Mengenal Metode Charlotte Mason

Kamis, 14 September kami mengadakan kegiatan berbagi tentang metode Charlotte Mason. Kegiatan berbagi ini didorong oleh permintaan banyak teman sepulangnya kami menghadiri Temu Raya Praktisi Charlotte Mason (CM) Indonesia selama 4 hari mulai dari 31 Agustus sampai 3 September di Kopeng, Salatiga.

Kegiatan berbagi ini diisi oleh Ayu Primadini dan Priska Akwila Sabrina Widianto yang telah menjalani metode Charlotte Mason selama beberapa tahun, saya sendiri berperan sebagai moderator. Kami tidak mengira banyak orang yang tertarik untuk mempelajari metode Charlotte Mason yang seringkali dihakimi kaku dan sulit karena filosofi dan prinsip-prinsipnya. Dari 35 orang yang mengonfirmasi kedatangannya melalui Facebook Event yang kami buat, ternyata pada hari H terdapat 59 orang yang hadir bahkan 2 di antaranya sengaja datang dari Sumatera dan Lombok demi acara yang kami adakan di rumah salah satu teman kami, Nada Arini di daerah Jagakarsa.

Saya membuka acara dengan menceritakan betapa beruntungnya kami sekeluarga bisa bergabung di acara Temu Raya CM Indonesia dan belajar langsung dari banyak praktisi CM. Dari pemahaman saya ternyata banyak orang yang menganggap metode ini sulit dan kaku karena mereka tidak memahami filosofi dan prinsip-prinsip dari metode ini. Saya pun awalnya sempat terjebak opini yang beredar di dalam sekitar saya sampai harus menunggu dua tahun untuk membaca buku Cinta yang Berpikir yang ditulis Ellen Kristi, pendiri Komunitas Charlotte Mason Indonesia. Ternyata setelah saya dan Nuni membaca buku tersebut, kami menemukan yang selama ini keluarga kami cari. Kami mulai mempelajari dan mencoba memahami prinsip-prinsip dan filosofi metode CM setiap hari dan semakin kami mempelajarinya  semakin jatuh cinta kami terhadap metode yang menekankan bahwa setiap anak adalah pribadi yang utuh.

Setelah pembukaan yang singkat dari saya, Ayu, mulai membagikan pengalamannya menjalani homeschooling bersama-anak-anaknya dan bagaimana keluarganya mulai menerapkan metode CM. Berawal dari pendekatan eklektik untuk pendidikan keluarganya, Ayu, tersadar bahwa kebutuhan pendidikan anaknya masih kurang karena tersibukkan oleh hal teknis dalam menjalani keseharian homeschooling tanpa memiliki filosofi dari pendidikan yang dijalaninya. Ayu menjelaskan bahwa setelah mempertanyakan kembali alasan dibalik kegiatan homeschooling keluarganya, dirinya mendapati filosofi pendidikan untuk anak-anaknya setelah mempertanyakan kembali visi dan misi keluarganya dalam menjalani homeshooling.

Ayu melanjutkan ceritanya dengan pernyataan pertama dari dua puluh butir filsafat pendidikan Charlotte Mason, Children are born persons dan menjelaskan bahwa anak adalah pribadi yang utuh. Anak bukan kertas kosong untuk ditulisi yang pemikirannya seringkali kita anggap tidak mampu mencerna nilai-nilai mulia atau gagasan-gagasan yang luhur. Satu persatu Ayu menjelaskan beberapa metode kunci ala CM secara singkat mulai dari habit training yang bisa dilatih sejak anak lahir dan perlu terus dilatih seumur hidup, habit of obedience, dan habit of attention. Selanjutnya Ayu menjelaskan tentang education is an athmosphere, bahwa anak-anak belajar dari lingkungan nyata tanpa kita harus menyiapkan situasi artifisial supaya anak-anak bisa “belajar”. Peran orangtua adalah membantu anak menggunakan kesempatan dalam lingkungan di mana anak tersebut berada untuk membantunya belajar.

Butir filsafat berikutnya yang dibahas oleh Ayu adalah education is a discipline. Setiap anak terlahir dengan kecenderungan sifat baik dan buruk dan akan membuat pilihan baik dan buruk dalam hidupnya. Disiplin yang dimaksud adalah membantu anak membentuk kebiasaan baik dan memiliki kendali diri terhadap hasratnya melakukan sesuatu.

Education is a life menutup penjelasan Ayu mengenai beberapa butir filsafat CM. Charlotte Mason percaya bahwa anak membutuhkan keseimbangan terhadap kebutuhan intelektual, moral dan fisiknya. Pemenuhan kebutuhan tersebut hanya dapat terpenuhi dengan memberikan perjamuan ide kepada anak.

Setelah satu jam berlalu, sesi tanya jawab pun berlangsung. Pertanyaan mengalir deras mulai dari living books, proses narasi, nature walk, nature journal, masterly inactivity. Di sesi tanya jawab ini Priska dan Ayu menjawab setiap pertanyaan dari para peserta kegiatan berdasarkan pengalaman mereka menerapkan metode CM di dalam keluarganya masing-masing. Terlihat wajah-wajah peserta yang mulai mendapatkan pencerahan dari jawaban-jawaban yang diberikan.

Waktu terasa berjalan dengan cepat, setelah dua setengah jam berlalu kami mengakhiri kegiatan ini karena narasumber memiliki memiliki kegiatan di tempat lain. Setelah makan siang dan berfoto bersama, masih banyak peserta kegiatan yang masih asyik mengobrol satu sama lain berkenalan, berjejaring dan saling bertukar cerita sampai sore. Kami sempat bertanya kepada para peserta kegiatan apakah mereka tertarik untuk mengadakan pertemuan rutin membahas filosofi dan prinsip-prinsip metode CM, hampir semua peserta yang hadir mengangkat tangan mereka dengan sigap menandakan mereka siap untuk mendalami metode ini dengan lebih baik lagi demi pemenuhan pendidikan anak-anaknya.

Posted by Rahdian Saepuloh

<p>Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.</p>
<p>Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.</p>

Leave a Reply

Required fields are marked*