Memberi Ruang kepada Kakak Beradik

Punya anak dengan jarak usia relatif dekat (2 thn), jenis kelamin sama, dan muka juga mirip-mirip. Saya harus hati-hati dalam memperlakukan mereka. Saya harus selalu mengingat bahwa mereka itu 2 manusia yang berbeda; beda karakter, beda keinginan, dan yang pasti ingin diperlakukan dengan berbeda juga.

“De, kok nggak ikut latihan futsal seperti Mas?”

“De, kok ikutnya dance sih liat tuh mas nya latihan basket”

“Mas, kok bayamnya tidak dimakan? Ade, makan bayamnya lahap sekali loh”.

Mungkin tanpa sadar kita pernah melontarkan kata-kata diatas. Terkadang sebagai orang tua pengennya yang gampang-gampang aja. Melontarkan kata-kata di atas jelas akan sangat mudah membakar persaingan di antara keduanya. Untuk jangka pendek sangat meringankan pekerjaan saya tentunya. Dengan mudahnya mereka akan terpancing dengan kalimat-kalimat di atas. Tetapi sayang, kemudahan-kemudahan itu hanya akan menambah masalah baru di kemudian hari. Bukan hanya sibling rivalry yang muncul, mereka menjadi tidak tahu apa yang sebetulnya yang mereka inginkan. Mereka mengerjakan sesuatu hanya demi persaingan semu yang dibentuk oleh pertanyaan ataupun pernyataan seperti contoh di atas. #tepokjidat #sadarlah #waraslah

Sebagai orang tua seringkali kita terjebak untuk membandingkan anak-anak kita dengan alasan keseragaman biar-nggak-ribet, biar-gampang, dan biar-biar lainnya yang hanya akan merusak fitrah si anak.

Semoga kita selalu diberi kewarasan untuk selalu mengapresiasi mereka apa adanya sesuai dengan karakter masing-masing dan mereka bisa menjadi dirinya sendiri dengan segala keunikannya.

2 Comments

  1. Anak2 saya juga jaraknya 2 thn, kinan & Aidan. Si kakak sedang dalam fase jealous ke adiknya yang secara tidak sadar lebih diperhatikan. Semoga “siblings rivalry” ini bisa kami minimalisasi seiring usia anak2 yang semakin bertambah.

Leave a Reply

Required fields are marked*