon)

7. Annette Mau (Jakarta)

8. Idaul HS (Malang)

9. Lyly Freshty (Surabaya)

10. Rebecca Laiya (Nias)

Demikianlah tanggal 20 Desember 2016, disepakati nama organisasi Perserikatan Homeschooler Indonesia (PHI). Terinspirasi dari nama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), nama Perserikatan menunjukkan kita adalah keluarga-keluarga yang otonom tetapi sepakat bergabung untuk mewujudkan dunia (pendidikan) yang lebih baik di Indonesia.

SAFARI DAN PENGORGANISASIAN

Selanjutnya, PHI sedang mengurus legalisasinya sebagai badan hukum. Kedudukan sebagai badan hukum ini penting apabila nanti PHI menghadap pemerintah, melakukan judicial review, dan lain-lain upaya advokasi yang butuh identitas hukum.

Sembari menyelesaikan urusan legal ini, PHI akan memulai safari untuk mengajak teman-teman HSer di berbagai kota/kabupaten untuk membentuk simpul organisasi, agar makin kuat daya tawar kita ketika berhadapan dengan pemerintah.

Jadi, safari ini tidak lagi diselenggarakan atas nama Indonesia Homeschoolers (IH), melainkan atas nama Perserikatan Homeschooler Indonesia (PHI). Yang akan bergerak keliling adalah tim 10 anggota inti PHI. Selain sosialisasi juknis, tujuannya adalah mengorganisir homeschooler di daerah-daerah agar menjadi satu kekuatan untuk memperjuangkan kepentingan homeschooler di ranah kebijakan dan advokasi masyarakat.

Beberapa agenda yang akan dibicarakan dalam sesi safari:

1. Presentasi dan tanya jawab:

– Homeschooling dalam peta kebijakan pendidikan nasional

– Sosialisasi rancangan juknis sekolahrumah (informasi dari Sarasehan)

– Mengapa homeschooler perlu berorganisasi

– Visi-misi, struktur, dan program kerja PHI sebagai organisasi homeschooler se-Indonesia

2. Pengisian formulir anggota PHI, bagi yang bersedia

3. Penetapan koordinator Simpul Kota dan koordinasi kerja

Sesuai kata bijak: sebatang lidi mudah dipatahkan, tapi seikat sapu lidi tidak. Kalau kita berjalan sendiri-sendiri, selamanya kita akan menjadi objek saja. Kalau pas pemerintah “baik hati”, kita mendapat kebijakan yang baik. Kalau tidak? Jangan sampai kita hanya marah-marah dan ngomel di media sosial, tapi ketika ditanya: “Memangnya kamu sudah usul apa?” ternyata selama ini kita tidak berbuat apa-apa.

AKHIR KATA …

PHI mengapresiasi perjalanan panjang semua insiatif dan upaya terdahulu untuk menyatukan kekuatan homeschooler lewat organisasi, komunitas lokal, even dan festival. PHI berharap tahun 2017 ini kita bersama bisa bergerak lebih progresif sebagai HOMESCHOOLER INDONESIA, melampaui batas wilayah dan sekat-sekat primordial apa pun.

Mari kita bantu pemerintah dan masyarakat untuk lebih paham apa esensi dari kemerdekaan belajar serta pentingnya keluarga sebagai basis pendidikan. Mari kita yakinkan pemerintah bahwa keluarga kita siap dan mampu bertanggung jawab penuh atas pendidikan anak-anak kita sendiri tanpa harus menitipkan di satuan pendidikan formal.

Sepakat dengan tujuan Perserikatan Homeschooler Indonesia? Mari bergandeng tangan.

Salam HS,

Ellen Kristi

(Koordinator Nasional PHI)

NB: Untuk penjadwalan kunjungan tim PHI di kota/komunitas HS Anda, sila kontak Putri (0812-2552-773).