Museum Polri

Kali ini menerima undangan terbuka dari Tunas (salah satu komunitas homeschooling di Jakarta Selatan) untuk pergi ke Museum Polri. Hanya saya dan Kiran yang berangkat ke museum karena kegiatan ini dilakukan pada hari kerja dan Bunda Kiran harus bekerja.ย Kiran bersemangat sekali ketika saya beritahu bahwa di sana dia akan melihat helikopter.

Ketika tiba di sana, saya bertemu keluarga-keluarga baru yang penuh semangat menemani anak-anaknya berkegiatan. Sebelum semuanya berkumpul kami sudah mencuri start untuk berfoto di depan museum. Di bagian depan museum terparkir gagah sebuah tank dan helikopter. Ketika kami memasuki lobi museum, kami disambut oleh 3 orang polisi wanita yang ramah. Sebuah mobil polisi pun terparkir di pojok lobi yang langsung menjadi incaran anak-anak.

Rangkaian tur museum diawali dengan menonton sebuah film di lantai 2. Sempat terkaget juga ketika memasuki ruang menonton di museum ini, karena sangat bersih, tertata rapi dan tasteful. Kurang lebih seperti bioskop XXI (kecuali mutu suaranya, belum Dolby ;)). Tidak menyangka mendapat kualitas setara bioskop untuk menonton di museum ini. Film yang dimainkan adalah tentang polisi wisata di Bali. Bercerita mengenai sekelompok anak yang berperan sebagai polisi wisata. Untuk mengetahui detil ceritanya, silakan datang langsung ke lokasi ๐Ÿ™‚

Ruang menonton

Setelah film selesai dimainkan, kemudian ketiga polwan tersebut mengajak anak-anak bermain area Kids Corner. Di area ini anak-anak bisa bermain peran menjadi polisi. Kostum polisi pun tergantung rapi siap untuk digunakan. 2 buah mobil dan motor bertenaga baterai terparkir di pinggir area. Namun sayang, sepertinya daya baterai untuk motor mainan tersebut tidak diisi ulang sehingga anak-anak agak kesulitan menggunakan motor mainannya. Namun hal itu tidak menghambat anak-anak untuk menikmati waktu mereka di sana. Selain itu tersedia macam-macam puzzle dan mainan edukatif lainnya yang tersedia di atas meja. Anak-anak juga belajar sedikit tentang rambu lalu lintas dari ketiga polwan yang ramah itu.

Yang paling menarik di area ini adalah dindingnya. Dinding di area ini sudah disulap menjadi sebuah permainan bercerita di mana kita akan berperan sebagai detektif yang harus memecahkan sebuah kasus dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan. Konsep yang sangat menarik, namun permainan ini lebih tepat dimainkan untuk anak berumur 8 tahun ke atas karena melibatkan kemampuan membaca dan berlogika.

Kids Corner

Bermain di Kids Corner

Setelah anak-anak selesai bermain di Kids Corner, ketiga polwan tadi melanjutkan rangkaian kegiatan tur dengan menjelaskan macam-macam seragam polisi. Mulai dari seragam polisi berkuda, lengkap dengan pecutnya sampai berbagai jenis topi yang dikenakan oleh polisi. Kemudian anak-anak diajak untuk melihat robot penjinak bom yang dikendalikan menggunakan pengendali jarak jauh dan sebuah komputer untuk melihat apa yang ditunjukkan oleh robot penjinak itu. Anak-anak bersemangat sekali mendengarkan penjelasan dari ketiga polwan tersebut sampai beberapa anak langsung berkomentar ingin menjadi polisi supaya bisa bermain dengan robot penjinak bom (namanya juga anak-anak, bawaannya tetap saja ingin bermain) ๐Ÿ˜‰

Selepas itu, kami diajak turun kembali ke lantai 1 untuk melihat koleksi persenjataan yang terdapat di museum. Yang menarik ketika kami berada di lantai 1 adalah tantangan yang diberikan oleh salah satu polwan kepada anak-anak ketika menanyakan jika ada anak yang ingin bernyanyi. Ternyata Kiran langsung menjawab tantangan polwan tersebut dan menyanyikan lagu “The Alphabet Song” 2 kali. Saya kaget sekaligus senang, karena saya tahu Kiran selalu malu jika disuruh bernyanyi atau tampil di depan ayah dan bundanya. Inilah pertama kalinya saya menyaksikan penampilan Kiran yang dilakukan atas keinginan dia sendiri dan dilakukan penuh percaya diri. Berikut ini penampilan Kiran:

Setelah Kiran selesai bernyanyi, kami melanjutkan kegiatan kami dengan melihat koleksi senjata dan kendaraan kepolisian yang terdapat di museum. Rangkaian kegiatan ini pun diakhiri dengan anak-anak berfoto bersama di depan gedung museum dengan latar helikopter dan tank.

Setelah itu, kami pun makan siang bersama di lobi museum (Terima kasih kepada Mbak Yulia yang sudah mau repot membawa karpet dan tempat sampah terpilah). Tidak terasa 4 jam sudah berlalu dan waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kami pun akhirnya berpamitan dan berfoto bersama ๐Ÿ™‚

Seru sekali berkegiatan bersama dengan keluarga lainnya dan bertemu keluarga-keluarga baru dengan ceritanya masing-masing. Kiran pun mempunyai teman-teman baru.

Posted by Rahdian Saepuloh

<p>Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.</p>
<p>Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.</p>

Leave a Reply

Required fields are marked*